Bagaimana Saya Membantu Seseorang Menulis Buku

Mungkin banyak yang salah sangka tentang jasa penulisan buku yang saya sediakan. Ada yang mengira bahwa bisa memesan sebuah buku dengan judul tertentu, lalu saya harus menuliskannya untuk mereka dari awal. Apakah benar saya bisa mengerjakan hal semacam ini?

Wajar jika ada yang menyangka seperti itu karena kadang “iklim” akademis kita membuka peluang-peluang untuk berbuat “kecurangan” semacam itu. Ya, mencoba menghasilkan karya tulis, tetapi meminjam tangan orang lain.

Benar, saya memang menyediakan jasa ghost writing (penulisan bayangan) khusus hanya untuk buku-buku autobiografi, biografi, atau memoar ketika seseorang yang memiliki sejarah hidup luar biasa kesulitan menuangkan kisahnya ke dalam tulisan. Untuk itu, si empunya cerita adalah author atau orang yang memiliki gagasan dari kisah itu sehingga namanya pun muncul sebagai pengarang. Nama saya pun tersamar di dalamnya.

Jika tidak ada orang yang berprofesi sebagai ghost writer, tentu akan banyak kisah inspiratif orang-orang hebat tidak bisa dituliskan atau dibukukan dengan sangat “hidup”. Di Indonesia pun banyak yang memerlukan jasa ghost writing semacam ini.

Lalu, saya juga menyediakan jasa co-writing atau penulisan pendampingan dan nama saya akan tercantum sebagai penulis kedua atau penulis ketiga dari para pemilik gagasan sejati. Jadi, tugas saya sama dengan ghost writer yaitu membantu mengembangkan gagasan ke dalam tulisan yang lebih berdaya. Jasa co writing tersedia untuk buku nonfiksi, seperti buku bisnis, buku kiat, dan buku edukasi (yang bukan text book).

Hanya Bermodal Ide

Apakah bisa seseorang yang hanya bermodal ide, lalu meminta bantuan saya untuk menuliskannya? Tentu kalau itu ide mentah, masih ada hal yang perlu dikerjakan dan saya tidak menempatkan diri sebagai orang yang bekerja membangun dari awal–karena jelas itu bukan karya saya sepenuhnya. Ide seseorang harus diturunkan menjadi topik dan sub-subtopik yang membentuk sebuah outline buku tahapan secara utuh.

Ide itu pun harus didukung oleh sumber-sumber tepercaya dan syukur-syukur merupakan hasil riset. Alhasil, tetap buku itu gagasan orisinalnya milik si empunya ide. Sekali lagi, saya hanya membantu menuliskannya dan menata sumber-sumber menjadi logis. Jadi, saya tidak menerima pekerjaan mentah dari perseorangan untuk menuliskan idenya yang hanya berwujud tema atau topik. Lalu, penulisan dan riset sepenuhnya diserahkan kepada saya. Selain tidak etis secara akademis, penulisan buku seperti ini juga membohongi publik pembaca hanya demi meningkatnya merek diri atau demi kenaikan pangkat.

Perlu Tatap Muka

Setiap klien yang saya tangani memang harus bertatap muka dengan saya agar saya mampu mengalibrasi pikiran, perasaan, dan gagasan klien saya tentang bukunya. Bahkan, dengan coaching, klien saya pun akan mampu dituntun mengembangkan outline bukunya. Syaratnya hanya satu, sang klien haruslah menguasai topik yang sedang digagasnya.

Apakah saya bisa membantu menuliskan walaupun itu bukan bidang ilmu yang saya kuasai? Pada dasarnya teknik menulis dapat dikembangkan untuk bidang apa pun. Karena itu, dengan pengalaman dua puluh tahun dan mengerjakan ratusan judul buku, saya sedikit banyak mampu beradaptasi dengan beberapa bidang ilmu/kajian untuk membantu penulisannya.

Namun, satu hal yang perlu saya tekankan: saya tidak mampu atau tidak mau mengerjakan (menulis) buku dari nol atas nama klien saya. Karena itu, jika ada yang menanyakan apakah saya bisa membantunya menerbitkan buku, saya akan bertanya terlebih dahulu apakah naskahnya sudah ada. Jika belum, hal ini menjadi sinyal bagi saya untuk menelusuri kebutuhan klien saya. Ya tadi, jangan-jangan ia menyangka saya bisa membuatkannya buku atas namanya.

***

Beberapa waktu lalu ada seseorang yang mengundang saya untuk menjadi teman BBM-nya. Lalu, saya menerima broadcast message layanan penulisan yang dibukanya, termasuk layanan penulisan skripsi-tesis-disertasi. Saya pun coba bertanya dan menegur apakah layanannya tersebut tidak melanggar etika akademis? Ia tidak menjawab, tetapi malah kontak saya dihapusnya. :)

Nah, jasa yang saya berikan, baik di PT Trimuvi Akselerasi Media dan CV Detikata Media tidak berselancar dalam gelombang membuatkan karya tulis ilmiah untuk mereka yang  kepepet karena tuntutan pekerjaan. Alih-alih berbisnis dengan dalih membantu, saya malah bisa terpeleset masuk ke dasar laut penuh tipu muslihat.

