Pernak Pernik Tulisan

1
310

Tulisan ini ringan-ringan saja; tentang dunia tulis-menulis hingga beberapa aspek yang melatarinya. Saya mulai dari sifat sebuah tulisan.

1. Pribadi Tertutup: Tulisan bersifat sangat pribadi dan cenderung dirahasiakan agar tidak dibaca ataupun terbaca oleh orang lain. Tulisan ini biasanya berupa diari, surat-surat pribadi, ataupun catatan-catatan rahasia.

2. Pribadi Terbuka: Tulisan bersifat pribadi ataupun sangat pribadi, tetapi dibiarkan ataupun disengaja untuk dibaca oleh orang lain. Tulisan semacam ini muncul akibat perkembangan teknologi informasi, terutama di dunia internet. Tulisan-tulisan di blog, website, facebook, ataupun twiter cenderung banyak yang bersifat pribadi, subjektif, dan kadang malah dibuat sesuka hati.

3. Publik Terbatas: Tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak, tetapi dalam lingkup terbatas, misalnya lingkup komunitas, lingkup keagamaan, ataupun lingkup sesama teman yang saling kenal.

4. Publik Terbuka: Tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak secara terbuka dan luas meskipun menyasar pada segmen pembaca tertentu. Tulisan ini bebas dibaca siapa pun yang berminat.

Kurikulum menulis di luar negeri mengandung pembelajaran mulai dari tingkat SD agar siswa mampu menulis dengan sifat publisitas–artinya, tulisan yang dimaksudkan untuk dibaca khalayak lebih luas. Hal ini bagian dari upaya memunculkan kreativitas sekaligus menanamkan rasa percaya diri kepada anak-anak. Mereka diajarkan bagaimana cara berbagi (sharing) yang baik sehingga apa yang ada dalam pikiran mereka dapat dipahami oleh orang lain.

Berbeda mungkin dengan konsep pembelajaran menulis yang kerap dimasukkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Menulis terkadang disempitkan maknanya sekadar menulis sastra: cerpen dan puisi ataupun menulis dengan jenis argumentasi-eksposisi-deskripsi-narasi. Tidak dijelaskan menulis sebagai keterampilan hidup dan fungsi publisitas tulisan sebagai bagian dari penguatan eksistensi dan pengakuan atas kemampuan seseorang.

Karena itu, sebagian besar siswa di Indonesia benar-benar buta menulis. Ini bukan asumsi karena saya pernah menjadi juri untuk lomba esai bagi siswa SMA, seluruh siswa itu tidak mampu menjelaskan apa itu esai. Lalu, mereka pun memahami esai (setelah saya jelaskan) dan membuat presentasi atas karya tulisnya. Namun, yang diperoleh benar-benar karya tulis yang bikin miris mulai dari soal diksi, tata kalimat, hingga pada kecermatan menyajikan data dan fakta dalam kategori amburadul.

Tidak ada satu bidang pun di dunia ini yang lepas dari tulis-menulis, termasuk bisnis. Apa perlunya mengajarkan anak-anak kita keterampilan menulis? Eksistensi yang mereka kejar lewat pendidikan, lalu karier yang baik (dalam teori Maslow) akan didukung habis dengan kemampuan menulis. Lalu, mereka akan menemukan begitu banyak model tulisan yang dapat mereka bagikan dalam berbagai momen, kepentingan, serta kebutuhan.

Karena itu, kemudian lahir berbagai bentuk ragam tulisan seperti berikut ini:

1. academic writing: laporan, skripsi, tesis, disertasi, term paper, buku teks, modul, diktat, dsb.;

2. journalistic writing: berita, feature, esai/kolom, tajuk, surat pembaca, resensi, dsb.;

3. business/PR writing: press release, advertorial, presentasi, proposal, notula, dsb.;

4. literary writing: novel, puisi, cerpen, drama;

5. entertainment writing: skenario/script, talk show script, teks iklan, dsb.;

6. book writing: children’s book, religious book, cook book, reference, text book, dsb.

Ragam ini kemudian melahirkan berbagai teknik menulis yang dapat dipelajari oleh siapa pun bergantung pada minatnya. Ada kalanya seorang penulis yang menjadikan menulis sebagai profesi berusaha untuk menguasai semuanya, tetapi beberapa yang lain merasa cukup dapat menulis puisi atau cerpen saja.

Dalam kategori besarnya berdasarkan jenis maka kemudian kita mengenal istilah FIKSI, NONFIKSI, dan FAKSI. Kategori terakhir jarang dikenalkan yaitu sebuah tulisan yang berbasiskan fakta dan data, tetapi dibuat dengan gaya berkisah atau sastra, misalnya biografi ataupun autobiografi. Jadi, kisah para nabi dan rasul tidak dapat dikategorikan fiksi ataupun nonfiksi. Adapun fiksi kita mafhumi sebagai karya sastra dengan genre puisi, cerpen, novel, dan drama. Kategori nonfiksi dikenal sebagai tulisan berbasis data/fakta yang berisikan argumentasi maupun eksposisi (penjelasan).

Merasa Sudah Menulis

Tulisan ini memang ringan dan sepele, hanya soal sifat, ragam, dan jenis tulisan. Namun, inilah terkadang yang menjadi titik awal bagaimana seseorang bisa berpikir lebih terbuka untuk karya-karyanya–tidak berpikiran sempit ketika hendak memublikasikan karya tulisnya.

Terus terang kerapkali penerbit mendapatkan naskah yang dibuat dengan kategori ‘pribadi’. Artinya, naskah itu meskipun ragamnya adalah ragam jurnalistik atau buku, seperti dibuat untuk penulisnya sendiri. Jadi, hanya penulisnya yang paham dan celakanya sang penulis merasa orang lain pun akan paham dengan jalan pikirannya yang tersusun pada kalimat-kalimat ‘error’ di dalam karyanya.

Banyak penulis yang ‘merasa sudah menulis’ untuk publik, tetapi sebenarnya mereka hanya menulis untuk dirinya sendiri atau ibarat menggumam sendiri. Cuma dia yang dapat memahami, sedangkan orang lain dianggap sudah mesti paham atau akan paham kemudian. Alhasil, terkadang sulit berhubungan dengan penulis seperti ini karena ketika diberi saran oleh editor, malah meradang ataupun merajuk untuk tidak mau lagi membicarakan naskahnya dan berniat mengirimkan kepada editor lain.

Kali lain banyak pula penulis yang merasa karyanya akan diminati dan disukai oleh orang berdasarkan asumsi, bukan prediksi–tentu lebih bersifat subjektif tanpa dukungan data dan fakta yang menguatkan. Mereka lupa membandingkan karyanya dengan karya sejenis, mengupayakan berbagai keunggulan, serta mengungkapan ide-ide segar yang termaktub di dalam karyanya secara jelas. Lazimnya karena merasa ‘sudah menulis’ dalam arti sesungguhnya menulis untuk publik–bukan hanya lupa kepada pembaca sasarannya, tetapi benar-benar lupa bahwa karyanya harus dibaca oleh banyak orang.

Tidak hendak berpanjang-panjang. Tulisan ini ringan-ringan saja sekadar menjejak kembali untuk apa dan untuk siapa kita menulis. Banyak tujuan orang menulis dari kebutuhan paling dasar guna mendapatkan uang sampai pada mendapatkan pengakuan; bahkan termasuk idealisme membagi ilmu pengetahuan, dakwah, maupun menegakkan kebenaran. Semoga bermanfaat.

:catatan kreativitas Bambang Trim
Pemetaan sifat, jenis, dan ragam tulisan adalah hasil dari kajian Bambang Trim.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here