Mengontruksi Karakter Lewat Bacaan Anak

3
401

Tadinya saya menjuduli tulisan ini dengan kata ‘rekayasa’ atau Merekayasa Karakter Lewat Bacaan Anak . Namun, saya tidak menemukan makna yang pas, baik di dalam KBBI maupun Tesaurus Bahasa Indonesia. Tulisan ini didorong oleh gelaran acara yang diselenggarakan KPK bekerja sama dengan komunitas Penulis Bacaan Anak (PBA) dalam tajuk “Penulis Beraksi Korupsi Dibasmi”.

Saya sendiri tidak mengikuti acara tersebut. Namun, kilatan acara itu menggambarkan adanya sebuah upaya mengonstruksi bacaan anak-anak ke depan untuk menyisipkan pesan antikorupsi yang sudah merasuk ke dalam bangsa ini. Generasi selanjutnya harus diselamatkan dengan bacaan yang mampu memengaruhi mereka sedemikian rupa. Kebenaran berupa karakter bangsa yang tidak culas, licik, dan tentunya tidak korup harus dikembalikan sebagai jati diri bangsa.

Sebuah buku bagus karya Yudi Latif berjudul Menyemai Karakter Bangsa: Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan yang diterbitkan Penerbit Kompas sangatlah menarik dan relevan dikaitkan dengan topik tulisan ini. Menarik yang pertama karena Yudi Latif bukanlah seorang sastrawan, melainkan seorang akademikus sekaligus pengamat politik. Yudi Latif pernah mengenyam pendidikan komunikasi di Fikom Unpad dan S2-S3 bidang sosiologi politik di Australia. Yudi mengaku dibesarkan oleh cerita dan sastra hingga ia menuliskan pada pengantar bukunya: “… Dari pohon pengalaman bertumbuh dengan dunia kata dan sastra inilah, secara alamiah terlahir buah-buah berkah yang tak terkira. Horizon pemikiran meluas, kemampuan bertutur memudah, kepercayaan diri menguat, kepekaan etik-estetik menajam. Daya-daya inilah yang telah banyak menyelamatkan hidup saya, sebagai orang biasa, mengarungi berbagai rintangan hidup yang tak mudah ditaklukkan.”

Saya ingin menarik benang merah bahwa Yudi dalam bukunya ingin menegaskan bahwa sastra (di antaranya cerita) adalah bibit yang disemaikan pada karakter bangsa. Ingat, karakter itu juga dapat disebut akhlak dan akhlak itu ada yang berupa akhlak baik maupun akhlak buruk. Bibit yang disemai jika itu sebuah hasil formulasi keburukan maka akan menghasilkan karakter (akhlak) buruk.

Bibit mengerikan itu telah tanpa sengaja atau disengaja tersemai dalam bangsa ini. Yudi menggambarkan ancaman mematikan dari ‘tujuh dosa sosial’ yang pernah diingatkan Gandhi: ‘politik tanpa prinsip, kekayaan tanpa kerja keras, perniagaan tanpa moralitas, kesenangan tanpa nurani, pendidikan tanpa karakter, sains tanpa humanitas, dan peribadatan tanpa pengorbanan’. Yudi menengarai bahwa ketujuh dosa sosial ini telah mewarnai kehidupan bangsa ini.

Kita tengah berangsur mundur pada suatu masa yang sangat ditakutkan yang dalam terminologi Islam disebut masa jahiliyah. Adapun Indonesia perlu diingatkan tentang nubuat seorang R. Ng. Ronggowarsito yang menyatakan akan tiba suatu masa yang disebut kalabendu yaitu zaman hancur dan rusaknya kehidupan karena tata nilai dan nilai kebenaran dijungkirbalikkan secara merata. Kemudian, kita mafhum bahwa hal ini makin terasa maka terbetiklah kembali isu pendidikan karakter.

