Riset, Pendidikan Tinggi, dan Buku

Ada kabar menggembirakan dari kabinet baru yang akan dibentuk pemerintahan Jokowi-JK. Sebuah kementerian hasil perluasan dan penggabungan dibentuk yaitu Kementerian Riset-Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti). Alasan munculnya kementerian ini guna mendorong kemandirian bangsa dalam soal ristek, sekaligus para sarjana memang benar-benar mampu menghasilkan karya inovatif untuk Indonesia.

Salah satu kepentingan menghasilkan karya adalah membukukan hasil-hasil riset dan ilmu-ilmu baru yang digagas peneliti ataupun akademisi di Indonesia. Publikasi ilmiah dalam bentuk tulisan, terutama buku, merupakan titik lemah para peneliti dan akademisi Indonesia. Di sinilah tampaknya peran Kemristekdikti ini akan sangat terasa.

Dalam soal tulis-menulis tentu kementerian baru ini akan lebih serius lagi menekankan pentingnya para akademisi dan para peneliti untuk memublikasikan hasil karyanya dan tidak sebatas “mati” pada tahap riset hingga pelaporan saja. Dikti selama ini telah memberikan peluang lewat penyediaan dana hibah dan insentif buku ajar dan buku teks untuk para dosen. Begitupun LIPI sebagai lembaga riset juga membuka peluang penerbitan tersebut kepada para penelitinya.

“Ancaman” bagi para peneliti ataupun akademisi yang tidak menulis publikasi dalam bentuk penundaan kenaikan pangkat ataupun pencabutan tunjangan tampaknya akan semakin bergema. Untuk itu, keterampilan menulis karya tulis ilmiah dan panduan standar penulisan ilmiah secara nasional tidak dapat ditawar-tawar lagi harus ditingkatkan dan disempurnakan.

Memang dalam soal tulis-menulis ini, terutama penerbitan jurnal terdapat dua akreditasi yaitu akreditasi Dikti dan akreditasi LIPI. Keduanya terkesan ada dikotomi sehingga bergabungnya dua lembaga ini di dalam satu kementerian setidaknya akan meretas dikotomi publikasi hasil riset dan keilmuan ini. Tentu kedua lembaga ini dapat diakomodasi menjadi satu akreditasi dan satu pemahaman tentang standar publikasi ilmiah, termasuk buku.

Saya sendiri sudah berkecimpung memberikan pelatihan dan konsultasi penerbitan publikasi ilmiah, terutama dalam bentuk buku di beberapa lembaga selama sepuluh tahun terakhir ini. Kondisi memang memperlihatkan lemahnya penguasaan teknik menulis dan pengembangan gagasan untuk membukukan tulisan. Hal utama terkait konversi atau penyaduran karya tulis ilmiah nonbuku menjadi buku. Banyak peneliti dan akademisi mengambil jalan pintas untuk soal ini asal bukunya terbit meskipun tak memenuhi standar penyajian yang baik.

Bersama Kepala LIPI Press dalam Pelatihan Penulisan Buku Ilmiah

Bersama Kepala LIPI Press dalam Pelatihan Penulisan Buku Ilmiah

Alhasil, banyak juga buku-buku hasil riset dan pengembangan keilmuan yang gagal berkomunikasi dengan pembaca sasarannya. Buku-buku itu sekadar terbit untuk “menyelamatkan” pangkat dan tunjangan saja. Jauh dari kesan keseriusan membagi ilmu. Belum lagi kasus-kasus plagiat yang terjadi.

Harapannya kementerian baru yang dibentuk akan memperhatikan juga persoalan-persoalan karya atau publikasi ilmiah ini. Paling tidak, kemudian ada data yang valid tentang penerbitan buku-buku ilmiah dan tradisi university press pun bisa berkembang di setiap perguruan tinggi. [BT]

©2014 oleh Bambang Trim

Penulis Kopi

Beberapa waktu lalu saya bertanya sebagai survei kecil-kecilan kepada teman-teman Facebook tentang hubungan kopi dan menulis. Jawabannya bervariasi. Dari soal kopi yang memang jadi sugesti atau pelecut ide-ide mereka, sampai soal tidak berpengaruhnya kopi terhadap aktivitas menulis mereka. Bahkan, di antaranya hanya menjadikan kopi sebagai penghambat kantuk sebagaimana lazimnya khasiat kopi kerap disebutkan.

