Selisik Orang Tionghoa, Tepercik Ide Berharga

3
508

Judul: Rahasia Kaya dan Sukses Pebisnis Tionghoa Penulis: Lie Shi Guang (Johanes Ariffin Wijaya) Penerbit: Andi Publisher Tahun: 2009

Selalu menarik membicarakan mengapa orang Tionghoa banyak yang mantap dan teruji meniti sukses, utamanya dalam bisnis. Lalu, sekian penulis dan sekian buku mencoba membongkarnya tentang apa yang disebut rahasia para pebisnis Tionghoa tersebut. Pengakuan juga datang dari seorang nabi ketika Nabi Muhammad saw memerintahkan para Sahabat dan kaum Muslim untuk belajar menyebar, bahkan hingga ke negeri Tiongkok sekalipun.

Saya menemukan satu titik kunci bahwa ada pengaruh kuat tradisi nenek moyang orang Tiongkok yang menjadi benih hidup dalam meniti sukses. Hebatnya, dari generasi ke generasi titik kunci itu terpatri kuat dan diturunkan ke anak cucu hingga cicit. Titik kunci ini saya sebut sebagai manusia yang belajar menjadi manusia dan Lie Shi Guang, penulis buku “Rahasia Kaya dan Sukses Pebisnis Tionghoa” memetakannya menjadi 8 butir rahasia: kerja keras, motivasi yang kuat, cepat bertindak, dapat dipercaya serta jujur, kekeluargaan dan persaudaraan, cinta kasih, pikiran yang positif, dan belajar terus-menerus.

Buku ini pas terbit di Indonesia dan ditulis seorang Tionghoa yang begitu mencintai Indonesia hingga tak henti menyebar antusiasme kepada siapa pun setiap hari. Lebih dari itu saya melihat konteks buku ini sebagai upaya membuka “gembok” peti harta karun untuk memahami orang Tionghoa seutuhnya. Daripada coba bersikap nyinyir ataupun berdebat soal dominasi ekonomi yang dilakukan orang Tionghoa versus penduduk pribumi, lebih baiklah menganggap mereka adalah satu saudara yang patut dicontoh dan ditiru apa yang membuat mereka sukses.

Perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) memang menggetarkan banyak pihak di Indonesia ini, terutama kekurangsiapan para pelaku usaha di Indonesia untuk bersaing secara terbuka dengan pengusaha China. Hal ini sama dengan sekumpulan tentara yang tergetar sekaligus gentar mendengar akan datangnya sebuah pasukan tangguh dari negeri seberang. Apa yang ditakutkan bukan persenjataan lengkap, melainkan ‘manusianya’ yang sudah terlatih otak, tangan, kaki, dan hampir semua anggota tubuhnya bekerja.

Karya Bapak Lie Shi Guang atau Johanes Ariffin Wijaya ini saya kira pun menyasar dua pembaca sasaran: 1) orang pribumi di luar Tionghoa; 2) orang Tionghoa sendiri. Bagi orang pribumi tentu buku ini mengandung benefit mengungkap faktor kaya dan sukses orang Tionghoa terkait tradisi dan mental baja. Bagi orang Tionghoa sendiri tentu buku ini ibarat “kitab silat modern” yang tengah dicari-cari sebagai kompas hidup.

Mari kita lihat peta bisnis di Indonesia. Bisnis apa yang tidak dimasuki oleh orang Tionghoa? Kuliner, wah mereka merajai di Bandung dan Jakarta, termasuk makanan tradisional Indonesia. Penerbitan buku, yang satu ini meskipun industri kreatif-intelektual tetap saja ada orang Tionghoa yang memainkan peranannya di Jakarta, Bandung, Jogja, dan Surabaya. MLM, hampir semua dimotori oleh orang Tionghoa. Training motivasi dan bisnis, hehehe orang-orang Tionghoa juga berjaya sambil menyebutkan nama-nama, seperti Tung Desem Waringin, Andrie Wongso, dan James Gwee. Industri manufaktur, tidak terhitung. Franchise aneka produk dan jasa, orang-orang Tionghoa bergerak cepat menjadi motornya. Jadi, memang sepertinya orang Tionghoa mengejar suratan takdir sukses: pursuit of happiness (memperjuangkan kebahagiaan).

Pertanyaan terakhir yang menggelitik: terbuat dari apa sebenarnya DNA orang Tionghoa ini? Benarkah mereka sudah memiliki MYELIN yang tebal di jaringan syarafnya–seperti yang ditengarai oleh Bapak Rhenald Kasali–sebuah kekuatan karena mengandalkan dua kemampuan: brain memory sekaligus muscle memory. Karena itu, orang-orang Tionghoa punya daya saing tinggi disebabkan otaknya diberdayakan dan otot-ototnya dilatih untuk mampu mendukung kecepatan pikiran.

Sangat berminat membaca buku ini? Hmm… ulasan saya hanya setitik kecil embun di antara lautan kesegaran tentang bisnis orang Tionghoa yang coba dibeberkan Pak Jo (Johanes Ariffin Wijaya). Beliau masih berusia 32 tahun, tetapi begitu enerjik dan kaya pengalaman. Dan ini buku kesekiannya setelah beberapa kali dahulu sempat ditolak oleh beberapa penerbit. Keahlian spesifik yang sempat ditekuninya adalah bangunan hingga punya perusahaan sendiri di bidang rancang-bangun. Hobi uniknya adalah sulap dan kesenangannya yang takputus adalah memotivasi dan meninspirasi orang lain. Pak Jo atau Lie Shi Guang ini menjadi pas untuk menulis buku tentang sukses dan kaya etnis Tionghoa karena beliau beretnis Tionghoa sekaligus sudah mengalami jatuh bangun, pahit getir, dan upaya-upaya terencana meraih sukses.

Selamat berburu buku ini. Anda bisa search dan membeli di toko buku on-line atau sambil berwisata ke toko-toko buku besar. Dan jangan lupa Pak Jo juga menulis buku-buku lain yang mantap punya. Dalam pandangan saya, tulisan beliau mengalir, taktis menyisipkan berbagai pengayaan (enrichment), dan juga terstruktur dengan baik. Hehehe orang Tionghoa juga menyasar bidang penulisan dan penerbitan untuk pembuktian sukses–itulah mengapa mereka seperti ada di mana-mana karena begitu ada sinar peluang, orang Tionghoa segera bertindak mendatanginya. Kamsia.

:resensi Bambang Trim

Praktisi Perbukuan Indonesia; owner Dixigraf Publishing Service; Dosen Politeknik Negeri Media Kreatif

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

3 KOMENTAR

    • Pagi Mas, saya sudah berkunjung dengan senang hati. Hehehe langsung nawarin jadi narasumber untuk buku yang sedang kami garap dengan bendera Dixigraf atas pesanan Penerbit PPM. Terima kasih banyak.

  1. Omongan orang-orang yang mendiskreditkan etnis Tionghoa dalam berbisnis berikut: “menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan” tampaknya perlu dibuktikan dengan membaca buku ini.
    Perlu dicermati pula 8 butir rahasia sukses mereka, yang mencakup kerja keras, motivasi yang kuat, cepat bertindak, dapat dipercaya serta jujur, kekeluargaan dan persaudaraan, cinta kasih, pikiran yang positif, dan belajar terus-menerus.
    Perburuan dimulai, ayo ke Gramedia (lagi)! 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here