Berapa Penghasilan Penulis Indonesia

Saya terpaksa membuat tulisan ini. Lho, kok terpaksa? Pasalnya, saya baru membuka tautan info di detik.com tentang penghasilan penulis Inggris yang hanya kira-kira Rp219 juta per tahun. Lalu, saya buka tautan lebih lengkap di theguardian.com.

Pendapatan minimum di Inggris adalah £16.850 menurut Joseph Rowntree Foundation untuk mencapai standar hidup minimum, sedangkan pendapatan para penulis penuh waktu itu hanya £11.000 pada 2013–jauh menurun dari  £12,330 pada 2005. Penulis yang disurvei oleh Author’s Licensing and Collecting Society (ALCS) bekerja sama dengan Queen Mary, University of London sejumlah 2.454 orang (56% laki-laki dan 44% perempuan).

Survei ini juga mendapati data bahwa hanya 11,5% dari para penulis itu yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk menulis–artinya mereka benar-benar bergantung pada tulisan. Angka ini jauh menurun dari tahun 2005 yang ada 40% penulis profesional. Apakah artinya profesi “penulis” tidak cukup seksi di Inggris sekalipun?

Nah, menulis di sini adalah menulis buku dan diterbitkan penerbit. Jadi, para penulis itu sangat bergantung pendapatannya pada industri buku. Royalti menjadi kata yang memberi magnet soal passive income, tetapi pada kenyataannya hanya segelintir penulis yang benar-benar menerima royalti dengan “nilai nendang”. Sekali lagi, saya sudah menuliskan hal ini tahun 2012 lalu di dalam artikel “Mengapa Saya Tidak Bisa Kaya dari Royalti”.

Kembali ke survei bahwa para penulis profesional itu hidup hanya dengan Rp18,25 juta per bulan. Jika dibanding dengan Indonesia, tentu pendapatan itu sangat besar, setara dengan gaji manajer senior. Namun, apakah penulis Indonesia juga bisa mencapai angka sedemikian?

Hitungan sederhana dari royalti:

  • Cetak 3.000 eksemplar, Harga buku Rp50.000
  • Ada pendapatan = Rp150.000.000,00 dengan asumsi terjual semua.
  • Royalti 10% = Rp15.000.000,00

Pertanyaannya, kapan penulis bisa menerima royalti? Tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun? Kalau asumsi bisa cetak ulang dua kali setahun dan terjual 6.000 eksemplar, berarti setahun bisa memperoleh Rp30.000.000,00 atau setara dengan Rp2.500.000,00 per bulan. Kecil sekali, ya.

Untuk mengejar angka penulis di Inggris maka penulis Indonesia harus menulis paling tidak delapan judul buku dan semuanya harus laku. Sesuatu yang berat untuk dilakukan, apalagi bisa meloloskannya ke penerbit.

Bagaimana dengan menulis untuk media massa? Ya sama saja, seberapa produktif Anda bisa menulis setiap hari dan bisa lolos gawang redaksi setiap bulan?

Penghasilan Ideal Penulis Indonesia

Mereka yang mengaku-ngaku sebagai writerpreneur memang perlu disurvei berapa penghasilan yang bisa mereka peroleh murni dari menulis. Saya kerap membaca buku motivasi menulis, selalu yang dijadikan contoh adalah Andrea Hirata dan JK Rowling. Pertanyaan saya, ya berapa orang di Indonesia yang seperti Andrea, tiba-tiba novelnya menjadi gelombang tren baca yang tidak terbendung, lalu mendapatkan royalti miliaran rupiah?

Atau membandingkan dengan penulis buku best seller yang lain seperti Ippho Santosa dengan buku rezekinya dan terdorong hebat juga dari training-trainingnya. Jika ditanya langsung ke Elexmedia berapa orang penulis kayak Ippho, tentu tak sampai 10% dari seluruh penulis seperti itu.

Jadi, idealnya untuk standar hidup layak, penulis Indonesia harus mendapatkan berapa dari royaltinya? Kalau kita patok angka lebih kurang Rp5,6 juta (sesuai dengan rata-rata biaya hidup minimum yang dikeluarkan BPS 2014), diperlukan penghasilan Rp67,2 juta per tahun.

Sebagian besar penulis buku pop tidak ada yang menyentuh royalti pada angka itu per tahunnya, kecuali penulis buku pelajaran. Saya sendiri mengalami hal itu dari menulis buku pelajaran. Itu pun saya harus menulis buku SD kelas I s.d. VI, royalti yang diterima lebih dari Rp100 juta pada tahun pertama dan kedua. Itu yang membuat saya mampu membeli rumah dan menghajikan ayah saya.

Kalau ditanya ideal, tentulah penulis Indonesia paling tidak harus berpenghasilan Rp120 juta per tahun atau Rp10 juta per bulan. Angka ini mungkin agak sulit dipenuhi industri perbukuan dan media mengingat pertumbuhan penulis di Indonesia juga kini pesat sekali, diikuti dengan pertumbuhan penerbit serta judul buku. Di satu sisi minat atau daya beli tidak naik secara signifikan sehingga “pertempuran” di toko buku menjadi sangat dramatis. Ada buku bagus, justru tidak terjual bagus. Ada yang buku tidak bagus-bagus amat, justru dicari banyak orang.

Tahun 2013, TB Gramedia paling tidak menerima 2.700 judul buku baru setiap bulan. Sebagian besar judul-judul itu tidak mampu bertahan selama tiga bulan. Lewat dari rentang waktu tertentu (biasanya satu tahun), buku itu akan diobral dengan “harga yang condong banget” (50%-70% diskon). Penulis pun hanya mendapat “ampas” dari penjualan obral ini.

Writerpreneur Out of the Box

Dalam buku 5W + 1H Writerpreneur saya menyebutkan soal perlunya seorang penulis profesional untuk berpikir out of the box. Dia harus berpikir tidak hanya menggantungkan hidupnya dari menulis buku atau menulis untuk media, tetapi lebih dari itu ia harus memanfaatkan potensi lain. Di antara potensi itu adalah

  1. menjadi pembicara publik atau trainer;
  2. menjadi editor atau konsultan penulisan-penerbitan;
  3. menjadi penulis bayangan atau penulis pendamping.

Ya, lebih berpikir menjadikan keterampilan penulis sebagai jasa atau menjadikan menulis dan editing sebagai bisnis yang bisa ditawarkan kepada siapa pun. Kliennya bisa lembaga pemerintah, perusahaan, lembaga nirlaba, lembaga pendidikan, bahkan perseorangan. Hal ini yang juga saya lakoni sejak tahun 2008.

Sepengamatan saya rata-rata jasa yang dapat diterima seorang penulis untuk penulisan biografi/autobiografi adalah >Rp150.000,00 per halaman (A4; 1,5 spasi). Angka ini bisa melonjak naik sampai Rp500.000,00 per halaman. Jika buku yang disusun rata-rata 200 halaman, penghasilan yang diperoleh bisa mencapai Rp100.000.000,00.

