Alasan Jual Putus Naskah dan Kompensasinya

Tulisan saya tentang jual putus naskah (buku) terkait dengan UU Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 yang baru saja disahkan DPR periode lalu, ternyata mendapatkan respons luas. Tentu yang berkepentingan dalam soal ini adalah para penulis, tidak terkecuali juga penerbit. Lalu, apa alasan yang melatari munculnya opsi jual putus naskah tersebut?

Dalam tulisan berjudul Jual Putus Naskah dalam UU Hak Cipta Terbaru itu saya hanya membahas terkait pasal-pasal di dalam UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang berhubungan dengan perjanjian naskah jual putus. Dua hal pokok yang menjadi bahasan adalah soal hak moral dan pengalihan hak cipta (hak ekonomi) dalam perjanjian naskah.

Lalu, mengapa muncul opsi jual putus (outright) dalam perjanjian naskah antara penulis dan penerbit? Pada kenyataannya, penerbit yang memiliki bujet juga mengalokasikan dana untuk pembayaran langsung naskah atau kerap diistilahkan flat fee. Karena bersifat tunai keras, jumlah flat fee naskah pun untuk kasus Indonesia biasanya tidak lebih dari Rp10 juta.

Bahkan, masih ada penerbit yang menawar naskah buku anak–karena mungkin menurut pandangan paling mudah ditulis dan halamannya sedikit–dengan harga Rp750.000,00 sampai dengan Rp1 juta. Tentu tidak menjadi masalah jika penulis dapat menulis naskah itu hanya dalam tempo 1-2 jam. Artinya, ia dibayar Rp750 ribu per jam. Namun, dari sisi idenya, boleh jadi harga itu murah sekali.

Apa pertimbangan seorang penulis menerima opsi jual putus? Berdasarkan pengalaman saya sendiri, opsi itu dapat diterima dan menarik jika memenuhi kriteria berikut.

  1. Buku yang ditulis tidak memerlukan usaha (effort) yang begitu besar dari segi waktu dan ketebalannya, termasuk penelitian dan penelurusan pustaka.
  2. Buku yang ditulis secara konten hanya berumur tidak lebih dari tiga tahun sehingga pada tahun keempat harus diperbarui. Biasanya buku yang memang dibuat untuk momentum atau tren tertentu yang memerlukan pembaruan pada masa tertentu.

Opsi jual putus pun dapat terjadi dari buku-buku yang dipesan penerbit langsung ke penulis. Penulis dikontrak penerbit untuk bekerja menulis naskah padanya seolah menjadi karyawan penerbit. Model kerja sama itu  diistilahkan  juga dengan work-made-for-hire.

Kompensasi Jual Putus

Berapa kompensasi layak dari jual putus naskah? Soal ini tentu bersifat relatif seperti kriteria yang saya sebutkan tadi. Opsi jual putus dengan pembayaran naskah hanya sekali (flat fee) yang dilakukan penerbit ini terkadang diterima penulis dengan pertimbangan subjektif: lagi memerlukan dana cash?

Soalnya naskah belum bisa dijadikan agunan untuk pinjaman kredit di bank. Namun, jangan salah juga, pada Pasal 16 Ayat 3-4 UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta menyebutkan: (3) Hak Cipta dapat dijadikan sebagai objek jaminan fidusia. (4) Ketentuan mengenai Hak Cipta sebagai objek jaminan fidusia sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Soal itu tidak akan dibahas di sini.

Kembali soal kompensasi umumnya penerbit Indonesia membayar kompensasi secara total (gelondongan) dan jarang atau tidak ada yang menghargainya berbasis hitungan per halaman. Saya boleh sebutkan angka-angka berikut ini dengan kategori kualitas.

  1. Naskah Buku Anak Kualitas A: Rp2,5 juta s.d. Rp3 juta (ketebalan 24 s.d. 48 hlm.)
  2. Naskah Buku Anak Kualits B: Rp750 ribu s.d. Rp1,5 juta (ketebalan 24 s.d. 48 hlm.)
  3. Naskah Buku Umum Kualitas A: Rp5 juta s.d. Rp10 juta (ketebalan 80 s.d. 140 hlm.)
  4. Naskah Buku Umum Kualitas B: Rp3 juta s.d. Rp4 juta (ketebalan 80 s.d. 140 hlm.).

Murah sekali? Ya memang begitu untuk soal negosiasi naskah. Citra naskah jual putus memang selalu diasosiasikan bukan naskah unggulan–untung tidak disebut naskah curah. Umumnya, penerbit mengakuisisi demi memenuhi target kuantitas naskah yang dibebankan kepada mereka dari manajemen penerbit.

Itu semacam hubungan simbiosis mutualisme saja. Ada penulis yang perlu uang segera, ada penerbit yang menyiapkan dana tunai keras untuk mengakuisisinya. Jika penerbit hanya menawarkan opsi royalti, penulis yang memang jadi perajin naskah semacam itu tidak akan tertarik menyerahkan naskahnya. Beberapa penerbit memang ada yang bergeming hanya memberikan opsi royalti.