Cukuplah dalam dunia politik yang penuh tipu muslihat. Untuk dunia akademis, saya tak mau menambah-nambah.

7 Tips Menulis Buku Kumpulan Artikel

Banyak di antara penulis memulai debut sebagai penulis artikel atau esai yang memang dari segi panjang tulisan ringkas sekali (biasa dalam ukuran 300 s.d. 2.000 kata). Bahkan, kini media massa ataupun majalah dan jurnal ilmiah menyediakan kapling yang sangat terbatas bagi sebuah tulisan bentuk artikel ini. Contohnya, Kompas yang menetapkan kapling hanya 700 kata setara dengan 3,5 halaman kuarto. Tentulah kondisi ini menuntut kepiawaian seorang penulis menyampaikan opini berikut pemikiran pendukungnya seringkas mungkin.

Lalu, bagaimana jika artikel atau esai itu hendak dibukukan? Ya, ini sering disebut dengan republishing articles yang dilakukan penulis atau penerbit. Outline buku pun merupakan outline butiran–berbeda dengan buku sejati yang beroutline tahapan. Untuk mengonversi tulisan-tulisan tersebut menjadi buku, Anda perlu memperhatikan tujuh tips berikut ini.

  1. Pastikan kumpulan artikel Anda merupakan kumpulan tulisan dengan topik yang sama, contohnya topik pengasuhan anak (parenting) atau topik wanita wirausaha. Anda sebaiknya tidak mencampur aneka tulisan beragam topik dan berharap pembaca akan bisa menikmati semua tulisan Anda tanpa kebingungan. Karena itu, jika hendak merencanakan artikel/esai menjadi buku, sebaiknya Anda konsisten menulis dalam satu topik yang seragam. Jadi, jangan sampai Anda menulis segala hal; ada politik, ada parenting, ada kesehatan, bahkan ada kesenian.
  2. Pikirkan untuk menyusun tulisan Anda dengan urutan yang baik. Contohnya, Anda menempatkan tulisan yang menarik pada awal, tengah, dan akhir. Dengan demikian, ritme kemenarikan tulisan terjaga dan pembaca mendapatkan kejutan tulisan ataupun tulisan yang terbaik di awal, tengah, dan akhir. Jadi, jangan menyusun urutan tulisan misalnya, berdasarkan tanggal terbit. Syukur-syukur tulisan Anda memang memiliki daya pikat semuanya.
  3. Pilih tulisan yang aktualitasnya masih terjaga atau masih relevan disajikan sebagai bahan bacaan penambah wawasan, pengetahuan, dan hiburan. Karena itu, tulisan-tulisan opini yang sifatnya tidak terikat momentum akan lebih relevan untuk disajikan. Jika Anda menyajikan tulisan tentang pileg atau pilpres kembali menjadi buku, tentu kontennya sudah “basi” karena momentumnya sudah lewat.
  4. Kembangkan tulisan lebih dalam. Ingat bahwa di media Anda dibatasi kapling. Bayangkan, apa yang bisa Anda sampaikan hanya dalam dua halaman? Karena itu, dalam buku Anda masih bisa “menarik napas lebih panjang”. Begitupun pembaca buku menginginkan kedalaman yang lebih daripada sekadar artikel pendek di media massa. Untuk itu, Anda dapat merevisi atau mengembangkan artikel Anda sendiri secara lebih lengkap dan tuntas.
  5. Jangan lupa menyebutkan media dan tanggal saat artikel/esai pernah dimuat sebagai kode etik penerbitan ulang. Dalam buku, Anda juga dapat menyajikan tulisan-tulisan yang belum pernah dipublikasikan atau tulisan baru sebagai daya tarik untuk pembaca.
  6. Tambahkan visualisasi yang akan memperkuat tulisan Anda, seperti foto, ilustrasi tangan, infografik, grafik, skema/bagan, dan tabel. Di dalam buku sekali lagi Anda dapat lebih memperjelas isi tulisan Anda dengan alat bantu visual tersebut.
  7. Jika ada lebih dari 30 tulisan yang hendak Anda sajikan, Anda dapat membagi kelompok tulisan berdasarkan subtopik menjadi 2-3 bagian dan pada tiap-tiap bagian termuat beberapa tulisan. Pembaca akan lebih mudah menandai subtopik yang Anda bagi-bagi tersebut.

Demikian tujuh tips bagi Anda yang hendak membukukan kumpulan tulisannya. Semoga bermanfaat.

