Mudahnya Graphic Guide, Perlunya Kesungguhan

9
509

“Tidak ada yang mudah sebenarnya untuk menggapai sesuatu atas nama profesional. Namun, dengan segala cinta, hasrat, dan kekuatan dari dalam diri segalanya memang jadi terasa mudah karena Tuhan mungkin mengabulkan doa-doa kita yang memohon kemudahan.”

Judul: Jadi Pembicara Pro itu Mudah! – Penulis: Bambang Trim – Penerbit: Tiga Serangkai; Tahun: 2010.

Saya menulis dan mengembangkan konsep buku ini memang dengan semangat ‘kemudahan’ dan ‘mempermudah’ pembaca. Karena itu, buku ini diilhami dari konsep yang berkembang juga dalam dunia penerbitan di Eropa yaitu mengandalkan bahasa visual sebagai pengaya imajinasi dan penguat materi.

Penulisan graphic guide sendiri tidak dapat dibilang mudah karena penulis menggunakan dua sensitivitas: sensitivitas terhadap teks dan sensitivitas terhadap visual. Jadi, sembari menulis teks-teks ringkas sekaligus bernas, juga harus mampu merancang visual yang tepat.  Kesehatian antara penulis, ilustrator, dan desainer dalam pengemasan buku menjadi kunci kekuatan sebuah graphic guide.

Buku tentang pembicara pro ini mengandung dasar-dasar public speaking dan banyak contoh serta kiat praktis.  Saya menggunakan teori sekaligus pengalaman berbicara dalam berbagai event, seperti training, seminar, kuliah, seremonial, dan sebagainya. Pengalaman luar biasa saya adalah ketika memberi ‘kata sambutan’ pada acara seminar internasional yang menghadirkan Masaru Emoto, penulis buku The True Power of Water. Bukan Mr. Masaru Emoto yang membuat saya agak grogi ketika dipanggil ke atas panggung, melainkan karena di deretan kursi depan ada para tokoh public speaker Indonesia. Siapa saja? Hmm… ada Aa Gym, Ary Ginanjar Agustian, Tung Desem Waringin, Andrie Wongso,  dan banyak lagi tokoh yang hadir pada seminar langka tersebut. Alhamdulillah, sambutan saya lancar dan diberi acungan jempol oleh Pak Tung.

Berbagai suka dan duka sebagai pembicara publik juga saya alami, termasuk ‘ngadat’-nya alat bantu visual semacam lcd projector. Pernah juga file yang sudah disiapkan tertinggal. Untungnya saya membawa back-up file training di dalam laptop selalu. Apa yang menarik adalah ketika berbicara di tempat yang tidak terbayangkan oleh kita dengan ratusan peserta. Memang sulit sekali mencuri perhatian mereka di area gedung yang besar dengan kemampuan sound system yang terbatas, apalagi layar lcd yang standar. Perlu berbagai trik dan teknik menaklukkannya.

Alhasil, memang tidak cukup sekadar ingin atau mau menjadi pembicara pro, tetapi juga perlu kesungguhan untuk meniti dan jam terbang berkali-kali berbicara di depan publik yang beragam dan suasana berbeda-beda pula. Namun, buku graphic guide ini menjadi sebuah pengantar yang tidak ingin menakut-nakuti Anda untuk menjadi pembicara publik, tetapi justru memberikan sebuah visualisasi imajinatif bagaimana Anda memberdayakan kemampuan berbicara yang setiap orang memilikinya.

Gali potensi dalam diri–itulah amanat sejati buku ini. Nikmati dan hayati hidup dengan canda dan hikmah–itulah misi dari buku ini. Tidak perlu mengernyitkan dahi dan berpayah-payah, apalagi bersahabat dengan keluhan setiap hari. Anggap sebuah ‘kemudahan’ memang anugerah dan ‘permudahlah segala urusan, jangan dipersulit’ maka kita semua menjadi orang yang bersyukur atas segala kemudahan.

Oke brother, sampai bertemu pada ide-ide brilian berikutnya dari Anda dan sukses terus berlanjut….

Salam Sukses: Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

9 KOMENTAR

  1. Selamat pak, makin produktif saja nih. Buku bapak yg “Magical Public Speaking” sudah kubaca. Entah dengan buku ini, kapan tepatnya bisa hadir di toko buku terdekat? Oh iya, semoga juga membahas aspek memunculkan keyakinan diri secara lebih mendalam. Terutama bila dapat kesempatan berbicara di level peserta yang lebih “tinggi”, seperti pengalaman pak Bambang Trim di atas. Pemikiran apa yang mendukung bapak hingga bisa tampil sebaik saat itu? Keyakinan seperti apa yang membuat pak Bambang Trim mudah berbicara dengan baik? Dan, apakah mungkin orang lain meniru hal yang sama (aspek keyakinan dan pemikiran) seperti pak Bambang Trim alami? Bagaimanakah membiasakan hal-hal sebaik itu?

    Mungkin, itu sebagian pertanyaan yang bisa saya lontarkan saat ini. Pastinya buku panduan menjadi pembicara publik ber-grafis sejenis ini, akan sangat membantu siapa pun yang berniat menjadi pembicara publik profesional. Dan semoga jadi BEST SELLER, ya pak.
    Semoga kita bisa bertemu di waktu dekat. Terima kasih, pak Bambang Trim.

    • Alhamdulillah, makasih banyak Mas Rio. Ini saya bicara ‘berenang’ dengan seorang praktisi ‘renang’, hehehe jadi yang pantas adalah meminta kritik dari apa yang sudah ditulis orang yang baru ‘melek’ public speaking ini, Mas. Buku graphic guide justru buku trigger, dan gak mendalam; seperti etalase atau magnet yang mau menarik orang untuk tahu lebih dalam. Maka orang-orang seperti Mas Rio-lah yang akan menyajikan kedalaman dan pengayaan.

      Saya terlatih secara alami Mas, terutama soal afirmasi. Dari dulu sudah termotivasi untuk menggali kedalaman diri. Jadi, ketika saya bertemu ‘orang-orang besar’, saya hanya mengambil hikmah dari pelajaran Aa Gym–cukuplah Allah tempat bergantung, bukan pada ‘orang-orang besar itu’ sehingga pengalaman saya membawa bertemu dengan berbagai tokoh dan saya menempatkan diri secara wajar sembari mencoba mengalibrasi dengan penampilan verbal dan nonverbal mereka. Tutur bahasa yang diajarkan orangtua kita dulu, lingkungan yang mendukung penggunaan tata bahasa yang baik, dan akhirnya saya merasa (baru merasa lho, Mas) menemukan programming kata-kata lewat pancaindra. Hehehe ini ngomongin NLP sama pakarnya.

      Peniruan itu alamiah Mas, copy the master dalam pandangan saya. Namun, peniruan dapat dilakukan ketika memang diniatkan dan didukung passion. Ketika saya menjadi ghost writer ataupun co-writer para tokoh seperti Aa Gym dan Yusuf Mansur, saya melakukan kalibrasi jalan pikiran dahulu. Lalu, saya gunakan telinga, mata, kinestetik untuk mengamati, mencerna, dan melarut dengan tingkah laku tokoh itu. Nah, ketika saya menulis, yang ‘jalan’ adalah pikiran sang tokoh seperti dia berbicara kepada saya dan saya tinggal menuliskan. Latihan terbaik adalah efektif menggunakan potensi dari Allah yaitu pancaindra sehingga kita memiliki apa yang disebut interconnecting quotient. Segala hal dapat tiba-tiba terkoneksi ketika kita butuhkan sehingga saat kita bicara atau menulis tanpa sadar (mungkin dari kekuatan otak bawah sadar) semua terkoneksi sehingga tidak terjadi speechless atau wordless. Rada-rada ‘ghaib’ kalau dibeberkan metode melatihkannya. Hahaha.

      Menarik nih Mas Rio diskusinya. Kapan2 kita copy darat, ya. Terima kasih atas support dan komentarnya. Sukses terus berlanjut….

  2. Wah, asyiknya dapat jawaban dari pak Bambang Trim.
    Dengan membaca ulasan di atas, bahkan bapak pun telah mengintegrasikan apa-apa yang selama ini coba kembali dipahami oleh para praktisi pengembangan diri (NLP dan sejenisnya) melalui proses modelling itu. Penggunaan istilah “interconnecting quotient” terasa sangat membantu lho pak. Ijin kupake istilah itu, untuk turut mempermudah berbagi ke yang lain ya?
    Jadi nambah pengen untuk copy darat, nih.

  3. Berbicara di depan publik; sampai sekarang masih “mengerikan” bagi saya. Bukan karena trauma, tapi lebih kepada kurang peka. Meski sudah dibantu dengan catatan kasar (draft), tetap saja “gagu” dalam berbicara dan “hilang arah” muncul tiba-tiba tanpa terkendali. Jam terbang memang kurang banyak, namun terkadang saya berpikir; apakah seorang orator itu memiliki bakat atau anugerah khusus, sehingga tanpa perlu banyak omong pun sudah bisa beromong-omong dengan baik?

    Dalam kasus saya, sepertinya “bisa karena biasa” belum cukup. Wallahu a’lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here