Buku Bermuatan 3K, Bakal Dicari Para Penerbit

5
471

Bidang apa pun selalu didasari pada ide untuk menggerakkan langkah-langkah pembaruan. Begitupun Depdikbud yang tengah menggodok kurikulum baru dengan nama sementara kurikulum berbasis karakter. Namun, tren, amanat pembangunan, dan juga kebutuhan mendorong dua ide lain untuk masuk ke dalam kurikulum pembelajaran yaitu kewirausahaan dan kreativitas (ekonomi kreatif).

Saya tidak membahas soal kurikulumnya, tetapi saya memandang dari sisi seorang penulis dan editor buku bagaimana sebuah konten buku harus diramu dengan bahan 3K (karakter, kewirausahaan, dan kreativitas untuk mengembangkan ekraf). Bagi saya ini sebuah tantangan, bukan sebuah kebingungan karena tetap ada korelasi antara pembangunan karakter dan penanaman semangat kewirausahaan dalam ranah ekonomi kreatif.

Jelas bahwa sebuah kurikulum yang hendak diterapkan pada sebuah bangsa harus mengacu pada life skill (keterampilan hidup) dan kebutuhan masa mendatang yang akan dimainkan peranannya oleh generasi muda. Negara kita, khususnya para pemangku kepentingan memang seperti ‘baru bangun tidur’. Baru sadar bahwa bangsa Indonesia sudah kehilangan karakter aslinya yaitu karakter-karakter positif yang melahirkan ribuan kearifan lokal dari 33 provinsi. Baru sadar bahwa bangsa Indonesia membutuhkan lebih dari 4% entrepreneur dari seluruh jumlah penduduknya. Baru sadar bahwa negara ini berpotensi mengembangkan ekonomi kreatif dalam 14 ranah yang sebagian besar sumberdayanya (baik manusia maupun alam) sungguh melimpah di Indonesia.

Buku Bermuatan 3 K

Buku termasuk media pembelajaran sangat efektif, tidak lekang oleh zaman, dan selalu digunakan hingga kini. Tidak gampang memang menciptakan sebuah konten/muatan dalam buku teks maupun buku nonteks sambil meramu atau mengintegrasikan submuatan karakter, kewirausahaan, dan ekonomi kreatif (3K). Alhasil, seorang penulis buku perlu memahami bukan hanya bidang atau mata pelajaran yang akan dituliskan, melainkan juga harus memahami konteks 3K yang akan ‘ditanamkan’ ke dalam buku.

Teknik meramu tulisan dengan konten/muatan banyak seperti ini dan harus tampak harmoni dalam penulisannya memang efektif dengan menggunakan metode matriks isi atau frame work. Matriks akan membuat ide-ide berkembang menjadi sub-sub ide yang dapat diwujudkan dalam berbagai kreativitas penulisan.

Betul, saya lagi membahas soal proses kreatif sebuah buku yang topiknya sudah ada dan kita ditantang untuk mengembangkannya. Anda harus melihat bahwa kewirausahaan (entrepreneurship) adalah sebuah sikap atau ruh untuk menjalankan suatu usaha. Sikap atau ruh tadi dipengaruhi berbagai karakter baik dan karakter kuat, seperti jujur, percaya diri, rendah hati, tidak mudah menyerah, dan disiplin. Nah, implementasi sikap dan karakter tadi dapat diterapkan dalam berbagai ranah kreativitas, seperti kerajinan, musik, penulisan, program televisi/radio, games, fotografi, dan fesyen dalam konteks ke-Indonesiaan.

Tentu ketika Anda sudah dapat menjiwai muatan 3K ini maka akan mudah bagi Anda mengimplementasikannya ke dalam tulisan dalam bidang/mata pelajaran apa pun. Karena itu, praktik membaca begitu banyak literatur, kemudian mengikuti berbagai event tentang ketiga topik itu, ataupun menyimak berita/talkshow di televisi/radio akan mengayakan wawasan Anda. Lalu, buku bermuatan inilah yang kemudian akan diburu banyak penerbit di Indonesia yang notabene berkecimpung di penerbitan buku edukasi.

Penulis juga Peramu

Kalau dukun Panaromix dalam kisah Asterix dapat menciptakan ramuan yang bikin bangsa Galia menjadi berkekuatan super, penulis buku juga sebenarnya mirip-mirip dukun yang membuat ramuan ajaib.  Ramuan berasal dari ide yang kemudian bahannya dikumpulkan dari konten-konten yang dibutuhkan. Masalahnya ketika bahan konten tadi sudah tersedia, yang tersisa adalah kebingungan meramunya. Ramuan tulisan memang tidak sama dengan rebusan sebab dialirkan dengan kata, frasa, klausa, kalimat, sampai pada paragraf. Di sinilah letak kesulitan tingkat tingginya dan pembaca harus merasa bahwa ramuan tulisan itu begitu nikmat dan menyehatkan–membuat mereka menjadi cerdas dan paham.

Teknik meramu inilah yang membutuhkan metode: prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Memang tidak banyak penulis Indonesia yang menerapkan atau menguasai teknik meramu standar yang diajarkan di negara-negara maju tersebut. Ada yang merasa cukup untuk sekadar mampu mengalirkan tulisan begitu saja dengan pola-pola yang juga tidak mereka kenali, seperti pola tahapan, pola butiran, pola aliran, maupun pola campuran.

Anda yang mengikuti tulisan-tulisan saya di blog www.manistebu.wordpress.com pasti paham apa yang saya maksud dengan metode dan pola tadi. Nah, itulah mengapa ketika kita berhadapan dengan konten apa pun dan kita mampu menguasainya sebagai bidang keahlian kita atau bahkan mempelajarinya secara cepat, tidak masalah bagi kita untuk meramunya dalam bentuk apa pun.

Jika Anda memang masih penasaran, bolehlah bergabung pada training berbiaya hemat (hanya Rp500 ribu) selama 2 hari dengan tajuk “Book Writing Revolution” pada 4-5 Februari 2012 di Jogja, dan 16-17 Februari 2012 di Bandung. Training ini memandu Anda menguasai metode standar penulisan buku dan juga penerapan model outline matriks pada buku nonfiksi. Info training dapat menghubungi Heri Suchaeri untuk Jogja 0274-9566049 dan Irma untuk Bandung 081320200363.

Muatan 3K sekali lagi adalah tantangan untuk buku edukasi ke depan. Menarik!

:: catatan kreativitas Bambang Trim

komporis buku Indonesia

©2012, Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

5 KOMENTAR

  1. Tidakkah kemudian, penulis sebagai peramu sekaligus butuh kondisi yang tepat guna memungkinkan terjadinya lompatan karya? Pasti pertanyaan ini, menjadi salah satu jawaban yang mudah ditemukan oleh para peserta “Book Writing Revolution”. Semoga 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here