Editing Mengantarkan Anda Menjadi Profesional

Ilmu editing (editologi) yang merupakan ranting dari ilmu penerbitan (publishing science) adalah ilmu langka bagi orang Indonesia. Pendidikan formal tentang ilmu ini pun hanya dipelajari pada tingkat diploma tiga dan itu pun tinggal satu PTN yang bertahan.

Bagaimana dengan kursus atau pelatihan? Sama saja, langka. Kalaupun ada, mungkin hanya berkonsentrasi seputar masalah kebahasaan. Padahal,  di luar kebahasaan masih ada hal-hal lain terkait editing yang mesti dikuasai seorang penulis ataupun editor.

Saya termasuk “produk” dari ilmu ini sehingga karier saya pun tidak lepas dari dunia editing dan termasuk dunia tulis-menulis. Tiga tahun belajar di Prodi D3 Editing Unpad, lalu saya melanjutkan ke program ekstensi Sastra Indonesia yang sebagian besar mata kuliahnya juga terkait ilmu penerbitan.

Jadi, wajarlah jika di Indonesia mereka yang berprofesi editor sebenarnya autodidak dan hanya bermodal latar belakang ilmu pengetahuan tertentu. Untuk itu, demi menanamkan pemahaman yang benar terhadap profesi ini, saya menggelar pelatihan Basic Copy Editing bersama Trimuvi.

Siapa pun, apakah itu editor, penulis, guru, dosen, widyaiswara, pengelola media, staf humas, dan staf sekretaris perusahaan, pasti sangat memerlukan ilmu ini terkait aktivitas tulis-menulis yang digeluti. Pelatihan langka ini sangat sayang dilewatkan.

 

BasicCopyeditingRev

Rundown Acara Basic Copy Editing Training

Hari I, 22 Oktober 2014

8:30 a.m. – 8:45 a.m. Registrasi Ulang

Sambutan                                Trimuvi

Ruang Kelas MLC
8:45 p.m. – 10:00 p.m. Pembukaan

Sessi I: Lingkup Copyediting dan 7 Aspek

Editing

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC
10:00 a.m. – 10:15 a.m. Coffee Break Ruang Kelas MLC
10:15 a.m. – 12:00 a.m. Studi Kasus 7 Aspek Copyediting                                                                    Bambang Trim Ruang Kelas MLC
12:00 a.m. – 13:00 p.m. Istirahat & Makan Siang

Trimuvi Support

Ruang Kelas MLC
13:00 p.m. – 14:00 p.m. Sesi II

Editing Tata Bahasa

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC
14:00 p.m. – 15:00 p.m. Praktik Editing Tata Bahasa

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC
15:00 p.m. – 15:15 p.m. Coffee Break

Sekretariat

Ruang Kelas MLC
15:15 p.m. – 16:00 p.m. Praktik Editing Tata Bahasa

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC

 

Hari II, 23 Oktober 2014

8:30 a.m. – 10:00 a.m. Sesi III

Gaya Selingkung

Tasaro

Ruang Kelas MLC
10:00 a.m. – 10:15 a.m. Coffee Break Ruang Kelas MLC
10:15 a.m. – 12:00 a.m. Penerapan Gaya Selingkung                                                                           Tasaro Ruang Kelas MLC
12:00 a.m. – 13:00 p.m. Istirahat & Makan Siang

Sekretariat

Ruang Kelas MLC
13:00 p.m. – 14:00 p.m. Sesi IV

Mechanical Editing

Bambang Trim

                                                Tasaro

Ruang Kelas MLC
14:00 p.m. – 15:00 p.m. Praktik Mechanical Editing

Bambang Trim

                                                Tasaro

Ruang Kelas MLC
15:00 p.m. – 15:15 p.m. Coffee Break

Sekretariat

Ruang Kelas MLC
15:15 p.m. – 16:00 p.m. Sesi V

On-Screen Editing

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC

 

 Materi

 

SESI DESKRIPSI
Lingkup Copy Editing dan Tujuh

Aspek Editing

Peserta mampu

  • memahami lingkup kerja copyediting yang berbeda dengan editing secara umum dan proofreading;
  • memahami tingkatan copyediting;
  • memahami 7 aspek: 1) keterbacaan dan kejelahan; 2) konsistensi; 3) kebahasaan; 4) kejelasan gaya bahasa; 5) ketelitian data dan fakta; 6) legalitas dan kesopanan; 7) ketepatan rincian produksi;
  • studi kasus penerapan tujuh aspek editing.
Tata Bahasa Peserta mampu

  • memahami konsep bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  • memahami penerapan Pedoman Umum EYD;
  • memahami kasus-kasus kebahasaan umum;
  • memahami kasus-kasus kebahasaan khusus.
Gaya Selingkung Peserta mampu

