Jadi Ortu Keren dengan Ekspresi 99+

0
367

“Makin menelisik, makin terusik”. Itulah ungkapan saya soal pengalaman, pengetahuan, solilokui (dialog dengan diri sendiri), dan obrolan. Beberapa hari lalu saya kembali berdialog dengan Ibu Dewi Utama Fayza–seorang ibu, pakar pendidikan anak yang kemudian menjadi ‘sahabat akrab’ saya. Dialog dan diskusi kami berbasis parenting hingga sekali-sekali menyentuh mimpi bagaimana menyelamatkan paling tidak beberapa gelintir anak-anak kita untuk menjadi anak-anak masa depan. Pembangunan karakter adalah kunci dan kreativitas adalah ‘daun pintu’ yang mengantarkan anak siap masuk ke dunia yang kini kaya akan perubahan.

Dan makin menelisik, saya memang makin terusik. Sebuah ide pada awal 2010 meluncur di kepala, lalu saya diskusikan dengan istri untuk mewujudkan. Ide tentang sebuah buku yang berisi puluhan ekspresi cinta dan ekspresi tawa yang dapat ditunjukkan orangtua kepada anak-anaknya. Kami memilih ‘ekspresi cinta’ sebagai ekspresi penting yang membuat anak merasa bahagia, aman, percaya diri, dan insya Allah mandiri. Lalu, kami pilihkan pula ekspresi tawa sebagai ekspresi yang dapat diberikan orangtua kepada anak agar anak merasa senang, sehat, kreatif, serta berani.

Kira-kira rancangan cover bukunya seperti ini (belum fiks 100%).

Buku ini ditulis secara marathon bersama oleh saya dan istri yang kebetulan memang sempat mengenyam pendidikan di PGTK di UPI Bandung. Kami punya pengalaman ‘bereksperimen’ bersama putri kami, Valya, dan juga hasil pengamatan kepada anak-anak lain. Seperti tadi, rasanya makin menelisik, makin kami terusik tentang apa yang tidak kami ketahui dari anak-anak dan betapa besarnya karunia Tuhan untuk dua hal saja: cinta dan tawa.


Saya mulai buku pertama dari soal pemberian nama sebagai ekspresi cinta orangtua kepada anaknya. Nama kita dan nama anak-anak kita jika ditelusuri terkadang memiliki rantai sejarah yang berliku bagaimana nama itu menginspirasi orangtua kita maupun kita sendiri untuk menabalkannya pada anak. Nama adalah harapan dan nama adalah doa dan itulah ekspresi cinta pertama ketika anak lahir ke dunia, di samping kecupan dan gendongan kita yang penuh sukacita.

Meminjam teori Gardner soal multiple intelligence, kami pun menyisipkan boks ‘smart love’ sebagai penjelasan bagaimana sebuah ekspresi dapat menstimulus aneka kecerdasan pada diri anak. Orangtua tidak boleh abai soal yang mungkin sepele ini. Maka kami menggelontorkan 99+ ide ekspresi itu yang dapat dilakukan di rumah, di tempat lain, dalam perjalanan, ataupun ketika dalam suasana bermain dan belajar. Dan pusat ‘radar’ cinta serta tawa sesungguhnya adalah berasal dari rumah. Sinyalnya boleh menguat ke mana-mana, tetapi pusatnya tetap berada di rumah. Karena itu, mustahil ekspresi ini dapat terbaca hanya mengandalkan kualitas, tetapi mengesampingkan kuantitas pertemuan Anda dan anak di rumah. Aha, makin menelisik, makin kita terusik.

Dalam diskusi dengan Ibu Dewi Utama, saya masih terkagum-kagum dengan buku beliau yang berjudul “Anak-anak yang Digegas”. Ini juga soal ekspresi cinta, tapi boleh jadi keliru. Karena cinta, kita ingin anak kita pintar segalanya. Mereka digegas untuk dapat menguasai banyak hal, seperti bermain musik, berhitung, melukis, mewarnai, atau menari–sebagai bentuk penanaman ekspresi seni yang dianggap elit. Namun, pada kenyataannya, banyak anak yang stress meskipun berhasil secara menakjubkan dalam akademis atau prestasi di pentas seni itu sendiri.

Ekspresi cinta yang keliru membuat anak merasa tersiksa. Orangtua dapat berkata, “Ini demi kebaikanmu, kelak!” Namun, orangtua tidak memahami apa sebenarnya yang baik untuk anak itu kelak karena kita tidak hidup sezaman dengan mereka. Kita kerap menggunakan orientasi zaman kita untuk mendidik dan mengekspresikan sesuatu yang beberapanya tidak relevan lagi untuk anak-anak masa kini.

Hal menarik ketika dialog dengan Bu Dewi bahwa keluarga modern sekarang belum mempersiapkan anak-anak yang dibesarkan di lingkungan apartemen, padahal Indonesia sedang tumbuh menjadi negara ‘apartemen’ dengan pembangunan berbagai apartemen di kota-kota besar. Bagaimana anak-anak tersebut bisa tumbuh sehat dalam ruangan kotak yang mereka huni sehari-harinya? Bagaimana mereka dapat bertemu dengan teman-teman sebayanya dan bermain layaknya anak-anak yang masih memiliki halaman di rumahnya? Makin menelisik, makin terus terusik.

Saya rasa tidak akan berhenti untuk terus menulis buku bertopik parenting dan juga buku khusus untuk anak-anak. Saya bahagia dapat bertemu dengan orang-orang hebat yang selalu mau meluangkan waktunya untuk berdiskusi soal kreativitas, pendidikan, dan mimpi masa depan. Di depan mahasiswa Poltek Media Kreatif pun saya coba membentangkan peta masa depan itu dengan mengajak mereka mulai mengambil peduli soal peralihan dari ‘pikiran putih abu-abu (anak SMA)’ ke ‘pikiran manusia dewasa’ dengan segenap kedewasaan emosional.

***

Ah, saya masih bertekad untuk menjadi ortu 99+– Angka 9 adalah angka terbaik yang dapat dicapai manusia, sedangkan 10 adalah angka untuk Sang Maha Pencipta. Plus adalah rasa syukur kita sehingga Tuhan akan menambah nikmat yang terus mengalir. Ide dalam buku yang saya tulis kali pertama bersama istri ini adalah ide penghimpunan dari pengalaman pribadi, pengalaman ortu saya sendir, pengalaman orang lain, pelajaran dan pendidikan dari para pakar. Kami perlu menuliskan meskipun baru sekian ekspresi benar-benar kami terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan 99+ itu menjadi azzam (tekad) untuk diimplementasikan dalam sisa hari-hari di dalam rumah, di kantor, di tempat-tempat umum, maupun dalam perjalanan bersama anak kami. Mohon doa dari sahabat semua….

:catatan renungan
Bambang Trim

Catatan: buku 99+ Ekspresi Cinta insya Allah terbit pada April 2010
dan buku 99+ Ekspresi Tawa juga pada bulan yang sama.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here