Bagaimana dengan saya sendiri? Kopi telah akrab dengan kehidupan saya tampaknya sejak SMP ketika saya tertarik dengan kopi sidikalang cap Kingkong yang selalu dibeli ayah saya di kota Tebingtinggi. Saat SMA, ketika belajar atau mengerjakan sesuatu, kopi menjadi teman setia. Kini saat menulis, kopi selalu tersaji, bahkan pagi, siang, dan malam dan tentu selalu ada yang memberi warning tentang kelebihan saya menenggak kopi. :)

Namun, memang kopi tidak sekadar sugesti, tanpa kopi pun, penulis seperti saya yang kerap diburu deadline harus tetap menulis. Begitupun soal suasana, di tengah-tengah keramaian pun saya harus bisa menulis. Justru yang paling penting dalam menulis kini adalah colokan alias steker listrik mengingat baterai laptop yang hanya bisa tahan dua jam.  Adapun menulis bisa dilakukan berjam-jam.

Kopi apa pilihan saya? Saya tidak paham perubahannya. Awalnya saat mulai bekerja sebagai editor, saya sangat menyukai kopi susu atau kopi dengan creamer. Namun, sejak dua tahun terakhir ini saya kembali pada kopi hitam sejati. Saya tidak menyukai kopi yang terlalu murni seperti Nescafe karena menurut saya rasanya seperti obat batuk. Karena itu, saya lebih  memilih kopi Kapal Api atau kini cap Ayam Merak yang menurut saya rasanya lebih bisa dipertanggungjawabkan saat menulis. Hehehe.

Bagaimana dengan pengalaman ngopi? Tentulah setiap perjalanan ke daerah-daerah di berbagai kota Indonesia, saya sempatkan untuk menikmat kopi meskipun tidak harus. Contohnya, di Aceh, entah sudah berapa kali saya nongkrong di kedai kopi Ulee Kareng. Bukan untuk menulis, tetapi lebih banyak mengobrol.

Dari kedai ke kedai di Aceh yang terdengar adalah dengungan obrolan dengan volume tinggi-rendah seperti mendengar dengungan tawon. Dan ajaibnya mereka semua ngopi! Termasuk anak-anak muda yang juga ikut ritual ngobrol ini. Di benak saya muncul pertanyaan: Kapan kerjanya orang-orang ini? Ya kerjaannya berpindah dari satu kedai ke kedai lain dan kopi adalah “sesajen” untuk bisa memicu obrolan–bahkan obrolan tingkat tinggi soal kabinet (bukan lemari susun).

Kembali pada soal menulis, kopi memang memberi jeda bagi saya dalam satu tegukan demi tegukan ketika ide-ide memuncak. Alhasil, kafein di dalamnya memang bersinergi dengan pikiran untuk memilih dan memilah kata. Begitupun saat mengedit tulisan, saya (jika memang ada), memerlukan secangkir atau semug kopi panas.

Bagi yang hendak mengirim kopi, silakan kirim ke rumah atau kantor saya. Hehehe. Salam kopi! [BT]

 

Bagaimana Saya Membantu Seseorang Menulis Buku

Mungkin banyak yang salah sangka tentang jasa penulisan buku yang saya sediakan. Ada yang mengira bahwa bisa memesan sebuah buku dengan judul tertentu, lalu saya harus menuliskannya untuk mereka dari awal. Apakah benar saya bisa mengerjakan hal semacam ini?

Wajar jika ada yang menyangka seperti itu karena kadang “iklim” akademis kita membuka peluang-peluang untuk berbuat “kecurangan” semacam itu. Ya, mencoba menghasilkan karya tulis, tetapi meminjam tangan orang lain.

