Menulis Juga Mengalibrasi

3
371

Kalibrasi itu seni berkomunikasi, termasuk juga tool penting bagi seorang penulis karier.

Penulis-penulis di jalur profesional, apakah sebagai co-writer ataupun ghost writer sering harus melakukan kalibrasi terhadap klien penulisannya. Soal kalibrasi ini sering saya singgung dalam sesi-sesi pelatihan penulisan. Lalu, apa itu kalibrasi?

Kalau Anda membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, Anda tidak akan menemukan makna ‘kalibrasi’ yang saya maksud di sini. Makna menurut KBBI adalah tanda-tanda yang menyatakan pembagian skala. Makna ini lebih cocok digunakan dalam bidang teknik, seperti kalibrasi warna pada monitor komputer.

Dalam soal berkomunikasi yang juga menjadi wahana penulisan buku, kalibrasi merupakan seni memperhatikan dan merespons apa yang Anda lihat. Seorang penulis pro harus mampu mengenali isyarat-isyarat verbal maupun nonverbal (misalnya tertawa, tersenyum, wajah memerah, melipat tangan, atau menggaruk-garuk kepala) yang menunjukkan keadaan mental atau emosi seseorang. Lalu, mengalibrasi berarti menyesuaikan diri melalui cara berkomunikasi agar cocok atau dapat mengakomodasi gaya berkomunikasi orang tersebut.

Seorang penulis fiksi akan mudah menciptakan karakter-karakter fiktif maupun konflik-konflik yang terjadi apabila ia memahami kalibrasi dan juga gaya berkomunikasi setiap manusia. Karena itu, penulis fiksi yang kurang baik dalam pergaulan maupun cenderung menutup diri, akan sulit menciptakan tokoh-tokoh yang berkarakter sekaligus wajar dalam ceritanya.

Bagaimana hal itu dapat menjadi sebuah ‘kelebihan’ bagi seorang penulis? Coba kita simak teori kalibrasi ini.

Sebuah hubungan akan menjadi langgeng ketika seseorang mampu mengalibrasi dirinya dalam cara berkomunikasi dengan orang lain. Sebaliknya, kalibrasi yang gagal karena Anda tidak memberi perhatian terhadap sebuaha isyarat atau malah berasumsi tanpa mau memahami orang lain sehingga membahayakan sebuah hubungan.

Gampangnya sering kita lihat dalam banyak peristiwa sehari-hari. Misalnya, seseorang baru saja menerima telepon bahwa proyek yang diajukannya gol dan segera dapat ditindaklanjuti. Lalu, ia bergegas menuju ruang kerjanya dan hendak mengabarkan kepada timnya. Ia melihat timnya sudah berada di ruang meeting. Namun, wajah mereka terlihat berduka dan seorang wanita di antaranya menghapus air mata dengan tisu. Orang yang menerima kabar baik tadi melihat suasana yang tampaknya bermasalah. Ia mengurungkan niatnya memberi tahu kabar baik dan menyesuaikan dirinya dengan rasa ingin tahu. Ia mengalibrasi orang satu ruangan itu dan bergabung untuk mengetahui lebih lanjut. Ternyata, ada seorang rekan kerja mereka yang kecelakaan dan menderita koma. Orang tadi cepat menyesuaikan diri dan turut larut dalam duka. Itulah sebuah contoh kalibrasi dalam berkomunikasi.

Banyak isyarat nonverbal yang dapat membantu kita mengalibrasi suasana mental atau emosi orang lain.  Anda dapat melihat orang yang gelisah atau sudah tidak fokus lagi karena merasa jenuh lewat isyarat selalu melihat arloji atau jam dinding.  Anda merasakan ada sesuatu yang disembunyikan ketika dua orang di depan Anda saling berbisik. Anda melihat bola mata seseorang menaik ke arah kanannya tanda ia sedang membayangkan atau memikirkan sesuatu atau menaik ke arah kirinya tanda ia sedang mengingat-ingat sesuatu.

Pada akhirnya, Anda harus mengenali gaya berkomunikasi orang lain dan Anda sendiri. Manusia terbagi oleh karakter dan gaya komunikasinya menjadi manusia visual (V), manusia auditori (A), manusia kinestetik (K), dan terakhir ada yang menambahkan manusia digital (D). Manusia V bertemu dengan Manusia V maka dapat diprediksi terjadi kecocokan komunikasi. Namun, manusia V bertemu dengan manusia K bisa jadi akan muncul konflik karena tidak terjadi kesesuaian berkomunikasi.

Hmm… Saya bukan ahli NLP meskipun pernah membantu trainer NLP menulis buku. Saya hanya menemukan bahwa soal kalibrasi dan gaya berkomunikasi ini perlu dipahami juga oleh para penulis, terutama dalam berhadapan dengan klien penulisan ataupun dalam mempertimbangkan pembaca sasaran. Kebanyakan penulis atau editor itu adalah orang auditori dengan ciri fasih berbicara, banyak ide ketika berdiskusi, suka berdiskusi dan menjelaskan panjang lebar, pintar bercerita, dan suka melakukan perbaikan. Namun, saya sendiri cenderung sebagai orang visual.

Kalibrasi Klien Penulisan

Dalam soal tulis-menulis, seorang penulis yang gagal mengalibrasi klien penulisannya tentu tidak akan mampu menuliskan jalan pikiran serta perasaan orang yang ditulisnya dengan baik. Tulisan tersebut ‘rasanya’ akan menjadi lain dan tidak ngepas dengan tokoh yang dituliskan.

Contoh konkret, mungkin Anda sudah membaca beberapa buku karya Alberthiene Endah. Alberthiene adalah penulis spesialis biografi atau autobiografi. Jelas seorang Alberthiene harus mengalibrasi sosok-sosok populer yang ditulisnya mulai Krisdayanti, Chrisye, Ani Yudhoyono, hingga terakhir yang menjadi best seller adalah Merry Riana dalam buku Mimpi Sejuta Dolar. Alberthiene harus berusaha ‘menjadi’ para tokoh yang dituliskannya itu.

Pengalaman saya adalah ketika aktif mengelola perusahaan penerbitan di MQ Corporation. Tugas yang selalu saya hayati dan nikmati adalah ‘menjadi’ Aa Gym sehingga sebagian besar buku Aa Gym harus saya tuliskan dengan gaya pemikiran dan perasaan beliau. Saya mengalibrasi Aa Gym mulai pada gaya bahasa, metode dakwah, hingga humor. Dari sini sebuah gagasan tentang MQ terus mengalir dan dapat dipetakan menjadi banyak topik.

 Salah satu buku hasil kalibrasi saya terhadap sosok Aa Gym yang sangat saya sukai adalah buku Saya Tidak Ingin Kaya tapi Harus Kaya. Saya terlibat langsung menciptakan formula (dalam buku ini disebut GIGIH) dan berdiskusi mendalam dengan Aa Gym. Buku ini sangat berkesan karena kali pertama diluncurkan di Singapura, di depan para pengusaha pribumi (Melayu) Singapura serta ludes terjual lebih dari 300 eksemplar pada hari itu. Buku ini pun kemudian diterjemahkan di Malaysia dan mengalami cetak ulang beberapa kali.

Penulis karier yang berprofesi sebagai co-writer ataupun ghost writer akan berhadapan dengan tantangan mengalibrasi tokoh. Ia akan sulit menjadi besar jika ia mengabaikan kalibrasi tokoh, tetapi malah memunculkan sosoknya sebagai penulis atas nama tokoh tersebut. Banyak contoh penulisan bayangan (autobiografi maupun esai) yang justru malah memunculkan jalan pikiran dan perasaan penulisnya (ghost writer) bukan jalan pikiran dan perasaan orang (author) yang menyewanya sebagai penulis.

Upaya mengalibrasi tentu Anda harus berusaha bertatap muka dengan klien penulisan Anda jika memang masih hidup (karena ada proyek penulisan biografi orang yang sudah meninggal karena diminta oleh ahli warisnya). Anda juga dapat mempelajari audio dan video yang menggambarkan sosok klien Anda, pidato ataupun ceramahnya, gerak-geriknya, jalan pikirannya melalui berbagai pendapatnya, serta hal-hal kecil yang mungkin dianggap remeh. Alhasil, Anda pun dapat mengenali klien Anda dari gaya berkomunikasinya sehingga Anda dapat mengalibrasi ‘menjadi’ mereka.

Sungguh akan menjadi pengalaman luar biasa bagi penulis jika diberi kesempatan mengalibrasi tokoh-tokoh nasional atau bahkan tokoh tingkat dunia.  Kalau dilihat, memang masih banyak tokoh di Indonesia ini yang belum membukukan kisah suksesnya ataupun mengalirkan pemikirannya ke dalam tulisan. Mereka membutuhkan seorang writer yang mampu mengalibrasi mereka dan menyatakan ‘saya cocok dengan Anda’.

Selamat berlatih kalibrasi!

:: catatan kreativitas Bambang Trim

#komporis-buku-indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

3 KOMENTAR

  1. Luar biasa. Saya sangat termotivasi setelah membaca artikel ini. Kalibrasi yang biasanya saya lakukan untuk analisis banjir ternyata ada juga dalam teknik berkomunikasi dan menulis.

    Saya pinjam idenya pak. Mungkin akan saya tanggapi di tulisan blog saya.
    Salam 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here