Buat Web Gampang, Isinya Rumpang

Website atau situs kini sudah menjadi kebutuhan pokok bagi lembaga, perusahaan, bahkan perseorangan yang hendak memublikasikan aktivitas, produk, ataupun eksistensinya. Berbagai jasa pembuatan website pun kini tersedia dan bukan lagi persoalan pelik untuk mewujudkannya. Teknologi juga menyediakan fasilitas yang memungkinkan website benar-benar tampil atraktif sekaligus interaktif.

Situs

Walaupun demikian, seperti lagu lama dan juga masalah yang umum terjadi adalah konten situs yang tidak pernah diperbarui atau malah di dalam situs itu masih banyak bagian yang ompong alias rumpang. Alhasil, kadang situs terkesan asal ada di dunia maya, tetapi tidak memberikan informasi yang cukup bagi pengunjung ataupun pengguna. Situs-situs itu kemudian berubah menjadi situs zombie.

Fakta pertama saya temukan saat hendak menulis artikel tentang provinsi termuda, Kalimantan Utara (Kaltara) baru-baru ini. Saya terkoneksi dengan situs milik pemprovnya. Namun, sayang bagian yang rumpang banyak saya temukan atau kalaupun ada informasi tersedia, hanya secuil. Hal itu setali tiga uang dengan situs-situs lembaga pemerintah atau pemkab/pemkot di Kaltara.

Boleh saja alasannya memang karena pemprov Kaltara sendiri masih baru terbentuk. Namun, jika ditilik beberapa situs milik lembaga pemerintah atau swasta yang lain juga cenderung miskin konten. Selain itu, tampilan situs kadang tidak akrab pengguna ‘user friendly‘ sehingga lebih banyak membingungkan daripada memudahkan pencarian informasi.

Hal lain adalah kecenderungan hanya menampilkan konten-konten miliki situs lain untuk disajikan ulang ‘repost‘. Kondisi yang menunjukkan pengelola situs tidak kreatif dan aktif menciptakan konten sendiri.

Dua tahun lalu saya sempat mengisi workshop menulis konten web untuk sebuah bank milik daerah. Situs milik bank bergengsi itu pun saya bombardir dengan kritik karena masih terdapatnya kesalahan tik, kesalahan informasi, dan juga penulisan konten yang terkesan amatiran. Citra bank agak terganggu dengan penampilan situs seadanya tersebut.

Saya yakin bahwa sejatinya bahan atau sumber konten itu tersedia berlimpah. Hanya mungkin memang tidak ada yang menggarapnya untuk menjadi tulisan yang layak baca. Tentu perlu sekali menugaskan seseorang sebagai “kuncen” atau penjaga konten, termasuk mengalirkan informasi berkualitas dalam bentuk tulisan.

Penulisan konten web atau situs memang menjadi satu keterampilan tersendiri karena kadang pola penulisannya berbeda dengan media lain. Penulisnya harus melek media dan akrab dengan teknologi informasi, terutama media sosial untuk bisa menampilkan konten yang layak baca melalui gawai ‘gadget‘.

©2015 oleh Bambang Trim

Belajar Menulis pun Makin Mudah

Sebelum ini saya beberapa kali mengisi kelas daring (online) penulisan di medsos semacam Facebook. Caranya menggunakan fasilitas grup tertutup dan menetapkan waktu untuk memberikan kuliah. Namun, sungguh cara ini tidak efektif karena peserta masih dibatasi oleh ruang dan waktu. Posting dan comment yang digunakan sebagai alat interaksi tidak cukup membantu walaupun saya mencoba membuatkan juga semacam handout sebagai pegangan ….

Kabar gembira untuk Anda semua kini saya bersama beberapa rekan menghadirkan UWRITINC sebagai solusi belajar menulis tanpa terbatas oleh ruang dan waktu, bahkan kesempatan. UWRITINC adalah kepanjangan dari Your Writing Incubator yaitu sebuah model inkubator penulisan yang dilengkapi video tutorial, modul dan buku, serta pembinaan komunitas untuk dapat menghasilkan serta memublikasikan karya.