  • memahami pentingnya penerapan gaya selingkung;
  • memahami unsur-unsur yang terdapat pada gaya selingkung;
  • mencari solusi gaya selingkung vs gaya penulis/pengarang;
  • memahami anatomi tulisan/anatomi buku dan perwajahan.
Mechanical Editing Peserta mampu

  • melakukan praktik mechanical editing dengan tanda-tanda koreksi;
  • memahami verifikasi silang;
  • memahami jenis outline pada buku;
  • memahami editing keterbacaan (readabality) dan kejelahan (legibility);
  • memahami editing data danfakta;
  • memahami editing legalitas/kesopanan.
On-Screen Editing Peserta mampu

  • menggunakan MS-Word untuk melakukan on-screen editing;
  • menggunakan Adobe Acrobat untuk on-screen editing file PDF.

 

Tips Menulis Buku Ilmiah

Anda seorang akademisi atau peneliti yang hendak bertekad menulis buku? Buku memang “karya lompatan” bagi seorang akademisi, peneliti, atau ilmuwan karena lewat bukulah pemikiran dan ilmunya dapat ditebarkan secara luas, sekaligus diawetkan.

Sejak beberapa tahun ini saya telah mengisi berbagai kelas pelatihan penulisan buku ilmiah, baik untuk dosen, widyaiswara, maupun peneliti. Terakhir pada 11-12 September 2014 lalu, saya kembali mengisi untuk peneliti di lingkungan LIPI yang digagas LIPI Press.

Bambang Trim sedang mendampingi peserta untuk menggagas outline buku ilmiah.

Bambang Trim sedang mendampingi peserta untuk menggagas outline buku ilmiah.

Berdasarkan pengalaman mengisi kelas pelatihan dan mendampingi para calon penulis buku, kelemahan utama seseorang tidak mampu menulis buku ilmiah sebagai berikut.

  1. Tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Hal ini biasanya diikuti dengan ujaran, “Ide saya sebenarnya banyak ….”
  2. Penyajian bahasa yang cenderung panjang dan membosankan. Hal ini adalah kelemahan umum tersebab kurang berlatih.
  3. Penyajian to the point tanpa menyisipkan terlebih dahulu unsur-unsur yang mampu memikat pembaca, terutama di dalam lead atau paragraf awal tulisan.
  4. Penyajian yang terkungkung kebiasaan, seperti memulai tulisan dengan definisi, sejarah asal-usul, ataupun latar belakang permasalahan.
  5. Bahasan melebar atau malah sebaliknya, bahasan terlalu sempit tanpa menyertakan bahan atau fenomena-fenomena terbaru.

Dari pengalaman tersebut demi menutupi kelemahan tiada cara lain yaitu memberikan pelatihan dengan praktik langsung. Untuk itu, kunci pelatihan bagi para calon penulis buku adalah memperdalam aspek prewriting yaitu kemampuan menggagas dan mengembangkan ide menjadi draf outline dan drafting yaitu keterampilan menyusun naskah dengan berbagai cara.

Setiap calon penulis itu memerlukan pendampingan, sekaligus stimulus agar ia mampu menyusun satu draf outline jadi yang siap dieksekusi. Selanjutnya, ia dapat berlatih sendiri mengembangkan outline atau kerangka tulisannya.

Tips-tips berikut akan berguna sebagai bahan pelatihan.

