Penerbit dan Penulis Buku 2011: Kau Mau ke Mana

1
334

“Kelak editor tidak akan memberi tahu kita apa yang harus kita baca; tetapi kita yang akan memberi tahu editor apa yang harus kita baca.” — John Naisbitt

 

Tepat membuka awal hari 2011 pada 1 Januari kemarin, TV One dalam Apa Kabar Indonesia Pagi menyajikan liputan istimewa tentang dunia buku dan komunitas pembaca. Hadir dalam acara tersebut perwakilan dari Good Reads Indonesia dan Sony Set, perwakilan dari komunitas pembaca novel NIBIRU yang baru rilis. Ada juga seorang anak kecil mewakili early reader novel NIBIRU. Apa yang menarik adalah beberapa cuplikan tayangan terdahulu yang hadir di TV One soal buku hingga tayangan tentang terbitnya biografi alm. Ibu Ainun Habibie.

Wakil dari Good Reads menyebut beberapa prediksi buku yang akan tetap menjadi incaran pada 2011 dan ini memberikan cara pandang pembaca Indonesia–meskipun tidak mewakili seluruh pembaca. Pembaca bergerak menjadi ‘subjek’ yang dapat mengatakan bahwa menurut mereka yang bagus atau akan disukai itu adalah buku berjenis begini atau akan kurang disambut adalah buku berjenis begitu. Penerbit dan penulis yang menonton boleh jadi mengangguk-angguk atau malah dalam hati menyatakan ketidaksetujuan tentang pendapat seperti itu.

Perhelatan yang diselenggarakan Good Reads beberapa bulan lalu bertajuk Pesta Pembaca Indonesia menunjukkan gejala tumbuhnya pembaca kritis di Indonesia dan mereka menggerakkan suatu penghargaan (penilaian) dengan cara pooling. Meskipun cara pooling ini belum tentu menunjukkan kualitas sebuah karya karena didorang oleh banyaknya sokongan yang masuk (ibarat pencarian bakat di televisi), penghargaan ini cukuplah menjadi bukti bahwa pembaca pun bisa ikut bicara; bukan sekadar orang-orang dari kalangan perbukuan belaka.

Jujur, di pihak penerbit, tayangan TV One kemarin memberi gambaran baru atau malah kebingungan baru ketika pendapat-pendapat yang dilontarkan mungkin kebanyakan bertentangan dengan isi kepala penerbit. Bagi para penulis, tentu tayangan kemarin memberi gambaran bagaimana mereka bisa menyiapkan amunisi naskah 2011 dan seperti ada harapan baru bukunya bisa  masuk televisi dengan difasilitasi oleh TV One. Tayangan NIBIRU sebagai penutup tahun 2010 lalu di TV One sangat berpengaruh pada eksistensi novel yang baru diluncurkan dua pekan itu. Sontak seluruh toko buku menantikan pendistribusian NIBIRU dan para pembaca NIBIRU awal yang baru lahir merasa ‘terhibur’ dengan bahasan novel itu dan embel-embel akan munculnya game NIBIRU berformat 3D dan digratiskan.

 

Apa yang mau diterbikan pada 2011?

Tahun 2011 menyiratkan kemapanan ekonomi bangsa kita. Dalam sebuah diskusi bisnis, saya mendapatkan informasi betapa banyak kini lahir ‘orang kaya baru’ di Indonesia. Artinya, telah tumbuh kelas menengah baru di Indonesia yang rata-rata pendidikannya bagus. Mereka memenuhi mal-mal dan tidak terkecuali mereka juga memenuhi toko-toko buku di mal. Kelas menengah baru ini kelas yang termasuk mudah diprovokasi untuk membaca karena pendidikan mereka dan ‘kegilaan’ mereka terhadap tren. Karena itu, wajar jika gadget mahal semacam iPad dan Galaxy Tab juga laku keras dan dua gadget itu melakukan ‘perang terbuka’ di Indonesia.

Rasa ke-Indonesia-an juga tumbuh baik dan dianggap sebagai peluang pemersatu bangsa untuk bangkit, terutama dalam bidang ekonomi. Optimisme ini tampak ketika tim sepakbola Garuda mampu melibas lawannya dari negara ASEAN dan hanya kalah sekali dengan Malaysia. Sontak semangat ke-Indonesia-an membuat stadion GBK penuh sesak dan berwarna merah. Lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan membuat siapa pun merinding mendengarkannya. Bagi dunia buku ini juga peluang yang baik untuk meluncurkan karya-karya yang mengangkat semangat ke-Indonesia-an dengan berbagai genre buku.

Karena itu, 2011 akan makin bervariasi buku yang diterbitkan dan jika penerbit sekaligus penulis jeli memanfaatkan momentum, juga akan banyak peruntungan yang diraih. Suhu politik pada 2011 juga akan meninggi dan kita juga belum tahu gerangan fenomena apa lagi yang akan terjadi pada 2011. Tahun 2010 cukup memberikan banyak kejutan dan kelelahan untuk kita: kasus Century, kasus Susno (antiklimaks Cicak vs Buaya), kasus terorisme, kasus video Ariel, kedatangan Obama yang mendadak, bencana Merapi-Wasior-Mentawai, dan akhirnya sukses tim Garuda (meski tidak juara tetap menjadi pahlawan yang membanggakan).

Sayang data perbukuan di Indonesia sangatlah minim. Jujur, industri penerbitan buku di Indonesia tidak memiliki angka pasti berapa market share dunia buku di Indonesia, khususnya buku umum. Hal ini karena setiap penerbit memang menutup diri untuk data-data pencapaian target. Bahkan, ada penerbit yang merasa tabu untuk membuka rahasia berapa mereka mencetak kali pertama buku tertentu seperti takut dengan persaingan di dunia buku Indonesia yang ketat. Saya sendiri memprediksi angka itu mencapai lebih dari 4 T dan kuenya terbagi pada lebih kurang 400-500 penerbit seluruh Indonesia. Penerbit-penerbit kelas menengah menurut saya adalah mereka yang mampu membukukan target penjualan satu tahun antara 100 M-200 M. Penerbit-penerbit kelas atas tentu lebih dari Rp300 M. Adapun yang paling banyak adalah penerbit sejenis UKM yang bermain dalam omzet di bawah Rp50 M. Kalau melihat potensi ini, sebenarnya masih terlalu kecil di tengah 236 juta penduduk Indonesia yang 85%-nya ditengarai telah melek baca.

Indonesia masih punya potensi membangkitkan minat baca dan yang perlu ditumbuhkan sekarang adalah pembaca-pembaca pemula (early reader) dan pembaca remaja. Karena itu, koneksi penerbit dengan dunia pendidikan tidak dimungkiri sangat krusial serta koneksi penerbit dengan dunia media dengan berbagai turunannya juga tidak kalah penting. Penerbit harus akrab dengan dunia televisi, radio, koran/majalah, perfilman, hingga ke game. Jadi, sebuah produk buku harus terkoneksi pada ikon-ikon gaya hidup masyarakat kini agar dapat memosisikan diri juga sebagai ‘gaya hidup’.

Tidak dimungkiri bahwa prestasi best seller yang ditorehkan beberapa buku adalah pengaruh ‘gaya hidup’. Istilahnya: Kalau lo gak baca, lo gak gaul. Maka beberapa orang ‘terpaksa’ membaca dan  membeli buku karena gaya hidup supaya dianggap ‘gaul’. Fenomena ini sering tampak pada buku-buku fiksi. Dan alih-alih menjadi keterpaksaan, akhirnya  buku-buku tersebut benar-benar dinikmati dan menjadi hiburan, lalu seperti gelombang pasang beredar dari mulut ke mulut (word of mouth) dan dengkul ke dengkul.

 

Early Reader

Early reader adalah pembaca pemula yang sedang  menunggu karya-karya bagus dan mereka juga terdiri atas kelompok tersendiri di sekolah-sekolah dasar. Kadang-kadang peran guru mereka sebagai tokoh identifikasi sangat penting untuk menyuntikkan virus membaca kepada anak-anak didiknya. Fenomena serial KKPK Mizan menunjukkan tumbuhnya early reader dari kalangan pembaca anak wanita. Meskipun ada suara sumbang bahwa content KKPK Mizan sangat Barat sekali, toh cerita-cerita itu memang digemari oleh pembaca anak-anak wanita kelas SD di Indonesia. Reputasi KKPK belum dapat diimbangi oleh penerbit lain.

Pembaca pemula ini juga tumbuh dan berpotensi berkembang dari keluarga pembaca (ayah-ibu pembaca buku) dan keluarga yang mementingkan adanya perpustakaan di rumah. Mereka juga bisa tumbuh dan berkembang di lingkungan sekolah serta teman-teman yang membaca. Jangan dikira mereka bukan subjek gaya hidup, anak-anak kecil itu ternyata juga memainkan perannya dalam gaya hidup sehingga dapat menyuntikkan pengaruh kepada teman-temannya. Mereka yang membaca sesuatu akan menyuntikkan pengaruh kepada temannya untuk juga membaca apa yang dia baca.

Early reader juga menyentuh ranah penerbitan buku spiritual di Indonesia, terutama Islam. Buku-buku anak Islam termasuk memberikan kontribusi omzet yang tinggi bagi sebagian penerbit. Karena itu, beberapa penerbit berkonsentrasi menggarap ceruk pasar ini.

Lalu, secara umum, buku anak memang menyumbang kontribusi market share yang tinggi setelah buku agama (Islam) dalam konteks bisnis penerbitan buku umum di Indonesia. Kadang-kadang posisinya bergeser ke nomor tiga setelah buku-buku how to. Namun, jelas ceruk pasar ini belum tergarap dengan serius sehingga belakangan beberapa penerbit mulai membuka lini (imprint) khusus buku anak. Jelas, bukan rahasia bahwa penerbitan dan penulisan buku anak memerlukan talent tersendiri untuk menggarapnya, terutama penulis dan editor. Tidak gampang menemukan penulis buku anak yang andal sekaligus editor buku anak yang andal di Indonesia. Kebanyakan serba karbitan dan inilah yang membuat beberapa produk buku anak Indonesia tidak mengalami kemajuan signifikan dari sisi content dan context-nya. Padahal, di belahan mana pun di dunia ini, buku anak selalu menjadi lahan bisnis yang  menggiurkan. Khusus untuk Indonesia, tumbuhnya kelas menengah baru yang merupakan orang-orangtua berusia muda akan mendorong munculnya pembelian buku anak yang terus-menerus dan makin membesar jika penerbit dan penulis mampu mencuri perhatian orangtua kelas menengah ini.

***

Tahun 2011 penuh dengan tantangan bagi penerbit dan penulis buku. Memang diperlukan kejernihan dan mata baru untuk melihat apa yang tengah dibutuhkan dan diinginkan oleh masyarakat pembaca Indonesia. Kita tidak bisa mengambil langkah pasif dan hanya mengandalkan rapat redaksi untuk mempersiapkan naskah pada 2011 tanpa sama sekali  melihat kecenderungan dan tren yang tengah terjadi. Penerbit harus proaktif menggunakan koneksi jejaring dan menyempatkan diri ‘nongkrong’ bersama pembaca remaja maupun pembaca pemula.

Membaca akan menjadi gaya hidup, tren, dan arus budaya baru untuk menyongsong kebangkitan Indonesia. Tidak ada satu negara pun di dunia yang kemudian menjadi berdaya tanpa ada ‘faktor buku’ dalam persiapannya, termasuk Jepang, Amerika, China, India, dan Korea. Lalu, dua hal yang selalu menjadi indikator dari kemajuan suatu bangsa adalah PENDIDIKAN dan KESEHATAN. Dua-duanya beraroma pada pengetahuan dan pengetahuan selalu menyiratkan juga aroma buku-buku.

Mau ke mana kita sebagai penerbit dan penulis 2011? Banyak pilihan yang terbentang apakah kita mau menjadi generalis dengan mencoba peruntungan pada setiap ceruk pasar ataukan kita mau spesialis dengan mencoba peruntungan pada niche market. Saya pun teringat lagu lawas dari Koes Plus: “Orang bilang tanah kita tanah surga… tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Kalau demikian perumpamaannya, buku apa pun (dg indikator tertentu yang dipenuhi)  yang dilempar ke pasar di Indonesia akan laku jadi keuntungan. Insya Allah.

 

:: Bambang Trim

Praktisi Perbukuan Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here