“Mulut Digital”

4
564

Ungkapan ‘word of mouth” tampaknya sudah akrab bagi kita yang berkecimpung dalam dunia promosi produk maupun jasa. Orang Minang tradisional pada setiap kedai rumah makannya senang menempelkan tulisan: “Jika Anda tidak puas, beri tahu kami. Jika Anda puas, beri tahu kawan.” Jadi, yang namanya mulut itu memang digjaya untuk menyebarkan sebuah kebaikan (promosi) atau malah sebaliknya, berbahaya untuk menyebarkan sebuah keburukan (character assassination, black campaign, dsb.).

Di tangan saya ada dua buah buku terkait promosi. Yang pertama berjudul Guerrilla Publicity: Ratusan Taktik Jitu Menjual secara Maksimal dengan Modal Minimal karya Jay Conrad L, Rick Frishman, dan Dan Jill Lublin, terbitan Elexmedia. Satu lagi berjudul The Social Media Marketing Book karya Dan Zarella terbitan Serambi. Dua buku itu memang jadi bahan kajian saya untuk melihat sebuah penetrasi marketing dahsyat yang saya sebut ‘mulut digital’.

Kini ada sekian sarana ‘mulut digital’ yang kita kenal akrab, seperti facebook, twitter, YouTube, MySpace, Flickr, Digg, Reddit, Yelp, Second Life, StumbleUpon, Linkedln, blog, dan sekian media-media sosial yang lain. Semuanya menawarkan keunggulan dan kemudahan tersendiri.

Dahulu, word of mouth digambarkan sebagai kekuatan yang ada pada rumpian ibu-ibu setiap hari atau saat arisan dan bagaimana seorang wanita dapat merekomendasikan sebuah brand kepada teman-teman wanita lainnya hingga terjadilah pesan berantai yang sangat efektif. Begitupun dalam dunia bapak-bapak. Kita ketahui bahwa di Indonesia, budaya lisan adalah tempatnya. Kongkow-kongkow di warung kopi adalah kebiasaan yang kini pun masih berakar kuat.

Lihatlah di Aceh, kedai kopi adalah tradisi sehari-hari dari pagi hingga malam hari. Tidak yang tua, tidak yang muda, lelaki ataupun wanita, semua terdengar seperti lebah mendengung karena asyiknya  berbicara. Di Jawa terkenal angkringan atau wedangan dengan warung-warung pinggir jalan yang juga menyediakan tempat untuk mengobrol dari soal ringan hingga soal berat tentang politik negara.

Dan kini, kebiasaan itu menemukan momentumnya pada generasi kini yaitu penggunaan ‘mulut-mulut digital’ untuk membincangkan sesuatu, menggunjingkan sesuatu, dan juga memprotes sesuatu. Revolusi Melati adalah istilah yang mulai akrab kita dengar tentang kekuatan social media menggerakkan suatu revolusi seperti yang terjadi kini di belahan bumi Timur Tengah.

Saya mencatat beberapa persiapan untuk memanfaatkan ‘mulut digital’ sebagai sarana marketing ataupun promosi dan ini tentu memerlukan keterampilan dan strategi yang taktis.

  1. Kreativitas: Bagaimanapun kita menghadapi ratusan, ribuan, hingga jutaan pasang mata yang menggunakan ‘mulut digital’. Kreativitas digunakan untuk mencuri perhatian mereka dan membuat mereka mau meng-klik untuk kemudian membuka mulutnya dalam bentuk tulisan ataupun simbol-simbol digital sebagai respons atas promo kita.
  2. Kreasi Kata-kata: Kata-kata adalah gambar begitulah ungkapan Joe Vitalae dalam bukunya Hypnotic Writing. Gambar adalah sebuah kekuatan visual yang berbicara dan kata-kata dapat digunakan sebagai kekuatan visual sekaligus kekuatan makna. Perlu keterampilan khusus untuk memainkan kata-kata, menampilkannya penuh pesona, dan juga menyusunnya optimal dengan makna. Banyak sekali kasus ‘permainan’ kata-kata di dunia digital yang tidak efektif atau malah menghasilkan feedback kurang baik, bahkan merugikan.
  3. Melek Digital: Pastilah yang satu ini kita maklumi bersama bagaimana kita melek dengan yang disebut blogging, microblogging, social networking, media sharing, rating, ataupun forum media. Sungguh dunia digital cepat sekali berubah. Dahulu kita mengenal milist sebagai tempat bersilaturahim secara digital, tetapi kini milist kehilangan daya tarik setelah adanya situs jejaring sosial.
  4. Rekrutmen Ambasador: Meluaskan jaringan perkawanan dengan orang-orang yang punya pengikut besar/jumlah teman yang banyak serta punya pengaruh pula akan memudahkan bagi Anda untuk menggunakan ‘mulut digital’ yang powerful. Orang-orang tersebut bisa menjadi ambasador dan meng-endors produk, jasa, ataupun personal brand Anda menjadi lebih berdaya.
  5. Pengembangan Komunitas: Ide-ide membuat komunitas unik ataupun ikut terlibat dalam sebuah komunitas besar dan berpengaruh patut menjadi perhatian dan prioritas kini untuk menguatkan basis ‘mulut digital’ yang Anda punya. Obroal Langsat (obsat) yang merupakan komunitas para blogger dan pengguna twitter adalah salah satu komunitas yang patut Anda ikuti dan cermati. Komunitas ini tercatat yang perdana menggulirkan gerakan koin kemanusiaan untuk Prita.
  6. Persiapan Alat Perang: Dunia ‘mulut digital’ membuat Anda harus menyiapkan alat perang berikut ini: 1) kamera digital atau device yang berkamera standar (handphone atau pad); 2) alat perekam digital atau device dengan alat perekam; 3) laptop atau netbook; 4) pad atau handphone yang memiliki akses internet. Kadang semua alat perang tersebut sudah terangkum dalam satu device, sebut saja seperti Galaxy Tab Samsung. Alat tersebut harus Anda bawa ke mana pun untuk merekam semua perkembangan dan langsung meng-upload-nya melalui sarana ‘mulut digital’.

