Dilarang Jadi Karyawan

0
278

Ada apa dengan buku-buku entrepreneurship kita? Ndak ada apa-apa! Yang pasti makin ramai dengan berbagai gagasan dan virus menyuntikkan jiwa wirausaha ke dalam benak pembaca di Indonesia. Hanya saya sedikit terganggu dengan larangan beberapa penulis kepada para pembaca untuk mengambil jalan sebagai karyawan. Alasan utama karena hilangnya opsi-opsi menjadi kaya disebabkan terkuncinya penghasilan, hilangnya sebagian besar waktu, dan hilangnya hasrat meningkatkan kualitas hidup.

Apa sebenarnya entrepreneurship itu? Apakah ‘entrepreneur’ memang benar-benar sepadan dengan kata ‘pengusaha’? Lalu, apakah pengusaha itu sama dengan pedagang? Terus, apa tidak mungkin karyawan plus menjadi pengusaha atau karyawan bermental pengusaha? Apa tidak mungkin karyawan membebaskan dirinya dari keterbatasan finansial dan keterbatasan waktu?

Pertanyaan yang terus menggelayut di benak saya dan coba ditelusuri jawabannya. Bukan apa-apa, sejak menulis buku entrepreneurship Nabi Muhammad saw., saya sudah mulai menelusuri jawabannya. Dan akhirnya hasrat bertambah seiring penyusunan buku KIDS ON BUSINESS untuk Penerbit Tiga Serangkai. Seperti gayung bersambut, saya pun pernah diminta menjadi narasumber untuk penyusunan rancangan pengajaran mata kuliah wirausaha di Politeknik Media Kreatif (Polimedia). Lha, pertanyaan-pertanyaan tadi harus segera dicari jawabnya.

Karyawan memang banyak tipenya. Tipe yang paling besar jumlahnya adalah karyawan zombie yang bekerja seperti mayat hidup–cukup dikasih makan dan pekerjaan rutin. Karyawan zombie selalu nyaman dengan zona nyaman: status, rutinitas kerja, dan gaji yang kadang-kadang sepadan dengan pendidikan mereka. Yang penting ada status bekerja, masuk pukul 8.00 dan pulang pukul 16.00, tugas-tugas biasa dengan tingkat kesulitan rata-rata, lalu gaji dengan angka tertentu yang nyaris tidak berubah dari tahun ke tahun tapi pasti diterima setiap tanggal 1.

Kalau kejadiannya banyak seperti ini, memang pantas semua orang di Indonesia ini dilarang menjadi karyawan, kecuali mereka yang sengaja ditumbalkan menjadi zombie. Orang-orang yang tidak punya lagi hasrat untuk maju dan selalu merasa ‘miskin’ atau paling parah ‘bangga dengan kemiskinannya’. Satu-satunya jalan mengejar kekayaan bagi orang-orang seperti ini adalah dengan korupsi: uang atau waktu atau asset perusahaan. Mereka memang bermental ‘mengejar kekayaan’, bukan ‘memperjuangkan kekayaan’.

Saya masih menelusuri jawaban-jawaban dalam bentuk paling konkret…. Maka saya harus menuliskannya. Berbeda pendapat dengan anggapan bahwa pengusaha sama dengan pedagang atau karyawan bukanlah pengusaha. Saya coba mengembalikan etimologi kata ‘entrepreneur’ yang dipungut dari bahasa Prancis dan digunakan secara luas di Eropa untuk menyebut mereka-mereka yang meluncurkan ide-ide baru dan kreatif dalam bisnis yang stagnan atau boleh disebut para inovator. Dan sahabat sekalian, bacalah sekadar serpihan gagasan saya yang datang dari Maha Pemberi Gagasan, Allah Swt, buku KIDS ON BUSINESS: VAKSIN WIRAUSAHA UNTUK ANAK.

©2010 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here