Copyright 2014 oleh Bambang Trim

Pengusaha Jangan Takut untuk Menulis

Dua hari kemarin, 17-18 September 2014 ada kesempatan istimewa bagi saya untuk mengisi kursus privat menulis. Awalnya lewat sebuah panggilan telepon, seorang Bapak yang mengaku bernama Rizal dari Palembang menanyakan perihal pelatihan penulisan.

Karena tidak ada pelatihan dalam waktu dekat, saya menawarkannya untuk kelas privat di Cimahi, Bandung. Beliau menyanggupi dan langsung menetapkan jadwal Rabu-Kamis itu.

Tanpa mengenal sebelumnya, perjumpaan dan kelas hari pertama menjadi awal perkenalan yang hangat. Ternyata Bapak Ahmad Rizal adalah pengusaha ternama di Palembang, Sumatera Selatan. Beliau juga menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Kadin Sumsel dan Wakil Ketua KONI Sumsel. Di bidang usaha, beliau juga kadang berkutat dalam penanganan kasus-kasus sengketa usaha sebagai hakim arbitrase.

Ini yang menarik. Mengapa Pak Rizal yang begitu tinggi aktivitas kesibukannya mau menyempatkan diri belajar menulis, bahkan dalam usia 51 tahun? Tuntutan aktivitas dan kegiatan kembali ke dunia kampus adalah dorongan utama beliau ingin mampu menulis dengan baik.

Pak Rizal tengah mengerjakan tugas menyusun paragraf.

Pak Rizal tengah mengerjakan tugas menyusun paragraf.

Saya takjub ketika beliau mampu menyelesaikan tugas artikel dalam tiga halaman. Mengapa? Karena beliau mengerjakan lebih dari dua jam. Artinya, ada sebuah perjuangan yang dilakukan untuk berproses menulis. Hasilnya, sebuah artikel tentang isu yang hangat (kesiapan Palembang menjadi host Asian Games 2018) dengan susunan paragraf ringkas khas artikel dan beberapa data serta fakta penguat.

Mengapa takjub? Karena beliau belum pernah menulis sama sekali. Dalam pembelajaran sehari, Pak Rizal sudah mampu melakukan drafting. Ya, pada hari pertama beliau mendapat pembekalan tentang prewriting yang berlanjut pada drafting. Pada hari kedua, beliau mendapat pembekalan tentang revising dan editing. Saya tengah menunggu beliau untuk mampu memasukkan artikel hasil revisi dan editing ke media di Sumatera Selatan.

Ya, pengusaha, pejabat pemerintah, atau siapa pun tidak perlu takut untuk mau dan mampu menulis dengan baik. Hanya diperlukan waktu singkat, konsistensi, dan pendampingan (coaching) secara tepat.

Perlu kegigihan dan kemauan mengikuti proses untuk mampu menulis. Bambang Trim bersama Ahmad Rizal.

Perlu kegigihan dan kemauan mengikuti proses untuk mampu menulis. Bambang Trim bersama Ahmad Rizal.

Testimoni Bapak Ahmad Rizal untuk

Kursus Privat Menulis Trimuvi

MATERI
Cukup lengkap, baik tertulis maupun penyampaian melalui paparan. Detail disampaikan dan ditambah dengan contoh-contoh serta penggalan-penggalan paragraf dan kalimat, baik yang benar maupun yang salah.

CARA PENYAMPAIAN
Lugas, informatif, dan langsung pada persoalan, sehingga mudah dan cepat diserap, bahkan bisa mulai diterapkan.

HASIL YANG DIRASAKAN
Dengan didapatnya landasan teori dan contoh-contoh tulisan yang ada, muncul rasa kepercayaan pada diri sendiri untuk memulai menulis dan ada sedikit keyakinan bahwa ke depan saya akan menjadi seorang penulis yang baik.

Bandung, 18 September 2014
Ahmad Rizal
Ketua Umum Kadin Sumsel, Wakil Ketua KONI Sumsel

Editing Mengantarkan Anda Menjadi Profesional

Ilmu editing (editologi) yang merupakan ranting dari ilmu penerbitan (publishing science) adalah ilmu langka bagi orang Indonesia. Pendidikan formal tentang ilmu ini pun hanya dipelajari pada tingkat diploma tiga dan itu pun tinggal satu PTN yang bertahan.

Bagaimana dengan kursus atau pelatihan? Sama saja, langka. Kalaupun ada, mungkin hanya berkonsentrasi seputar masalah kebahasaan. Padahal,  di luar kebahasaan masih ada hal-hal lain terkait editing yang mesti dikuasai seorang penulis ataupun editor.

Saya termasuk “produk” dari ilmu ini sehingga karier saya pun tidak lepas dari dunia editing dan termasuk dunia tulis-menulis. Tiga tahun belajar di Prodi D3 Editing Unpad, lalu saya melanjutkan ke program ekstensi Sastra Indonesia yang sebagian besar mata kuliahnya juga terkait ilmu penerbitan.

