Bagaimana Mendirikan Penerbit Buku #2

14
1857

Bagaimana dengan badan usaha atau badan hukum penerbit buku? Sebenarnya tidak ada ketentuan perundang-undangan bahwa penerbit harus memiliki badan usaha seperti persekutuan komanditer (CV) atau badan hukum, seperti yayasan, koperasi, ataupun perseroan terbatas (PT). Karena itu, sangat mungkin ada perseorangan yang mendirikan penerbit dan menyebut diri mereka sebagai self-publisher (penerbit swakelola) tanpa memiliki badan usaha atau disebut perusahaan perseorangan. Akan tetapi, untuk orientasi bisnis, sebuah penerbit perlu memiliki badan usaha ataupun badan hukum. Lazimnya di Indonesia, para penerbit yang tergabung menjadi anggota Ikapi terdiri atas persekutuan komanditer (CV), perseroan terbatas (PT), dan juga yayasan.

Kepemilikan badan usaha atau badan hukum ini juga merupakan salah satu persyaratan untuk menjadi anggota Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), termasuk juga ikut menjadi anggota Kamar Dagang dan Industri (KADIN). Selain itu, dalam soal pengurusan legalitas penerbitan, Perpustakaan Nasional pun kini mewajibkan para penerbit memiliki legalitas badan sesuai dengan peraturan perundang-undangan jika ingin mengajukan keanggotan International Standard Book Number (ISBN).

Jika ditilik dari fenomena penerbit di Indonesia, dapatlah diklasifikasi beberapa badan penerbit seperti berikut ini.

Tabel 3.2 Penerbit dan Badan Usaha

Jenis Penerbit

Badan Usaha atau Badan Hukum

Contoh

Penerbit Perseorangan Tanpa badan usaha atau CV
Penerbit Swasta CV, PT, atau Yayasan Bumi Aksara, Serambi, Rosdakarya
Penerbit Perguruan Tinggi/Universitas Di bawah naungan badan hukum perguruan tinggi UI Press, Penerbit ITB, Unpad Press
Penerbit Pemerintah BUMN, PT, atau di bawah naungan badan hukum lembaga LIPI Press, Balai Pustaka, Pradnya Paramitha

Dari Tabel 3.2 dapat dilihat betapa usaha penerbitan bisa dijalankan siapa pun untuk berbagai kepentingan, baik itu bisnis ataupun penyediaan bahan-bahan terbitan yang relevan pada suatu lembaga (in-house publishing).  Buku ini sendiri diterbitkan oleh Ikapi yang notabene bukanlah perusahaan penerbitan, melainkan organisasi profesi. Buku ini diterbitkan sebagai bagian dari program kerja untuk memberikan informasi seluas-luasnya kepada anggota Ikapi maupun masyarakat tentang mekanisme penerbitan buku.

Penerbitan buku adalah usaha yang sangat aktif dan kreatif sehingga sangat bertumpu pada penerbitan buku baru (front list) setiap bulan atau setiap tahunnya. Saat Anda menetapkan untuk menjadi penerbit dan mengurus badan penerbitan buku maka Anda pun perlu menyiapkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga penerbit (AD/ART). Pertimbangan memilih badan usaha atau badan hukum tentu terkait dengan permodalan, kemitraan, termasuk antisipasi perkembangan ke depan. Beberapa penerbit buku di Indonesia memang merupakan usaha keluarga (family business) yang dijalankan suami-istri dengan melibatkan anak-anaknya. Biasanya badan yang awal dipilih adalah CV dan kemudian berkembang menjadi PT.

Dalam soal memilih badan penerbit ini tentu Anda dapat dibantu seorang notaris untuk mengesahkan badan usaha atau badan hukum penerbit Anda. Untuk mengakomodasi kepentingan pengembangan usaha jangka panjang, Anda pun dapat memasukkan bidang usaha percetakan maupun penjualan buku di dalam akta notaris. Hal ini sudah lazim terjadi ketika penerbit berkembang kemudian meluaskan usahanya dalam satu atap menjadi usaha percetakan, pendistribusian, dan termasuk penjualan retail buku dengan mendirikan toko buku. Pengembangan ini membuat penerbit Anda kemudian dapat digolongkan sebagai penerbit besar.

Berdasarkan besar-kecilnya penerbit maka penerbit dapat dibagi menjadi

Tabel 3.3 Jenis Penerbit Berdasarkan Ukuran Penerbitannya

Jenis Penerbit

Volume Penerbitan

Modal Produksi*)

 

Keterangan

  1. Penerbit Kecil (Small Publisher)

3-6 judul per tahun

Rp36.000.000 s.d. Rp72.000.000

Umumnya self-publisher; penerbit yang fokus pada bidang terbitan tertentu. Umumnya pekerjaan dialihdayakan.
  1. Penerbit Menengah (Medium Publisher)

6-12 judul per tahun

Rp36.000.000 s.d. Rp144.000.000

Penerbit yang fokus pada bidang terbitan tertentu. Umumnya pekerjaan dialihdayakan atau memiliki personel penerbit dalam jumlah terbatas.
  1. Penerbit Besar (Big Publisher)

Lebih dari 30 judul per tahun

>Rp360.000.000

Penerbit yang menerbitkan berbagai bidang dan di antaranya memiliki banyak imprint penerbitan dan diversifikasi usaha.

*) asumsi 1 judul menghabiskan biaya Rp12.000.000,00

Semua yang besar tentunya bermula dari yang kecil, kecuali jika seseorang yang berkeinginan mendirikan penerbit memiliki modal yang sangat besar untuk langsung mendirikan major publisher. Pada major publisher-lah umumnya dapat dilihat proses panjang penerbitan buku sebagai suatu alur kerja.

Paparan berikut ini adalah hal-hal penting yang perlu Anda persiapkan untuk mendirikan penerbit buku. Pada dasarnya usaha atau bisnis penerbit buku sama dengan bisnis lainnya, bahkan Thomas Woll (2002) menyatakan sebagai bisnis yang relatif mudah untuk dimulai karena hambatan untuk memasukinya sedikit.

Thomas Woll menyatakan mudah jika Anda memiliki hal-hal berikut ini:

  • sebuah ide baru atau konsep baru,
  • sebuah pandangan berbeda dari ide lama,
  • jumlah uang yang cukup untuk memproduksi produk anda,
  • beberapa sarana menjual atau mendistribusikan produk anda meskipun dari mobil anda atau menyalurkan penuh melalui distributor, dan
  • sebuah tempat untuk menyimpan produk Anda, apakah itu di lantai bawah ataupun gudan yang disewa atau dalam bentuk arsip digital, Anda dapat menjadi penerbit. (Woll 2002: xvii).

Dikutip dari Apa & Bagaimana Menerbitkan Buku karya Bambang Trim

© 2012 oleh Ikatan Penerbit Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

14 KOMENTAR

    • Ya kalau ke Notaris pasti nguru badan usaha (PT, CV) atau badan hukum (Yayasan). Kalau nggak, ngapain ke notaris? Persyaratannya bisa langsung tanya ke kantor notaris terdekat.

  1. Kami ingin mendirikan penerbit mandiri instansi kementerian di tingkat provinsi. Kalau kami dari Kementerian yang struktur organisasinya vertikal, apa bentuk legalitas badan yang diminta Perpustakaan Nasional untuk bisa menerbitkan ISBN? Apakah bisa berupa Surat Keputusan Kepala atau lainnya? apa aturan perundang-undangan yang mengatur hal tersebut? Mohon pencerahannya

    • Penerbit atas nama pemerintah atau kementerian cukup menyertakan surat dari pimpinan yang bersangkutan menyatakan keinginan mendaftarkan penerbit dalam keanggotaan ISBN. Jadi, bisa berupa SK. Perlu dipastikan nama penerbit apakah sudah digunakan dalam struktur di atasnya karena satu ISBN hanya berlaku untuk satu nama. Terima kasih.

  2. Kami ingin memasukkan nama-nama imprint penerbit ke dalam akta notaris. Namun, notaris kami bilang tidak bisa. Sedangkan untuk mendapatkan nomor ISBN dengan nama imprint harus ada keterangan di akta notarisnya. Sebaiknya bagaimana pak?

  3. Apakah jika sudah berbadan hukum (misalnya CV dan Yayasan) kita wajib membayar pajak?
    Saya berencana membuat self-publishertapi rencana awal untuk menerbitkan buku sendiri sebagai portofolio dan bukan untuk dijual/dicetak banyak. Terima kasih.

    • Ya itu sudah jelas, badan usaha/badan hukum mendapatkan NPWP. Kalau self-publishing hanya untuk portofolio, tidak perlu buat badan usaha/badan hukum, tetapi yang pasti tidak akan mendapatkan ISBN, kecuali diterbitkan oleh penerbit ber-ISBN.

  4. Terkait dengan badan usaha atau badan hukum penerbit, saya punya yayasan pondok pesantren namanya Yayasan Al-Hikmah. Bisakah saya mendirikan penerbitan menggunakan yayasan tersebut, misalnya bernama: AL-HIKMAH PRESS.
    Kalau bisa bagaimana teknis pengurusannya? Mohon pencerahan

    • Yayasan adalah badan hukum sehingga dapat digunakan untuk mendirikan penerbit, hanya di akta yayasan harus tercantum lingkup kegiatan/usaha yayasan juga di bidang penerbitan. Jika belum ada, dapat diubah ke notaris. Hal ini untuk memudahkan nanti pada saat pengurusan ISBN atau menjadi anggota asosiasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here