  1. Mulailah membiasakan diri untuk menulis buku dengan outline tahapan. Outline tahapan mirip dengan skripsi dengan bagian inti Pendahuluan-Isi-Penutup. Bagian pendahuluan dan penutup biasa merupakan satu bab tersendiri. Adapun bagian isi terdiri atas beberapa bab. Umumnya penulis yang hendak mengambil jalan pintas menulis buku kerap memilih outline butiran yaitu berupa kumpulan tulisan-tulisan pendek (artikel, esai, dsb.). Hal ini tentu tidak akan mampu mengasah kemampuan Anda menulis buku sebenarnya.
  2. Bayangkan apakah Anda memiliki bahan yang cukup untuk mengembangkan sebuah ide penulisan, terutama bahan berupa buku ataupun dokumen tertulis lainnya. Bahan yang terbatas dapat membuat seseorang tidak dapat mengembangkan tulisan dan frustrasi. Akibat lain adalah bentuk penyajian yang akan “berputar-putar” atau “berulang-ulang”.
  3. Persempit topik Anda menjadi lebih spesifik mengingat buku-buku ilmiah cenderung menyasar pasar ceruk (niche). Jika Anda membuat topik “Problema Penyandang Disabilitas”, jelas topik ini terlalu luas. Anda dapat mempersempitnya menjadi “Problema Penyandang Disabilitas dalam Dunia Kerja”. Jika perlu, persempit lagi menjadi “Problema Penyandang Disabilitas dalam Bidang Kerja Industri Kreatif”.
  4. Pelajari outline atau lebih mudah daftar isi buku-buku ilmiah yang beredar di pasaran. Lihat bagaimana sang penulis menyajikan naskahnya. Hal apa dulu yang mereka kenalkan kepada pembaca?
  5. Sisipkan kisah dalam buku-buku Anda. Kisah tidak berarti mengurangi kadar ilmiah karena lewat kisahlah Anda dapat memikat calon pembaca. Contohnya ketika Anda akan membahas tentang tenaga listrik di Indonesia, Anda dapat memulai kisah tentang sulitnya warga Medan mengalami pemadaman listrik hampir tiap hari. Dari kisah ini dapat Anda telusuri sebab musababnya hingga menyentuh topik yang hendak Anda bahas. Jadi, lewat kisah kita bisa mengantarkan topik.
  6. Opini Anda dalam buku harus terlihat. Anda tidak sedang menulis skripsi, tesis, atau disertasi yang kadang “menyembunyikan” opini penulisnya dengan menyajikan teori-teori pendukung sebanyak-banyaknya. Di buku, opini Anda sebagai penulis harus terlihat eksplisit dan teori-teori pendukung (kutipan) digunakan secukupnya saja.
  7. Ketahuilah apakah di lembaga Anda ada semacam buku gaya selingkung (house style book) seperti yang juga diadakan di LIPI Press. Buku tersebut berisi petunjuk penyusunan naskah buku. Jika ada, buku semacam itu perlu Anda pelajari.
Buku gaya selingkung LIPI Press

Buku gaya selingkung LIPI Press

Itulah tujuh tips awal bagi Anda yang ingin menulis buku ilmiah atau buku nonfiksi populer. Selain menggagas ide baru, Anda dapat juga mengonversi atau menyadur karya-karya dalam bentuk laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi menjadi buku.

Selamat berkarya!

 

©2014 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi penulisan-penerbitan buku yang telah menghasilkan 150 judul buku. Ia kini beraktivitas sebagai writerpreneur dengan mendirikan PT Trimuvi (Cimahi, Bandung) dalam bidang pelatihan dan jasa penulisan bisnis/PR dan CV Detikata Media (Solo) dalam bidang pelatihan dan jasa penulisan akademis.

 

Berapa Penghasilan Penulis Indonesia

Saya terpaksa membuat tulisan ini. Lho, kok terpaksa? Pasalnya, saya baru membuka tautan info di detik.com tentang penghasilan penulis Inggris yang hanya kira-kira Rp219 juta per tahun. Lalu, saya buka tautan lebih lengkap di theguardian.com.

Pendapatan minimum di Inggris adalah £16.850 menurut Joseph Rowntree Foundation untuk mencapai standar hidup minimum, sedangkan pendapatan para penulis penuh waktu itu hanya £11.000 pada 2013–jauh menurun dari  £12,330 pada 2005. Penulis yang disurvei oleh Author’s Licensing and Collecting Society (ALCS) bekerja sama dengan Queen Mary, University of London sejumlah 2.454 orang (56% laki-laki dan 44% perempuan).

Survei ini juga mendapati data bahwa hanya 11,5% dari para penulis itu yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk menulis–artinya mereka benar-benar bergantung pada tulisan. Angka ini jauh menurun dari tahun 2005 yang ada 40% penulis profesional. Apakah artinya profesi “penulis” tidak cukup seksi di Inggris sekalipun?

Nah, menulis di sini adalah menulis buku dan diterbitkan penerbit. Jadi, para penulis itu sangat bergantung pendapatannya pada industri buku. Royalti menjadi kata yang memberi magnet soal passive income, tetapi pada kenyataannya hanya segelintir penulis yang benar-benar menerima royalti dengan “nilai nendang”. Sekali lagi, saya sudah menuliskan hal ini tahun 2012 lalu di dalam artikel “Mengapa Saya Tidak Bisa Kaya dari Royalti”.

Kembali ke survei bahwa para penulis profesional itu hidup hanya dengan Rp18,25 juta per bulan. Jika dibanding dengan Indonesia, tentu pendapatan itu sangat besar, setara dengan gaji manajer senior. Namun, apakah penulis Indonesia juga bisa mencapai angka sedemikian?

Hitungan sederhana dari royalti:

  • Cetak 3.000 eksemplar, Harga buku Rp50.000
  • Ada pendapatan = Rp150.000.000,00 dengan asumsi terjual semua.
  • Royalti 10% = Rp15.000.000,00

Pertanyaannya, kapan penulis bisa menerima royalti? Tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun? Kalau asumsi bisa cetak ulang dua kali setahun dan terjual 6.000 eksemplar, berarti setahun bisa memperoleh Rp30.000.000,00 atau setara dengan Rp2.500.000,00 per bulan. Kecil sekali, ya.