Agen Naskah

Naskah-naskah jual putus kadang juga diageni para mak comblang naskah yang secara keren disebut literary agent. Namun, alih-alih menyebut literary agent secara profesional, yang terbanyak justru lebih menjadi calo naskah. Soalnya literary agent itu sejatinya bukan mencari naskah, melainkan mencari bibit-bibit penulis unggul yang kemudian mereka bina dan dimanajeri layaknya artis. Perjanjian antara penerbit dan agen juga diketahui oleh para penulis secara terbuka.

Jika naskah-naskah jual putus dijual lewat perantara, tentu penulis harus bersiap tidak menerima utuh jumlah pembayaran. Mereka masih harus membaginya dengan para agen tadi.

Untung Rugi Jual Putus

Hal yang kerap ditanyakan adalah soal untung rugi jual putus naskah. Untungnya pastilah penulis akan mendapatkan uang langsung tanpa perlu khawatir risiko bukunya tidak laku. Selain itu, portofolio karyanya pun bertambah.

Ruginya ya kalau buku ternyata laku keras atau malah dibeli proyek pemerintah yang menghasilkan pendapatan sangat menguntungkan bagi penerbit. Jadi, di sinilah pertimbangan limitasi atau pembatasan waktu eksploitasi naskah jual putus diperlukan. Penerbit tidak bisa memiliki seterusnya hak cipta (hak ekonomi) naskah jual putus karena dibatasi sampai 25 tahun. Namun, penulis dapat bernegosiasi untuk membatasi pengalihan hak cipta itu sampai 3 atau 5 tahun saja.

***

Demikian serba serbi yang melatari alasan adanya opsi jual putus naskah dalam perjanjian naskah atau perjanjian penerbitan. Selanjutnya, terserah Anda yang menjadi subjek perjanjian tersebut.


©2015 oleh Bambang Trim, praktisi penerbitan Indonesia, Direktur Trimuvi Akselerasi Media, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pelatihan penulisan-penerbitan, konsultasi penerbitan, dan jasa penerbitan.

Jual Putus Naskah dalam UU Hak Cipta Terbaru

Opsi jual putus selalu menarik bagi para penulis buku yang hendak mendapatkan uang langsung dari hasil jerih payahnya menulis buku. Hal yang kerap terlupa ketika penulis menjual putus–dalam hal ini disebut juga mengalihkan hak cipta–adalah tidak termuatnya pasal atau ayat tentang berapa lama hak cipta tersebut dialihkan dan bagaimana proses pengalihannya tersebut.

Paparan berikut ini semoga bisa menjelaskan hal terkait dengan jual putus naskah yang dalam undang-undang terbaru yaitu UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta lebih gamblang disebutkan, termasuk terkait dengan hak moral. Berbeda dengan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta sebelumnya yang tidak mencantumkan perihal jual putus tersebut.

Penulis perlu sadar hak cipta agar ia pun dapat memahami potensi sebuah karya dan bagaimana pengelolaannya secara maslahat untuk dirinya, keluarganya, ataupun masyarakat. Demikian pula para penerbit dan editor juga perlu memahami soal ini untuk menghindarkan kebingungan serta kekeliruan dalam soal pengalihan dan pengelolaan hak cipta.

Bisakah Hak Cipta Diperjualbelikan

Itu pertanyaan pertama yang mengemuka. Di dalam UU terdapat istilah khusus jual putus yang nanti akan dibahas. Namun, hak cipta memang dapat dijual atau dalam hal ini dapat dialihkan kepada orang lain atau lembaga/institusi lain. Dalam hal dijual berarti akan ada perjanjian tertulis. Selain dijual yang tentunya ada imbalan finansial untuk itu, hak cipta juga dapat dialihkan dengan cara pewarisan (pewaris harus menunjuk ahli waris untuk karya ciptanya secara tertulis), hibah, wakaf, dan wasiat.

Para ulama yang menulis buku, kemudian mewakafkannya kepada umat sehingga siapa pun bebas menerbitkan dan mengedarkannya adalah salah satu contoh pengalihan hak cipta menjadi domain publik. Para ulama penulis itu tidak mengharapkan imbalan (royalti). Hal tersebut bisa dilihat pada fenomena penerbitan buku-buku Islam yang hak ciptanya sudah diwakafkan, terutama dilakukan oleh ulama-ulama Timur Tengah. Ketentuan tersebut dapat dicek pada Paragraf 3 Pengalihan Hak Ekonomi Pasal 16.

Pasal 16

(1) Hak Cipta merupakan Benda bergerak tidak berwujud.

(2) Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan, baik seluruh maupun sebagian karena:

a. pewarisan; 

b. hibah;

c. wakaf;

d. wasiat;

e. perjanjian tertulis; atau

f. sebab lain yang dibenarkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Jadi, jual putus memang diatur di dalam UU, tetapi UU tidak menyuratkan adanya ketentuan bahwa perjanjian jual putus harus mengandung jangka waktu atau limitasi, baik dalam durasi waktu ataupun kuantitas oplag (tiras). Walaupun demikian, untuk perjanjian jual putus yang tidak mencantumkan limitasi, UU telah melindungi bahwa hak cipta otomatis akan beralih setelah jangka waktu 25 tahun. Artinya, seorang pencipta masih tetap akan mendapatkan kembali ciptaannya atau paling tidak ahli warisnya.

