Akhir Pekan Belajar Nulis Buku

Belum punya jadwal akhir pekan minggu pertama September 2014? Namun, ini yang lebih penting. Punya obsesi menulis dan menerbitkan buku karya Anda tahun 2014 ini? Kursus di Cimahi (Bandung) ini dapat menjadi pilihan Anda.

KURSUS MENULIS BUKU (NONFIKSI POPULER) diselenggarakan untuk angkatan IV di MUVI Learning Center. Saya (Bambang Trim) akan menjadi trainer/tutor utama kursus ini dibantu Tasaro GK untuk menguatkan unsur berkisah dalam tulisan Anda. Salah satu kelebihan kursus ini bahwa Anda akan dipacu untuk mampu melahirkan sebuah konsep buku lengkap dengan outline. Berdasarkan konsep itu, kover buku Anda pun akan langsung disiapkan oleh desainer kami.

Anda pulang sudah membawa konsep, draf naskah, dan kover buku. Silakan pajang kover buku itu untuk terus mengingatkan Anda agar menyelesaikan naskah sampai tuntas. Jika sudah tuntas, silakan dikonsultasikan lagi kepada Bambang Trim untuk strategi penerbitannya.

Oke, kami tunggu pendaftaran Anda segera.

TrainingMUVI2014

 

 

 

Dasar Pembagian Bentuk dan Ragam Tulisan

Bentuk tulisan berikut ini mungkin akrab dalam ingatan Anda, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi. Ada yang menikmati dan bersemangat dengan materi pembelajaran mengarang ini di sekolah dasar. Namun, tidak sedikit pula yang dibuat pusing dengan pembagian bentuk ini.

Tulisan ini tidak hendak memaparkan tentang pembelajaran mengarang dari keempat bentuk tulisan tersebut. Namun, bagi mereka yang berkiprah di dunia tulis-menulis atau karang-mengarang, pentinglah untuk mengetahui dasar pembagian bentuk serta ragam tulisan/karangan.

Mengutip The Liang Gie dalam bukunya Terampil Mengarang (Penerbit Andi, 2002) pembagian bentuk tadi disebut sebagai klasifikasi pertama atau klasifikasi induk. Sebagai induk maka wajar jika kita dikenalkan pada jenis tulisan/karangan tersebut kali pertama belajar di SD. Kita tidak dikenalkan pembagian secara jenis, seperti fiksi, nonfiksi, dan faksi.

Klasifikasi kedua atau klasifikasi turunan memaparkan hierarki berikut ini:

RAGAM

JENIS

RANAH/LARAS

MACAM

Klasifikasi kedua didasarkan pada tujuan dan isi (konten) bahan tulisan tersebut. Tujuan orang mengarang pada dasarnya dibagi dua, yaitu

  1. memberi informasi, memberitahukan sesuatu;
  2. memberi hiburan, menggerakkan hati.

Dari tujuan memberi informasi maka tersurat adanya data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan si penulis/pengarang. Karena itu, tulisan/karangan jenis ini disebut tulisan/karangan faktawi.

Sebaliknya, tujuan tulisan/karangan untuk memberi hiburan lazimnya didasarkan dari hasil imajinasi, fantasi, dan khayalan si penulis/pengarang. Karena itu, tulisan/karangan jenis ini disebut tulisan/karangan khayali (The Liang Gie, 2002: 26).

The Liang Gie menyebutkan istilah yang digunakan John Riebel dalam bukunya How to Write Reports, Papers, Theses, Articles terbitan 1978, untuk kedua ragam tulisan/karangan tersebut yaitu factual writing dan imaginative writing. Jadi, ragam tulisan/karangan dapat dibagi ke dalam dua tulisan/karangan besar.

RAGAM TULISAN_Page_1Selanjutnya, karangan faktawi dapat dipecah lagi berdasarkan pembaca sasaran yang dituju yaitu karangan ilmiah dan karangan informatif. Karangan ilmiah ditujukan untuk kalangan pembaca yang termasuk pakar/ahli atau berpendidikan tinggi, sedangkan karagan informatif lebih ditujukan pada masyarakat secara umum.

Saya kemudian mencoba memodifikasi lagi hierarki ragam tulisan seperti berikut ini:

RAGAM TULISAN_Page_2

Untuk tulisan/karangan faktawi, saya menggunakan istilah umum saat ini yaitu nonfiksi. Untuk tulisan/karangan khayali, saya menggunakan istilah fiksi yang pada dasarnya sama dengan genre dalam karya sastra. Selanjutnya, ada satu genre yang saya masukkan sebagai faksi yaitu gabungan antara fakta dan fiksi dengan contoh biografi, autobiografi, dan memoar.

Di samping pembagian yang didasarkan pada tujuan dan isi tulisan/karangan, ada pembagian yang didasarkan pada sifat publikasi seperti berikut ini.

Sifat Tulisan Deskripsi dan Contoh
Tulisan/Karangan Pribadi Tertutup Tulisan bersifat pribadi atau antara dua orang yang memiliki hubungan khusus hingga cenderung dirahasiakan, seperti surat wasiat, surat cinta, surat rahasia.
Tulisan/Karangan Pribadi Terbuka Tulisan bersifat pribadi yang cenderung sengaja atau dibiarka dibaca oleh orang banyak, seperti pembaruan status di media sosial, surat terbuka, iklan permohonan maaf.
Tulisan/Karangan Publik Terbatas Tulisan bersifat umum untuk kalangan terbatas di suatu lingkungan (perusahaan, lembaga pemerintah, dan komunitas), seperti surat keputusan, proposal, teks pidato.
Tulisan/Karangan Publik Tidak Terbatas Tulisan bersifat umum untuk kalangan tidak terbatas dan sengaja dibuat agar dibaca sebanyak mungkin orang, seperti artikel media, berita media, iklan produk.

 

Nah, itulah dasar-dasar pembagian bentuk dan ragam tulisan/karangan sehingga kemudian muncul berbagai macam karangan/tulisan dengan ciri-ciri tertentunya. Para penulis yang mengambil jalan writerpreneur ada yang memilih spesialisasi berada pada satu jenis tulisan/karangan atau ada yang memilih jalur generalis dengan berada di tiga jenis tulisan/karangan sekaligus (fiksi, nonfiksi, dan faksi).