Jadi, wajarlah jika di Indonesia mereka yang berprofesi editor sebenarnya autodidak dan hanya bermodal latar belakang ilmu pengetahuan tertentu. Untuk itu, demi menanamkan pemahaman yang benar terhadap profesi ini, saya menggelar pelatihan Basic Copy Editing bersama Trimuvi.

Siapa pun, apakah itu editor, penulis, guru, dosen, widyaiswara, pengelola media, staf humas, dan staf sekretaris perusahaan, pasti sangat memerlukan ilmu ini terkait aktivitas tulis-menulis yang digeluti. Pelatihan langka ini sangat sayang dilewatkan.

 

BasicCopyeditingRev

Rundown Acara Basic Copy Editing Training

Hari I, 22 Oktober 2014

8:30 a.m. – 8:45 a.m. Registrasi Ulang

Sambutan                                Trimuvi

Ruang Kelas MLC
8:45 p.m. – 10:00 p.m. Pembukaan

Sessi I: Lingkup Copyediting dan 7 Aspek

Editing

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC
10:00 a.m. – 10:15 a.m. Coffee Break Ruang Kelas MLC
10:15 a.m. – 12:00 a.m. Studi Kasus 7 Aspek Copyediting                                                                    Bambang Trim Ruang Kelas MLC
12:00 a.m. – 13:00 p.m. Istirahat & Makan Siang

Trimuvi Support

Ruang Kelas MLC
13:00 p.m. – 14:00 p.m. Sesi II

Editing Tata Bahasa

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC
14:00 p.m. – 15:00 p.m. Praktik Editing Tata Bahasa

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC
15:00 p.m. – 15:15 p.m. Coffee Break

Sekretariat

Ruang Kelas MLC
15:15 p.m. – 16:00 p.m. Praktik Editing Tata Bahasa

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC

 

Hari II, 23 Oktober 2014

8:30 a.m. – 10:00 a.m. Sesi III

Gaya Selingkung

Tasaro

Ruang Kelas MLC
10:00 a.m. – 10:15 a.m. Coffee Break Ruang Kelas MLC
10:15 a.m. – 12:00 a.m. Penerapan Gaya Selingkung                                                                           Tasaro Ruang Kelas MLC
12:00 a.m. – 13:00 p.m. Istirahat & Makan Siang

Sekretariat

Ruang Kelas MLC
13:00 p.m. – 14:00 p.m. Sesi IV

Mechanical Editing

Bambang Trim

                                                Tasaro

Ruang Kelas MLC
14:00 p.m. – 15:00 p.m. Praktik Mechanical Editing

Bambang Trim

                                                Tasaro

Ruang Kelas MLC
15:00 p.m. – 15:15 p.m. Coffee Break

Sekretariat

Ruang Kelas MLC
15:15 p.m. – 16:00 p.m. Sesi V

On-Screen Editing

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC

 

 Materi

 

SESI DESKRIPSI
Lingkup Copy Editing dan Tujuh

Aspek Editing

Peserta mampu

  • memahami lingkup kerja copyediting yang berbeda dengan editing secara umum dan proofreading;
  • memahami tingkatan copyediting;
  • memahami 7 aspek: 1) keterbacaan dan kejelahan; 2) konsistensi; 3) kebahasaan; 4) kejelasan gaya bahasa; 5) ketelitian data dan fakta; 6) legalitas dan kesopanan; 7) ketepatan rincian produksi;
  • studi kasus penerapan tujuh aspek editing.
Tata Bahasa Peserta mampu

  • memahami konsep bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  • memahami penerapan Pedoman Umum EYD;
  • memahami kasus-kasus kebahasaan umum;
  • memahami kasus-kasus kebahasaan khusus.
Gaya Selingkung Peserta mampu

  • memahami pentingnya penerapan gaya selingkung;
  • memahami unsur-unsur yang terdapat pada gaya selingkung;
  • mencari solusi gaya selingkung vs gaya penulis/pengarang;
  • memahami anatomi tulisan/anatomi buku dan perwajahan.
Mechanical Editing Peserta mampu

  • melakukan praktik mechanical editing dengan tanda-tanda koreksi;
  • memahami verifikasi silang;
  • memahami jenis outline pada buku;
  • memahami editing keterbacaan (readabality) dan kejelahan (legibility);
  • memahami editing data danfakta;
  • memahami editing legalitas/kesopanan.
On-Screen Editing Peserta mampu

  • menggunakan MS-Word untuk melakukan on-screen editing;
  • menggunakan Adobe Acrobat untuk on-screen editing file PDF.

 

Tips Menulis Buku Ilmiah

Anda seorang akademisi atau peneliti yang hendak bertekad menulis buku? Buku memang “karya lompatan” bagi seorang akademisi, peneliti, atau ilmuwan karena lewat bukulah pemikiran dan ilmunya dapat ditebarkan secara luas, sekaligus diawetkan.