Namun, jangan berdecak kagum dulu, penulisan biografi/autobiografi bisa memakan waktu lebih dari enam bulan, bahkan setahunan. Angka segitu memang layak. Lebih layak lagi jika seharga mobil baru kelas menengah. Pasalnya terkadang narasumber sulit menyediakan waktu atau data-data harus dikumpulkan dulu dari berbagai tempat.

Supaya bisa mengejar standar penghasilan penulisan tadi, tentu sang penulis pro harus mendapatkan pekerjaan dengan nilai di atas Rp20 juta paling tidak untuk enam pekerjaan selama setahun. Produktivitas menjadi tantangannya, termasuk kecepatan penulisan. Satu lagi tentu adaptasinya terhadap industri jasa penulisan itu sendiri terkait deadline dan metode penulisan.

Di luar yang disajikan ALCS tadi memang ada para penulis pro yang mengambil jalur di luar penerbitan buku. Mereka bekerja dalam ranah jasa.

Periuk Nasi dari Menulis

Saya sudah menggantungkan hidup sepenuhnya dari soal menulis ini sejak awal tahun 2012–tak lagi menjadi karyawan. Penghasilan utama saya banyak ditopang dari pekerjaan sebagai pembicara publik dan konsultan penulisan-penerbitan untuk lembaga pemerintah dan perusahaan swasta. Sekali-sekali saya bekerja untuk klien perseorangan.

Alih-alih bekerja sendiri, saya pun mendirikan bidang usaha berbadan hukum untuk layanan penulisan-penerbitan. Saya melihat kebutuhan ini di tengah kecenderungan industri buku yang kurang bergairah sejak 2-3 tahun terakhir ini dari sisi pendapatan. Sulit sekali mengangkat sebuah buku, kecuali dengan keaktifannya penulisnya menjual dalam training atau seminar-seminar. Penerbit tidak punya kekuatan pendanaan untuk promosi judul per judul.

Jadi, yang saya lihat adalah para penulis perseorangan yang ingin eksis menulis buku bukan untuk tujuan penjualan besar-besaran. Kedua, yang saya lihat lembaga pemerintah dan lembaga swasta yang masih kepayahan untuk menerbitkan sebuah buku secara profesional. Ketiga, adalah lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi, yang masih miskin menghasilkan dosen-dosen penulis buku.

Saya mengisi “periuk nasi” ini dari memberi pelatihan dan memberikan konsultasi-pendampingan sampai seseorang mampu menghasilkan karyanya. Saya tidak lagi menggantungkan dari menulis buku meskipun sampai kini saya masih terus menambah portofolio penulisan buku. Saya tetap menulis buku, tetap dengan objektif membantu lembaga/perseorangan. Tahun ini saya membantu lembaga seperti KPK, Pusdiklatnakes, dan IAARD Press (Balitbangtan) untuk menerbitkan buku.

***

Beruntung di negeri ini angka penghasilan per tahun seperti penulis di Inggris itu adalah sesuatu yang masih mungkin diperoleh. Namun, itu tidak dapat digantungkan dengan menulis buku untuk penerbit. Entah sampai kapan itu bisa diharapkan, kecuali tadi saya sebut, Anda menulis buku pelajaran yang potensi pasarnya sudah jelas: jutaan siswa di Indonesia. Atau Anda beruntung menjadi penulis best seller selanjutnya– tentu best seller yang sebenarnya bukan abal-abal.

Mau tahu banyak lagi? Anda harus menyempatkan diri sekali waktu mengikuti kelas saya di Trimuvi (MUVI Learning Center) Cimahi, Bandung. Kami membuat program-program praktis untuk mencetak para writerpreneur. []

 

Kabar dari Klien: Subdiklatnakes Kemenkes Terbitkan Buku Ajar

Sejak bulan Mei 2014 lalu, saya memberikan pembekalan untuk sejumlah pendidik di lingkungan Subdiklatnakes, Kemenkes RI. Mereka adalah para dosen di Poltekkes dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka terpilih untuk menjadi penyusun buku ajar untuk mata kuliah Kesehatan Ibu dan Anak serta Imunisasi.

Buku ajar pertama yang diterbitkan Subdiklatnakes sebelumnya adalah Pendidikan dan Budaya Antikorupsi (PBAK). Buku ajar PBAK kini dalam proses cetak untuk mulai dipakai pada tahun ajaran 2014/2015 September mendatang. Adapun buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Imunisasi menyusul kemudian sebagai buku yang diterbitkan kedua dan ketiga.

Kegiatan penyusunan buku ini dimulai dengan kegiatan pembekalan atau workshop singkat bagaimana menyusun buku ajar. Seperti biasa saya memulai dari pendekatan prewriting, lalu drafting. Peserta diajak untuk membedah outline yang sudah disusun, termasuk berpatok pada kurikulum serta silabus.

Penyusunan buku memang harus dikoordinasi sedemikian rupa karena satu buku dibuat oleh tim. Untuk itu, perlu adanya kesepatakan dari tim tentang bobot pekerjaan yang mereka lakukan serta teknik penyajiannya yang diusahakan harus seragam. Hal ini menyangkut masalah konsistensi nantinya pada saat diterbitkan.

Presentation1

Rata-rata buku berketebalan 198 halaman dan ditampilkan secara berwarna karena menggunakan beberapa foto sebagai penjelasan. Penanganan editorial dikerjakan langsung oleh tim saya di Trim Komunikata dengan penyeliaan langsung oleh saya. Ini pengalaman kami selanjutnya setelah sebelumnya juga menyelesaikan beberapa buku untuk KPK, PTPN XII, PT Badak NGL, dan juga yang akan datang yaitu IAARD Press, Balitbangtan, Kementerian Pertanian.

Saya bersama tim juga tengah bersiap mengerjakan enam judul buku  untuk Ditjen Binapenta, Kemnakertrans. Khusus untuk pekerjaan ini kami mulai dengan bantuan penulisan hingga penerbitannya.

Semangat kami adalah semangat membantu siapa pun, apakah itu perusahaan swasta atau lembaga pemerintah dan perseorangan untuk dapat menerbitkan buku secara baik dan benar, serta ditangani secara profesional.


 

Tertarik bekerja sama dengan saya dan tim dalam pengerjaan buku Anda? Silakan kontak via WA/HP di 081519400129 atau tambahkan PIN BB saya 749FE40E.

MENULIS BUKU YANG PASTI, BUKAN OBSESI

Galau adalah kata yang akrab untuk para pemula yang ingin menulis buku. Bagaimana tidak? Banyak bayangan yang mengganggu benak mereka soal buku. Ya, kapan namaku dapat terpampang di sebuah kover buku?

Saya bisa merasakan bayangan yang mengganggu atau bentuk kegalauan positif seperti ini. Coba bayangkan para pensiunan yang kerap bingung hendak melakukan apa selepas pensiun. Padahal, saya bisa menawarkan satu hal yang menarik, apalagi kalau bukan MENULIS BUKU!

Ibu-ibu yang perlu penghasilan tambahan di rumah juga. Pekerjaan apa yang paling memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan di antara pilihan bisnis lainnya? Ya, MENULIS BUKU, terutama MENULIS BUKU UNTUK ANAK.