Untuk mengejar angka penulis di Inggris maka penulis Indonesia harus menulis paling tidak delapan judul buku dan semuanya harus laku. Sesuatu yang berat untuk dilakukan, apalagi bisa meloloskannya ke penerbit.

Bagaimana dengan menulis untuk media massa? Ya sama saja, seberapa produktif Anda bisa menulis setiap hari dan bisa lolos gawang redaksi setiap bulan?

Penghasilan Ideal Penulis Indonesia

Mereka yang mengaku-ngaku sebagai writerpreneur memang perlu disurvei berapa penghasilan yang bisa mereka peroleh murni dari menulis. Saya kerap membaca buku motivasi menulis, selalu yang dijadikan contoh adalah Andrea Hirata dan JK Rowling. Pertanyaan saya, ya berapa orang di Indonesia yang seperti Andrea, tiba-tiba novelnya menjadi gelombang tren baca yang tidak terbendung, lalu mendapatkan royalti miliaran rupiah?

Atau membandingkan dengan penulis buku best seller yang lain seperti Ippho Santosa dengan buku rezekinya dan terdorong hebat juga dari training-trainingnya. Jika ditanya langsung ke Elexmedia berapa orang penulis kayak Ippho, tentu tak sampai 10% dari seluruh penulis seperti itu.

Jadi, idealnya untuk standar hidup layak, penulis Indonesia harus mendapatkan berapa dari royaltinya? Kalau kita patok angka lebih kurang Rp5,6 juta (sesuai dengan rata-rata biaya hidup minimum yang dikeluarkan BPS 2014), diperlukan penghasilan Rp67,2 juta per tahun.

Sebagian besar penulis buku pop tidak ada yang menyentuh royalti pada angka itu per tahunnya, kecuali penulis buku pelajaran. Saya sendiri mengalami hal itu dari menulis buku pelajaran. Itu pun saya harus menulis buku SD kelas I s.d. VI, royalti yang diterima lebih dari Rp100 juta pada tahun pertama dan kedua. Itu yang membuat saya mampu membeli rumah dan menghajikan ayah saya.

Kalau ditanya ideal, tentulah penulis Indonesia paling tidak harus berpenghasilan Rp120 juta per tahun atau Rp10 juta per bulan. Angka ini mungkin agak sulit dipenuhi industri perbukuan dan media mengingat pertumbuhan penulis di Indonesia juga kini pesat sekali, diikuti dengan pertumbuhan penerbit serta judul buku. Di satu sisi minat atau daya beli tidak naik secara signifikan sehingga “pertempuran” di toko buku menjadi sangat dramatis. Ada buku bagus, justru tidak terjual bagus. Ada yang buku tidak bagus-bagus amat, justru dicari banyak orang.

Tahun 2013, TB Gramedia paling tidak menerima 2.700 judul buku baru setiap bulan. Sebagian besar judul-judul itu tidak mampu bertahan selama tiga bulan. Lewat dari rentang waktu tertentu (biasanya satu tahun), buku itu akan diobral dengan “harga yang condong banget” (50%-70% diskon). Penulis pun hanya mendapat “ampas” dari penjualan obral ini.

Writerpreneur Out of the Box

Dalam buku 5W + 1H Writerpreneur saya menyebutkan soal perlunya seorang penulis profesional untuk berpikir out of the box. Dia harus berpikir tidak hanya menggantungkan hidupnya dari menulis buku atau menulis untuk media, tetapi lebih dari itu ia harus memanfaatkan potensi lain. Di antara potensi itu adalah

  1. menjadi pembicara publik atau trainer;
  2. menjadi editor atau konsultan penulisan-penerbitan;
  3. menjadi penulis bayangan atau penulis pendamping.

Ya, lebih berpikir menjadikan keterampilan penulis sebagai jasa atau menjadikan menulis dan editing sebagai bisnis yang bisa ditawarkan kepada siapa pun. Kliennya bisa lembaga pemerintah, perusahaan, lembaga nirlaba, lembaga pendidikan, bahkan perseorangan. Hal ini yang juga saya lakoni sejak tahun 2008.

Sepengamatan saya rata-rata jasa yang dapat diterima seorang penulis untuk penulisan biografi/autobiografi adalah >Rp150.000,00 per halaman (A4; 1,5 spasi). Angka ini bisa melonjak naik sampai Rp500.000,00 per halaman. Jika buku yang disusun rata-rata 200 halaman, penghasilan yang diperoleh bisa mencapai Rp100.000.000,00.

