Seberapa Besar Modal Writerpreneur

Tulisan ini menjadi tulisan lanjutan dari status saya di fanpage Jejaring Bambang Trim tentang writerpreneur.

Seseorang yang memutuskan menjadi writerpreneur, pengusaha di bidang penulisan, tentu akan sampai pada seberapa besar modal yang diperlukan untuk itu. Saya pernah juga membahas soal ini dan kaitannya dengan peralatan yang kita perlukan.

Namun, menjadi seorang writerpreneur tidaklah memerlukan modal sebesar menjadi penerbit, apalagi pencetak. Modal utama seorang writepreneur adalah keterampilan atau skill dirinya sendiri. Skill berhubungan dengan kecepatan dan kemampuan mengembangkan ide-ide penulisan.

Lalu, bagaimana dengan alat kerja yang kita perlukan. Terus terang modal kerja terbanyak yang saya habiskan adalah untuk buku atau referensi karena makin banyak referensi berada dalam jangkauan saya, makin cepat saya untuk menulis.

Saya memiliki satu kemampuan anugerah Yang Mahakuasa. Keterampilan itu saya sebut interconnecting–kemampuan menghubungkan keperluan informasi dengan referensi yang tersedia. Karena hampir semua buku saya baca dan saya kenali, saya dapat dengan mudah mencari sebuah sumber berdasarkan ingatan (koneksi) dari koleksi yang saya miliki.

Sebenarnya ini bukan keajaiban, hanya kemampuan mengingat saja saking dunia teks itu sudah mengalir di dalam diri saya. Saya kadang membeli buku bukan untuk “dibaca”, melainkan untuk dijadikan referensi dan dikaji. Ya misalnya, ada buku yang begitu laku, lalu saya beli. Saya bukan tertarik pada isinya bukunya, tetapi tertarik mengapa buku seperti ini bisa laku. Jadi, yang saya lakukan adalah meriset buku tersebut.

Modal Alat

Baiklah, saya mulai saja dengan modal alat yang paling diperlukan seorang writerpreneur. Anda pasti sudah tahu, itulah PC atau laptop. Saya memiliki keduanya karena kalau di rumah saya lebih nyaman dengan PC dan kalau di luar untuk mobile, saya baru menggunakan laptop.

PC/Laptop. Untuk urusan harga Anda tentu sudah mafhum yaitu dalam kisaran Rp4 juta sampai yang tercanggih seharga belasan juta. PC yang saya pakai sekarang tergolong jadul hanya menggunakan prosesor Intel Core 2 Duo. Ya, karena program umum yang saya gunakan adalah MS-Word. Hanya beberapa buku yang saya kerjakan langsung dengan In-Design dan Photoshop. Jadi, jelas pertama kita perlu Rp4.000.000,00.

Printer. Apakah perlu? Ya, kadang-kadang saya mencetak dokumen untuk melakukan editing mekanik (mechanical editing) jika dokumen tidak terlalu panjang. Printer juga berguna untuk mencetak surat atau proposal. Di rumah yang merangkap kantor, saya punya satu printer Epson A3 fullcolor dan satu printer laser HP ukuran A4. Jika Anda memerlukan, tentu harus merogoh kocek juga dalam kisaran Rp2.000.000,00 s.d. Rp6.000.000,00.

Scanner. Apakah perlu juga? Ya, kadang-kadang perlu jika kita tidak memperoleh materi grafis dari internet, tetapi berupa bahan tercetak. Contoh, kliping koran ataupun foto jadul. Kita bisa melengkapi kemudian dengan harga di bawah Rp1.000.000,00.

Kamera Digital. Apakah perlu? Kalau Anda berminat dalam fotografi dan punya insting fotografer, hasil jepretan Anda bisa sangat berharga untuk nantinya menjadi bahan visual buku atau juga bahan visual promosi. Bolehlah Anda investasikan Rp3.000.000,00 atau lebih untuk alat ini.

Dari semua alat kerja desktop publishing itu tentu yang paling penting dan prioritas adalah PC/laptop. Alat lain bisa Anda cicil melengkapinya dengan mengumpulkan dana dulu dari beberapa order pekerjaan yang bisa Anda dapatkan.

Sudut ruang kerja saya sebagai writerpreneur

Sudut ruang kerja saya sebagai writerpreneur

Modal Operasional

Tentulah ada biaya lain di luar alat yang sangat diperlukan seorang writerpreneur. Untuk konteks kini salah satu yang penting adalah jaringan internet. Saya menggunakan jaringan Speedy Telkomsel dengan biaya bulanan lebih kurang Rp700.000,00.

Biaya listrik bisa juga menjadi komponen yang kita hitung karena komputer dan peralatannya pasti menyala sangat lama saat kita bekerja. Saya sendiri menggunakan daya listrik 2.200 VA karena juga menggunakan beberapa komputer untuk tim dengan biaya bulanan rata-rata Rp400.000,00.

Selain itu, ada biaya yang saya keluarkan untuk wara wiri bertemu dengan calon klien atau klien di luar kota, umumnya di Jakarta. Paling tidak sekali ke Jakarta saya menghabiskan dana lebih kurang Rp400.000,00 terbatas atas 1) biaya mobil travel pp Rp200.000,00; 2) biaya transportasi dalam kota Rp100.000,00; 4) biaya makan Rp100.000,00. Ya, tentu saya akan mendatangi calon klien potensial. Terkadang untuk menghemat biaya, saya menggabungkan pertemuan dalam satu hari antara 2-3 pertemuan.

Hitungan operasional bulanan memang bisa mencapai Rp2 jutaan. Mungkin tampak tinggi, tetapi ini sesuai dengan target pasar yang hendak kita bidik.

Di luar ini ada juga biaya seperti pembuatan web serta juga biaya pendirian perusahaan lengkap dengan legalitas perusahaan yang menjadi biaya-biaya awal dalam kapasitas kita bekerja sebagai seorang profesional.

Modal Dengkul

Mungkin Anda penganut bisnis tanpa modal, tetapi sepengalaman saya hal itu memang sulit dilakukan. Paling tidak yang utama Anda harus punya laptop agar Anda bisa bekerja mobile. Cara paling umum adalah memanfaatkan fasilitas kafe yang menyediakan colokan listrik dan hot spot internet. Alhasil, Anda bisa menghemat biaya operasional dan menggantinya dengan biaya satu cangkir kopi, sebotol air mineral, dan sepiring nasi goreng.

Anda bisa masuk ke zona profesional yang benar-benar memiliki sebuah perusahaan berbadan usaha/hukum dengan menabung hasil jasa yang Anda jual. Ya, Anda paling tidak harus menghasilkan >Rp5 juta per bulan dari menjual jasa menulis dan menyunting plus layout jika Anda bisa melakukannya. Di sini Anda harus berani mematok DP 50% dari total biaya penulisan atau pembayaran di muka 100% jika pekerjaannya di bawah Rp2 jutaan.

***

Itu saja dulu. Pertanyaan bisa Anda ajukan lewat komentar di bawah ini. Anda juga bisa menunggu terbitnya buku saya tentang writerpreneur yaitu A-Z Writerpreneur yang terbit akhir tahun ini.

Salam writerpreneur!

©2014 oleh Bambang Trim

Buku WAR untuk Anda Para Writerpreneur

WAR ~ Writing and Revolution: Menjadi Pemenang dengan Konten dalam Jaringan | Buku terbaru karya Bambang Trim dan Jefferly Helianthusonfri.

