Hindari “Meminjam Mulut Orang Dewasa” Saat Berkisah

0
445

Persoalan menampakkan unsur menggurui yang kental dalam berkisah untuk anak-anak mungkin sudah menjadi pagar bagi kita para penulis buku anak. Dalam diri kita menurut Seizo Tashima (seorang penulis dan ilustrator buku anak-anak populer dari Jepang) terdapat dunia masa kanak-kanak maka keluarkanlah dunia itu saat menulis. Lenyapkan dunia orang dewasa kita kini untuk mendapatkan cara pandang sebagai anak-anak. Lalu, tetap terngiang soal menggurui tadi sehingga dunia kanak-kanak yang kita panggil dengan ‘mantra’ keceriaan dapat menjadi pagar yang kukuh untuk tidak mencoba jadi orang dewasa yang berbijak-bijak ria menasihati anak-anak.

Ada satu hal yang menjadi konsentrasi saya saat melakoni diri sebagai editor buku cerita anak. Saya mewaspadai kecenderungan teman-teman penulis yang ‘meminjam mulut orang dewasa’ untuk berkisah.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Umumnya karena penulis hendak mengambil jalan pintas memaparkan suatu hal yang sifatnya teoretis. Jadi, ini terkadang lepas dari kesan menggurui, tetapi kental dengan kesan menjelaskan layaknya seorang ahli atau pakar suatu bidang.

Sebagai contoh konkret, sebuah naskah anak berisi tema ke-Mahabesaran Allah dengan mengambil subtema keajaiban benda-benda angkasa. Sang penulis lalu mulai berkisah dengan menempatkan tokoh ayah atau ibu dan anaknya yang punya rasa ingin tahu yang tinggi. Lalu, dimulailah kisah dengan ajakan ayah atau ibu kepada anaknya untuk melihat keindahan luar ruang dengan berjalan-jalan di taman. Sang anak pun mengajukan pertanyaan soal bintang, bulan, langit, dan sebagainya. Mulailah ayah atau ibu menjelaskannya bak seorang ahli astronomi. Jika hal tersebut mengandung pesan reliji, terdapatlah berbagai uraian dari kitab suci.

Contoh yang juga terkadang dipaksakan ialah bagaimana sang tokoh dewasa tadi dibuat sangat berhubungan. Misalnya, di rumah kedatangan seorang tante yang kebetulan seorang ahli astronomi. Mulailah dia menjelaskan perihal benda-benda angkasa kepada keponakan-keponakannya. Pinjaman mulut ini dianggap serasa lebih masuk akal. Contoh lain juga kisah tentang gigi maka akan hadir seorang dewasa yang berprofesi sebagai dokter gigi menjelaskan kepada anak-anak.

Kita mungkin belum melakukan riset yang sempurna apakah anak benar-benar tidak suka dengan cara berkisah seperti ini. Namun, segi kreativitas yang mengetengahkan dunia anak-anak dan menampilkan tokoh juga dari kalangan anak-anak tidak dimungkiri kerap lebih berhasil memikat anak. Saya ambil contoh Dora The Explorer ataupun Little Einstein. Pun kisah Upin dan Ipin sangat membatasi peran orang dewasa untuk masuk dalam kisah.

Mengapa saya peduli dengan hal seperti ini (dalam kapasitas sebagai editor)? Karena memang masih banyak naskah-naskah cerita anak lokal yang dibuat seperti ini. Sebagai editor buku anak, saya pun mencoba menempatkan diri menjadi pembaca anak-anak. Saya tentu tidak suka “diceramahi” dengan teori-teori yang bukan seperti permainan menyenangkan.

Baik dalam penulisan fiksi (teori yang dikisahkan) maupun nonfiksi, para penulis naskah buku anak kerap terjebak cara-cara seperti ini. Mungkin tadi alasan jalan pintas karena dikejar target penulisan ataupun tidak menemukan cara-cara kreatif lain untuk menulis naskah. Karena itu, upayakan kita dapat membuka diri untuk mempelajari cara-cara penulis buku anak yang telah berhasil, terutama cara-cara kreatif penulis buku anak luar.

Pembaca anak-anak juga punya keinginan dan kebutuhan. Mereka tidak dapat kita jadikan sekadar objek bacaan, tetapi hendaknya mereka distimulus menjadi subjek dari bacaan tersebut. Cara paling jitu adalah menyediakan tokoh identifikasi pada setiap cerita anak sehingga anak dapat mengidentifikasi dirinya menjadi tokoh favorit dalam cerita anak tersebut. Kehadiran orang dewasa yang terlalu dominan dengan pemaparan teori, pepatah petitih, ataupun lainnya akan mengaburkan tokoh identifikasi bagi anak dalam sebuah cerita. Karena itu, jangan pernah ‘meminjam mulut para orang dewasa’ itu untuk suatu yang sifatnya penjelasan berkepanjangan. Cukup jadikan orang dewasa sebagai figuran atau kalaupun menjadi tokoh utama, tetap dengan konsentrasi cerita pada dunia anak-anak. Ini adalah sebuah tantangan.

Semoga berterima.

::Catatan kreativitas Bambang Trim

Praktisi Perbukuan Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here