Berproses Kreatif Menggagas Picture Book

11
1085

Sebagian orang yang menceburi diri atau akan menceburi diri dalam dunia tulis-menulis sering menganggap ranah penulisan buku anak adalah yang paling mudah. Padahal, pada praktiknya tidaklah demikian karena umumnya–dalam pengalaman saya memeriksa naskah buku anak–banyak yang kedodoran untuk mengalirkan gagasan. Gagasan penulis itu tidak bertemu dengan keinginan atau minat anak, tidak bertemu dengan tingkat pemahaman anak terhadap alur, tidak bertemu dengan tingkat kemampuan anak dalam berbahasa, dan juga tidak bertemu dengan standar moral atau etiket yang patut dibenamkan ke dalam benak anak-anak.

Buku anak atau buku yang ditujukan untuk pembaca sasaran anak-anak mulai usia 0 tahun hingga 12 tahun mengandung konsep tersendiri dan terbagi pada begitu banyak jenis. Pada tulisan kali ini saya hanya membahas soal picture book atau buku bergambar–dulu populer juga disebut dengan istilah cergam (cerita bergambar) dengan kategori fiksi atau faksi.

Tidak ada tulisan yang tidak dimulai dari gagasan, bahkan untuk tulisan anak yang ringan sekalipun. Penulis picture book selayaknya paham bahwa mereka akan menulis untuk pembaca sasaran batita dan balita atau paling tinggi anak SD kelas 1. Karena itu, mereka dalam konteks buku akan menulis dengan ketebalan 16, 24, dan 32 halaman (dalam kelipatan 8). Asumsinya harus ada 16 atau lebih adegan dalam satu alur cerita atau bisa kurang dari itu jika halaman buku dimulai dengan prelims, seperti halaman judul penuh dan halaman hak cipta. Hal yang menurut saya’ naif’ kalau picture book ini kerapkali disisipi halaman prakata dan daftar isi, bahkan diikuti halaman potslims dengan daftar pustaka segala–kira-kira apa perlu dibaca anak?

Gagasan untuk buku anak memang luar biasa luas dan juga dapat menyajikan sesuatu yang absurd sekalipun–dalam kerangka berpikir anak-anak kita sebut imajinatif. Penulis picture book misalnya bisa menghidupkan tokoh-tokoh binatang layaknya bertingkah laku seperti manusia. Meskipun demikian, masih banyak juga penulis buku anak Indonesia yang menyajikan tema/topik cerita monoton, meniru dari gagasan penulis lain, mengulang-ulang dongeng tanpa modifikasi atau penyegaran, serta juga penuh muatan pedagogi yang sangat menggurui.

Karena itu, saya perlu memulai paparan ini dari sebuah proses kreatif menciptakan picture book. Terus terang saya bukanlah seorang ahli buku anak ataupun seorang penulis buku anak yang brilian. Namun, sejak 1997 saya memang terdorong menyelisik penulisan dan penyajian buku anak sejak mengikuti Pelatihan Penulis dan Ilustrator Buku Anak yang diadakan ACCU Unesco bekerja sama dengan Pusbuk.

Beruntung waktu itu yang memberikan materi langsung dari luar negeri yaitu Seizo Tashima (seorang penulis picture book populer di Jepang), Gavin Bishop (seorang ilustrator buku anak dari Selandia Baru), dan Kyoko Sakai (seorang editor buku anak senior dari Jepang). Dari pelatihan tersebut, saya mendapatkan pengetahuan yang kaya soal picture book. Lalu, berlanjut pengetahuan ini terasah pada praktik editing naskah buku anak di penerbit Rosdakarya dan juga penerbit Salam Prima Media.

Dari minat tersebut, saya lalu mengambil penelitian dan kajian skripsi S1 Sastra Indonesia di Unpad dalam bidang sastra anak. Hanya kajian saya menyasar pada novel anak dengan metode kajian struktural intrinsik novel anak Indonesia. Pengkajian ini menuntun saya terus masuk dalam rimba belantara buku anak yang luar biasa menakjubkan hingga kemudian saya pun mempraktikkan penulisan picture book berjudul “Pesta Sayuran” dan berhasil mendapat penghargaan juara I dalam Lomba Penulisan Cerita Keagamaan Depag RI pada tahun 2000.