Benar, saya memang menyediakan jasa ghost writing (penulisan bayangan) khusus hanya untuk buku-buku autobiografi, biografi, atau memoar ketika seseorang yang memiliki sejarah hidup luar biasa kesulitan menuangkan kisahnya ke dalam tulisan. Untuk itu, si empunya cerita adalah author atau orang yang memiliki gagasan dari kisah itu sehingga namanya pun muncul sebagai pengarang. Nama saya pun tersamar di dalamnya.

Jika tidak ada orang yang berprofesi sebagai ghost writer, tentu akan banyak kisah inspiratif orang-orang hebat tidak bisa dituliskan atau dibukukan dengan sangat “hidup”. Di Indonesia pun banyak yang memerlukan jasa ghost writing semacam ini.

Lalu, saya juga menyediakan jasa co-writing atau penulisan pendampingan dan nama saya akan tercantum sebagai penulis kedua atau penulis ketiga dari para pemilik gagasan sejati. Jadi, tugas saya sama dengan ghost writer yaitu membantu mengembangkan gagasan ke dalam tulisan yang lebih berdaya. Jasa co writing tersedia untuk buku nonfiksi, seperti buku bisnis, buku kiat, dan buku edukasi (yang bukan text book).

Hanya Bermodal Ide

Apakah bisa seseorang yang hanya bermodal ide, lalu meminta bantuan saya untuk menuliskannya? Tentu kalau itu ide mentah, masih ada hal yang perlu dikerjakan dan saya tidak menempatkan diri sebagai orang yang bekerja membangun dari awal–karena jelas itu bukan karya saya sepenuhnya. Ide seseorang harus diturunkan menjadi topik dan sub-subtopik yang membentuk sebuah outline buku tahapan secara utuh.

Ide itu pun harus didukung oleh sumber-sumber tepercaya dan syukur-syukur merupakan hasil riset. Alhasil, tetap buku itu gagasan orisinalnya milik si empunya ide. Sekali lagi, saya hanya membantu menuliskannya dan menata sumber-sumber menjadi logis. Jadi, saya tidak menerima pekerjaan mentah dari perseorangan untuk menuliskan idenya yang hanya berwujud tema atau topik. Lalu, penulisan dan riset sepenuhnya diserahkan kepada saya. Selain tidak etis secara akademis, penulisan buku seperti ini juga membohongi publik pembaca hanya demi meningkatnya merek diri atau demi kenaikan pangkat.

Perlu Tatap Muka

Setiap klien yang saya tangani memang harus bertatap muka dengan saya agar saya mampu mengalibrasi pikiran, perasaan, dan gagasan klien saya tentang bukunya. Bahkan, dengan coaching, klien saya pun akan mampu dituntun mengembangkan outline bukunya. Syaratnya hanya satu, sang klien haruslah menguasai topik yang sedang digagasnya.

Apakah saya bisa membantu menuliskan walaupun itu bukan bidang ilmu yang saya kuasai? Pada dasarnya teknik menulis dapat dikembangkan untuk bidang apa pun. Karena itu, dengan pengalaman dua puluh tahun dan mengerjakan ratusan judul buku, saya sedikit banyak mampu beradaptasi dengan beberapa bidang ilmu/kajian untuk membantu penulisannya.

Namun, satu hal yang perlu saya tekankan: saya tidak mampu atau tidak mau mengerjakan (menulis) buku dari nol atas nama klien saya. Karena itu, jika ada yang menanyakan apakah saya bisa membantunya menerbitkan buku, saya akan bertanya terlebih dahulu apakah naskahnya sudah ada. Jika belum, hal ini menjadi sinyal bagi saya untuk menelusuri kebutuhan klien saya. Ya tadi, jangan-jangan ia menyangka saya bisa membuatkannya buku atas namanya.

***

Beberapa waktu lalu ada seseorang yang mengundang saya untuk menjadi teman BBM-nya. Lalu, saya menerima broadcast message layanan penulisan yang dibukanya, termasuk layanan penulisan skripsi-tesis-disertasi. Saya pun coba bertanya dan menegur apakah layanannya tersebut tidak melanggar etika akademis? Ia tidak menjawab, tetapi malah kontak saya dihapusnya. :)

Nah, jasa yang saya berikan, baik di PT Trimuvi Akselerasi Media dan CV Detikata Media tidak berselancar dalam gelombang membuatkan karya tulis ilmiah untuk mereka yang  kepepet karena tuntutan pekerjaan. Alih-alih berbisnis dengan dalih membantu, saya malah bisa terpeleset masuk ke dasar laut penuh tipu muslihat.