Karena itu, hak cipta hanya beralih sementara waktu, tidak dapat dimiliki seterusnya oleh penerbit. Adapun jika penerbitan buku dilakukan terus-menerus, perjanjian baru pun akan dibuat antara penerbit dan penulis atau ahli warisnya. Hal tersebut ditegaskan pada Pasal 18.

Pasal 18

Ciptaan buku, dan/atau semua hasil karya tulis lainnya, lagu dan/atau musik dengan atau tanpa teks yang dialihkan dalam perjanjian jual putus dan/atau pengalihan tanpa batas waktu, Hak Ciptanya beralih kembali kepada Pencipta pada saat perjanjian tersebut mencapai jangka waktu 25 (dua puluh lima) tahun.

Terkait buku sekolah elektronik (BSE) yang hak ciptanya “dibeli” pemerintah dalam hal ini Kemdikbud ada limitasi waktu selama 15 tahun. Beberapa penerbit rata-rata menerapkan limitasi selama 5 tahun sampai dengan 10 tahun untuk kasus jual putus dan ada juga yang menerapkan limitasi dalam bentuk kuantitas oplag, contohnya sampai 10.000 eksemplar.

Limitasi oplag meskipun memungkinkan, tampak tidak adil karena jika penerbit hanya mencetak secara ekstrem hingga 9.000 eksemplar, berarti hak cipta tetap tidak akan bisa dialihkan karena belum memenuhi 10.000 eksemplar. Tentu waktunya bisa tidak terbatas jika cetakan belum memenuhi jumlah tersebut.

Limitasi tentu juga harus mempertimbangkan besaran imbalan yang diberikan. Semakin lama pengalihan dilakukan, tentu imbalannya semakin besar karena memungkinkan penerbit mendapatkan laba dari eksploitasi naskah.

Jadi, perlu diingatkan bahwa para penulis harus mendata karyanya yang telah dijual putus dan memastikan kapan hak ciptanya akan kembali dimiliki. Hal penting lain adalah membuat pernyataan tertulis tentang siapa ahli waris dari karyanya tersebut atau contohnya hendak menghibahkan atau mewakafkan saja karya tersebut. Pendataan tersebut perlu dilakukan, terutama untuk buku-buku yang masuk kategori evergreen yaitu yang berpeluang diterbitkan berulang-ulang.

Hak Moral Tetap Berlaku

Perlu dijelaskan bahwa hak cipta jika diuraikan terbagi dua menjadi 1) hak moral dan 2) hak ekonomi. Meskipun sudah dijual putus, hak moral tetap berlaku pada ciptaan tersebut. Apa itu hak moral? Berikut penjelasannya.

Bagian Kedua Hak Moral

Pasal 5

(1) Hak moral sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 merupakan hak yang melekat secara abadi pada diri Pencipta untuk:

a. tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan sehubungan dengan pemakaian Ciptaannya untuk umum;

b. menggunakan nama aliasnya atau samarannya;

c. mengubah Ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat;

d. mengubah judul dan anak judul Ciptaan; dan

e. mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi Ciptaan, mutilasi Ciptaan, modifikasi Ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya.

Maknanya jelas bahwa penerbit yang membeli putus sebuah naskah tidak diperkenankan mengubah nama pencipta, termasuk menambahkan nama pencipta lain yang tidak ada hubungannya dalam proses penulisan atau penciptaan naskah. Nama penulis karya tersebut harus dicantumkan, termasuk apabila ia menggunakan nama samaran atau nama pena.

Dengan demikian, jual putus bukan berarti kemudian penerbit bisa seenaknya mencantumkan nama orang lain sebagai pencipta. Begitu juga dalam hal judul dan anak judul yang asli dari penulis termasuk hak moral yang dilindungi.

Namun, untuk hal pengubahan judul biasanya penerbit dapat berkompromi dengan mencantumkan satu ayat di dalam perjanjian penerbitan tentang berhaknya penerbit mengubah judul dan anak judul serta mengedit naskah untuk kepentingan kebenaran konten serta pemasaran. Hal tersebut harus tercantum di dalam perjanjian agar penerbit tidak (dianggap) melanggar hak moral dan dalam praktiknya tidak semua judul dari penulis itu merupakan judul yang baik atau judul yang “menjual”.

Penerbit juga tidak dapat melakukan pencomotan naskah (mutilasi ciptaan) untuk kemudian membuat naskah lain atau membagi-baginya menjadi beberapa seri (volume) tanpa izin atau kesepakatan terlebih dahulu. Contoh yang bisa terjadi adalah membuat naskah satu judul menjadi beberapa judul. Alhasil, ada buku serial yang tentu dari sisi finansial akan menguntungkan penerbit, sedangkan pada perjanjiannya naskah dibeli putus hanya untuk satu (judul) naskah. Ini yang dimaksud dengan mutilasi ciptaan.

Selain itu, pelanggaran hak moral juga bisa terjadi dengan memodifikasi ciptaan tanpa izin dari penulis. Kasus ini dapat terjadi ketika penerbit memutuskan mengubah naskah yang telah dibelinya menjadi buku elektronik (ebook) dengan pengembangan (modifikasi) di sana sini, contohnya menambahkan video atau game interaktif. Artinya, karya cipta awal sudah diubah ke bentuk lain dengan modifikasi. Untuk itu, diperlukan izin tertulis ataupun mencantumkan adendum di dalam perjanjian tentang modifikasi tersebut.

