Pos-pos Terbaru

ISEH PENAK ZAMANKU TOH LE

Hari Minggu depan, 17 Mei jatuh sebagai Hari Buku Nasional yang ditetapkan Presiden Soeharto dengan berpatok pada hari lahirnya Perpustakaan Nasional RI pada 17 Mei 1980. Padahal, hari itu juga sama dengan hari kelahiran Ikatan Penerbit Indonesia 65 tahun lalu.

Soeharto selama masa pemerintahannya memang memberikan perhatian penuh terhadap pembangunan perbukuan nasional, berbeda kemudian dengan presiden-presiden setelahnya. Ikapi mencatat kegiatan paling prestisius masa Soeharto adalah pada 2 Mei 1973. Pada tanggal tersebut yang tercatat sebagai tahun kedua pencanangan Tahun Buku Internasional 1972, Presiden Soeharto mengundang pengurus Ikapi untuk jamuan makan siang di Istana Bogor. Kala itu Ikapi dipimpin oleh Ajip Rosidi.

Menyikapi produksi buku yang rendah, Soeharto memberikan pesan kepada Ikapi, “Saya harapkan untuk perkembangan buku-buku fungsionil dalam pembangunan bangsa kita, dan untuk perkembangan perpustakaan-perpustakaan, agar Saudara-saudara dapat menyusun usul-usul yang telah diolah matang-matang dan dirumuskan secara konsepsionil.”

Makan siang bersejarah itu berbuah dana yang dijadikan modal pembentukan Yayasan Buku Utama. Dana yang didepositokan menghasilkan bunga untuk memberi hadiah tahunan kepada buku remaja terbaik setiap tahun. Begitu ungkap Ajip Rosidi.

(Sumber: 50 Tahun Ikapi Membangun Masyarakat Cerdas)


 

Iseh penak zamanku toh le? Untuk soal perbukuan, patut diakui Presiden Soeharto memang lebih baik daripada penerusnya kemudian. Kini, politik perbukuan kita memang terombang-ambing tak jelas arah. RUU Sistem Perbukuan Nasional yang telah disiapkan bertahun-tahun mangkrak di DPR. Begitu mencuat kasus buku-buku tak layak baca, baru kemudian ribut soal perlunya politik perbukuan. Bahkan, kondisi perbukuan untuk buku-buku edukasi pun berada di persimpangan ketika Kurtilas baru setengah hati dapat dijalankan dan sisanya tetap menggunakan KTSP.

Oh ya, salah satu menteri zaman Orba yang sangat peduli buku dan mencuatkan isu politik perbukuan adalah Fuad Hasan (Mendikbud masa itu). Beliaulah pencetak sejarah membolehkan penerbit menjual buku ke sekolah-sekolah meskipun kebijakan kontroversial ini mengakibatkan karut marut distribusi buku.

Nah, lucunya lagi negeri ini baru sekali menyelenggarakan Kongres Perbukuan Nasional yaitu pada tahun 1995, tepatnya 29-31 Mei. Hebatnya kongres ini melibatkan begitu banyak kementerian, unsur media massa, sekolah/perguruan tinggi, dan unsur masyarakat terkait. Kongres besar itu menghasilkan beberapa keputusan poltik perbukuan, namun kemudian tidak berbunyi sampai kemudian Indonesia mengalami krisis.

Ya, sejak itu, tidak ada lagi kongres-kongresan ataupun lokakarya perbukuan secara nasional yang membincangkan nasib industri buku ke depan dengan melibatkan komponen-komponen penting bangsa ini. Bahkan, untuk acara perhelatan-perhelatan pameran buku di Indonesia, sebagian besar pejabat emoh hadir untuk sekadar membuka–paling sering diwakilkan.

Minimnya kepedulian pemerintah terhadap industri perbukuan nasional sedikit banyak menyebabkan industri ini berjalan sendiri tertatih meski tetap mencoba eksis bersama Ikapi. Itu sebabnya meskipun Indonesia ditetapkan sebagai Guest of Honour Frankfurt Book Fair 2015, kita sejatinya gamang soal data-data perbukuan yang valid dan arah pembangunan industri perbukuan nasional ke depan. Kita seperti bukan negara yang sudah berusia 70 tahun atau industri bukunya lebih tua dari itu.