Berkiprah di Banyak Ranah

Lalu, apakah mungkin seseorang dapat menguasai berbagai jenis tulisan atau ranah/laras tulisan? Pada dasarnya menulis adalah keterampilan hidup yang dapat dikuasai siapa pun. Otak dan kemampuan manusia sangatlah mampu untuk mengenali dan mempraktikkan begitu banyak macam tulisan. Sebagai contoh: apakah Anda bisa membedakan berita dan feature? Apakah Anda bisa membedakan artikel dan esai?

Pembeda-pembeda itu dapat dikenali dari segi konten (isi) dan juga cara penyajian tulisan. Beberapa tulisan seperti dalam ranah jurnalistik dianalogikan ke dalam beberapa bentuk, seperti berita sama dengan segitiga terbalik dan artikel sama dengan jam pasir.

Saya sendiri yang termasuk berkiprah di banyak ranah. Dalam studi S1 di Sastra Indonesia, Unpad, saya mempelajari porsi lebih besar untuk publishing science. Namun, saat menyusun skripsi, saya memilih jalur penelitian sastra anak. Hal ini menarik minat saya untuk mempelajari menulis untuk anak. Alhasil, karena membuat skripsi yang mengandung kritik terhadap penyajian novel anak, saya pun berusaha membuat buku anak yang memenuhi kriteria layak baca untuk anak.

Pada Lomba Penulisan Cerita Keagamaan (Depag RI, 2000) yang ditujukan untuk tingkat pembaca SD, karya saya Pesta Sayuran mendapatkan penghargaan juara I. Juri lomba di antaranya Ibu Titi Said (alm.) yang salah satu karya novel anaknya termasuk karya yang saya kaji di dalam skripsi dan saya kritik (tanpa beliau tahu tentunya). Skripsi saya sendiri kemudian mendapat bantuan Program Pustaka I Ford Foundation dan Adikarya Ikapi untuk diterbitkan menjadi buku.

Tulisan untuk anak, saya ketahui kemudian termasuk ranah tersendiri dengan pembagian jenis yang sama, yaitu fiksi anak, nonfiksi anak, dan faksi anak. Pembeda yang jelas antara karya untuk anak dan karya untuk orang dewasa adalah dari segi penyajian bahasa, kadar isi (konten), dan adanya beberapa “pantangan” yang perlu diperhatikan seperti sifat menggurui.

***

Silakan mencermati dasar pembagian bentuk dan ragam tulisan/karangan agar Anda semakin paham beradaptasi untuk menjadi penulis. Pembagian ini tidak selalu sama dengan beberapa pendapat lain. Sebagai contoh soal faksi, mungkin masih ada yang menganggapnya tetap berada pada genre nonfiksi.

Semoga bermanfaat.


©2014 oleh Bambang Trim

Praktisi penulisan-penerbitan yang kini berkonsentrasi pada pengembangan pelatihan dan jasa penerbitan pada ranah penulisan bisnis dan penulisan akademis. Ia telah menulis lebih dari 150 judul berbagai jenis. Lulusan D3 Prodi Editing Unpad dan S1 Sastra Unpad ini juga pernah mengajar di almamaternya dan juga di Jurusan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta dan Politeknik Negeri Media Kreatif.

Follow: @bambangtrim | Fanpage FB: Jejaring Bambang Trim | WA 081519400129

 

 

Peluang Berkembangnya University Press

Tahun 2014 menjadi awal kerja sama saya dengan Binus Media & Publishing dan IAARD Press, Balitbang Kementan. Untuk kesekian kali sebagai praktisi di bidang penerbitan, saya melibatkan diri dalam proses pengelolaan penerbitan buku di lingkungan perguruan tinggi (PT) atau lembaga penelitian.

Meski secara umum dianggap tidak terlalu “seksi”, industri penerbitan buku ilmiah atau buku teks perguruan tinggi tetap menarik beberapa kalangan untuk menggelutinya. Secara usaha, bisnis ini berkembang dalam bentuk tiga jenis berikut ini.

  1. University press yaitu badan penerbitan (terkadang sekaligus percetakan) yang dijalankan langsung oleh sebuah perguruan tinggi sebagai unit usaha.
  2. Text book publisher yaitu badan penerbitan swasta yang dijalankan pihak di luar perguruan tinggi.
  3. Vanity publisher yaitu badan penerbitan yang lebih menawarkan jasa kepada para akademisi untuk menerbitkan dan mencetak buku dalam tiras terbatas.

Kurang berkembangnya minat menulis buku di perguruan tinggi membuat laju perkembangan university press pun tersendat. Fakta yang terlihat tidak semua PTN di Indonesia memiliki unit usaha penerbitan, termasuk PTS. Alhasil, pasokan buku untuk perguruan tinggi tertentu kadang dipenuhi oleh pihak swasta.

Sejak saya kuliah di Prodi D3 Editing Unpad, soal university press sendiri menjadi bahasan menarik karena salah seorang dosen saya, Ibu Sofia Mansoor, menjadi pegiat di Penerbit ITB. Namun, di Unpad sendiri, university press tidak berkembang sebagaimana mestinya meskipun ada Prodi Editing yang notabene mempelajari ilmu penerbitan (publishing science). Lewat dosen saya, alm. Bapak Dadi Pakar, saya sempat dipertemukan dengan Rektor Unpad, Ganjar Kurnia, untuk membahas pengembangan Unpad Press. Akan tetapi, karena kesibukan saat itu di penerbit baru Salamadani, saya tidak dapat melanjutkan pembahasan pengembangan Unpad Press.

Satu hal yang penting dalam pengamatan saya saat itu hingga kini bahwa university press seyogianya dikelola secara profesional oleh orang-orang yang mengerti industri buku, bukan sekadar pernah menulis buku atau ditugaskan mengelola penerbitan tanpa pengetahuan yang memadai. Banyak aspek dalam industri penerbitan buku perguruan tinggi ini yang perlu dipahami dan diaplikasikan, seperti proses akusisi naskah, proses editorial, hingga proses promosi dan pemasaran buku.

Bambang Trim, dalam sesi pendampingan penulisan buku ilmiah populer untuk IAARD Press

Bambang Trim, dalam sesi pendampingan penulisan buku ilmiah populer untuk IAARD Press

Elang Ilik Martawijaya adalah contoh profesional yang diterjunkan untuk mengelola university press yaitu IPB Press. Sebelumnya, saya mengenal Mas Elang sebagai praktisi di bidang pemasaran buku (Grup Gramedia) dan kemudian berwirausaha sendiri membuat toko buku diskon. Ia yang juga alumnus IPB, kemudian menjadi pegiat IPB Press menuju university press yang profesional. Dalam buku mungilnya berjudul Bisnis Buku di Kampus (IPB Press, 2011) ia menyatakan salah satu bidang strategis dalam PT adalah bisnis buku.