Soal hak moral ditegaskan lagi dalam Penjelasan Pasal 16 sebagai berikut.

Penjelasan Pasal 16

Ayat (2 Yang dimaksud dengan “dapat beralih atau dialihkan” hanya hak ekonomi, sedangkan hak moral tetap melekat pada diri Pencipta. Pengalihan Hak Cipta harus dilakukan secara jelas dan tertulis baik dengan atau tanpa akta notaris.

Jadi, proses pengalihan hak cipta harus dilakukan secara jelas dan tertulis. Artinya, tertuang dalam perjanjian tertulis, baik dengan pengesahan atau tanpa pengesahan dari notaris.

Gugatan terhadap Hak Moral

Konsekuensi hukum tetap berlaku jika ada penerbit yang “bandel” melanggar hak moral penulis tanpa persetujuan penulis atau ahli waris. Artinya, penulis atau ahli waris dapat melayangkan somasi ataupun gugatan terkait sengketa hak cipta meskipun hak cipta tersebut sudah dialihkan.

BAB XIV PENYELESAIAN SENGKETA

Pasal 98

(1) Pengalihan Hak Cipta atas seluruh Ciptaan kepada pihak lain tidak mengurangi hak Pencipta atau ahli warisnya untuk menggugat setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak dan tanpa persetujuan Pencipta yang melanggar hak moral Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1).

Sengketa terkait hak cipta hanya dapat diselesaikan di Badan Arbitrase atau Pengadilan Niaga. Sengketa biasanya menyangkut tuntutan ganti rugi dari pihak pencipta yang merasa dirugikan akibat dilanggarnya hak moral. Namun, terkait pembajakan ciptaan akan ada konsekuensi pidana.


Baca juga http://manistebu.com/2015/02/20/alasan-jual-putus-naskah-dan-kompensasinya/


 

Perlukah Ciptaan Buku Didaftarkan

Perlindungan hak cipta terhadap buku berlaku secara otomatis oleh UU N0. 28 tentang Hak Cipta. Namun, sah-sah saja Anda mendaftarkan ciptaan jika ciptaan itu dianggap penting dan benar-benar merepresentasikan kreativitas Anda dalam menggagas sebuah naskah atau ciptaan Anda adalah sebuah masterpiece.

Ciptaan lain yang pantas didaftarkan adalah dalam bentuk buku referensi karena menyusunnya memerlukan usaha yang lumayan berat, seperti kamus, tesaurus, ensiklopedia, dan buku pintar. Berikut penjelasan tentang pencatatan ciptaan di dalam UU.

BAB X PENCATATAN CIPTAAN DAN PRODUK HAK TERKAIT

Bagian Kesatu Umum

Pasal 64

(1) Menteri menyelenggarakan pencatatan dan Penghapusan Ciptaan dan produk Hak Terkait. (2) Pencatatan Ciptaan dan produk Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan merupakan syarat untuk mendapatkan Hak Cipta dan Hak Terkait.

Bagian Kedua Tata Cara Pencatatan

Pasal 66

(1) Pencatatan Ciptaan dan produk Hak Terkait diajukan dengan Permohonan secara tertulis dalam bahasa Indonesia oleh Pencipta, Pemegang Hak Cipta, pemilik Hak Terkait, atau Kuasanya kepada Menteri.

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara elektronik dan/atau non elektronik dengan: a. menyertakan contoh Ciptaan, produk Hak Terkait, atau penggantinya; b. melampirkan surat pernyataan kepemilikan Ciptaan dan Hak Terkait; dan c. membayar biaya.

Pasal 67

(1) Dalam hal Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (1) diajukan oleh: a. beberapa orang yang secara bersama-sama berhak atas suatu Ciptaan atau produk Hak Terkait, Permohonan dilampiri keterangan tertulis yang membuktikan hak tersebut; atau b. badan hukum, Permohonan dilampiri salinan resmi akta pendirian badan hukum yang telah disahkan oleh pejabat berwenang.

(2) Dalam hal Permohonan diajukan oleh beberapa orang, nama pemohon harus dituliskan semua dengan menetapkan satu alamat pemohon yang terpilih.

(3) Dalam hal Permohonan diajukan oleh pemohon yang berasal dari luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, Permohonan wajib dilakukan melalui konsultan kekayaan intelektual yang terdaftar sebagai Kuasa.

Anda dapat mendaftarkan ciptaan melalui Ditjen HKI di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Langsung saja ke alamat ini http://www.dgip.go.id/hak-cipta/prosedur-pencatatan-hak-cipta. Alternatif pendaftaran adalah langsung ke Kantor Ditjen HKI, ke Kanwil Kemenkum & HAM di daerah, atau ke Kuasa Hukum Konsultan HKI terdaftar.