Fenomena Pilpres 2014, seliweran informasi di media sosial dalam jaringan (daring/online), serta tumbuhnya geliat para penulis sungguh menjadi ide bahwa kini terjadi revolusi dalam dunia penulisan–jauh dari yang kita bayangkan satu atau dua dekade yang lalu. Bersua dengan Jefferly Helianthusonfri, anak muda yang bergiat dalam internet marketing dan sekarang bersiap kuliah di Univ. Multimedia Nusantara melahirkan ide untuk membukukan fenomena ini.

Jadilah kami berencana berduet berdua menyusun buku yang diberi judul tentatif WAR ini. Kita benar-benar berada dalam kancah “peperangan konten” dan betapa ilmu penulisan serta bisnis penulisan akan menjadi primadona untuk berjaya dalam pencitraan, pendorong perubahan, dan penyebaran pemikiran-pemikiran baru maupun pemikiran usang yang hendak dihidupkan kembali.

Malam ini (18/07) saya sudah mulai mengerjakan draf mengingat saya sudah berjanji untuk mengirimkan draf ini hari Senin kepada Jeff. Duet menulis ini juga akan disajikan secara unik ketika saya dan Jeff akan bergantian memberi komentar tiap subbab bahasan.

Ini bocoran isinya agar Anda bisa memosisikan diri apakah Anda pembaca yang kami tuju.

________________________________

Prakata
Prolog: Dalam Kancah Perang Konten

BAGIAN I: MENGAPA MENULIS ITU PERLU
1. Ketika Semua Orang Bebas Menulis
2. Tulisan Berdaya vs Tulisan Tidak Berdaya
3. Temukan Potensi Anda dalam Menulis

BAGIAN II: MENGAPA PEMASARAN INTERNET ITU PERLU
1. Menuju Melek Internet
2. Mencetak Hits dengan Blog/Situs Anda
3. Satu Juta Pertama dari Akun Anda
4. Temukan Potensi Anda dalam Pemasaran Internet

BAGIAN III: MENGGABUNGKAN DUA KEKUATAN
1. Menulis OK, Internet Tidak OK
2. Internet OK, Menulis Tidak OK
3. Writerpreneur Sebagai Pilihan
4. Mengendalikan Media Sosial dengan Tulisan
5. Menjual Produk Tulisan Secara Daring
6. Menjual Jasa Penulisan Secara Daring

Daftar Pustaka
Glosarium
Indeks
Tentang Penulis

____________________________

Salah satu buku yang mengilhami saya untuk menulis buku ini adalah “DIGITAL WARS” karya Charles Arthur. Ini bukan buku tentang cara menulis, melainkan buku tentang bagaimana memanfaatkan keterampilan menulis untuk berjaya dalam era “perang” media digital.

Terbit awal September 2014.

©2014 oleh Bambang Trim

Lima Kiat Membangun Lumbung Ide

Ide adalah sebuah penemuan, bukan pencarian.

Ya, ide memang sesuatu yang unik ibarat jelangkung: datang tidak diundang, pulang tidak diantar. Ide bisa tiba-tiba datang dan tiba-tiba pula menghilang sehingga membuat kita kerap gelagapan karena lupa mengikatnya.

Beda penulis produktif dan tidak produktif tentu saja tampak dari produksi idenya menjadi tulisan. Begitu pula beda penulis kreatif dan penulis tidak kreatif juga dapat dilihat dari kualitas ide yang dihasilkan. Karena itu, dalam dunia penerbitan ada adagium seperti ini:

Ide baik di tangan penulis yang buruk, tetap akan terlihat baik. Ide buruk di tangan penulis yang baik, tetap akan terlihat buruk.

Contohnya, bisa saja suatu kali kita membaca tulisan seorang penulis favorit, tetapi sangat buruk dalam penyajian idenya. Ya, mungkin dia sudah kehabisan ide-ide bagus.

Ide yang Bertumbuh dan Berkembang

Nah, ide itu ternyata bertumbuh dan berkembang di tangan para penulis kreatif. Jadi, ada IDE UTAMA yang saya sebut sebagai ide konten tulisan–biasa diterjemahkan ke dalam topik serta judul. Lalu, ada IDE TURUNAN yaitu ide penyajian dan pengemasan tulisan. Di sinilah sebuah gaya menjadi teramat penting.

Paling gampang saya contohkan buku lawas best seller karya Robert T. Kiyosaki berjudul Rich Dad Poor Dad. Idenya bukan hal baru yaitu ilmu dan kiat menjadi orang kaya. Namun, penyajian dan pengemasannya yang berbeda karena Kiyosaki menulis buku bisnis seperti sebuah novel yang berkisah tentang ayah kandungnya yang miskin dan ayah angkatnya yang kaya–di luar masalah kebenaran kisah ini yang pernah diperdebatkan.

Lima Kiat Membangun Lumbung Ide

Tentu yang paling penting kita lakukan pertama adalah mengumpulkan sebanyak mungkin IDE UTAMA dan menciptakan lumbung di folder-folder komputer kita. Ada banyak cara untuk menghasilkan ide atau tepatnya bersua dengan ide. Saya hanya menyajikan lima cara.

Banyak Membaca. Tiga hal yang mendorong Anda akan banyak membaca adalah berkunjung ke toko buku, berkunjung ke perpustakaan, dan membeli/meminjam buku untuk dibaca di rumah. Tentu Anda harus membaca sesuatu yang menarik minat Anda, apa pun bidangnya. Lalu, saat membaca, siapkanlah catatan kecil untuk mengikat ide-ide yang berseliweran. Pada prinsipnya memang Anda tidak harus membaca buku untuk bersua ide, sebuah brosur tempat wisata pun bisa memantik ide Anda jika Anda meluangkan waktu untuk membacanya. Atau sebut saja daftar harga sepeda motor keluaran merek tertentu bisa memantik ide Anda untuk menulis tentang sepeda motor. Jadilah tulisan berjudul “Balada Sepeda Motor”. Nah, apakah tulisan itu menjadi cerpen, feature, atau esai, terserah pada Anda.

Banyak Berjalan. Jangan terlalu sering terkungkung di rumah, sekali-sekali atau banyak sekali keluarlah dan kunjungi tempat-tempat yang bisa menstimulus ide Anda. Keluar dari rumah Anda dan pandangilah rumah Anda atau pandangilah rumah-rumah tetangga Anda, adakah hal aneh yang Anda lihat. Jadi, berjalan di sini tidak harus Anda plesiran ke tempat wisata. Berjalan itu bisa ke pasar tradisional, ke mall, ke sekolah anak, ke kantor pos, ke rumah sakit, dan banyak tempat lain yang bisa memantik ide Anda. Sekali lagi, jadikan gadget Anda itu lumbung ide. Tiga hal yang bisa Anda lakukan dengan gadget Anda adala foto, rekam (suara Anda), atau catat apa yang Anda lihat dan Anda rasakan tentang suatu tempat/suasana.

Banyak Bersilaturahmi. Bertemu banyak orang atau sengaja mengunjungi orang tertentu? Nah, ini salah satu jalan untuk menstimulus ide muncul. Ngobrol dan diskusi itu bisa memantik banyak ide. Kalau saya malah lain, bertemu dengan banyak orang, malah saya yang sering memberi ide ke orang itu, hehehe. Sekali lagi, gunakan senjata mustika “gadget” Anda.