Apa pasal? Hal ini karena PT sangat terkait dengan dunia perbukuan dan salah satu penentu ranking PT adalah jumlah publikasi ilmiah yang telah diterbitkan. Tentu PT yang mampu mengelola suatu usaha penerbitan secara langsung dapat mengangkat citra perguruan tinggi tersebut.

Dalam soal bisnis, jelas bahwa pasar buku di PT adalah pasar yang captive (terbatas) dan niche (ceruk). Peluangnya bahwa meskipun dicetak dengan oplag kecil (1.000 eksemplar) atau oplag standar (3.000 eksemplar), target pembaca sasarannya sudah jelas yaitu mahasiswa dan dosen. Soal oplag kecil ini juga sudah ada solusinya dengan pencetakan manasuka (print on demand) yang kini juga telah banyak dimiliki unit percetakan di Indonesia.

Dorongan lain adalah terbukanya menerbitkan buku-buku jenis pasar ceruk yaitu buku sangat spesifik membahas satu bidang ilmu. Mungkin yang memerlukan sedikit, tetapi sangat penting untuk diterbitkan sebagai sumbangan kecendekiaan.

Tantangan Pengembangan

Seperti juga bidang lain, university press menghadapi tantangan pengembangan. Masalah aplikasi teknologi yang muncul sepuluh tahun lalu, kini justru telah teratasi dengan kemajuan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Bahkan, teknologi penerbitan buku elektronis sudah sedemikian mudah dan murah untuk dilaksanakan.

Tantangan terbesar adalah sumber daya manusia bidang penerbitan, termasuk sumber daya penulisan. Sepengalaman saya mengelola editorial buku-buku ilmiah PT dan memberikan pelatihan penulisan buku ilmiah populer, banyak sekali akademisi (dosen, guru, peneliti) kita yang masih gamang menulis, terutama menulis untuk dapat dibaca masyarakat luas.

Usaha besar-besaran untuk melatih kemampuan menulis para dosen dan peneliti perlu dilakukan agar mereka mendapatkan bekal yang cukup untuk mau dan mampu menulis buku. Hal ini semakin mudah untuk diwujudkan karena Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) telah didirikan sejak 2010 yang hingga kini beranggotakan lebih dari 100 PT.

Konversi Karya Tulis Ilmiah

Satu keterampilan penting yang perlu dimiliki akademisi PT adalah konversi karya tulis ilmiah (KTI) nonbuku menjadi KTI buku atau konversi dari ilmiah murni menjadi ilmiah populer. Istilah konversi ini kerap juga disebut penyaduran karya ke bentuk lain. Jadi, berbeda dengan istilah saduran dalam karya sastra.

Contoh keliru soal ini bagaimana para penulis skripsi/disertasi/tesis dan laporan penelitian mencoba membukukan karya ilmiah tersebut. Kerap terjadi karya itu dibukukan apa adanya tanpa melakukan penyaduran atau konversi terlebih dahulu. Alhasil, tetap saja karya itu tidak bisa berkomunikasi dengan masyarakat luas.

Selain itu, masalah lain adalah penerapan gaya selingkung (house style) yang tidak taat asas. Bayangkan, masih ada akademisi kita yang tidak bisa membedakan foreword dan preface atau reference dan bibliography.

***

Indonesia tentu bisa. Begitupun PT, baik itu PTN atau PTS di seluruh Indonesia pasti mampu untuk mengembangkan usaha penerbitan buku-buku ilmiah ataupun bentuk penerbitan lain secara lebih profesional. Saya sendiri tetap berjuang dan berkomitmen membantu banyak PT agar mampu mengembangkan usaha penerbitan buku (university press) lebih baik lagi. Ya, kita harus bisa tampil seperti Cambridge University Press, Oxford University Press, atau Harvard University Press.

©2014 oleh Bambang Trim

Praktisi penerbitan, penulis 150+ buku, editor dan konsultan penerbitan, Ketua Kompartemen Diklat-Litbang-Informasi Ikapi.


Catatan:

Bambang Trim telah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dan lembaga penelitian di bidang penerbitan buku di antaranya LIPI Press, IAARD Press (Balitbang Kementan), UB Press, P2M2 Universitas Terbuka, UNS Press, Binus Media & Publishing, Akper Bina Insan (Jakarta), Pusdiklat Kemenkes, Pusdiklat Kemenhut, Unpad Press, FEB Universitas Jambi, FE Universitas Padjadjaran, Unpad Press, Politeknik Negeri Media Kreatif (Jurusan Penerbitan), Politeknik Negeri Jakarta (Jurusan Penerbitan), Universitas Multimedia Nusantara, FSRD Institut Kesenian Jakarta, dan Comlabs ITB.

Kontak Bambang Trim untuk kerja sama dalam pelatihan dan pengembangan university press WA +6281519400129/Pin BB 749FE40E

Seberapa Besar Modal Writerpreneur

Tulisan ini menjadi tulisan lanjutan dari status saya di fanpage Jejaring Bambang Trim tentang writerpreneur.

Seseorang yang memutuskan menjadi writerpreneur, pengusaha di bidang penulisan, tentu akan sampai pada seberapa besar modal yang diperlukan untuk itu. Saya pernah juga membahas soal ini dan kaitannya dengan peralatan yang kita perlukan.

Namun, menjadi seorang writerpreneur tidaklah memerlukan modal sebesar menjadi penerbit, apalagi pencetak. Modal utama seorang writepreneur adalah keterampilan atau skill dirinya sendiri. Skill berhubungan dengan kecepatan dan kemampuan mengembangkan ide-ide penulisan.

Lalu, bagaimana dengan alat kerja yang kita perlukan. Terus terang modal kerja terbanyak yang saya habiskan adalah untuk buku atau referensi karena makin banyak referensi berada dalam jangkauan saya, makin cepat saya untuk menulis.

Saya memiliki satu kemampuan anugerah Yang Mahakuasa. Keterampilan itu saya sebut interconnecting–kemampuan menghubungkan keperluan informasi dengan referensi yang tersedia. Karena hampir semua buku saya baca dan saya kenali, saya dapat dengan mudah mencari sebuah sumber berdasarkan ingatan (koneksi) dari koleksi yang saya miliki.