Diagram Alur Pencatatan Hak Cipta (Sumber: Ditjen HKI)

Diagram Alur Pencatatan Hak Cipta (Sumber: Ditjen HKI)

Sadar hak cipta yaitu hak moral dan hak ekonomi untuk saat ini memang menjadi keharusan. Sebuah perjanjian kerja sama penerbitan buku memang harus didasarkan oleh iktikad baik kedua belah pihak yaitu penulis dan penerbit. Dalam hal ini tidak boleh ada pihak yang dirugikan ataupun dibiarkan tidak mengetahui hak dan kewajibannya terkait hak cipta. Semoga bermanfaat.


©2015 oleh Bambang Trim Praktisi penerbitan Indonesia, Direktur Trimuvi Akselerasi Media yang bergerak dalam bidang pelatihan penulisan-penerbitan profesional dan jasa penerbitan profesional.

Kreatif Merancang Leaflet

Tampak sepele memang, namun leaflet termasuk ampuh sebagai publikasi, baik berupa iklan maupun informasi. Dengan hanya enam halaman yang dapat dibuat dari kertas A4 dan dilipat, leaflet dapat disusun secara sederhana, tetapi harus tetap tampil memikat.

Urusan membuat leaflet ini ternyata perlu juga dilatihkan untuk para pengelola kursus dan pelatihan. Karena itu, saya pun diminta mengisi materi ini pada tanggal 11-13 Februari 2015 di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) IPA. Adalah Direktorat Jenderal PAUDNI Kemdikbud yang menyelenggarakan pelatihan ini. Dua hal penting dari leaflet adalah konten dan konteks (kemasan). Artinya, jika kemasan atau desain tampak bagus, tetapi kontennya memble, juga tidak akan berdaya. Sebaliknya, konten apik, tetapi desain memble, juga tidak akan memikat. Keduanya memerlukan paduan keahlian tersendiri. Biasanya yang mengerjakan leaflet terdiri atas dua orang. Satu bertindak sebagai pembuat skrip (teks) atau bisa disebut copy writer dan satu orang sebagai desainer. Dengan aplikasi pengolah kata ataupun desain seperti MS-Word dan MS-Publisher, seseorang bahkan sudah dapat merancang sendiri leaflet dengan template yang ada. Jadi, tidak perlu susah-susah dalam desainnya karena teknologi sudah membantu. Untuk yang lebih profesional, biasanya  menggunakan aplikasi In-Design ataupun Corel Draw untuk membuat leaflet. Memang diperlukan sentuhan artistik dalam leaflet meskipun tadi, publikasi ini tampak sepele alias “ringan dan lucu”. Yuk, ngintip slide handout yang saya persiapkan untuk pelatihan tersebut. Kalau Anda tertarik untuk menggelar pelatihan serupa, tinggal kontak saya saja. He-he-he. Slide1 Slide2 Di sini memang banyak orang yang merancukan pengertian leaflet dengan brosur atau bahkan pamflet dan flyer. Nah, kita luruskan di sini. Slide4 Tentu dong pembuat leaflet harus paham untuk apa bahan publikasi ini dibuat.   Slide6 Beginilah cara merencanakan sebuah leaflet. Proses tahap demi tahap. Slide8 Biar lebih afdol, ketahui juga anatomi leaflet. Slide9 Slide10 Ternyata leaflet banyak jenisnya. Bentuk paling populer adalah tri fold dengan tiga lipatan. Slide11 Slide12 Nah, itu beberapa slide handout yang saya sajikan. Ada totalnya 30 slide yang akan disampaikan kurang lebih dalam waktu satu jam. ©2015 oleh Bambang Trim

Terobosan Menulis Buku Ilmiah Populer 3-4 Maret 2015

Masih kesulitan untuk menulis buku ilmiah bergaya populer? Masih tidak tahu bagaimana memulainya dan jalan untuk penerbitannya? Anda harus menemukan pelatihan yang tepat untuk itu.

Bambang Trim bersama Trimuvi akan memandu siapa pun Anda, terutama guru, dosen, widyaiswara, dan peneliti untuk menyusun buku ilmiah populer, termasuk mengonversi naskah nonbuku menjadi buku. Metode standar yang digunakan telah teruji: prewriting-drafting-revising-editing-publishing.

Surat-Trimuvi-Training3-4Maret2015_Page_2

Ambil kesempatan untuk mengikuti pelatihan langka ini. Bawa ide-ide Anda dan wujudkan segera menjadi buku bersama pakarnya.

Kelas Privat Menulis 23 Januari 2015 di Trimuvi

Kelas Privat Menulis 23 Januari 2015 di Trimuvi

Tertarik mengikuti dan memerlukan surat undangan resmi untuk lembaga/institusi Anda?

Silakan unduh surat pengantar, rundown acara, dan silabus pelatihan di sini dalam format PDF.

Surat-Trimuvi-Training3-4Maret2015


Sampai jumpa 3-4 Maret 2015.

40 Alasan Mengapa Orang Menulis

Satu email dan satu pesan WA yang masuk ke akun saya baru-baru ini datang dari dua orang yang mengaku penulis pemula. Kebetulan sekali apa yang mereka tanyakan dan harapkan berkenaan dengan buku terbaru saya 6 Perkara Menulis untuk Bahagia. Ya, saya akan langsung menyelisik apa sebenarnya tujuan seseorang hendak jadi penulis.