Tapi, apa mungkin keterampilan menulis bisa dipelajari. Memang Anda tidak perlu bakat, yang penting punya niat dan hasrat. Anda harus temukan pengalaman baru menulis buku yang mengasyikkan, menggetarkan, sekaligus membangkitkan semangat tinggi.

Nah, di TRIMUVI [Move on Your Idea], kami akan mewujudkan satu impian Anda. Ide buku Anda akan dimatangkan judulnya, lalu diwujudkan kover bukunya oleh desainer kami yang sudah terlatih.

Lho, mengapa kovernya doang? Tentu kover buku yang sudah jadi ini bisa Anda pampangkan sebagai pra-promosi dan itu tadi akan mendorong Anda untuk benar-benar fokus menyelesaikan buku tersebut.

Tunggu dulu, tidak hanya kover. Kami juga akan membuatkan template layout buku Anda apabila Anda bisa menyelesaikan halaman prelims (pendahulu) dan satu bab awal dalam rentang kursus dua hari. Prototipe buku Anda pun sudah terlihat.

Ajaib! Nggak juga, ini bisa dilakukan karena akselerasi, buah dari pengalaman saya selama dua puluh tahun berkecimpung dalam bidang penerbitan buku dan menulis 150+ judul buku serta membantu banyak lembaga ternama untuk menghasilkan buku, seperti KPK, Pusdiklat Kemenhut, Pusdiklat Kemenkes, PT Badak NGL, Binus Media & Publishing, Radiks, dan perseorangan.

Gimana Anda masih menimbang-nimbang? Anda mau melewatkan kesempatan untuk MENULIS BUKU lagi? Jangan lihat investasinya karena semua akan terganti berkali-kali lipat jika buku Anda sudah jadi. Bagaimana bisa jadi? Karena Anda terus akan mendapatkan pendampingan, bahkan bantuan penerbitannya.

Gimana?

PubTrainingTrimuviSept2014

Akhir Pekan Belajar Nulis Buku

Belum punya jadwal akhir pekan minggu pertama September 2014? Namun, ini yang lebih penting. Punya obsesi menulis dan menerbitkan buku karya Anda tahun 2014 ini? Kursus di Cimahi (Bandung) ini dapat menjadi pilihan Anda.

KURSUS MENULIS BUKU (NONFIKSI POPULER) diselenggarakan untuk angkatan IV di MUVI Learning Center. Saya (Bambang Trim) akan menjadi trainer/tutor utama kursus ini dibantu Tasaro GK untuk menguatkan unsur berkisah dalam tulisan Anda. Salah satu kelebihan kursus ini bahwa Anda akan dipacu untuk mampu melahirkan sebuah konsep buku lengkap dengan outline. Berdasarkan konsep itu, kover buku Anda pun akan langsung disiapkan oleh desainer kami.

Anda pulang sudah membawa konsep, draf naskah, dan kover buku. Silakan pajang kover buku itu untuk terus mengingatkan Anda agar menyelesaikan naskah sampai tuntas. Jika sudah tuntas, silakan dikonsultasikan lagi kepada Bambang Trim untuk strategi penerbitannya.

Oke, kami tunggu pendaftaran Anda segera.

TrainingMUVI2014

 

 

 

Dasar Pembagian Bentuk dan Ragam Tulisan

Bentuk tulisan berikut ini mungkin akrab dalam ingatan Anda, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi. Ada yang menikmati dan bersemangat dengan materi pembelajaran mengarang ini di sekolah dasar. Namun, tidak sedikit pula yang dibuat pusing dengan pembagian bentuk ini.

Tulisan ini tidak hendak memaparkan tentang pembelajaran mengarang dari keempat bentuk tulisan tersebut. Namun, bagi mereka yang berkiprah di dunia tulis-menulis atau karang-mengarang, pentinglah untuk mengetahui dasar pembagian bentuk serta ragam tulisan/karangan.

Mengutip The Liang Gie dalam bukunya Terampil Mengarang (Penerbit Andi, 2002) pembagian bentuk tadi disebut sebagai klasifikasi pertama atau klasifikasi induk. Sebagai induk maka wajar jika kita dikenalkan pada jenis tulisan/karangan tersebut kali pertama belajar di SD. Kita tidak dikenalkan pembagian secara jenis, seperti fiksi, nonfiksi, dan faksi.

Klasifikasi kedua atau klasifikasi turunan memaparkan hierarki berikut ini:

RAGAM

JENIS

RANAH/LARAS

MACAM

Klasifikasi kedua didasarkan pada tujuan dan isi (konten) bahan tulisan tersebut. Tujuan orang mengarang pada dasarnya dibagi dua, yaitu

  1. memberi informasi, memberitahukan sesuatu;
  2. memberi hiburan, menggerakkan hati.

Dari tujuan memberi informasi maka tersurat adanya data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan si penulis/pengarang. Karena itu, tulisan/karangan jenis ini disebut tulisan/karangan faktawi.

Sebaliknya, tujuan tulisan/karangan untuk memberi hiburan lazimnya didasarkan dari hasil imajinasi, fantasi, dan khayalan si penulis/pengarang. Karena itu, tulisan/karangan jenis ini disebut tulisan/karangan khayali (The Liang Gie, 2002: 26).

The Liang Gie menyebutkan istilah yang digunakan John Riebel dalam bukunya How to Write Reports, Papers, Theses, Articles terbitan 1978, untuk kedua ragam tulisan/karangan tersebut yaitu factual writing dan imaginative writing. Jadi, ragam tulisan/karangan dapat dibagi ke dalam dua tulisan/karangan besar.

RAGAM TULISAN_Page_1Selanjutnya, karangan faktawi dapat dipecah lagi berdasarkan pembaca sasaran yang dituju yaitu karangan ilmiah dan karangan informatif. Karangan ilmiah ditujukan untuk kalangan pembaca yang termasuk pakar/ahli atau berpendidikan tinggi, sedangkan karagan informatif lebih ditujukan pada masyarakat secara umum.

Saya kemudian mencoba memodifikasi lagi hierarki ragam tulisan seperti berikut ini:

RAGAM TULISAN_Page_2

Untuk tulisan/karangan faktawi, saya menggunakan istilah umum saat ini yaitu nonfiksi. Untuk tulisan/karangan khayali, saya menggunakan istilah fiksi yang pada dasarnya sama dengan genre dalam karya sastra. Selanjutnya, ada satu genre yang saya masukkan sebagai faksi yaitu gabungan antara fakta dan fiksi dengan contoh biografi, autobiografi, dan memoar.

Di samping pembagian yang didasarkan pada tujuan dan isi tulisan/karangan, ada pembagian yang didasarkan pada sifat publikasi seperti berikut ini.

