Yang Sabar, Lalu Berbahagia

0
402

Man shabara zhafira.

Pepatah tentang sabar itu mengukuhkan makna “barangsiapa bersabar, ia akan bahagia”. Apakah Anda masih punya kesabaran hingga detik ini? Banyak orang mengatakan bahwa sabar berbatas dan suatu saat tidak ada lagi kompromi terhadap kesabaran hingga berbuah menjadi keputusan pahit. Kesabaran selalu berkait dengan waktu, berkait dengan beban cobaan, dan sesuatu yang bernama daya tahan–sesuai dengan makna yang dikandungnya ‘menahan diri’ dan ‘mengendalikan diri’.

Hakikat sabar menjadi redup ketika cobaan tak henti mendera. Hanya ada penghiburan dari Allah Swt: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (QS Al-Baqarah: 155). Dan lalu kita pun bertafakur menilai diri… Ketika kita menasihati seseorang untuk bersabar, bagaimana jika kita berada pada posisi orang yang tertimpa masalah tersebut? Mampukah kita juga ‘memainkan’ lakon sabar dan menyelami hakikatnya karena semua cobaan adalah sunatullah untuk menaikkan derajat kita?

Tergerak malam ini pikiran saya menuliskan soal sabar dan kemudian bahagia. Dorongan itu datang ketika menyimak keluh kesah para sahabat dengan segala problematika hidupnya. Curahan hati yang mendalam tentang bagaimana mereka menahan perasaan selama puluhan hingga belasan tahun hingga longgarnya ikatan kesabaran itu. Cobaan terberat dari pasangan hidup, anak-anak, tetangga, teman, orangtua maupun mertua, teman sejawat, kekurangan harta, musibah, dan begitu banyak yang bergema di hati saya. Nasihat kesabaran meluncur dari hati dan terucap di bibir, namun mungkinkah saya juga akan bersabar jika diposisikan dalam impitan masalah yang sedemikan besar?

Sabar itu terkoneksi dengan pikiran dan pikiran terkoneksi dengan kesehatan. Pelarian sabar salah satunya adalah tumpahan air mata. Iwan Fals dalam lagunya Nyanyian Jiwa melantunkan syair: “… menjeritlah selagi bisa; menangislah jika itu dianggap penyelesaian….”

Dalam penelitian para ahli, tangisan itu dapat disebabkan emosional dan juga rasa perih pada mata (misalnya karena mengiris bawang). Tangisan emosional maupun karena rasa perih sama-sama menghasilkan unsur pembersih racun dari dalam tubuh. Fakta menunjukkan bahwa 94% wanita mengalami episode tangisan emosional setiap bulan, sedangkan pria sebesar 55%. Sebanyak 85% wanita yang menangis mengaku mereka merasa lebih baik dan lebih lega setelah menangis lepas. Menariknya, penelitian yang dilakukan biokimiawan, William Frey II, peneliti air mata terkemuka mendapati bahwa wanita menangis rata-rata 5,3 kali per bulan, sedangkan pria 1,4 kali–mungkin ini yang menyebabkan rasa keanehan jika ada pria yang menangis.

Frey juga mengemukakan bahwa air mata karena perih oleh irisan bawang atau debu mengandung 98% air. Lalu, air mata emosional ternyata lebih banyak mengandung racun. Itulah kemudian ada yang berpendapat, termasuk saya, untuk mempersilakan orang menangis dan termasuk diri ini menangis ketika ada masalah berat menimpa, lalu kita berhadapan dengan kesabaran serta air mata. Melarang seseorang yang tertimpa masalah untuk menahan tangis justru dapat mengakibatkan turunnya derajat kesehatan dan makin tingginya tingkat stress pada mereka. Wallahu’alam bis shawab.

Namun, tangisan yang terjadi karena dorongan doa atau munajat kepada Allah jelas-jelas memberikan efek luar biasa kepada kita; serasa lepas semua beban berganti harapan. Emosional yang dihasilkan berkali-kali lipat dibandingkan mengadu pada manusia karena kita berhadapan pada Allah Azza Wajalla, sebaik-baik tempat mengadu. Walaupun demikian, tetap manusia membutuhkan manusia lain untuk berbagi menumpahkan kesedihannya dengan air mata emosional yang terkadang lebih mengiris hati–meskipun dapat menimbulkan kelegaan dengan derajat lebih rendah dibandingkan mengadu kepada Allah.

Karena itu, sabar dan tangis selalu berkolerasi. Ketika sudah diungkapkan, maka biasanya kemudian diawali dengan senyum, lalu tawa kecil. Curhat yang dilakukan via chat, baik di FB maupun BB selalu banyak menggunakan emoticon: :(, lalu kemudian setelah seseorang menumpahkan masalahnya kepada orang lain maka emoticon 🙁 dapat berganti menjadi 🙂 sebagai ungkapan bahagia sesaat ketika sudah ada yang mau mendengarkan. Demikian pun, ketika kita saling berbagi masalah di telepon, sangat mungkin kita mendengar isak tangis, tetapi setelah itu akan mendengar tawa kecil setelah segala beban dapat dikeluarkan. Yang dibutuhkan memang empati dan juga simpati meski kemudian kita hanya mendengar nasihat: sabar ya….

Sabar adalah nasihat yang paling mudah meski sulit dalam implementasinya. Terkadang kita mungkin lupa atau memang tidak mengetahui bahwa orang yang kita suruh bersabar itu sudah pada tingkat stress level tinggi yang mengakibatkan trauma atau depresi. Kata-kata sabar menjadi tidak cukup untuk menolong mereka, kecuali harus ditambah dengan solusi dan ikhtiar (tindakan) menolongnya. Pada ujungnya orang-orang membutuhkan konseling dan mungkin juga harus diterapi untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka yang sudah hancur berkeping.

Orang yang memberikan konseling ataupun terapi memang harus benar-benar tepercaya dan memiliki kemampuan untuk itu. Terus terang, saya tidak terlalu percaya atau mungkin juga masih ragu jika ada model training-training motivasi yang menawarkan konseling maupun terapi untuk berbagai masalah karena saya menemukan beberapa trainer atau motivator itu justru bermasalah dalam hidupnya seperti yang mereka konselingkan. Kemampuan seseorang melakukan konseling ataupun terapi tidak dapat dipisahkan dari riwayat masa kecilnya dan karakter yang tumbuh bersama kedewasaannya dan tidak dapat semata-mata dikaitkan dengan sertifikasi yang sudah mereka pegang. Nabi Muhammad saw dan para Sahabat memiliki kemampuan konseling dan terapi karena mereka memang memiliki kapasitas emosional serta spiritual yang sudah sangat teruji, termasuk ilmu firasat yang luar biasa. Bagitupun orang-orang saleh dan mereka yang memiliki derajat Waliyullah, bukan sekadar yang mengaku ‘ustadz’, biasanya memiliki kapasitas konseling dan terapi yang bersumber dari kebersihan hati serta jiwa.

Pada dasarnya sabar membutuhkan kepercayaan dan yang utama adalah kepercayaan adanya pertolongan Allah. Sabar akan lepas manakala tidak tumbuh kepercayaan atau jauhnya seseorang dari Allah Swt. Sabar juga membutuhkan keyakinan adanya janji kebahagiaan bagi orang-orang yang mengedepankan sabarnya mengikuti ikhtiar. Dan ujian itu bukanlah hanya cobaan soal sakit, kemiskinan, maupun kehidupan berkeluarga, melainkan ujian dalam bentuk kesenangan, kekayaan, peluang, dan juga kesuksesan.

Dan pada saat ini saya pun merasakan harus bersabar dengan segala peristiwa yang sudah saya alami, paling tidak pada 2011 ini–begitu banyak dinamika kisah yang saya jalani. Kesabaran adalah kekuatan untuk menghindarkan kerapuhan meskipun saya harus merelakan banyak air mata tumpah di mana-mana. Saya membaca bahwa bagaimanapun beratnya masalah yang saya hadapi, ternyata masih banyak orang yang lebih berat lagi menghadapi masalah, trauma, serta depresi–mereka yang tak mendapatkan masa kecil yang bahagia atau perlakuan kasar dari orang-orang yang dicintainya. Maka masalah yang saya hadapi menjadi kecil tak berarti. Saya coba berkaca pada diri apa yang menjadi sumber energi saya untuk tetap bertahan; itu adalah rasa cinta yang menimbulkan kepercayaan diri serta motivasi.

Pada akhirnya memang tidak cukup kita menghibur diri dengan janji atau menguatkan diri dengan mimpi. Semuanya harus diikuti dengan kesabaran yang sejalan dengan ikhtiar serta diambilnya keputusan-keputusan. Hidup adalah pilihan dan plihan akan bermakna jika ada keputusan, baik manis maupun pahit. Pada satu titik, keputusan harus diambil untuk menghentikan tekanan dan kemalangan yang kita hadapi karena kita diberi peluang untuk menikmati bahagia di dalam hidup ini. Kita tidak memiliki kekuatan dan energi berlebih untuk menikmati kemalangan demi kemalangan tanpa kesabaran dan keputusan serta tindakan memperbaikinya.

BAHAGIA memang bukan mustahil dan tidak boleh dilenyapkan dari ‘kamus pikiran’ kita meski berhamburan fitnah, hinaan, cercaan. cemoohan dalam hidiup kita. Menangislah… lalu bangkit untuk memperbaiki semuanya dengan keputusan-keputusan jernih. Pilihlah orang yang tepat untuk berbagi dan tulus membantu tidak dengan pamrih.

Mengalunlah Maher Zein dan Fadly Padi dengan syairnya: “… bertahan dan terus berharap; insya Allah ada jalan…”

:: untuk sahabat-sahabat yang menikmati sunyi, dan merenungi masalah dg sabar 🙁 –> 🙂 insya Allah

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here