Sebenarnya ini bukan keajaiban, hanya kemampuan mengingat saja saking dunia teks itu sudah mengalir di dalam diri saya. Saya kadang membeli buku bukan untuk “dibaca”, melainkan untuk dijadikan referensi dan dikaji. Ya misalnya, ada buku yang begitu laku, lalu saya beli. Saya bukan tertarik pada isinya bukunya, tetapi tertarik mengapa buku seperti ini bisa laku. Jadi, yang saya lakukan adalah meriset buku tersebut.

Modal Alat

Baiklah, saya mulai saja dengan modal alat yang paling diperlukan seorang writerpreneur. Anda pasti sudah tahu, itulah PC atau laptop. Saya memiliki keduanya karena kalau di rumah saya lebih nyaman dengan PC dan kalau di luar untuk mobile, saya baru menggunakan laptop.

PC/Laptop. Untuk urusan harga Anda tentu sudah mafhum yaitu dalam kisaran Rp4 juta sampai yang tercanggih seharga belasan juta. PC yang saya pakai sekarang tergolong jadul hanya menggunakan prosesor Intel Core 2 Duo. Ya, karena program umum yang saya gunakan adalah MS-Word. Hanya beberapa buku yang saya kerjakan langsung dengan In-Design dan Photoshop. Jadi, jelas pertama kita perlu Rp4.000.000,00.

Printer. Apakah perlu? Ya, kadang-kadang saya mencetak dokumen untuk melakukan editing mekanik (mechanical editing) jika dokumen tidak terlalu panjang. Printer juga berguna untuk mencetak surat atau proposal. Di rumah yang merangkap kantor, saya punya satu printer Epson A3 fullcolor dan satu printer laser HP ukuran A4. Jika Anda memerlukan, tentu harus merogoh kocek juga dalam kisaran Rp2.000.000,00 s.d. Rp6.000.000,00.

Scanner. Apakah perlu juga? Ya, kadang-kadang perlu jika kita tidak memperoleh materi grafis dari internet, tetapi berupa bahan tercetak. Contoh, kliping koran ataupun foto jadul. Kita bisa melengkapi kemudian dengan harga di bawah Rp1.000.000,00.

Kamera Digital. Apakah perlu? Kalau Anda berminat dalam fotografi dan punya insting fotografer, hasil jepretan Anda bisa sangat berharga untuk nantinya menjadi bahan visual buku atau juga bahan visual promosi. Bolehlah Anda investasikan Rp3.000.000,00 atau lebih untuk alat ini.

Dari semua alat kerja desktop publishing itu tentu yang paling penting dan prioritas adalah PC/laptop. Alat lain bisa Anda cicil melengkapinya dengan mengumpulkan dana dulu dari beberapa order pekerjaan yang bisa Anda dapatkan.

Sudut ruang kerja saya sebagai writerpreneur

Sudut ruang kerja saya sebagai writerpreneur

Modal Operasional

Tentulah ada biaya lain di luar alat yang sangat diperlukan seorang writerpreneur. Untuk konteks kini salah satu yang penting adalah jaringan internet. Saya menggunakan jaringan Speedy Telkomsel dengan biaya bulanan lebih kurang Rp700.000,00.

Biaya listrik bisa juga menjadi komponen yang kita hitung karena komputer dan peralatannya pasti menyala sangat lama saat kita bekerja. Saya sendiri menggunakan daya listrik 2.200 VA karena juga menggunakan beberapa komputer untuk tim dengan biaya bulanan rata-rata Rp400.000,00.

Selain itu, ada biaya yang saya keluarkan untuk wara wiri bertemu dengan calon klien atau klien di luar kota, umumnya di Jakarta. Paling tidak sekali ke Jakarta saya menghabiskan dana lebih kurang Rp400.000,00 terbatas atas 1) biaya mobil travel pp Rp200.000,00; 2) biaya transportasi dalam kota Rp100.000,00; 4) biaya makan Rp100.000,00. Ya, tentu saya akan mendatangi calon klien potensial. Terkadang untuk menghemat biaya, saya menggabungkan pertemuan dalam satu hari antara 2-3 pertemuan.

Hitungan operasional bulanan memang bisa mencapai Rp2 jutaan. Mungkin tampak tinggi, tetapi ini sesuai dengan target pasar yang hendak kita bidik.

Di luar ini ada juga biaya seperti pembuatan web serta juga biaya pendirian perusahaan lengkap dengan legalitas perusahaan yang menjadi biaya-biaya awal dalam kapasitas kita bekerja sebagai seorang profesional.

Modal Dengkul

Mungkin Anda penganut bisnis tanpa modal, tetapi sepengalaman saya hal itu memang sulit dilakukan. Paling tidak yang utama Anda harus punya laptop agar Anda bisa bekerja mobile. Cara paling umum adalah memanfaatkan fasilitas kafe yang menyediakan colokan listrik dan hot spot internet. Alhasil, Anda bisa menghemat biaya operasional dan menggantinya dengan biaya satu cangkir kopi, sebotol air mineral, dan sepiring nasi goreng.

Anda bisa masuk ke zona profesional yang benar-benar memiliki sebuah perusahaan berbadan usaha/hukum dengan menabung hasil jasa yang Anda jual. Ya, Anda paling tidak harus menghasilkan >Rp5 juta per bulan dari menjual jasa menulis dan menyunting plus layout jika Anda bisa melakukannya. Di sini Anda harus berani mematok DP 50% dari total biaya penulisan atau pembayaran di muka 100% jika pekerjaannya di bawah Rp2 jutaan.

***

Itu saja dulu. Pertanyaan bisa Anda ajukan lewat komentar di bawah ini. Anda juga bisa menunggu terbitnya buku saya tentang writerpreneur yaitu A-Z Writerpreneur yang terbit akhir tahun ini.

Salam writerpreneur!

©2014 oleh Bambang Trim

Buku WAR untuk Anda Para Writerpreneur

WAR ~ Writing and Revolution: Menjadi Pemenang dengan Konten dalam Jaringan | Buku terbaru karya Bambang Trim dan Jefferly Helianthusonfri.

Fenomena Pilpres 2014, seliweran informasi di media sosial dalam jaringan (daring/online), serta tumbuhnya geliat para penulis sungguh menjadi ide bahwa kini terjadi revolusi dalam dunia penulisan–jauh dari yang kita bayangkan satu atau dua dekade yang lalu. Bersua dengan Jefferly Helianthusonfri, anak muda yang bergiat dalam internet marketing dan sekarang bersiap kuliah di Univ. Multimedia Nusantara melahirkan ide untuk membukukan fenomena ini.

Jadilah kami berencana berduet berdua menyusun buku yang diberi judul tentatif WAR ini. Kita benar-benar berada dalam kancah “peperangan konten” dan betapa ilmu penulisan serta bisnis penulisan akan menjadi primadona untuk berjaya dalam pencitraan, pendorong perubahan, dan penyebaran pemikiran-pemikiran baru maupun pemikiran usang yang hendak dihidupkan kembali.

Malam ini (18/07) saya sudah mulai mengerjakan draf mengingat saya sudah berjanji untuk mengirimkan draf ini hari Senin kepada Jeff. Duet menulis ini juga akan disajikan secara unik ketika saya dan Jeff akan bergantian memberi komentar tiap subbab bahasan.

Ini bocoran isinya agar Anda bisa memosisikan diri apakah Anda pembaca yang kami tuju.

________________________________

Prakata
Prolog: Dalam Kancah Perang Konten

BAGIAN I: MENGAPA MENULIS ITU PERLU
1. Ketika Semua Orang Bebas Menulis
2. Tulisan Berdaya vs Tulisan Tidak Berdaya
3. Temukan Potensi Anda dalam Menulis

BAGIAN II: MENGAPA PEMASARAN INTERNET ITU PERLU
1. Menuju Melek Internet
2. Mencetak Hits dengan Blog/Situs Anda
3. Satu Juta Pertama dari Akun Anda
4. Temukan Potensi Anda dalam Pemasaran Internet

BAGIAN III: MENGGABUNGKAN DUA KEKUATAN
1. Menulis OK, Internet Tidak OK
2. Internet OK, Menulis Tidak OK
3. Writerpreneur Sebagai Pilihan
4. Mengendalikan Media Sosial dengan Tulisan
5. Menjual Produk Tulisan Secara Daring
6. Menjual Jasa Penulisan Secara Daring

Daftar Pustaka
Glosarium
Indeks
Tentang Penulis

____________________________

Salah satu buku yang mengilhami saya untuk menulis buku ini adalah “DIGITAL WARS” karya Charles Arthur. Ini bukan buku tentang cara menulis, melainkan buku tentang bagaimana memanfaatkan keterampilan menulis untuk berjaya dalam era “perang” media digital.

Terbit awal September 2014.

©2014 oleh Bambang Trim

Lima Kiat Membangun Lumbung Ide

Ide adalah sebuah penemuan, bukan pencarian.

Ya, ide memang sesuatu yang unik ibarat jelangkung: datang tidak diundang, pulang tidak diantar. Ide bisa tiba-tiba datang dan tiba-tiba pula menghilang sehingga membuat kita kerap gelagapan karena lupa mengikatnya.

Beda penulis produktif dan tidak produktif tentu saja tampak dari produksi idenya menjadi tulisan. Begitu pula beda penulis kreatif dan penulis tidak kreatif juga dapat dilihat dari kualitas ide yang dihasilkan. Karena itu, dalam dunia penerbitan ada adagium seperti ini:

Ide baik di tangan penulis yang buruk, tetap akan terlihat baik. Ide buruk di tangan penulis yang baik, tetap akan terlihat buruk.

Contohnya, bisa saja suatu kali kita membaca tulisan seorang penulis favorit, tetapi sangat buruk dalam penyajian idenya. Ya, mungkin dia sudah kehabisan ide-ide bagus.

Ide yang Bertumbuh dan Berkembang

Nah, ide itu ternyata bertumbuh dan berkembang di tangan para penulis kreatif. Jadi, ada IDE UTAMA yang saya sebut sebagai ide konten tulisan–biasa diterjemahkan ke dalam topik serta judul. Lalu, ada IDE TURUNAN yaitu ide penyajian dan pengemasan tulisan. Di sinilah sebuah gaya menjadi teramat penting.

Paling gampang saya contohkan buku lawas best seller karya Robert T. Kiyosaki berjudul Rich Dad Poor Dad. Idenya bukan hal baru yaitu ilmu dan kiat menjadi orang kaya. Namun, penyajian dan pengemasannya yang berbeda karena Kiyosaki menulis buku bisnis seperti sebuah novel yang berkisah tentang ayah kandungnya yang miskin dan ayah angkatnya yang kaya–di luar masalah kebenaran kisah ini yang pernah diperdebatkan.

Lima Kiat Membangun Lumbung Ide

Tentu yang paling penting kita lakukan pertama adalah mengumpulkan sebanyak mungkin IDE UTAMA dan menciptakan lumbung di folder-folder komputer kita. Ada banyak cara untuk menghasilkan ide atau tepatnya bersua dengan ide. Saya hanya menyajikan lima cara.

Banyak Membaca. Tiga hal yang mendorong Anda akan banyak membaca adalah berkunjung ke toko buku, berkunjung ke perpustakaan, dan membeli/meminjam buku untuk dibaca di rumah. Tentu Anda harus membaca sesuatu yang menarik minat Anda, apa pun bidangnya. Lalu, saat membaca, siapkanlah catatan kecil untuk mengikat ide-ide yang berseliweran. Pada prinsipnya memang Anda tidak harus membaca buku untuk bersua ide, sebuah brosur tempat wisata pun bisa memantik ide Anda jika Anda meluangkan waktu untuk membacanya. Atau sebut saja daftar harga sepeda motor keluaran merek tertentu bisa memantik ide Anda untuk menulis tentang sepeda motor. Jadilah tulisan berjudul “Balada Sepeda Motor”. Nah, apakah tulisan itu menjadi cerpen, feature, atau esai, terserah pada Anda.

Banyak Berjalan. Jangan terlalu sering terkungkung di rumah, sekali-sekali atau banyak sekali keluarlah dan kunjungi tempat-tempat yang bisa menstimulus ide Anda. Keluar dari rumah Anda dan pandangilah rumah Anda atau pandangilah rumah-rumah tetangga Anda, adakah hal aneh yang Anda lihat. Jadi, berjalan di sini tidak harus Anda plesiran ke tempat wisata. Berjalan itu bisa ke pasar tradisional, ke mall, ke sekolah anak, ke kantor pos, ke rumah sakit, dan banyak tempat lain yang bisa memantik ide Anda. Sekali lagi, jadikan gadget Anda itu lumbung ide. Tiga hal yang bisa Anda lakukan dengan gadget Anda adala foto, rekam (suara Anda), atau catat apa yang Anda lihat dan Anda rasakan tentang suatu tempat/suasana.

Banyak Bersilaturahmi. Bertemu banyak orang atau sengaja mengunjungi orang tertentu? Nah, ini salah satu jalan untuk menstimulus ide muncul. Ngobrol dan diskusi itu bisa memantik banyak ide. Kalau saya malah lain, bertemu dengan banyak orang, malah saya yang sering memberi ide ke orang itu, hehehe. Sekali lagi, gunakan senjata mustika “gadget” Anda.

Banyak Mengamati Media. Baca koran, baca berita online, baca majalah, atau baca lintasan tulisan di media sosial, itu juga bisa membuat Anda bersua dengan ide. Jadi, sekali-sekali memang perlu menjadi pengamat dan biarkan ide berseliweran di depan mata Anda untuk segera digarap. Nah, ini rahasia, kerjaan para editor akuisisi. Kerjaan mereka apalagi salah satunya kalau bukan nongkrongi media sosial dan ngintip-ngintip blog/website orang. Mereka lagi mencari penulis yang disebut bertalenta.

Banyak Menulis. Lho kok? Ya benar orang yang makin banyak menulis maka pikirannya akan terstimulus menemukan ide-ide lain. Jadi, ide itu bisa bercabang. Bagi penulis yang tidak biasa, ia malah menjadi bingung ketika bersua banyak ide sehingga tulisannya yang satu tidak selesai-selesai. Mengapa? Karena ia ingin melesakkan beberapa ide ke dalam satu tulisan. Jadinya, pastilah bingung sendiri. Jadi, semakin sering menulis, semakin sering kita bersua ide tidak terduga. Tidak percaya, ya coba aja.

***

Ya, gitu deh lima kiat membangun lumbung ide di folder komputer atau tablet Anda yang sewaktu-waktu dapat Anda eksekusi menjadi tulisan yang bergigi, sekaligus bergizi. Semoga bermanfaat.

©2014 oleh Bambang Trim, Tukang Buku Keliling

Mengubah Isi Blog Menjadi Buku

Ngeblog sudah menjadi tren beberapa tahun lalu, pun membukukan isi blog. Ada nama seperti Raditya Dika yang sukses membukukan isi blognya dan nama-nama lain yang tiba-tiba mencuat dalam jagat perbukuan Indonesia.

Nah, berarti ada editor penerbit yang nongkrongi media sosial dan memantau blog-blog inspiratif? Ya, itulah yang namanya editor akuisisi. Ia harus mampu mengendus para penulis (blogger) yang potensial.

Membukukan tulisan di blog ada dua cara. Pertama, ini yang paling sering dilakukan adalah republishing article or feature yaitu menerbitkan ulang kumpulan tulisan berupa artikel/feature dari dalam blog secara terpilih. Kedua, ini yang jarang dilakukan adalah mengembangkan satu tulisan di blog yang paling menarik dan penting menjadi sebuah tulisan panjang berbentuk buku.

Freelance-Writing-Jobs

Blog Berkarakter

Tentu tidak sembarang para editor memilih blogger yang pantas untuk diterbitkan karyanya menjadi buku. Blogger yang diincar adalah mereka yang punya “gaya” dalam menulis dan isi blognya konsisten pada satu tema besar atau topik dengan materi yang terjaga.

Boleh jadi memang blog sebagai opini blogger isinya gado-gado, contohnya tulisan tentang pilpres, tulisan tentang perjalanan, dan tulisan tentang resep masakan. Di sinilah nanti peran editor memilah-milah tulisan yang beratmosfer sama.

Ada pendekatan-pendekatan yang dilakukan. Pertama, menghimpun tulisan sejenis untuk menonjolkan tema/topik tulisan, contohnya tentang humor kehidupan atau refleksi yang penting. Kedua, menghimpun tulisan dengan menonjolkan penulisnya sendiri.

Jadi, ukuran pertama adalah  menemukan blog yang sangat berkarakter mulai keunikan nama blognya (seperti blog ini :) ), kiprah bloggernya, hingga opini-opini yang disampaikan di dalam tulisan blog tersebut. Di sinilah seorang blogger juga harus memiliki perencanaan ketika mengadakan sebuah blog agar ia seperti mencicil tulisan untuk kelak menjadi buku yang lebih awet dibaca.

Kumpulan Tulisan

Kata “mencicil” memang berhubungan dengan jenis buku yang lebih merupakan kumpulan tulisan sang blogger. Tulisan dalam ranah jurnalistik seperti blog bermacam bentuknya, ada artikel, reportase, feature, esai, atau puisi dan cerpen. Anda yang pernah mengenyam pendidikan jurnalistik tentu paham beda antartulisan tersebut.

Editor yang piawai juga akan memilah jenis tulisan tersebut. Blogger paling sering menulis esai sebagai bentuk tulisan opini yang sangat subjektif, kadang menjurus sebagai tulisan refleksi kehidupan. Selanjutnya, blogger juga banyak menulis feature yaitu fakta yang mengandung rasa kemanusiaan (human interest)–kategori ini termasuk sulit kalau sang blogger tidak terbiasa menulis, termasuk feature perjalanan (travelling).

Jadi, sebagai buku kumpulan tulisan, sebenarnya seorang blogger sudah dapat merencanakannya dengan cara “mencicil” tulisan dengan ruh yang sama. Jika ia senang ngocol dengan memandang hidup sebagai kumpulan humor, ia pun akan konsisten menulis seperti itu. Jika ia mampu menggambarkan sebuah tempat dengan cara berbeda, ia pun akan menjadi penulis perjalanan (travel writer) yang pantas untuk diangkat.

Menyadur Tulisan

Apakah sebuah tulisan pendek seperti artikel, esai, atau feature bisa dikembangkan menjadi buku? Jawabnya bisa. Itulah yang disebut “menyadur” atau konversi tulisan dari ide kecil menjadi ide besar. Namun, memang teknik yang satu ini agak sulit bagi para penulis yang belum terbiasa.

Nah, isi blog itu dari ratusan tulisan tentu ada yang bisa dikembangkan menjadi sebuah buku. Tidak perlu repot berpikir buku itu harus tebal. Ambil saja terminologi Unesco bahwa buku adalah kumpulan tulisan berjilid dan berkover yang terdiri atas minimal 49 halaman. Artinya, Anda dapat menyusun buku setebal 56 atau 64 halaman (kelipatan 8).

Menyadur tulisan pendek menjadi panjang tentu membuat Anda harus menerapkan pola outline tahapan yaitu membagi tulisan atas bab-bab yang saling berhubungan, runtut, dan tuntas. Di sini memang letak kesulitannya. Namun, jika Anda sudah terbiasa, tentu bisa begitu banyak buku yang dapat Anda hasilkan.

Bukan Gado-Gado

Ada juga upaya blogger membukukan tulisannya dengan konsep “gado-gado”. Itu istilah saya untuk menyebutkan isi buku dari kumpulan blog dengan bermacam tulisan: ada puisi, ada cerpen, ada artikel, ada esai, ada feature–pokoknya lengkap. Itu sama saja memindahkan isi blog “gado-gado” secara mentah menjadi buku sebagai jalan pintas.

Apa yang perlu dipikirkan adalah keterbacaan buku itu dan tingkat penerimaan pembaca sasarannya. Pembaca tidak akan mendapatkan satu pesan atau amanat karena disodori bermacam tulisan yang tidak jelas benang merahnya. Jadi, perlu dipahami buku adalah sebuah produk pemikiran yang memiliki alur dan benang merah. Begitu diramu secara “gado-gado” bukannya bisa dinikmati, malah menimbulkan kebingungan baru.

***

Jadi, blog itu adalah salah satu peluang bagi Anda menjadi penulis buku. Cobalah dua hal tadi yaitu menerbitkan buku kumpulan tulisan dan kedua mengembangkan satu tulisan menjadi buku utuh. Anda pasti bisa dan harus bisa–jangan mau jadi blogger seumur hidup tanpa jadi penulis buku.

Salam buku!

©2014 oleh Bambang Trim, Tukang Buku Keliling

Buku Religi Masih Bergigi

Dalam laporan penjualan TB Gramedia 2013 disebutkan bahwa buku religi menempati posisi kedua setelah buku anak. Total penjualan buku religi 3,7 juta eksemplar dengan kontribusi 2.843 judul buku. Tentulah buku religi yang dimaksud adalah dominan buku Islam.

Buku religi (Islam) memang masih bergigi merajai berbagai penjualan buku, terutama pada saat-saat bulan Ramadan seperti ini. Kebangkitan kreativitas dan tema buku Islam memang terus bertahan sejak dimulai pada tahun 1980-an dengan kemunculan Mizan dan Gema Insani Press sebagai penerbit buku progresif pada awal kemunculannya.

Saya sempat membahas bahwa tema buku religi Islam memang tidak akan pernah kering karena Islam sendiri menyediakan mata air tema yang luar biasa untuk diturunkan menjadi sebuah wacana dalam buku. Coba lihat saja buku anak Islam yang kini mengusung tema beragam. Jadi, jika buku anak menempati posisi nomor satu dalam penjualan di TB Gramedia yaitu 10,9 juta dengan 4.701 judul di antaranya tentu termasuk buku anak Islam.

Kasus epigon juga terlihat pada buku-buku religi yang sukses. Contoh yang terhangat adalah buku tentang anak-anak dan orangtua penghafal al-Quran yang pada awal tahun 2012 dimulai pada penerbitan buku karya Salafuddin AS berjudul Balita Pun Hafal Quran yang diterbitkan Tinta Medina. Saya ikut membidani buku ini dan selepas saya keluar dari Grup Tiga Serangkai, buku ini pun terbit dan mendapat respons luar biasa dari para pembaca. Penulisnya pun mendapatkan undangan bedah buku di mana-mana. Ternyata tema tentang para penghafal Quran ini juga menarik minat banyak kaum Muslim.

Balita_cover depan

Tahun-tahun ke depan tentu buku religi masih akan memberikan kejutan, terutama dari tema seputar ibadah, muamalah, sirah (sejarah), dan juga tema-tema kontemporer seperti parenting Islami, pendidikan Islami, dan pengembangan diri. Para penulis buku religi pun akan banyak ke depan yang unjuk gigi tentu dengan ilmu dan pengalaman religius yang dimilikinya. Memang salah satu faktor yang menyebabkan belum banyak para penulis (baca: da’i) baru muncul dengan kekuatan penanya disebabkan oleh kelemahan dalam dakwah menggunakan kalam itu sendiri.

Satu hal lagi tentu yang diperlukan adalah kreativitas dalam menggarap tema-tema yang sudah sering dibukukan. Ustad Aid al-Qarni (penulis buku La Tahzan) pernah berpesan dalam bukunya bahwa sebaiknya para penulis Islam tidak menulis buku yang sudah ditulis oleh orang lain. Namun, untuk memunculkan orisinalitas gagasan penulisan buku religi memang tidak mudah meskipun Islam menyediakan mata air gagasan yang luar biasa deras. Alhasil, yang diperlukan sekali lagi adalah kreativitas penggarapan tema lama menjadi terasa baru atau lebih mudah untuk dipahami pembaca.[]

 

Kehilangan “Pak Haji” di Ujung Syakban

Pesan BBM dari seorang teman mengejutkan saya. ‘Pak Haji meninggal’. Segera saya menghubungi beberapa teman lagi untuk mencari tahu kabar sejatinya. Betullah H. Syaifullah Sirin yang begitu mewarnai perjalanan karier saya di dunia buku sudah dipanggil ke Rahmatullah beberapa hari sebelum Ramadan, tepatnya tanggal 25 Juni 2014. Pak Haji begitu beliau akrab dipanggil meninggalkan sanak keluarga dan handai tolannya di ujung Syakban.’

H. Syaifullah Sirin adalah adik ipar dari tokoh perbukuan nasional H. Rozali Usman, pendiri penerbit dan percetakan Rosdakarya. H. Rozali sendiri telah wafat lebih dulu pada akhir 2013. Ketika ada upaya untuk membukukan jejak kisah H. Rozali, saya pun diundang H. Syaifullah Sirin (Pak Haji) ke rumahnya untuk membantu beliau membuat tulisan kenangan tentang H. Rozali Usman.

Dari kisah beliau tentang H. Rozali Usman, sedikit banyak saya tahu kisah hidup Pak Haji semasa kecil dan remaja. Ia tumbuh sebagai aktivis pemuda dan lalu juga pekerja hebat seperti kakak iparnya. Ia mendapatkan didikan keras dari kakak iparnya dan dari beliaulah Pak Haji belajar banyak tentang bisnis penerbitan serta percetakan.

Pak Haji kemudian mendirikan perusahaan sendiri untuk mandiri bernama Karya Kita. Perusahaan ini bergerak utama dalam bidang percetakan, lalu meluaskan kiprahnya juga di bidang penerbitan. Karya Kita melahirkan perusahaan besar PT Grafindo Media Pratama yang melahirkan buku-buku pelajaran dan pada masa akhir 1990-an mampu menggoyang dominasi penerbit besar seperti Erlangga, Yudhistira, dan Ganeca Exact.

H. Syaifullah Sirin, hasil jepretan saya di Frankfurt 2003.

H. Syaifullah Sirin, hasil jepretan saya di Frankfurt 2003.

Orang mungkin tidak banyak tahu bahwa Pak Haji juga tokoh di balik lahirnya tabloid Islam Salam yang pernah sangat fenomenal. Nama Salam terus terbawa sebagai merek penerbit dengan didirikannya Salam Prima Media sebagai penerbit buku anak Islam serta Pustaka Madani dan Zaman yang kala itu digawangi Mas Taufan Hidayat (pemilik penerbit Nuansa Cendekia sekarang). Tahun 2008, ketiga merek itu disatukan menjadi PT Salamadani Pustaka Semesta dan saya pun ikut membidani kelahirannya.

 

Pak Haji di antara para pejabat dalam peresmian Gontor Sumbar di Sulit Air, 2009.

Pak Haji di antara para pejabat dalam peresmian Gontor Sumbar di Sulit Air, 2009.

Ya, saya mulai berinteraksi dengan beliau saat ikut masuk menjadi staf editor di Salam Prima Media tahun 1997. Karier saya di grup Karya Kita ini merambat cepat hingga kemudian menduduki posisi puncak di penerbitan. Saya termasuk yang menjadi orang kepercayaan Pak Haji dalam soal penulisan-penerbitan. Pak Haji selalu memercayakan penulisan pidato, sambutan, surat, atau pemikiran beliau lewat tulisan kepada saya. Bahkan, sampai di ujung hayatnya, saya masih membantu beliau untuk menuliskan kata-kata kenangan untuk almarhum H. Rozali Usman.

IMG_2289

Kenangan H. Syaifullah Sirin dan keluarga bersama Ustad Yusuf Mansur sambil memegang Salam Quran.

 

Sejak 1997 saya bergabung di perusahaan Pak Haji hingga pertengahan 2010, saya sudah tiga kali keluar masuk dan sempat lama di MQ Corp milik Aa Gym dari 2003 sampai dengan 2008. Kembalinya saya selalu terkait dengan permintaan Pak Haji untuk membantu kembali di perusahaannya. Terakhir, itu terjadi pada tahun 2008 sehingga saya turut membidani lahirnya penerbit Salamadani yang sempat berjaya dengan buku Api Sejarah karya Prof. Ahmad Mansur, Salam Quran, dan buku-buku karya Yusuf Mansur.  Salamadani bahkan pada kemunculannya juga menggagas tempat wisata buku bernama Salam Book House.

IMG_3661

Pembangunan awal Salam Book House yang didukung penuh Pak Haji.

Salam Book House hingga kepergian Pak Haji tetap dipertahankan oleh beliau. Di sana masih terdapat buku-buku yang dijual, termasuk saksi bisu kejayaan yang pernah menghampiri Salamadani meski hanya tiga tahunan.

Kenangan saat Salam Quran diluncurkan secara sederhana di Masjid Darussalam, Bandung.

Kenangan saat Salam Quran diluncurkan secara sederhana di Masjid Darussalam, Bandung.

Pak Inu Kencana sedang menjelaskan naskahnya kepada Pak Haji.

Pak Inu Kencana sedang menjelaskan naskahnya kepada Pak Haji.

Kepergian Pak Haji jelas begitu terasa mendadak tanpa tanda-tanda. Dua minggu sebelum wafat, beliau masih SMS saya untuk menanyakan perkembangan pengeditan biografi H. Anif (tokoh Sumut) yang dipercayakannya kepada saya. Sayang saya tidak menelepon beliau, tetapi hanya membalas dengan SMS juga. Saya tidak sempat mendengar kata-kata terakhirnya, kecuali pertemuan pada akhir Mei sepulang saya dari Banjarmasin. Itulah kali terakhir bertemu beliau dan berbincang lama tentang buku.

Selamat jalan Pak Haji. Dunia buku kembali kehilangan tokoh terbaiknya. Semoga amal ibadah yang Pak Haji tanamkan dan semangat kebajikan yang ditebarkan menjadi timbangan amal yang berat di sisi Allah. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihii wa’fu’anhu.

Kursus Online Menulis Buku Nonfiksi Populer

Dapatkan kesempatan pertama menjadi peserta kursus online penulisan buku nonfiksi populer bulan Juli 2014 bersama Bambang Trim. Anda akan dipandu secara daring (online) untuk memulai langkah taktis menulis buku.

Jarak dan waktu sering menjadi kendala bagi Anda untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang suatu bidang. Salah satu bidang langka itu adalah penulisan buku nonfiksi populer. Karena itu, dalam kesempatan bulan Juli yang bertepatan dengan Ramadan, saya bermaksud berbagi pengalaman dan pengetahuan penulisan buku nonfiksi populer lewat daring (online) dengan memanfaatkan grup Facebook tertutup.

Daftarkan diri Anda segera via email bambangtrim72@gmail.com atau via Whatsapp 081519400129.

OnlineKursus

 

Keunggulan Kursus:

  1. Tiap peserta akan mendapatkan bahan softcopy dalam bentuk PDF sebanyak tiga modul. Satu modul akan dibahas pada setiap sesi daring selama kurang lebih dua jam.
  2. Tiap peserta juga akan mendapatkan bahan praktik langsung dalam format MS-Word dan dikirimkan ke tutor sebagai tugas.
  3. Peserta akan mendapatkan modul maksimal tiga hari sebelum sesi kursus dimulai agar dapat mempelajari dan mempersiapkan pertanyaan langsung.
  4. Di dalam grup Facebook (kategori rahasia) ini juga akan diunggah video tutorial dan materi-materi lain yang relevan.
  5. Peserta akan mendapatkan free eBook Menulis Buku untuk Orang Awam senilai Rp50.000,00.
  6. Peserta dapat memanfaatkan terus grup Facebook untuk berkonsultasi dengan tutor.
  7. Peserta akan mendapatkan sertifikat resmi dari DetiKata Writing Course yang dikelola Bambang Trim.
  8. Diskon 15% untuk peserta yang menggunakan jasa DetiKata dalam penerbitan buku untuk pekerjaan editorial (editing-layout-desain kover).