Selamat Berbulan Buku dan Berhari Buku! Nggak usah mikir. :)

Catatan:
Presiden lain yang tercatat pernah menerima pengurus Ikapi menjelang Kongres Ikapi adalah Megawati Soekarnoputri dan juga Wapres Jusuf Kalla di istana masing-masing

Tulis Buku yang Menarik Bagimu

Bab 3 buku Steal Like An Artist karya Austin Kleon yang diterbitkan versi bahasa Indonesianya oleh Noura Books, bertajuk ‘Tulis Buku yang Menarik Bagimu’ mengikat perhatian saya. Kleon menceritakan bagaimana saat berusia sepuluh tahun dan sehabis menonton Jurrasic Park, dengan tidak sabar ia melanjutkan sekuel film itu melalui PC-nya. Ia membuat sebuah fan fiction–melanjutkan cerita dari karakter yang sudah ada.

stealBab tersebut dimulai dengan subbab TULISKAN APA YANG KAMU TAHU SUKA. Kata TAHU dicoret sebagai tekanan oleh Kleon bahwa lebih baik menulis apa yang kita suka daripada apa yang kita tahu. Menurut Kleon kecenderungan menulis apa yang kita tahu daripada yang kita suka malah menghasilkan cerita buruk tanpa peristiwa menarik di dalamnya.

Sebagai writerpreneur, tantangan saya kadang tidak bisa memilih tulisan yang saya suka (topiknya), bahkan yang saya tahu. Saya harus menerima sebuah tugas penulisan apa pun sepanjang saya mampu melakukannya–bekerja cepat menghimpun bahan dan mengembangkan outline. Namun, saya bersetuju dengan Kleon saya mengerjakannya dengan rasa suka dan cinta, bukan pada topiknya mungkin, tetapi pada upaya mengenali hal-hal baru dan bertemu dengan banyak orang.

Tulisan ini saya buat setelah mencoba menyelesaikan beberapa naskah secara berantai. Satu naskah tentang bagaimana meraih kebahagiaan, satu naskah lagi tentang biografi seorang pengusaha Jepang, dan satu naskah lagi merampungkan hasil wawancara tetang buku sejarah lembaga. Semuanya menguras energi dan pikiran untuk menghimpun bahan dan mengalibrasi perasaan serta pikiran para penggagasnya.

Saya tidak pernah memandang pekerjaan menulis itu dengan ukuran besar kecil, termasuk ukuran imbalannya. Semua saya pastikan mendapatkan perhatian penuh sehingga saya harus membaca banyak buku dan terkoneksi dengan beragam informasi. Saya mengerjakannya dengan rasa suka meskipun kadang rasa itu tidak selalu didukung dengan energi yang cukup untuk menuntaskannya.

Pikiran Kleon soal bab menulis ini sebenarnya pikiran meniru dari sesuatu yang kita suka. Ada cara yang diperkenalkan The Liang Gie, pakar menulis, tentang bagaimana kita bisa meniru cara menulis dari penulis favorit kita. Cara itu disebut copy the master. Cara paling ekstrem adalah menulis kembali karangan penulis favorit tersebut kata per kata.

Apa efeknya? Anda akan terlatih untuk memilih dan merangkai kata-kata.

Berbeda dengan Kleon, ia menyuruh kita membayangkan sekuel dari sebuah tulisan yang belum dirilis. Itu semua dilakukan karena kita begitu suka dengan suatu karya, termasuk penulisnya. Galibnya, kita bisa mengalibrasi cara penulis itu mengembangkan karyanya. Alhasil, muncul karya lain “versi” kita dan tunggulah apakah versi yang ditulis pengarang asli bisa tampak sama dengan yang kita buat.

Cara kreatif ini termasuk ampuh untuk menuliskan buku dengan topik yang kita sukai secara lebih baik daripada yang pernah ditulis orang lain sebelum kita. Anda tinggal membuat gambaran yang lebih meriah dari buku tersebut berdasarkan IMAJINASI, tak sekadar bahan baku seperti pengalaman diri sendiri, pengalaman orang lain, dan bacaan kita. Anda harus berpikir apa yang Anda inginkan dari sebuah buku.

Tulisan ini sekadar selingan menyegarkan pikiran saya tentang menulis (buku). Senyampang juga melenturkan saraf-saraf menulis saya yang sudah pegal. Hehehe kok malah menulis lagi?

Selamat malam dan mempraktikkan. TULIS BUKU YANG ANDA TAHU SUKA!

©2015 oleh Bambang Trim


Mau mempraktikkan menulis apa yang Anda suka? Yuk ikut kelas tanggal 5-7 Juni ke depan.

