Mengkhayalkan “Big Picture”

10
453

 Bambang Trim siap memandu Anda menemukan big picture dalam Book Writing Revolution Training Batch #3, 16-17 Februari 2012, @Bandung

Kerapkali hasrat menulis begitu menggebu. Namun, ketika sudah duduk dan tinggal menulis, kita malah diam menunggu. Entah apa yang ditunggu. Mungkin wangsit yang tak kunjung datang.

Menulis memang selalu diawali dari ide atau gagasan yang kemudian turun menjadi topik. Ide itu banyak, topik juga banyak dan dapat dituliskan dalam frasa atau satu kalimat. Akan tetapi, tetap saja mengalirkannya dalam kalimat jadi kesulitan tersendiri.

Itulah mengapa kemudian proses menulis dibuat dalam alur yang standar dan menjadi kurikulum menulis paling populer digunakan di luar negeri. Anda mungkin telah mengenali alur ini, yaitu prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Dua proses pertama itulah proses tersulit dalam produktivitas menulis.

Prewriting memang mengandalkan pekanya pikiran kita untuk bertemu dengan ide-ide biasa yang kemudian dituliskan menjadi luar biasa atau ide-ide tidak biasa yang kemudian dituliskan orang dapat menerimanya. Setiap ide harus diolah menjadi gambaran besar (big picture) sebuah tulisan. Karena itu, gambar besar dalam teknik mind mapping Tony Buzan diletakkan di tengah sebagai topik utama. Lalu, gambar itu pun dipecah-pecah menjadi suatu pola dengan jejaring.

Drafting adalah mengeksekusi gambaran besar tadi menjadi tulisan sekali duduk. Ya, dalam membuat draft atau buram (rough) kita memang menggunakan teknik free writing sehingga sekali duduk langsung jadi satu tulisan atau satu bab. Menulis bebas yang penting gambaran besar dan pola-pola jejaring tadi dapat diwujudkan menjadi tulisan meskipun hanya beberapa paragraf yang terdiri atas beberapa kalimat.

 

Ada satu hal yang membuat proses prewriting –> drafting ini menjadi taktis dan tidak perlu membuang waktu banyak. Proses itu adalah mind connecting yaitu kemampuan mengoneksi ‘big picture’ ke bahan-bahan yang mungkin diolah. Bahan utama itu adalah pengalaman kita ditambah pengalaman orang lain. Lalu, bahan utama kedua adalah bacaan yang pernah kita baca apa pun itu, di mana pun, dan syukur-syukur bacaan itu telah menjadi koleksi kita–syukur-syukur lagi tidak hilang.

Itulah mengapa ‘membaca’ itu penting bagi proses kreatif penulisan dan kemampuan yang juga penting mengalibrasi bacaan tersebut. Seorang penulis yang membaca tidak sekadar membaca, tetapi menyimpannya dalam memori ingatan untuk nanti sewaktu-waktu dapat dikoneksi, baik itu judul, penulis, maupun isi tulisan. Begitupun ketika seorang penulis melihat tulisan orang lain, dia pun dapat mengoneksi tulisan itu dengan bahan-bahan yang mungkin dibaca oleh penulisnya atau malah tidak dibaca dan terlewatkan oleh penulisnya.

Di luar membaca, mind connecting juga mampu menghubungkan kita dengan ‘orang’ untuk ditanyai perihal yang hendak kita tulis. Misalnya, dengan facebook ataupun yahoo yang menyediakan fasilitas chat, pikiran kita langsung terkoneksi dengan orang yang patut ditanyai melalui chat tentang topik yang sedang kita tulis. Salah mengoneksi ya akan mendapat jawaban yang keliru. Jika kita menggunakan search engine, mind connecting akan bekerja mengoneksi pikiran kita pada kata-kata kunci untuk diketikkan di Google misalnya. Mind connecting juga dapat kita gunakan untuk mengoneksi gambar-gambar ataupun ilustrasi yang dapat memperkuat tulisan kita serta menstimulus munculnya turunan ide-ide baru.

Big picture yang utuh memang harus ditemukan dengan mind connecting sehingga proses mind mapping pun akan bekerja dengan efektif. Big picture yang belum fix dapat membuat tulisan dibongkar ulang, bahkan ditulis ulang karena diubah keseluruhannya. Proses menulis pun menjadi tersendat dan memerlukan mood baru untuk menyelesaikannya, kecuali Anda memang begitu bersemangat.

Memang menulis seperti menggabungkan potongan pasel menjadi gambaran utuh. Atau gambaran utuh tadi memang dapat kita lihat sebagai sekumpulan potongan pasel. Potongan pasel inilah yang tersembunyi di benak kita dan memerlukan kemampuan mengoneksi untuk menemukannya. Unsur yang bernama kretivitas juga akan terdorong dengan berbagai eksperimen model penulisan yang kita buat.

Untuk itulah dalam penulisan buku nonfiksi saya selalu memandu para calon penulis mengenali lebih dulu jenis atau tipe outline dan kemudian memilih salah satu outline itu untuk melukiskan big picture milik mereka. Memang setelah itu diperlukan pancingan-pancingan agar big picture itu kemudian menjadi ‘hidup’ untuk dituliskan ataupun mengikuti tren dan memiliki keunikan tersendiri.

Proses kreatif penulisan sangatlah unik dan setiap penulis yang sudah ‘menjadi’ memiliki banyak kisah tentang proses kreatif mereka. Namun, proses atau alur mulanya sama yaitu prewriting dan drafting. Dan big picture itulah yang kadang sudah terlukis di benak sehingga mengganggu pikiran untuk segera dituliskan….

Selamat menemukan big picture tulisan Anda.

 

:: catatan kreativitas Bambang Trim

©2012 oleh Bambang Trim

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

10 KOMENTAR

  1. Sejauh ini sih saya memang sering mengalami kesulitan saat proses prewriting-drafting ini. Tersendat-sendat gitu, Pak. Tapi kalau sudah lancar, eh jadi lancar terus, hehe…

  2. Pak Bambang, 2 hari setelah keluar dari Incubator Writer, Big Picture / Lay Out, buku Lighting sudah di selesaikan, dan mulai menulis walaupun wkt kantor relatif pada, alhmdllh sekarang sdh Bab 2, dari 15 Bab, mhn saran . . . terima kasih Pak Guru.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here