OmBer Writerpreneur #4: Merambah ke Banyak Ranah

0
353

Omong Berisi Writerpreneur #4

Kali ini bahasan sesuatu yang mungkin menjadi tingkat paling sulit untuk menjadi writerpreneur, namun meniscayakan banyak peluang yang dapat diciptakan. Apa itu? Adalah mengeset diri menjadi seorang generalis dalam menulis. Mungkinkah? Ya, sekali lagi memang mirip-mirip pertanyaan lagu Stinky. Hahaha.

Karunia Allah Swt memang luar biasa: bukan hanya pancaindra yang membuat kita dapat merespons pengalaman-pengalaman hidup dengan baik, melainkan juga otak dengan belahannya (kiri-kanan-tengah) yang memungkinkan kita beraktivitas sekaligus berkreativitas. Lalu, manusia pun memiliki kecenderungan kecerdasan tertentu yang dapat dioptimalkan, termasuk dalam menulis.

Menulis itu persoalan optimalisasi pancaindra, sedangkan teknik berkembang sesuai dengan pelatihan, ¬†kegigihan, dan memanfaatkan rasa ingin tahu yang berlebih. Orang seperti Joe Vitalae kemudian mengemasnya menjadi ‘hypnotic writing’ dan merambah ke dunia bisnis, bahkan juga pribadi.

Apakah Anda pernah membaca sebuah surat pribadi yang membuat Anda menitikkan air mata? Apakah Anda pernah membaca sebuah pesan singkat yang membuat Anda malah luar biasa? Atau pernah Anda membaca sebuah catatan yang membuat Anda tercerahkan? Semua itu menggunakan pendekatan optimalisasi panca indra, bahkan sebuah tulisan tentang makanan (kulinari) sekalipun.

Seorang writerpreneur boleh menetapkan dirinya berkhidmat pada satu niche market, misalnya penulisan untuk anak atau penulisan dakwah-spiritual. Hal itu sah-sah saja. Namun, bicara soal kemungkinan, seorang writerpreneur dapat merambah ke banyak ranah penulisan, seperti penulisan bisnis, penulisan akademik, penulisan buku, atau penulisan jurnalistik.

Tiga kunci ranah (seperti yang pernah saya sampaikan di beberapa tulisan) adalah fiksi (berbasis imajinasi/fantasi), nonfiksi (berbasis data dan fakta), serta faksi (berbasis data-fakta dan kisah). Dalam fiksi seorang penulis harus mampu melarut dengan sastra (apakah itu genre puisi, novel, cerpen, dan drama). Dalam nonfiksi, seorang penulis harus mampu melarut dalam logika nyata, komunikasi antarpersonal, sistematika berpikir, teori, dan sebagainya. Dalam faksi, seorang penulis harus mampu melarut dalam dunia kisah, data dan fakta masa lalu maupun ter-update, serta human interest.

Memang tidak gampang menjadi generalis. Tempo-tempo menulis buku anak, tempo-tempo menulis buku spiritual, tempo-tempo menulis buku motivasi, karena kita memang juga bukan ahli dalam banyak hal. Namun, dalam ranah tulis-menulis, hal itu menjadi bukan mustahil untuk dikuasai seperti halnya seorang pegolf profesional juga menguasai badminton dan sepakbola. Hehehe Ade Rai pernah menjadi atlet badminton sebelum akhirnya memutuskan berkhidmat di dunia binaraga. Jangan-jangan Ade Rai juga bisa bermain catur.

Kompleksitas pengalaman hidup masa kecil dan masa remaja dengan kecenderungan tumbuh sebagai anak yang dominan otak kanan salah satu faktor pemicu seseorang mampu menjadi writepreneur generalis. Ah, itu mungkin cuma teori saya. Tapi, penggunaan pengalaman masa lalu dalam menulis, baik itu diri sendiri dan orang lain sebenarnya ibarat menjadi oli yang melumasi semua mesin gagasan.

Cek saja orang-orang yang serba bisa dalam menulis. Cari tahu pengalaman masa kecil mereka: penuh kebahagiaan, penuh kegetiran, penuh perjuangan, atau penuh lainnya? Umumnya mereka yang masa kecilnya ‘full’ dengan suatu pengalaman lebih dapat mengekspresikan diri dalam banyak hal di tulisan. Bertolak belakang dengan anak-anak yang kaku dalam kehidupannya, penuh disiplin, berbaju rapi dan dengan belahan rambut yang rata kiri atau rata kanan (kayak paragraf saja)–umumnya miskin pengalaman hidup meski tak selalu. Namun, memang hal ini perlu penyelidikan lebih lanjut.

Tulisan ini dipicu oleh pertanyaan seorang teman di FB: apakah writerpreneur harus generalis? Kalau seorang writerpreneur generalis dalam arti merambah ke banyak ranah, ia saya sebut powerful untuk menciptakan banyak peluang dalam penulisan. Kalaupun ia bukan seorang generalis, tetapi spesialis, ia pun dapat menciptakan peluang niche market (pasar terbatas) yang mungkin juga jarang dimasuki orang, misalnya ia spesialis dalam menulis gagasan-gagasan tentang dunia kedokteran atau kesehatan atau yang juga spesifik spesialis dalam menulis tentang dunia hukum.

Apa yang pasti writerpreneur itu punya energi menjemput rezeki di bidang apa pun. Writerpreneur adalah mereka yang hidup dalam dunia content sekaligus context yang berbasis creativity. Kelak mereka pun dapat meluaskan dunianya dengan community development–menciptakan komunitas orang-orang yang membutuhkan dan ‘menggilai’ ¬†tulisannya.

Maka berpikirlah segera sebagai writer dan entrepreneur— orang yang dapat menetapkan kapan pun dia mesti pensiun menjadi profesional perusahaan dan pengangguran! Selamat memasuki lagi dunia writerpreneur.

:catatan kreativitas

Bambang Trim

Praktisi Perbukuan Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here