Namun, jangan berdecak kagum dulu, penulisan biografi/autobiografi bisa memakan waktu lebih dari enam bulan, bahkan setahunan. Angka segitu memang layak. Lebih layak lagi jika seharga mobil baru kelas menengah. Pasalnya terkadang narasumber sulit menyediakan waktu atau data-data harus dikumpulkan dulu dari berbagai tempat.

Supaya bisa mengejar standar penghasilan penulisan tadi, tentu sang penulis pro harus mendapatkan pekerjaan dengan nilai di atas Rp20 juta paling tidak untuk enam pekerjaan selama setahun. Produktivitas menjadi tantangannya, termasuk kecepatan penulisan. Satu lagi tentu adaptasinya terhadap industri jasa penulisan itu sendiri terkait deadline dan metode penulisan.

Di luar yang disajikan ALCS tadi memang ada para penulis pro yang mengambil jalur di luar penerbitan buku. Mereka bekerja dalam ranah jasa.

Periuk Nasi dari Menulis

Saya sudah menggantungkan hidup sepenuhnya dari soal menulis ini sejak awal tahun 2012–tak lagi menjadi karyawan. Penghasilan utama saya banyak ditopang dari pekerjaan sebagai pembicara publik dan konsultan penulisan-penerbitan untuk lembaga pemerintah dan perusahaan swasta. Sekali-sekali saya bekerja untuk klien perseorangan.

Alih-alih bekerja sendiri, saya pun mendirikan bidang usaha berbadan hukum untuk layanan penulisan-penerbitan. Saya melihat kebutuhan ini di tengah kecenderungan industri buku yang kurang bergairah sejak 2-3 tahun terakhir ini dari sisi pendapatan. Sulit sekali mengangkat sebuah buku, kecuali dengan keaktifannya penulisnya menjual dalam training atau seminar-seminar. Penerbit tidak punya kekuatan pendanaan untuk promosi judul per judul.

Jadi, yang saya lihat adalah para penulis perseorangan yang ingin eksis menulis buku bukan untuk tujuan penjualan besar-besaran. Kedua, yang saya lihat lembaga pemerintah dan lembaga swasta yang masih kepayahan untuk menerbitkan sebuah buku secara profesional. Ketiga, adalah lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi, yang masih miskin menghasilkan dosen-dosen penulis buku.

Saya mengisi “periuk nasi” ini dari memberi pelatihan dan memberikan konsultasi-pendampingan sampai seseorang mampu menghasilkan karyanya. Saya tidak lagi menggantungkan dari menulis buku meskipun sampai kini saya masih terus menambah portofolio penulisan buku. Saya tetap menulis buku, tetap dengan objektif membantu lembaga/perseorangan. Tahun ini saya membantu lembaga seperti KPK, Pusdiklatnakes, dan IAARD Press (Balitbangtan) untuk menerbitkan buku.

***

Beruntung di negeri ini angka penghasilan per tahun seperti penulis di Inggris itu adalah sesuatu yang masih mungkin diperoleh. Namun, itu tidak dapat digantungkan dengan menulis buku untuk penerbit. Entah sampai kapan itu bisa diharapkan, kecuali tadi saya sebut, Anda menulis buku pelajaran yang potensi pasarnya sudah jelas: jutaan siswa di Indonesia. Atau Anda beruntung menjadi penulis best seller selanjutnya– tentu best seller yang sebenarnya bukan abal-abal.

Mau tahu banyak lagi? Anda harus menyempatkan diri sekali waktu mengikuti kelas saya di Trimuvi (MUVI Learning Center) Cimahi, Bandung. Kami membuat program-program praktis untuk mencetak para writerpreneur. []

 

Kabar dari Klien: Subdiklatnakes Kemenkes Terbitkan Buku Ajar

Sejak bulan Mei 2014 lalu, saya memberikan pembekalan untuk sejumlah pendidik di lingkungan Subdiklatnakes, Kemenkes RI. Mereka adalah para dosen di Poltekkes dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka terpilih untuk menjadi penyusun buku ajar untuk mata kuliah Kesehatan Ibu dan Anak serta Imunisasi.

Buku ajar pertama yang diterbitkan Subdiklatnakes sebelumnya adalah Pendidikan dan Budaya Antikorupsi (PBAK). Buku ajar PBAK kini dalam proses cetak untuk mulai dipakai pada tahun ajaran 2014/2015 September mendatang. Adapun buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Imunisasi menyusul kemudian sebagai buku yang diterbitkan kedua dan ketiga.

Kegiatan penyusunan buku ini dimulai dengan kegiatan pembekalan atau workshop singkat bagaimana menyusun buku ajar. Seperti biasa saya memulai dari pendekatan prewriting, lalu drafting. Peserta diajak untuk membedah outline yang sudah disusun, termasuk berpatok pada kurikulum serta silabus.

