Hanya 3 Hari 2 Malam Menulis Buku

Terobosan pelatihan menulis buku ini saya persembahkan kembali setelah bertahun-tahun tidak pernah dilatihkan dalam bentuk heboh. Heboh ya karena peserta akan langsung dibimbing menyelesaikan buku 48 halaman atau lebih, lalu diterbitkan layaknya buku–lengkap dengan dummy yang sudah didesain menjadi buku.

H48HPROMOPeserta yang dibatasi sampai sepuluh orang akan menikmati langsung proses menggagas dan menulis buku dengan pendampingan tutor, saya sendiri, Bambang Trim dibantu dengan tim. Peserta akan melalui proses PREWRITING-DRAFTING-REVISING-EDITING-PUBLISHING selama 3 hari 2 malam.

Dengan biaya Rp5 juta per orang, peserta sudah menikmati fasilitas penginapan 2 malam berikut makan pagi, makan siang, dan makan malam serta tentunya kudapan rehat kopi. Suasana asri di kota Bandung akan menambah gairah menulis diselingi dengan informasi-informasi terkini soal perbukuan.

Peserta juga akan mendapatkan kit training berupa diktat lengkap ditambah flash disk berisikan materi presentasi dalam format PDF, materi praktik, serta eBook. Tidak hanya itu, pada akhir pelatihan, peserta akan mendapatkan sertifikat plus dummy 2 eksemplar buku hasil karya sendiri yang sudah dicetak secara print-on-demand (POD).

Berminat? Silakan kontak 022-86617757 atau konsultasi langsung dengan saya di 081519400129 (WA)/081312357585; Pin BBM 749FE40E; email bambangtrim72@gmail.com. Ingat, peserta dibatasi karena pelatihan ini memerlukan konsentrasi pendampingan orang per orang.

Don’t miss it!

 

 

 

 

 

 

 

faf

Buku Domain Publik

Seorang pembaca Manistebu baru-baru ini bertanya apakah saya memiliki daftar domain publik. Saya menjawab tidak karena memang saya tidak berkonsentrasi untuk mengumpulkan domain publik yaitu karya-karya yang hak ciptanya menjadi milik publik atau sudah menjadi milik publik.

Soal domain publik, utamanya buku-buku karya penulis sebenarnya mudah saja ditelusuri. Rujukan adalah UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang berbeda dengan UU No. 19 Tahun 2002. Jika di dalam UU lama tercantum bahwa sebuah karya menjadi domain publik setelah penulisnya meninggal 50 tahun, di UU yang baru bertambah menjadi 75 tahun.

Dari lamanya waktu tersebut dapat dihitung bahwa karya yang masuk ranah domain publik adalah karya yang penulisnya wafat sebelum tahun 1940. Dalam jagat sastra berarti buku-buku domain publik itu adalah karya para sastrawan angkatan Pujangga Lam, Balai Pustaka, dan Pujangga Baru.

Sebagai contoh, kita bisa mengecek tentang karya-karya puisi Chairil Anwar. Chairil adalah sastrawan Pujangga Baru dan wafat tahun 1949 dalam usia 26 tahun. Jika menggunakan UU lama, karya Chairil sudah masuk domain publik. Namun, dengan UU baru, karyanya belum masuk domain publik.

Karya Chairil Anwar belum masuk domain publik

Karya Chairil Anwar belum masuk domain publik

Karya Chairil dikategorikan domain publik pada tahun 2025. Sebelum tahun itu, ahli warisnya masih berhak atas hak cipta karya-karya Chairil. Namun, tentu memang harus dicari siapa ahli waris yang sah dari penyair yang membujang sampai akhir hayatnya tersebut.

Sekarang coba kita cek karya Merari Siregar sebagai sastrawan angkatan Balai Pustaka. Merari wafat tahun 1941 dan karyanya seperti Azab dan Sengsara dibuat tahun 1920. Karya Merari menjadi domain publik pada 2017. Jadi, masih sekitar dua tahun lagi.

Lalu, karya Marah Roesli yang populer yaitu Sitti Nurabaya dirilis tahun 1922. Namun, Marah Roesli wafat tahun 1962 sehingga karyanya baru menjadi domain publik pada tahun 2038.