Lalu, kembali soal bibit, apakah benar sebuah pernyataan yang pernah disampaikan salah seorang petinggi KPK bahwa kerusakan karakter ini salah satunya disebabkan Dongeng Si Kancil? Kancil adalah representasi tokoh cerita anak yang cerdik meskipun cerdik ini menjadi lebih banyak bergeser pada sifat licik. Kancil selalu sukses memperdayai binatang-binatang buas, seperti harimau dan buaya serta hidup dengan kesenangannya. Bahkan, dalam sebuah syair lagu terkenalnya, Adi Bing Slamet (penyayi cilik era 70-an) menyatakan si Kancil anak nakal, suka mencuri ketimun; ayo lekas dikejar, jangan diberi ampun.

Hmm… kita tidak pernah meneliti ke arah sana. Apakah memang cuma Dongeng Si Kancil yang bermasalah atau ada cerita-cerita lain. Kalau dilihat, generasi yang memimpin sekarang sebagai pelaku di panggung politik, pemerintahan, maupun bisnis adalah generasi baby boomers (kelahiran 1960-an dan sebelumnya sebagai generasi paling bermasalah) dan juga generasi X (kelahiran 1970-an). Generasi ini memang salah satu penikmat Dongeng Si Kancil dan juga buku-buku cerita proyek Inpres tahun 70-an.

Mungkin menarik juga kalau ada penelitian buku anak apa saja yang pernah dibaca oleh para terdakwa koruptor di negeri ini. Hal ini dapat ditelusuri dari riwayat hidup dan keluarga mereka meski boleh jadi dianggap naif.  Namun, paling tidak kita tahu ternyata memang benar adanya bahwa cerita-cerita anak anu memengaruhi karakter para koruptor kini.

***

Benang merah yang coba ditegaskan Yudi Latif tadi tampaknya juga dipikirkan oleh lembaga seperti KPK untuk segera melakukan kontruksi karakter lewat sastra (cerita) dan sasarannya adalah anak-anak. Lalu, muncullah gagasan untuk membuat tulisan dengan pembaca sasaran anak-anak bertema antikorupsi. Hal ini menjadi lebih dari sekadar membuat cerita, tetapi juga tantangan kreativitas tingkat tinggi untuk membuat sebuah konstruksi karakter lewat cerita pada sebuah generasi.

Bayangkan Jepang melakukan konstruksi terhadap kemajuan persepakbolaannya lewat kisah Kapten Tsubasa yang terbukti kini membuat generasi muda Jepang menjadi pecandu bola dan Jepang mampu menjadi wakil Asia di ajang Piala Dunia. Lalu, konstruksi apa yang dilakukan lewat cerita Dora Emon dan Sailor Moon? Anda mungkin dapat menelusurinya.

Mengontruksi Karakter Lewat Cerita

Kita memaklumi jika sebuah kesadaran muncul bagaimana mengontruksi karakter pada sebuah generasi, terutama kanak-kanak dilakukan melalui cerita. Cerita memang sangat berpengaruh pada semua kebudayaan. Semua pembuat dan pengembang cerita selalu menyisipkan pesan-pesan kehidupan, seperti menjelaskan variasi pengalaman kehidupan, menggambarkan perilaku alam, dan juga perilaku manusia.

Dalam dunia pendidikan, cerita adalah sebuah kekuatan atau daya yang paling ampuh. Kita percaya bahwa sebuah pesan cerita dalam bentuk persepsi, nilai, dan sikap dapat ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, cerita yang dianggap baik, seperti Bawang Merah Bawang Putih, Timun Mas, ataupun Malin Kundang masih ‘dihidupkan’ sampai sekarang yang umumnya berasal dari foklor (cerita rakyat). Terkadang pesan tersebut dimafhumi dari satu generasi ke generasi lain sebagai sebuah kebenaran.