Cukuplah dalam dunia politik yang penuh tipu muslihat. Untuk dunia akademis, saya tak mau menambah-nambah.

7 Tips Menulis Buku Kumpulan Artikel

Banyak di antara penulis memulai debut sebagai penulis artikel atau esai yang memang dari segi panjang tulisan ringkas sekali (biasa dalam ukuran 300 s.d. 2.000 kata). Bahkan, kini media massa ataupun majalah dan jurnal ilmiah menyediakan kapling yang sangat terbatas bagi sebuah tulisan bentuk artikel ini. Contohnya, Kompas yang menetapkan kapling hanya 700 kata setara dengan 3,5 halaman kuarto. Tentulah kondisi ini menuntut kepiawaian seorang penulis menyampaikan opini berikut pemikiran pendukungnya seringkas mungkin.

Lalu, bagaimana jika artikel atau esai itu hendak dibukukan? Ya, ini sering disebut dengan republishing articles yang dilakukan penulis atau penerbit. Outline buku pun merupakan outline butiran–berbeda dengan buku sejati yang beroutline tahapan. Untuk mengonversi tulisan-tulisan tersebut menjadi buku, Anda perlu memperhatikan tujuh tips berikut ini.

  1. Pastikan kumpulan artikel Anda merupakan kumpulan tulisan dengan topik yang sama, contohnya topik pengasuhan anak (parenting) atau topik wanita wirausaha. Anda sebaiknya tidak mencampur aneka tulisan beragam topik dan berharap pembaca akan bisa menikmati semua tulisan Anda tanpa kebingungan. Karena itu, jika hendak merencanakan artikel/esai menjadi buku, sebaiknya Anda konsisten menulis dalam satu topik yang seragam. Jadi, jangan sampai Anda menulis segala hal; ada politik, ada parenting, ada kesehatan, bahkan ada kesenian.
  2. Pikirkan untuk menyusun tulisan Anda dengan urutan yang baik. Contohnya, Anda menempatkan tulisan yang menarik pada awal, tengah, dan akhir. Dengan demikian, ritme kemenarikan tulisan terjaga dan pembaca mendapatkan kejutan tulisan ataupun tulisan yang terbaik di awal, tengah, dan akhir. Jadi, jangan menyusun urutan tulisan misalnya, berdasarkan tanggal terbit. Syukur-syukur tulisan Anda memang memiliki daya pikat semuanya.
  3. Pilih tulisan yang aktualitasnya masih terjaga atau masih relevan disajikan sebagai bahan bacaan penambah wawasan, pengetahuan, dan hiburan. Karena itu, tulisan-tulisan opini yang sifatnya tidak terikat momentum akan lebih relevan untuk disajikan. Jika Anda menyajikan tulisan tentang pileg atau pilpres kembali menjadi buku, tentu kontennya sudah “basi” karena momentumnya sudah lewat.
  4. Kembangkan tulisan lebih dalam. Ingat bahwa di media Anda dibatasi kapling. Bayangkan, apa yang bisa Anda sampaikan hanya dalam dua halaman? Karena itu, dalam buku Anda masih bisa “menarik napas lebih panjang”. Begitupun pembaca buku menginginkan kedalaman yang lebih daripada sekadar artikel pendek di media massa. Untuk itu, Anda dapat merevisi atau mengembangkan artikel Anda sendiri secara lebih lengkap dan tuntas.
  5. Jangan lupa menyebutkan media dan tanggal saat artikel/esai pernah dimuat sebagai kode etik penerbitan ulang. Dalam buku, Anda juga dapat menyajikan tulisan-tulisan yang belum pernah dipublikasikan atau tulisan baru sebagai daya tarik untuk pembaca.
  6. Tambahkan visualisasi yang akan memperkuat tulisan Anda, seperti foto, ilustrasi tangan, infografik, grafik, skema/bagan, dan tabel. Di dalam buku sekali lagi Anda dapat lebih memperjelas isi tulisan Anda dengan alat bantu visual tersebut.
  7. Jika ada lebih dari 30 tulisan yang hendak Anda sajikan, Anda dapat membagi kelompok tulisan berdasarkan subtopik menjadi 2-3 bagian dan pada tiap-tiap bagian termuat beberapa tulisan. Pembaca akan lebih mudah menandai subtopik yang Anda bagi-bagi tersebut.