Sebagian besar buku angkatan Balai Pustaka, apalagi Pujangga Baru belum masuk ranah domain publik karena penulisnya rata-rata wafat setelah tahun 1960-an. Jadi, yang masuk umumnya karya Pujangga Lama seperti Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang wafat sekitar tahun 1873.

Artinya, para penerbit di Indonesia masih harus menunggu untuk menerbitkan buku-buku tersebut secara massal tanpa terkendala persoalan hak cipta. Jika tetap ingin menerbitkan, tentu harus mencari ahli warisnya yang sah.

©2015 oleh Bambang Trim

Yuk Ngobrol Writerpreneur di Bale Pabukon

ASAH PENA TARIK DANA itu menjadi topik yang saya usung untuk acara talkshow tentang writerpreneurship tanggal 30 Maret 2015 nanti di Pesta Buku Diskon Ikapi Jabar di Bale Pabukon Unpad Jatinangor. Sebelumnya, saya juga akan mengisi acara miniworkshop tentang penulisan buku ilmiah populer.

Bale Pabukon sendiri merupakan konsep toko buku yang digagas Unpad, terletak tepat di depan gerbang kampus Unpad Jatinangor dan akan mulai dibuka pada akhir Maret 2015 bersamaan dengan pelaksanaan Pesta Buku Diskon 2015 yang diselenggarakan Ikapi Jabar. Bersama Penerbit Trim Komunikata, saya membuka booth di sana dan mengisi acara pada hari Senin, 30 Maret 2015.

Topik “Asah Pena Tarik Dana” menggambarkan bagaimana para writerpreneur sebenarnya membangun kewirausahaan dari menulis. Tentu saya akan berbagi pengalaman selama bertahun-tahun menekuni jalan writerpreneur sejak tahun 1994. Peluang kewirausahaan ini masih terbuka luas dan tulisan juga merupakan komoditas yang menjanjikan.

Jika Anda ada waktu luang pada Senin, 30 Maret, silakan bergabung dalam acara ini dan tentunya menarik karena gratis.

Student flyer (blue and gold bold design)

Perlu Tahu Lagi tentang ISBN

Siang, 18 Maret 2015, bersama tim dari Ikapi, saya berkesempatan mengunjungi PNRI atau Perpusnas di daerah Salemba. Kami disambut Ibu Welmin Sunyi Ariningsih, Deputi I Bidang Pengembagan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, yang salah satu bidangnya adalah jasa informasi ISBN. Pertemuan dilangsungkan dengan agenda penyusunan data perbukuan nasional dan kajian perbukuan Indonesia.

Pembicaraan menyasar juga soal ISBN atau International Standard Book Number. Pas dengan momentum pertemuan tersebut, saya menerima dua BBM sehari sebelumnya yang bertanya perihal ISBN.

Satu pesan dari BBM menanyakan persoalan imprint yang dibuat berbeda dengan nama penerbit induk, apakah harus menggunakan ISBN yang berbeda? Pertanyaan kedua terkait adanya penawaran dari percetakan yang bisa memberi ISBN meskipun nama penerbit menggunakan nama yang disodorkan pengguna jasa cetak.

anatomyISBN

ISBN Imprint

Saya coba menjawab soal pertama bahwa memang ISBN kini mensyaratkan adanya akta notaris pembentukan badan penerbit yang di dalam akta tercantum nama penerbit secara resmi. Hal tersebut menjadi dasar bagi Perpusnas kini untuk mengeluarkan nomor ISBN sebagai satu-satunya lembaga resmi pemberi nomor ISBN di Indonesia. Sebelumnya memang tidak diperlukan akta notaris, tetapi kemudian penggunaan ISBN malah menjadi “liar” karena ada saja yang hanya menerbitkan satu buku, tetapi kemudian meminta nomor ISBN dan selanjutnya penerbitnya tutup.

Terkait imprint penerbitan atau merek lain penerbitan dimaklumkan untuk memiliki nomor ISBN sendiri. Untuk itu, jika penerbit hendak menggunakan imprint, selayaknya imprint tercantum di akta notaris. Untuk hal tersebut tentu dapat dilakukan perubahan akta notaris pembentukan imprint bagi penerbit yang memang menjadikan imprint tidak berdiri sendiri sebagai entitas bisnis.

Penerbit seperti Grup Agromedia semula menurunkan imprint yang pada akhirnya imprint tersebut berdiri sendiri menjadi berbadan usaha atau menjadi anak perusahaan. Grup penerbit lain seperti Erlangga menjadikan Esensi atau Erlangga for Kids tidak berdiri sendiri dan hanya sebagai merek dagang dengan produk buku yang berbeda.

Jadi, ISBN imprint berbeda dengan ISBN penerbit induk. Nama-nama imprint harus sudah terdapat pada akta notaris sehingga perlu dilakukan perubahan akta. Sebaliknya, jika Anda sedang mempertimbangkan pendirian sebuah penerbit, dapat dipertimbangkan pula mengusun nama-nama imprint pada akta notaris agar tidak perlu nantinya mengubah akta notaris.

ISBN eBook

Satu hal yang sempat saya tanyakan sebagai penegasan adalah tentang ISBN eBook  atau buku digital yang seyogianya berbeda dengan ISBN buku cetak. Untuk soal ini, ketika mengajukan ISBN buku baru, sebaiknya penerbit turut mengajukan ISBN eBook–karena dalam konteks kini eBook tampaknya sudah masuk perencanaan konversi penerbit.

Tidak ada tanda atau ciri khusus bagi eBook di dalam ISBN, namun penomoran antara buku cetak dan buku digital berbeda sehingga dalam sistem distribusinya penggunaan nomor ISBN untuk pemesanan juga dibedakan. Anda tidak akan keliru memesan apakah itu buku cetak atau buku digital karena nomor ISBN-nya memang berbeda.

Pengelola bisnis buku digital seperti Kindle Direct Publishing (KDP) malah membuat sendiri sistem penomoran sepuluh digit. Mereka menggunakan sistem penomoran sendiri karena Kindle menjual eBook secara eksklusif menggunakan device atau tablet produksi Kindle serta jejaring perusahaan induknya, Amazon.com. Berikut penjelasan KDP soal ISBN. KDP juga mengingatkan untuk tidak menggunakan ISBN buku cetak pada buku digital.

An ISBN (International Standard Book Number) is not required to publish content with Kindle Direct Publishing. Once your content is published on the KDP web site, Amazon.com will assign it a 10-digit ASIN (Amazon Standard Identification Number), which is unique to the eBook, and is an identification number for the Kindle Book on Amazon.com. If you already have an ISBN for your eBook, you’ll be able to enter it during the publishing process. Do *not* use an ISBN for the print book edition. You can purchase an ISBN from multiple sources on the Web, including the official ISBN body.

Tawaran ISBN Pencetak

Jika ada pencetak atau percetakan yang menawarkan jasa termasuk ISBN, asumsi yang benar adalah ISBN bisa diberikan atas nama pencetak/percetakan tersebut. Artinya, yang bertindak sebagai penerbit adalah pencetak itu sendiri dengan nama perusahaannya. Jika nama penerbit yang ditampilkan adalah nama yang diinginkan pengguna jasa cetak, hal tersebut jelas menyalahi esensi penggunaan ISBN bahwa ISBN adalah nomor identitas khas untuk SATU BUKU dan SATU PENERBIT.

Pencetak itu tidak berhak mengeluarkan ISBN sendiri dan menyebarkan ISBN milikinya kepada orang (penerbit) lain untuk digunakan. Kemungkinan itu memang terjadi karena maraknya akademisi yang hendak menerbitkan buku dan memerlukan ISBN sebagai syarat bukunya dapat dinilaikan.

Saya kira lembaga penilai kelayakan buku-buku ilmiah ataupun ilmiah populer sudah harus melakukan penelusuran terhadap penerbit dan juga nomor ISBN yang tercantum di dalam buku karena bisa terjadi adanya “ISBN bodong”. Informasi tersebut dapat dilacak melalui Perpusnas apakah penerbit yang bersangkutan memang memiliki nomor ISBN seperti tercantum.

Demikian ulasan tambahan saya soal ISBN. Tugas berat untuk saya menanti tahun ini yaitu bersama-sama tim dari PNRI menyiapkan data perbukuan dan kajian perbukuan nasional. Pasalnya, akan ada perhelatan besar tentang ISBN internasional dan Perpusnas akan menjadi tuan rumah, September depan di Bali. Saat itu, Indonesia pun harus mampu menyajikan data perbukuan yang valid. Bersamaan dengan itu pula akan ada perhelatan akbar Ikapi yaitu Indonesia International Book Fair serta menjadi tamu kehormatan pada bulan Oktober di Frankfurt Book Fair 2015.

©2015 oleh Bambang Trim

Mengemas Konten Oshibana

Jumat pagi, 13 Maret 2015, saya sudah ada janji bertemu Bu Mutia Prasodjo, seorang pakar oshibana Indonesia. Ini pertemuan kali kesekian dengannya dan saya beserta istri langsung mengunjungi workshop beliau di rumahnya, di Bogor.

Urusan pertemuan tersebut tidak lain dari urusan pengemasan konten yang akan saya lakukan bersama Bu Mutia. Pada kenyataannya, tak banyak publikasi tentang oshibana di Indonesia, termasuk kursus yang resmi diselenggarakan. Alhasil, salah satu gagasannya adalah memanfaatkan teknologi digital untuk memasyarakatkan oshibana, sekaligus penyelenggaraan kursus yang lebih profesional.

Bu Mutia sedang memberikan workshop oshibana kepada mahasiswa. Sumber: http://japanese.binus.ac.id

Bu Mutia sedang memberikan workshop oshibana kepada mahasiswa.
Sumber: http://japanese.binus.ac.id

Oshibana adalah seni berkreasi dengan bunga kering yang diawetkan dengan cara ditekan (press) serta tetap mempertahankan warna aslinya. Teknik lain yang dikenal adalah herbarium, namun herbarium menghilangkan warna asli tumbuhan. Bagian yang biasa digunakan dalam seni oshibana (berasal dari Jepang; oshi berarti ditekan dan bana berarti bunga), yaitu kelopak bunga, daun, dan batang.

Bayangkan, Indonesia termasuk surga berbagai jenis bunga dengan tekstur yang khas sehingga oshibana pun sangat mungkin dikembangkan di Indonesia. Berdasarkan keterangan Bu Mutia, terdapat sentra ekspor oshibana di Indonesia, di antaranya di Surabaya dan Malang. Eksportir ini bahkan sangat memerlukan bahan baku oshibana sehingga jika ada kemauan, sebenarnya para ibu di rumah bisa menjadi pemasok bahan baku oshibana ini dengan cara melakukan pengeringan bunga hingga bisa dikreasikan dalam berbagai bentuk perhiasan atau karya seni lainnya.

Bu Mutia sempat menunjukkan kalung dari kreasi oshibana yang digabungkan dengan manik-manik atau bebatuan seharga Rp150.000,00. Padahal, modal bahan bakunya tidak lebih dari Rp30 ribu. Usaha yang lama dan perlu kesabaran justru saat mengeringkan bunga dan memotongnya dengan penuh cita rasa seni.

Kreasi oshibana memang tidak sebatas bunga, dedaunan, atau batang kering yang dirangkai lagi, tetapi juga bisa digunakan untuk media lain, seperti hiasan diary, bros, hiasan mug, pembatas buku, kartu pos, lukisan, atau juga menjadi buku bergambar. Sebagai sebuah keterampilan, oshibana memang layak dikembangkan menjadi konten pelatihan. Itu yang sedang saya pikirkan.

Konsep untuk konten digital sudah ada, termasuk buku-buku yang akan dikembangkan. Selanjutnya, tinggal memantapkan model bisnis dari pengembangan konten ini.

Oh ya, Bu Mutia memang langsung mendapatkan ilmu oshibana dari seorang Shinsei di Jepang, saat beliau masih bertugas di sana. Ia mempelajarinya selama 1,5 tahun, namun karena waktu itu ia menganggap keterampilan ini hanya hobi, ia enggan mengambil sertifikat Shinsei, padahal ia sudah dianggap mampu untuk mengambilnya. Terbukti, saat ini Mutia termasuk pakar yang banyak diminta untuk mengisi berbagai workshop, baik oleh Kedubes Jepang maupun oleh pemerintah dan swasta. [BT]

Pertama, Pelatihan Nulis Buku Langsung Jadi Buku

Akhirnya, tiba juga saya menggelar pelatihan terobosan menulis buku H48H yang akan membuat peserta merasakan pengalaman menggagas dan menulis buku selama 3 hari 2 malam. Mau?

Ini dia pelatihan terobosan menulis buku (minimal) hanya 48 halaman (H48H). Selama 3 hari 2 malam peserta akan dibuat mau dan mampu menulis buku sehingga output akhir pelatihan benar-benar berwujud buku fisik dan juga buku digital yang siap dipublikasikan.

Saya akan memandu Anda menerapkan metode standar prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Apa pun buku yang hendak Anda tulis. Gila! Tidak, ini tidak gila. Ini nyata.

Info Pelatihan H48H

Info Pelatihan H48H

Buku adalah Kartu Nama

Rapat redaksi di Visimedia untuk membincangkan konten majalah PDN (Kemendag) menjadi lebih hangat karena perjumpaan dan perbincangan informal saya dengan Mas Anis Maftuhin–redaktur yang juga seorang pegiat buku. Dulu Mas Anis sempat bergiat di penerbit Pena Pundi Aksara. Dan rupanya kami juga dulu sempat bersua saat saya mendeklarasikan berdirinya Forum Editor Indonesia.

Perbincangan melebar pada aktivitas yang kini kami jalani sebagai ghost writer ataupun co-writer untuk para tokoh. Mas Anis menceritakan aktivitasnya menangani beberapa buku mantan pejabat dan juga para tokoh. Salah seorang tokoh yang benar-benar sadar buku menyebutkan, “Bagi saya buku ini ibarat kartu nama!”

Nah, ini yang menarik. Lagi-lagi saya ingat tulisan Jay Conrad, dkk. dalam bukunya Guerrilla Publicity (2008). Conrad menuliskan: “Menerbitkan buku akan melejitkan Anda ke strata tertinggi di kalangan tokoh-tokoh ternama. Ia memberi Anda lebih dari sekadar kredibilitas; segala ucapan Anda akan dipertimbangkan. Menulis buku membuat Anda diakui sebagai seorang ahli, pemimpin dalam bisnis Anda, bintang dalam bidang Anda. Ini sangat membantu ketika Anda meluncurkan dan mempromosikan produk atau jasa baru….”

Baca lebih lanjut

Unduh Materi (Workshop/Training) Penulisan-Penerbitan

Sejak tahun 2000, saya telah mulai berbagi soal keterampilan menulis dan menerbitkan buku. Tahun itu menjadi awal saya mendirikan Pusat Informasi dan Kajian Perbukuan (Pikbuk) di Bandung hingga kemudian menyelenggarakan pelatihan bekerja sama dengan Ikapi Jabar. Hingga kini tanpa terasa saya telah berbicara di ratusan event dan di depan ribuan audiens di seluruh Indonesia, bahkan juga Malaysia. Banyak kompilasi materi yang sudah saya susun.

Saya masih ingat pada tahun 2000-an saya masih kerap menggunakan materi dalam bentuk slide transparan yang bisa dibaca OHP sampai kemudian munculnya LCD Projector dan aplikasi Powerpoint (ppt). Dari sana saya mulai banyak menghasilkan materi dengan ppt dan juga dengan menggunakan MS-Word, Pagemaker, hingga kini menggunakan In-Design untuk membuat diktat, modul, atau bahkan buku.

Ada empat materi dalam format PDF yang saya unggah di sini sebagai publikasi tentang ilmu penulisan dan penerbitan. Namun, saya akui bahwa kadang-kadang penyusunan materi belum mendekati sempurna ataupun ada materi-materi yang sudah tidak up to date lagi dengan konteks kini.

Bahan untuk Mahasiswa Penerbitan

Saya sempat mengajar di tiga PTN yang menyelenggarakan pendidikan penerbitan. Salah satu yang sempat saya susun adalah tentang materi peluang dunia penerbitan untuk para mahasiswa jurusan penerbitan, khususnya di Poltek Negeri Jakarta (Jurusan Penerbitan) dan Poltek Negeri Media Kreatif (Polimedia). Saya kira materi ini masih relevan untuk para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di jurusan penerbitan.

Dunia Penerbitan untuk Mahasiswa

Bahan tentang Editing

Editing menjadi ilmu yang saya dalami sejak 1991 ketika kuliah di Prodi D3 Editing Unpad. Sejak itu, hidup saya pun tidak pernah lepas dari dunia editing setelah bekerja menjadi copy editor di Penerbit Remaja Rosdakarya, lalu berpindah-pindah penerbit hingga menempati pimpinan puncak di penerbit.

Pengalaman profesional tersebut saya sampaikan dalam materi berikut ini yang disampaikan pada saat Indonesia Book Fair 2012.

EDITOR-PRO-FEI-2012

Materi ini saya susun untuk sebuah pelatihan khusus tentang editing karya terjemahan. Namun, pada saat acara dilaksanakan, tiba-tiba panitia membatalkan secara sepihak, sementara materi sudah rampung saya susun. Namun, tidak ada kata merugi karena materi tersebut bisa saya bagikan secara gratis di sini.

Materi Editing Terjemahan

Bahan tentang Konversi KTI Menjadi Buku

Ini termasuk bahan terbaru yang saya susun pada tahun 2013 dan disampaikan di Seminar UB Press, Malang. Banyak dosen atau akademisi yang ingin mengubah karya tulis ilmiah (KTI) nonbuku menjadi buku. Namun, tentu keinginan tersebut harus diupayakan dengan konversi terlebih dahulu. Materi ini mengulas beberapa hal tentang konversi KTI nonbuku menjadi buku.

Makalah Konversi KTI

Semoga bermanfaat.

©2015 oleh Bambang Trim

Biografi H. Anif: Pengusaha Tangguh dari Sumut

Di Sumatera Utara, khususnya Medan, nama H. Anif sudah tidak asing lagi. Kisah hidup tokoh bernama asli Musannif yang lahir di Perlanaan, Kota Limapuluh (Kab. Batubara) ini memang penuh haru biru. Nama Musannif yang berasal dari kata bahasa Arab berarti ‘pengarang’ itu adalah pemberian ayahnya, Tuan Kabul. H. Anif yang dulunya sempat mengalami hidup sebagai ‘berandalan’ akhirnya mampu membalikkan garis nasibnya dengan kegigihan.

Saya menerima telepon H. Anif pada hari Jumat, 27 Februari 2015 lalu. H. Anif meminta saya untuk bertemu apakah di Jakarta atau Bandung. Tentu saja saya yang muda lebih elok untuk mendatangi beliau. Urusanya tidak lain adalah soal buku biografi beliau yang ditulis teman saya, Toga Nainggolan.

Tugas saya memang melakukan penyelarasan isi tahap akhir alias menyuntingnya dan menyelia juga untuk pengemasannya oleh Tim TrimKom. Buku berjudul Hidup Ikhlas Tanpa Muslihat ini memang disusun menggunakan urutan kronologis. Mereka yang ingin tahu jejak tokoh pengusaha yang berpengaruh di Sumut ini bisa mengikutinya dengan mudah. Sebabnya, Toga Nainggolan, jurnalis yang juga alumnus dari Jurusan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta–tempat saya dulu juga mengajar–ini memang piawai memilin dan merangkai kata.

Saya bertolak ke Jakarta Sabtu sore bersama keluarga dan menginap semalam di daerah Raden Saleh. Esoknya baru saya bertolak ke daerah Tanjung Duren menuju rumah H. Anif. Saya dan keluarga disambut hangat, bahkan diberi aneka oleh-oleh dari buku, poster yang berisikan quote cantik dari bahan kain, hingga cokelat.

Kedatangan saya untuk verifikasi akhir materi yang memang masih ada editing dari sisi data serta fakta. Hanya perlu waktu sekitar 1,5 jam. Selanjutnya, acara saya dengan H. Anif dan Toga Nainggolan adalah makan siang bersama. Masakan ala Medan seperti sayur daun ubi tumbuk pun tak lepas saya nikmati, termasuk dendeng balado daging domba muda yang dibawa beliau dari Australia. Wow!

DSCN2927

Buku biografi H. Anif ini memang lumayan tebal, lebih dari 300 halaman. Wajar memang jika hendak menampung dinamika kisah tokoh yang hidupnya penuh dengan lika liku ini. Tokoh yang menjadi besan Hamzah Haz ini juga memberi kesempatan kepada teman-temannya untuk memberi komentar buku, lebih dari sekadar testimoni (endorsement), di antaranya ada Hamzah Haz, Widjojo Soedjono, Widodo Budidarmo, Surya Paloh, Sukanto Tanoto, Panda Nababan, dan Harmoko.

Isi buku ini memang sarat dengan pelajaran tentang hidup. Saya sebagai praktis di bidang penulisan memang sudah sering bersua tokoh yang hendak membukukan kisah hidupnya. Satu hal yang saya syukuri, setiap bertemu tokoh, saya bisa belajar “gratis” tentang hidup berikut kiat-kiatnya dari mereka. Selepas biografi H. Anif, saya juga akan menangani biografi H.M. Rusli, tokoh pengusaha dari Samarinda, pemilik Hotel Mesra International.

H. Anif sempat bertanya, “Pak Bambang menggarap buku apa lagi, sebelum ini?”

“Saya lagi menggarap biografi juga, Pak. Bigorafi Pak Haji Rusli, pengusaha dari Samarinda,” jawab saya.

“Oh ya, saya tahu beliau itu. Beliau pernah punya HPH juga kan?”

Saya membenarkan. Ternyata dunia ini memang “kecil”, kita bisa saling terhubung dengan banyak tokoh yang justru juga saling mengenal.

Memeriksa dummy yang sudah rampung.

Memeriksa dummy yang sudah rampung.

Satu hal yang membuat saya senang menjalani profesi penulis ini adalah ketika saya akhirnya banyak mengenal tokoh beserta keluarganya hingga mengetahui kisah-kisah “tersembunyi” dari mereka. Saya banyak kenal para tokoh tua dan juga tokoh-tokoh muda, menyelami pemikiran dan mimpi-mimpi mereka.

Biografi H. Anif insya Allah akan diluncurkan di Medan dan tentu menjadi kesempatan saya untuk pulang kampung sembari menyaksikan bagaimana sebuah buku punya kekuatan untuk menggerakkan orang-orang. Semoga makin banyak tokoh yang sadar untuk membukukan kiprahnya, minimal menjadi warisan untuk anak cucunya.

Salam buku!

Program Subsidi Penerjemahan untuk Frankfurt Book Fair Kembali Dibuka

Dari berita kita sudah maklum bahwa Indonesia telah ditetapkan sebagai tamu kehormatan (guest of honour) pada ajang pameran buku terbesar sejagat, Frankfurt Book Fair 2015. Momen ini menjadi kesempatan bagi para penulis/penerbit Indonesia untuk unjuk karya di ajang pameran literatur tingkat dunia.

Seperti negara lainnya, pemerintah Indonesia juga mendukung dengan memberikan subsidi penerjemahan bagi karya-karya penulis Indonesia yang memang layak untuk ditampilkan atau ditawarkan kepada dunia. Tertarik untuk mengikutkan karya dalam program subsidi penerjemahan ini? Saya bagikan informasi berikut. Semoga berguna. Oh ya, file dalam format PDF juga dapat diunduh di bagian bawah tulisan ini. Selamat berjuang! Program-TFP-2015_Page_1 Program-TFP-2015_Page_2 Program-TFP-2015_Page_3 File dalam format PDF untuk program ini dapat diunduh langsung di sini Program-TFP-2015

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.133 pengikut lainnya.