Revolusi dan Resolusi Menulis Buku

2
454

The World is Flat itulah buku berpengaruh karya Thomas L. Friedman yang memberi indikasi bahwa kita tengah memasuki babak baru dunia yang datar dengan 10 Flatening Factors. Kreativitas dan dahsyatnya dunia maya termasuk yang disebut-sebut. Karena itu, kita tidak perlu kaget jika tiba-tiba ada seseorang dari belahan dunia lain yang dulu dianggap terbelakang menyeruak dengan temuan kreativitasnya yang mencengangkan dunia. Dalam dunia penulisan dan penerbitan, kita tidak perlu kaget tiba-tiba muncul penulis ‘kemarin sore’ atau penerbit ‘kemarin sore’ yang mengejutkan para senior dengan kreativitas dan inovasi yang mereka usung. Ada yang melesat terus dari tahun ke tahun. Namun, ada juga yang akhirnya rontok lagi ketika iklim bisnis ternyata tidak semudah yang mereka bayangkan.

Saya mafhum ketika kemudian self-publishing menemukan momentumnya pada pertengahan tahun 2000-an ini. Prediksi Friedman benar adanya bagaimana koneksi dunia maya www berpengaruh terhadap pendataran dunia. Semua orang kini bisa dengan mudah menjadi penulis plus menjadi penerbit. Apa yang dahulu tersembunyi dalam dunia penerbitan, kini gampang sekali diakses oleh banyak orang yang mau ‘ngulik’ dunia maya.

Beberapa tahun lalu saya mendirikan Detik@ Publishing Service (selanjutnya menjadi Dixigraf) dengan melihat kebutuhan para penerbit dan perseorangan tentang jasa penerbitan buku. Tentu dalam hal ini saya tidak dapat menafikan peran teknologi tinggi, termasuk internet. Bagaimana saya dapat menggerakkan bisnis yang masih baru ini? Cara termudah adalah melakukan benchmarking terhadap perusahaan publishing service di luar negeri. Lalu, ditemukanlah beberapa perusahaan melalui koneksi dunia maya, namun akhirnya saya memilih X-Libris.

Kami membedah file pdf dari X-Libris, lalu mendiskusikannya sehingga kemudian muncullah sebuah konsep dan sistem baru yang dimodifikasi. Demikianlah benchmarking dan peniruan itu terjadi hanya dalam hitungan hari, bahkan jam. X-Libris telah membuka jalan bagi tumbuhnya self-publishing yang justru sudah menjadi gerakan budaya di Amerika. Saya mencerna habis buku-buku penerbitan dan self-publishing ala Dan Poynter serta mendapatkan banyak informasi, sekaligus lewat internet saya rutin dikirimi newsletter terkait perkembangan penerbitan buku di Amerika dan dunia, khususnya para self-publisher. Informasi ini terus diolah menjadi pengaya bagi pengetahuan dan praktik di perusahaan penerbitan.

Dan kini demam itu tengah melanda Indonesia, bahkan saya merasa akan menjadi gerakan budaya yang menggulung eksistensi para penerbit besar serta menengah dengan ‘keangkuhannya’. Hanya memang rahasia ini belum terbuka untuk semua orang, apalagi yang tidak mau berakrab ria dengan dunia maya serta teknologi informasi. Apa yang dulu terpikirkan dan sedang dirancang, tiba-tiba dapat disalip oleh orang lain. Kedataran dunia membuat semua orang dapat hampir berpikir suatu hal yang sama secara bersamaan. Dari sini yang terpenting adalah kecepatan mengeksekusi ide-ide. Di benak saya masih tertanam motto perusahaan Semen Padang karena tertera di T-Shirt yang selalu dipakai om saya. Bunyinya: “Kami telah melakukan sebelum orang lain memikirkannya!”

Terjadilah fenomena itu. Nulisbuku.com berdiri yang saya tahu dimotori hanya oleh seorang wanita yang punya gagasan brilian. Nulisbuku.com mengundang semua orang untuk menulis buku, menyediakan software yang dapat menampung file-file naskah dalam format MS Word langsung ke dalam template layout buku. Hal ini pernah saya lihat di X-Libris dan baru mau saya lakukan tahun depan dengan Dixigraf. Namun, Nulisbuku.com sudah selangkah lebih maju. Dengan menggandeng Mizan Digital Publishing, mereka membuat proyek prestisius “99 Orang (Penulis) Menulis Buku dalam 9 Hari”! Berarti satu hari akan terbit 11 judul buku, bukan isapan jempol. Dunia semakin datar. Apa yang mendorongnya? Tentulah teknologi informasi dan teknologi penerbitan.