Demikian tujuh tips bagi Anda yang hendak membukukan kumpulan tulisannya. Semoga bermanfaat.

Copyright 2014 oleh Bambang Trim

Pengusaha Jangan Takut untuk Menulis

Dua hari kemarin, 17-18 September 2014 ada kesempatan istimewa bagi saya untuk mengisi kursus privat menulis. Awalnya lewat sebuah panggilan telepon, seorang Bapak yang mengaku bernama Rizal dari Palembang menanyakan perihal pelatihan penulisan.

Karena tidak ada pelatihan dalam waktu dekat, saya menawarkannya untuk kelas privat di Cimahi, Bandung. Beliau menyanggupi dan langsung menetapkan jadwal Rabu-Kamis itu.

Tanpa mengenal sebelumnya, perjumpaan dan kelas hari pertama menjadi awal perkenalan yang hangat. Ternyata Bapak Ahmad Rizal adalah pengusaha ternama di Palembang, Sumatera Selatan. Beliau juga menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Kadin Sumsel dan Wakil Ketua KONI Sumsel. Di bidang usaha, beliau juga kadang berkutat dalam penanganan kasus-kasus sengketa usaha sebagai hakim arbitrase.

Ini yang menarik. Mengapa Pak Rizal yang begitu tinggi aktivitas kesibukannya mau menyempatkan diri belajar menulis, bahkan dalam usia 51 tahun? Tuntutan aktivitas dan kegiatan kembali ke dunia kampus adalah dorongan utama beliau ingin mampu menulis dengan baik.

Pak Rizal tengah mengerjakan tugas menyusun paragraf.

Pak Rizal tengah mengerjakan tugas menyusun paragraf.

Saya takjub ketika beliau mampu menyelesaikan tugas artikel dalam tiga halaman. Mengapa? Karena beliau mengerjakan lebih dari dua jam. Artinya, ada sebuah perjuangan yang dilakukan untuk berproses menulis. Hasilnya, sebuah artikel tentang isu yang hangat (kesiapan Palembang menjadi host Asian Games 2018) dengan susunan paragraf ringkas khas artikel dan beberapa data serta fakta penguat.

Mengapa takjub? Karena beliau belum pernah menulis sama sekali. Dalam pembelajaran sehari, Pak Rizal sudah mampu melakukan drafting. Ya, pada hari pertama beliau mendapat pembekalan tentang prewriting yang berlanjut pada drafting. Pada hari kedua, beliau mendapat pembekalan tentang revising dan editing. Saya tengah menunggu beliau untuk mampu memasukkan artikel hasil revisi dan editing ke media di Sumatera Selatan.

Ya, pengusaha, pejabat pemerintah, atau siapa pun tidak perlu takut untuk mau dan mampu menulis dengan baik. Hanya diperlukan waktu singkat, konsistensi, dan pendampingan (coaching) secara tepat.

Perlu kegigihan dan kemauan mengikuti proses untuk mampu menulis. Bambang Trim bersama Ahmad Rizal.

Perlu kegigihan dan kemauan mengikuti proses untuk mampu menulis. Bambang Trim bersama Ahmad Rizal.

Testimoni Bapak Ahmad Rizal untuk

Kursus Privat Menulis Trimuvi

MATERI
Cukup lengkap, baik tertulis maupun penyampaian melalui paparan. Detail disampaikan dan ditambah dengan contoh-contoh serta penggalan-penggalan paragraf dan kalimat, baik yang benar maupun yang salah.

CARA PENYAMPAIAN
Lugas, informatif, dan langsung pada persoalan, sehingga mudah dan cepat diserap, bahkan bisa mulai diterapkan.

HASIL YANG DIRASAKAN
Dengan didapatnya landasan teori dan contoh-contoh tulisan yang ada, muncul rasa kepercayaan pada diri sendiri untuk memulai menulis dan ada sedikit keyakinan bahwa ke depan saya akan menjadi seorang penulis yang baik.

Bandung, 18 September 2014
Ahmad Rizal
Ketua Umum Kadin Sumsel, Wakil Ketua KONI Sumsel

Editing Mengantarkan Anda Menjadi Profesional

Ilmu editing (editologi) yang merupakan ranting dari ilmu penerbitan (publishing science) adalah ilmu langka bagi orang Indonesia. Pendidikan formal tentang ilmu ini pun hanya dipelajari pada tingkat diploma tiga dan itu pun tinggal satu PTN yang bertahan.

Bagaimana dengan kursus atau pelatihan? Sama saja, langka. Kalaupun ada, mungkin hanya berkonsentrasi seputar masalah kebahasaan. Padahal,  di luar kebahasaan masih ada hal-hal lain terkait editing yang mesti dikuasai seorang penulis ataupun editor.

Saya termasuk “produk” dari ilmu ini sehingga karier saya pun tidak lepas dari dunia editing dan termasuk dunia tulis-menulis. Tiga tahun belajar di Prodi D3 Editing Unpad, lalu saya melanjutkan ke program ekstensi Sastra Indonesia yang sebagian besar mata kuliahnya juga terkait ilmu penerbitan.

Jadi, wajarlah jika di Indonesia mereka yang berprofesi editor sebenarnya autodidak dan hanya bermodal latar belakang ilmu pengetahuan tertentu. Untuk itu, demi menanamkan pemahaman yang benar terhadap profesi ini, saya menggelar pelatihan Basic Copy Editing bersama Trimuvi.

Siapa pun, apakah itu editor, penulis, guru, dosen, widyaiswara, pengelola media, staf humas, dan staf sekretaris perusahaan, pasti sangat memerlukan ilmu ini terkait aktivitas tulis-menulis yang digeluti. Pelatihan langka ini sangat sayang dilewatkan.

 

BasicCopyeditingRev

Rundown Acara Basic Copy Editing Training

Hari I, 22 Oktober 2014

8:30 a.m. – 8:45 a.m. Registrasi Ulang

Sambutan                                Trimuvi

Ruang Kelas MLC
8:45 p.m. – 10:00 p.m. Pembukaan

Sessi I: Lingkup Copyediting dan 7 Aspek

Editing

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC
10:00 a.m. – 10:15 a.m. Coffee Break Ruang Kelas MLC
10:15 a.m. – 12:00 a.m. Studi Kasus 7 Aspek Copyediting                                                                    Bambang Trim Ruang Kelas MLC
12:00 a.m. – 13:00 p.m. Istirahat & Makan Siang

Trimuvi Support

Ruang Kelas MLC
13:00 p.m. – 14:00 p.m. Sesi II

Editing Tata Bahasa

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC
14:00 p.m. – 15:00 p.m. Praktik Editing Tata Bahasa

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC
15:00 p.m. – 15:15 p.m. Coffee Break

Sekretariat

Ruang Kelas MLC
15:15 p.m. – 16:00 p.m. Praktik Editing Tata Bahasa

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC

 

Hari II, 23 Oktober 2014

8:30 a.m. – 10:00 a.m. Sesi III

Gaya Selingkung

Tasaro

Ruang Kelas MLC
10:00 a.m. – 10:15 a.m. Coffee Break Ruang Kelas MLC
10:15 a.m. – 12:00 a.m. Penerapan Gaya Selingkung                                                                           Tasaro Ruang Kelas MLC
12:00 a.m. – 13:00 p.m. Istirahat & Makan Siang

Sekretariat

Ruang Kelas MLC
13:00 p.m. – 14:00 p.m. Sesi IV

Mechanical Editing

Bambang Trim

                                                Tasaro

Ruang Kelas MLC
14:00 p.m. – 15:00 p.m. Praktik Mechanical Editing

Bambang Trim

                                                Tasaro

Ruang Kelas MLC
15:00 p.m. – 15:15 p.m. Coffee Break

Sekretariat

Ruang Kelas MLC
15:15 p.m. – 16:00 p.m. Sesi V

On-Screen Editing

Bambang Trim

Ruang Kelas MLC

 

 Materi

 

SESI DESKRIPSI
Lingkup Copy Editing dan Tujuh

Aspek Editing

Peserta mampu

  • memahami lingkup kerja copyediting yang berbeda dengan editing secara umum dan proofreading;
  • memahami tingkatan copyediting;
  • memahami 7 aspek: 1) keterbacaan dan kejelahan; 2) konsistensi; 3) kebahasaan; 4) kejelasan gaya bahasa; 5) ketelitian data dan fakta; 6) legalitas dan kesopanan; 7) ketepatan rincian produksi;
  • studi kasus penerapan tujuh aspek editing.
Tata Bahasa Peserta mampu

  • memahami konsep bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  • memahami penerapan Pedoman Umum EYD;
  • memahami kasus-kasus kebahasaan umum;
  • memahami kasus-kasus kebahasaan khusus.
Gaya Selingkung Peserta mampu

  • memahami pentingnya penerapan gaya selingkung;
  • memahami unsur-unsur yang terdapat pada gaya selingkung;
  • mencari solusi gaya selingkung vs gaya penulis/pengarang;
  • memahami anatomi tulisan/anatomi buku dan perwajahan.
Mechanical Editing Peserta mampu

  • melakukan praktik mechanical editing dengan tanda-tanda koreksi;
  • memahami verifikasi silang;
  • memahami jenis outline pada buku;
  • memahami editing keterbacaan (readabality) dan kejelahan (legibility);
  • memahami editing data danfakta;
  • memahami editing legalitas/kesopanan.
On-Screen Editing Peserta mampu

  • menggunakan MS-Word untuk melakukan on-screen editing;
  • menggunakan Adobe Acrobat untuk on-screen editing file PDF.

 

Tips Menulis Buku Ilmiah

Anda seorang akademisi atau peneliti yang hendak bertekad menulis buku? Buku memang “karya lompatan” bagi seorang akademisi, peneliti, atau ilmuwan karena lewat bukulah pemikiran dan ilmunya dapat ditebarkan secara luas, sekaligus diawetkan.

Sejak beberapa tahun ini saya telah mengisi berbagai kelas pelatihan penulisan buku ilmiah, baik untuk dosen, widyaiswara, maupun peneliti. Terakhir pada 11-12 September 2014 lalu, saya kembali mengisi untuk peneliti di lingkungan LIPI yang digagas LIPI Press.

Bambang Trim sedang mendampingi peserta untuk menggagas outline buku ilmiah.

Bambang Trim sedang mendampingi peserta untuk menggagas outline buku ilmiah.

Berdasarkan pengalaman mengisi kelas pelatihan dan mendampingi para calon penulis buku, kelemahan utama seseorang tidak mampu menulis buku ilmiah sebagai berikut.

  1. Tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Hal ini biasanya diikuti dengan ujaran, “Ide saya sebenarnya banyak ….”
  2. Penyajian bahasa yang cenderung panjang dan membosankan. Hal ini adalah kelemahan umum tersebab kurang berlatih.
  3. Penyajian to the point tanpa menyisipkan terlebih dahulu unsur-unsur yang mampu memikat pembaca, terutama di dalam lead atau paragraf awal tulisan.
  4. Penyajian yang terkungkung kebiasaan, seperti memulai tulisan dengan definisi, sejarah asal-usul, ataupun latar belakang permasalahan.
  5. Bahasan melebar atau malah sebaliknya, bahasan terlalu sempit tanpa menyertakan bahan atau fenomena-fenomena terbaru.

Dari pengalaman tersebut demi menutupi kelemahan tiada cara lain yaitu memberikan pelatihan dengan praktik langsung. Untuk itu, kunci pelatihan bagi para calon penulis buku adalah memperdalam aspek prewriting yaitu kemampuan menggagas dan mengembangkan ide menjadi draf outline dan drafting yaitu keterampilan menyusun naskah dengan berbagai cara.

Setiap calon penulis itu memerlukan pendampingan, sekaligus stimulus agar ia mampu menyusun satu draf outline jadi yang siap dieksekusi. Selanjutnya, ia dapat berlatih sendiri mengembangkan outline atau kerangka tulisannya.

Tips-tips berikut akan berguna sebagai bahan pelatihan.

  1. Mulailah membiasakan diri untuk menulis buku dengan outline tahapan. Outline tahapan mirip dengan skripsi dengan bagian inti Pendahuluan-Isi-Penutup. Bagian pendahuluan dan penutup biasa merupakan satu bab tersendiri. Adapun bagian isi terdiri atas beberapa bab. Umumnya penulis yang hendak mengambil jalan pintas menulis buku kerap memilih outline butiran yaitu berupa kumpulan tulisan-tulisan pendek (artikel, esai, dsb.). Hal ini tentu tidak akan mampu mengasah kemampuan Anda menulis buku sebenarnya.
  2. Bayangkan apakah Anda memiliki bahan yang cukup untuk mengembangkan sebuah ide penulisan, terutama bahan berupa buku ataupun dokumen tertulis lainnya. Bahan yang terbatas dapat membuat seseorang tidak dapat mengembangkan tulisan dan frustrasi. Akibat lain adalah bentuk penyajian yang akan “berputar-putar” atau “berulang-ulang”.
  3. Persempit topik Anda menjadi lebih spesifik mengingat buku-buku ilmiah cenderung menyasar pasar ceruk (niche). Jika Anda membuat topik “Problema Penyandang Disabilitas”, jelas topik ini terlalu luas. Anda dapat mempersempitnya menjadi “Problema Penyandang Disabilitas dalam Dunia Kerja”. Jika perlu, persempit lagi menjadi “Problema Penyandang Disabilitas dalam Bidang Kerja Industri Kreatif”.
  4. Pelajari outline atau lebih mudah daftar isi buku-buku ilmiah yang beredar di pasaran. Lihat bagaimana sang penulis menyajikan naskahnya. Hal apa dulu yang mereka kenalkan kepada pembaca?
  5. Sisipkan kisah dalam buku-buku Anda. Kisah tidak berarti mengurangi kadar ilmiah karena lewat kisahlah Anda dapat memikat calon pembaca. Contohnya ketika Anda akan membahas tentang tenaga listrik di Indonesia, Anda dapat memulai kisah tentang sulitnya warga Medan mengalami pemadaman listrik hampir tiap hari. Dari kisah ini dapat Anda telusuri sebab musababnya hingga menyentuh topik yang hendak Anda bahas. Jadi, lewat kisah kita bisa mengantarkan topik.
  6. Opini Anda dalam buku harus terlihat. Anda tidak sedang menulis skripsi, tesis, atau disertasi yang kadang “menyembunyikan” opini penulisnya dengan menyajikan teori-teori pendukung sebanyak-banyaknya. Di buku, opini Anda sebagai penulis harus terlihat eksplisit dan teori-teori pendukung (kutipan) digunakan secukupnya saja.
  7. Ketahuilah apakah di lembaga Anda ada semacam buku gaya selingkung (house style book) seperti yang juga diadakan di LIPI Press. Buku tersebut berisi petunjuk penyusunan naskah buku. Jika ada, buku semacam itu perlu Anda pelajari.
Buku gaya selingkung LIPI Press

Buku gaya selingkung LIPI Press

Itulah tujuh tips awal bagi Anda yang ingin menulis buku ilmiah atau buku nonfiksi populer. Selain menggagas ide baru, Anda dapat juga mengonversi atau menyadur karya-karya dalam bentuk laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi menjadi buku.

Selamat berkarya!

 

©2014 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi penulisan-penerbitan buku yang telah menghasilkan 150 judul buku. Ia kini beraktivitas sebagai writerpreneur dengan mendirikan PT Trimuvi (Cimahi, Bandung) dalam bidang pelatihan dan jasa penulisan bisnis/PR dan CV Detikata Media (Solo) dalam bidang pelatihan dan jasa penulisan akademis.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.757 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: