Investasi Konten

0
366

Setengah harian, Sabtu/28 April 2012, mengikuti Konferensi Kerja IKAPI Jawa Barat, saya sangat menikmati pertemuan dengan rekan-rekan lama sesama penggiat perbukuan di Bandung. Selain itu, tidak disangka saya bertemu Mas Putut Widjanarko dari Mizan. Ternyata beliau diundang sebagai narasumber untuk Konkerda yang bertajuk “Menatap Masa Depan Perbukuan”. Saya sendiri mewakili Ketua PP IKAPI yang kebetulan berhalangan hadir. Hadir pula saat itu Sekda Kotamadya Bandung, Ketua Kadin Jawa Barat, dan Direktur Retail PT Pos Indonesia.

Putut Widjanarko berbicara soal dunia digital publishing dan bagaimana penetrasi digital memengaruhi gaya hidup, terutama kaum usia produktif di Indonesia. Rupanya topik ini dibawakan karena kegalauan sebagian penerbit tentang kemungkinan buku-buku digital menggerus buku-buku cetak. Menarik apa yang dilontarkan Mas Putut untuk penerbit kembali memetakan kompetensi utamanya, apakah sebagai pembuat buku atau penjual buku (cetak)? Jika memandang diri sebagai pembuat buku, penerbit sebaiknya berkonsentrasi pada content dan context buku. Dengan demikian, teknologi apa pun yang muncul, sebuah buku (content dan context) tidak akan terpengaruh, bagaimanapun bentuknya.

Saya memang sempat bahas di blog ini bagaimana ke depan itu yang mengemuka adalah bisnis konten. Ketika terjadi booming bisnis ini satu dekade yang lalu berupa delivery content, para penerbit buku justru terlena dan tidak ikut dalam euforia bisnis unduhan triliunan rupiah ini.

Penerbit masih bingung dengan kondisi ini? Kebingungan mungkin terjadi karena diperlukan kreativitas tinggi dalam mengemas konten menjadi sesuatu yang dapat digunakan secara digital. Namun, harta paling berharga para penerbit ya konten. Lalu, di garda depan pengemasan konten ini terdapat penulis dan editor, sekaligus para desainer.

Saya memperkirakan konten-konten yang akan jadi juara tetaplah konten-konten edukasi, religi, gaya hidup, termasuk kesehatan. Konten-konten dunia anak juga akan berkembang seiring juga berkembangnya konten digital dalam bentuk game-game edukasi.

Investasi penerbit ke depan yang tidak boleh dianggap remeh adalah investasi konten. Kepemilikan hak eksploitasi maupun hak cipta terhadap suatu konten menjadi penting guna keleluasaan memainkan peranan dalam dunia digital. Karena itu, penting bagi penerbit juga mengetahui seluk beluk dunia penerbitan digital ini, termasuk pengelolaan hak kekayaan intelektualnya.

Di luar negeri para provider telekomunikasi juga mulai melirik bisnis menjadi content developer dan content provider. Di Indonesia bisnis ini pun menjanjikan mengingat pengguna internet sudah mencapai 30 juta orang, belum lagi pemilik tablet yang sudah mendekati angka 1 juta orang, ditambah pemilik handphone yang luar biasa besar.

Kita sedang menuju perubahan generasi, perubahan gaya hidup, dan perubahan cara menikmati informasi maupun pengetahuan yang serba canggih. Penerbit memang tidak perlu merasa kiamat akan terjadi pada dunia buku, justru ini adalah peluang melangkah pada pengembangan bisnis baru. Saran saya, mulailah membina para penulis, editor, dan desainer kreatif untuk menciptakan konten-konten. Content is king, tetapi bagaimana menjadikan konten Anda benar-benar ‘raja’ tentu perlu keterampilan tersendiri dan strategi yang jitu.

© 2012 oleh Bambang Trim

 

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here