Pada poin terakhir tersebut istilah ‘alat perang’. Memang kita tengah memasuki medan peperangan imej, informasi, dan tentunya produk/jasa. Lalu, terbetiklah istilah marketing gerilya (guerrila marketing) yang memerlukan nafas panjang, stamina, serta strategi jitu menyerang secara mengejutkan. Kita pun teringat akan jenderal besar bernama Jenderal Sudirman yang sukses melancarkan taktik perang gerilya pada masa perang kemerdekaan RI. Jenderal Sudirman dan pasukan Indonesia selalu dapat mengejutkan pihak Belanda meskipun mereka berada di dalam hutan.

Saya berada di dunia penerbitan buku yang menghasilkan produk berupa buku. Namun, buku memiliki produk turunan yang tidak kalah hebat, seperti film, game, training, hingga gimmick. Dengan semakin banyaknya buku terbit di Indonesia serta munculnya kreativitas-kreavitas baru, tiada lain saya pun perlu melancarkan serangan gerilya ke kota-kota, bahkan ke desa-desa untuk mengenalkan buku dan membuat orang tertarik membelinya.

Lalu, sekarang kita sebagai penerbit semua punya medan perang baru bernama dunia digital. Bukan soal kita mau membuat e-book atau e-pub, melainkan bagaimana soal kita memanfaatkan dunia digital ini untuk semakin mendukung produk buku menjadi sebuah gaya hidup masyarakat kini.

Di antara para penulis juga menjadikan medan digital sebagai arena cuap-cuap buku mereka. Mereka tampil di facebook, twitter, dan juga blog atau juga Youtube. Semua berharap buku mereka atau mereka sendiri cepat dikenal dan berharap pula terjadi ‘word of digital mouth’ sehingga memunculkan tujuan akhir: best seller!

“Mulut Digital” itu memang luar biasa karena diikuti fitur-fitur yang memudahkan dan membuat sesuatu terkoneksi secara cepat dengan berbagai media dan alasan lainnya: Gratis! Mulut ini memang sangat liar sekaligus sangat pintar dan bisa membuat kita terhenyak begitu tahu kekuatan sesungguhnya.

Mulut digital telah memaksa Ben Ali serta Hosni Mubarak turun tahta. Mulut digital membuat buku Cracking Zone karya Rhenald Kasali langsung laris manis dalam hitungan hari. Mulut digital membuat Nurdin Halid sang penguasa PSSI mendapat kecaman setiap hari dan dipaksa mundur dengan kekuatan rakyat. Mulut digital membuat seorang Adrie Subono yakin mengundang artis luar negeri dalam hitungan menit lewat tweet-nya dan membuat tiketnya laris manis tanpa iklan di media.

***

Kedigjayaan ‘mulut digital’ kini tengah saya praktikkan untuk melambungkan buku Trilogi Srimulat dan Pentalogi Nibiru. Bekerja sama bareng provider telekomunikasi XL serta device tablet computer keluaran Huawei, kami ingin menyiasati keampuhan ‘mulut digital’ itu masuk ke medan perang gerilya. Dan tentu kami memang perlu mengangkat ‘jenderal digital’. Siapakah jenderal itu? Mulut digital yang akan bicara. 🙂

 

Bambang Trim

Komporis-Buku-Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here