Anda juga sebagai penulis tentu punya tujuan-tujuan tertentu dalam menulis. Tentu kita tidak sedang menimbang-nimbang mana tujuan yang baik atau mulia dan mana tujuan yang kurang baik. Semua berpulang pada orangnya masing-masing. Jadi, setiap tujuan sah-sah saja, termasuk tujuan menulis untuk mendatangkan uang atau meraih kebebasan finansial.

Namun, setiap tujuan tentu mengandung konsekuensi-konsekuensi tertentu. Coba saja sekarang Anda pilih sebagai apa menulis itu Anda tempatkan. Berikut pilihannya:

  1. hobi (kesenangan), termasuk pengisi waktu luang;
  2. tugas rutin;
  3. keterampilan hidup;
  4. profesi;
  5. terapi psikologis;
  6. pelarian.

Penempatan posisi menulis dalam diri Anda akan berkorelasi dengan tujuan-tujuan Anda menulis. Nah, sering antara posisi menulis dan tujuan memang tidak nyambung. Contohnya, Anda menyebut bahwa menulis adalah hobi Anda, tetapi Anda punya tujuan untuk mampu memublikasikan karya Anda pada media ternama.

Kalau sekadar hobi, Anda pasti akan menulis sekenanya saja, tanpa memperhatikan kebutuhan pembaca sasaran. Hobi terkadang juga membuat Anda merasa cukup belajar dari buku atau mengikuti diskusi-diskusi selewat tentang penulisan tanpa pernah tahu bagaimana melatihkan menulis agar layak publkasi.

Ya, itu pandangan saya yang mungkin berbeda dengan orang lain yang memandang hobi menulis akan mengantarkannya menjadi penulis profesional.

Berikut ini senarai tujuan orang untuk menulis yang saya kumpulkan dari pengalaman berinteraksi dengan para penulis atau orang yang ingin menulis:

  1. mendapatkan imbalan uang atau royalti;
  2. memberi kontribusi pada angka kredit kenaikan pangkat;
  3. menyebarkan pesan agama (dakwah);
  4. meninggalkan warisan pengalaman dan pemikiran;
  5. menjadi populer;
  6. menegaskan reputasi di bidang tertentu;
  7. mendapatkan pengakuan dari sejawat atau orang-orang seprofesi;
  8. menguatkan merek diri (branding dan positioning);
  9. membantu pemasaran seminar/pelatihan/lokakarya;
  10. memengaruhi publik/audiens tertentu untuk mengikuti pendapatnya;
  11. menjawab atau mengklarifikasi sebuah data/fakta yang dianggap menyimpang (buku putih);
  12. mengkritik pribadi/lembaga/institusi/pemerintah;
  13. menciptakan tonggak sejarah;
  14. membagi dan menyebarkan suatu ilmu pengetahuan;
  15. membagi dan menyebarkan resep sukses;
  16. membagi dan menyebarkan suatu penemuan atau hasil penelitian;
  17. mengungkap rahasia yang terpendam selama ini;
  18. menghibur orang lain;
  19. menaklukkan tantangan dalam diri;
  20. membagi pengalaman pribadi yang luar biasa, tragis, mengharukan, atau penuh dinamika;
  21. membantu pemasaran produk/jasa;
  22. memenuhi kewajiban sebagai akademisi (guru, dosen, peneliti, dsb.);
  23. memicu atau menimbulkan kontroversi dan polemik;
  24. memenuhi tugas dan tanggung jawab profesi, seperti sekretaris atau humas yang harus menulis;
  25. menyembuhkan pikiran dan perasaan;
  26. memotivasi orang alih-alih menyebarkan juga paham yang diyakini (self-help);
  27. menyebarkan metode, kiat, tips yang diyakini berhasil;
  28. memiliki karya yang dapat dibanggakan;
  29. menarik atau mencuri perhatian seseorang atau banyak orang;
  30. mengisi waktu luang;
  31. menjadikan sebagai bisnis jasa;
  32. memengaruhi opini publik;
  33. meluruskan sejarah yang dianggap menyimpang;
  34. mendokumentasikan sejarah atau linimasa sebuah peristiwa;
  35. menjadi penerbit;
  36. menyaingi karya lain yang dianggap tidak lebih baik;
  37. menginginkan karya dapat difilmkan;
  38. melanjutkan profesi yang sama dengan orangtua atau kakek/nenek;
  39. mengungkap pemikiran dan peranan untuk kampanye pemilihan (pilbup, pilgub, pilpres, dsb.);
  40. menegaskan diri sebagai motivator atau orang bijak yang bisa memberi nasihat.

Ada 40 tujuan dan adakah tujuan itu sesuai dengan diri Anda kini? Jika tidak ada, tentu Anda berpotensi menambah satu poin lagi.

Jadi, nanti Anda pun akan bertemu dengan jawaban dari pernyataan Mas Wendo (Arswendo Atmowiloto) bahwa mengarang itu gampang; dan pernyataan Pak Budi Darma bahwa menulis itu sulit. Semua bergantung pada sebagai apa Anda menempatkan kegiatan menulis dan apa tujuan yang hendak Anda capai.

Salam!

©2015 oleh Bambang Trim

AYO MEMBACA INDONESIA DILUNCURKAN

Ayo Membaca Indonesia (AMIND) segera diluncurkan sebagai gerakan masyarakat untuk minat dan budaya membaca. AMIND direncanakan meluncur pada 4 Maret 2015, pukul 10.00-12.00 pada ajang 14th Islamic Book Fair di Istora Senayan, Jakarta.

