Kuliner dan Entrepreneurship dalam Kemasan Buku Anak

4
498

Pernahkah terbayang begitu menariknya ternyata kisah asal usul makanan dari berbagai daerah maupun berbagai negara? Sebagian besar memang tidak diketahui sejarah dan siapa pencipta sebuah kreasi makanan. Namun, sebagian lagi dapat kita jejaki asal usulnya hingga sejarah penamaannya.

Iseng-iseng selepas wisata kuliner bersama putri saya, Valya, di Pizza Hut, tebersit ide mencari tahu asal usul pizza untuk bahan pengetahuan bagi anak. Anak-anak kita kini terimbas globalisasi, termasuk dalam soal kulinari. Adalah perlu untuk sekadar mengenalkan sejarah makanan tersebut untuk mengayakan pengetahuan mereka.

Akhirnya, pilihan saya jatuh pada picture book fiksi. Artinya, saya coba untuk mengemas sejarah makanan tersebut dalam bentuk kisah-kisah. Ide ini langsung saya realisasikan dalam satu hari penulisan. Hasil pertama adalah buku berjudul Martha dan Pizza Kebahagiaan–sebuah kisah anak ABG sebatang kara yang punya keahlian membuat pizza. Namun, Martha dikenal sebagai gadis ABG yang pemurah. Setiap membuat pizza yang lezat, ia selalu membagi-bagikannya.

Saya percaya, ide itu sebuah karunia luar biasa dari Allah Swt. Alih-alih menuliskan tentang asal usul kisah makanan, saya malah akhirnya mengemas dalam bentuk kisah-kisah yang menyisipkan entrepreneurship untuk anak, seperti berbagi, sinergi, dan kemandirian. Alhasil, kisah-kisah seri makanan ini pun mengandung pula-pula pesan-pesan entrepreneurship untuk anak.

Lingling dan Bakpao Keberanian. Buku pertama yang siap terbit adalah kisah sejarah bakpao (baozi) yang dikemas dalam kisah Lingling, putri seorang komandan perang (gugur di medan pertempuran). Lingling menjadi anak yatim dan tinggal bersama ibunya. Ayahnya tidak mewariskan harta kekayaan, tetapi di sini saya menyisipkan pesan bahwa ayahnya mewariskan sesuatu yang lebih berharga, yaitu ilmu. Dua ilmu yang diwariskan kepada Lingling (sesuai dengan latar budaya Tionghoa) adalah kungfu (wushu) dan ilmu membuat bakpao nan lezat. Saya kemudian menyisipkan sejarah bakpao yang ditemukan oleh Zhuge Liang, seorang ahli taktik perang Tiongkok kuno. Lingling menyisipkan entrepreneurship keberanian mengambil risiko, kegigihan, dan kemandirian.

Martha dan Pizza Kebahagiaan. Kisah ini dimulai dengan kesulitan Martha pada suatu hari mencari pesanan pizza. Belum ada pesanan satu pun dan ketika ia mencoba keluar rumah, orang-orang pun menghampiri Martha–bukan untuk memesan, tapi meminta pizza. Orang-orang tadi adalah fakir miskin yang biasa menerima kebaikan Martha. Martha berjanji kepada mereka. Karena itu, ketika mendapatkan sebuah pesanan pizza, Martha bekerja dengan cepat. Ia membuat dua pizza. Satu untuk pesanan dan satu untuk dibagikan. Martha hanya menyisakan satu pizza buat dirinya. Baru saja ia hendak memakannya, seekor anjing yang kelaparan menghampiri dirinya. Martha pun tidak sampai hati dan membagi pizza satu-satunya kepada anjing tersebut. Kemurahhatian Martha pun berbalas dengan kebahagiaan. Kisah ini menyisipkan entrepreneurship kemandirian, ketegaran, serta sifat mulia untuk berbagi.

Malik dan Kebab Persahabatan. Kisah ini dimulai dari dua orang sahabat yang dipungut anak oleh Babah Ali, si ahli pembuat kebab. Kedua anak itu bernama Malik dan Jamal (terinspirasi namanya dari Slumdog Millionaire). Malik dan Jamal tumbuh dewasa hingga berhasil meneruskan usaha kebab Babah Ali. Namun, mereka memutuskan untuk membuka kedai kebab masing-masing. Dalam suatu kisah karena kebab mereka sama-sama lezat, pelanggan Malik justru membeli kebab di kedai milik Jamal. Malik marah dan tidak terima sehingga pertengkaran mereka pun dibawa ke hakim kota. Setelah coba didamaikan, Malik bersikeras agar Jamal dihukum. Akhirnya, hakim menjatuhkan hukuman yang tidak disangka-sangka yaitu potong tangan. Malik terkejut dan ingat bagaimana ia melalui masa-masa sulit dengan Jamal. Akhirnya, Malik memaafkan Jamal. Hakim tersenyum karena siasatnya berhasil. Lalu, hakim memberi mereka ide untuk menjual kebab dengan daging yang berbeda. Alhasil, Malik tetap berjualan kebab daging sapi dan Jamal menjual kebab daging kambing. Mereka akhirnya bersinergi dan saling membantu. Kisah ini menyisipkan entrepreneurhsip sinergi, ide kreatif bisnis, dan juga persahabatan.

Tiga seri ini menjadi trigger kisah-kisah berbasis asal usul makanan dengan sisipan entrepreneurship untuk anak. Saya sungguh bersyukur dengan ide-ide ini dan insya Allah tiga buku ini sudah tersedia di pasar Maret-April 2010. Judul-judul selanjutnya sedang saya persiapkan, di antaranya kisah kulinari dari negeri sendiri yaitu Buyung dan Ketupat Kejujuran.

Peluang dan Penawaran Kerja Sama

Saya sedang mengupayakan buku sebagai gaya hidup, termasuk dalam kehidupan anak-anak kita. Untuk itu, saya membuka kerja sama co-branding kepada perusahaan-perusahaan berbasis makanan, baik yang berdiri sendiri maupun dalam bentuk franchise, misalnya pizza, kebab, dan bakpao untuk menjadikan buku ini sebagai souvenir kulinari. Bahkan, buku ini pun pantas menjadi produk souvenir untuk perbankan yang menargetkan nasabah dari kalangan anak-anak dengan sisipan pesan entrepreneurship.

Jika ada di antara saudara, Bapak/Ibu, yang memiliki usaha seperti ini atau link kepada pengusaha kuliner, saya bersedia menjadikan produk ini sebagai produk bandling atau co-branding dengan memberikan space iklan pada halaman sampul belakang luar dan juga sampul belakang dalam.

Itulah indahnya sinergi dan bagaimana sebuah buku sebenarnya memiliki kekuatan luar biasa untuk menanamkan mindset atau malah mengubah mindset. Buku ini disusun untuk pembaca sasaran anak-anak dan juga dapat dijadikan sebagai kisah pengantar tidur bagi para orangtua. Makanan akan selalu menarik bagi anak-anak, terutama jika mereka tahu asal usulnya. Insya Allah, mereka akan menjadi buku seri entrepreneurship berbasis kulinari ini menjadi buku-buku favorit mereka.

***

I love children’s book. Saya mencintai buku anak karena saya memang selalu tertarik dengan dunia anak-anak. Karena itu, energi full dari sebagian kehidupan saya dicurahkan untuk menulis buku anak, memahami dunia anak, dan juga menganalisis kekuatan buku anak dari sisi penulisan, editologi, dan penerbitannya.

©2010 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

4 KOMENTAR

  1. Bagus.. Sangat menarik ceritanya.. Benk, kenapa ga coba untuk mengangkat kuliner khas Indonesia??
    Juga cerita anak untuk mempertahankan makanan tradisi negri sendiri yang
    Sudah mulai pudar??
    Kerak telor, gado-gado, atau soto2an yang hampir tiap daerah punya ciri soto masing2..
    Suksesss terus ya om..

  2. wah Pak Bambang , kaya dengan ide-ide yang brilian. kok bisa-bisanya terpikir untuk membuat tema makanan dan anak-anak :). saya dulu sering nulis cerita anak di media surat kabar lokal (Medan). tapi sekarang, ketika mau menulis, kok susah banget. padahal kalau saya tuturkan saat menemani anak-anak tidur, lancar-lancar aja, malah saya bikin lagunya lagi. ide yang sudah ada di kepala, bisa hilang begitu saya mau menuliskannya di komp. saya malah jadi bengong… Bisa kasih advice untuk hal spt ini? (btw, dulu waktu di SMA udah rajin nulis? eh kelas 1 berapa ya dulu?)

  3. @Mika: Thank ya Mik. Kuliner Indonesia sedang dalam progress, soalnya agak sulit mencari sejarah asal usulnya, misalnya siapa pembuat kerak telor kali pertama. 🙂

  4. @Santy: Hehehe itu kekuatan imajinasi San, ditambah kesenangan makan. 🙂 Menulis itu sama dengan olahraga lain, seperti bulutangkis atau tenis meja. Begitu kita berhenti lama maka urat-urat yang tadinya lentur pun akan kaku. Apalagi, dalam dunia penulisan cerita anak, anak berkembang dan bertumbuh dengan kekuatan pikiran mereka yang tak terduga. Apa yang dulu disukai anak-anak masa lalu, belum tentu disukai anak-anak kini. So, mulai lagi berlatih melenturkan otot-otot menulis, mulai lagi banyak membaca karya-karya terkini penulis buku anak.

    Menulis itu bukan bakat, tetapi sebuah pelatihan dan kegigihan. Aku gak sepiawai sekarang saat SMA, cuma suka korespondensi. Bahkan, waktu kelas 1, aku diberi angka 5 di rapor untuk mata pelajaran bahasa Indonesia (kejam sekali Bu Guru itu, hehehe). Aku kalau gak salah di 1-5 SMAN 5.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here