Sejak beberapa tahun ini saya telah mengisi berbagai kelas pelatihan penulisan buku ilmiah, baik untuk dosen, widyaiswara, maupun peneliti. Terakhir pada 11-12 September 2014 lalu, saya kembali mengisi untuk peneliti di lingkungan LIPI yang digagas LIPI Press.

Bambang Trim sedang mendampingi peserta untuk menggagas outline buku ilmiah.

Bambang Trim sedang mendampingi peserta untuk menggagas outline buku ilmiah.

Berdasarkan pengalaman mengisi kelas pelatihan dan mendampingi para calon penulis buku, kelemahan utama seseorang tidak mampu menulis buku ilmiah sebagai berikut.

  1. Tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Hal ini biasanya diikuti dengan ujaran, “Ide saya sebenarnya banyak ….”
  2. Penyajian bahasa yang cenderung panjang dan membosankan. Hal ini adalah kelemahan umum tersebab kurang berlatih.
  3. Penyajian to the point tanpa menyisipkan terlebih dahulu unsur-unsur yang mampu memikat pembaca, terutama di dalam lead atau paragraf awal tulisan.
  4. Penyajian yang terkungkung kebiasaan, seperti memulai tulisan dengan definisi, sejarah asal-usul, ataupun latar belakang permasalahan.
  5. Bahasan melebar atau malah sebaliknya, bahasan terlalu sempit tanpa menyertakan bahan atau fenomena-fenomena terbaru.

Dari pengalaman tersebut demi menutupi kelemahan tiada cara lain yaitu memberikan pelatihan dengan praktik langsung. Untuk itu, kunci pelatihan bagi para calon penulis buku adalah memperdalam aspek prewriting yaitu kemampuan menggagas dan mengembangkan ide menjadi draf outline dan drafting yaitu keterampilan menyusun naskah dengan berbagai cara.

Setiap calon penulis itu memerlukan pendampingan, sekaligus stimulus agar ia mampu menyusun satu draf outline jadi yang siap dieksekusi. Selanjutnya, ia dapat berlatih sendiri mengembangkan outline atau kerangka tulisannya.

Tips-tips berikut akan berguna sebagai bahan pelatihan.

  1. Mulailah membiasakan diri untuk menulis buku dengan outline tahapan. Outline tahapan mirip dengan skripsi dengan bagian inti Pendahuluan-Isi-Penutup. Bagian pendahuluan dan penutup biasa merupakan satu bab tersendiri. Adapun bagian isi terdiri atas beberapa bab. Umumnya penulis yang hendak mengambil jalan pintas menulis buku kerap memilih outline butiran yaitu berupa kumpulan tulisan-tulisan pendek (artikel, esai, dsb.). Hal ini tentu tidak akan mampu mengasah kemampuan Anda menulis buku sebenarnya.
  2. Bayangkan apakah Anda memiliki bahan yang cukup untuk mengembangkan sebuah ide penulisan, terutama bahan berupa buku ataupun dokumen tertulis lainnya. Bahan yang terbatas dapat membuat seseorang tidak dapat mengembangkan tulisan dan frustrasi. Akibat lain adalah bentuk penyajian yang akan “berputar-putar” atau “berulang-ulang”.
  3. Persempit topik Anda menjadi lebih spesifik mengingat buku-buku ilmiah cenderung menyasar pasar ceruk (niche). Jika Anda membuat topik “Problema Penyandang Disabilitas”, jelas topik ini terlalu luas. Anda dapat mempersempitnya menjadi “Problema Penyandang Disabilitas dalam Dunia Kerja”. Jika perlu, persempit lagi menjadi “Problema Penyandang Disabilitas dalam Bidang Kerja Industri Kreatif”.
  4. Pelajari outline atau lebih mudah daftar isi buku-buku ilmiah yang beredar di pasaran. Lihat bagaimana sang penulis menyajikan naskahnya. Hal apa dulu yang mereka kenalkan kepada pembaca?
  5. Sisipkan kisah dalam buku-buku Anda. Kisah tidak berarti mengurangi kadar ilmiah karena lewat kisahlah Anda dapat memikat calon pembaca. Contohnya ketika Anda akan membahas tentang tenaga listrik di Indonesia, Anda dapat memulai kisah tentang sulitnya warga Medan mengalami pemadaman listrik hampir tiap hari. Dari kisah ini dapat Anda telusuri sebab musababnya hingga menyentuh topik yang hendak Anda bahas. Jadi, lewat kisah kita bisa mengantarkan topik.
  6. Opini Anda dalam buku harus terlihat. Anda tidak sedang menulis skripsi, tesis, atau disertasi yang kadang “menyembunyikan” opini penulisnya dengan menyajikan teori-teori pendukung sebanyak-banyaknya. Di buku, opini Anda sebagai penulis harus terlihat eksplisit dan teori-teori pendukung (kutipan) digunakan secukupnya saja.
  7. Ketahuilah apakah di lembaga Anda ada semacam buku gaya selingkung (house style book) seperti yang juga diadakan di LIPI Press. Buku tersebut berisi petunjuk penyusunan naskah buku. Jika ada, buku semacam itu perlu Anda pelajari.
Buku gaya selingkung LIPI Press

Buku gaya selingkung LIPI Press

Itulah tujuh tips awal bagi Anda yang ingin menulis buku ilmiah atau buku nonfiksi populer. Selain menggagas ide baru, Anda dapat juga mengonversi atau menyadur karya-karya dalam bentuk laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi menjadi buku.

Selamat berkarya!

 

©2014 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi penulisan-penerbitan buku yang telah menghasilkan 150 judul buku. Ia kini beraktivitas sebagai writerpreneur dengan mendirikan PT Trimuvi (Cimahi, Bandung) dalam bidang pelatihan dan jasa penulisan bisnis/PR dan CV Detikata Media (Solo) dalam bidang pelatihan dan jasa penulisan akademis.

 

Berapa Penghasilan Penulis Indonesia

Saya terpaksa membuat tulisan ini. Lho, kok terpaksa? Pasalnya, saya baru membuka tautan info di detik.com tentang penghasilan penulis Inggris yang hanya kira-kira Rp219 juta per tahun. Lalu, saya buka tautan lebih lengkap di theguardian.com.

Pendapatan minimum di Inggris adalah £16.850 menurut Joseph Rowntree Foundation untuk mencapai standar hidup minimum, sedangkan pendapatan para penulis penuh waktu itu hanya £11.000 pada 2013–jauh menurun dari  £12,330 pada 2005. Penulis yang disurvei oleh Author’s Licensing and Collecting Society (ALCS) bekerja sama dengan Queen Mary, University of London sejumlah 2.454 orang (56% laki-laki dan 44% perempuan).

Survei ini juga mendapati data bahwa hanya 11,5% dari para penulis itu yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk menulis–artinya mereka benar-benar bergantung pada tulisan. Angka ini jauh menurun dari tahun 2005 yang ada 40% penulis profesional. Apakah artinya profesi “penulis” tidak cukup seksi di Inggris sekalipun?

Nah, menulis di sini adalah menulis buku dan diterbitkan penerbit. Jadi, para penulis itu sangat bergantung pendapatannya pada industri buku. Royalti menjadi kata yang memberi magnet soal passive income, tetapi pada kenyataannya hanya segelintir penulis yang benar-benar menerima royalti dengan “nilai nendang”. Sekali lagi, saya sudah menuliskan hal ini tahun 2012 lalu di dalam artikel “Mengapa Saya Tidak Bisa Kaya dari Royalti”.

Kembali ke survei bahwa para penulis profesional itu hidup hanya dengan Rp18,25 juta per bulan. Jika dibanding dengan Indonesia, tentu pendapatan itu sangat besar, setara dengan gaji manajer senior. Namun, apakah penulis Indonesia juga bisa mencapai angka sedemikian?

Hitungan sederhana dari royalti:

  • Cetak 3.000 eksemplar, Harga buku Rp50.000
  • Ada pendapatan = Rp150.000.000,00 dengan asumsi terjual semua.
  • Royalti 10% = Rp15.000.000,00

Pertanyaannya, kapan penulis bisa menerima royalti? Tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun? Kalau asumsi bisa cetak ulang dua kali setahun dan terjual 6.000 eksemplar, berarti setahun bisa memperoleh Rp30.000.000,00 atau setara dengan Rp2.500.000,00 per bulan. Kecil sekali, ya.

Untuk mengejar angka penulis di Inggris maka penulis Indonesia harus menulis paling tidak delapan judul buku dan semuanya harus laku. Sesuatu yang berat untuk dilakukan, apalagi bisa meloloskannya ke penerbit.

Bagaimana dengan menulis untuk media massa? Ya sama saja, seberapa produktif Anda bisa menulis setiap hari dan bisa lolos gawang redaksi setiap bulan?

Penghasilan Ideal Penulis Indonesia

Mereka yang mengaku-ngaku sebagai writerpreneur memang perlu disurvei berapa penghasilan yang bisa mereka peroleh murni dari menulis. Saya kerap membaca buku motivasi menulis, selalu yang dijadikan contoh adalah Andrea Hirata dan JK Rowling. Pertanyaan saya, ya berapa orang di Indonesia yang seperti Andrea, tiba-tiba novelnya menjadi gelombang tren baca yang tidak terbendung, lalu mendapatkan royalti miliaran rupiah?

Atau membandingkan dengan penulis buku best seller yang lain seperti Ippho Santosa dengan buku rezekinya dan terdorong hebat juga dari training-trainingnya. Jika ditanya langsung ke Elexmedia berapa orang penulis kayak Ippho, tentu tak sampai 10% dari seluruh penulis seperti itu.

Jadi, idealnya untuk standar hidup layak, penulis Indonesia harus mendapatkan berapa dari royaltinya? Kalau kita patok angka lebih kurang Rp5,6 juta (sesuai dengan rata-rata biaya hidup minimum yang dikeluarkan BPS 2014), diperlukan penghasilan Rp67,2 juta per tahun.

Sebagian besar penulis buku pop tidak ada yang menyentuh royalti pada angka itu per tahunnya, kecuali penulis buku pelajaran. Saya sendiri mengalami hal itu dari menulis buku pelajaran. Itu pun saya harus menulis buku SD kelas I s.d. VI, royalti yang diterima lebih dari Rp100 juta pada tahun pertama dan kedua. Itu yang membuat saya mampu membeli rumah dan menghajikan ayah saya.

Kalau ditanya ideal, tentulah penulis Indonesia paling tidak harus berpenghasilan Rp120 juta per tahun atau Rp10 juta per bulan. Angka ini mungkin agak sulit dipenuhi industri perbukuan dan media mengingat pertumbuhan penulis di Indonesia juga kini pesat sekali, diikuti dengan pertumbuhan penerbit serta judul buku. Di satu sisi minat atau daya beli tidak naik secara signifikan sehingga “pertempuran” di toko buku menjadi sangat dramatis. Ada buku bagus, justru tidak terjual bagus. Ada yang buku tidak bagus-bagus amat, justru dicari banyak orang.

Tahun 2013, TB Gramedia paling tidak menerima 2.700 judul buku baru setiap bulan. Sebagian besar judul-judul itu tidak mampu bertahan selama tiga bulan. Lewat dari rentang waktu tertentu (biasanya satu tahun), buku itu akan diobral dengan “harga yang condong banget” (50%-70% diskon). Penulis pun hanya mendapat “ampas” dari penjualan obral ini.

Writerpreneur Out of the Box

Dalam buku 5W + 1H Writerpreneur saya menyebutkan soal perlunya seorang penulis profesional untuk berpikir out of the box. Dia harus berpikir tidak hanya menggantungkan hidupnya dari menulis buku atau menulis untuk media, tetapi lebih dari itu ia harus memanfaatkan potensi lain. Di antara potensi itu adalah

  1. menjadi pembicara publik atau trainer;
  2. menjadi editor atau konsultan penulisan-penerbitan;
  3. menjadi penulis bayangan atau penulis pendamping.

Ya, lebih berpikir menjadikan keterampilan penulis sebagai jasa atau menjadikan menulis dan editing sebagai bisnis yang bisa ditawarkan kepada siapa pun. Kliennya bisa lembaga pemerintah, perusahaan, lembaga nirlaba, lembaga pendidikan, bahkan perseorangan. Hal ini yang juga saya lakoni sejak tahun 2008.

Sepengamatan saya rata-rata jasa yang dapat diterima seorang penulis untuk penulisan biografi/autobiografi adalah >Rp150.000,00 per halaman (A4; 1,5 spasi). Angka ini bisa melonjak naik sampai Rp500.000,00 per halaman. Jika buku yang disusun rata-rata 200 halaman, penghasilan yang diperoleh bisa mencapai Rp100.000.000,00.

Namun, jangan berdecak kagum dulu, penulisan biografi/autobiografi bisa memakan waktu lebih dari enam bulan, bahkan setahunan. Angka segitu memang layak. Lebih layak lagi jika seharga mobil baru kelas menengah. Pasalnya terkadang narasumber sulit menyediakan waktu atau data-data harus dikumpulkan dulu dari berbagai tempat.

Supaya bisa mengejar standar penghasilan penulisan tadi, tentu sang penulis pro harus mendapatkan pekerjaan dengan nilai di atas Rp20 juta paling tidak untuk enam pekerjaan selama setahun. Produktivitas menjadi tantangannya, termasuk kecepatan penulisan. Satu lagi tentu adaptasinya terhadap industri jasa penulisan itu sendiri terkait deadline dan metode penulisan.

Di luar yang disajikan ALCS tadi memang ada para penulis pro yang mengambil jalur di luar penerbitan buku. Mereka bekerja dalam ranah jasa.

Periuk Nasi dari Menulis

Saya sudah menggantungkan hidup sepenuhnya dari soal menulis ini sejak awal tahun 2012–tak lagi menjadi karyawan. Penghasilan utama saya banyak ditopang dari pekerjaan sebagai pembicara publik dan konsultan penulisan-penerbitan untuk lembaga pemerintah dan perusahaan swasta. Sekali-sekali saya bekerja untuk klien perseorangan.