H48HPOSTER

Masihkah Lomba Mengarang Membuat Senang

Dua belas foto di inbox FB saya kiriman dari Bu Beti, Guru SDN Mekarjaya 21 Depok, saya perhatikan dengan saksama. Foto anak-anak SD yang antusias mengikuti lomba mengarang dalam rangka Hardiknas 2015 di sekolahnya.

Tiba-tiba saya pun ingat dengan buku koleksi saya yang terus terang tidak pernah saya baca dengan saksama karena semata saya koleksi jikalau suatu saat saya memerlukan informasi di dalamnya. Buku itu berjudul Memenangkan Lomba Mengarang karya Suhadi, terbitan Balai Pustaka tahun 1996 (cetakan kedua).

Buku setebal seratus halaman tersebut sangat lengkap mengulas tentang bagaimana mempersiapkan diri untuk lomba mengarang. Suhadi, yang beberapa kali menang dalam sayembara mengarang, membagi pengalamannya secara sistematis.

Namun, buku tersebut memang bukan buat pembaca sasaran anak-anak atau siswa SD jika dilihat dari penyajiannya, melainkan lebih tepat untuk para guru. Pada awal tulisannya, Suhadi menulis berikut ini:

Kita mengetahui bahwa mengarang berhubungan dengan pikiran manusia. Bukan pikir yang asal-asalan. Di dalam aktivitas mengarang tidak mungkin kita menggunakan pikiran yang galau dan rancu. Mengarang membutuhkan pikiran yang teratur dan tenang. Bila pikiran sedang kalut, dan kita paksakan untuk mengarang, dapat dipastikan hasilnya pun semrawut.

Dengan pengertian demikian, maka mengarang merupakan sarana (medium) untuk menenangkan pikiran. Dengan mengarang manusia terbiasa menggunakan pikiran yang teratur. Keteraturan pikian ini tentu saja besar pengaruhnya atas hidup mansuia sehari-hari ….

Jadi, kata Pak Suhadi, orang galau lebih baik jangan mengarang. :)

Nah, saya justru tertarik juga dengan biodata ringkas penulis di halaman belakang buku. Begini kata-katanya:

Penulis dilahirkan oleh keluarga tani miskin di tepian Sungai Konta sebagai anak yatim pada tanggal 6 November 1940 yang lalu. Himpitan hidup sejak kecil sebagai penggembala di ladang gersang ternyata menempa pengalaman mendalam yang kini merupakan kenangan kenikmatan tersendiri sebagai motivasi perjuangan ….

Ya, Pak Suhadi adalah sosok guru sejati dan berprestasi. Penghargaan dari penulis bahkan diterimanya langsung dari Presiden Soeharto masa itu. Ia yang ditempa oleh kegetiran hidup mampu bangkit sebagai pendidik, sekaligus pengarang.

Semangat mengarang ini pula yang sama sedang ditularkan oleh guru-guru di SDN Mekarjaya 21 Depok. Bermula dari program membaca selama 10 menit setiap pagi hari sebelum bel sekolah berdering, pada Hardiknas 2015, anak-anak SD itu pun didorong mengikuti lomba mengarang bertajuk: SUDAHKAH SEKOLAHKU MENJADI TEMPAT BELAJAR YG MENYENANGKAN.

Pahlawan tanpa tanda jasa di SDN Mekarjaya 21 Depok.

Pahlawan tanpa tanda jasa di SDN Mekarjaya 21 Depok.

Anak-anak SDN Mekarjaya 21 Depok, membaca sebelum belajar.

Anak-anak SDN Mekarjaya 21 Depok, membaca sebelum belajar.

Topik lomba mengarang itu saya rasa menarik sekali. Saya bayangkan bagaimana anak-anak secara jujur bisa berkisah tentang sekolahnya dan memberi pendapat. Mereka pasti menarik pengalamannya sehari-hari dan juga terbantu menyusun kata-kata karena buku-buku yang dibacanya. Mereka tengah berlatih menyusun alur pikirnya.

Antusias mengikuti lomba mengarang.

Antusias mengikuti lomba mengarang.

11216007_367059623499223_82225046_n

Mengarang di mana pun dalam kondisi apa pun.

11180180_367059526832566_767500628_n

Mendengar arahan dari Bu Guru sebelum beraksi.

Sekolah dasar seperti SDN Mekarjaya 21 Depok ini seperti sudah terkondisikan dengan kegiatan literasi. Inilah kurikulum sesungguhnya yang dimulai dengan pembiasaan-pembiasaan dan mengarah pada satu tujuan penanaman keterampilan hidup (life skill).