UWRITINC menyediakan lebih dari 100 kursus keterampilan menulis, termasuk juga tentang penerbitan, editing dan proofreading, serta desktop publishing. Para instruktur yang dilibatkan adalah mereka yang telah malang melintang di dunia kepenulisan dan tentunya juga penerbitan.

Insya Allah pada 17 Mei 2015, tepat pada Hari Buku Nasional, kami akan meluncurkan situs UWRITINC. Anda sudah bisa mendaftar sebagai member untuk mendapatkan kelas gratis menulis dan beberapa penawaran menarik lainnya.

Alhasil, siapa pun Anda bisa belajar di sini, termasuk untuk anak-anak. Kami mengadakan kelas menulis untuk anak. Pada saat liburan, anak-anak dapat memanfaatkan waktunya untuk belajar menulis dan berinteraksi dengan para instruktur yang berpengalaman.

Slide1 Slide2 Slide4

Bagaimana, Anda tertarik? Silakan beri tahukan tentang kabar ini kepada keluarga, kerabat, dan sahabat yang selama ini mengalami kendala dalam menulis. Jangan khawatir, kami menyediakan banyak pilihan kelas, yaitu

  • penulisan akademis;
  • penulisan bisnis;
  • penulisan jurnalistik;
  • penulisan kreatif (fiksi);
  • penulisan anak;
  • editing & proofreading;
  • writerpreneurship;
  • desktop publishing.

Berapa biayanya? Kami menyediakan kursus dari biaya Rp0 serta kelas berbayar mulai Rp149 ribu sampai dengan >Rp3 juta. Anda bisa mengakses video tutorial (HD) kapan pun dan selamanya. Ada bahan praktik dan evaluasi yang harus Anda kerjakan untuk mendapatkan sertifikat.

Karya-karya Anda juga dapat dipajang atau ditawarkan di Bursa Naskah. Karya buku Anda yang diterbitkan secara indie atau self-publishing juga dapat dipajang di etalase Buku Indie yang kami sediakan.

Kami percaya bahwa lingkungan akan sangat berpengaruh dalam upaya mendorong Anda untuk menulis. Karena itu, kami pun menyediakan fasilitas Komunitas untuk para alumni agar dapat saling berinteraksi dan membuat kegiatan bersama.

Tertarik? Tertarik? Tertarik? Tak peduli siapa pun Anda dan di mana pun Anda berada asalkan berbahasa Indonesia, Anda bisa menjadi bagian dari UWRITINC.

©2015 oleh Bambang Trim

Manusia Menulis Manusia

Iklan gencar sebuah usaha yang ditengarai sebagai money game itu memang menarik perhatian di televisi. Berkali-kali pula situs berita daring semacam detik.com memberitakan kiprah usaha bernama Manusia Membantu Manusia itu. Namun, saya memang tidak ada urusan membahas bisnis yang konon sedang dipantau OJK tersebut.

Galibnya manusia memang harus menolong manusia lainnya sebagai makhluk sosial. Karena itu, di dalam menulis juga ada manusia yang menolong manusia untuk menuliskan buah pemikiran atau kisah hidupnya–tersebab manusia yang hendak ditolong memang tidak memungkinkan untuk menulis. Itulah yang dikenal dengan ghost writer (penulis bayangan) atau co-writer (penulis pendamping).

Lebih khusus, ada manusia yang menulis manusia jika mereka memasuki ranah biografi, autobiografi, ataupun memoar. Jasa ini ternyata penting untuk mengompilasi sejarah anak manusia dalam bentuk paling akrab yaitu buku. Tidak peduli siapa pun tokoh itu, selalu ada pembelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan hidupnya.

Karena itu, manusia menulis manusia adalah pekerjaan mulia dan nyata diperlukan. Ada yang memang direkrut untuk itu dan ada pula yang melakukannya dengan sukarela atau dengan harapan tertentu, seperti ketenaran dan juga keberuntungan.