 

Iklan-AMIND

AMIND digagas oleh beberapa tokoh dan pegiat literasi, seperti Dedi Sjahrir Panigoro, Kingkin Suroso, Dewi Utama Fayza, Ikhsan Fauzie, Efvy Afrizal Sinaro, Elmir Amien, Tatty Elmir, Bambang Trim, Sastri Sulastri, Eva Nukman, Sofie Dewayani, Ivan Ahda, dan banyak lagi pencinta literasi yang terlibat. Gerakan baru membaca ini akan mulai berkiprah pada tahun 2015.

 

E-Book ini Pas untuk Penulis Pemula

Bahagia itu kalau bisa berbagi yang gratis-gratis buatan sendiri. Betul, nggak? He-he-he. Nah, eBook ini siap-siap dibagikan pada tanggal 1 Februari 2015, eBook gratis tentang menulis untuk bahagia. Mau?

 

FreeMiniEbook.MenulisBahagia-BT_Page_01

FreeMiniEbook.MenulisBahagia-BT_Page_34

Saya coba menyelesaikannya dalam 3-4 hari sepanjang 64 halaman dalam format PDF (versi mini eBook). Namun, bagi yang mau versi cetaknya dengan format lengkap 80 halaman, boleh deh kirim email ke tri3muvi@gmail.com untuk pemesanan.

Jadi, ini eBook kedua dan eBook pertama tentang copyediting sudah terbit sebelumnya. Judulnya pun cantik 6 Perkara Menulis untuk Bahagia dan saya doakan kemudian pembacanya menjadi penulis yang berbahagia, aamiin.

Intip dulu beberapa bagiannya.

FreeMiniEbook.MenulisBahagia-BT_Page_05

FreeMiniEbook.MenulisBahagia-BT_Page_06FreeMiniEbook.MenulisBahagia-BT_Page_09FreeMiniEbook.MenulisBahagia-BT_Page_10

E-Book Gratis tentang Copyediting

Ingin tahu banyak tentang editing naskah? Mau yang gratis dari saya? Tersedia kini di Manistebu.com mini eBook gratis.

Copyediting memang ilmu langka yang jarang diajarkan di Indonesia. Lembaga pelatihan Trimuvi Akselerasi Media yang kini saya kelola salah satu lembaga yang berkonsentrasi menyelenggarakan kursus editing naskah.

Bukan hanya itu, saya juga hendak memasyarakatkan publishing science lewat terbitan mini eBook yang bebas diunduh siapa pun.  Versi cetak POD lebih lengkap sedang saya siapkan.

 

FreeMiniEbook.Copyediting-BT_Page_01

Tertarik mengunduh? Tak ada syarat apa pun. Hanya jika Anda berkenan, berikan komentar pada posting ini. Silakan mengunduh semoga bermanfaat. :)

FreeMiniEbook.Copyediting-BT

©2015 oleh Bambang Trim

 

H48H: PELATIHAN MENULIS BUKU LANGSUNG JADI HADIR LAGI

Lebih kurang sembilan tahun yang lampau, tepatnya tanggal 4-5 Februari 2006, saya bersama tim KOLBU di MQS Publishing menyelenggarakan pelatihan menulis buku bertajuk “Creative Training H16H”. Ada 10 orang peserta yang mengikuti training ini dan kebanyakan dari mereka adalah trainer yang sudah malang melintang di jagat pelatihan.

Pelatihan ini tersulut idenya setelah saya menerbitkan buku berjudul Saya Bermimpi Menulis Buku yang diterbitkan oleh Kolbu-MQS. Pesertanya luar biasa, saya ingat pernah menuliskan kesan dari pelatihan H16H itu.

Ada Bang Ucok alias Sahala Harahap, psikolog yang sudah malang melintang di dunia training. Ada Pak Hermanto yang begitu santun karena beliau pengajar EQ yang punya sertifikat internasional dan seorang lulusan teknik fisika ITB. Ada Pak Rahmat yang begitu rendah hati dan seorang eksekutif penting di BNI (Assistant Vice President). Ada Pak Teguh, trainer salesmanship jebolan Astra dan Unilever. Ada Pak Suyanto, seorang eksekutif di jajaran manajemen Hero Supermarket. Ada lagi Pak Irwan, seorang dokter dari Garut. Ada juga Mbak Indarwati, ibu rumah tangga yang punya ide luar biasa. Ada Ibu Sri yang begitu antusias dan juga punya ide-ide luar biasa… Ada juga Pak Ismed, seorang konsultan financial planner yang juga sudah sering nulis di Tabloid UANG.

Pada tahun itu, genap sudah saya menggeluti dunia penerbitan selama lebih dari 10 tahun. Creative Training H16H pada masa itu adalah “ide gila” karena diselenggarkaan selama 2 hari 1 malam di Hotel Cipaku Bandung dengan target peserta menyelesaikan buku 16 halaman. Pada akhir training ada 20 judul buku yang dihasilkan (peserta mengajukan dua judul masing-masing). Tidak sampai di situ, buku-buku tersebut sudah ditata letak dan dibuatkan kover bukunya. Para peserta benar-benar surprise mereka bisa menulis buku hanya dalam dua hari satu malam meski hanya 16 halaman.