Proses Kreatif itu

Picture book ada dua jenis. Pertama ada yang disebut wordless picture book yang kerap diidentikkan dengan buku bergambar mini kata (biasanya hanya terdiri atas satu kalimat) atau buku bergambar minus kata (hanya gambar yang ada).  Untuk contoh pertama ini saya punya dua koleksi, satu berjudul A Day in the Garden karya Bettina Stietencron yang merupakan terjemahan dari buku anak Jerman berjudul Ein Tag im Garten. Satu lagi buku hadiah dari Kyoko Sakai berjudul Ofuroya-San karya Shigeo Nishimura yang menceritakan kegiatan mandi bersama di kamar mandi umum di Jepang. Di Indonesia jenis picture book semacam ini hampir tidak ditemukan dalam arti karya asli penulis atau ilustrator Indonesia. Beberapa tahun lalu, penerbit Rosdakarya sempat menerbitkan buku jenis wordless ini berjudul Sima yang mengambil karakter seekor macan.

Kedua adalah picture book berteks yang dalam hal ini kekuatan ilustrasi/gambar hampir seimbang dengan teks, bahkan boleh dikatakan kekuatan gambarlah yang lebih banyak bicara dibandingkan teks.

Dengan teks sedikit, sepertinya menulis picture book adalah sesuatu yang ringan dan lucu. Benarkah? Barbara Seuling dalam bukunya How to Write a Children’s Book and Get it Published menyebutkan: “Buku-buku yang terlihat paling mudah untuk ditulis–buku bergambar–justru, selama ini adalah yang paling sulit untuk ditulis. Mengapa? Karena picture book mengandalkan pada kata-kata begitu sedikit untuk mengatakan sesuatu yang begitu banyak.”

Begitulah, sebuah picture book terkadang hanya mengandung 1.000 kata atau kurang. Karena itu, kata haruslah terpilih dan kalimat haruslah tersusun apik sehingga memang menjadi kesulitan tinggi bagi para penulis yang baru menceburi penulisan picture book.

Terkait unsur penulisan, tentu seorang penulis picture book harus memperhatikan hal berikut: 1) topik cerita; 2) tokoh dan perwatakan tokoh cerita; 3) alur; dan 4) setting. Topik harus berpatok pada semesta anak, baik keseharian maupun sesuatu yang khayali (imajinatif). Tokoh juga dipilih yang benar-benar mudah dikenali, unik, sekaligus menarik, misalnya melibatkan tokoh-tokoh binatang. Alur diupayakan sederhana, tetapi punya klimaks dan antiklimaks (kadang alih-alih membuat alur sederhana, malah penulis menyajikan alur datar yang tidak menarik). Lalu, setting cerita juga dapat dipilih yang betul-betul menarik bagi anak, misalnya hutan, laut, ataupun gunung.  Hal lain yang penting adalah penyisipan amanat ke dalam cerita anak-anak sehingga cerita juga dapat menjadi media penanaman akhlak ataupun pembelajaran asalkan kadarnya tidak overdosis menjadi menggurui.

Proses kreatif. Proses kreatif awal setelah memahami karakter picture book tentu adalah pemilihan topik atau gagasan yang segar untuk cerita anak. Dasar topik bisa bermacam-macam, seperti cerita moral, cerita fantasi, cerita misteri, cerita lucu, atau cerita petualangan. Penulis dapat menstimulus gagasan dengan berbagai cara, seperti membaca buku picture book yang bagus, membaca katalog buku dari luar negeri, menonton film anak, ataupun melakukan kunjungan ke dunia anak–tempat anak-anak bermain, belajar, dan bercengkrama.

Penulisan. Penulisan dapat diteruskan setelah terikatnya gagasan. Ada penulis picture book yang membuat dulu story board dalam bentuk tabel atau kotak-kotak sebanyak durasi halaman, misalnya 16 kotak, 24 kotak, dan 32 kotak. Setiap kotak akan terisi dengan satu atau dua kalimat sebagai satu adegan atau sub-alur. Di sini penulis juga harus piawai membayangkan adegan dalam bentuk visualisasi di dalam benak hingga kemudian dituangkan ke dalam deskripsi ilustrasi atau gambar. Itulah sebabnya di luar negeri para penulis picture book umumnya adalah para ilustrator juga sehingga mereka menggunakan kemampuan visualisasinya untuk bercerita. Mungkin Anda dapat mengingat kisah Beatrix Potter si pencipta Peter Rabbit.

Penyajian. Anda dapat mulai melakukan terobosan penyajian dengan misalnya menggunakan bahasa berima, kata-kata yang berirama dengan akhiran yang sama. Anda pun dapat memilihkan karakter atau perwatakan tokoh yang unik, namanya yang mudah dikenali dan diucapkan anak-anak, serta alur cerita yang dinamis–membuat anak ingin tahu dari halaman ke halaman.

Modifikasi atau Sebuah Kelemahan

Bagaimanapun akhirnya penulisan picture book yang mungkin awalnya dikaitkan dengan seni ilustrasi dan seni wacana berubah menjadi sebuah industri yang menggiurkan, terutama bagi penerbit. Di Indonesia ada penerbit yang mengambil spesialisasi penerbitan buku anak sejak semula yang terkadang didukung muatan idealisme mencerdaskan generasi bangsa. Namun, ada juga penerbit yang memainkan jurus “latah” untuk mengadakan imprint buku anak karena melihat hal ini sebagai sumber bisnis.

Masalahnya kemudian, banyak penerbit yang justru mempekerjakan editor yang sama sekali tidak paham dengan buku anak, bahkan banyak juga yang tidak paham sastra. Mungkin hal ini dapat cepat dipelajari apabila editor yang bersangkutan memang memiliki minat tinggi terhadap dunia anak-anak. Namun, bagi editor yang justru tidak pernah berkecimpung dengan dunia anak, apalagi tidak mau mengambil perhatian penuh terhadap buku-buku anak bermutu karya lokal maupun luar negeri, alamat penerbitan buku anak hanya menjadi komoditas untuk sekadar meramaikan tanpa visi dan misi serta niat membesarkannya.

Soal ini saya tidak ingin berpanjang karena saya sendiri terlibat dalam industri ini. Namun, ada hal yang menjadi pemikiran saya ketika beberapa modifikasi picture book justru kontraproduktif terhadap tujuan dari penerbitan picture book. Salah satu modifikasi picture book yang patut dicermati adalah memasukkan unsur aktivitas ke dalam buku bergambar atau cerita bergambar tersebut. Alhasil, memang ini merupakan upaya modifikasi antara buku bergambar dan buku aktivitas (activity book). Jadi, ada buku bergambar yang disisipi aktivitas mewarnai, maze, ataupun beberapa teka-teki.

Baguskah? Tentu kalau bicara soal pengembangan (development), ide-ide seperti ini bagus saja. Namun, kalau dari sisi tujuan untuk dibaca atau dibacakan, biarkan anak menikmati bacaan atau ceritanya dan mencernanya di dalam diri. Kegiatan atau aktivitas yang disisipi menjadi gangguan atau kadang justru tidak dikerjakan anak. Lebih baik anak-anak batita atau balita itu memang memegang sendiri buku aktivitas tidak dicampur dengan bacaan.

Modifikasi lain adalah buku bilingual bahkan ada yang trilingual. Buku-buku anak ini disisipi dengan bahasa Inggris dan terkadang dalam konteks buku religi Islam disisipi bahasa Inggris plus bahasa Arab sebagai pengayaan (enrichment). Pertanyaannya: benarkah dua bahasa itu berfungsi pada sedemikian banyak anak? Mungkin hanya anak-anak yang bersekolah di luar negeri atau bersekolah di sekolah berstandar internasional  yang akan mampu atau ingin membacanya dalam bahasa lain.

Dari beberapa kajian, saya justru menemukan beberapa buku bilingual yang menggunakan bahasa Inggris kacau balau–apabila dimaksudkan untuk anak. Alhasil, terkesan bilingual sebagai komponen “penambah daya tarik” dan kepentingannya asal ada. Mungkin sekarang lebih mudah dengan hanya mengandalkan Google Translator utnuk menerjemahkan, lalu tinggal menambahkan cap bilingual.

Soal modifikasi ini boleh jadi memang debatable dan perlu sebuah penelitian mendalam. Bagi saya pribadi lebih mengacu pada keadaan sebenarnya untuk anak, bukan untuk orangtua anak. Modifikasi sah-sah saja dilakukan untuk memunculkan sebuah keunikan tersendiri. Namun, penulis atau penerbit perlu mengadakan riset fungsi dan penggunaannya untuk anak.

Proses Kreatif Si Langlang

Karya picture book hampir setahun lalu (2008) yang saya tulis adalah buku serial bertema pengembangan karakter dengan tokoh Langlang. Cerita dengan tokoh binatang sudah banyak dan upaya saya adalah kembali menyegarkan cerita dengan tokoh-tokoh binatang yang dikenal anak, seperti kucing, kambing, ayam, anjing, ataupun kura-kura. Dari topik, lalu saya berpikir bagaimana mengembangkan cerita maka terbetiklah ide dari sifat yang saling berlawanan:

  • marah dan sabar
  • penakut dan pemberani
  • peragu dan percaya diri

Tokoh Langlang saya kembangkan. Langlang adalah anak kucing belang yang aktif sehingga kemudian terpilih nama Langlang. Berturut-turut saya memunculkan tokoh anak-anak dari kalangan binatang dan juga tokoh orang dewasa. Lalu, muncul upaya modifikasi cerita pada akhir cerita ketika Langlang dihadapkan pada dua pilihan karakter. Jika Langlang marah, yang terjadi adalah …. Jika Langlang sabar, yang terjadi adalah ….

Saya berharap metode pilihan pada akhir cerita ini membuat anak paham apa yang seharusnya mereka lakukan dan pilih. Sederhana, tetapi berupaya menggiring opini anak balita sehingga pada setiap akhir bercerita ada dialog tanya-jawab yang dapat terjadi antara anak dan orangtua.

Alur saya upayakan bergerak dinamis dengan memunculkan satu masalah dalam setiap aktivitas Langlang dan teman-temannya. Jadi, dalam satu buku terdapat lima cerita berbeda dengan satu topik sifat baik dan sifat buruk.

Salah satu tingkat kesulitan menyusun cerita Langlang ini adalah menghadirkan berbagai macam peristiwa dengan alur yang berbeda dan dalam durasi pendek. Bahkan, pilihan sikap pada akhir cerita harus dibuat dalam dua halaman. Saya sempat agak terpeleset dalam menggambarkan karakter penakut dan peragu. Kedua-duanya hampir mirip karena ragu-ragu juga kadang disebabkan oleh takut. Namun, ragu-ragu harus diposisikan pada sikap yang disebabkan malu, kurang percaya diri, terlalu banyak pertimbangan yang belum tentu terjadi, dan sebagainya. Untunglah editor di Tiga Serangkai jeli dalam mengedit sehingga kemudian dilakukan revisi cerita pada kisah Langlang: Peragu dan Percaya Diri.

Buku serial si Langlang ini terbit dalam lima jilid dan dua di antaranya diteruskan oleh Mas Ali Muakhir. Konsep buku serial ini juga dapat menjadi trik bagi para penulis untuk membuat buku anak secara produktif. Biasanya cerita serial terdiri atas 3 hingga puluhan seri. Karena itu, serial si Langlang dapat diteruskan dengan kisah lainnya. Apa yang mahal sebenarnya konsep awal cerita bergambar itu dibuat. Hal ini semacam ide yang menjadi pertaruhan penulis agar naskahnya dapat berterima oleh penerbit.

Cerita Si Langlang kemudian menjadi pilihan DAAI TV untuk disiarkan dalam program dongeng anak beberapa waktu lalu.

Potensi Ekonomi dari Kreativitas Picture Book

Potensi ekonomi ataupun imbalan finansial dari picture book di Indonesia memang mungkin belumlah menggembirakan. Beberapa penulis masih ada yang menerima bayaran Rp500 ribu ataupun Rp1 juta rupiah untuk satu naskah picture book dengan durasi 24-32 halaman. Artinya, rata-rata per halaman kurang dari Rp50 ribu. Namun, jika dilihat dari durasi penyelesaian picture book, Anda boleh terkejut bahwa dalam sepengalaman saya sebuah picture book berdurasi 24 halaman terkadang hanya butuh waktu 2-3 jam menulisnya.

Apa yang mahal adalah ide awalnya. Jadi, itulah yang semestinya dihargai oleh penerbit. Hampir sebagian besar penerbit kita, tidak pernah memiliki bank ide atau gudang ide buku anak yang seyogianya diusahakan oleh editor pemerolehan (akuisisi editor). Jadi, para penerbit itu bergantung pada ide segar yang ditawarkan para penulis.

Nah, buku-buku picture book berdurasi 24 halaman sebenarnya sama panjangnya dengan empat halaman A4 atau folio dengan spasi ganda. Bahkan, ada penulis yang menyerahkan naskah picture book dalam bentuk tabel-tabel saja sebanyak tiga halaman. Terlihat enteng banget menulisnya sehingga karena itu mungkin beberapa penerbit berpikiran bahwa menulis picture book layaknya membuat kue tart–hanya butuh beberapa jam. Padahal, yang lama adalah memikirkan ide dan pengembangannya.

Jadi, sebenarnya ada potensi ekonomi besar jika seorang penulis melakukannya secara profesional. Misalnya, dia dapat menetapkan harga penulisan naskah Rp1,5 juta. Sang penulis harus punya target dapat menyelesaikan naskah tersebut 2 naskah dalam satu hari. Artinya, ia punya potensi penghasilan Rp3 juta dalam sehari. Apa yang perlu dijual adalah konsep sehingga konseplah yang dijaga oleh penulis agar tidak “dimanfaatkan” orang lain untuk membuat karya sejenis.

Penulis yang kebetulan juga adalah ilustrator dapat menawarkan langsung paket dummy buku yaitu penulisan, desain interior, ilustrasi, dan kover buku. Paket dummy digital bisa dalam bentuk fail pdf dan dummy hardcopy dalam bentuk digital printing atau POD. Mungkin harganya dapat lebih tangguh dalam hitungan Rp4-Rp5 juta satu paket buku. Jika penerbit mau menerima konsep serial Anda, tentu harga dapat dinegosiasikan lagi karena penting bagi Anda mengutamakan volume dan kesinambungan daripada hanya satu atau dua buku setelah itu selesai.

Ide-ide yang Bersaing

Ide-ide penulisan dan pengemasan picture book akan terus bersaing dari masa ke masa. Karena itu, sangat mungkin terjadi pengulangan ide-ide terdahulu. Contoh, buku-buku anak religi Islam (kategori faksi terutama) kerapkali mengalami pengulangan ide-ide yang lucunya tampil seragam. Buku-buku seragam ini hanya akan saling bersaing dan menganibal di toko-toko buku, kecuali penulisnya cukup aktif berpromosi sendirian dan mampu menunjukkan keunggulan bukunya dibandingkan buku-buku lain.

Apa yang paling menyebalkan bagi penulis adalah tentunya pencurian ide-ide atau peniruan ide-ide dengan sedikit modifikasi.

Untuk menghindarkan hal ini bukanlah dengan bertindak terlalu defensif, melainkan harus aktif terus berlatih, belajar, dan mengembangkan kemampuan stimulasi ide. Biarkan saja para peniru atau epigon itu mengikuti gerak-gerik Anda dan mempelajari karya-karya Anda. Anda cukup menggunakan jurus “tanpa bentuk” dengan mengandalkan seluruh tubuh dan pancaindra untuk berubah setiap saat–seperti bunglon yang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan.

Tapi, kesamaan ide pun mungkin saja terjadi ketika Anda memikirkan hal yang sama dengan yang orang lain pikirkan. Hal yang membedakan bisa pada cara penyajian dan syukur-syukur Anda sudah memiliki gaya unik tersendiri. Karena itu, Anda tetap harus dapat hidup dari persaingan antarpenulis picture book lainnya.

Siapa yang juara? Tentunya mereka yang punya kecintaan dan hasrat pada dunia anak-anak serta tidak menjadikan buku anak sebagai ranah yang harus dicoba-coba karena merasa mudah atau mampu. Buku anak yang baik adalah buku yang menarik bagi anak, mendorong mereka lebih maju dalam berpikir dan bertindak, serta memberikan amanat akhlak sebagai manusia. Dan buku itu pun harus benar-benar dibaca anak dengan nikmat sekaligus menyenangkan, bukan orangtuanya.

***

Menantang bagi Anda? Tidak mudah memang, tetapi kalau Anda pencinta dunia anak, punya hasrat untuk menulis, dan selalu ada gagasan-gagasan brilian cerita anak, silakan mencoba picture book. Anda akan tercengang betapa hebatnya sebuah ide dan betapa senangnya membagi ide tersebut kepada generasi platinum sekarang ini.

Saya sudah mencoba dan merasakan nikmatnya….

:catatan kreativitas

Bambang Trim

komporis-buku-indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

11 KOMENTAR

  1. alhamdulillah, saya bertemu dengan tulisan ini.
    saya punya 3 buku picture book yang saya karang sendiri sudah lengkap dengan gambarnya,( free hand dengan digital retouching) dan 1 novel. bagaimana cara terbaik menawarkan pada penerbit?

    • Cara terbaik adalah menawarkan kepada penerbit dengan surat penawaran dan proposal. Tandailah penerbit-penerbit yang aktif sekaligus kreatif menerbitkan buku anak. Anda bisa mengeceknya di toko buku, seperti Gramedia, Elexmedia, Tiga Serangkai, Erlangga Kids. Dalam proposal ungkapkan keunggulan buku Anda dibandingkan buku anak lainnya, adakah buku pembanding (pesaing) yang mirip topiknya, dan tentunya benefit yang Anda sodorkan untuk anak-anak sebagai pembaca. Demikian, terima kasih. Semoga sukses.

  2. Kalau salah satu buku anak saya terbit, kemudian menyusul yang berikutnya, adalah Mas Bambang yang menjadi salah satu pengaruh besar. Karena pelatihan-pelatihan dan contoh serta formula-formulanya efektif sekali terutama buat pemula seperti saya. Sama dengan Mbak Novi, saya juga mencari postingan yang seperti ini. Makasih Mas bambang…

  3. kalau mengirim naskah untuk buku cernak itu dalam bentuk pictbook atau ketikan naskah biasa seperti kirim cerpen/ artikel ke media begitu? adakah contoh proposal?

    • Naskah picture book bisa dalam bentuk template naskah biasa dan setiap gambar diberi keterangan atau deskripsi gambar yang jelas sehingga penerbit dapat menugaskan ilustrator menciptakan gambar. Bisa juga penulis bekerja sama dengan seorang ilustrator untuk menawarkan picbook dalam bentuk dummy. Contoh proposal penawaran naskah dapat dibaca di buku saya “The Art of Stimulating Idea” terbitan Metagraf. Terima kasih.

    • Maksudnya yang melakukan penelitian anak SMP? Wordless Picture Book untuk anak balita. Di Indonesia hampir tidak ada yang menerbitkan. Kalau judul-judul asing bisa dicari di toko buku yang menjual buku impor. Terima kasih.

  4. Mas Bambang, thn 2006 saya sdh menerbitkan 30 judul picture book, saya jg mengadakan pelatihan pembuatan picture book dr 1998-2005 lewat direktorat SD dan direktorat TK Depdiknas khusus untuk guru SD dan Kepsek dan guru TK se Indonesia. Skrg saya sedang menulis buku panduan membuat picture book, dan 40 judul picture book. Buku saya itu mungkin tidak ada di pasaran bebas, krn waktu itu diterbitkan oleh penerbit swasta tp untuk pesanan perpustakaan SD seluruh Indonesia…

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here