Penyusunan buku memang harus dikoordinasi sedemikian rupa karena satu buku dibuat oleh tim. Untuk itu, perlu adanya kesepatakan dari tim tentang bobot pekerjaan yang mereka lakukan serta teknik penyajiannya yang diusahakan harus seragam. Hal ini menyangkut masalah konsistensi nantinya pada saat diterbitkan.

Presentation1

Rata-rata buku berketebalan 198 halaman dan ditampilkan secara berwarna karena menggunakan beberapa foto sebagai penjelasan. Penanganan editorial dikerjakan langsung oleh tim saya di Trim Komunikata dengan penyeliaan langsung oleh saya. Ini pengalaman kami selanjutnya setelah sebelumnya juga menyelesaikan beberapa buku untuk KPK, PTPN XII, PT Badak NGL, dan juga yang akan datang yaitu IAARD Press, Balitbangtan, Kementerian Pertanian.

Saya bersama tim juga tengah bersiap mengerjakan enam judul buku  untuk Ditjen Binapenta, Kemnakertrans. Khusus untuk pekerjaan ini kami mulai dengan bantuan penulisan hingga penerbitannya.

Semangat kami adalah semangat membantu siapa pun, apakah itu perusahaan swasta atau lembaga pemerintah dan perseorangan untuk dapat menerbitkan buku secara baik dan benar, serta ditangani secara profesional.


 

Tertarik bekerja sama dengan saya dan tim dalam pengerjaan buku Anda? Silakan kontak via WA/HP di 081519400129 atau tambahkan PIN BB saya 749FE40E.

MENULIS BUKU YANG PASTI, BUKAN OBSESI

Galau adalah kata yang akrab untuk para pemula yang ingin menulis buku. Bagaimana tidak? Banyak bayangan yang mengganggu benak mereka soal buku. Ya, kapan namaku dapat terpampang di sebuah kover buku?

Saya bisa merasakan bayangan yang mengganggu atau bentuk kegalauan positif seperti ini. Coba bayangkan para pensiunan yang kerap bingung hendak melakukan apa selepas pensiun. Padahal, saya bisa menawarkan satu hal yang menarik, apalagi kalau bukan MENULIS BUKU!

Ibu-ibu yang perlu penghasilan tambahan di rumah juga. Pekerjaan apa yang paling memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan di antara pilihan bisnis lainnya? Ya, MENULIS BUKU, terutama MENULIS BUKU UNTUK ANAK.

Tapi, apa mungkin keterampilan menulis bisa dipelajari. Memang Anda tidak perlu bakat, yang penting punya niat dan hasrat. Anda harus temukan pengalaman baru menulis buku yang mengasyikkan, menggetarkan, sekaligus membangkitkan semangat tinggi.

Nah, di TRIMUVI [Move on Your Idea], kami akan mewujudkan satu impian Anda. Ide buku Anda akan dimatangkan judulnya, lalu diwujudkan kover bukunya oleh desainer kami yang sudah terlatih.

Lho, mengapa kovernya doang? Tentu kover buku yang sudah jadi ini bisa Anda pampangkan sebagai pra-promosi dan itu tadi akan mendorong Anda untuk benar-benar fokus menyelesaikan buku tersebut.

Tunggu dulu, tidak hanya kover. Kami juga akan membuatkan template layout buku Anda apabila Anda bisa menyelesaikan halaman prelims (pendahulu) dan satu bab awal dalam rentang kursus dua hari. Prototipe buku Anda pun sudah terlihat.

Ajaib! Nggak juga, ini bisa dilakukan karena akselerasi, buah dari pengalaman saya selama dua puluh tahun berkecimpung dalam bidang penerbitan buku dan menulis 150+ judul buku serta membantu banyak lembaga ternama untuk menghasilkan buku, seperti KPK, Pusdiklat Kemenhut, Pusdiklat Kemenkes, PT Badak NGL, Binus Media & Publishing, Radiks, dan perseorangan.

Gimana Anda masih menimbang-nimbang? Anda mau melewatkan kesempatan untuk MENULIS BUKU lagi? Jangan lihat investasinya karena semua akan terganti berkali-kali lipat jika buku Anda sudah jadi. Bagaimana bisa jadi? Karena Anda terus akan mendapatkan pendampingan, bahkan bantuan penerbitannya.

Gimana?

PubTrainingTrimuviSept2014

Akhir Pekan Belajar Nulis Buku

Belum punya jadwal akhir pekan minggu pertama September 2014? Namun, ini yang lebih penting. Punya obsesi menulis dan menerbitkan buku karya Anda tahun 2014 ini? Kursus di Cimahi (Bandung) ini dapat menjadi pilihan Anda.