Tahun 2015 ini, saya ingin kembali melakukan “pelatihan gila” itu yaitu mengompori beberapa orang untuk menulis buku hanya dalam dua hari plus dua malam. Keluarannya adalah dummy buku dalam format 48 halaman atau lebih lengkap dengan kover dan konversi menjadi eBook (file ePub).

BREAKTHROUGH WRITING TRAINING

#MenulisBuku #48h. #Pasti #Terbit

Paket pelatihan ini berbiaya Rp3,4 juta untuk 2 hari 2 malam dengan fasilitas: penginapan 2 malam (twin sharing) + makan pagi, siang, dan malam + kudapan rehat kopi + kit pelatihan + sertifikat. Pelatihan diselenggarakan di Bandung–sebuah hotel dekat pusat kota Bandung.

Peserta akan dibimbing dengan metode prewriting-drafting-revising-editing-publishing.

Karena keluaran yang tidak biasa, pelatihan ini hanya dibatasi maksimal 8 orang. Pelaksanaan pelatihan pada bulan Februari 2015, Kamis-Jumat.

Jika Anda tertarik, segera hubungi kami di 081519400129 untuk konfirmasi. Pelatihan ini diselenggarakan Trimuvi Akselerasi Media.

Atau Anda dapat mengisi formulir berikut ini:

Apa yang Anda Inginkan dari Pelatihan Menulis

Kelas Privat Menulis 23 Januari 2015 di Trimuvi

Kelas Privat Menulis 23 Januari 2015 di Trimuvi

Selalu ada harapan bagi siapa pun yang mengikut kelas menulis. Harapan utama tentu mampu menulis seperti para penulis pro. Harapan lain biasanya bersifat misi ingin menyebarkan ilmu pengetahuan, ingin meninggalkan warisan pengalaman, atau ada juga harapan meraih keberkahan finansial lewat menulis.

Entah untuk keberapa kali saya mengisi kelas-kelas menulis. Namun, kelas pada 23-24 Januari 2015 ini adalah kelas kedua yang saya fasilitasi setelah sebelumnya memberikan pembekalan editing bagi para editor di Bumi Aksara.

Kelas kali ini mendorong para pesertanya yang hanya enam orang untuk mau dan mampu menulis buku. Metode prewriting-drafting-revising-editing-publishing tetap saya gunakan sembari menyisipkan materi tentang matriks outline pada prewriting (pramenulis).

Privat-23.01.2015-3

 

Peserta saya senior di atas usia 45 tahunan. Hanya satu yang junior, fresh graduate dari program pascasarjana di London. Ada satu keluarga yang ikut: ayah, ibu, dan anak. Tiga orang lagi adalah widyaiswara yang punya kepentingan untuk mampu melahirkan sebuah karya buku.

Dengan pola pengondisian untuk dapat melahirkan outline buku nonfiksi ilmiah populer pada hari pertama maka saya pun mendapatkan judul-judul berikut:

  1. Apa Kabar PNS: Mencetak Birokrat Unggul
  2. Goal Setting: Akhirat Goal Hatimu
  3. Menginstall Integritas ASN: Internalisasi Nilai-Nilai Integritas Melalui NLP
  4. Menimbang Kesejahteraan Transmigran: Kini dan Esok
  5. Social Recruitment: Mencari Pekerja dan Mendapatkan Kerja Lewat Jejaring Sosial

Semua judul itu menjadi sebuah rencana yang kemudian diolah kerangkanya (outline), lalu dikembangkan menjadi naskah. Saya memandu para peserta untuk mengembangkan outline-outline tersebut dengan memastikan juga tersedianya bahan berupa data, fakta, serta contoh-contoh kasus untuk disajikan.

Esoknya para peserta diminta untuk mempresentasikan hasil kerangka olahannya serta tidak lupa disertakan brief for publishing yaitu semacam proposal penerbitan ringkas. Peserta lain dipersilakan saling memberikan saran atau masukan, bahkan juga kritik.

Setelah itu, barulah materi dilanjutkan pada bagaimana melakukan revisi, editing, hingga pada berbagai pilihan publikasi (penerbitan). Semua proses tersebut efektif dilaksanakan dua hari dan sangat efektif jika dilakukan 2 hari 1 malam atau 3 hari 2 malam.

Dengan pola seperti itu, harapan mereka yang hendak mengikuti pelatihan menulis pun coba saya wujudkan. Pelatihan tidak berhenti pada dua hari itu karena para peserta dipersilakan berkonsultasi secara gratis sampai naskahnya terwujud.

Pola seperti tersebut juga berlaku untuk pelatihan penulisan lainnya, seperti penulisan artikel atau karya tulis ilmiah. Semua tulisan nonfiksi memang dapat diwujudkan secara efektif dengan membuat matriks outline (frame work) terlebih dulu secara terarah.

Jika Anda ingin mendapatkan pengalaman merancang tulisan dan menulis seperti peserta kelas privat 23-24 Januari 2015, Anda bisa mengikuti kelas yang satu ini.

Training-2015-Buku

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.062 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: