Kata Siapa Saya Mencari Naskah

2
366

Perbincangan suatu hari pada suatu masa dan ketika dunia perbukuan Indonesia dirundung begitu banyak pertanyaan. Lalu, komporis-buku-indonesia [itu saya!] membuka diskusi dengan seorang ‘editor sensitif’.

Mengapa Anda dijuluki editor sensitif?

ES: Boleh jadi itu (julukan) cuma sindiran ibaratnya saya ini alat deteksi kehamilan yang bemerk Sens****. Saking sensitifnya saya memang bisa mendeteksi naskah itu positif atau negatif. Ya kalau positif, kita gembira punya ‘bakal bayi’ yang akan dilahirkan menjadi buku. Kalau negatif, ya penulisnya saya suruh pulang untuk bikin ‘bayi lagi’.

Lalu, naskah seperti apa sebenarnya yang Anda cari dan Anda anggap positif?

ES: Lho, kata siapa saya mencari naskah? (dengan nada gusar). Hmm… pantas Anda ini disebut sensitif… Ditanya gitu aja marah! ES: Bukan soal marah, tapi ini soal pelurusan dari profesi yang benama editor. (Sambil menerawang) saya memulainya dengan begitu banyak cercaan dan perjuangan untuk dapat mengerti yang namanya penulis. So, saya tuh gak cari naskah, saya mencari penulis. Penulis benar-benar, benar-benar penulis. Menarik… menarik… Teori Anda ini menarik. ES: (Melirik dengan sebal) Hei Bung, ini bukan teori. Ini kenyataan yang harus dipahami oleh editor. Mereka tidak disuruh mencari naskah, mereka disuruh mencari penulis; bahkan kalau perlu menciptakan para penulis. Mereka disuruh mengenali sang tuan ide yaitu penulis sampai kepada cara mereka berpikir, cara mereka berperilaku, bahkan cara mereka memandang naskah; apakah dengan pendekatan uang atau dengan pendekatan idealisme, atau percampuran di antara keduanya.

Hmm… makin menarik kenyataan ini. Lantas apa yang Anda cari dari penulis?

ES: Lha, kok ya ndak ngerti juga. Saya mencari penulis dan dari penuls saya mencari naskah!

Lho?

ES: Hehehe (baru terlihat tertawa, dari tadi serius banget)…. Editor itu yang pertama harus dicari ya penulis, penulis berkarakter, penulis gudang ide, penulis potensial sebagai pembicara publik, penulis yang gigih, penulis yang mau belajar, dan penulis yang menguasai banyak bidang. Editor itu paling jengah pada penulis yang tak punya gaya, penulis yang seolah-olah bisa menulis semua hal justru hanya kulit luar yang dikutip dari internet, penulis yang sok tahu, penulis yang sok jaim dan menasihati pembaca, penulis yang terlalu ke-pede-an dengan teorinya, penulis narsis habis, penulis yang senangnya mengemis-ngemis rasa kasihan, penulis yang lupa diri, penulis….

Stop-stop, saya tidak mau arah diskusi ini menjadi arena menjelek-jelekkan penulis!

ES: Lho yang sensitif itu saya atau Bung? Saya kan baru mulai cerita bahwa saya mencari penulis. Nah, kadang yang saya temukan adalah seorang pengarang (author). Dia gak bisa nulis, tetapi punya gagasan. Yang saya pentingkan ide atau gagasan. Ada juga saya menemukan ‘penulis mentah’. Penulis mentah punya gagasan bagus, tetapi cara menulisnya kurang bagus. Dan saya ingin mencari keduanya dengan harapan mereka menyimpan banyak ide brilian yang bisa dikembangkan. So, mohon maaf, saya tidak terlalu berhasrat mencari ‘penulis sudah jadi’… biasanya mereka sudah pasang harga dan pasang gaya…. Mereka juga….

Stop-stop, kita juga tidak sedang membicarakan para penulis top toh?

ES: Aha… setuju-setuju. Ya, saya lanjutkan bahwa saya mencari penulis, berusaha mengalibrasi pribadi mereka dan pikiran mereka. Eureka! Saya akhirnya memperoleh enlightment bahwa mereka dapat saya lejitkan menjadi penulis luar biasa dalam tempo tidak terlalu lama. Mereka akan saya ajak diskusi dan dipancing imajinasinya untuk mengeluarkan ide-ide penulisan buku. Saya tahu di antara mereka biasanya tidak sadar sedang dipancing dan diarahkan untuk mendapatkan sebuah gagasan penulisan buku yang dalam waktu tidak terlalu lama berubah menjadi draft outline. Karena itu, saya mementingkan bertemu muka dengan para pengarang atau penulis itu. Saya mementingkan bertemu rasa dengan rasa dan mengaktifkan bluetooth ciptaan Tuhan untuk menangkap sinyal-sinyal ide yang menguat di atas kepala mereka.

Hmm… filosofis sekali. Saya suka Anda benar-benar editor sejati.

ES: Saya bukan editor sejati, saya sudah katakan julukan saya editor sensitif. Dalam hitungan menit, saya sudah bisa menolak sebuah naskah mentah-mentah, tapi ada yang yang saya tolak setengah matang, dan dalam keadaan matang. Yang dua terakhir, berarti saya menaruh harapan pada penulisnya untuk dapat meng-upgrade naskah menjadi makanan siap saji. Jangan sampai walaupun matang, tetapi tidak menarik selera orang memakannya. Saya sensitif terhadap bau naskah, termasuk bau badan penulis. Jadi, tolong jangan kirimi saya naskah yang berbau….

Kalimat Anda terakhir sungguh tidak saya pahami.

ES: Naskah berbau tidak enak itu sudah tercium dari kata-katanya… Percayalah pada saya.

Anda lebih mirip cenayang daripada editor!

ES: Lha dunia editing itu memang dekat-dekat dengan ramalan. Bagaimana editor bisa tenang bekerja kalau dia tidak bisa meramalkan bahwa naskah di tangannya akan menjadi buku yang bagus, berdaya, termasuk laku. Ya, tapi kadang nasib memang berbicara. Buku yang bagus belum tentu laku. Dan buku yang laku belum tentu bagus. Orang-orang di luar editorial sering menggampangkan proses mencari penulis dan mencari naskah tadi seperti membalikkan telor dadar. Mereka menyangka penulis itu banyak, padahal tidak. Yang banyak itu naskah yang ditulis bukan oleh seorang penulis, melainkan seorang yang ingin menulis.

Hmm… Anda mungkin benar.

ES: Anda meragukan pendapat saya?

Oh tidak, sama sekali tidak… tapi kan perlu diuji kebenarannya.

ES: Hehehe orang-orang sibuk menguji kebenaran sampai lupa pada pekerjaan sesungguhnya, menjalankan kebenaran itu sendiri. Toh… sudah begitu banyak teori tentang menulis, tentang menerbitkan, dan tentang memasarkan yang ditulis para ahli yang teruji kebenarannya. Namun, sedikit sekali yang mau menjalankannya. Saya selalu bilang, Anda itu boleh menyimpang dan boleh nyeleneh kalau sudah tahu ilmu sebenarnya. Lha, itu belum tahu apa-apa justru sudah menggelontorkan cara-cara yang menyimpang alih-alih mereka menyebut semua itu gampang. Ndak ada yang gampang dalam sebuah proses, termasuk menulis naskah buku yang baik. Kalau saya menemukan penulis yang baik, sudah dipastikan saya akan menemukan naskah yang baik. Kalau saya menemukan naskah yang baik, belum tentu saya menemukan penulis yang baik.

Betul-betul… tidak salah saya menemui Anda untuk sebuah pencerahan.

ES: Nah, salah lagi. Saya sedang tidak memberi pencerahan. Setiap hari itu kan cerah. Kalau mendung, ya tinggal hidupkan lampu sekian puluh watt, ruangan kita juga jadi cerah. Editor tidak peduli bekerja dalam kondisi cerah atau tidak cerah, yang penting bisa menemukan solusi. Hehehe yang tadi saya omongi cuma ‘penggerahan’.

Maksudnya penggerahan?

ES: Biar para penulis gerah. Biar para editor gerah. Biar para penerbit gerah. Ingat ya, yang saya cari adalah penulis bukan naskah. So, saya gakkan buat iklan mencari naskah, tetapi saya akan buat iklan mencari penulis. 🙂 (tersenyum)

Boleh tahu rahasia dari omongan Anda barusan?

ES: Ketika melihat seorang penulis, saya akan mempelajari mereka tanpa mereka ketahui, semuanya. Dari aktivitas mereka, dari cara mereka menulis, dari kata-kata mereka, termasuk dalam update status; dan dari bidang ilmu yang mereka kuasai. Pastilah saya kemudian tergerak untuk bertemu muka dengan mereka. Biasanya dalam satu atau dua jam pertemuan, saya sudah dapat memancing mereka mengeluarkan ide-ide gila penulisan buku. Itu rahasia saya, tetapi saya memang tidak segan-segan mengkritik sebuah ide itu memang buruk dan gak perlu diteruskan. Nah, ilmu seperti ini sulit diturunkan meski dengan meditasi dua jam sehari, gakkan turun-turun. Jadi, memang tetap menjadi rahasia meskipun ini bukan rahasia.

Aha Anda mirip ayah angkatnya Kungfu Panda yang bilang rahasia sebenarnya adalah bukan rahasia.

ES: Hehehe memang betul karena ini bukan rahasia, ini cuma keterampilan. Dilatihkan berkali-kali dengan penuh cinta, hasrat, dan kesadaran tinggi juga akan mendapatkan yang disebut ‘mata baru’ itu. Jadi, pandanglah manusianya, bukan naskahnya. Naskah itu cuma benda dan tidak akan berbunyi tanpa manusianya. Sip, saya kira itu saja. Saya mau kembali ‘mengedit manusia’.

Pertanyaan terakhir, penulis seperti apa yang paling menarik bagi Anda?

ES: Hehehe penulis wanita! Karena paling menarik untuk diedit…. Becanda lageeh… guweh tuh seneng banget ma penulis… Sory kok jadi bahasa alay begini… Saya tuh senang dengan penulis yang punya kemampuan bicara mantap (public speaking), mendengarkan yang santun dan antusias, serta banyak membaca. Itu dasar kecerdasan literasi toh… Nah, itu saja.

Oke, terima kasih sekali atas perbincangan sensitif pagi ini. Selamat bekerja kembali Bung.

*percakapan imajiner #komporis-buku-indonesia dan editor sensitif

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

  1. Mas Bambang,
    salam kenal.
    Artikelnya bagus sekali. Berhasil membuat saya menjadi gerah. 😀
    Saya sangat berharap suatu hari nanti bisa bekerjasama dengan editor yang sensitif seperti di atas dan berkembang menjadi penulis yang lebih baik.
    Salam.
    Villam

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here