KURSUS MENULIS BUKU (NONFIKSI POPULER) diselenggarakan untuk angkatan IV di MUVI Learning Center. Saya (Bambang Trim) akan menjadi trainer/tutor utama kursus ini dibantu Tasaro GK untuk menguatkan unsur berkisah dalam tulisan Anda. Salah satu kelebihan kursus ini bahwa Anda akan dipacu untuk mampu melahirkan sebuah konsep buku lengkap dengan outline. Berdasarkan konsep itu, kover buku Anda pun akan langsung disiapkan oleh desainer kami.

Anda pulang sudah membawa konsep, draf naskah, dan kover buku. Silakan pajang kover buku itu untuk terus mengingatkan Anda agar menyelesaikan naskah sampai tuntas. Jika sudah tuntas, silakan dikonsultasikan lagi kepada Bambang Trim untuk strategi penerbitannya.

Oke, kami tunggu pendaftaran Anda segera.

TrainingMUVI2014

 

 

 

Dasar Pembagian Bentuk dan Ragam Tulisan

Bentuk tulisan berikut ini mungkin akrab dalam ingatan Anda, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi. Ada yang menikmati dan bersemangat dengan materi pembelajaran mengarang ini di sekolah dasar. Namun, tidak sedikit pula yang dibuat pusing dengan pembagian bentuk ini.

Tulisan ini tidak hendak memaparkan tentang pembelajaran mengarang dari keempat bentuk tulisan tersebut. Namun, bagi mereka yang berkiprah di dunia tulis-menulis atau karang-mengarang, pentinglah untuk mengetahui dasar pembagian bentuk serta ragam tulisan/karangan.

Mengutip The Liang Gie dalam bukunya Terampil Mengarang (Penerbit Andi, 2002) pembagian bentuk tadi disebut sebagai klasifikasi pertama atau klasifikasi induk. Sebagai induk maka wajar jika kita dikenalkan pada jenis tulisan/karangan tersebut kali pertama belajar di SD. Kita tidak dikenalkan pembagian secara jenis, seperti fiksi, nonfiksi, dan faksi.

Klasifikasi kedua atau klasifikasi turunan memaparkan hierarki berikut ini:

RAGAM

JENIS

RANAH/LARAS

MACAM

Klasifikasi kedua didasarkan pada tujuan dan isi (konten) bahan tulisan tersebut. Tujuan orang mengarang pada dasarnya dibagi dua, yaitu

  1. memberi informasi, memberitahukan sesuatu;
  2. memberi hiburan, menggerakkan hati.

Dari tujuan memberi informasi maka tersurat adanya data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan si penulis/pengarang. Karena itu, tulisan/karangan jenis ini disebut tulisan/karangan faktawi.

Sebaliknya, tujuan tulisan/karangan untuk memberi hiburan lazimnya didasarkan dari hasil imajinasi, fantasi, dan khayalan si penulis/pengarang. Karena itu, tulisan/karangan jenis ini disebut tulisan/karangan khayali (The Liang Gie, 2002: 26).

The Liang Gie menyebutkan istilah yang digunakan John Riebel dalam bukunya How to Write Reports, Papers, Theses, Articles terbitan 1978, untuk kedua ragam tulisan/karangan tersebut yaitu factual writing dan imaginative writing. Jadi, ragam tulisan/karangan dapat dibagi ke dalam dua tulisan/karangan besar.

RAGAM TULISAN_Page_1Selanjutnya, karangan faktawi dapat dipecah lagi berdasarkan pembaca sasaran yang dituju yaitu karangan ilmiah dan karangan informatif. Karangan ilmiah ditujukan untuk kalangan pembaca yang termasuk pakar/ahli atau berpendidikan tinggi, sedangkan karagan informatif lebih ditujukan pada masyarakat secara umum.

Saya kemudian mencoba memodifikasi lagi hierarki ragam tulisan seperti berikut ini:

RAGAM TULISAN_Page_2

Untuk tulisan/karangan faktawi, saya menggunakan istilah umum saat ini yaitu nonfiksi. Untuk tulisan/karangan khayali, saya menggunakan istilah fiksi yang pada dasarnya sama dengan genre dalam karya sastra. Selanjutnya, ada satu genre yang saya masukkan sebagai faksi yaitu gabungan antara fakta dan fiksi dengan contoh biografi, autobiografi, dan memoar.

Di samping pembagian yang didasarkan pada tujuan dan isi tulisan/karangan, ada pembagian yang didasarkan pada sifat publikasi seperti berikut ini.