Apa yang terjadi di Eropa demikian juga seperti tergambar dari buku Deconstructing The Hero: Literary Theory and Children’s Literature karya Margery Hourihan. Hourihan  menyebutkan bagaimana sebuah cerita diteruskan secara turun temurun dengan jumlah versi yang begitu banyak. Kebanyakan cerita Eropa adalah tentang superioritas, dominasi, dan sukses. Cerita ini menggambarkan bagaimana seorang lelaki kulit putih Eropa adalah seorang penguasa alamiah dari dunia karena mereka kuat, berani, terlatih, rasional, dan penuh pengabdian. Cerita ini menggambarkan bagaimana para lelaki Eropa itu menaklukkan keganasan alam, bagaimana ras inferior (umumnya kulit hitam) dapat diselamatkan oleh mereka, dan bagaimana mereka menciptakan ketertiban dalam peradaban dunia di mana pun mereka berada.  Cerita ini juga menggambarkan bagaimana kaum wanita didesain untuk melayani mereka dan bagi mereka yang menolak berlaku demikian itu sebagai ancaman. Hourihan mengatakan inilah cerita favorit orang Eropa dan disampaikan berkali-kali hingga mereka percaya apa yang diceritakan itu adalah sebuah kebenaran.

Barulah beberapa dekade kemudian orang-orang mulai mempertanyakan kebenaran cerita ini. Namun, cerita-cerita tadi sudah kadung masuk begitu mendalam pada pikiran setiap generasi. Alhasil, diperlukan sebuah dekonstruksi cerita-cerita tadi meskipun benih-benih pesan superioritas tersebut masih tampak pada beberapa cerita, terutama film-film produksi Hollywood.

Dari hal ini kita sudah dapat memikirkan bahwa yang akan kita lakukan adalah juga dekonstruksi cerita karena munculnya generasi korup saat ini tidak dapat dilepaskan dari tersemainya ‘bibit cerita’ yang mengandung pesan-pesan ‘kejahatan’. KPK ingin melakukan dekonstruksi karakter lewat bacaan anak terlebih dahulu dan KPK perlu mengumpulkan para penggiat (penulis/pengarang) buku anak untuk bersama-sama menyemai bibit-bibit cerita antikorupsi. Bagaimana bisa?

Kita harus menyadari bahwa dekonstruksi cerita adalah sebuah pekerjaan besar yang juga melibatkan kepiawaian para maestro sastra, khususnya sastra anak. Dekonstruksi ini harus menjadi program yang masif dan memiliki tingkat pengaruh tinggi. Karena itu, ada satu program lain yang tidak boleh dilupakan dengan target atau sasaran adalah anak-anak (mereka yang sekarang disebut generasi platinum; generasi yang lahir pada era 2000-an). Apakah itu? Melek Literasi.

Melek Literasi

Saya mendapat tugas dari Ibu Dewi Utama Fayzah, seorang doktor di bidang pendidikan anak berkebutuhan khusus dan juga penggiat pendidikan yang kini menjadi pejabat di Direktorat Pendidikan Dasar, Kemendikbud.  Tugas saya adalah mendalami soal media literacy (melek literasi) demi memunculkan suatu formula pendidikan-pelatihan bagi para guru (TK-SD) untuk sadar dan melek literasi.

Kemampuan literasi dasar yang perlu dipahami adalah membaca-menulis-mendengar-berbicara. Semua ini sering lebih tampak pada pelajaran bahasa Indonesia meskipun pada praktiknya dapat terintegrasi pada semua mata pelajaran. Guru memang harus sadar dan melek literasi dengan menunjukkan kemampuannya yang tinggi dalam kecerdasan literasi ini. Alhasil, murid-muridnya pun akan terpacu mengenali kemampuan literasi yang salah satunya lewat media cerita.

Cerita itu tidak lagi harus dalam bentuk lisan, tetapi yang sangat diharapkan dalam bentuk tulisan. Karena itu, buku-buku bacaan anak menjadi sebuah media penanaman kemampuan literasi kepada anak melalui kegiatan membaca, menuliskan hasil bacaan, mendengarkan orang lain yang menceritakan, serta membicarakan soal cerita dengan teman atau gurunya. Dengan demikian, empat kemampuan dasar literasi dapat tertanamkan.

Jadi, sinkronisasi program menyusun buku bacaan untuk anak juga harus selaras dengan program menanamkan kebiasaan literasi kepada anak (membaca-menulis-mendengarkan-berbicara). Paling tidak kita mulai dari membaca dulu. Dan hal ini adalah sebuah persoalan besar manakala target yang kita tuju yaitu anak-anak ini jauh dari keinginan, apalagi kebiasaan membaca.

Kesimpulannya, melek literasi harus dibombardir dulu melalui kesadaran untuk mau dan senang membaca. Jangan sampai ketika KPK ataupun lembaga lain menyiapkan program pengadaan buku-buku bertopik antikorupsi maupun misalnya deradikalisasi justru buku-buku itu tidak ada yang membacanya disebabkan kita ‘menyemai bibit pada lahan yang kering dan tidak produktif’ karena memang dibiarkan terbengkalai.

Memang produk literasi yang dihasilkan nanti tidak harus berbentuk buku atau bacaan, tetapi juga bisa berbentuk film seperti animasi dengan format tetaplah sebuah cerita. Walaupun demikian, tetaplah ketertarikan terhadap produk literasi itu sendiri diawali dengan adanya keakraban dengan dunia literasi atau dunia sastra.

Namun, saya percaya bahwa sinkronisasi program ini sudah dipikirkan jauh-jauh hari. Memang kita tidak perlu terjebak dengan teori ayam dan telur. Mana dulu yang harus disiapkan: buku (cerita) yang bagus atau pembaca (penikmat) yang siap? Jika disiapkan buku (cerita) dahulu, percuma kalau tidak ada pembacanya disebabkan minat yang rendah. Kalau disiapkan pembacanya yang berminat tinggi, jangan-jangan malah buku (cerita)-nya tidak berkualitas dan tidak mendorong minat membacanya.

Mungkin juga ada asumsi seperti ini: “Jangan salahkan pembaca tidak berminat! Buku-buku yang dihasilkan tidak menarik untuk dibaca.” Sebaliknya: “Semua buku-buku ini bagus dan berkualitas. Tapi, ya itu anak-anak minat bacanya rendah dan lebih senang nonton TV atau main game.” Jika ini terus jadi perdebatan, kita tidak pernah selesai menuntaskan persoalan karakter. Dua-duanya harus dijalankan: 1) menciptakan produk literasi yang bermutu; 2) mempersiapkan generasi yang melek literasi.

***

Penulis Beraksi, Korupsi Dibasmi. Saya menikmati gaya literasi kemarin antara presenter TV One dan dua orang anggota DPR selepas pemilihan ketua KPK. Yang terpilih adalah Abraham Samad. Saya memperhatikan gaya literasi perdebatan: sang anggota DPR yang berkelit dengan argumentasinya dan sang presenter yang menyerang dengan gaya bahasa menyudutkan. Ya, terlepas dari soal terpilihnya Abraham Samad dan ini adalah keputusan politik, kita tetap berharap sebuah dekonstruksi karakter benar-benar direalisasikan lewat program menyemai bibit sastra yang baik di lahan yang juga sudah dipersiapkan dengan baik.

Maka saya pun membenamkan sebuah tagline di dalam hati: Penulis Bersaksi, Koruptor Benar-Benar Dibasmi! Merdeka.

:: catatan kreativitas Bambang Trim

#komporis-buku-Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

3 KOMENTAR

  1. Tema besar, bahan banyak bertebaran, salah satunya manipulasi uang buku pelajaran untuk ke warnet, tapi kendalanya bagaimana meracik tema dan bahan menjadi ide yang bagus…..*menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan semedi

  2. Hanya sedikit ‘pemikiran’ Sinyo untuk tulisan ini sebagai tambahan masukan. Selain tiga naskah yang akan saya bawa kepada mas BT (besuk tgl 17-18), saya sampai dengan saat ini masih terus mencari dan mengumpulkan data tentang PAUD sejak tahun 2006-sekarang bersama istri. Rencananya naskah tentang PAUD akan kami buat tahun 2012 (jadi genap 6 tahun ^_^). Istri juga aktif ikut pelatihan-pelatihan tentang PAUD baik dengan biaya sendiri atau dari sekolah PAUD, tempat dia mengajar, guna menambah masukan untuk naskah.

    Menurut pemahaman kami, hal penting yang paling ‘berpengaruh’ pada anak adalah orang paling dekat dengan mereka (biasanya orang tua kandung). Makanya Rasul berpesan, bahwa orang tua lah yang menjadikan anak-anak mereka Majusi, Yahudi atau Nasrani.

    Kisah ‘Sang Kancil’, dalam ingatan Sinyo menyatakan bahwa dia makhluk yang cerdik atau cerdas. Hal ini saya pahami karena orang tua menekankan hal tersebut, bukan pada cara dia mengaplikasikan kecerdikannya tersebut (keculasannya). Saat SD dan remaja, kisah Kancil yang saya pahami tetap melekat bahwa dia ‘hewan yang cerdik/cerdas’ bukan ‘culas’. Setelah dewasa saya menjadi tahu bahwa kecerdikan ‘Kancil’ salah arah karena melakukannya dengan cara yang licik.

    Dalam mendidik anak-anak kami, saya dan istri dapat dikatakan 90% tidak pernah melarang anak belajar apa pun, kami hanya memberi masukan sebanyak-banyaknya tentang tauladan-tauladan ‘kebenaran’ yang kami yakini dan pahami, pada setiap kegiatan yang dijalankan. Pemaksaan baru dilakukan jika kegiatan anak-anak sudah mendekati hal-hal yang berbahaya. Sampai sejauh ini hasilnya positif, karena anak dapat dengan cepat merespon sesuai dengan pandangan-pandangn serta wawasan yang kami berikan.

    Cerita apa pun, bahkan kebaikan seorang Rasul Muhammad, bisa menjadi ‘jahat’ dalam pemikiran anak-anak apabila orang yang dekat dengannya memberikan gambaran bahwa ‘beliau’ jahat. Jika kita mau menelusuri lebih jauh dalam bidang psikologi, maka sebagian besar ‘karakter’ anak terbentuk pada usia dini. Bagaimana perlakuan ortu mereka yang akan membentuk/menguatkan setiap ‘bakat alami’ yang sudah dimiliki.

    Nyo pernah membaca sebuah artikel menarik, bahwa hero-hero yang muncul di Hollywood sekarang sudah jauh menyimpang dari hero-hero jaman dahulu. Salah satu contohnya adalah film ‘Iron Man’. Laki-laki yang hidup mewah, seenaknya sendiri dalam hidup, dikelilingi gadis-gadis nakal sangat berbeda dengan Spiderman dll. Tetapi selama ‘seorang anak’ menonton film IM dengan didampingi orang tua yang peduli akan ‘kebaikan’, maka ‘kaca mata apa pun’ dapat dipakaikan kepada anak tersebut.

    Usia 1-3 adalah periode ’emas’ anak, sampai dengan remaja ortu adalah ‘contoh’ paling mujarab akan dibawa ke mana anak-anak kita. Tentu pengaruh lingkungan juga berpengaruh, namun selama orang tua selalu ‘dekat’ di hati anak-anak maka dia dapat diolah menjadi apa saja.

    So jangan sekali-kali menyalahkan secara buta warnet atau media lainnya jika ortu dari sang anak saja ‘jauh’ terhadap anak-anak mereka. Inilah salah satu naskah yang akan saya bawa ke mas BT, judulnya “Internet Mencentak Penipu?” (penelitian saya selama 6 tahun mas ^_^).

    Maaf masih cupu mas 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here