Catatan Indonesia Right Fair #1 (IBF 2011)

9
531

Tampaknya kita memang belum terbiasa dengan aktivitas penjualan copyright untuk buku. Karena itu, terobosan yang dilakukan IKAPI dengan mengadakan Right Fair dan Bursa Naskah di arena Indonesia Book Fair 2011, patut diapresiasi. Tempat kegiatan ini dikhususkan pada satu bagian Ruang Kenanga di Istora dan diikuti beberapa penerbit Indonesia (Serambi, Mizan, Zikrul, Gramata, Gramedia, Erlangga, Ufuk, Republika, LIPI Press, dan Tiga Serangkai). Sisanya adalah penerbit dari Malaysia, Singapura, dan Iran.

Para awam mungkin heran memasuki ruang Right Fair ini karena mereka tidak menemukan hingar bingar penjualan buku. Apa yang terjadi adalah transaksi antar-penerbit untuk memperjualkan hak penerbitan dalam bahasa asing. Right Fair yang dibuka sejak 28 November 2011 ini memang tidak asing bagi mereka yang sudah sering melakukan lawatan ke Frankfurt Book Fair. Saya sendiri sejak hari pertama sudah berada di sini untuk sekadar menjajaki kerja sama dengan penerbit negeri jiran, PTS Publishing dan juga bertemu dengan Penerbit Synergi Malaysia.

Ada satu perusahaan dari India yang tidak berada di ruangan ini, tetapi justru berada di sayap kiri depan, arena IBF. Perusahaan bernama XACT ini baru kali pertama berpameran di Indonesia. Publik Indonesia mungkin agak keheranan karena jelas-jelas mereka menuliskan We don’t sell books. Only for copyright transactions.

XACT bukanlah publisher, mereka adalah book packager dari India dan baru beberapa tahun ini masuk dalam bisnis copyright trade. Memang dalam lingkup bisnis penerbitan, penjualan copyright (trade) termasuk dalam kategori pendapatan lain-lain. Sebuah penerbit di Malaysia bertransaksi dengan penerbit besar semacam Gramedia dalam satu kali transaksi bisa menjadi $40.000 untuk copyright.

Bisnis XACT memang bisnis yang tidak populer di Indonesia. Mereka berdiri sebagai pusat outsourcer buku yang sangat besar di India dengan mempekerjakan 600 karyawan. Mereka mengerjakan buku untuk banyak penerbit dan mereka membantu pula penjualan copyright-nya untuk bahasa asing. Mereka sudah bekerja sama dengan penerbit di India, Polandia, Korea, AS, Inggris, Uni Emirat Arab, Brazil, Yunani, China, Hongaria, Libanon, Saudi Arabia, Rumania, Syria, Turky, dan Spanyol. Kini mereka ingin melebarkan sayap ke Indonesia untuk soal transaksi copyright.

Penerbit Indonesia ke depan memang harus mulai bersiap untuk masuk ke dunia trading copyright ini, termasuk mempersiapkan berbagai hal yang menyangkut transaksi. Lazimnya dalam dunia transaksi copyright ini berlaku juga pembayaran royalti yang kadang ditetapkan dengan advance royalti (royalti dibayar di muka). Besaran royalti untuk buku umum berkisar antara 7-8% standar internasional dan advance sangat bergantung pada negosiasi, bisa bernilai $300 sampai di atas $1.000. Kemudian ada juga sistem flat dengan membayar advance 100% untuk buku yang dicetak 2.000-3.000 eksemplar. Sistem kedua paling disukai penerbit Indonesia karena mendapatkan langsung pembayaran di muka 100% tanpa perlu mengontrol royalti pembayaran royalti lagi.

Malaysia pada event Kuala Lumpur Book Fair, untuk kali kedua menyelenggarakan Trade & Copyright Center 2012 sebagai tempat khusus transaksi copyright. Perhelatan tahun depan yang akan diselenggarakan pada 27 April – 6 Mei 2012 dari pukul 10.00 sampai 21.00 ini memberi kesempatan penerbit asing menyewa booth hanya $500 per booth (seluas 3 x 3 M) dan $100 per table.  Di IBF lebih murah lagi dengan tarif per booth hanya Rp1 juta. Kalau beruntung, memang sekali transaksi dengan jumlah judul yang banyak bisa mendapatkan di atas Rp50 juta.

Pasar Besar Buku Anak

Pasar yang masih menguntungkan dalam transaksi copyright ini tidak pelak lagi adalah transaksi penjualan buku anak. Bisnis buku anak memang tidak pernah turun di belahan dunia mana pun. Book packager seperti XACT juga lebih banyak mengemas buku-buku anak sebagai pasar utama. Walaupun demikian, memang patut diketengahkan keunikan buku anak itu sendiri, dari sisi content maupun context (penyajiannya). Tidak semua buku anak memang dapat berlaku universal, namun kebanyakan buku anak memang universal sifatnya sehingga paling mudah diterjemahkan ke banyak bahasa.

Tentu memikat para pembeli copyright dari negara asing ini adalah ‘menjual’ ide-ide yang unik dan tentunya menarik buat mereka. Buku anak adalah sebuah ‘laut biru’ gagasan yang selalu memunculkan banyak hal baru ataupun menyegarkan ide-ide lama menjadi tampak baru. Dengan sekilas melihat katalog dari XACT saja, saya sudah cukup terkagum-kagum dengan gagasan mereka menggagas ratusan judul buku untuk anak maupun remaja.

***

Memang menjadi sebuah kebanggaan bagi seorang penulis manakala bukunya juga bisa go international meskipun baru tingkat penerbit di ASEAN, seperti Malaysia. Buku-buku bertema religi Islam termasuk yang paling kencang penjualan copyright-nya ke negeri jiran semacam Malaysia. Memang pasar Malaysia memang sangat kecil dibandingkan dengan pasar Indonesia. Karena itu, sebenarnya yang menarik adalah penerbit Malaysia harus mampu menjual ide-ide bukunya ke Indonesia karena Indonesia memiliki pasar buku yang sangat besar dengan jumlah penduduk sangat signifikan meski persoalan minat membaca dan minat membeli buku masih menjadi persoalan.

Di arena pasar copyright lebih besar seperti Frankfurt Book Fair, penerbit Indonesia belum banyak berbicara. Hanya satu dua yang mungkin sudah eksis, seperti Kelompok Gramedia maupun Mizan. Namun, secara sepintas melihat bukan karena kita tidak memiliki ide buku yang dapat dijual, justru disebabkan masalah kemauan, kepercayaan diri, serta juga dukungan pemerintah sendiri. Kalau disebutkan bahwa industri buku menjadi salah satu industri kreatif, tidak pelak lagi event seperti Frankfurt Book Fair yang dapat mengangkat nama bangsa harus didukung pemerintah untuk memberi ruang bagi produk-produk kreatif perbukuan berbicara di tingkat nasional. Hampir semua negara menampilkan citra negara dan industri perbukuannya di Frankfurt Book Fair dengan sangat baik serta bersemangat.

Agresivitas penerbit asing melakukan penetrasi penjualan copyright ke penerbit Indonesia memang dapat menyebabkan pasar buku Indonesia paling tidak setengahnya dipenuhi karya terjemahan. Buku-buku lokal terdesak dan kalah keren dengan buku-buku asing karena memang mungkin dari sisi proteksi maupun pengembangan industri buku ini pemerintah sedikit tutup mata. Kadang-kadang memang cost untuk penerbitan itu lebih murah membeli dari asing dan kemudian karyanya memang berkualitas sehingga para penerbit pun memperbanyak produksi buku asing. Sebaliknya, karya penulis lokal kadang tidak memenuhi ekspektasi penerbit ataupun kadang terlalu ribet berurusan dengan penulis lokal yang kadang sering bersinggungan paham dengan para penerbit.

Hal inilah yang harus segera disadari bahwa Indonesia perlu memacu industri perbukuannya, termasuk dengan membangun masyarakat membaca serta masyarakat menulis. Penulis lokal harus diberi ruang kreativitas yang  bebas, tetapi juga diedukasi untuk membuat buku yang baik serta berkualitas. Pembaca-pembaca baru (early reader) harus diciptakan sebanyak mungkin dengan menggenjot program cinta literasi di TK-TK maupun SD-SD dengan mengalirkan sebanyak mungkin bahan bacaan bermutu dan menyehatkan bagi mereka, terutama karya penulis lokal.

Mencari Penulis, Bukan Mencari Naskah

Itulah salah satu program yang saya dengungkan bahwa sebenarnya kita berupaya menciptakan penulis-penulis yang berkarakter sehingga output-nya berupa naskah pun menjadi bermutu. Temukanlah penulis atau calon penulis hebat maka engkau akan menemukan naskah yang hebat pula. Program ini memang harus diikuti kemauan penerbit melakukan edukasi ataupun dalam bentuk coaching kepada penulis-penullis yang memiliki kemauan dan kemampuan literasi yang baik.

Di arena Right Fair IBF 2011 juga dibuka program bursa naskah ketika penulis berkesempatan bertemu dengan penerbit untuk menawarkan naskahnya. Di sinilah peran editor akuisisi melakukan kalibrasi terhadap penulis yang dihadapinya: Siapa dia? Bagaimana portofolio karyanya? Apakah dia pendatang baru dalam dunia buku atau bukan? Bagaimana karakternya untuk berkomitmen terhadap kualitas? Apakah dia seorang public speaker? Apakah dia  memiliki ide unik atau ide biasa-biasa saja?

Beberapa hari kemarin di IBF 2012, saya berkesempatan menemui beberapa orang penulis dan berbincang soal bagaimana TS memosisikan penulis dan menggagas sebuah naskah. Sebelumnya, saya sempat menandatangani MOU dengan FSRD IKJ untuk penggarapan buku serial Creativepreneur setelah sebelumnya dilakukan workshop kepada dosen-dosen IKJ. Lalu, dalam penulisan buku ini juga dilakukan pendampingan dan coaching untuk menyamakan persepsi tentang penulisan buku dan memunculkan banyak ide baru pengemasan.

Demikian industri perbukuan ini memang dunia kreatif yang memerlukan dinamisasi pemikiran… think out of the box and then think in the new box. Dunia akan terus bergerak dengan perubahan dan kita pun mengikuti perubahan itu dengan sukacita sambil terus tak henti berkarya yang berfokus pada pembaca.

:: catatan kreativitas Bambang Trim

#komporis-buku-Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

9 KOMENTAR

  1. Wah sangat menarik sekali pak Bambang. Membuat semakin semangat belajar menulis yang baik. Terima kasih sharing-nya….:)

  2. Penjelasan yang lengkap dan mencerahkan buat penulis baru seperti saya.
    Pak Bambang, bursa naskah ini baru di IBF 2011, atau sudah lama ya?
    Tahun lalu saya tidak begitu memperhatikan bursa naskah ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here