Sifat Tulisan Deskripsi dan Contoh
Tulisan/Karangan Pribadi Tertutup Tulisan bersifat pribadi atau antara dua orang yang memiliki hubungan khusus hingga cenderung dirahasiakan, seperti surat wasiat, surat cinta, surat rahasia.
Tulisan/Karangan Pribadi Terbuka Tulisan bersifat pribadi yang cenderung sengaja atau dibiarka dibaca oleh orang banyak, seperti pembaruan status di media sosial, surat terbuka, iklan permohonan maaf.
Tulisan/Karangan Publik Terbatas Tulisan bersifat umum untuk kalangan terbatas di suatu lingkungan (perusahaan, lembaga pemerintah, dan komunitas), seperti surat keputusan, proposal, teks pidato.
Tulisan/Karangan Publik Tidak Terbatas Tulisan bersifat umum untuk kalangan tidak terbatas dan sengaja dibuat agar dibaca sebanyak mungkin orang, seperti artikel media, berita media, iklan produk.

 

Nah, itulah dasar-dasar pembagian bentuk dan ragam tulisan/karangan sehingga kemudian muncul berbagai macam karangan/tulisan dengan ciri-ciri tertentunya. Para penulis yang mengambil jalan writerpreneur ada yang memilih spesialisasi berada pada satu jenis tulisan/karangan atau ada yang memilih jalur generalis dengan berada di tiga jenis tulisan/karangan sekaligus (fiksi, nonfiksi, dan faksi).

Berkiprah di Banyak Ranah

Lalu, apakah mungkin seseorang dapat menguasai berbagai jenis tulisan atau ranah/laras tulisan? Pada dasarnya menulis adalah keterampilan hidup yang dapat dikuasai siapa pun. Otak dan kemampuan manusia sangatlah mampu untuk mengenali dan mempraktikkan begitu banyak macam tulisan. Sebagai contoh: apakah Anda bisa membedakan berita dan feature? Apakah Anda bisa membedakan artikel dan esai?

Pembeda-pembeda itu dapat dikenali dari segi konten (isi) dan juga cara penyajian tulisan. Beberapa tulisan seperti dalam ranah jurnalistik dianalogikan ke dalam beberapa bentuk, seperti berita sama dengan segitiga terbalik dan artikel sama dengan jam pasir.

Saya sendiri yang termasuk berkiprah di banyak ranah. Dalam studi S1 di Sastra Indonesia, Unpad, saya mempelajari porsi lebih besar untuk publishing science. Namun, saat menyusun skripsi, saya memilih jalur penelitian sastra anak. Hal ini menarik minat saya untuk mempelajari menulis untuk anak. Alhasil, karena membuat skripsi yang mengandung kritik terhadap penyajian novel anak, saya pun berusaha membuat buku anak yang memenuhi kriteria layak baca untuk anak.

Pada Lomba Penulisan Cerita Keagamaan (Depag RI, 2000) yang ditujukan untuk tingkat pembaca SD, karya saya Pesta Sayuran mendapatkan penghargaan juara I. Juri lomba di antaranya Ibu Titi Said (alm.) yang salah satu karya novel anaknya termasuk karya yang saya kaji di dalam skripsi dan saya kritik (tanpa beliau tahu tentunya). Skripsi saya sendiri kemudian mendapat bantuan Program Pustaka I Ford Foundation dan Adikarya Ikapi untuk diterbitkan menjadi buku.

Tulisan untuk anak, saya ketahui kemudian termasuk ranah tersendiri dengan pembagian jenis yang sama, yaitu fiksi anak, nonfiksi anak, dan faksi anak. Pembeda yang jelas antara karya untuk anak dan karya untuk orang dewasa adalah dari segi penyajian bahasa, kadar isi (konten), dan adanya beberapa “pantangan” yang perlu diperhatikan seperti sifat menggurui.

***

Silakan mencermati dasar pembagian bentuk dan ragam tulisan/karangan agar Anda semakin paham beradaptasi untuk menjadi penulis. Pembagian ini tidak selalu sama dengan beberapa pendapat lain. Sebagai contoh soal faksi, mungkin masih ada yang menganggapnya tetap berada pada genre nonfiksi.

Semoga bermanfaat.


©2014 oleh Bambang Trim

Praktisi penulisan-penerbitan yang kini berkonsentrasi pada pengembangan pelatihan dan jasa penerbitan pada ranah penulisan bisnis dan penulisan akademis. Ia telah menulis lebih dari 150 judul berbagai jenis. Lulusan D3 Prodi Editing Unpad dan S1 Sastra Unpad ini juga pernah mengajar di almamaternya dan juga di Jurusan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta dan Politeknik Negeri Media Kreatif.

Follow: @bambangtrim | Fanpage FB: Jejaring Bambang Trim | WA 081519400129

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.703 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: