Benarkah Ide Tidak Ada yang Orisinal?

2
432

Pertanyaan dari judul tulisan ini pernah mengeram sejenak dalam benak saya ketika hendak menuliskan konsep ide. Sebuah naskah harus digagas dengan ide orisinal agar lebih berdaya…. Benarkah?

Pada kenyataannya sulit saya menemukan orisinalitas dari sebuah ide, kecuali ide itu adalah ide yang segar (fresh) dan sudah mengalami modifikasi atau pengembangan dari ide orang lain. Karena itu, akhirnya saya hanya berani menyebutkan bahwa seorang penulis harus memiliki ide yang segar (fresh) agar naskah yang dibuatnya punya daya saing.

Ide sesuatu yang dapat distimulus, tidak dapat dicari. Ide memang identik dengan ilham yang seperti percikan api, sedangkan pikiran adalah sumbunya sehingga ‘api ide’ menyala di pikiran. Ide lalu digambarkan pula secara visual menjadi bola lampu yang menyala.

Saya selalu mengalami proses stimulus ini dan saya mengakui bahwa ide tulisan saya dalam bentuk buku akhirnya dipengaruhi oleh ide orang lain yang telah lebih dulu ada. Stimulus dapat saya lakukan melalui studi katalog buku, membaca buku, ataupun melihat-lihat aneka buku di rak-rak toko buku. Cara paling ampuh adalah menstimulus gagasan dari penulis Amerika ataupun Eropa yang telah lebih dulu maju serta hidup dunia perbukuannya.

Ide memang menjadi suatu yang mahal dalam jagat kreatif kini, apalagi dalam konteks industri kreatif penerbitan. Dengan kemajuan teknologi kini, ide sangat mungkin dikembangkan dengan berbagai bentuknya.

Pola-pola Penggagasan Ide

Ada berbagai pola penggagasan ide yang kemudian ditindaklanjuti dengan eksekusi. Berikut pola yang dapat saya sajikan.

Membaca (Menghimpun). Pola yang saya sebut pola iqra yaitu membaca dengan interpretasi menghimpun segala yang dilihat maupun didengar. Membaca buku adalah cara paling konvensional untuk menghimpun. Cara lain adalah membaca peristiwa, membaca sikap/perilaku orang, membaca alam semesta (pemandangan), dan membaca diri sendiri.

Tukar Pikiran (Brain Storming). Salah satu cara ampuh menurunkan ide dengan pola green light (mendaftar semua ide, baik atau buruk, masuk akal atau tidak, norak atau keren) bersama-sama dengan teman atau tim. Pola ini penting untuk menggagas sebuah karya bersama, seperti iklan, event, ataupun kampanye.

Silaturahim. Cara yang dilakukan dengan mudah adalah bersilaturahim dengan banyak orang: membuat janji bertemu, berkunjung ke rumah/kantor orang tersebut, atau menyempatkan diri berbincang dengan tokoh yang kebetulan menjadi pembicara atau fasilitator di dalam sebuah event. Anda dapat menghimpun rezeki informasi ataupun tawaran dari model penggagasan ide seperti ini.

Berjalan (Traveling). Cara yang dilakukan sambil berwisata ke mana pun, tidak harus ke luar kota. Perjalanan yang dilakukan dengan menyusuri sebuah atau beberapa museum juga dapat menstimulus ide. Perjalanan ke pasar tradisional juga paling mungkin untuk menstimulus ide. Manfaatkan perjalanan ini dengan mempersiapkan perbekalan pengikat ide: catatan kecil, alat rekam, dan kamera digital.

Ide Kebetulan Sama atau Ide Dicuri

Dalam jagat penulisan ada seorang yang disebut penulis (writer). Tipikal writer punya kemampuan menulis yang baik dan mengorganisasi gagasan (outline)  menjadi organisasi karangan yang mantap. Namun, penulis biasanya tidak terampil menstimulus gagasan atau boleh dikatakan miskin ide. Penulis tipe ini kemudian biasanya membaktikan diri dalam profesi c0-writer (penulis pendamping) atau ghost writer (penulis bayangan).

Ada lagi yang kemudian disebut pengarang (author).  Pengarang punya tipikal kaya ide atau banyak ide, tetapi kurang mampu mengorganisasi idenya menjadi tulisan yang baik. Pengarang sering punya kebiasaan menceritakan idenya kepada orang lain dan jarang idenya itu tuntas menjadi sebuah tulisan.

Pertemuan pengarang dan penulis dapat menjadi kolaborasi yang baik. Kemampuan mengarang dan menulis adalah kemampuan yang didamba oleh para penulis karier. Namun, tidak jarang hanya salah satunya yang dikuasai dan pertemuan keduanya malah menimbulkan konflik.

Bagaimana dapat terjadi? Seorang pengarang bertemu dengan seorang penulis secara tidak sengaja. Sang pengarang pun bercerita tentang idenya menulis buku. Sang penulis hanya manggut-manggut karena ada ‘api’ yang sedang memercik di sumbu kepalanya. Dalam jangka tidak terlalu lama, keluar tulisan dari sang penulis berdasarkan ide sang pengarang. Sang pengarang tidak diberi tahu dan akhirnya tahu dari hasil karya sang penulis. Sang pengarang protes, tetapi protesnya hanya angin lalu karena sesuatu yang baru dalam bentuk ide tidaklah dilindungi oleh undang-undang hak cipta. Sang pengarang nelangsa karena sang penulis melanggar etiket kepenulisan.

Itu kisah tentang bagaimana ide Anda dapat berpindah dan diproses kreatif secara diam-diam oleh orang lain. Nah, di satu sisi dapat pula ide Anda dan ide orang lain itu dalam waktu yang sama memang sama-sama terstimulus. Artinya, ada kemungkinan ide itu sama meskipun eksekusinya pasti berbeda.

Deteksi ide dicuri paling gampang adalah apabila orang yang Anda anggap mencuri ide memang pernah berinteraksi dengan Anda; pernah mengakses data Anda; ataupun Anda sudah pernah bercerita kepadanya. Ide dicuri dalam arti ia tidak meminta izin Anda untuk menggarapnya.

Karena itu, dalam tetes asam garam dunia penerbitan, saya sudah beberapa kali mengalami pencurian ide dan juga mendengar pencurian ide, baik yang dilakukan para penulis maupun para penerbit. Ide yang belum tereksekusi minimal menjadi outline dan draft memang tak boleh sembarang Anda umbar kepada sembarang orang, apalagi yang punya tipikal terlatih sebagai penulis. Sang penulis akan menjadi pendengar yang baik, sekali-sekali ia memuji ide brilian Anda; ia tidak mencatat secara harfiah, tetapi merekamnya lewat memori otak.

Karena itu, waktu menjadi sangat berharga. Buru-burulah mengeksekusi ide Anda, bukan tergesa-gesa….

Kehabisan Ide Berbuah Menjadi Karya Monoton

Adakalanya seorang penulis pro ataupun penulis karier memang kehabisan ide. Produktivitas yang tinggi dan digeber habis dapat membuat seorang penulis kehabisan amunisi ide. Akibatnya, sering terjadi pengulangan ide atau modifikasi ide dari karya-karya yang sudah ada.

Energi penulis seperti ini terkuras berikut waktunya sehingga tidak punya kesempatan lagi melakukan iqra (menghimpun) ide dari apa yang dilihat, didengar, ataupun dirasakan. Kejaran order dan target membuat sang penulis mabuk dengan ide sehingga tidak sempurna mengeksekusi karya. Karena itu, jeda atau pause penting bagi seorang penulis pro untuk memulihkan pikiran dan menyegarkan gagasan. Dan orisinalitas takkan mungkin teraih, kecuali ide yang fresh.

Antisipasi Penjiplakan Ide

Ada yang serba salah saya lakukan dalam pengembangan bisnis jasa penerbitan (publishing service). Bisnis ini sudah saya mulai sejak 1994 dengan nama Komposisi 91 yang saya dirikan bareng teman-teman Editing Unpad, angkatan 91. Lalu, saya memulai lagi lewat bendera Intimedia Persada pada 1996. Kini, ide bisnis ini pun banyak ditiru dan menjadi bisnis menggiurkan bagi mereka yang enggan bekerja pada penerbit.

Bisnis jasa penerbitan adalah bisnis yang tidak boleh kering dari ide. Saya membebaskan tim kerja yaitu di Dixigraf Publishing Service dari rutinitas jam kerja yang membelenggu dan dari aturan seperti kerja pada umumnya (cara berpakaian, dsb). Tapi tim dibekali konsep profesionalitas memenuhi deadline dan kualitas jasa: menulis, mengedit, menataletak, membuat ilustrasi, dan mendesain. Kami pun membangun sistem standar editorial dan standar tarif, pun standar assesment untuk penerbit maupun penulis lepas. Tidak semua dapat diterapkan mengingat keterbatasan pengetahuan tim tentang editologi dan publishing science dan fenomena industri kreatif penerbitan.

Serba salah tadi menyangkut penawaran gagasan kepada klien. Kami mengeluarkan proposal yang sedikit banyak menggambarkan bisnis ini. Namun, terkadang kami pun takut menyerahkan proposal ini ke sembarang orang atau sembarang penerbit. Jadi, membuka bisnis jasa penerbitan ini harus ekstra husnudzan (berprasangka baik) kepada klien.

Dari proposal kami menurunkan list of book idea berupa sederetan judul yang dibagi berdasarkan kategori dan pembaca sasaran dengan estimasi jumlah halaman naskah. List ini benar-benar sebuah pertaruhan karena paling tidak seperempat ide kita tentang penggarapan naskah terdapat di dalam judul meskipun baru tahap working title. Bukan rahasia lagi jika di dalam penerbit pun terdapat editor yang berjiwa penulis (writer). Judul-judul tadi boleh jadi ditolak, untuk kemudian ditiru dan dituliskan dalam bentuk lain.

List of book idea akan turun dalam bentuk lebih spesifik yang kami sebut matriks outline.  Kami tidak akan memberikan matriks outline sebelum penerbit memastikan pemesanan naskah ataupun keluar dalam bentuk SPK. Matriks outline akan turun dalam bentuk brief for publishing. Model penggagasan seperti ini ide murni yang dikembangkan Dixigr@f. Saya tidak tahu apakah akan ada yang menirunya setelah saya posting di note ini. 🙂

Karena itu, antisipasi memang penting untuk tidak sembarang mendeskripsikan ide (tulisan) kepada orang lain yang belum dikenal baik ataupun kepada penerbit yang Anda pun tidak kenal baik. Penerbit pun harus jeli dan berhati-hati pula menerapkan sistem sekuriti ide dari para editor, layouter, ilustrator, ataupun desainer yang diam-diam merekam ide dan menjualnya sebagai informasi berharga ke penerbit lain; atau yang lebih celaka selanjutnya pindah ke penerbit lain bersama ide dan sistem yang sudah dibangun penerbit.

Pengaliran ide atau pengembalian ide ke tingkat bawah (restore) harus dilakukan dengan seleksi orang-orang yang memang patut mengeksekusinya. Karena itu, sudah menjadi kebiasaan saya hanya menerangkan kulit-kulit ide, belum sampai ke dagingnya kalau secara umum ada orang yang tidak dapat dipercaya.

Dalam beberapa training saya sempat membongkar banyak ide penulisan dan penerbitan buku; mengungkap rahasia-rahasia tersembunyi yang saya kembangkan sendiri dari hasil studi dan analisis terhadap (juga) ide-ide orang lain juga–proses yang kadang makan waktu dan pikiran. Kadang-kadang ada rasa ‘kapok’ karena kemudian seperti membiarkan ‘musuh’ menikam kita, padahal saya tidak  punya ilmu kebal dijiplak. Namun, kadang-kadang harus belajar untuk ikhlas jika memang dimanfaatkan untuk maksud mencuri dan memodifikasi, ya dibiarkan saja. Beberapa teman dekat mengingatkan untuk tidak selalu mengumbar ide; adakalanya harus ada rem agar tidak kebablasan. Saya hanya tersenyum….

Mabuk Judul

Ini fenomena membahagiakan sekaligus berbahaya di satu sisi bagi para penulis pro. Mabuk judul sedang dialami para penerbit baru maupun penerbit sudah agak lama. Mabuk judul itu kira-kira begini….

Tahun 2010 yang katanya kondisi ekonomi makro lebih baik mendorong penerbit memancangkan target luar biasa untuk penerbitan bukunya. Pancangan nilai rupiah berujung pada pancangan produksi buku maka untuk mencapai nilai x rupiah dibutuhkan buku-buku sebanyak y judul.  Rumus ini kadang-kadang diterjemahkan oleh chief editor ataupun managing editor menjadi judul banyak untuk mencapai target eksemplar dan target jual. Jika tidak benar-benar bijak dan jeli menyikapinya, akan terjadi mabuk judul.

Sang pemimpin penerbit membuat instruksi dan para editor akusisi maupun editor pengembang panik. Mereka membutuhkan daftar ide-ide penggagasan buku–sebagian besar gawatnya mereka buta terhadap kebutuhan dan keinginan (bahasa populernya tren buku), rabun terhadap jenis-jenis buku, low vision terhadap ide-ide fresh pengembangan buku. Penerbit dengan tim editorial lemah seperti ini akan menjadi makanan empuk para publishing service amatiran dengan menyajikan sekian ratus judul untuk dipilih seperti memilih menu masakan di pinggir jalan: nasi goreng, mie goreng, kwetiaw goreng, ataupun soto. Semua tampak pasaran.

Hal paling gawat kalau tim editorial itu justru disodori menu masakan Vietnam yang sama sekali tidak mereka pahami. Namun, karena sudah mabuk judul, apa pun dipesan dan pokoknya mencapai target judul. Ide telah mati dalam industri kreatif seperti ini.

Saya ingat betul ungkapan Mas Indra, Direktur Medpress Group ketika seminar editor di Jogja. Mas Indra mengungkapkan sebuah testimoni dari seseorang bahwa di Indonesia kini ‘kaya judul, tetapi miskin ide’. Buku dengan topik dan bahasan yang sama memang menjadi ramai tanpa kita dapat menakar di mana diferensiasinya.

Jadi, kalau ada penerbit yang panik mencari judul-judul alias ide-ide baru penggarapan buku, penulis pro dapat bahagia akan kebanjiran order penulisan dan paling tidak ada katup pelepasan ide yang selama ini cuma mengendon di folder komputer. Di sisi lain, berbahaya karena dapat terjadi keseragaman ide atau ide Anda malah dibajak karena Anda menawarkan harga tinggi. Daripada membayar Anda yang berharga tinggi, mending cari penulisan amatiran yang dapat mengeksekusi ide Anda meskipun dengan kualitas di bawah standar. Banyak penerbit berpikiran pendek seperti ini…. :0

***

Ide orisinal mungkin saja terjadi ketika seorang penulis memutus koneksinya dengan dunia luar dan mengasingkan diri di suatu tempat. Mungkin dengan perenungannya ia memperoleh ide betul-betul orisinal.

Ide yang fresh adalah sebuah inovasi, pengembangan, atau penyesuaian dari ide yang sudah ada sehingga muncul bentuk baru yang benar-benar menyegarkan. Di dunia penulisan buku anak, Princess Disney menjadi benchmarking beberapa penulis Indonesia untuk kemudian mengembangkannya maka muncul ide fresh Islamic Princess atau Indonesian Princess dengan kisah variatif menginstall pesan budaya tertentu yang berbeda dengan budaya Princess ala Disney.

Di dunia fiksi novel, muncul semangat menerbitkan novel berlatar pendidikan setelah distimulus oleh karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Namun, beberapanya justru tampak tidak fresh sebab terasa dipaksakan untuk meniru ide novel Andrea.

Akhirnya, dunia ide memang dunia yang unik dan terkadang menjadi mahal sebagai gengsi yang harus dipertahankan. Bertaburnya ide membuat seorang penulis ataupun editor menancapkan posisi tawar (bargaining position) yang tinggi di industri kreatif tempat ia bernaung. Para penulis dan editor lumbung ide akhirnya terus dicari, kalau perlu dibajak oleh para penerbit dengan iming-iming duniawi yang kadang menggiurkan.

Kadang kita lupa ada sebuah rahasia untuk tetap menyegarkan ide dalam dunia penulisan-penerbitan yang saya sebut interconnecting quotient (kecerdasan mengoneksi). Mungkin ini salah satu yang saya rahasiakan bagaimana memperolehnya sebelum saya turunkan kepada murid yang paling dipercaya. Hehehe, mohon maaf, terima kasih.

Bambang Trim

Praktisi Perbukuan Indonesia

www.dixigraf.com

http://manistebu.wordpress.com

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here