Dalam penerbitan sendiri maka tumbuh teknologi electronic publishing dengan e-book dan nantinya akan diramaikan juga dengan multimedia book dalam bentuk 3-D. Dalam konteks percetakan telah muncul digital printing dan print-on-demand yang membuat pencetakan semakin mudah dan semakin murah–era baru kematian para percetakan besar yang memiliki mesin-mesin web untuk pencetakan skala besar. Teknologi ini membuat orang dapat memilih bebas untuk menerbitkan sesuatu, lalu menjualnya dengan bebas lewat bantuan toko on-line dan distributor-distributor kecil yang juga tumbuh mengandalkan pasar-pasar komunitas. (Sebentar lagi Anda akan lihat kebangkitan sebuah jaringan toko buku kecil bernama OASIS yang didirikan dua orang kreatif dan salah seorangnya pemiliki franchise kedai kopi laris Mister Blek. Gerakan toko buku ini sepintas tidak terlihat, tetapi cukup efektif bergerak dari satu komunitas ke komunitas lain secara masif. Tahun 2011, toko buku kreatif ini kemungkinan difranchisekan.)

Lalu, apa yang disebut buku? Meskipun UNESCO menggariskan buku adalah halaman berisikan tulisan dengan tebal minimal 40 halaman, tidak begitu jelas apa yang dapat disebut content dari sebuah buku. Kini semua orang bebas memaknai buku karena ada katup pelepasan menerbitkan buku tadi. Ada buku kumpulan SMS dan dapat disebut buku oleh si penulisnya. Ada buku kumpulan up-date status. Ada buku kumpulan kisah-kisah patah hati yang diceritakan dengan dramatisasi. Ada buku kumpulan direktori jajanan murah di seantero Jakarta. Semua disebut buku dan seberapa pun kita menyangkalnya bukan buku, ya ‘meneketehe’. Hehehe saya menuntut ilmu khusus di bidang publishing science dan editologi akhirnya harus menyesuaikan diri dengan fenomena ini.

Bang Mula Harahap (alm.) pernah berujar kepada saya di markasnya Agro Media: “Semua ilmu yang kupelajari tentang penerbitan sudah dijungkirbalikkan oleh mereka ini!” Yang dimaksud ‘mereka’ adalah teman-teman di Agro Media berikut gengnya seperti Media Pressindo dan Galang Press yang sangat mewarnai peta perbukuan Indonesia sejak 2000-an.

Resolusi Menulis Buku

Namun, tetaplah menulis buku sebenarnya tidak sama dengan membuat adonan bakwan, lalu tinggal menggoreng. Masalahnya tetaplah seorang penulis menjadi eksis ketika bukunya menyebar dan dibaca oleh sebanyak mungkin orang. Kalau ia sekadar eksis untuk dirinya, lalu mencetak buku dalam bilangan 10 atau 100 dan disebarkan terbatas, lalu dibaca untuk ketawa ketiwi, tidaklah itu cukup membahagiakan bagi seorang penulis sejati. Metode dan teknik menulis buku tetap menjadi harus dikuasai; baik lewat benchmarking dan peniruan, maupun pelatihan terus-menerus. Tetap ada jurus-jurus yang harus dikuasai dan kemudian dapat dikembangkan dengan jurus baru.

Tahun 2011 adalah dekade kedua dari millenium dan menjadi tahun penting untuk sebuah eksistensi diri bernama menulis buku. Anda akan semakin dimudahkan dan dimanjakan bahwa mimpi Anda menjadi penulis buku bukan mustahil lagi untuk diwujudkan. Akan banyak tumbuh kemudian situs seperti Nulisbuku.com yang siap membantu Anda menerbitkan buku tanpa kata “TIDAK” untuk naskah Anda yang sontoloyo ataupun tak punya nilai jual sekalipun. Anda hanya cukup punya niat untuk diterbitkan, upload naskah Anda, dan tunggulah. Kalau mau versi cetaknya, silakan tentukan oplagnya. Sulit menjualnya? Tenang saja, buku Anda akan menampang manis di beberapa toko buku online, digempur habis via facebook, dan secara heroik Anda dapat menerima pesanan buku. Tidak peduli setelah itu banyak pembaca yang memuji-muji buku Anda atau malah memaki-maki karena tertipu. Inilah dunia datar itu!

Maka resolusi 2011 menjadi penting, apalagi bagi Anda yang meyakini ramalan suku Maya tentang kiamat 2012. Buatlah segera buku yang siapa tahu menolong Anda untuk menjawab sebuah amalan yang telah Anda lakukan di dunia.

“Ya Tuhanku, hamba sudah menulis buku dari kumpulan update status hamba di facebook yang penuh kata-kata motivasi. Hamba berhusnudzan kata-kata itu telah mengubah banyak orang menjadi lebih baik. Karena itu, hamba juga yakin untuk menerbitkannya menjadi buku, ya Tuhan, meskipun ternyata kurang laku. Tampaknya inilah amal jariyah yang tiada putus yang sudah hamba lakukan. Mohon masukkan hamba ke surga-Mu.”

Maaf, hanya bercanda…. Tapi tetap membuat resolusi menulis buku pada 2011 itu penting dengan segala kemudahan dan kemajuan teknologi sekarang. Jalan taktis, jalan pintas, dan jalan yang benarnya? Nah, mari sama-sama kita diskusikan pada akhir tahun ini dalam training TAKTIS MENULIS BUKU pada 18 Desember di Jakarta yang akan saya pandu serta mari melihat dunia yang semakin datar ini dan apa yang dapat kita lakukan dengan buku, sebenar-benar buku! Silakan buka link berikut ini: http://www.facebook.com/event.php?eid=165486306806105. (Lho kok jadi iklan?)

***

Tulisan ini dibuat menjelang juga event besar yang tengah dilakukan organisasi profesi penerbit (IKAPI) di Indonesia. Tepat pada 24-26 November 2010 ini IKAPI akan berkongres dan memilih ketua IKAPI baru. Saya melihat beberapa agenda IKAPI yang mengundang tokoh-tokoh ternama. IKAPI sedang menghadapi segudang permasalahan, terutama ‘runtuhnya’ dominasi penjualan buku pelajaran sehingga berimbas pada runtuhnya dominasi penerbit buku pelajaran. Penerbit buku umum mulai menunjukkan kekuatan posisi tawarnya sebagai penggerak eksistensi bisnis penerbitan selanjutnya.

Apakah IKAPI ngeh terhadap perubahan dunia yang semakin datar ini? Apakah IKAPI akan turut menyesuaikan diri dengan makin dahsyatnya electronic publishing, print-on-demand, serbuan buku asing, self-publishing, dan tak ada satu pun universitas di Indonesia yang berani membuka jurusan S1 dan S2 penerbitan? Dahulu IKAPI menganggap ilmu penerbitan cukup disharingkan hanya dalam kursus. Kini, kita lihat bahwa tanpa kajian keilmuan yang mumpuni, ilmu penerbitan akan mati dan muncul ‘gerakan baru’ ilmu penerbitan Dewa Mabuk.

Tantangan Direktur Frankfurt Book Fair bahwa Indonesia bisa menjadi focal theme di FBF pada 2015 dengan syarat mampu membawa 2.000 judul buku berbahasa Inggris karya penulis Indonesia yang layak diterjemahkan, bukanlah tantangan yang tidak dapat berjawab. Namun, sepertinya kita memang senang dengan tidur siang dan bangunmenjelang maghrib dengan peningnya kepala. Dunia terus bergerak datar dan IKAPI masih berkutat dengan masalah internal maupun soal BSE yang tak berujung pangkal. Maka dibutuhkan kepemimpinan baru kelak yang mau melihat industri penerbitan ini sebagai industri dinamis dengan segala kemajuannya dan menggandeng komunitas-komunitas orang muda yang sedang bergerak menciptakan dunia penerbitan buku sendiri.

Akhirnya, selamat berkongres kepada IKAPI. Selamat datang orang-orang muda yang memberikan impact baru terhadap dunia penerbitan buku Indonesia. Selamat datang para penulis buku ‘kemarin sore’ dengan membawa semangat untuk menjadi kekuatan baru dalam industri perbukuan di Indonesia dan ‘kemarin sore’ itu adalah masa lalu. Selamat datang para guru-guru baru di bidang penulisan dan penerbitan buku. Jurus-jurus baru dan ampuh telah ditemukan….

“Kedekatan suatu masyarakat terhadap buku berbanding lurus dengan kemajuan masyarakat tersebut.”

 

:: catatan kreativitas Bambang Trim

Praktisi Perbukuan Indonesia

GM for General Book PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

  1. Waaah, memang tak dapat dipungkiri mas Bambang ini sebagai guru dan motivator nomor wahid. Sangat sangat merasakan hal ini. Tulisan ini sangat bermanfaat untuk saya sebagai anggota tim yang harus mengeluarkan juknis pengembangan porfesi bagi pengajar PNS yang bernama Widyaiswara. Ilmu dan pengalaman mas Bambang sangat dibutuhkan bagi kita semua, khususnya bagi bangsa yang selama ini condong hanya berbicara sajaaa. makasih mas Bambang atas ilmu yang diberikan dan disebarkan bagi anak bangsa ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here