Katanya Sih Penulis Profesional ….

0
306

Di hadapan sekitar 70 peserta pelatihan menulis buku 2010 yang diselenggarakan IKAPI Jabar di Gedung Kompas-Gramedia Bandung, saya mengejar jawaban tentang makna profesionalitas. Mereka ingin menjadi penulis dan tentunya penulis profesional. Ada hal yang penting dari sebuah sikap profesional adalah sejauh mana Anda mengenali kemampuan Anda dan seberapa besar Anda dapat menetapkan harga yang layak untuk kerja profesional.

Tidak semua profesionalitas harus diukur dengan uang. Ada kalanya juga diukur dengan penguatan posisi tawar (bargaining position) sehingga kemudian menghasilkan benefit bagi si profesional. Namun, ukuran harga bayaran tetaplah penting untuk mendeskripsikan kerja profesional yang kita jalankan.

Dalam dunia tulis-menulis, patokannya gampang. Anda bisa dibayar per kata untuk editing atau Anda dapat dibayar per halaman naskah untuk penulisan dengan standar font berukuran 12 pt (Times atau Arial) dan spasi 1,5 di atas kertas A4–bergantung pada tingkat kesulitan. Atau yang lebih hebat lagi jika Anda punya tarif per jam editing maupun writing, termasuk konsultasi.

Dari sekitar 70 orang peserta yang saya tanya tadi, benar-benar tidak ada yang berani lantang menyebutkan ‘harga mereka’, baik untuk menulis maupun menyunting. Memang pesertanya terdiri atas penulis dan editor atau mungkin lebih tepat menyebut mereka calon penulis dan calon editor. Mereka memang belum berani mengaku profesional, hanya baru sebatas mengerjakan.

Lalu, seberapa sih Anda pantas dihargai sebagai seorang profesional penulis di negeri ini? Profesional dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan juga sesuatu yang berhubungan dengan bayaran menyangkut sebuah profesi atau keahlian tertentu. Menulis atau menyunting adalah keterampilan hidup (life skill), namun pada satu sisi menjadi sebuah keahlian (profesi) yang kadang tidak dapat dikuasai oleh orang kebanyakan. Alhasil, jadilah menulis dan menyunting juga sebuah pekerjaan yang mengusung tarif profesional tertentu.

Dari sebuah group di FB saya dapat informasi tentang penerbitan e-book yang akan dilakukan oleh seseorang. Di iklannya dicari beberapa penulis pendamping dengan pekerjaan melakukan riset kecil terhadap bahan, lalu mengemasnya menjadi naskah dengan keterbacaan bagus. Panjang naskah bisa berkisar antara 100-150 halaman untuk kemudian naskah itu akan diolah menjadi e-book dengan berbagai bidang bahasan. Untuk setiap halaman naskah, seorang penulis akan dibayar Rp10.000 karena menurut si empunya proyek, penulis cukup meriset dan menulis saja karena bahan sudah disediakan. Artinya, sehebat-hebatnya, penulis mendapatkan Rp1,5 juta untuk satu naskah. Tidak dijelaskan kemudian apakah hak cipta atas naskah tersebut dimiliki bersama atau oleh si empunya proyek. Tidak dijelaskan pula tentang hak moral apakah nama penulis yang dicantumkan sebagai pembuat karya e-book itu atau nama si empunya proyek.

Dalam banyak hal, angka tersebut sangatlah rendah untuk pekerjaan meriset, memilah bahan, menata outline, lalu menuliskannya menjadi enak dibaca. Jikalau nama penulis tidak dicantumkan, lebih merugikan lagi karena portofolio yang hilang digantikan oleh nama orang lain.

Mimpi Penulis Pro

Mari kita gunakan teori Robert Kiyosaki dalam berinvestasi. Jalan pertama bagi penulis pro adalah memimpikan sebuah laptop/notebook. Tetapkan harga notebook yang kita tuju, paling tidak mampu menjalankan program standard desktop publishing seperti In-Design CS 3 tanpa ‘lelet’, ya dengan memori 2 GB. Ancer-ancer harganya sekitar Rp9,5 juta. Oke sampai di sini pertimbangkan berapa naskah yang harus Anda buat dengan laptop tersebut agar mencapai BEP atau titik impas. Jikalau satu naskah Anda dapat menghargai hingga Rp3 juta, praktis diperlukan lebih kurang 3 naskah buku.

Jadi, Anda memang harus produktif karena tidak hanya laptop yang Anda butuhkan sebagai penulis pro kini. Apa saja kira-kira kebutuhan Anda tersebut?
1. Buku-buku referensi standar;
2. Recorder (alat perekam) dengan memori 1 GB atau lebih dilengkapi USB;
3. Kamera digital sekurang-kurangnya 8.0 Megapixel;
4. Mobile modem untuk akses internet di mana pun;
5. Mobile atau mini printer;
6. Blackberry atau smart phone.
Total semua kebutuhan tersebut dan relasikan dengan kemungkinan naskah buku yang harus Anda hasilkan agar tidak titik impas dan selanjutnya alat-alat tersebut menghasilkan uang buat Anda. Ada kalanya sebuah proyek penulisan buku, seperti biografi, autobiografi, ataupun memori jabatan dapat menghasilkan rupiah berkali-kali lipat dibandingkan Anda membuat buku biasa.

Lalu, sebagai profesional penulis atau editor, Anda tidak harus berpikir hanya menulis dan menyunting buku. Semua naskah adalah peluang Anda, apakah itu proposal, company profile, teks pidato, makalah, presentasi, ataupun karya ilmiah. Anda harus memasuki juga rimba, seperti academic writing, journalistic writing, PR writing, business writing, atau technical writing. Jadi, kenali hutannya, bukan pohonnya. Kenali berbagai bidang penulisan dan Anda dapat dengan cepat melatihkan berbagai jenis tulisan.

Selanjutnya, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, persoalan tarif menjadi penting untuk melihat profesionalitas Anda. Semua proyek penulisan harus dimulakan dengan proposal (surat penawaran), time line atau dead line, serta tarif (dasarnya per kata atau per halaman). Terkadang Anda pun sudah harus membuat matriks outline dari sebuah tulisan untuk dipresentasikan. Jika terjadi kesepakatan, selanjutnya dibuat MOU atau perjanjian antara Anda dan klien Anda.

Mengaku Profesional

Seorang penulis atau editor yang mengaku profesional seyogianya melek akan profesinya, baik bidang ilmu maupun perkembangan yang terjadi. Karena itu, terkadang fungsinya juga bisa menjadi seorang fasilitator untuk melatih para calon penulis/editor, sekaligus juga seorang konsultan yang dapat memberikan berbagai arahan serta saran kemajuan.

Apa jadinya jika mengaku profesional, tetapi malah tidak memahami secara mendalam seluk-beluk profesinya? Baru akan terlontar kalimat: “Katanya profesional, kok ….”

Pengetahuan dan pengalaman serba instan terkadang mendorong seseorang di Indonesia ini cepat sekali mengaku profesional. Baru menulis 1-2 judul buku, mengaku sebagai penulis buku profesional. Baru mampu menerbitkan secara swakelola 2-3 judul buku, sudah menasbihkan diri mampu menerbitkan buku secara profesional. Baru menyunting 2-3 judul buku yang itu pun tidak laris di pasaran, sudah mengaku sebagai editor profesional.

Mengapa para profesional karbitan ini dapat berterima dan eksis pula? Jawabannya karena mereka memang piawai ‘menjual’ kata-kata, lalu piawai pula mengutip teori sana sini untuk memperkuat tongkrongannya sebagai seorang profesional. Namun, gejala ini sah-sah saja karena memang pola pikir yang sudah keliru dari awal serta adanya peluang profesi yang tidak memerlukan ukuran standardisasi atau sertifikasi–seperti penulis dan editor yang kebetulan asosiasi profesinya belum begitu mapan.

Saya melihat gejala ini juga terjadi pada beberapa orang yang mengaku sebagai freelancer. Freelancer atau pekerja lepas memang sebuah istilah saja untuk menyatakan orang yang tidak terikat pada suatu institusi/perusahaan. Karena itu, jasa atau tenaganya dapat digunakan kapan saja. Namun, dalam bidang profesi tertentu, seperti penulis dan editor, freelancer mengandung makna sama dengan profesional. Jadi, kalau ada yang menyebut dirinya penulis freelance atau editor freelance, semestinya ia seorang profesional yang kebetulan tidak terikat dalam suatu institusi.

Nah, beberapa mantan mahasiswa saya yang baru lulus pun melamar…. Di dalam daftar riwayat hidupnya mereka mengaku sebagai editor freelance. Saya bertanya-tanya dalam hati bagaimana mereka bisa secepat itu menjadi profesional dan siap bekerja secara freelance. Di sinilah kekeliruan pola pikir terjadi.

Di luar negeri, apa yang disebut penulis freelance dan editor freelance adalah mereka yang sebelumnya bekerja pada institusi tertentu dan punya jam terbang tahunan. Setelah kenyang dengan pengalaman menulis dan menyunting, mereka pun siap menjadi pekerja lepas yang bebas dari institusi. Artinya, mereka bisa membantu siapa pun, penerbit manapun, dan lembaga apa pun untuk menulis dan menyunting. Jadi, seorang freelancer memang memilki dasar pengalaman dan keterampilan yang telah terasah sebelumnya di lembaga-lembaga negeri maupun swasta.

***

Katanya profesional… maka Anda harus berani mengukur diri dan menghargai diri Anda. Lalu, buatlah standar cara kerja Anda. Dan jangan lupa selalu meng-update diri dengan informasi terbaru seputar profesi Anda, yaitu penulis dan editor. Anda bisa baca buku terbaru saya: “Taktis Menyunting Buku” yang diterbitkan Maximalis.

Salam profesional!

:catatan profesi Bambang Trim
Praktisi Perbukuan Indonesia
Penulis 100+ judul buku serta Trainer/Fasilitator Penulisan dan Penerbitan

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here