Belajar mengarang bukan bermaksud semata membuat peserta didik menjadi pengarang, melainkan lebih jauh adalah menguasai keterampilan mengarang/menulis yang sangat diperlukan untuk hidupnya. Karena itu, ketika mengarang diperlombakan di antara mereka seiring dengan pembiasaan mencintai kegiatan literasi dasar (membaca di antaranya), mereka akan menikmatinya seperti melakukan perjalanan dengan banyak pemandangan.

Jadi, pertanyaan dari judul di atas: Masihkah Lomba Mengarang Membuat Senang? Bergantung pada apa yang terjadi di lingkungan anak-anak tersebut.

Ingat bahwa pelajaran mengarang, termasuk banyak dibenci atau dihindari. Mengarang seperti menyiksa pikiran anak-anak kita soal tema, topik, judul, dan kerangka karangan. Itulah kesalahan berpikir soal mengarang yang menyenangkan. Tentu sekolah harus membuat terobosan, terutama di tingkat dasar.

Saya punya resep terobosannya, tetapi saya sedang persiapkan menjadi buku. Suatu saat saya juga akan berkunjung ke SD Mekarjaya 21 Depok untuk mengajar mengarang di sana. :)

(Memori ingatan saya kembali pada ide The Story Explorer yang saya gulirkan dulu di Penerbit Tiga Ananda, Solo dan mengisi berbagai pelatihan menulis untuk anak-anak.)

©2015 oleh Bambang Trim

Kredit Foto: Ibu Beti, Guru SDN Mekarjaya 21 Depok.

Ide yang Tak Pernah Berwujud

Berapa ide yang sudah Anda hasilkan dan hanya teronggok tak bergema di folder-folder hardisk Anda? Ide itu bisa disebut tema atau bahkan topik yang menunggu untuk dikembangkan, setelah itu dieksekusi ….

Alasan klise: Anda adalah pabrik ide, tetapi Anda tidak pernah punya waktu untuk mengembangkannya dan menuliskannya menjadi tulisan utuh. Alasan lain, Anda memang tidak tahu harus mulai dari mana. Ide itu datang begitu saja. Setelah diikat malah Anda abaikan hingga menjadi tahanan tanpa pengadilan.

img_2534

Sebagian besar ide memang tidak pernah terwujud, termasuk terjadi pada mereka yang menginginkan idenya dibukukan. Saya sering ditanya soal ini: “Ide itu banyak, tetapi bagaimana mewujudkannya?”

Saya akan balik bertanya, “Adakah tujuan yang ingin Anda capai ketika menangkap dan memikirkan ide itu? Atau hanya sekadar ide berkelebat, lalu Anda tangkap?”

Kalau ada ide berkelebat, sengaja Anda tangkap, itu sama dengan menangkap burung sembarangan tanpa alasan. Sudah susah-susah diperoleh, Anda malah tidak tahu mau diapakan. Karena itu, tidak setiap ide memang harus ditangkap jika Anda tidak punya tujuan sama sekali dengan ide tersebut.

Saat ide ditangkap, Anda sebenarnya sedang memulai proses penciptaan mental. Penciptaan yang baru bersifat abstrak bahwa Anda akan menghasilkan sesuatu dengan menyelesaikan ide itu ke dalam bentuk tulisan. Tulisan bisa apa saja: fiksi, nonfiksi, atau faksi. Apa yang perlu diperhatikan bahwa tidak terjadi friksi di dalam pikiran atau hati Anda sehingga mengganggu jalannya eksekusi.

JANGAN ABAIKAN PROSES

Saya kembali mengulang proses standar dalam menulis:

PREWRITING > DRAFTING > REVISING > EDITING > PUBLISHING

Proses yang sangat menentukan ide Anda bisa dikembangkan adalah prewriting. Apa yang dilakukan pada pramenulis ini?

pramenulis

Jadi, ada lima aktivitas yang dilakukan dalam pramenulis. Setelah ide diperoleh, pada saat bersamaan Anda mengumpulkan pemikiran dan informasi serta menentukan tujuan penulisan. Ide itu mau dibuat apa?

Akan dibuat sebuah kisah, dibuat sebuah perenungan dan pembelajaran, dibuat sebuah motivasi, atau dibuat sekadar sebuah informasi penting. Bersamaan dengan itu, di benak Anda pun pasti sudah tergambar siapa pembaca sasaran tulisan Anda.

Selanjutnya, Anda tuangkan sebuah kalimat topik untuk mengonkretkan ide Anda. Kalimat topik harus mencakup tujuan dan pembaca sasaran. Contohnya:

“Tulisan saya ini memberi motivasi kepada para remaja untuk mulai merencanakan kebahagiaan hidupnya dengan 9 poin petunjuk.” 

Setelah kalimat topik dituliskan, selanjutnya tugas Anda adalah mengembangkan poin isinya dengan cara pemetaan pikiran. Contohnya, saya akan membuat judul kerja (working title): GUE PILIH BAHAGIA.

PETA PIKIRAN

Penampakan pengembangan pikiran saya pun mulai terlihat. Hanya ada yang saya simpan sementara yaitu 9 Cara untuk Bahagia. Saya pun telah menyiapkan beberapa bahan dan memburu bahan-bahan yang mungkin saya perlukan,

Setelah peta pikiran jadi hanya dari coretan-coretan, barulah sebuah kerangka atau outline disusun. Saya sering menyebutnya matriks outline atau frame work untuk memandu penulisan buku secara bertahap.

ini tentang eksekusi ide

Jika Anda memerlukan pendampingan untuk eksekusi ide secara bertahap, Anda boleh bersua saya dalam H48H PELATIHAN MENULIS BUKU LANGSUNG PRAKTIK LANGSUNG JADI Batch #2 pada tanggal 5-7 Juni. Anda bisa merencanakan hal ini sebelum bulan Ramadan tiba–menjadi saat tepat untuk Anda menuliskan buah pikiran Anda secara nyata.

H48HPOSTER2

Palangka Raya Jadi Kota Pertama Pencanangan Aksi Literasi

Ceria dan penuh tawa itulah yang tampak pada wajah anak-anak SD Percobaan dan beberapa SD lain di Palangka Raya. Pasalnya, Rona Mentari, pendongeng luar biasa, mampu menghidupkan suasana dalam acara Pencanangan Gerakan Aksi Literasi: 10 Menit Bacakan Cerita untuk Anak, bertempat di SD Percobaan Palangka Raya, Kalteng.

Gerakan tersebut dicanangkan pada tanggal 28 April 2015 dalam rangka mendukung program Kalteng Harati (Cerdas) oleh Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah. Hadir dalam pencanangan tersebut Kepala Disdik Provinsi Kalimantan Tengah, Drs. Dambler Liwan, sekaligus meresmikan Gerakan Aksi Literasi sebagai program Disdik Kalteng. Hadir pula dalam acara Kepala Disdik Palangka Raya, Norma Hikmah, para pengawas, dan ini juga yang membuat acara menjadi meriah yaitu hadirnya 140 kepala sekolah SD dari 14 kabupaten/kota di Kalteng serta seluruh kepala sekola SD se-Palangka Raya.

Dari Ditjen Pendidikan Dasar Kemdikbud, hadir Ibu Dewi Utama Fayza, didamping tim AMIND yaitu Bambang Trim sebagai Ketua Program dan Rona Mentari, praktisi mendongeng untuk anak yang juga pegiat AMIND. Hadir pula, wakil dari Provinsi Kalteng, yaitu Asisten III Provinsi, Herie Saksono.

Drs. Dambler Liman, Kadisdik Kalteng tengah membuka acara.

Drs. Dambler Liwan, Kadisdik Kalteng tengah membuka acara.

Palangka Raya menjadi kota pertama yang menyambut program Gerakan Ayo Membaca Indonesia (AMIND) sebagai gerakan masyarakat untuk menanamkan minat membaca dan minat menulis. Gerakan yang telah mendapatkan restu dari Mendikbud, Anies Baswedan, diadakan demi melancarkan usaha menanamkan literasi dasar kepada anak-anak. AMIND sendiri resmi diluncurkan pada Maret 2015 lalu yang diketuai Dedi Sjahrir Panigoro.

Tindak lanjut dari program ini adalah pemberian materi literasi dasar bagi guru-guru SD dalam bentuk Kamp Literasi. Program Kamp Literasi didesain selama 3 hari 2 malam dengan berbagai materi yang dapat memperkaya wawasan para guru untuk mengajarkan literasi dasar kepada siswa-siswa SD. AMIND telah siap membawa program ini ke seluruh Nusantara, termasuk menghadirkan narasumber yang mumpuni untuk memulai perubahan dari guru-guru SD.

Paduan suara dari SD swasta di Palangka Raya turut memeriahkan acara.

Paduan suara dari SD swasta di Palangka Raya turut memeriahkan acara.

Kadisdik Palangka Raya tengah berekspresi membacakan cerita.

Kadisdik Palangka Raya tengah berekspresi membacakan cerita.

Jajaran Disdik Kalteng, Disdik Palangka Raya, dan para kepala sekolah.

Jajaran Disdik Kalteng, Disdik Palangka Raya, dan para kepala sekolah.

Anak-anak SD yang setia mengikuti acara demi acara.

Anak-anak SD yang setia mengikuti acara demi acara.

Ibu Dewi Utama membacakan penggalan cerita kepada anak-anak.

Ibu Dewi Utama membacakan penggalan cerita kepada anak-anak.

Kemeriahan menjadi bertambah ketika para pejabat Disdik membacakan cerita secara bergantian kepada anak-anak. Cerita yang dipilih berasal dari cerita rakyat Kalimantan Tengah. Lalu, Rona Mentari, membuat suasana pecah oleh tawa anak-anak dengan kepiawaiannya membawakan dongeng rakyat Kalteng yang telah dimodifikasi. Rona beraksi dengan gitar kecilnya.

Salam jumpa dari Rona Mentari

Salam jumpa dari Rona Mentari

Aksi Rona Mentari

Aksi Rona Mentari

Kadisdik Provinsi memberi arahan didampingi Asisten III Provinsi, Herie Saksono.

Kadisdik Provinsi memberi arahan didampingi Asisten III Provinsi, Herie Saksono.

Secara informal, pada akhir acara, Kadisdik Provinsi Kalteng kembali memberikan arahan untuk para kepala sekolah agar mulai menggalakkan para guru untuk mau membacakan buku kepada anak selama 10 menit sebelum memulakan pelajaran di kelas. Salah satu cara efektif yang mendorong minat baca anak adalah membacakan buku-buku di hadapan mereka meski hanya 10 menit.

Acara Gerakan Aksi Literasi yang berlangsung lebih kurang selama dua jam itu menyisakan semangat bagi AMIND sendiri dan optimistis bahwa gerakan semacam ini niscaya untuk memulai perubahan-perubahan kecil dari karut marut dunia pendidikan kita–seperti yang ditengarai Mendikbud Anies sebagai Gawat Darurat Pendidikan. Bagaimanapun perubahan harus dimulai dengan aksi nyata.

Lepas dari acara pagi yang meriah tersebut, tim AMIND kembali memberikan materi literasi untuk para kepala sekolah yang tengah mengikuti acara Bimtek. Para peserta yang haus akan informasi dan ilmu diberi stimulus agar lebih percaya diri mengelola sekolah dan memberikan yang terbaik untuk peserta didik.

“Lupakan cara-cara belajar konvensional, belajar dengan buku-buku pelajaran dan kurikulum yang kaku. Mulai dengan membacakan cerita kepada anak-anak, itulah kurikulum sebenarnya,” ujar Ibu Dewi Utama Fayza memberi pesan kepada para kepala sekolah. [BT]

©2015 oleh Bambang Trim

 

 

Menulis Buku Hanya Dua Hari

Selama tiga hari dua malam, para peserta H48H Batch #1 tekun mengikuti materi dan langsung praktik menulis buku. Hasilnya tiga draf buku meskipun belum tuntas 100% telah dihasilkan dan menjadi motivasi bahwa mereka mampu untuk menulis buku.

Mereka adalah Bapak Ismail Nurdin, Direktur IPDN Sumbar; Ibu Sri Hartati, Kabag Administrasi Akademik dan Kerja Sama serta dosen IPDN Sumbar; Ibu Dwi M. Nastiti, editor IPB Press.

Kelas kecil H48H yang diselenggarakan di Hotel Bumi Sawunggaling tanggal 24-26 Maret 2015. Konsep naskah para peserta langsung diwujudkan ke dalam kover buku dan draf naskah langsung ditata letak layaknya buku. Hasilnya menakjubkan, para peserta berhasil mewujudkan.

H48H#1

Draf awal kover yang disajikan (sebelum editing)

Cover H48H 1504 - Di Balik Cover H48H 1504 - Kiat Cover H48H 1504 - Prospek

Peserta mendapatkan pencerahan tentang proses standar menulis buku, anatomi buku, plus pengetahuan tentang editing naskah. Selanjutnya, tinggal melakukan pola yang sama untuk menghasilkan karya-karya lain.

DSCN3219

Ingin ikut pelatihan Batch #2?

H48HPOSTER