Obral Buku, Buku Obral

3
507

Perjalanan selama Ramadhan ini selalu menjadi perjalanan hikmah. Alhamdulillah saya berkesempatan berkeliling ke lima kota, mulai Jakarta (Depok), masuk Bandung, Semarang, Solo, dan akhirnya Jogjakarta. Dalam sebulan ini relatif saya mengunjungi toko buku lebih sering. Dari satu toko ke toko lain, selalu mata tertumpu pada buku-buku yang diobral mengambil momen khusus Ramadhan, saat orang-orang datang berkunjung.

Buku obral ini memang dahsyat benar. Harganya dimulai dengan Rp3.000 hingga kemudian kisaran Rp25.000. Novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta kini bisa dibawa pulang dengan harga Rp20.000,00 saja. Buku obral ini memang berkah bagi pembaca meski buku itu sudah lewat beberapa tahun sejak diterbitkan. Tidak hanya karya penulis lokal, tetapi karya terjemahan juga membludak, terutama dari Gramedia Group, semacam penerbit BIP.

Di sisi penerbit, buku obral menyiratkan sebuah kegalauan tersendiri. Tampak memang terjadi overload penerbitan dan ketidakakuratan prediksi judul maupun oplag. Alasan lain adalah memang buku tidak bertemu dengan pembacanya. Lalu, alasan paling menakutkan adalah buku-buku itu memang ‘tidak ada pembacanya’ di Indonesia. Karena itu, digunakan ‘jurus maut’ bukan untuk mematikan pembaca, melainkan menghidupkannya dari bad stock di gudang-gudang dan bisa menyelamatkan cash flow para penerbit. Obral abis!

Demikianlah bisnis penuh risiko ini. Catatan akhir dari Kang Hikmat Kurnia (bos penerbitan Agromedia Group) menunjukkan bahwa setiap bulan tak kurang dari 1.500 judul masuk Gramedia. Catatan mutakhir dari pihak Gramedia sendiri menyebutkan sudah sampai 2.000 judul per bulan. Dari sebuah info teman, saya diberi asumsi untuk dapat menerbitkan 300 judul per tahun agar eksis menguasai rak-rak buku di Gramedia. Cuma orientasi perbanyakan judul seperti ini bisa menjadi blunder menurut saya apabila kemudian para editor malah mengejar judul, bukan kualitas dan daya saingnya di pasar. Apalagi, menurut info Gramedia bahwa dari 1.500 judul tersebut hanya 5% yang berkontribusi terhadap omzet Gramedia hingga 50%. Artinya, buku-buku kategori best seller atau fast moving itu cuma sekitar 50 judul. Sisanya cuma penghias rak dengan laku jual mungkin hanya 1-2 eksemplar per bulan.

Kita bisa mengecek hal ini dari floor display atau rak-rak buku-buku best seller. Kategorisasinya pun sedikit sekali. Ambil contoh Gramedia Matraman. Best Seller dibagi atas novel lokal, novel terjemahan, buku Islam, buku umum-populer, buku anak, dan buku-buku kesehatan, termasuk masakan. Itu kelas pertama, lalu ada kelas kedua yang diisi buku-buku bisnis, motivasi-inspirasi, parenting, dan hobi. Fenomena ini menegaskan jika mau ‘selamat’ dari kejadian buku tak  laku, buatlah buku-buku yang mampu masuk kategori best seller. Namun, hal itu pun tidak mudah karena kemudian para penerbit epigon dan penulis-penulis me too akan dengan segera mengikuti sukses sebuah buku. Mereka meramaikan persaingan buku  sehingga membuat bias para pembaca, mana yang harus dipilih.

Contoh buku yang selalu  saya sebut-sebut soal “otak tengah” kini mendominasi rak-rak buku parenting. Tidak jelas lagi entah siapa penulisnya–apakah benar-benar ahli soal otak tengah atau cuma penulis yang mengumpulkan bahan sekunder dari sana sini. Buku ‘ide bisnis rumahan’ yang meriah sebelumnya kini pun masih disesaki judul-judul baru yang jumlahnya sudah puluhan. Buku-buku Islam agak ‘tiarap’ masih menunggu tema-tema baru yang siap dilejitkan semacam ‘shalat subuh’ ataupun ‘shalat dhuha’. Dominasi buku-buku Islam laku saya lihat mulai diambil alih Penerbit Zaman (Group Serambi), lalu Kelompok Mizan yang masih tetap eksis, Groupnya Gramedia (Quanta, BIP, Qibla) yang tampaknya juga mulai melirik buku Islam, Qultum Media (Agromedia Group) dengan buku-buku simpelnya dan judul menggelitik. Sebelumnya, group penerbit buku Islam dari Solo sempat menggebrak secara nasional, seperti Penerbit Aqwam–sampai kini pun buku-buku mereka masih diakui punya daya saing berbeda. Lalu, di belakang penerbit kelas atas dan menengah ‘mengekor’ begitu banyak penerbit-penerbit baru seperti serombongan lebah mencari madu di dunia penerbitan.

Apakah buku Islam lantas selamat dari badai obral? Tampaknya tidak juga. Membludaknya judul dan juga penulis membuat pembaca tak sempat untuk berlama-lama meneliti sebuah rak, kecuali ada yang benar-benar mereka cari. Judul-judul itu seperti saling menganibal satu sama lain. Apa yang membedakan hanya latar belakang penulisnya, tampilannya, dan tentunya bobot isinya menurut kacamata pembaca sasaran. Namun, buku-buku Islam ini sudah berkembang sedemikian rupa (semestinya ada yang melakukan riset soal ini) yang ‘mempermak’ nilai-nilai Islam tersebut untuk mengejar soal-soal duniawi (jodoh, kaya, rezeki, dsb.). Ibadah-ibadah seolah-olah diaktivasi (hehehe meminjam istilah ‘otak tengah’) untuk mencapai tujuan tertentu yang lagi-lagi sifatnya duniawi. Kelirukah? Mungkin tidak, tetapi esensi ibadah menjadi berubah.

Kembali soal buku obral dan obral buku, tampaknya 2011 juga akan diramaikan dengan badai retur dari toko-toko buku sehingga penerbit pun menawarkan alternatif obral buku. Memang akhirnya diperlukan strategi dan keberhatian-hatian dalam menyusun target akuisisi pada 2011, sekaligus menguatkan eksistensi dalam marketing dan promosi. Kecermatan dan tidak selalu terdorong untuk mengikuti tren yang sama adalah sikap yang harus dimiliki penerbit sejati.

Daftar kunjungan saya ke toko buku selama Ramadhan:

  1. Gramedia Depok
  2. Gramedia Matraman (Jakarta)
  3. Gramedia Grand Indonesia (Jakarta)
  4. Tisera Cimahi Mall
  5. Tisera Jatos (Jatinangor/Bandung)
  6. Gramedia Slamet Riyadi (Solo)
  7. Gramedia Solo Square (Solo)
  8. Gramedia Pandanaran (Semarang)

::catatan perbukuan Bambang Trim

Praktisi Perbukuan Indonesia

GM for General Book Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

3 KOMENTAR

  1. Semoga kondisinya bisa segera membaik, sebab miris juga kalau melihat buku tulisan kita diobral begitu murahnya. Tolong bahas juga pak, soal maraknya pameran buku yang justru terkesan seperti pasar sembako. terima kasih pak.

  2. Penawaran Kerjasama kemitraaan, Terbuka untuk Umum.
    kami dari Penerbit Navila yang beralamatkan di jl.pakelmulyo UH V/411 GOLO Yogyakarta. Memberikan kesempatan bagi siapapun dan dimanapun khususnya yang berlokasi di jawa. Penawaran kerjasama yang kami berikan adalah: kami akan mensuply semua buku-buku untuk pengadaan acara-acara yang akan diselenggarakan oleh organisasi masyarakat, LSM, organisasi kampus, individual, dan lain sebagainya. suply yang kami berikan adalah gratis alias tidak dipungut biaya. pihak yang akan mengadakan bazar, bebas memilih buku mana yang ingin di ikutkan dalam bazar kegiatan anda. kami juga memberikan harga khusus sampai 80% bagi anda yang langsung membeli skala banyak buku-buku terbitan kami.
    sebagian penjelasan buku-buku kami sudah kami upload di website kami http://www.navila.co.id atau toko online kami di http://www.yoogho.com/navilabookstore
    download katalog buku-buku kami di http://www.mediafire.com/?6wrivg29lq4zoql
    atau bagi anda yang ingin membeli buku digital kami dengan diskon 80% bisa langsung mengunjungi http://www.bukutablet.com. jika ada yang ingin ditanyakan silahkan menghubungi kami, Dwi 081-328834329 tlp/fax kantor 0274-377034. email:navilabook@gmail.com. facebook: http://www.facebook.com/navilapress


    hormat kami

    Dwi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here