Tokoh-tokoh manusia memang selalu ada mewarnai zaman. Dan mereka pun pantas untuk dituliskan menjadi buku. Tahun-tahun belakangan ini lihat saja beberapa tokoh yang berseliweran, seperti Menteri Susi, Gubernur Ahok, Raisa, Merry Riana, atau tokoh yang tiba-tiba menyedot perhatian, tetapi belum ada biografinya seperti alm. Olga Syahputra. Mereka memerlukan manusia penulis untuk menuliskan kiprahnya.

Baca lebih lanjut

Bertanam Benih Menulis di Luar Pagar

Di pekarangan rumah kita, benih-benih menulis tak tumbuh subur. Namun, tidak berputus asa, kita pun bertanam benih di luar pagar pekarangan rumah kita. Alhasil, pekarangan rumah kita tak meriah oleh karya-karya.

Itu ilustrasi untuk menggambarkan betapa penanaman keterampilan menulis di pendidikan formal banyak yang gagal. Alhasil, keterampilan menulis pun dilatihkan kemudian dalam pendidikan nonformal lewat kursus ataupun keterampilan. Pendidikan formal yang semestinya mampu menghasilkan peserta didik terampil menulis, malah sepi dari karya-karya yang bergigi.

Buruknya keterampilan menulis pertama dapat dilihat dari buruknya kemampuan berbahasa siswa, dari SD hingga SMA, bahkan kemudian terbawa ke perguruan tinggi. Bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi resmi di sini tampaknya masih terasa asing, terutama dalam hal penerapan kaidah-kaidahnya untuk menulis.

Tidak hanya Badan Bahasa–sebagai lembaga pembina bahasa–, kurikulum yang menananamkan keterampilan penulisan juga perlu direformasi agar benih-benih penulisan tidak harus tumbuh lebih subur di luar pagar pendidikan formal. Menulis sebagai proses harus dijalani yaitu sesuai dengan yang disepakati para ahli. Ada proses prewriting-drafting-revising-editing-publishing yang harus ditempuh.

Writing_Process

Pengalaman mengisi ratusan kelas menulis di berbagai lembaga dan berbagai daerah menggumpalkan pemikiran saya tentang perlunya pembaruan dalam pembelajaran menulis, terutama di tingkat dasar. Terlebih dahulu yang perlu mendapatkan pendidikan berbasis literasi penulisan tentulah para guru. Proses menulis harus diajarkan secara komprehensif, tidak sepotong-potong, termasuk menginstal keterampilan berbahasa secara praktis dan tepat guna.

Keterampilan menulis ditanamkan bukan untuk menjadikan para peserta didik menjadi penulis (sebagai profesi), melainkan untuk memberikan keterampilan hidup kepada mereka. Tidak ada satu bidang pun di dunia ini yang lepas dari tulis-menulis. Keterampilan menulis diperlukan oleh banyak bidang dan banyak profesi.

Bertanam benih menulis di luar pagar pekarangan rumah kita sah-sah saja. Namun, alangkah lebih indah jika pekarangan rumah sendiri pun dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga muncul lulusan yang andal dalam menulis dan percaya diri untuk berkarya.

©2015 oleh Bambang Trim

Hanya 3 Hari 2 Malam Menulis Buku

Terobosan pelatihan menulis buku ini saya persembahkan kembali setelah bertahun-tahun tidak pernah dilatihkan dalam bentuk heboh. Heboh ya karena peserta akan langsung dibimbing menyelesaikan buku 48 halaman atau lebih, lalu diterbitkan layaknya buku–lengkap dengan dummy yang sudah didesain menjadi buku.

H48HPROMOPeserta yang dibatasi sampai sepuluh orang akan menikmati langsung proses menggagas dan menulis buku dengan pendampingan tutor, saya sendiri, Bambang Trim dibantu dengan tim. Peserta akan melalui proses PREWRITING-DRAFTING-REVISING-EDITING-PUBLISHING selama 3 hari 2 malam.

Dengan biaya Rp5 juta per orang, peserta sudah menikmati fasilitas penginapan 2 malam berikut makan pagi, makan siang, dan makan malam serta tentunya kudapan rehat kopi. Suasana asri di kota Bandung akan menambah gairah menulis diselingi dengan informasi-informasi terkini soal perbukuan.

Peserta juga akan mendapatkan kit training berupa diktat lengkap ditambah flash disk berisikan materi presentasi dalam format PDF, materi praktik, serta eBook. Tidak hanya itu, pada akhir pelatihan, peserta akan mendapatkan sertifikat plus dummy 2 eksemplar buku hasil karya sendiri yang sudah dicetak secara print-on-demand (POD).

Berminat? Silakan kontak 022-86617757 atau konsultasi langsung dengan saya di 081519400129 (WA)/081312357585; Pin BBM 749FE40E; email bambangtrim72@gmail.com. Ingat, peserta dibatasi karena pelatihan ini memerlukan konsentrasi pendampingan orang per orang.

Don’t miss it!

 

 

 

 

 

 

 

faf

Buku Domain Publik

Seorang pembaca Manistebu baru-baru ini bertanya apakah saya memiliki daftar domain publik. Saya menjawab tidak karena memang saya tidak berkonsentrasi untuk mengumpulkan domain publik yaitu karya-karya yang hak ciptanya menjadi milik publik atau sudah menjadi milik publik.

Soal domain publik, utamanya buku-buku karya penulis sebenarnya mudah saja ditelusuri. Rujukan adalah UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang berbeda dengan UU No. 19 Tahun 2002. Jika di dalam UU lama tercantum bahwa sebuah karya menjadi domain publik setelah penulisnya meninggal 50 tahun, di UU yang baru bertambah menjadi 75 tahun.

Dari lamanya waktu tersebut dapat dihitung bahwa karya yang masuk ranah domain publik adalah karya yang penulisnya wafat sebelum tahun 1940. Dalam jagat sastra berarti buku-buku domain publik itu adalah karya para sastrawan angkatan Pujangga Lam, Balai Pustaka, dan Pujangga Baru.

Sebagai contoh, kita bisa mengecek tentang karya-karya puisi Chairil Anwar. Chairil adalah sastrawan Pujangga Baru dan wafat tahun 1949 dalam usia 26 tahun. Jika menggunakan UU lama, karya Chairil sudah masuk domain publik. Namun, dengan UU baru, karyanya belum masuk domain publik.

Karya Chairil Anwar belum masuk domain publik

Karya Chairil Anwar belum masuk domain publik

Karya Chairil dikategorikan domain publik pada tahun 2025. Sebelum tahun itu, ahli warisnya masih berhak atas hak cipta karya-karya Chairil. Namun, tentu memang harus dicari siapa ahli waris yang sah dari penyair yang membujang sampai akhir hayatnya tersebut.

Sekarang coba kita cek karya Merari Siregar sebagai sastrawan angkatan Balai Pustaka. Merari wafat tahun 1941 dan karyanya seperti Azab dan Sengsara dibuat tahun 1920. Karya Merari menjadi domain publik pada 2017. Jadi, masih sekitar dua tahun lagi.

Lalu, karya Marah Roesli yang populer yaitu Sitti Nurabaya dirilis tahun 1922. Namun, Marah Roesli wafat tahun 1962 sehingga karyanya baru menjadi domain publik pada tahun 2038.

Sebagian besar buku angkatan Balai Pustaka, apalagi Pujangga Baru belum masuk ranah domain publik karena penulisnya rata-rata wafat setelah tahun 1960-an. Jadi, yang masuk umumnya karya Pujangga Lama seperti Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang wafat sekitar tahun 1873.

Artinya, para penerbit di Indonesia masih harus menunggu untuk menerbitkan buku-buku tersebut secara massal tanpa terkendala persoalan hak cipta. Jika tetap ingin menerbitkan, tentu harus mencari ahli warisnya yang sah.

©2015 oleh Bambang Trim

Yuk Ngobrol Writerpreneur di Bale Pabukon

ASAH PENA TARIK DANA itu menjadi topik yang saya usung untuk acara talkshow tentang writerpreneurship tanggal 30 Maret 2015 nanti di Pesta Buku Diskon Ikapi Jabar di Bale Pabukon Unpad Jatinangor. Sebelumnya, saya juga akan mengisi acara miniworkshop tentang penulisan buku ilmiah populer.

Bale Pabukon sendiri merupakan konsep toko buku yang digagas Unpad, terletak tepat di depan gerbang kampus Unpad Jatinangor dan akan mulai dibuka pada akhir Maret 2015 bersamaan dengan pelaksanaan Pesta Buku Diskon 2015 yang diselenggarakan Ikapi Jabar. Bersama Penerbit Trim Komunikata, saya membuka booth di sana dan mengisi acara pada hari Senin, 30 Maret 2015.

Topik “Asah Pena Tarik Dana” menggambarkan bagaimana para writerpreneur sebenarnya membangun kewirausahaan dari menulis. Tentu saya akan berbagi pengalaman selama bertahun-tahun menekuni jalan writerpreneur sejak tahun 1994. Peluang kewirausahaan ini masih terbuka luas dan tulisan juga merupakan komoditas yang menjanjikan.

Jika Anda ada waktu luang pada Senin, 30 Maret, silakan bergabung dalam acara ini dan tentunya menarik karena gratis.

Student flyer (blue and gold bold design)

Perlu Tahu Lagi tentang ISBN

Siang, 18 Maret 2015, bersama tim dari Ikapi, saya berkesempatan mengunjungi PNRI atau Perpusnas di daerah Salemba. Kami disambut Ibu Welmin Sunyi Ariningsih, Deputi I Bidang Pengembagan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, yang salah satu bidangnya adalah jasa informasi ISBN. Pertemuan dilangsungkan dengan agenda penyusunan data perbukuan nasional dan kajian perbukuan Indonesia.

Pembicaraan menyasar juga soal ISBN atau International Standard Book Number. Pas dengan momentum pertemuan tersebut, saya menerima dua BBM sehari sebelumnya yang bertanya perihal ISBN.

Satu pesan dari BBM menanyakan persoalan imprint yang dibuat berbeda dengan nama penerbit induk, apakah harus menggunakan ISBN yang berbeda? Pertanyaan kedua terkait adanya penawaran dari percetakan yang bisa memberi ISBN meskipun nama penerbit menggunakan nama yang disodorkan pengguna jasa cetak.

anatomyISBN

ISBN Imprint

Saya coba menjawab soal pertama bahwa memang ISBN kini mensyaratkan adanya akta notaris pembentukan badan penerbit yang di dalam akta tercantum nama penerbit secara resmi. Hal tersebut menjadi dasar bagi Perpusnas kini untuk mengeluarkan nomor ISBN sebagai satu-satunya lembaga resmi pemberi nomor ISBN di Indonesia. Sebelumnya memang tidak diperlukan akta notaris, tetapi kemudian penggunaan ISBN malah menjadi “liar” karena ada saja yang hanya menerbitkan satu buku, tetapi kemudian meminta nomor ISBN dan selanjutnya penerbitnya tutup.

Terkait imprint penerbitan atau merek lain penerbitan dimaklumkan untuk memiliki nomor ISBN sendiri. Untuk itu, jika penerbit hendak menggunakan imprint, selayaknya imprint tercantum di akta notaris. Untuk hal tersebut tentu dapat dilakukan perubahan akta notaris pembentukan imprint bagi penerbit yang memang menjadikan imprint tidak berdiri sendiri sebagai entitas bisnis.

Penerbit seperti Grup Agromedia semula menurunkan imprint yang pada akhirnya imprint tersebut berdiri sendiri menjadi berbadan usaha atau menjadi anak perusahaan. Grup penerbit lain seperti Erlangga menjadikan Esensi atau Erlangga for Kids tidak berdiri sendiri dan hanya sebagai merek dagang dengan produk buku yang berbeda.

Jadi, ISBN imprint berbeda dengan ISBN penerbit induk. Nama-nama imprint harus sudah terdapat pada akta notaris sehingga perlu dilakukan perubahan akta. Sebaliknya, jika Anda sedang mempertimbangkan pendirian sebuah penerbit, dapat dipertimbangkan pula mengusun nama-nama imprint pada akta notaris agar tidak perlu nantinya mengubah akta notaris.

ISBN eBook

Satu hal yang sempat saya tanyakan sebagai penegasan adalah tentang ISBN eBook  atau buku digital yang seyogianya berbeda dengan ISBN buku cetak. Untuk soal ini, ketika mengajukan ISBN buku baru, sebaiknya penerbit turut mengajukan ISBN eBook–karena dalam konteks kini eBook tampaknya sudah masuk perencanaan konversi penerbit.

Tidak ada tanda atau ciri khusus bagi eBook di dalam ISBN, namun penomoran antara buku cetak dan buku digital berbeda sehingga dalam sistem distribusinya penggunaan nomor ISBN untuk pemesanan juga dibedakan. Anda tidak akan keliru memesan apakah itu buku cetak atau buku digital karena nomor ISBN-nya memang berbeda.

Pengelola bisnis buku digital seperti Kindle Direct Publishing (KDP) malah membuat sendiri sistem penomoran sepuluh digit. Mereka menggunakan sistem penomoran sendiri karena Kindle menjual eBook secara eksklusif menggunakan device atau tablet produksi Kindle serta jejaring perusahaan induknya, Amazon.com. Berikut penjelasan KDP soal ISBN. KDP juga mengingatkan untuk tidak menggunakan ISBN buku cetak pada buku digital.

An ISBN (International Standard Book Number) is not required to publish content with Kindle Direct Publishing. Once your content is published on the KDP web site, Amazon.com will assign it a 10-digit ASIN (Amazon Standard Identification Number), which is unique to the eBook, and is an identification number for the Kindle Book on Amazon.com. If you already have an ISBN for your eBook, you’ll be able to enter it during the publishing process. Do *not* use an ISBN for the print book edition. You can purchase an ISBN from multiple sources on the Web, including the official ISBN body.

Tawaran ISBN Pencetak

Jika ada pencetak atau percetakan yang menawarkan jasa termasuk ISBN, asumsi yang benar adalah ISBN bisa diberikan atas nama pencetak/percetakan tersebut. Artinya, yang bertindak sebagai penerbit adalah pencetak itu sendiri dengan nama perusahaannya. Jika nama penerbit yang ditampilkan adalah nama yang diinginkan pengguna jasa cetak, hal tersebut jelas menyalahi esensi penggunaan ISBN bahwa ISBN adalah nomor identitas khas untuk SATU BUKU dan SATU PENERBIT.

Pencetak itu tidak berhak mengeluarkan ISBN sendiri dan menyebarkan ISBN milikinya kepada orang (penerbit) lain untuk digunakan. Kemungkinan itu memang terjadi karena maraknya akademisi yang hendak menerbitkan buku dan memerlukan ISBN sebagai syarat bukunya dapat dinilaikan.

Saya kira lembaga penilai kelayakan buku-buku ilmiah ataupun ilmiah populer sudah harus melakukan penelusuran terhadap penerbit dan juga nomor ISBN yang tercantum di dalam buku karena bisa terjadi adanya “ISBN bodong”. Informasi tersebut dapat dilacak melalui Perpusnas apakah penerbit yang bersangkutan memang memiliki nomor ISBN seperti tercantum.

Demikian ulasan tambahan saya soal ISBN. Tugas berat untuk saya menanti tahun ini yaitu bersama-sama tim dari PNRI menyiapkan data perbukuan dan kajian perbukuan nasional. Pasalnya, akan ada perhelatan besar tentang ISBN internasional dan Perpusnas akan menjadi tuan rumah, September depan di Bali. Saat itu, Indonesia pun harus mampu menyajikan data perbukuan yang valid. Bersamaan dengan itu pula akan ada perhelatan akbar Ikapi yaitu Indonesia International Book Fair serta menjadi tamu kehormatan pada bulan Oktober di Frankfurt Book Fair 2015.

©2015 oleh Bambang Trim

Mengemas Konten Oshibana

Jumat pagi, 13 Maret 2015, saya sudah ada janji bertemu Bu Mutia Prasodjo, seorang pakar oshibana Indonesia. Ini pertemuan kali kesekian dengannya dan saya beserta istri langsung mengunjungi workshop beliau di rumahnya, di Bogor.

Urusan pertemuan tersebut tidak lain dari urusan pengemasan konten yang akan saya lakukan bersama Bu Mutia. Pada kenyataannya, tak banyak publikasi tentang oshibana di Indonesia, termasuk kursus yang resmi diselenggarakan. Alhasil, salah satu gagasannya adalah memanfaatkan teknologi digital untuk memasyarakatkan oshibana, sekaligus penyelenggaraan kursus yang lebih profesional.

Bu Mutia sedang memberikan workshop oshibana kepada mahasiswa. Sumber: http://japanese.binus.ac.id

Bu Mutia sedang memberikan workshop oshibana kepada mahasiswa.
Sumber: http://japanese.binus.ac.id

Oshibana adalah seni berkreasi dengan bunga kering yang diawetkan dengan cara ditekan (press) serta tetap mempertahankan warna aslinya. Teknik lain yang dikenal adalah herbarium, namun herbarium menghilangkan warna asli tumbuhan. Bagian yang biasa digunakan dalam seni oshibana (berasal dari Jepang; oshi berarti ditekan dan bana berarti bunga), yaitu kelopak bunga, daun, dan batang.

Bayangkan, Indonesia termasuk surga berbagai jenis bunga dengan tekstur yang khas sehingga oshibana pun sangat mungkin dikembangkan di Indonesia. Berdasarkan keterangan Bu Mutia, terdapat sentra ekspor oshibana di Indonesia, di antaranya di Surabaya dan Malang. Eksportir ini bahkan sangat memerlukan bahan baku oshibana sehingga jika ada kemauan, sebenarnya para ibu di rumah bisa menjadi pemasok bahan baku oshibana ini dengan cara melakukan pengeringan bunga hingga bisa dikreasikan dalam berbagai bentuk perhiasan atau karya seni lainnya.

Bu Mutia sempat menunjukkan kalung dari kreasi oshibana yang digabungkan dengan manik-manik atau bebatuan seharga Rp150.000,00. Padahal, modal bahan bakunya tidak lebih dari Rp30 ribu. Usaha yang lama dan perlu kesabaran justru saat mengeringkan bunga dan memotongnya dengan penuh cita rasa seni.

Kreasi oshibana memang tidak sebatas bunga, dedaunan, atau batang kering yang dirangkai lagi, tetapi juga bisa digunakan untuk media lain, seperti hiasan diary, bros, hiasan mug, pembatas buku, kartu pos, lukisan, atau juga menjadi buku bergambar. Sebagai sebuah keterampilan, oshibana memang layak dikembangkan menjadi konten pelatihan. Itu yang sedang saya pikirkan.

Konsep untuk konten digital sudah ada, termasuk buku-buku yang akan dikembangkan. Selanjutnya, tinggal memantapkan model bisnis dari pengembangan konten ini.

Oh ya, Bu Mutia memang langsung mendapatkan ilmu oshibana dari seorang Shinsei di Jepang, saat beliau masih bertugas di sana. Ia mempelajarinya selama 1,5 tahun, namun karena waktu itu ia menganggap keterampilan ini hanya hobi, ia enggan mengambil sertifikat Shinsei, padahal ia sudah dianggap mampu untuk mengambilnya. Terbukti, saat ini Mutia termasuk pakar yang banyak diminta untuk mengisi berbagai workshop, baik oleh Kedubes Jepang maupun oleh pemerintah dan swasta. [BT]

Pertama, Pelatihan Nulis Buku Langsung Jadi Buku

Akhirnya, tiba juga saya menggelar pelatihan terobosan menulis buku H48H yang akan membuat peserta merasakan pengalaman menggagas dan menulis buku selama 3 hari 2 malam. Mau?

Ini dia pelatihan terobosan menulis buku (minimal) hanya 48 halaman (H48H). Selama 3 hari 2 malam peserta akan dibuat mau dan mampu menulis buku sehingga output akhir pelatihan benar-benar berwujud buku fisik dan juga buku digital yang siap dipublikasikan.

Saya akan memandu Anda menerapkan metode standar prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Apa pun buku yang hendak Anda tulis. Gila! Tidak, ini tidak gila. Ini nyata.

Info Pelatihan H48H

Info Pelatihan H48H

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.164 pengikut lainnya.