Karakter, Kreativitas, dan Indonesiaku

0
287

Satu hari ini (Kamis/7/07/11) bersua dengan dua agen lisensi karakter dari luar negeri, tepatnya lisensi dari Amerika-Eropa dan Jepang. Sungguh saya harus belajar cepat soal jual beli karakter ini yang sudah menjadi bisnis menarik. Namun, di luar itu saya benar-benar terkagum-kagum dengan segala daya kreativitas menciptakan karakter (tokoh) untuk kemudian ‘dihidupkan’ pada begitu banyak benda-benda kreatif.

Tiba-tiba di hadapan saya sudah terhampar karakter Green Lantern, Harry Potter, Angry Birds, Happy Feet, dan Littlest Pet Shop… Apa yang terpikir bagaimana seseorang dapat menciptakan karakter-karakter kuat seperti ini yang tampaknya berawal dari keisengan. Pada sore harinya saya pun menemui agen lisensi (lisensor) yang memegang hak karakter Doraemon, Crayon Sinchan, One Piece, dan Dragon Ball Z. Mana karakter buatan Indonesia?

Apa yang menantang, para lisensor ini terkadang hanya memiliki koleksi ‘barang jadi’ sedikit untuk yang namanya produk dalam bentuk buku. Bentuknya dapat berupa activity book, story book, picture book, ataupun buku lain semacam buku pasel. Karena itu, sebuah penerbit dipersilakan mengembangkan (development) sendiri buku-buku turunan dengan menggunakan karakter yang ada. Untuk itu, para penerbit dibekali apa yang disebut style guide agar dapat merancang sendiri gambar-gambar karakter dengan berbagai aksi dan posisi.

Ide-ide itu harus dituangkan ke dalam apa yang disebut forecast penerbitan. Namun, yang menarik tetaplah tantangan bagaimana sebuah karakter jadi kemudian kita kembangkan ke dalam begitu banyak model buku ataupun malah melakukan co-branding dengan karakter milik sendiri. Apalagi, jika karakter memiliki spesialisasi tersendiri, misalnya karakter untuk anak lelaki ataupun karakter untuk anak perempuan. Saya sudah membayangkan bahwa jika penerbit bermain di ranah karakter global semacam ini, mutlaklah mereka memiliki tim pengembang kreatif sendiri karena yang diperlukan orang-orang kreatif dengan ‘ide-ide gilanya’.

Sehari sebelumnya saya berdiskusi dengan para dosen IKJ Fakultas Seni Rupa. Orang-orang hebat yang punya segudang ilmu dan pengalaman di bidang kreativitas. Dari hasil tugas-tugas akhir mahasiswa IKJ jurusan desain grafis yang sempat saya lihat, betul-betul memiliki potensi untuk melejitkan desain karakter yang kuat. Artinya, potensi menciptakan tokoh superhero, tokoh lucu, tokoh yang sangat anak wanita banget, itu memang sangat mungkin. Tinggal memang yang terjadi adalah dukungan dunia industri untuk melejitkannya dalam berbagai bentuk, apakah itu game, film layar lebar, film animasi, ataupun buku-buku.

Di Tiga Serangkai, saya sedang ‘berjudi’ dengan NIBIRU, mengangkat beberapa karakter dalam karya novel pentalogi. Saya sedang mengusahakan game 2D dapat keluar tahun ini dan diupload gratis di facebook. Film animasinya masih mimpi karena pasti berbiaya besar. Namun, merchandisenya pun segera digagas. NIBIRU adalah kreativitas anak negeri yang diwujudkan dalam sejumlah karakter (Dhaca Suli, dkk.) dan diharapkan dapat dibawa pada perhelatan akbar buku sedunia… Frankfurt Book Fair. Dan usaha ini memang tidak gampang, butuh konsentrasi, keyakinan, serta kreativitas yang melibatkan orang-orang berdedikasi. Sulit bagi kita mengangkat karakter dengan kerja biasa-biasa saja dan tanpa punya passion terhadap kreativitas.

Jika saya mengakuisisi sebuah karakter, saya harus buat buku seperti apa? Ada begitu banyak karakter dengan sekian watak masing-masing yang melekat pada karakter itu. Ada begitu banyak pilihan buku untuk disajikan kepada anak-anak Indonesia. Tantangan lain seberapa pas karakter itu memang untuk anak Indonesia dengan tidak mengabaikan budaya dan norma pada masyarakat.

Adakah penetrasi karakter-karakter asing ini juga serbuan budaya yang dapat mengancam budaya asli Indonesia? Saya tidak terlalu berpikir jauh ke sana, toh saya juga dulu terpengaruh dengan karakter Lima Sekawan, Superman, Tom and Jerry, Space Ghost, Voltus V, dan sebagainya. Namun, saya juga mengagumi Gundala Putra Petir, Si Buta Dari Goa Hantu, dan Si Unyil . Jadi, memang sangat bergantung pada keseimbangan menyajikan berbagai produk literasi, baik dari luar negeri maupun dari lokal sendiri. Bagaimanapun saya tetap menjadi anak Indonesia.

Lalu, apakah mungkin sebuah karakter asing itu dimodifikasi menjadi tokoh dalam cerita rakyat Indonesia? Nah, itulah yang namanya kreativitas dengan memanfaatkan ikon-ikon pop untuk ‘menolong’ budaya lokal sendiri terangkat ke atas. Walaupun demikian, tetap ada hasrat untuk mendorong para kreatori Indonesia ini juga menciptakan karakter-karakter yang dapat mendunia–punya daya tarik, daya saing, dan daya jual yang tinggi.

Kreasi kreator memang melibatkan imajinasi tinggi, kemampuan visualisasi, dan tentunya passion yang memang mengenali psikologi anak-anak dan kecenderungan mereka kini. Kita memang sedang menunggu saatnya tiba saja ataupun munculnya karakter karena spontanitas belaka tanpa dimaksudkan mendunia seperti Upin Ipin–dari sebuah proyek animasi untuk mengisi Ramadhan menjadi karakter global yang disukai anak-anak, terutama di Indonesia.

Namun, harus ada momentum. Harus ada pula penggalangan potensi. Dan tentunya harus ada pula katup-katup pelepasan kreativitas yang memang diniatkan dan diciptakan. Walaupun demikian, pasti ada saja yang mencibir dan berkata itu mustahil, bahkan mulutnya monyong sambil memainkan Angry Birds level 1 yang gak pernah tuntas. 🙂

: catatan kreativitas Bambang Trim

#komporis-buku-Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here