Banyak Mengamati Media. Baca koran, baca berita online, baca majalah, atau baca lintasan tulisan di media sosial, itu juga bisa membuat Anda bersua dengan ide. Jadi, sekali-sekali memang perlu menjadi pengamat dan biarkan ide berseliweran di depan mata Anda untuk segera digarap. Nah, ini rahasia, kerjaan para editor akuisisi. Kerjaan mereka apalagi salah satunya kalau bukan nongkrongi media sosial dan ngintip-ngintip blog/website orang. Mereka lagi mencari penulis yang disebut bertalenta.

Banyak Menulis. Lho kok? Ya benar orang yang makin banyak menulis maka pikirannya akan terstimulus menemukan ide-ide lain. Jadi, ide itu bisa bercabang. Bagi penulis yang tidak biasa, ia malah menjadi bingung ketika bersua banyak ide sehingga tulisannya yang satu tidak selesai-selesai. Mengapa? Karena ia ingin melesakkan beberapa ide ke dalam satu tulisan. Jadinya, pastilah bingung sendiri. Jadi, semakin sering menulis, semakin sering kita bersua ide tidak terduga. Tidak percaya, ya coba aja.

***

Ya, gitu deh lima kiat membangun lumbung ide di folder komputer atau tablet Anda yang sewaktu-waktu dapat Anda eksekusi menjadi tulisan yang bergigi, sekaligus bergizi. Semoga bermanfaat.

©2014 oleh Bambang Trim, Tukang Buku Keliling

Mengubah Isi Blog Menjadi Buku

Ngeblog sudah menjadi tren beberapa tahun lalu, pun membukukan isi blog. Ada nama seperti Raditya Dika yang sukses membukukan isi blognya dan nama-nama lain yang tiba-tiba mencuat dalam jagat perbukuan Indonesia.

Nah, berarti ada editor penerbit yang nongkrongi media sosial dan memantau blog-blog inspiratif? Ya, itulah yang namanya editor akuisisi. Ia harus mampu mengendus para penulis (blogger) yang potensial.

Membukukan tulisan di blog ada dua cara. Pertama, ini yang paling sering dilakukan adalah republishing article or feature yaitu menerbitkan ulang kumpulan tulisan berupa artikel/feature dari dalam blog secara terpilih. Kedua, ini yang jarang dilakukan adalah mengembangkan satu tulisan di blog yang paling menarik dan penting menjadi sebuah tulisan panjang berbentuk buku.

Freelance-Writing-Jobs

Blog Berkarakter

Tentu tidak sembarang para editor memilih blogger yang pantas untuk diterbitkan karyanya menjadi buku. Blogger yang diincar adalah mereka yang punya “gaya” dalam menulis dan isi blognya konsisten pada satu tema besar atau topik dengan materi yang terjaga.

Boleh jadi memang blog sebagai opini blogger isinya gado-gado, contohnya tulisan tentang pilpres, tulisan tentang perjalanan, dan tulisan tentang resep masakan. Di sinilah nanti peran editor memilah-milah tulisan yang beratmosfer sama.

Ada pendekatan-pendekatan yang dilakukan. Pertama, menghimpun tulisan sejenis untuk menonjolkan tema/topik tulisan, contohnya tentang humor kehidupan atau refleksi yang penting. Kedua, menghimpun tulisan dengan menonjolkan penulisnya sendiri.

Jadi, ukuran pertama adalah  menemukan blog yang sangat berkarakter mulai keunikan nama blognya (seperti blog ini :) ), kiprah bloggernya, hingga opini-opini yang disampaikan di dalam tulisan blog tersebut. Di sinilah seorang blogger juga harus memiliki perencanaan ketika mengadakan sebuah blog agar ia seperti mencicil tulisan untuk kelak menjadi buku yang lebih awet dibaca.

Kumpulan Tulisan

Kata “mencicil” memang berhubungan dengan jenis buku yang lebih merupakan kumpulan tulisan sang blogger. Tulisan dalam ranah jurnalistik seperti blog bermacam bentuknya, ada artikel, reportase, feature, esai, atau puisi dan cerpen. Anda yang pernah mengenyam pendidikan jurnalistik tentu paham beda antartulisan tersebut.

Editor yang piawai juga akan memilah jenis tulisan tersebut. Blogger paling sering menulis esai sebagai bentuk tulisan opini yang sangat subjektif, kadang menjurus sebagai tulisan refleksi kehidupan. Selanjutnya, blogger juga banyak menulis feature yaitu fakta yang mengandung rasa kemanusiaan (human interest)–kategori ini termasuk sulit kalau sang blogger tidak terbiasa menulis, termasuk feature perjalanan (travelling).

Jadi, sebagai buku kumpulan tulisan, sebenarnya seorang blogger sudah dapat merencanakannya dengan cara “mencicil” tulisan dengan ruh yang sama. Jika ia senang ngocol dengan memandang hidup sebagai kumpulan humor, ia pun akan konsisten menulis seperti itu. Jika ia mampu menggambarkan sebuah tempat dengan cara berbeda, ia pun akan menjadi penulis perjalanan (travel writer) yang pantas untuk diangkat.

Menyadur Tulisan

Apakah sebuah tulisan pendek seperti artikel, esai, atau feature bisa dikembangkan menjadi buku? Jawabnya bisa. Itulah yang disebut “menyadur” atau konversi tulisan dari ide kecil menjadi ide besar. Namun, memang teknik yang satu ini agak sulit bagi para penulis yang belum terbiasa.

Nah, isi blog itu dari ratusan tulisan tentu ada yang bisa dikembangkan menjadi sebuah buku. Tidak perlu repot berpikir buku itu harus tebal. Ambil saja terminologi Unesco bahwa buku adalah kumpulan tulisan berjilid dan berkover yang terdiri atas minimal 49 halaman. Artinya, Anda dapat menyusun buku setebal 56 atau 64 halaman (kelipatan 8).

Menyadur tulisan pendek menjadi panjang tentu membuat Anda harus menerapkan pola outline tahapan yaitu membagi tulisan atas bab-bab yang saling berhubungan, runtut, dan tuntas. Di sini memang letak kesulitannya. Namun, jika Anda sudah terbiasa, tentu bisa begitu banyak buku yang dapat Anda hasilkan.

Bukan Gado-Gado

Ada juga upaya blogger membukukan tulisannya dengan konsep “gado-gado”. Itu istilah saya untuk menyebutkan isi buku dari kumpulan blog dengan bermacam tulisan: ada puisi, ada cerpen, ada artikel, ada esai, ada feature–pokoknya lengkap. Itu sama saja memindahkan isi blog “gado-gado” secara mentah menjadi buku sebagai jalan pintas.

Apa yang perlu dipikirkan adalah keterbacaan buku itu dan tingkat penerimaan pembaca sasarannya. Pembaca tidak akan mendapatkan satu pesan atau amanat karena disodori bermacam tulisan yang tidak jelas benang merahnya. Jadi, perlu dipahami buku adalah sebuah produk pemikiran yang memiliki alur dan benang merah. Begitu diramu secara “gado-gado” bukannya bisa dinikmati, malah menimbulkan kebingungan baru.

***

Jadi, blog itu adalah salah satu peluang bagi Anda menjadi penulis buku. Cobalah dua hal tadi yaitu menerbitkan buku kumpulan tulisan dan kedua mengembangkan satu tulisan menjadi buku utuh. Anda pasti bisa dan harus bisa–jangan mau jadi blogger seumur hidup tanpa jadi penulis buku.

Salam buku!

©2014 oleh Bambang Trim, Tukang Buku Keliling

Buku Religi Masih Bergigi

Dalam laporan penjualan TB Gramedia 2013 disebutkan bahwa buku religi menempati posisi kedua setelah buku anak. Total penjualan buku religi 3,7 juta eksemplar dengan kontribusi 2.843 judul buku. Tentulah buku religi yang dimaksud adalah dominan buku Islam.

Buku religi (Islam) memang masih bergigi merajai berbagai penjualan buku, terutama pada saat-saat bulan Ramadan seperti ini. Kebangkitan kreativitas dan tema buku Islam memang terus bertahan sejak dimulai pada tahun 1980-an dengan kemunculan Mizan dan Gema Insani Press sebagai penerbit buku progresif pada awal kemunculannya.

Saya sempat membahas bahwa tema buku religi Islam memang tidak akan pernah kering karena Islam sendiri menyediakan mata air tema yang luar biasa untuk diturunkan menjadi sebuah wacana dalam buku. Coba lihat saja buku anak Islam yang kini mengusung tema beragam. Jadi, jika buku anak menempati posisi nomor satu dalam penjualan di TB Gramedia yaitu 10,9 juta dengan 4.701 judul di antaranya tentu termasuk buku anak Islam.

Kasus epigon juga terlihat pada buku-buku religi yang sukses. Contoh yang terhangat adalah buku tentang anak-anak dan orangtua penghafal al-Quran yang pada awal tahun 2012 dimulai pada penerbitan buku karya Salafuddin AS berjudul Balita Pun Hafal Quran yang diterbitkan Tinta Medina. Saya ikut membidani buku ini dan selepas saya keluar dari Grup Tiga Serangkai, buku ini pun terbit dan mendapat respons luar biasa dari para pembaca. Penulisnya pun mendapatkan undangan bedah buku di mana-mana. Ternyata tema tentang para penghafal Quran ini juga menarik minat banyak kaum Muslim.

Balita_cover depan

Tahun-tahun ke depan tentu buku religi masih akan memberikan kejutan, terutama dari tema seputar ibadah, muamalah, sirah (sejarah), dan juga tema-tema kontemporer seperti parenting Islami, pendidikan Islami, dan pengembangan diri. Para penulis buku religi pun akan banyak ke depan yang unjuk gigi tentu dengan ilmu dan pengalaman religius yang dimilikinya. Memang salah satu faktor yang menyebabkan belum banyak para penulis (baca: da’i) baru muncul dengan kekuatan penanya disebabkan oleh kelemahan dalam dakwah menggunakan kalam itu sendiri.

Satu hal lagi tentu yang diperlukan adalah kreativitas dalam menggarap tema-tema yang sudah sering dibukukan. Ustad Aid al-Qarni (penulis buku La Tahzan) pernah berpesan dalam bukunya bahwa sebaiknya para penulis Islam tidak menulis buku yang sudah ditulis oleh orang lain. Namun, untuk memunculkan orisinalitas gagasan penulisan buku religi memang tidak mudah meskipun Islam menyediakan mata air gagasan yang luar biasa deras. Alhasil, yang diperlukan sekali lagi adalah kreativitas penggarapan tema lama menjadi terasa baru atau lebih mudah untuk dipahami pembaca.[]

 

Kehilangan “Pak Haji” di Ujung Syakban

Pesan BBM dari seorang teman mengejutkan saya. ‘Pak Haji meninggal’. Segera saya menghubungi beberapa teman lagi untuk mencari tahu kabar sejatinya. Betullah H. Syaifullah Sirin yang begitu mewarnai perjalanan karier saya di dunia buku sudah dipanggil ke Rahmatullah beberapa hari sebelum Ramadan, tepatnya tanggal 25 Juni 2014. Pak Haji begitu beliau akrab dipanggil meninggalkan sanak keluarga dan handai tolannya di ujung Syakban.’

H. Syaifullah Sirin adalah adik ipar dari tokoh perbukuan nasional H. Rozali Usman, pendiri penerbit dan percetakan Rosdakarya. H. Rozali sendiri telah wafat lebih dulu pada akhir 2013. Ketika ada upaya untuk membukukan jejak kisah H. Rozali, saya pun diundang H. Syaifullah Sirin (Pak Haji) ke rumahnya untuk membantu beliau membuat tulisan kenangan tentang H. Rozali Usman.

Dari kisah beliau tentang H. Rozali Usman, sedikit banyak saya tahu kisah hidup Pak Haji semasa kecil dan remaja. Ia tumbuh sebagai aktivis pemuda dan lalu juga pekerja hebat seperti kakak iparnya. Ia mendapatkan didikan keras dari kakak iparnya dan dari beliaulah Pak Haji belajar banyak tentang bisnis penerbitan serta percetakan.

Pak Haji kemudian mendirikan perusahaan sendiri untuk mandiri bernama Karya Kita. Perusahaan ini bergerak utama dalam bidang percetakan, lalu meluaskan kiprahnya juga di bidang penerbitan. Karya Kita melahirkan perusahaan besar PT Grafindo Media Pratama yang melahirkan buku-buku pelajaran dan pada masa akhir 1990-an mampu menggoyang dominasi penerbit besar seperti Erlangga, Yudhistira, dan Ganeca Exact.

H. Syaifullah Sirin, hasil jepretan saya di Frankfurt 2003.

H. Syaifullah Sirin, hasil jepretan saya di Frankfurt 2003.

Orang mungkin tidak banyak tahu bahwa Pak Haji juga tokoh di balik lahirnya tabloid Islam Salam yang pernah sangat fenomenal. Nama Salam terus terbawa sebagai merek penerbit dengan didirikannya Salam Prima Media sebagai penerbit buku anak Islam serta Pustaka Madani dan Zaman yang kala itu digawangi Mas Taufan Hidayat (pemilik penerbit Nuansa Cendekia sekarang). Tahun 2008, ketiga merek itu disatukan menjadi PT Salamadani Pustaka Semesta dan saya pun ikut membidani kelahirannya.

 

Pak Haji di antara para pejabat dalam peresmian Gontor Sumbar di Sulit Air, 2009.

Pak Haji di antara para pejabat dalam peresmian Gontor Sumbar di Sulit Air, 2009.

Ya, saya mulai berinteraksi dengan beliau saat ikut masuk menjadi staf editor di Salam Prima Media tahun 1997. Karier saya di grup Karya Kita ini merambat cepat hingga kemudian menduduki posisi puncak di penerbitan. Saya termasuk yang menjadi orang kepercayaan Pak Haji dalam soal penulisan-penerbitan. Pak Haji selalu memercayakan penulisan pidato, sambutan, surat, atau pemikiran beliau lewat tulisan kepada saya. Bahkan, sampai di ujung hayatnya, saya masih membantu beliau untuk menuliskan kata-kata kenangan untuk almarhum H. Rozali Usman.

IMG_2289

Kenangan H. Syaifullah Sirin dan keluarga bersama Ustad Yusuf Mansur sambil memegang Salam Quran.

 

Sejak 1997 saya bergabung di perusahaan Pak Haji hingga pertengahan 2010, saya sudah tiga kali keluar masuk dan sempat lama di MQ Corp milik Aa Gym dari 2003 sampai dengan 2008. Kembalinya saya selalu terkait dengan permintaan Pak Haji untuk membantu kembali di perusahaannya. Terakhir, itu terjadi pada tahun 2008 sehingga saya turut membidani lahirnya penerbit Salamadani yang sempat berjaya dengan buku Api Sejarah karya Prof. Ahmad Mansur, Salam Quran, dan buku-buku karya Yusuf Mansur.  Salamadani bahkan pada kemunculannya juga menggagas tempat wisata buku bernama Salam Book House.

IMG_3661

Pembangunan awal Salam Book House yang didukung penuh Pak Haji.

Salam Book House hingga kepergian Pak Haji tetap dipertahankan oleh beliau. Di sana masih terdapat buku-buku yang dijual, termasuk saksi bisu kejayaan yang pernah menghampiri Salamadani meski hanya tiga tahunan.

Kenangan saat Salam Quran diluncurkan secara sederhana di Masjid Darussalam, Bandung.

Kenangan saat Salam Quran diluncurkan secara sederhana di Masjid Darussalam, Bandung.

Pak Inu Kencana sedang menjelaskan naskahnya kepada Pak Haji.

Pak Inu Kencana sedang menjelaskan naskahnya kepada Pak Haji.

Kepergian Pak Haji jelas begitu terasa mendadak tanpa tanda-tanda. Dua minggu sebelum wafat, beliau masih SMS saya untuk menanyakan perkembangan pengeditan biografi H. Anif (tokoh Sumut) yang dipercayakannya kepada saya. Sayang saya tidak menelepon beliau, tetapi hanya membalas dengan SMS juga. Saya tidak sempat mendengar kata-kata terakhirnya, kecuali pertemuan pada akhir Mei sepulang saya dari Banjarmasin. Itulah kali terakhir bertemu beliau dan berbincang lama tentang buku.

Selamat jalan Pak Haji. Dunia buku kembali kehilangan tokoh terbaiknya. Semoga amal ibadah yang Pak Haji tanamkan dan semangat kebajikan yang ditebarkan menjadi timbangan amal yang berat di sisi Allah. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihii wa’fu’anhu.

Kursus Online Menulis Buku Nonfiksi Populer

Dapatkan kesempatan pertama menjadi peserta kursus online penulisan buku nonfiksi populer bulan Juli 2014 bersama Bambang Trim. Anda akan dipandu secara daring (online) untuk memulai langkah taktis menulis buku.

Jarak dan waktu sering menjadi kendala bagi Anda untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang suatu bidang. Salah satu bidang langka itu adalah penulisan buku nonfiksi populer. Karena itu, dalam kesempatan bulan Juli yang bertepatan dengan Ramadan, saya bermaksud berbagi pengalaman dan pengetahuan penulisan buku nonfiksi populer lewat daring (online) dengan memanfaatkan grup Facebook tertutup.

Daftarkan diri Anda segera via email bambangtrim72@gmail.com atau via Whatsapp 081519400129.

OnlineKursus

 

Keunggulan Kursus:

  1. Tiap peserta akan mendapatkan bahan softcopy dalam bentuk PDF sebanyak tiga modul. Satu modul akan dibahas pada setiap sesi daring selama kurang lebih dua jam.
  2. Tiap peserta juga akan mendapatkan bahan praktik langsung dalam format MS-Word dan dikirimkan ke tutor sebagai tugas.
  3. Peserta akan mendapatkan modul maksimal tiga hari sebelum sesi kursus dimulai agar dapat mempelajari dan mempersiapkan pertanyaan langsung.
  4. Di dalam grup Facebook (kategori rahasia) ini juga akan diunggah video tutorial dan materi-materi lain yang relevan.
  5. Peserta akan mendapatkan free eBook Menulis Buku untuk Orang Awam senilai Rp50.000,00.
  6. Peserta dapat memanfaatkan terus grup Facebook untuk berkonsultasi dengan tutor.
  7. Peserta akan mendapatkan sertifikat resmi dari DetiKata Writing Course yang dikelola Bambang Trim.
  8. Diskon 15% untuk peserta yang menggunakan jasa DetiKata dalam penerbitan buku untuk pekerjaan editorial (editing-layout-desain kover).

Menimbang Print on Demand

Jika Anda membayangkan bisa mencetak buku semudah atau secepat fotokopi, lalu mendapatkan hasil seperti cetak offset, print on demand (POD) adalah jawabannya. Meskipun sudah berumur lebih dari satu dekade, teknologi ini masih juga belum populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Saya harus menuliskan kembali tentang POD ini atau sering saya sebut pencetakan manasuka agar dapat memberi jawaban pada setiap pertanyaan yang dilontarkan kepada saya.  Kali pertama saya mengetahui POD ini ketika dibahas dalam sebuah seminar sekitar tahun 1998 yang diselenggarakan rekan dari Politeknik Negeri Jakarta Jurusan Penerbitan yang waktu itu masih bergabung dengan Pusat Grafika Indonesia (Pusgrafin).

POD adalah revolusi cetak setelah digital printing yang membuat aktivitas mencetak dokumen seperti buku hampir sama dengan menggunakan printer rumahan/kantoran atau juga sama dengan fotokopi. Keunggulannya biaya sangat efisien.

print-on-demand-wikipedia1

Jadi, POD tidaklah sama dengan digital printing yang lebih populer dan menjamur di Indonesia, terutama untuk mencetak poster ataupun bahan-bahan promosi. POD lebih dikhususkan untuk mencetak dokumen-dokumen pada pasar akademis, seperti buku, prosiding, makalah seminar, dan laporan penelitian.

Mengapa POD? POD jelas menjadi solusi untuk mereka yang hanya memerlukan oplag cetak kecil antara 1 s.d. 200 eksemplar. Biaya cetak 1 eksemplar sama dengan biaya cetak 100 eksemplar per satuannya. Jadi, model cetak ini sangat membantu akademisi untuk mencetak buku atau dokumen sesuai dengan kebutuhan, contohnya jika mereka harus memenuhi syarat cetak sebuah buku versi Unesco yaitu 50 eksemplar. Bandingkan dengan cetak offset yang terkena minimal cetak atau skala ekonomis 1.000 eksemplar. Peluang inilah yang kemudian dilihat para pengembang teknologi cetak manasuka ini, terutama adanya pasar akademis yang hanya memerlukan cetak jumlah terbatas secara berkualitas dan cepat. Selain itu, POD juga solusi untuk pencetakan buku-buku back list atau buku-buku yang sudah tidak diterbitkan lagi, sedangkan permintaan masih ada dalam hitungan puluhan hingga seratus eksemplar. Dalam format layanan masa depan, konon TB Gramedia juga akan menyediakan jasa ini untuk mencetakkan buku-buku lama yang hendak Anda beli. Jadi, pesan satu eksemplar, tetap akan dilayani cetaknya.

Benarkah cetaknya sekualitas offset? Sepanjang pengalaman saya, hasil cetak POD memang sekualitas offset meskipun terkadang pada penggunaan raster tidak sebaik offset. Untuk itu, hindarkan layout buku atau dokumen menggunakan raster dengan ketebalan kurang dari 30% atau sebaiknya Anda tidak menggunakan raster. Secara keseluruhan hasil cetakan sangat baik seperti hasil printer laser dan pencetakan kover buku juga sangat baik dengan laminating dop ataupun laminating glossy yang sama dengan cetak offset. Buku Writerpreneur ini dicetak dengan POD.

Cover 5W1H kecil

Beberapa percetakan kecil yang biasa menggunakan mesin cetak Toko ataupun mesin cetak offset skala kecil dan menengah mulai mengalihkan investasinya ke mesin POD ini. Ya, jika saja saya masih berada di MQS Publishing, tentu saya juga sangat berminat mengganti mesin offset di MQ Printing menjadi POD ini.

Berapa biaya POD? Jika Anda telusuri situs-situs penyedia jasa POD (umumnya berpusat di Jakarta, Bandung, dan kota di Jawa Tengah), ada yang menyebutkan angka nyata yaitu per halaman A5 sebesar Rp85 (sangat bergantung pada pergerakan harga kertas) dengan menggunakan kertas book paper atau HVS (biasanya HVS lebih mahal). Jadi, jika Anda mencetak buku dengan 64 halaman, harganya adalah Rp5.440 (Rp85/hlm.) ditambah cetak kover (Art Paper 230 gr.) sebesar Rp12.000. Jadi, harga cetak riilnya Rp17.440,00. Anda tinggal menghitung bujet, untuk cetak 100 eksemplar berarti harus mengeluarkan dana Rp1.744.000,00. Harga cetak untuk ukuran B5 dan A4 tentu berbeda dan lebih mahal sedikit.

Promosi Print Co Bandung

Promosi Print Co Bandung

Berapa lama waktu cetak POD? Cetak POD pada dasarnya relatif lebih cepat karena teknologi in-line printing yaitu dari file komputer (PDF) langsung cetak dan langsung terjilid. Namun, tetap hitungan waktu ini sangat bergantung pada penuh tidaknya pencetak melayani pelanggan. Jadi, cetak hanya 50 eksemplar relatif bisa dilakukan dalam satu hari. Saya telah membuktikan beberapa pekerjaan mendadak yang dapat dikerjakan dalam satu hari untuk hitungan 50 s.d. 100 eksemplar.

Bagaimana mesin cetak POD? Mesin cetak POD adalah khusus dan berbeda dengan mesin digital printing atau mesin cetak offset. Merek populer salah satunya adalah keluar HP yaitu HP Indigo. Harga mesin ini sekitar Rp3 miliar. Jadi, cukup mahal jika Anda ingin berinvestasi. Namun, tentu menjadi peluang jika Anda bisa menarik kebutuhan kampus ataupun pemerintahan menggunakan sarana ini. Beberapa pencetak yang memiliki mesin POD ini yaitu Gramedia Printing dan Kanisius (Jogja). Selain itu, ada pula university press yang memilikinya, seperti IPB Press dan Polimedia Jakarta.

HP Indigo 7000

HP Indigo 7000

Apakah bisa cetak berwarna? Mesin POD dapat mengakomodasi pencetakan berwarna meskipun ada mesin yang hanya bisa mencetak hitam putih. Tentu harga cetak berwarna jauh lebih mahal daripada harga cetak hitam putih.

Bagaimana sistem pembayaran jasanya? Karena model cetak terbatas dengan oplag kecil, biasanya pemilik jasa atau pencetak memberlakukan sistem pembayaran di muka. Jadi, tidak seperti pencetak offset ketika pelanggan dapat membayar uang muka lebih dulu.

Apakah POD cocok untuk self-publisher? POD cocok untuk self-publisher yang menerbitkan buku sendiri. Namun, perlu diingat bahwa harga satuan eksemplar POD bisa 3-4 kali lipat lebih besar dari satuan cetak offset. Jadi, Anda hanya bisa menggunakan perhitungan maksimal 2 kali harga pokok produksi (hpp) untuk harga jual eceran buku Anda. Contoh, pada perhitungan sebelumnya dengan harga cetak Rp17.440,00, tentu Anda hanya bisa menjual buku setebal 64 hlm. seharga Rp36.000,00. Kecuali buku Anda benar-benar untuk pasar captive (terbatas), Anda bisa menjualnya sedikit di atas rata-rata harga pasar, contohnya 3 x hpp. Dari perhitungan ini maka self-publisher yang menggunakan POD hanya efektif menjual bukunya secara langsung ke pelanggan (direct selling) dan tidak menggunakan unsur diskon. Anda tidak mungkin mencetak POD, lalu menjualnya di toko buku yang meminta diskon 35%-40%, laba Anda akan tergerus habis.

Di mana saya dapat menemukan jasa POD? Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Anda dapat menemukan jasa POD di beberapa pencetak, seperti Gramedia (Jakarta), Kanisius (Jogja), IPB Press (Bogor), dan Polimedia (Depok). Di Bandung ada Print Co dan di daerah Depok pada sepanjang jalan Margonda juga terdapat percetakan yang menawarkan jasa ini.

Bagaimana saya bisa mengorder cetak POD? Anda hanya perlu menyiapkan file PDF naskah yang akan dicetak dengan pilihan kualitas cetak. Pastikan file Anda adalah file terakhir dengan penataletakan yang tepat (terutama soal marjin). Mintalah masukan dari kalangan profesional soal tata letak ini. Selanjutnya, Anda tinggal mengorder cetak sesuai dengan oplag/tiras yang Anda inginkan.

Bagaimana saya bisa mendapatkan layanan ini secara terpadu dari editing hingga file siap cetak? Untuk hal ini Anda tinggal hubungi jasa kami di DetiKata Media atau TrimKom 022-6641607. Kami akan membantu Anda menyiapkan file siap cetak menjadi buku atau dokumen secara profesional (editing-layout-desain kover) dan menguruskan pencetakan POD berikut pengirimannya ke kota Anda.

Semoga bermanfaat untuk Anda tentang rahasia POD ini. Selamat berkarya! :)

 

Meluruskan Makna Plagiat

 Dalam sebuah sesi pelatihan, seorang peserta berkisah tentang seniornya yang menyatakan sebuah kutipan karya orang lain haruslah diubah dengan kata-kata sendiri. Jika tidak, kutipan itu tergolong plagiat.

Hal-hal seperti ini memang perlu diluruskan terkait dengan sebutan plagiat. Kata plagiat dipungut dari pengembangan kata bahasa Latin plagiarius yang bermakna penculik (anak), penjiplak (lihat Kamus Latin-Indonesia, K. Prent, dkk. 1969: 647).  Kemudian, dalam bahasa Inggris, dikenal plagiarism yang bermakna plagiat.

Plagiat berarti tindakan mencuri ide atau karya intelektual (termasuk karya tulis) orang lain dan menyatakan pada publik sebagai karya ciptaannya atau miliknya. Jadi, dalam niatnya seorang plagiator memang dengan sengaja membuat sebuah ciptaan orang lain seolah-olah adalah ciptaannya, tentu dengan bermacam kepentingan.

Dari definisi itu sudah jelas gambaran apa itu plagiat dan plagiator. Nah, dari sisi teknis tindakan ada bermacam cara atau modus plagiat seperti yang saya kutip dan ringkas dari paparan R. Masri Sareb Putra dalam bukunya Kiat Menghindari Plagiat (2011: 12).

  1. menjiplak mentah-mentah karya orang lain dan membubuhkan namanya sebagai pencipta;
  2. membayar tulisan hasil karya orang lain,  lalu mengakuinya sebagai karya sendiri;
  3. mencuri gagasan/ide orang lain, lalu memublikasikannya atas nama sendiri;
  4. menggunakan kata-kata yang diucapkan orang lain apa adanya dan memublikasikannya atas nama sendiri;
  5. mengubah tulisan orang lain pada suatu bagian dengan kata-kata sendiri (parafrasa), lalu memublikasikannya atas nama sendiri;
  6. mengopi tulisan orang lain, contoh dari internet, lalu menggunakannya dalam tulisan seolah-olah merupakan tulisan karya sendiri.

Hampir semua lembaga akademis tidak menoleransi tindakan plagiat ini karena jelas-jelas merupakan pelecehan terhadap intelektualitas. Saya kembali mengutip pembagian plagiat yang diungkapkan R. Masri Sareb Putra (2011: 13-14) dalam tabel berikut.

Jenis

Arti dan Modus

Plagiat Langsung (Direct Plagiarism) Pelaku mengopi langsung tulisan sebagian atau keseluruhan dan tidak menunjukkan bagian itu sebagai hasil kutipan atau karya orang lain.Contoh:

  1. Copy-paste tulisan di internet, lalu dibubuhkan namanya sebagai pencipta karya.
  2. Meminjam karya tulis orang lain, baik kepada orang itu atau perpustakaan, lalu menulis ulang sehingga menjadi karya atas namanya.
Plagiat Tidak Jelas (Vague or Incorrect Citation) Pelaku mengutip suatu bagian karya tulis, tetapi tidak jelas menyebutkan di mana awal kutipan dan di mana akhir kutipan.Contoh:

  1. Mengutip sumber hanya sekali sehingga seolah kutipan itu hanya pada bagian yang ditandai, padahal hampir keseluruhan tulisannya adalah hasil kutipan sumber yang sama.
Plagiat Mosaik (Mosaic Plagiarism) Pelaku mengutip suatu bagian karya tulis dengan mengubah menurut kata-katanya sendiri meskipun yang diubah hanya kata-kata tertentu. Dalam hal ini kredit si penulis tidak disebutkan sehingga kutipan itu seperti karya tulisnya sendiri.Contoh:

  1. Tertarik dengan suatu bagian dari tulisan dan ingin mengesankan itu adalah idenya. Agar tidak kentara, beberapa kata pun diganti dan diakui sebagai idenya.

Dengan penjelasan ini maka pendapat bahwa pengutipan karya orang lain harus diubah terlebih dahulu dengan kata-kata sendiri agar tidak terindikasi plagiat adalah tidak benar. Penghindaran plagiat adalah dengan cara memahami teknik mengutip sebuah sumber.

Pengutipan sendiri merupakan hal yang wajar, baik dalam karya ilmiah murni maupun karya ilmiah populer. Pengutipan menegaskan bahwa ide kita sebagai penulis perlu didukung ide orang lain, dibandingkan ide orang lain, atau diselaraskan dengan ide orang lain. Di sinilah kejujuran kita diuji untuk mengakui sesuatu yang memang berasal dari ide orang lain.

Selain kejujuran, terkadang diperlukan etiket mengutip atau menggunakan bahan/sumber tulisan orang lain dengan cara meminta izin, baik secara tertulis maupun secara lisan. Karena itu, dalam beberapa karya tulis asing sering tercantum kata by permission yang berarti mereka mengutip dengan meminta izin alias kulonuwun.

Di sisi lain, dalam buku Asian Copyright Handbook (Indonesian Version) karya Tamotsu Hozumi dijelaskan bahwa sesuai dengan undang-undang hak cipta tiap negara, tidak diperlukan izin jika kita mengutip dari ciptaan orang lain untuk dimasukkan ke dalam ciptaan kita sendiri. Namun, ada  sejumlah syarat tertentu yang menentukan ciri-ciri kutipan dan pengaturan penggunaan kutipan.

Dalam hal ini satu prinsip yang dipegang pada aturan tersebut bahwa hanya ciptaan yang telah diumumkan (dipublikasikan) yang dapat dikutip. Karya yang tidak dipublikasikan pada prinsipnya tidak dapat dikutip. Untuk lebih jelasnya coba perhatikan aturan berikut  dengan pengertian A adalah karya baru dan B adalah ciptaan yang dikutip.

  1. A adalah ciptaan pokok dan kutipan dari B adalah sekunder (hubungan atasan bawahan)
  2. Ada pembedaan yang jelas antara A dengan bagian yang dikutip dari B.
  3. Perlu mengutip dari B untuk membuat A.
  4. Bagian yang dikutip dari B diupayakan sesedikit mungkin.
  5. Bagian yang dikutip dari B persis seperti ditulis dalam ciptaan orisinal.
  6. Sumber B disebutkan dengan jelas.
  7. Kutipan tidak melanggar hak moral pencipta B. (2006: 37-38)

Apa yang dimaksud hak moral adalah hak pencipta disebut sebagai pencipta. Karena itu, nama pencipta berikut karyanya harus disebutkan di dalam kutipan sehingga tidak timbul kesan bahwa karya baru (A) tidak menggunakan karya B.

 

Cara Penggunaan Sumber Lain

Pada praktiknya, penggunaan  sumber/bahan dari ide orang lain ke dalam tulisan kita dapat dilakukan dengan tiga cara. Masri Sareb mengistilahkannya dengan inkorporasi pusparagam. Ya, sumber itu menjadi bagian utuh dari tulisan kita, tetapi tetap ada tanda bahwa itu merupakan kutipan sumber/bahan yang bukan karya kita.

Berikut ini cara inkorporasi sumber.

Kutipan (Quotation) adalah cara paling sering digunakan untuk mengutip/menggunakan sumber lain. Kutipan menggunakan kata-kata yang sama dengan sumber/bahan yang digunakan (bahkan jika terdapat salah ejaaan  sekalipun). Ada berbagai macam cara mengutip yang diperkenalkan atau diperkenankan sebuah acuan gaya selingkung.

Parafrasa (Paraphrase) adalah cara menggunakan sumber dengan menyajikan kembali dengan kata-kata penulis sendiri tanpa mengubah makna sajian. Terkadang cara ini digunakan agar pembaca sasaran lebih paham karena penulis membantu dengan penjelasan lain. Parafrasa (paraphrasis dari bahasa Latin) seperti yang terdapat di http://en.thinkexist.com/dictionary/meaning/paraphrase juga bersinonim dengan reword atau membahasakan kembali suatu gagasan/wacana dengan bahasa sendiri (dalam Masri Sareb Putra, 2011: 37).

Ringkasan (Summary) adalah cara menggunakan sumber dengan meringkasnya menjadi lebih sederhana contohnya satu artikel yang menjadi satu paragraf. Walaupun demikian, penulis tetap menyebutkan sumber ringkasan. Memang cara meringkas ini memerlukan keterampilan sendiri pada penulis agar ia tidak terjebak menjadi plagiat.

Penulisan, terutama penulisan buku, memang sebuah tantangan yaitu bagaimana seorang penulis mau jujur tentang konten tulisannya dan bagaimana ia dapat menunjukkan bagian-bagian yang merupakan orisinalitas tulisannya dan bagian-bagian lain yang berasal dari sumber gagasan orang lain.

Sebagai contoh jika Anda diminta kembali untuk menulis buku tentang Ekonomi Makro, tentu Anda akan mencari buku pembanding dengan judul yang sama. Faktanya, judul buku demikian sudah sangat banyak. Di sisi lain, Anda harus menyajikan dengan cara berbeda.

EkonomiMakro

Ranjau plagiat memang sering terjadi pada karya-karya tulis dengan tema-tema yang telah banyak ditulis sebelumnya. Contoh klasik adalah skripsi ketika para mahasiswa tingkat akhir meniru skripsi bertopik sama yang telah lebih dulu ada. Begitu terus terjadi turun temurun, bahkan kata pengantar (yang seharusnya prakata) juga dikutip mentah-mentah tinggal mengganti judulnya saja. Jujurlah bahwa skripsi Anda pasti dimulai dengan kata-kata: Puji dan syukur kami panjatkan ….

Dalam kondisi kepepet, para dosen ataupun akademisi yang mengejar angka kredit kerap melakukan jalan pintas dengan menjiplak tulisan yang sudah ada. Modusnya terkadang mencari tulisan dengan rentang tahun yang jauh ke belakang sehingga diharapkan tidak terlacak. Namun, dengan kecanggihan teknologi saat ini dan makin banyaknya orang melek literasi, “kejahatan plagiat” makin mudah terlacak.[]

 

Daftar Pustaka

Putra, R. Masri Sareb. 2011. Kiat Menghindari Plagiat. Jakarta: Penerbit Indeks.

Tamotsu Hozumi. 2006. Asian Copyright Handbook: Indonesian Version. Jakarta: ACCU Unesco dan Ikapi.

 

 

Bisnis Penulisan: Bangkit, Jatuh, dan Bangkit!

Karier saya dalam dunia penerbitan jelas dimulai dari tercemplungnya saya ke Prodi D3 Editing Unpad. Dari sana saya mengenal publishing science dengan segala potensinya dan termotivasi oleh dua dosen saya, Ibu Sofia Mansoor dan Bapak Dadi Pakar (alm.).

Saya benar-benar memulai karier penerbitan ini dari bawah. Memulakan diri sebagai penulis buku pesanan, tepatnya buku pelajaran untuk penerbit Granesia (Grup Pikiran Rakyat) dan Media Iptek. Setahun menjadi penulis lepas, lantas saya diterima menjadi copyeditor di Penerbit Remaja Rosdakarya.

Penerbit Remaja Rosdakarya adalah kawah candradimuka bagi saya karena di sinilah saya berkutat langsung dengan aneka pekerjaan menyunting naskah mulai naskah buku agama Islam, buku perguruan tinggi, buku anak, dan buku pelajaran. Hal lain yang berbekas bagi saya, di sini pula saya mengasah kemampuan copywriting (banyak iklan buku umum di RR hasil kreasi saya) dan desktop publishing (DTP).

Saya memang memandang dunia kerja sebagai dunia yang dinamis. Masuknya berbagai pemikiran dari buku yang saya sunting turut memengaruhi jalan hidup saya. Saya hanya bertahan 1,5 tahun di RR untuk kemudian memutuskan hijrah ke penerbit baru bernama Salam Prima Media. Di SPM, kemampuan menulis buku anak saya terasah karena konsentrasinya memang ke sana. Bahkan, sebelumnya saya sudah menulis skripsi tentang sastra anak Indonesia yang kemudian dibukukan oleh Nuansa Cendekia serta mendapat bantuan Program Pustaka I dari Ford Foundation dan Adikarya Ikapi.

Karier yang melesat di induk penerbit SPM yaitu Grafindo Media Pratama tak serta merta membuat diri saya puas. Saya terasuki buku Cashflow Quadrant Robert Kiyosaki hingga memutuskan keluar pada tahun 2000 dan mendirikan penerbit sendiri bernama Bunaya Multidimensi Kreasi. Kali pertama saya menerbitkan buku Menggagas Buku yang ternyata banyak memengaruhi para calon penulis untuk mulai menulis buku.

Penerbitan yang saya bangun bersama dua orang teman lainnya ini ambruk karena kelemahan dalam marketing dan penangannya. Dengan keadaan rumah masih mengontrak dan hilangnya berbagai fasilitas serta uang pesangon yang amblas digunakan untuk modal usaha, saya masih coba bertahan. Namun, perusahaan lama kembali meminta saya yang tidak dapat saya tolak karena keadaan.

Saya kembali sebagai konsultan, lalu menempati posisi tertinggi di Divisi Penerbitan. Saya pun mendapatkan fasilitas mobil baru. Namun, satu hal yang saya cari tak jua bersua yaitu tantangan. Karena itu, pada tahun 2003 saya kembali hengkang dan bergabung dengan MQ Publishing milik Aa Gym. Saya meninggalkan gaji tinggi dan mendapatkan hanya setengah dari gaji saya sebelumnya. Beruntung perusahaan saya menghadiahkan mobil yang saya pakai sehari-hari sebagai tanda apreasiasi atas kinerja saya selama di sana.

***

Perjalanan bangkit, jatuh, bangkit lagi adalah perjalanan yang melatari karier saya di dunia penerbitan buku. Saya bukanlah contoh sukses yang bisa dibukukan dengan kisah sangat heroik. Selain Bunaya, saya mendirikan juga perusahaan direct selling buku bernama Kaki Buku yang akhirnya juga runtuh dengan uang saya tenggelam bersamanya. Saya juga mendirikan perusahaan jasa penerbitan yang berganti nama beberapa kali dari PQS ke Detika, dari Detika ke Dixi, dan dari Dixi ke TrimKom. Saya masih bertahan meski dengan luka-luka bisnis yang seriusnya cukup.

Bangkit lagi maka tahun 2011 saya putuskan meninggalkan segala pekerjaan profesional sebagai karyawan di perusahaan dalam usia 40 tahun. Saya kembali mendirikan Trim Komunikata (TrimKom) dan memanfaatkan rumah saya yang tidak terlalu luas sebagai kantor–small office home (sweet home) office. :)

Benar usaha yang fokus ini mulai menunjukkan hasilnya dan saya bisa benar-benar leluasa mengaktualiasikan diri sebagai apa pun: penulis, editor buku, konsultan, serta trainer/tutor khusus penulisan-penerbitan buku. Saya menikmatinya perjalanan ke berbagai kota di Indonesia dan bertemu begitu banyak orang yang berkepentingan terhadap penulisan-penerbitan.

Kini bisnis saya makin mengerucut pada upaya melayani jasa penulisan-penerbitan untuk institusi pemerintah dan institusi pendidikan. Tahun 2014 ini saya membantu Qbaca Telkom untuk meluncurkan program 1001 Cerita Nusantara, membantu Pusdiklat Kemenkes untuk menyusun buku ajar untuk Poltekkes, membantu Dirjen PAUDNI Kemdikbud untuk menyusun buku ajar kursus, menuntaskan buku panduan penerbitan untuk P2M2 Universitas Terbuka, membantu Prudential Indonesia untuk penyuntingan dokumen asuransi, membantu editorial buku-buku terbitan Universitas Binus, dan terakhir bersiap membantu Pustaka Balitbang Kementan dalam pengolahan buku-buku ilmiah populer.

Satu mimpi lagi untuk saya adalah mendirikan sekolah penulisan-penerbitan yang benar-benar bisa saya miliki dan jalankan sendiri. Gayung bersambut lewat sebuah kemitraan yang bakal terwujud. Inilah semangat yang membuat saya tidak peduli dengan luka-luka masa lalu.

Karena itu, saya pun memaklumkan berdirinya Detikata Media sebagai “reinkarnasi” dari semangat-semangat yang telah mati untuk dihidupkan kembali dengan penanganan yang lebih terencana, lebih terukur, dan lebih profesional. Pertemuan saya dengan Ibu Endang Iyan, praktisi humas dan pendidikan, menghasilkan sinergi bisnis ini.

 

dummy web 1

Kami bersiap membangun kemitraan dengan institusi pemerintah, BUMN, dan lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi dalam bidang penulisan-penerbitan serta kehumasan. Kami bangkit untuk sesuatu yang sangat diperlukan INDONESIA: semangat buku-buku dan kekuatan kata-kata.[]