Sifat Tulisan Deskripsi dan Contoh
Tulisan/Karangan Pribadi Tertutup Tulisan bersifat pribadi atau antara dua orang yang memiliki hubungan khusus hingga cenderung dirahasiakan, seperti surat wasiat, surat cinta, surat rahasia.
Tulisan/Karangan Pribadi Terbuka Tulisan bersifat pribadi yang cenderung sengaja atau dibiarka dibaca oleh orang banyak, seperti pembaruan status di media sosial, surat terbuka, iklan permohonan maaf.
Tulisan/Karangan Publik Terbatas Tulisan bersifat umum untuk kalangan terbatas di suatu lingkungan (perusahaan, lembaga pemerintah, dan komunitas), seperti surat keputusan, proposal, teks pidato.
Tulisan/Karangan Publik Tidak Terbatas Tulisan bersifat umum untuk kalangan tidak terbatas dan sengaja dibuat agar dibaca sebanyak mungkin orang, seperti artikel media, berita media, iklan produk.

 

Nah, itulah dasar-dasar pembagian bentuk dan ragam tulisan/karangan sehingga kemudian muncul berbagai macam karangan/tulisan dengan ciri-ciri tertentunya. Para penulis yang mengambil jalan writerpreneur ada yang memilih spesialisasi berada pada satu jenis tulisan/karangan atau ada yang memilih jalur generalis dengan berada di tiga jenis tulisan/karangan sekaligus (fiksi, nonfiksi, dan faksi).

Berkiprah di Banyak Ranah

Lalu, apakah mungkin seseorang dapat menguasai berbagai jenis tulisan atau ranah/laras tulisan? Pada dasarnya menulis adalah keterampilan hidup yang dapat dikuasai siapa pun. Otak dan kemampuan manusia sangatlah mampu untuk mengenali dan mempraktikkan begitu banyak macam tulisan. Sebagai contoh: apakah Anda bisa membedakan berita dan feature? Apakah Anda bisa membedakan artikel dan esai?

Pembeda-pembeda itu dapat dikenali dari segi konten (isi) dan juga cara penyajian tulisan. Beberapa tulisan seperti dalam ranah jurnalistik dianalogikan ke dalam beberapa bentuk, seperti berita sama dengan segitiga terbalik dan artikel sama dengan jam pasir.

Saya sendiri yang termasuk berkiprah di banyak ranah. Dalam studi S1 di Sastra Indonesia, Unpad, saya mempelajari porsi lebih besar untuk publishing science. Namun, saat menyusun skripsi, saya memilih jalur penelitian sastra anak. Hal ini menarik minat saya untuk mempelajari menulis untuk anak. Alhasil, karena membuat skripsi yang mengandung kritik terhadap penyajian novel anak, saya pun berusaha membuat buku anak yang memenuhi kriteria layak baca untuk anak.

Pada Lomba Penulisan Cerita Keagamaan (Depag RI, 2000) yang ditujukan untuk tingkat pembaca SD, karya saya Pesta Sayuran mendapatkan penghargaan juara I. Juri lomba di antaranya Ibu Titi Said (alm.) yang salah satu karya novel anaknya termasuk karya yang saya kaji di dalam skripsi dan saya kritik (tanpa beliau tahu tentunya). Skripsi saya sendiri kemudian mendapat bantuan Program Pustaka I Ford Foundation dan Adikarya Ikapi untuk diterbitkan menjadi buku.

Tulisan untuk anak, saya ketahui kemudian termasuk ranah tersendiri dengan pembagian jenis yang sama, yaitu fiksi anak, nonfiksi anak, dan faksi anak. Pembeda yang jelas antara karya untuk anak dan karya untuk orang dewasa adalah dari segi penyajian bahasa, kadar isi (konten), dan adanya beberapa “pantangan” yang perlu diperhatikan seperti sifat menggurui.

***

Silakan mencermati dasar pembagian bentuk dan ragam tulisan/karangan agar Anda semakin paham beradaptasi untuk menjadi penulis. Pembagian ini tidak selalu sama dengan beberapa pendapat lain. Sebagai contoh soal faksi, mungkin masih ada yang menganggapnya tetap berada pada genre nonfiksi.

Semoga bermanfaat.


©2014 oleh Bambang Trim

Praktisi penulisan-penerbitan yang kini berkonsentrasi pada pengembangan pelatihan dan jasa penerbitan pada ranah penulisan bisnis dan penulisan akademis. Ia telah menulis lebih dari 150 judul berbagai jenis. Lulusan D3 Prodi Editing Unpad dan S1 Sastra Unpad ini juga pernah mengajar di almamaternya dan juga di Jurusan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta dan Politeknik Negeri Media Kreatif.

Follow: @bambangtrim | Fanpage FB: Jejaring Bambang Trim | WA 081519400129

 

 

Peluang Berkembangnya University Press

Tahun 2014 menjadi awal kerja sama saya dengan Binus Media & Publishing dan IAARD Press, Balitbang Kementan. Untuk kesekian kali sebagai praktisi di bidang penerbitan, saya melibatkan diri dalam proses pengelolaan penerbitan buku di lingkungan perguruan tinggi (PT) atau lembaga penelitian.

Meski secara umum dianggap tidak terlalu “seksi”, industri penerbitan buku ilmiah atau buku teks perguruan tinggi tetap menarik beberapa kalangan untuk menggelutinya. Secara usaha, bisnis ini berkembang dalam bentuk tiga jenis berikut ini.

  1. University press yaitu badan penerbitan (terkadang sekaligus percetakan) yang dijalankan langsung oleh sebuah perguruan tinggi sebagai unit usaha.
  2. Text book publisher yaitu badan penerbitan swasta yang dijalankan pihak di luar perguruan tinggi.
  3. Vanity publisher yaitu badan penerbitan yang lebih menawarkan jasa kepada para akademisi untuk menerbitkan dan mencetak buku dalam tiras terbatas.

Kurang berkembangnya minat menulis buku di perguruan tinggi membuat laju perkembangan university press pun tersendat. Fakta yang terlihat tidak semua PTN di Indonesia memiliki unit usaha penerbitan, termasuk PTS. Alhasil, pasokan buku untuk perguruan tinggi tertentu kadang dipenuhi oleh pihak swasta.

Sejak saya kuliah di Prodi D3 Editing Unpad, soal university press sendiri menjadi bahasan menarik karena salah seorang dosen saya, Ibu Sofia Mansoor, menjadi pegiat di Penerbit ITB. Namun, di Unpad sendiri, university press tidak berkembang sebagaimana mestinya meskipun ada Prodi Editing yang notabene mempelajari ilmu penerbitan (publishing science). Lewat dosen saya, alm. Bapak Dadi Pakar, saya sempat dipertemukan dengan Rektor Unpad, Ganjar Kurnia, untuk membahas pengembangan Unpad Press. Akan tetapi, karena kesibukan saat itu di penerbit baru Salamadani, saya tidak dapat melanjutkan pembahasan pengembangan Unpad Press.

Satu hal yang penting dalam pengamatan saya saat itu hingga kini bahwa university press seyogianya dikelola secara profesional oleh orang-orang yang mengerti industri buku, bukan sekadar pernah menulis buku atau ditugaskan mengelola penerbitan tanpa pengetahuan yang memadai. Banyak aspek dalam industri penerbitan buku perguruan tinggi ini yang perlu dipahami dan diaplikasikan, seperti proses akusisi naskah, proses editorial, hingga proses promosi dan pemasaran buku.

Bambang Trim, dalam sesi pendampingan penulisan buku ilmiah populer untuk IAARD Press

Bambang Trim, dalam sesi pendampingan penulisan buku ilmiah populer untuk IAARD Press

Elang Ilik Martawijaya adalah contoh profesional yang diterjunkan untuk mengelola university press yaitu IPB Press. Sebelumnya, saya mengenal Mas Elang sebagai praktisi di bidang pemasaran buku (Grup Gramedia) dan kemudian berwirausaha sendiri membuat toko buku diskon. Ia yang juga alumnus IPB, kemudian menjadi pegiat IPB Press menuju university press yang profesional. Dalam buku mungilnya berjudul Bisnis Buku di Kampus (IPB Press, 2011) ia menyatakan salah satu bidang strategis dalam PT adalah bisnis buku.

Apa pasal? Hal ini karena PT sangat terkait dengan dunia perbukuan dan salah satu penentu ranking PT adalah jumlah publikasi ilmiah yang telah diterbitkan. Tentu PT yang mampu mengelola suatu usaha penerbitan secara langsung dapat mengangkat citra perguruan tinggi tersebut.

Dalam soal bisnis, jelas bahwa pasar buku di PT adalah pasar yang captive (terbatas) dan niche (ceruk). Peluangnya bahwa meskipun dicetak dengan oplag kecil (1.000 eksemplar) atau oplag standar (3.000 eksemplar), target pembaca sasarannya sudah jelas yaitu mahasiswa dan dosen. Soal oplag kecil ini juga sudah ada solusinya dengan pencetakan manasuka (print on demand) yang kini juga telah banyak dimiliki unit percetakan di Indonesia.

Dorongan lain adalah terbukanya menerbitkan buku-buku jenis pasar ceruk yaitu buku sangat spesifik membahas satu bidang ilmu. Mungkin yang memerlukan sedikit, tetapi sangat penting untuk diterbitkan sebagai sumbangan kecendekiaan.

Tantangan Pengembangan

Seperti juga bidang lain, university press menghadapi tantangan pengembangan. Masalah aplikasi teknologi yang muncul sepuluh tahun lalu, kini justru telah teratasi dengan kemajuan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Bahkan, teknologi penerbitan buku elektronis sudah sedemikian mudah dan murah untuk dilaksanakan.

Tantangan terbesar adalah sumber daya manusia bidang penerbitan, termasuk sumber daya penulisan. Sepengalaman saya mengelola editorial buku-buku ilmiah PT dan memberikan pelatihan penulisan buku ilmiah populer, banyak sekali akademisi (dosen, guru, peneliti) kita yang masih gamang menulis, terutama menulis untuk dapat dibaca masyarakat luas.

Usaha besar-besaran untuk melatih kemampuan menulis para dosen dan peneliti perlu dilakukan agar mereka mendapatkan bekal yang cukup untuk mau dan mampu menulis buku. Hal ini semakin mudah untuk diwujudkan karena Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) telah didirikan sejak 2010 yang hingga kini beranggotakan lebih dari 100 PT.

Konversi Karya Tulis Ilmiah

Satu keterampilan penting yang perlu dimiliki akademisi PT adalah konversi karya tulis ilmiah (KTI) nonbuku menjadi KTI buku atau konversi dari ilmiah murni menjadi ilmiah populer. Istilah konversi ini kerap juga disebut penyaduran karya ke bentuk lain. Jadi, berbeda dengan istilah saduran dalam karya sastra.

Contoh keliru soal ini bagaimana para penulis skripsi/disertasi/tesis dan laporan penelitian mencoba membukukan karya ilmiah tersebut. Kerap terjadi karya itu dibukukan apa adanya tanpa melakukan penyaduran atau konversi terlebih dahulu. Alhasil, tetap saja karya itu tidak bisa berkomunikasi dengan masyarakat luas.

Selain itu, masalah lain adalah penerapan gaya selingkung (house style) yang tidak taat asas. Bayangkan, masih ada akademisi kita yang tidak bisa membedakan foreword dan preface atau reference dan bibliography.

***

Indonesia tentu bisa. Begitupun PT, baik itu PTN atau PTS di seluruh Indonesia pasti mampu untuk mengembangkan usaha penerbitan buku-buku ilmiah ataupun bentuk penerbitan lain secara lebih profesional. Saya sendiri tetap berjuang dan berkomitmen membantu banyak PT agar mampu mengembangkan usaha penerbitan buku (university press) lebih baik lagi. Ya, kita harus bisa tampil seperti Cambridge University Press, Oxford University Press, atau Harvard University Press.

©2014 oleh Bambang Trim

Praktisi penerbitan, penulis 150+ buku, editor dan konsultan penerbitan, Ketua Kompartemen Diklat-Litbang-Informasi Ikapi.


Catatan:

Bambang Trim telah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dan lembaga penelitian di bidang penerbitan buku di antaranya LIPI Press, IAARD Press (Balitbang Kementan), UB Press, P2M2 Universitas Terbuka, UNS Press, Binus Media & Publishing, Akper Bina Insan (Jakarta), Pusdiklat Kemenkes, Pusdiklat Kemenhut, Unpad Press, FEB Universitas Jambi, FE Universitas Padjadjaran, Unpad Press, Politeknik Negeri Media Kreatif (Jurusan Penerbitan), Politeknik Negeri Jakarta (Jurusan Penerbitan), Universitas Multimedia Nusantara, FSRD Institut Kesenian Jakarta, dan Comlabs ITB.

Kontak Bambang Trim untuk kerja sama dalam pelatihan dan pengembangan university press WA +6281519400129/Pin BB 749FE40E

Seberapa Besar Modal Writerpreneur

Tulisan ini menjadi tulisan lanjutan dari status saya di fanpage Jejaring Bambang Trim tentang writerpreneur.

Seseorang yang memutuskan menjadi writerpreneur, pengusaha di bidang penulisan, tentu akan sampai pada seberapa besar modal yang diperlukan untuk itu. Saya pernah juga membahas soal ini dan kaitannya dengan peralatan yang kita perlukan.

Namun, menjadi seorang writerpreneur tidaklah memerlukan modal sebesar menjadi penerbit, apalagi pencetak. Modal utama seorang writepreneur adalah keterampilan atau skill dirinya sendiri. Skill berhubungan dengan kecepatan dan kemampuan mengembangkan ide-ide penulisan.

Lalu, bagaimana dengan alat kerja yang kita perlukan. Terus terang modal kerja terbanyak yang saya habiskan adalah untuk buku atau referensi karena makin banyak referensi berada dalam jangkauan saya, makin cepat saya untuk menulis.

Saya memiliki satu kemampuan anugerah Yang Mahakuasa. Keterampilan itu saya sebut interconnecting–kemampuan menghubungkan keperluan informasi dengan referensi yang tersedia. Karena hampir semua buku saya baca dan saya kenali, saya dapat dengan mudah mencari sebuah sumber berdasarkan ingatan (koneksi) dari koleksi yang saya miliki.

Sebenarnya ini bukan keajaiban, hanya kemampuan mengingat saja saking dunia teks itu sudah mengalir di dalam diri saya. Saya kadang membeli buku bukan untuk “dibaca”, melainkan untuk dijadikan referensi dan dikaji. Ya misalnya, ada buku yang begitu laku, lalu saya beli. Saya bukan tertarik pada isinya bukunya, tetapi tertarik mengapa buku seperti ini bisa laku. Jadi, yang saya lakukan adalah meriset buku tersebut.

Modal Alat

Baiklah, saya mulai saja dengan modal alat yang paling diperlukan seorang writerpreneur. Anda pasti sudah tahu, itulah PC atau laptop. Saya memiliki keduanya karena kalau di rumah saya lebih nyaman dengan PC dan kalau di luar untuk mobile, saya baru menggunakan laptop.

PC/Laptop. Untuk urusan harga Anda tentu sudah mafhum yaitu dalam kisaran Rp4 juta sampai yang tercanggih seharga belasan juta. PC yang saya pakai sekarang tergolong jadul hanya menggunakan prosesor Intel Core 2 Duo. Ya, karena program umum yang saya gunakan adalah MS-Word. Hanya beberapa buku yang saya kerjakan langsung dengan In-Design dan Photoshop. Jadi, jelas pertama kita perlu Rp4.000.000,00.

Printer. Apakah perlu? Ya, kadang-kadang saya mencetak dokumen untuk melakukan editing mekanik (mechanical editing) jika dokumen tidak terlalu panjang. Printer juga berguna untuk mencetak surat atau proposal. Di rumah yang merangkap kantor, saya punya satu printer Epson A3 fullcolor dan satu printer laser HP ukuran A4. Jika Anda memerlukan, tentu harus merogoh kocek juga dalam kisaran Rp2.000.000,00 s.d. Rp6.000.000,00.

Scanner. Apakah perlu juga? Ya, kadang-kadang perlu jika kita tidak memperoleh materi grafis dari internet, tetapi berupa bahan tercetak. Contoh, kliping koran ataupun foto jadul. Kita bisa melengkapi kemudian dengan harga di bawah Rp1.000.000,00.

Kamera Digital. Apakah perlu? Kalau Anda berminat dalam fotografi dan punya insting fotografer, hasil jepretan Anda bisa sangat berharga untuk nantinya menjadi bahan visual buku atau juga bahan visual promosi. Bolehlah Anda investasikan Rp3.000.000,00 atau lebih untuk alat ini.

Dari semua alat kerja desktop publishing itu tentu yang paling penting dan prioritas adalah PC/laptop. Alat lain bisa Anda cicil melengkapinya dengan mengumpulkan dana dulu dari beberapa order pekerjaan yang bisa Anda dapatkan.

Sudut ruang kerja saya sebagai writerpreneur

Sudut ruang kerja saya sebagai writerpreneur

Modal Operasional

Tentulah ada biaya lain di luar alat yang sangat diperlukan seorang writerpreneur. Untuk konteks kini salah satu yang penting adalah jaringan internet. Saya menggunakan jaringan Speedy Telkomsel dengan biaya bulanan lebih kurang Rp700.000,00.

Biaya listrik bisa juga menjadi komponen yang kita hitung karena komputer dan peralatannya pasti menyala sangat lama saat kita bekerja. Saya sendiri menggunakan daya listrik 2.200 VA karena juga menggunakan beberapa komputer untuk tim dengan biaya bulanan rata-rata Rp400.000,00.

Selain itu, ada biaya yang saya keluarkan untuk wara wiri bertemu dengan calon klien atau klien di luar kota, umumnya di Jakarta. Paling tidak sekali ke Jakarta saya menghabiskan dana lebih kurang Rp400.000,00 terbatas atas 1) biaya mobil travel pp Rp200.000,00; 2) biaya transportasi dalam kota Rp100.000,00; 4) biaya makan Rp100.000,00. Ya, tentu saya akan mendatangi calon klien potensial. Terkadang untuk menghemat biaya, saya menggabungkan pertemuan dalam satu hari antara 2-3 pertemuan.

Hitungan operasional bulanan memang bisa mencapai Rp2 jutaan. Mungkin tampak tinggi, tetapi ini sesuai dengan target pasar yang hendak kita bidik.

Di luar ini ada juga biaya seperti pembuatan web serta juga biaya pendirian perusahaan lengkap dengan legalitas perusahaan yang menjadi biaya-biaya awal dalam kapasitas kita bekerja sebagai seorang profesional.

Modal Dengkul

Mungkin Anda penganut bisnis tanpa modal, tetapi sepengalaman saya hal itu memang sulit dilakukan. Paling tidak yang utama Anda harus punya laptop agar Anda bisa bekerja mobile. Cara paling umum adalah memanfaatkan fasilitas kafe yang menyediakan colokan listrik dan hot spot internet. Alhasil, Anda bisa menghemat biaya operasional dan menggantinya dengan biaya satu cangkir kopi, sebotol air mineral, dan sepiring nasi goreng.

Anda bisa masuk ke zona profesional yang benar-benar memiliki sebuah perusahaan berbadan usaha/hukum dengan menabung hasil jasa yang Anda jual. Ya, Anda paling tidak harus menghasilkan >Rp5 juta per bulan dari menjual jasa menulis dan menyunting plus layout jika Anda bisa melakukannya. Di sini Anda harus berani mematok DP 50% dari total biaya penulisan atau pembayaran di muka 100% jika pekerjaannya di bawah Rp2 jutaan.

***

Itu saja dulu. Pertanyaan bisa Anda ajukan lewat komentar di bawah ini. Anda juga bisa menunggu terbitnya buku saya tentang writerpreneur yaitu A-Z Writerpreneur yang terbit akhir tahun ini.

Salam writerpreneur!

©2014 oleh Bambang Trim

Buku WAR untuk Anda Para Writerpreneur

WAR ~ Writing and Revolution: Menjadi Pemenang dengan Konten dalam Jaringan | Buku terbaru karya Bambang Trim dan Jefferly Helianthusonfri.

Fenomena Pilpres 2014, seliweran informasi di media sosial dalam jaringan (daring/online), serta tumbuhnya geliat para penulis sungguh menjadi ide bahwa kini terjadi revolusi dalam dunia penulisan–jauh dari yang kita bayangkan satu atau dua dekade yang lalu. Bersua dengan Jefferly Helianthusonfri, anak muda yang bergiat dalam internet marketing dan sekarang bersiap kuliah di Univ. Multimedia Nusantara melahirkan ide untuk membukukan fenomena ini.

Jadilah kami berencana berduet berdua menyusun buku yang diberi judul tentatif WAR ini. Kita benar-benar berada dalam kancah “peperangan konten” dan betapa ilmu penulisan serta bisnis penulisan akan menjadi primadona untuk berjaya dalam pencitraan, pendorong perubahan, dan penyebaran pemikiran-pemikiran baru maupun pemikiran usang yang hendak dihidupkan kembali.

Malam ini (18/07) saya sudah mulai mengerjakan draf mengingat saya sudah berjanji untuk mengirimkan draf ini hari Senin kepada Jeff. Duet menulis ini juga akan disajikan secara unik ketika saya dan Jeff akan bergantian memberi komentar tiap subbab bahasan.

Ini bocoran isinya agar Anda bisa memosisikan diri apakah Anda pembaca yang kami tuju.

________________________________

Prakata
Prolog: Dalam Kancah Perang Konten

BAGIAN I: MENGAPA MENULIS ITU PERLU
1. Ketika Semua Orang Bebas Menulis
2. Tulisan Berdaya vs Tulisan Tidak Berdaya
3. Temukan Potensi Anda dalam Menulis

BAGIAN II: MENGAPA PEMASARAN INTERNET ITU PERLU
1. Menuju Melek Internet
2. Mencetak Hits dengan Blog/Situs Anda
3. Satu Juta Pertama dari Akun Anda
4. Temukan Potensi Anda dalam Pemasaran Internet

BAGIAN III: MENGGABUNGKAN DUA KEKUATAN
1. Menulis OK, Internet Tidak OK
2. Internet OK, Menulis Tidak OK
3. Writerpreneur Sebagai Pilihan
4. Mengendalikan Media Sosial dengan Tulisan
5. Menjual Produk Tulisan Secara Daring
6. Menjual Jasa Penulisan Secara Daring

Daftar Pustaka
Glosarium
Indeks
Tentang Penulis

____________________________

Salah satu buku yang mengilhami saya untuk menulis buku ini adalah “DIGITAL WARS” karya Charles Arthur. Ini bukan buku tentang cara menulis, melainkan buku tentang bagaimana memanfaatkan keterampilan menulis untuk berjaya dalam era “perang” media digital.

Terbit awal September 2014.

©2014 oleh Bambang Trim

Lima Kiat Membangun Lumbung Ide

Ide adalah sebuah penemuan, bukan pencarian.

Ya, ide memang sesuatu yang unik ibarat jelangkung: datang tidak diundang, pulang tidak diantar. Ide bisa tiba-tiba datang dan tiba-tiba pula menghilang sehingga membuat kita kerap gelagapan karena lupa mengikatnya.

Beda penulis produktif dan tidak produktif tentu saja tampak dari produksi idenya menjadi tulisan. Begitu pula beda penulis kreatif dan penulis tidak kreatif juga dapat dilihat dari kualitas ide yang dihasilkan. Karena itu, dalam dunia penerbitan ada adagium seperti ini:

Ide baik di tangan penulis yang buruk, tetap akan terlihat baik. Ide buruk di tangan penulis yang baik, tetap akan terlihat buruk.

Contohnya, bisa saja suatu kali kita membaca tulisan seorang penulis favorit, tetapi sangat buruk dalam penyajian idenya. Ya, mungkin dia sudah kehabisan ide-ide bagus.

Ide yang Bertumbuh dan Berkembang

Nah, ide itu ternyata bertumbuh dan berkembang di tangan para penulis kreatif. Jadi, ada IDE UTAMA yang saya sebut sebagai ide konten tulisan–biasa diterjemahkan ke dalam topik serta judul. Lalu, ada IDE TURUNAN yaitu ide penyajian dan pengemasan tulisan. Di sinilah sebuah gaya menjadi teramat penting.

Paling gampang saya contohkan buku lawas best seller karya Robert T. Kiyosaki berjudul Rich Dad Poor Dad. Idenya bukan hal baru yaitu ilmu dan kiat menjadi orang kaya. Namun, penyajian dan pengemasannya yang berbeda karena Kiyosaki menulis buku bisnis seperti sebuah novel yang berkisah tentang ayah kandungnya yang miskin dan ayah angkatnya yang kaya–di luar masalah kebenaran kisah ini yang pernah diperdebatkan.

Lima Kiat Membangun Lumbung Ide

Tentu yang paling penting kita lakukan pertama adalah mengumpulkan sebanyak mungkin IDE UTAMA dan menciptakan lumbung di folder-folder komputer kita. Ada banyak cara untuk menghasilkan ide atau tepatnya bersua dengan ide. Saya hanya menyajikan lima cara.

Banyak Membaca. Tiga hal yang mendorong Anda akan banyak membaca adalah berkunjung ke toko buku, berkunjung ke perpustakaan, dan membeli/meminjam buku untuk dibaca di rumah. Tentu Anda harus membaca sesuatu yang menarik minat Anda, apa pun bidangnya. Lalu, saat membaca, siapkanlah catatan kecil untuk mengikat ide-ide yang berseliweran. Pada prinsipnya memang Anda tidak harus membaca buku untuk bersua ide, sebuah brosur tempat wisata pun bisa memantik ide Anda jika Anda meluangkan waktu untuk membacanya. Atau sebut saja daftar harga sepeda motor keluaran merek tertentu bisa memantik ide Anda untuk menulis tentang sepeda motor. Jadilah tulisan berjudul “Balada Sepeda Motor”. Nah, apakah tulisan itu menjadi cerpen, feature, atau esai, terserah pada Anda.

Banyak Berjalan. Jangan terlalu sering terkungkung di rumah, sekali-sekali atau banyak sekali keluarlah dan kunjungi tempat-tempat yang bisa menstimulus ide Anda. Keluar dari rumah Anda dan pandangilah rumah Anda atau pandangilah rumah-rumah tetangga Anda, adakah hal aneh yang Anda lihat. Jadi, berjalan di sini tidak harus Anda plesiran ke tempat wisata. Berjalan itu bisa ke pasar tradisional, ke mall, ke sekolah anak, ke kantor pos, ke rumah sakit, dan banyak tempat lain yang bisa memantik ide Anda. Sekali lagi, jadikan gadget Anda itu lumbung ide. Tiga hal yang bisa Anda lakukan dengan gadget Anda adala foto, rekam (suara Anda), atau catat apa yang Anda lihat dan Anda rasakan tentang suatu tempat/suasana.

Banyak Bersilaturahmi. Bertemu banyak orang atau sengaja mengunjungi orang tertentu? Nah, ini salah satu jalan untuk menstimulus ide muncul. Ngobrol dan diskusi itu bisa memantik banyak ide. Kalau saya malah lain, bertemu dengan banyak orang, malah saya yang sering memberi ide ke orang itu, hehehe. Sekali lagi, gunakan senjata mustika “gadget” Anda.

Banyak Mengamati Media. Baca koran, baca berita online, baca majalah, atau baca lintasan tulisan di media sosial, itu juga bisa membuat Anda bersua dengan ide. Jadi, sekali-sekali memang perlu menjadi pengamat dan biarkan ide berseliweran di depan mata Anda untuk segera digarap. Nah, ini rahasia, kerjaan para editor akuisisi. Kerjaan mereka apalagi salah satunya kalau bukan nongkrongi media sosial dan ngintip-ngintip blog/website orang. Mereka lagi mencari penulis yang disebut bertalenta.

Banyak Menulis. Lho kok? Ya benar orang yang makin banyak menulis maka pikirannya akan terstimulus menemukan ide-ide lain. Jadi, ide itu bisa bercabang. Bagi penulis yang tidak biasa, ia malah menjadi bingung ketika bersua banyak ide sehingga tulisannya yang satu tidak selesai-selesai. Mengapa? Karena ia ingin melesakkan beberapa ide ke dalam satu tulisan. Jadinya, pastilah bingung sendiri. Jadi, semakin sering menulis, semakin sering kita bersua ide tidak terduga. Tidak percaya, ya coba aja.

***

Ya, gitu deh lima kiat membangun lumbung ide di folder komputer atau tablet Anda yang sewaktu-waktu dapat Anda eksekusi menjadi tulisan yang bergigi, sekaligus bergizi. Semoga bermanfaat.

©2014 oleh Bambang Trim, Tukang Buku Keliling

Mengubah Isi Blog Menjadi Buku

Ngeblog sudah menjadi tren beberapa tahun lalu, pun membukukan isi blog. Ada nama seperti Raditya Dika yang sukses membukukan isi blognya dan nama-nama lain yang tiba-tiba mencuat dalam jagat perbukuan Indonesia.

Nah, berarti ada editor penerbit yang nongkrongi media sosial dan memantau blog-blog inspiratif? Ya, itulah yang namanya editor akuisisi. Ia harus mampu mengendus para penulis (blogger) yang potensial.

Membukukan tulisan di blog ada dua cara. Pertama, ini yang paling sering dilakukan adalah republishing article or feature yaitu menerbitkan ulang kumpulan tulisan berupa artikel/feature dari dalam blog secara terpilih. Kedua, ini yang jarang dilakukan adalah mengembangkan satu tulisan di blog yang paling menarik dan penting menjadi sebuah tulisan panjang berbentuk buku.

Freelance-Writing-Jobs

Blog Berkarakter

Tentu tidak sembarang para editor memilih blogger yang pantas untuk diterbitkan karyanya menjadi buku. Blogger yang diincar adalah mereka yang punya “gaya” dalam menulis dan isi blognya konsisten pada satu tema besar atau topik dengan materi yang terjaga.

Boleh jadi memang blog sebagai opini blogger isinya gado-gado, contohnya tulisan tentang pilpres, tulisan tentang perjalanan, dan tulisan tentang resep masakan. Di sinilah nanti peran editor memilah-milah tulisan yang beratmosfer sama.

Ada pendekatan-pendekatan yang dilakukan. Pertama, menghimpun tulisan sejenis untuk menonjolkan tema/topik tulisan, contohnya tentang humor kehidupan atau refleksi yang penting. Kedua, menghimpun tulisan dengan menonjolkan penulisnya sendiri.

Jadi, ukuran pertama adalah  menemukan blog yang sangat berkarakter mulai keunikan nama blognya (seperti blog ini :) ), kiprah bloggernya, hingga opini-opini yang disampaikan di dalam tulisan blog tersebut. Di sinilah seorang blogger juga harus memiliki perencanaan ketika mengadakan sebuah blog agar ia seperti mencicil tulisan untuk kelak menjadi buku yang lebih awet dibaca.

Kumpulan Tulisan

Kata “mencicil” memang berhubungan dengan jenis buku yang lebih merupakan kumpulan tulisan sang blogger. Tulisan dalam ranah jurnalistik seperti blog bermacam bentuknya, ada artikel, reportase, feature, esai, atau puisi dan cerpen. Anda yang pernah mengenyam pendidikan jurnalistik tentu paham beda antartulisan tersebut.

Editor yang piawai juga akan memilah jenis tulisan tersebut. Blogger paling sering menulis esai sebagai bentuk tulisan opini yang sangat subjektif, kadang menjurus sebagai tulisan refleksi kehidupan. Selanjutnya, blogger juga banyak menulis feature yaitu fakta yang mengandung rasa kemanusiaan (human interest)–kategori ini termasuk sulit kalau sang blogger tidak terbiasa menulis, termasuk feature perjalanan (travelling).

Jadi, sebagai buku kumpulan tulisan, sebenarnya seorang blogger sudah dapat merencanakannya dengan cara “mencicil” tulisan dengan ruh yang sama. Jika ia senang ngocol dengan memandang hidup sebagai kumpulan humor, ia pun akan konsisten menulis seperti itu. Jika ia mampu menggambarkan sebuah tempat dengan cara berbeda, ia pun akan menjadi penulis perjalanan (travel writer) yang pantas untuk diangkat.

Menyadur Tulisan

Apakah sebuah tulisan pendek seperti artikel, esai, atau feature bisa dikembangkan menjadi buku? Jawabnya bisa. Itulah yang disebut “menyadur” atau konversi tulisan dari ide kecil menjadi ide besar. Namun, memang teknik yang satu ini agak sulit bagi para penulis yang belum terbiasa.

Nah, isi blog itu dari ratusan tulisan tentu ada yang bisa dikembangkan menjadi sebuah buku. Tidak perlu repot berpikir buku itu harus tebal. Ambil saja terminologi Unesco bahwa buku adalah kumpulan tulisan berjilid dan berkover yang terdiri atas minimal 49 halaman. Artinya, Anda dapat menyusun buku setebal 56 atau 64 halaman (kelipatan 8).

Menyadur tulisan pendek menjadi panjang tentu membuat Anda harus menerapkan pola outline tahapan yaitu membagi tulisan atas bab-bab yang saling berhubungan, runtut, dan tuntas. Di sini memang letak kesulitannya. Namun, jika Anda sudah terbiasa, tentu bisa begitu banyak buku yang dapat Anda hasilkan.

Bukan Gado-Gado

Ada juga upaya blogger membukukan tulisannya dengan konsep “gado-gado”. Itu istilah saya untuk menyebutkan isi buku dari kumpulan blog dengan bermacam tulisan: ada puisi, ada cerpen, ada artikel, ada esai, ada feature–pokoknya lengkap. Itu sama saja memindahkan isi blog “gado-gado” secara mentah menjadi buku sebagai jalan pintas.

Apa yang perlu dipikirkan adalah keterbacaan buku itu dan tingkat penerimaan pembaca sasarannya. Pembaca tidak akan mendapatkan satu pesan atau amanat karena disodori bermacam tulisan yang tidak jelas benang merahnya. Jadi, perlu dipahami buku adalah sebuah produk pemikiran yang memiliki alur dan benang merah. Begitu diramu secara “gado-gado” bukannya bisa dinikmati, malah menimbulkan kebingungan baru.

***

Jadi, blog itu adalah salah satu peluang bagi Anda menjadi penulis buku. Cobalah dua hal tadi yaitu menerbitkan buku kumpulan tulisan dan kedua mengembangkan satu tulisan menjadi buku utuh. Anda pasti bisa dan harus bisa–jangan mau jadi blogger seumur hidup tanpa jadi penulis buku.

Salam buku!

©2014 oleh Bambang Trim, Tukang Buku Keliling