Menulis itu Bertumbuh dan Berkembang!

2
368

“Tidak peduli siapa pun Anda, Anda adalah calon penulis buku!” Kalimat lantang bermuatan motivasi ini memang pernah saya torehkan di sampul buku yang termasuk salah satu buku berkesan buat saya berjudul Saya Bermimpi Menulis Buku. Buku yang diterbitkan KOLBU (imprint MQS) dan konon sudah tidak bersisa lagi stocknya ini ingin mengeksplisitkan bahwa menulis buku adalah kemampuan mutlak yang dapat dikuasai semua orang. Tidak peduli siapa pun Anda: politikus, penyanyi, ibu rumah tangga, salesman/salesgirl, guru, dosen, arsitek, pengangguran, wanita karier, sukarelawan, dokter, polisi, tentara, dan sebagainya. Anda semua mampu menulis buku!

Saya menemukan memang menulis adalah sebuah keterampilan berproses. Artinya, tidak serta merta seorang penulis profesional dihasilkan dengan cara instan tanpa ia sendiri punya komitmen dan hasrat untuk ‘menajamkan’ kemampuannya terus-menerus.  Menulis adalah proses bertumbuh sekaligus berkembang.

Tahap awal adalah memahami untuk apa seseorang itu menulis. Saya membuat klasifikasi tulisan berdasarkan tujuannya, yaitu pribadi tertutup, pribadi terbuka, publik tertutup, dan publik terbuka. Tulisan pribadi tertutup adalah tulisan-tulisan hasil kontemplasi atau menggunakan kecerdasan intrapersonal sehingga orang cenderung menyimpannya sebagai rahasia karena menyangkut isi hati paling dalam. Tulisan pribadi terbuka adalah bentuk ekspresi intrapersonal yang ingin dibagi kepada orang lain–tulisan semacam ini menemukan momentumnya ketika internet, terutama situs jejaring sosial bersimaharajalela. Tulisan publik terbatas merupakan tulisan yang dimaksudkan untuk dibaca publik pada lingkungan tertentu atau terbatas sehingga penulis relatif lebih fokus karena mengenal betul pembaca sasarannya. Tulisan publik terbuka adalah jenis tulisan pertaruhan bagi seorang penulis karena dimaksudkan untuk dibaca sebanyak mungkin orang.

Untuk tulisan yang sifatnya pribadi memang kita tidak peduli dengan tumbuh kembang. Perhatikan orang-orang yang menulis di blog ataupun sekadar update status dan note di facebook. Sebagian besar menulis asal-asalan tanpa memperhatikan kaidah penulisan, apalagi kaidah bahasa, termasuk etiket penulisan. Mereka merasa menulis atau bicara dengan dirinya sendiri dan tidak merasa perlu tulisan itu dinilai sebagai tulisan; hanya merasa perlu tulisan itu dinilai sebagai suara hati.

Saya mencermati beberapa perilaku trainer motivasi atau motivator ketika menulis update status atau menulis di wall dan inbox message orang lain. Banyak dari mereka yang terjebak menulis dengan cara menggurui, menampilkan dirinya seolah-olah paling bijaksana (wise). Model menulis seperti ini jika berhadapan dengan beberapa orang sangat mungkin menimbulkan kontra-produktif dari apa yang hendak disampaikan. Alih-alih menguatkan personal brand dengan coba mempraktikkan hypnotic writing, orang malah menjadi antipati, kecuali mungkin yang sudah mengenal dirinya.

Kembali soal keterampilan menulis, harus juga kita melihat pada jenis  yang diminati seperti 3 pilihan berikut: fiksi, faksi, atau nonfiksi. Fiksi paling banyak dipilih orang untuk mengekspresikan tulisan, terutama puisi. Mengapa? Karena banyak orang menganggap menulis puisi adalah jalan termudah dengan hanya merangkai beberapa pilihan kata, lalu disusunlah sesuai dengan ‘rasa hati’. Puisi termasuk tulisan yang cenderung ke pribadi terbuka, bahkan beberapanya tertutup. Nah, ketika puisi dimaksudkan sebagai tulisan publik terbuka, seorang penulis puisi atau penyair juga harus mampu membaca ‘rasa hati’ para penikmat puisi. Contoh yang berhasil saya angkat di sini adalah penyair kawakan, Taufik Ismail. Puisi yang beliau tulis jernih dan jelas, serta mengandung irama syair yang memukau sehingga nikmat memang untuk dinikmati oleh telinga maupun mata.

Kita belum berhenti di sini soal menulis. Selain sifat dan jenis, ada lagi yang saya sebut sebagai ranah atau rumpun menulis. Ada beberapa rumpun menulis, seperti journalistic writing, academic writing, literature writing, dan business writing. Setiap ranah ini menurunkan lagi sub ranah, misalnya dalam journalistic writing kita mengenal tulisan berita, feature, essay, editorial, surat pembaca, dan resensi. Setiap tulisan berbeda-beda karakter dan cara penulisannya.

Demikianlah orang punya kebutuhan menulis, kemudian orang pun menciptakan berbagai ragam tulisan untuk tujuan dan kebutuhan tertentu sehingga kemudian menjadi ilmu serta keterampilan. Sedikit banyak kadang-kadang membingungkan atau membuat orang awam gentar. Kita dikenalkan dengan jurnalistik, lalu kemudian muncul apa yang disebut jurnalistik sastra. Kita dikenalkan dengan tulisan ilmiah, lalu berkembang pula apa yang disebut tulisan ilmiah populer.

Pertumbuhan dan perkembangan dunia tulis-menulis ini memang melahirkan begitu banyak gagasan soal pengemasan tulisan dan menulis benar-benar dianggap sebagai keterampilan hidup (life skill) yang penting pada abad informasi ini. Untuk itu, saya menetapkan diri menerjuni bidang ini secara profesional yang saya awali dari cabang ilmu komunikasi yaitu publishing science, khususnya editing. Bagaimana pemikiran sederhananya? Di dunia ini tidak ada satu bidang pun yang lepas dari tulis-menulis dan semuanya membutuhkan arahan keterampilan.

Sadar bahwa ini sebuah proses maka saya menggelar begitu banyak pelatihan di bidang penulisan, penyuntingan (editing), plus penerbitan. Saya memadukan antara bedah keterampilan dan motivasi menulis dengan memperlihatkan secara nyata pengembangan karier kepenulisan didasari pengalaman menjadi praktisi penerbitan sejak 1994.

Pengalaman-pengalaman spesifik membuat saya sadar betapa menulis dapat menjadi mata pencaharian sekaligus dapat dikemas secara profesional menjadi sebuah profesi bergengsi. Berikut beberapa pengalaman saya yang boleh jadi memang membuka mata saya lebih dalam untuk membedah segala aspek dunia tulis-menulis:

  1. pengalaman diminta melatih para notulis Setneg Wapres RI untuk menulis notula secara efektif;
  2. pengalaman memberikan pandangan soal menulis buku dari bahan-bahan penelitian ilmiah di depan para peneliti di lingkungan LIPI bekerja sama dengan LIPI Press;
  3. pengalaman memberikan masukan atas penerbitan berkala dan peningkatan kualitas tulisan di Depnakertrans;
  4. pengalaman memberikan pencerahan tentang peningkatan kemampuan menulis di Ditjen Pajak;
  5. pengalaman memberikan masukan atas penerbitan bookmagz Ekspedisi Geografi Indonesia serta peningkatan kemampuan menulis (travel writing dan feature) di depan para ekspeditor geografi di Bakosurtanal;
  6. pengalaman memberikan materi rutin Professional Writing (Business Writing) di depan para peserta dengan beragam profesi di Keynote Speaker Indonesia yang diikuti partisipan dari Telkom, BPK, Kepolisian, Indosat, Telkomsel, Forum Humas BUMN, Bakosurtanal, Depnakertrans, Ditjen Pajak, dan banyak lagi.

Demikian sehingga begitu banyak peluang untuk membagi kemampuan menulis di berbagai bidang yang mungkin tidak terpikirkan. Di samping itu, tidak terhitung road show yang saya lakukan di berbagai perguruan tinggi, sekolah, dan berbagai daerah terkait menulis, seperti di Aceh, Medan, Pekanbaru, Palembang, Manado, Makassar, Jakarta, Bandung, Solo, Jogja, Surabaya, dan sebagainya. Dalam waktu dekat saya pun akan memberikan pelatihan menulis laporan dan speed reading untuk tim auditor BPK-RI serta penyegaran editing kepada para editor di lingkungan IKAPI DKI.

Saya percaya dengan proses yang bersinambungan. Betul bahwa seseorang dapat mempraktikkan ‘jalan pintas’ untuk menulis, tetapi tanpa komitmen dan hasrat yang kuat, kemampuan menulis hanya baru menyentuh kulitnya. Saya pun masih berproses mengasah dan mengasah terus ‘ketajaman menulis’ sehingga saya belajar menjadi seorang generalis dalam menulis.

Sebagai sebuah ikhtiar dan komitmen maka saya mendirikan Trim Communication dengan logo menyiratkan ‘buku yang bertumbuh dan berkembang’. Trimcomm akan menjadi lembaga yang fokus dalam peningkatan keterampilan menulis sekaligus menerbitkan tulisan. Karena itu, Trimcomm menggelar berbagai training bidang penulisan/penerbitan, menerbitkan buku-buku keterampilan menulis, serta memberikan konsultasi di seputar penulisan/penerbitan. Trimcomm menggandeng Dixigraf Publishing Service sebagai strategic partner dalam jasa penerbitan dan juga Keynote Speaker Indonesia sebagai strategic partner dalam training.

Dalam waktu dekat, Trimcomm akan menggelar Pelatihan Penulisan Buku Nonfiksi Metode Matriks H16H yang direkomendasikan untuk para trainer/motivator/pembicara publik, dosen/guru, profesional berbagai bidang, PR officer, marketing communication officer, dan bahkan ibu rumah tangga atau siapa pun yang ingin meraih income sekaligus passive income dari rumah. Trimcomm juga akan membangun komunitas berbasis ‘bookmart’ dengan menggandeng OASIS Bookmart yang cikal bakal pendiriannya berawal dari Bogor (lihat http://www.facebook.com/notes/basri-adhi/mengapa-oasis-bookmart-/10150160933635371). OASIS Bookmart konon oleh penggagasnya Mas Basri (pemilik franchise Mister Blek Coffee) juga akan di-franchise-kan. Di OASIS Bookmart juga akan digelar mini-training atau mini-discussion terkait dengan dunia tulis-menulis dan penerbitan buku.

***

Menulis itu bertumbuh dan berkembang! Menulis itu meniscayakan hidup kita, jiwa kita, serta pemikiran kita yang terus mendewasa dan mencari kebenaran sejati. Tidak ada penulis yang sempurna atau sukses, tetapi yang ada tentu penulis yang terus mencari jalan sempurna dan terus meniti jalan sukses. Kita semua dikaruniai kemampuan itu sehingga keterampilan menulis bukan muncul dari bakat, melainkan dari komitmen, hasrat, dan kegigihan melatihkannya. Saya siap mendampingi Anda untuk berlatih secara profesional karena saya pun masih menjadi penulis yang berproses.

:catatan kreativitas

Bambang Trim

owner of Dixigraf Publishing Service and Trim Communication

Praktisi Penulisan dan Penerbitan Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here