Alih-alih bekerja sendiri, saya pun mendirikan bidang usaha berbadan hukum untuk layanan penulisan-penerbitan. Saya melihat kebutuhan ini di tengah kecenderungan industri buku yang kurang bergairah sejak 2-3 tahun terakhir ini dari sisi pendapatan. Sulit sekali mengangkat sebuah buku, kecuali dengan keaktifannya penulisnya menjual dalam training atau seminar-seminar. Penerbit tidak punya kekuatan pendanaan untuk promosi judul per judul.

Jadi, yang saya lihat adalah para penulis perseorangan yang ingin eksis menulis buku bukan untuk tujuan penjualan besar-besaran. Kedua, yang saya lihat lembaga pemerintah dan lembaga swasta yang masih kepayahan untuk menerbitkan sebuah buku secara profesional. Ketiga, adalah lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi, yang masih miskin menghasilkan dosen-dosen penulis buku.

Saya mengisi “periuk nasi” ini dari memberi pelatihan dan memberikan konsultasi-pendampingan sampai seseorang mampu menghasilkan karyanya. Saya tidak lagi menggantungkan dari menulis buku meskipun sampai kini saya masih terus menambah portofolio penulisan buku. Saya tetap menulis buku, tetap dengan objektif membantu lembaga/perseorangan. Tahun ini saya membantu lembaga seperti KPK, Pusdiklatnakes, dan IAARD Press (Balitbangtan) untuk menerbitkan buku.

***

Beruntung di negeri ini angka penghasilan per tahun seperti penulis di Inggris itu adalah sesuatu yang masih mungkin diperoleh. Namun, itu tidak dapat digantungkan dengan menulis buku untuk penerbit. Entah sampai kapan itu bisa diharapkan, kecuali tadi saya sebut, Anda menulis buku pelajaran yang potensi pasarnya sudah jelas: jutaan siswa di Indonesia. Atau Anda beruntung menjadi penulis best seller selanjutnya– tentu best seller yang sebenarnya bukan abal-abal.

Mau tahu banyak lagi? Anda harus menyempatkan diri sekali waktu mengikuti kelas saya di Trimuvi (MUVI Learning Center) Cimahi, Bandung. Kami membuat program-program praktis untuk mencetak para writerpreneur. []

 

Kabar dari Klien: Subdiklatnakes Kemenkes Terbitkan Buku Ajar

Sejak bulan Mei 2014 lalu, saya memberikan pembekalan untuk sejumlah pendidik di lingkungan Subdiklatnakes, Kemenkes RI. Mereka adalah para dosen di Poltekkes dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka terpilih untuk menjadi penyusun buku ajar untuk mata kuliah Kesehatan Ibu dan Anak serta Imunisasi.

Buku ajar pertama yang diterbitkan Subdiklatnakes sebelumnya adalah Pendidikan dan Budaya Antikorupsi (PBAK). Buku ajar PBAK kini dalam proses cetak untuk mulai dipakai pada tahun ajaran 2014/2015 September mendatang. Adapun buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Imunisasi menyusul kemudian sebagai buku yang diterbitkan kedua dan ketiga.

Kegiatan penyusunan buku ini dimulai dengan kegiatan pembekalan atau workshop singkat bagaimana menyusun buku ajar. Seperti biasa saya memulai dari pendekatan prewriting, lalu drafting. Peserta diajak untuk membedah outline yang sudah disusun, termasuk berpatok pada kurikulum serta silabus.

Penyusunan buku memang harus dikoordinasi sedemikian rupa karena satu buku dibuat oleh tim. Untuk itu, perlu adanya kesepatakan dari tim tentang bobot pekerjaan yang mereka lakukan serta teknik penyajiannya yang diusahakan harus seragam. Hal ini menyangkut masalah konsistensi nantinya pada saat diterbitkan.

Presentation1

Rata-rata buku berketebalan 198 halaman dan ditampilkan secara berwarna karena menggunakan beberapa foto sebagai penjelasan. Penanganan editorial dikerjakan langsung oleh tim saya di Trim Komunikata dengan penyeliaan langsung oleh saya. Ini pengalaman kami selanjutnya setelah sebelumnya juga menyelesaikan beberapa buku untuk KPK, PTPN XII, PT Badak NGL, dan juga yang akan datang yaitu IAARD Press, Balitbangtan, Kementerian Pertanian.

Saya bersama tim juga tengah bersiap mengerjakan enam judul buku  untuk Ditjen Binapenta, Kemnakertrans. Khusus untuk pekerjaan ini kami mulai dengan bantuan penulisan hingga penerbitannya.

Semangat kami adalah semangat membantu siapa pun, apakah itu perusahaan swasta atau lembaga pemerintah dan perseorangan untuk dapat menerbitkan buku secara baik dan benar, serta ditangani secara profesional.


 

Tertarik bekerja sama dengan saya dan tim dalam pengerjaan buku Anda? Silakan kontak via WA/HP di 081519400129 atau tambahkan PIN BB saya 749FE40E.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.750 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: