Meniru Sukses IPB Press

Menjelang siang, cuaca Jakarta cerah (9/12). Saya memacu mobil dari arah Ampera, masuk tol menuju Bogor. Sudah ada janji kunjungan ke IPB Press dan bertemu Mas Elang  yang memiliki nama lengkap berikut gelar: Dr. H. Elang Ilik Martawijaya, Ir. MM. Beliau kini menjadi direktur di IPB Press.

Setelah agak kesasar dikit, akhirnya bersua kantor IPB Press di mandala Taman Kencana, Bogor. Saya disambut Mas Elang dan masuk ke bangunan kuno yang dijadikan kantor penerbitan itu. Suasana adem langsung menyergap.

Bangunan kuno, kantor IPB Press di kawasan asri.

Bangunan kuno, kantor IPB Press di kawasan asri.

Hanya sebentar ngobrol tentang lamanya kami tidak bersua–saya terakhir bertemu Mas Elang sekitar tahun 2006 saat masih aktif di MQS–kami pun berkeliling melihat-lihat fasilitas di IPB Press. IPB Press sudah memiliki personel lengkap, seperti editor, layout, dan desainer. Sampai ke belakang, saya pun melihat mesin POD andalan IPB Press dari Xerox tipe Nuvera 120 EA & DocuColor 8002 berikut mesin finishing yaitu mesin potong otomatis dan mesin jilid lem. Artinya, IPB Press dapat melayani cetak terbatas (POD), baik hitam putih maupun berwarna untuk oplag di bawah 500 eksemplar secara in-line.

IPB Press memang mengalami kemajuan signifikan sejak dipimpin Elang Ilik tahun 2009 sebagai perusahaan profesional. IPB Press berbadan hukum PT yang hal itu dimungkinkan tersebab posisi IPB sendiri waktu itu sebagai badan hukum milik negara (BHMN), kemudian berubah menjadi badan hukum pendidikan pemerintah.

Kunci sukses IPB Press terletak pada sentuhan “tangan dingin” Elang Ilik yang pernah mengenyam “pendidikan nonformal” di Elexmedia Komputindo pada bagian pemasaran. Ia juga telah merintis usaha sendiri bernama Gudang Buku sebagai distributor dan pengecer buku. IPB Press pun digenjot untuk menghasilkan buku-buku berkualitas dengan tampilan desain yang menarik, konten yang tertata, harga yang relatif terjangkau, segmentasi pasar yang jelas, serta distribusi yang luas.

Buku mini karya Elang Ilik yang menjadi bahan untuk seminar/pelatihan penulisan buku

Buku mini karya Elang Ilik yang menjadi bahan untuk seminar/pelatihan penulisan buku

Alih-alih sebagai penerbit perguruan tinggi (university press) yang kerap hanya berorientasi memenuhi kebutuhan sivitas akademika, IPB Press juga menjadi perusahaan jasa, terutama jasa cetak print on-demand (POD) yang sangat membantu para akademisi untuk mencetak buku secara terbatas. Banyak penerbitan perguruan tinggi dan juga perseorangan yang menggunakan jasa cetak IPB Press, termasuk jasa untuk desain-layout.

Keberhasilan IPB Press menjadi lokomotif penerbit sukses university press ini membawa Elang Ilik menjadi salah satu inisiator terbentuknya Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) yang kini beranggotakan lebih dari 200 university press seluruh Indonesia. Ia juga kerap diminta untuk berbagi soal penulisan dan penerbitan buku, khususnya untuk lingkup perguruan tinggi.

Pertemuan saya dan Mas Elang seperti berjodoh karena kami sama-sama bergiat dalam penerbitan buku ilmiah sebagai pembicara ataupun trainer. Karena itu, pertemuan tersebut kami manfaatkan untuk saling berbagi pengalaman dan juga berbincang tentang prospek penerbitan buku-buku ilmiah atau ilmiah populer ala university press.

Kunci sukses penerbitan university press memang dalam konteks kini harus memperhatikan unsur 4 C, yaitu

  1. Content yang berarti masih diperlukan keterampilan menyajikan tulisan secara enak dibaca, menarik, dan tentunya mengandung keunggulan materi.
  2. Context yang berarti perlunya menata tulisan dalam kemasan yang baik yaitu dari segi perwajahan isi (tata letak) dan perwajahan kover.
  3. Connectivity yang berarti perlunya membangun keterhubungan dengan para kreator konten (penulis) serta juga pembaca sasaran buku sehingga penerbit dapat memahami kebutuhan, baik penulis maupun pembaca sasaran, termasuk dalam soal pemasaran (harga, persebaran, dan ketersediaan oplag). Konektivitas juga perlu dibangun terhadap kemajuan teknologi, terutama teknologi cetak dan teknologi digital.
  4. Community yang berarti perlunya berinteraksi dengan komunitas university press dan juga mendorong komunitas pembaca buku yang captive dan niche untuk saling berbagi informasi sebagai ciri khas penerbitan perguruan tinggi. Apalagi untuk saat ini, bagaimana penggunaan media sosial sudah begitu meluas dan dapat dijadikan “senjata” publikasi bagi university press.

Untuk menjalankan 4C tadi tidak pelak diperlukan SDM-SDM andal di university press yang memang passion-nya mengarah pada buku atau secara umum publikasi kreatif. University press memang sebaiknya menghindarkan penggunaan SDM-SDM yang sama sekali tidak memahami proses kreatif industri buku, apalagi tidak menyukai buku karena ujung-ujungnya akan bernasib seperti kebanyakan university press lain: hidup segan mati tak mau.

Perjumpaan di IPB Press dengan Mas Elang langsung mendorong saya untuk membuat sebuah konsep pengembangan university press yang bisa dibagikan untuk kepentingan konsultasi, seminar, ataupun pelatihan bagi para pengelola, termasuk juga para dosen/akademisi yang ingin menulis buku. Peluang buku-buku perguruan tinggi untuk maju sangatlah besar, apalagi jika didukung sivitas akademika perguruan tinggi bersangkutan. Namun, yang paling penting juga adalah dukungan pengambil kebijakan di perguruan tinggi seperti rektor untuk mendorong majunya university press.

Bukan apa-apa, penerbit di sebuah perguruan tinggi juga dapat menjadi indikator kemajuan perguruan tinggi tersebut di tengah lemahnya produksi publikasi ilmiah di kalangan dosen/peneliti/akademisi. Terkadang mereka yang ingin menulis dan memublikasikan karyanya memang tidak tahu harus mulai dari mana dan bagaimana hal itu bisa diwujudkan secara baik dan benar. Terus terang memang banyak buku ilmiah atau ilmiah populer yang terbit tidak dikemas secara baik dan benar.

Untuk itu, kami berdua akan bersinergi demi membantu university press di seluruh Indonesia untuk maju bersama.

©2014 oleh Bambang Trim

Marah dan Berkarya

Saya mendapat dua hadiah buku karya Austin Kleon secara tak sengaja. Pasalnya, BB saya tertinggal di jok belakang mobil Mbak Tutuk, CEO Noura Books, ketika saya menumpang untuk mencapai pool travel di Jakarta.

Alhasil, BB dikirimkan via travel plus dua buku Austin Kleon dijadikan sebagai pelindung, bukan menggunakan dus. :) Teman saya menyebutnya sebagai rezeki nomplok. Saya senang dengan cara mengemas barang seperti itu, menjadikan buku sebagai pelindung sekaligus hadiah.

Secara acak saya baca buku berjudul Steal Like An Artist pada halaman 101. Di situ ada bab “Berhenti Bertengkar dan Buat Sesuatu”. Kleon membuka kisah ketika ia begadang dengan laptopnya, lalu istrinya menghardik, “Berhenti bertengkar di Twitter, lakukan sesuatu!”

3d-Steal-Like-an-Artist-NYT

Aha, Kleon membenarkan istrinya, tetapi amarah adalah daya ledak kreatifnya. Mungkin saya dan Anda pun demikian, sampai-sampai tidak bisa tidur memikirkan sebuah tweet atau postingan komen di Facebook Anda yang memicu amarah.

Hebatnya, Kleon menyalurkan amarahnya dalam bentuk tulisan dan gambar. Jadi, ia tidak perlu membalas dengan caci maki di media sosial juga. Karena itu, Kleon mempersilakan Anda marah dan berkarya.

Hehehe, resep Kleon ini pun sering saya praktikkan. Ada amarah, lalu saya menuangkannya ke dalam tulisan. Kadang amarah itu dalam bentuk prostes atas suatu karya yang menurut saya tidak benar. Alhasil, saya mencoba melakukan pembenaran lewat karya baru.

Ya, terkadang buang-buang energi untuk menanggapi sebuah “kekonyolan” di media sosial atau sebuah perdebatan yang melibatkan pak kusir. Karena itu, sekali lagi: Marahlah dan Berkarya!

Eh, buku cantik Austin Kleon itu edisi terjemahannya terbitan Noura Books tahun 2014. Hebatnya, buku yang terdaftar di New York Time Best Seller ini sudah mengalami cetak ulang ketiga dalam setahun. Bacanya tidak akan membuat dahi Anda berkerut. Percayalah! [BT]

©2014 oleh Bambang Trim

Nama Diri vs Nama Jenis

Ada persoalan terkait penulisan nama diri (proper name) dan nama jenis (nomenclature) dalam berbahasa Indonesia, utamanya tentang kata yang harus menggunakan huruf kapital. Persoalan ini juga saya hadapi ketika menyunting teks Peraturan MA terkait penulisan nama lembaga; mana yang harus huruf kapital dan mana yang tidak.

Nama diri adalah kata benda yang digunakan untuk menamai orang, tempat, atau sesuatu, termasuk konsep atau gagasan. Jadi, seseorang, tempat, lembaga, atau konsep itu dapat disebut dengan nama diri. Hal yang patut dipahami bahwa nama diri tidak memiliki superordinat (nama umum, genus) dan subordinat (nama khusus, spesies) seperti halnya nama jenis (terkait klasifikasi hewan dan tumbuhan dalam ilmu biologi). Karena itu, nama diri merupakan nama yang berdiri sendiri dan ditulis dengan huruf kapital.

Nama Diri

Nama diri dimiliki oleh Tuhan, persona, yang berhubungan dengan kalender (hari, bulan, tahun, peristiwa), benda, dan benda khas geografi.

Contoh:

Nama Diri Tuhan

Allah Yang Mahakuasa, Sang Hyang Widi, Yesus Kristus, Sang Khalik

Nama Diri Persona

Nabi Muhammad saw., Sultan Agung, Bambang Trim

Nama Diri yang Berhubungan dengan Kalender

Proklamasi Kemerdekaan RI, tahun Masehi, Minggu, Pertempuran 10 November, zaman Jahiliyah, era Orde Baru

Benda Khas Geografi

Benua Asia, Pulau Sumatera, Gunung Merapi, Selat Sunda, Sungai Kapuas, Lembah Tidar, Danau Toba, Planet Pluto

Benda

a. Benda Bernyawa

Termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan. Nama hewan atau nama tumbuhan yang tidak terkait dengan nama jenisnya, tetapi merupakan epitet (deskripsi nama), ditulis dengan huruf kapital.

Contoh

Abdul Hamid, sang Pendekar (manusia), si Belang (hewan), si Rimbun (tumbuhan)

b. Benda Tak Bernyawa

Apa yang termasuk benda tak bernyawa, yaitu agama, kitab suci, dokumen, majalah, surat kabar, nama program, tempat umum, fasilitas umum, lembaga, partai/organisasi, perkumpulan, bangsa, suku bangsa, bahasa, desa, kota, wilayah, provinsi, kerajaan, dan negara. Berikut contoh penulisan nama diri tersebut:

  • Islam, Kristen, Hindu, Alquran, Injil, Taurat;
  • Program Studi Ilmu Humaniora Universitas Padjadjaran, Fakultas Kedokteran UI;
  • teks Proklamasi, Surat Perintah Sebelas Maret;
  • koran Republika, koran Kompas, majalah Tempo;
  • Rumah Sakit Umum Daerah Surakarta;
  • bangsa Cina, suku Sunda, bahasa Karo;
  • desa Sukamaju, kota Tebingtinggi, Wilayah Jakarta 1, provinsi Bali;
  • Kerajaan Majapahit, Republik Indonesia;
  • Partai Golkar, Goodreads Indonesia;
  • toko Anggrek, mal Taman Anggrek, dan apotek Sejahtera.

Nama Jenis

Permasalahan yang kerap timbul adalah tercampurnya pengertian nama diri dan nama jenis sehingga sering tertukar atau rancu cara penulisannya. Dalam konteks penulisan formal kerap sesuatu yang dianggap bernilai, kharismatis, atau dihormati harus ditulis dengan huruf awal kapital, padahal tidak demikian.

Contoh

  • undang-undang, keputusan menteri (termasuk nama jenis)
  • Undang-Undang tentang Hak Cipta, Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia (termasuk nama diri)
Kaidah Penulisan Nama Jenis dalam Penulisan Latin (Binominal)

Contoh

Oriza sativa, Filariasis timori

Kaidah Penulisan Nama Jenis sesuai dengan EYD

Contoh

  • sapi benggala, jeruk bali, talas bogor, jambu bangkok, gajah sumatera, badak jawa
  • kopi bubuk, asinan mangga, pempek ikan tenggiri
  • rendang Padang, lemang Tebingtinggi, masakan khas Sunda, coto Makassar, teri Medan, batik Pekalongan, songket Palembang, papeda Papua, kopi Gayo, dan asinan Bogor. (benda tidak bernyawa [makanan, minuman, dsb.] yang diikuti nama tempat asal)
  • ayam goreng Suharti, soto Pak Kliwon, rujak Bu Daryo

***

Penjelasan ringkas tersebut semoga memandu kita untuk menuliskan nama diri dan nama jenis secara taat asas.

Sumber Rujukan:

Matanggui, Junaiyah H. 2013. Bahasa Indonesia untuk Bidang Hukum dan Peraturan Perundang-undangan. Jakarta: Grasindo Widiasarana Indonesia.

Pusat Bahasa, Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan. Jakarta: Kemedikbud.

Pusat Bahasa. 2013. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi IV. Jakarta: Gramedia.

Jalan Writerpreneur Bersama Bambang Trim

Mindset writerpreneur Anda boleh jadi harus diubah. Jika dahulu Anda menulis, lalu mengirimkan ke media, dan menunggu sekian lama, saat ini harus berpikir bagaimana orang-orang yang ingin menggunakan jasa Anda untuk menulis atau mengedit tulisan mencari Anda.

Saya memang telah menetapi jalan menulis selama kurang lebih 20 tahun. Satu kekuatan yang saya gabungkan adalah kemampuan menulis dan mengedit (menyunting) tulisan. Satu lagi adalah pengembangan diri menjadi penulis generalis.

Alhasil, saya banyak mengerjakan tulisan di berbagai bidang, seperti bisnis/ekonomi, religi, hukum, politik, dan pengembangan diri. Antara tulisan pribadi dan tulisan yang didedikasikan untuk lembaga atau orang lain kini bergantian saya hasilkan selama setahun.

Ya, sebuah kertas kosong yang satu rimnya berharga Rp30.000,00, dapat diubah menjadi Rp30.000.000,00. Bahkan, dalam konteks digital saat ini, Anda malah tidak membutuhkan kertas sama sekali. Modalnya hanya laptop dan program pengolah kata standar seperti MS-Word. Anda sudah bisa menghasilkan tulisan yang berharga.

Jalan ke arah itu tentunya berproses, seperti juga saya melaluinya. Saya juga memulai pengasahan keterampilan menulis dengan tulisan-tulisan ringkas, seperti artikel, feature, atau esai. Sebagai Kompasianer, beberapa kali tulisan saya juga masuk sebagai headline meskipun kebanyakan tulisan saya mengupas soal membaca dan menulis.

Sebuah situs bernama bincangkopi.com juga menjadi tempat saya berkarya tulisan ringan tentang kopi. Nah, Anda dapat menemukan esai, artikel, ataupun gaya tulisan feature saya di sana. Sungguh ini pekerjaan yang mengasyikkan karena saya bekerja sesuatu yang saya sukai, lalu dibayar.

Apakah Anda juga ingin mampu menulis seperti saya? Tentu tiada kata lain kita harus terkoneksi, utamanya dalam sebuah wadah pelatihan. Saya menawarkan kursus daring (online) sebagai satu solusi untuk Anda.

Asah, asah, dan asah kemampuan menulis Anda sehingga menghasilkan daya: daya pikat, daya ubah, dan tentu daya gebrak. Saya akan membukakan rahasianya untuk Anda, khusus tanggal 10-12 Desember, pukul 19.00-21.00. Don’t miss it!

Kursus Daring

Memintal Bisnis Digital untuk “Anak BerBuDI”

Bulan November dan awal Desember  2014 ini rasa-rasanya saya terkoneksi terus dengan isu BuDI alias buku digital Indonesia. Pertama, ketika diundang menjadi pembicara dalam sharing session bersama Qbaca Telkom pertengahan November lalu. Kedua, ketika beraudiensi dengan Menteri Anies Baswedan pada minggu yang sama. Terakhir, ketika menjadi peserta sekaligus moderator untuk acara Digital Creative Camp & Business Gathering bersama Kemenpar dan Ikapi.

Topiknya semua menjurus pada pengembangan buku digital di samping isu krusial soal minat baca. Tentu yang menjadi sasaran adalah anak-anak kini yang umumnya lahir pada tahun 2000-an atau disebut-sebut sebagai Generasi Z. Generasi yang menunjukkan tanda-tanda mampu beradaptasi sangat cepat dengan teknologi.

Event-event itu menggumpalkan semangat bahwa bagaimanapun penerbitan digital sudah menjadi tantangan sekaligus peluang di depan mata. Bakal lahir anak-anak yang berBuDI alias belajar dan bermain dengan buku digital. Dari semula muncul buku digital generasi pertama dengan hanya menyajikan teks, kini telah ada buku digital Gen III dan Gen IV yang mulai menggabungkan unsur video, audio, animasi, dan game.

Hari S. Tjandra, pendiri perusahaan pengembang konten edukasi Pesona Edu dan juga Ketua Komunitas Pengembang Software Edukasi MIKTI, menyebutkan betapa peluang bisnis konten digital ini terbuka di ranah edukasi. Indonesia memiliki puluhan juta siswa yang tersebar di seluruh Nusantara dan pola belajar multimedia akan menjadi pilihan yang membuat peserta didik atau siswa menikmati proses belajar sekaligus bermain.

Dua hal pokok dari pengembangan produk penerbitan digital ini disebutkan adalahscript dan programming sehingga para penerbit akan menggabungkan dua kekuatan, yaitu pengembangan konten (content developing) dan penggunaan teknologi IT. Dengan kekayaan konten yang dimiliki penerbit Indonesia, semuanya dapat ditampilkan kini secara audio-visual sekaligus interaktif.

Dalam pertemuan dengan Menteri Anies, beliau menyampaikan salah satu kompetensi yang harus ditanamkan pada guru adalah kemampuan berkisah. Secara teori akademis, ini disebut kemampuan komunikasi naratif. Berkisah itu tidak harus identik dengan story telling atau mendongeng karena story telling adalah bagian dari berkisah. Namun, berkisah contohnya adalah kemampuan menyampaikan materi pembelajaran dengan pengantar  yang membangkitkan rasa ingin tahu anak.

Saya jadi teringat teman saya, Tasaro GK, penulis novel yang kini senang menyebut dirinya sebagai juru cerita. Tasaro yang juga memiliki sekolah PAUD di Jatinangor ini dalam beberapa bulan terakhir kerap mengisi kelas untuk guru terkait teknik menyampaikan pembelajaran secara berkisah. Akhirnya, kami berdua bersepakat ampuhnya komunikasi naratif ini digunakan dalam metode pembelajaran. Bahkan, hal itu semakin menemukan momentumnya dengan pembelajaran multimedia.

Nah, dalam hal ini perangkat pembelajaran digital atau multimedia akan sangat membantu guru mengembangkan sebuah kisah. Contoh sederhana dari sebuah video yang diunduh melalui Youtube, guru sudah bisa menyampaikan pembelajaran secara berkisah berbasis multimedia. Tentu akan lebih mantap jika ada produk yang menyiapkan segalanya untuk guru menjelaskan sebuah pembelajaran dilengkapi animasi, game edukasi, dan tentunya audio-video.

Guru dan  peserta didik sama-sama menikmati aktivitas BerBuDI tadi alias belajar dan bermain dengan buku digital. Ya, produk ini tetap dinamakan sebagai BUKU yang menghimpun segalanya, bukan dinamakan bahan ajar multimedia atau game edukasi. Sebut saja BUKU atau biar lebih spesifik disebut BuDI alias buku digital Indonesia. Jadi, BuDI adalah buku generasi terbaru untuk generasi kini dan masa mendatang Indonesia.

Benang merah, kuning, dan hijau untuk masuk ke dalam ranah atau rimba digital sudah tersedia. Ada Ikapi atau Ikatan Penerbit Indonesia yang memiliki kompetensi pengembangan skrip atau konten dasar buku digital. Ada MIKTI atau Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia yang memiliki kompetensi di bidang programming. Tentulah Indonesia tidak kalah-kalah amat dari negara maju seperti Amerika Serikat ataupun Korea Selatan dalam soal pengembangan teknologi digital. Jadi, tinggal bagaimana benang-benang itu dipintal menjadi sebuah peluang dan kompetensi di ranah bisnis buku digital.

Saya sendiri sudah coba memintal jalan digital itu sejak 2013. Teknologi begitu digjaya dan tidak ada yang mampu membendungnya, termasuk kita. Bahwa buku fisik masih akan tetap bertahan, ya. Namun, bahwa buku digital tidak akan berpengaruh hebat, ini yang masih bisa didebat.

Tidak ada kata lain memang bahwa content is king dan king maker-nya adalah orang-orang kreatif yang mampu membaca peluang dan menciptakan karya yang bergigi. Jadi, tidak peduli apa pun medianya, mau kertas atau bukan kertas, orang-orang kreatif tetap punya lahan untuk berkarya, termasuk di ranah BuDI. Karena itu, bersiaplah menyambut Generasi BerBuDI itu.

©2014 oleh Bambang Trim

Catatan dari Digital Creative Camp: KO-PENERBITAN, ERA YANG SEGERA TIBA

Eloklah saya mengulas kembali tentang penerbitan digital setelah beberapa waktu lalu diselenggarakan Digital Creative Camp & Business Gathering, kerja sama Kemenpar dan Ikapi. Banyak hal sebagai catatan tersisa dan tentunya menarik untuk diungkapkan.

Salah satunya paparan Pak Hari S. Tjandra, pendiri Pesona Edu yang juga menjadi Ketua Bidang Pengembangan Komunitas Software Edukasi MIKTI, tentang peluang para penerbit untuk masuk ke dalam bisnis digital. Hal menarik yang dikemukakan Pak Hari bahwa peluang terbesar untuk pengembangan produk digital adalah di dunia edukasi dengan pangsa pasar jutaan siswa di Indonesia, terutama untuk siswa PAUD dan SD.

Ya, kita maklumi bersama bahwa kini telah lahir generasi Z atau disebut juga generasi digital yang begitu mampu beradaptasi dengan perangkat (gadget) berbasis digital. Mungkin untuk generasi kita saat ini, buku fisik masih menjadi pilihan. Namun, tiada yang dapat menebak apakah buku fisik masih akan tetap menarik bagi anak-anak generasi digital tersebut?

Mau tidak mau, penerbit harus masuk ke dalam “rimba digital”. Mau tidak mau karena jika tidak mau, ya alamat tidak akan mampu berkiprah banyak di tengah geliat bisnis digital yang terus tumbuh.

Melanjutkan paparan Pak Hari, patut dicatat bahwa pengembangan produk digital, semacam aplikasi pembelajaran, buku digital, ataupun game sebaiknya tidak berbasis internet (online) karena belum ada satu pun negara yang berhasil melaksanakan. Ya, bayangkan jika jutaan siswa mengakses konten yang sama pada satu waktu, bisa dipastikan server akan down.

Karena itu, basis offline adalah yang paling mungkin dilakukan. Pesona Edu contohnya, hanya menggunakan internet untuk verifikasi dan seterusnya dijalankan secara offline.

Lebih jauh Pak Hari mengungkapkan bahwa kunci pengembangan penerbitan digital ada dua, yaitu script dan programming. Dua hal ini memerlukan kompetensi spesifik. Dalam hal skrip, tentu diperlukan para penulis dan editor berjiwa pengembang konten. Lalu, dalam hal pemograman tentu diperlukan progamer komputer yang andal. Plus tambahannya dalam konteks pengembangan buku, terutama buku anak yaitu ilustrator/desainer yang juga mantap.

Kompetensi penerbit tentu ada sebagai pengembang konten alias mengembangkan buku cetak menjadi skrip penerbitan digital. Di sini terjadi kolaborasi antara penulis, editor, ilustrator, dan desainer. Hal ini terutama berlaku untuk buku-buku digital generasi II, III, dan IV yang menanamkan (embedded) konten, seperti animasi, game, film, berikut audio.

Kompetensi pemograman tentu dimiliki beberapa perusahaan berbasis IT. Lebih mudah menandai perusahaan seperti ini adalah dengan melihat anggota asosiasi Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) yang memang bergerak dalam bidang pengembangan komunitas industri kreatif berbasis digital, seperti animasi, game, dan software. Hal lain terkait pemograman ini tentu soal sekuriti untuk melindungi karya digital dari pembajakan yang tidak bertanggung jawab.

Karena itu, satu hal yang lebih cepat dilakukan daripada penerbit harus berinvestasi di bidang IT adalah melakukan kerja sama ko-penerbitan (co-publishing) dengan perusahaan berbasis digital. Pola ini sangat dimungkinkan seperti halnya ditawarkan Pesona Edu yang mulai membuka peluang kerja sama seperti ini pada awal 2015.

Saya sangat bersetuju dengan pendapat Mas Putut Widjanarko dari Mizan bahwa sebaiknya penerbit berkonsentrasi atau mengubah pola pikirnya sebagai pengembang konten, bukan sekadar produsen buku fisik. Sebagai pengembang konten, penerbit tidak akan terpengaruh dengan perubahan yang terjadi pada media penyampai informasi.

Going digital? Tentu hal itu tidak semestinya menjadi kebimbangan lagi. Era generasi digital sudah di depan mata. [BT]

©2014 oleh Bambang Trim

Perjanjian Penerbitan: Jangan Membuka Peluang Perselisihan

Ada sesi menarik pada acara Digital Creative Camp & Business Gathering yang dimotori Kemenpar dan Ikapi, yaitu sesi yang diisi Sekjen MIKTI, Hari S. Sungkari. Pak Hari khusus memaparkan tentang aspek hak cipta dalam buku digital.

Pada kesempatan tanya-jawab, saya pun bertanya perihal perjanjian penerbitan. Jika di dalam perjanjian penerbitan tidak diatur tentang produk derivatif atau secara khusus tentang penerbitan buku digital, apakah penulis punya peluang untuk menerbitkan buku digital sendiri?

Hari Sungkari dari MIKTI memaparkan tentang HAKI didampingi Kartini Nurdin.

Hari Sungkari dari MIKTI memaparkan tentang HAKI didampingi Kartini Nurdin.

 

Pak Hari menjawab dengan taktis bahwa sebaiknya perjanjian penerbitan memang detail dan tidak membuat para pengacara “senang”. Ya, para pengacara tentu bisa berkiprah pada kasus-kasus perselisihan atau wanpretasi dari perjanjian akibat munculnya “pasal-pasal karet” ataupun yang tidak mengatur secara spesifik.

Pengalaman saya bekerja di penerbit memang baru beberapa tahun ke belakang saya mengadakan pasal khusus tentang penerbitan buku digital. Hal tersebut perlu diantisipasi mengingat kemungkinan digitalisasi buku oleh penerbit sangatlah besar. Adapun buku digital berbeda perlakuan dengan buku cetak dari sisi strategi harga.

Sebagaimana lazim berlaku, royalti penulis untuk buku digital dimungkinkan lebih besar karena biaya produksi–yang sebelumnya memakan porsi 20-25% dalam cetak–terkoreksi besar sekali. Selain itu, biaya distribusi pun hilang. Karena itu, penerbit mendapatkan porsi keuntungan lebih besar sehingga wajar jika ia membagi presentasinya ke penulis juga sedikit lebih besar. Namun, hal ini terpulang kepada penerbit.

Walaupun demikian, tetap saja pasal penerbitan buku digital perlu dibuat detail terkait juga kepemilikan hak cipta, kesediaan penulis, besaran kompensasi, dan kemungkinan lain yang bisa terjadi pada bisnis buku digital, seperti penempatan iklan pada buku digital. Pendapatan iklan itu berapa persen yang akan dibagi antara penerbit dan penulis?

Sebenarnya, bukan soal buku digital, banyak perjanjian penerbitan buku memang tidak detail dan membuka “wacana” untuk terjadinya wanpretasi. Coba saja perhatikan perjanjian penerbitan yang Anda pegang, mungkin soal ahli waris tidak tercantum atau tidak tercantum dengan jelas. Mungkin juga soal lama waktu eksploitasi atau hak ekonomi dipegang penerbit juga tidak ada. Alhasil, penulis tidak tahu apakah ia bisa mengambil kembali hak itu jika buku sudah tidak terbit?

Hal lain yang kerap luput diatur juga soal penjualan obral. Apakah penerbit tetap memberikan royalti jika buku diobral sampai 50-70%? Jika tidak, apakah termuat? Jika ya, berapa persentasenya? Hal-hal seperti ini dapat menjadi pertanyaan di pihak penulis.

Saran dari Pak Hari Sungkari memang benar bahwa perjanjian penerbitan harus disusun sedetail mungkin, apalagi saat ini industri perbukuan dihadapkan dengan fenomena buku digital. Banyak aspek terkait perlu didetailkan, termasuk jika buku tersebut berpotensi difilmkan. Film adalah produk derivatif (turunan) yang tentu kompensasinya juga harus diatur oleh penerbit kepada penulis sebagai pemegang hak cipta–terkecuali jika dilakukan perjanjian beli putus atau hak cipta dialihkan ke penerbit.

***

Digital Creative Camp & Business Gathering adalah kegiatan pada tanggal 28-30 November 2014 yang digagas Kemenpar bersama-sama dengan Ikapi. Kegiatan ini diikuti 30 penerbit dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Solo. Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari kalangan praktisi dan pengembang konten digital, seperti Buqu, Gramediana, Qbaca Telkom, Pesona Edu, dan Mizan Digital Publishing.

©2014 oleh Bambang Trim

Gerakan Literasi di Mata Menteri Anies

Jumat, 21 November 2014 adalah jadwal ketiga yang ditentukan untuk kami, tim dari Gerakan Ayo Membaca Indonesia untuk bersua Menteri Anies Baswedan. Dua jadwal sebelumnya diubah lagi.

Lepas Jumatan, kami berlima: saya, Pak Dedi Sjahrir Panigoro, Ikhsan Fauzie, Dewi Utama Fayza, dan Sastri menanti Mas Anis Baswedan–yang memang ogah dipanggil Pak Menteri. Rupanya beliau sedang bersantap siang dulu di kantin Kemdikbud, berbaur dengan pegawai lainnya. Sesuatu yang mungkin jarang, atau bahkan tidak pernah dilakukan menteri-menteri terdahulu.

Ruangan sangat lega menampung kami berlima. Sekitar pukul 14.00, kami pun diterima dengan senyum khas Mas Anis. Mulailah Pak Dedi membuka obrolan langsung tentang rencana Gerakan Ayo Membaca Indonesia sebagai gerakan partisipatif dari rakyat untuk rakyat untuk kepentingan membumikan kemampuan literasi pada generasi selanjutnya.

“Saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan karya-karya fiksi berbau mysticism seperti halnya Harry Potter. Namun, yang patut dikagumi bahwa lewat novel itu anak-anak terpacu membaca buku setebal 700-an halaman lebih!” ujar Menteri Anies di sela-sela mendengar penjelasan kami.

facebook-20141122-043609

Jadi, salah satu upaya menanamkan minat baca memang buku harus dibuat seperti candu. Tentu hal ini bukan semudah membalikkan telapak tangan untuk Indonesia yang sedemikian luas. Faktor orangtua dan guru sangat berperan.

Menteri Anis juga mencontohkan sebuah gerakan yang merupakan turunan dari Gerakan Indonesia Mengajar yaitu Indonesia Menyala dengan cara membuat orang memiliki perpustakaan asuh. Para sukarelawan pun akan berkomitmen untuk “mengasuh” sebuah perpustakaan, termasuk memantau pertambahan koleksi dan promosi minat baca.

Kami menangkap satu pesan segera bergerak dan menyebar untuk promosi minat baca ini. Karena itu, agenda lain segera disusun, termasuk menyiapkan rencana literacy camp bagi para guru dan orangtua yang berminat di beberapa kota di Indonesia.

Ini adalah gerakan kesekian terkait minat baca karena telah banyak gerakan serupa yang didirikan. Namun, tentu perlu ada cara-cara kreatif untuk tetap melakukannya dan tidak berputus asa soal keadaan bangsa Indonesia yang makin jauh dari bacaannya. [BT]

Aktif Menulis untuk Media

Berhasil meloloskan tulisan di media massa itu memang sesuatu sekali. Saya kali pertama bisa menempatkan artikel di media itu tahun 1994 (menjelang lulus kuliah). Artikel pertama saya menyoroti soal opspek mahasiswa yang dimuat di Tabloid Hikmah (grup Pikiran Rakyat) yang kini sudah almarhum.

Ada banyak pilihan berkarya di media massa dengan tulisan dari ranah/laras jurnalistik. Biasanya yang menjadi favorit adalah artikel. Tulisan lain yang lebih subjektif dan biasanya dibuat seseorang yang telah diakui reputasinya (tokoh) adalah esai. Lalu, ada pula bentuk tulisan lain berupa kritik yang disebut resensi–bisa resensi buku, resensi musik, resensi film, ataupun resensi pertunjukan.

Jenis lain yang juga menantang adalah feature sebagai kategori tulisan informatif yang bersifat human interest. Namun, feature biasanya dibuat oleh wartawan media yang bersangkutan.

Pada zaman internet kini, seorang penulis hampir tidak lagi bergantung pada media massa mainstream yang menempatkan Redaksi sebagai penjaga gawang. Sulit memang menjebol gawang Redaksi yang begitu ketat menyeleksi naskah. Namun, kini ada blog atau website yang membuat penulis lebih bebas memublikasikan karyanya ke khalayak.

Sebagai contoh adalah blog jurnalisme warga yang terbesar di Indonesia yaitu Kompasiana. Di blog ini segala tulisan dari Kompasianer (sebutan untuk anggotanya) bisa diterima dan dipublikasikan. Tulisan yang terpilih dapat pula nampang sebagai headline di sana. Artinya, siapa pun dapat memublikasikan tulisannya tanpa kendala editing–hanya jika berbau iklan yang vulgar atau mengandung pelecehan SARA, tulisan alamat akan dihapus.

Selain itu, ada juga media sosial semacam Facebook yang paling populer, membuka peluang bagi para penulis untuk eksis, baik dengan menulis status maupun menulis note. Di Facebook kita kerap menuliskan status dalam bentuk esai ataupun feature.

Untuk bisa menarik perhatian publik ataupun memengaruhi khalayak dengan opini kita, tentu diperlukan keterampilan menulis yang jernih, jelas, dan tepat sasaran. Ada beberapa hal yang bisa diasah, termasuk memilih judul yang mantap dan juga menggunakan lead yang menarik.

Tiga tulisan saja dapat kita kuasai, yaitu artikel-esai-feature maka cukup untuk membuat kita eksis sebagai blogger ataupun nantinya sebagai penulis media. Karena itu, saya coba berbagi dalam kursus daring (online) menggunakan fasilitas grup tertutup di Facebook tentang teknik menulis artike-esai-feature. Kelebihan kursus daring dengan menggunakan fasilitas media sosial ini tentu membuat kita tetap dapat terkoneksi meskipun kursus sudah usai.

Ya, banyak yang dapat kita lakukan dengan penguasaan keterampilan penulisan pendek semacam ini. Saya sendiri kini menikmati profesi sebagai penulis lepas, salah satunya menjadi kontributor tulisan untuk website tentang kopi. Selain itu, saya juga aktif sebagai Kompasianer dan beberapa kali menyajikan tulisan yang menjadi headline.

Tertarik bergabung? Ini saatnya. [BT]

online-training

Ketika Buku Diobral

Pernah mengalami buku Anda diobral hingga setengah harga jual atau bahkan seperempatnya? Kejadian yang tidak diinginkan para penulis ini pun menimpa saya. Bahkan, saya mengalami buku diobral sampai seperempat harga!

Jika Anda mengalaminya, camkan saja bahwa penjualan setengah harga masih menyisakan profit bagi penerbit sedikit dan itu juga dilakukan untuk (biasanya) menghabiskan stok. Jika buku Anda dijual dengan diskon 70%, bisa juga karena cuci gudang sisa stok atau karena buku Anda memang sudah tak laku-laku. Penerbit hanya berharap ongkos cetak yang sudah dikeluarkannya bisa kembali. Hal ini masih “bukuwi” daripada kemudian ditimbang dan dihitung per kilo.

Lucunya, kerap terjadi buku-buku obral itu saya beli kembali banyak-banyak, lalu di event-event pelatihan yang saya isi, saya menjual lagi buku-buku tersebut dengan harga aslinya dan biasanya ludes. Asumsi saya bahwa buku tidak laku karena tidak berjumpa dengan pembeli potensialnya berlaku :). Di sinilah tampak bahwa sebuah buku yang tidak laku, padahal punya topik dan segmen pembaca spesifik, sebenarnya masih memiliki daya jual jika memang penerbit jeli.

Satu hal yang patut menjadi perhatian juga tentang hak penulis terhadap buku-buku obral tersebut. Jarang memang penerbit mencantumkan klausul buku obral pada perjanjian penerbitan, padahal hal ini juga penting untuk keadilan bagi penerbit. Artinya, dalam periode penjualan tertentu apabila buku tidak terjual sesuai dengan target, penerbit pun berhak menjual buku dengan harga obral. Untuk kejadian itu, royalti yang dibayarkan pun akan mengikuti royalti harga obral.

Namun, yang sering terjadi ya seperti the show mas gogon …. Obral dilakukan, tetapi penerbit tidak melaporkan ke penulis dan laporan yang pasti adalah tidak ada royalti lagi alias terasa hubungan langsung diputus. Ya, soalnya buku nggak laku mau diapain lagi. Penulis tinggal mengurut dadanya.

Jika dulu obral dilakukan paling tidak dalam rentang tiga tahun buku tidak habis atau bersisa banyak, sekarang makin “mengharukan”. Buku bisa diobral pada tahun yang sama saat diterbitkan. Artinya, begitu tega buku baru itu sudah dinyatakan bad stock. Lalu, pertanyaannya: Untuk apa para editor meloloskan naskah yang sudah berbau tidak laku itu atau mengapa penerbit oke-oke saja menerbitkannya? Ya, tanya saja pada “rumput yang bergoyang”.

Istilah di-YusufAgency-kan memang sempat populer di kalangan penggiat industri buku. Artinya, buku-buku yang memang sudah tak mempan dipromosikan atau ditawarkan akhirnya harus mau berpindah ke gudang Yusuf Agency–distributor spesialis buku obral dengan tagline yang bagus “Buku Termurah Se-Indonesia”. Konon Pak Yusuf tak lagi membeli dalam hitungan per eksemplar, tetapi hitungan satu truk. Hebatnya, Pak Yusuf bisa tahu di mana ia bisa menemukan pembeli buku-buku obral itu yang kadang harganya ditentukan dengan cara mencium bau bukunya–joke yang selalu dilakukan Pak Yusuf ke pembelinya :D.

Saya menyerap ilmu Pak Yusuf saja. Saya mencari buku-buku obral yang kira-kira bisa saya kompori untuk dibeli di acara-acara saya dan saya kembalikan martabat buku itu dengan menjual pada harga asalnya. Hanya pada buku bisa dilakukan seperti itu. Kalau baju, ya nggak mungkin. Hehehe.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.917 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: