Myelinasi Menulis #1

1
487

Ketika ada yang bertanya bagaimana seseorang bisa menguasai keterampilan menulis dengan begitu baik, saya pernah menjawab tiga hal. Hal ini seperti bertemu dengan sang tambatan hati. Pertama, mencintai. Kedua, ada hasrat untuk memiliki. Ketiga, mengasah keterampilan untuk dapat bahagia bersamanya. Jawaban ini terlalu filosofis, sukar dipetakan secara ilmiah. Namun, saya sendiri pun tidak pernah menyadari bagaimana saya memperoleh keterampilan menulis saat sudah dewasa.

Saya hanya ingat memulainya ketika duduk di bangku kuliah Program Studi Editing Unpad. Pada tahun pertama kuliah karena gagal masuk ITB, saya pun sudah jatuh cinta pada bidang penulisan-penerbitan ini. Hasrat saya dipenuhi keinginan untuk menguasai publishing science.

Saya belajar sendiri melampaui sesi-sesi kuliah yang diberikan dosen saya. Saya membaca banyak buku tentang bahasa, penulisan, dan penerbitan di perpustakaan. Ke mana-mana saya membawa bolpoin merah untuk menyunting apa pun teks yang saya jumpai guna menginstall keterampilan mengedit. Itulah hasrat yang membuncah. Sampai kemudian terasa ada kompetisi di antara teman seperkuliahan untuk meloloskan tulisan ke media massa, bertarung membuat puisi paling indah, serta juga berlomba menerbitkan karya pers mahasiswa.

Saya kuliah dengan keterbatasan biaya. Otak pun berpikir bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan paling tidak untuk membeli buku-buku. Hasrat saya terhadap buku tinggi sekali. Dua bidang yang turut mewarnai masa-masa kuliah saya adalah musik dan tentunya juga catur. Pernah saking berhasrat membeli sebuah buku teknik catur di pasar buku bekas Cikapundung, saya pun membelinya seharga Rp500. Ternyata itu uang satu-satunya di dompet saya karena lupa bahwa uang yang lain sudah dibelanjakan. Saya terpaksa berjalan kaki dari Cikapundung ke Dipatiukur yang jaraknya sekitar 6 km. Gara-gara buku!

Dorongan menulis dan juga mendapatkan biaya membuat saya aktif dalam kegiatan mahasiswa. Salah satu spesialisisasi yang saya gunakan adalah membuat booklet kegiatan mahasiswa. Mulai menulis, melayout, dan mencetak saya kerjakan sendiri. Ada biaya tersisa sebagai upah pekerjaan saya. Lumayan, saya mengerjakan sesuatu yang saya senangi serta mendapatkan imbalan rupiah. Waktu itu saya sudah mahir menggunakan peranti lunak semacam WordStar dan juga Print Master.

Pekerjaan saya selanjutnya sejak kuliah hingga lulus tidak lepas dari tulis-menulis. Saya menulis apa pun yang bisa saya tulis dan saya memiliki buku proses kreatif. Saya menulis syair lagu, menulis puisi, menulis cerpen, menulis artikel, dan menulis feature. Beberapa penulis senior saya datangi, berbicara dengan mereka, dan tidak lupa berfoto sembari menyalurkan hobi fotografi berbekal kamera manual Fujica warisan papa saya.

Waktu itu dengan memfoto beberapa orang teman, saya pun mulai membuat iklan layanan masyarakat tentang membaca. Ketika demam heavy metal melanda generasi saya saat itu, saya pun merancang buletin mahasiswa yang diberi nama METALED (media aktual editing) dengan font banner-nya menggunakan font mirip brand Metalica yang dirancang dengan tangan. Wow!

Myelinasi! Itulah jawaban sesungguhnya bagaimana sebuah keterampilan menulis dapat dikuasai tanpa kita menyadari disebabkan ada suatu dorongan. Saya baru menemukan jawaban dalam dua tahun terakhir ini dan coba memahaminya. Pertama, ketika membaca buku karya Rhenald Kasali berjudul MYELIN dan kedua membaca buku karya Daniel Coyle berjudul The Talent Code: Rahasia Bakat. Buku kedua berkali-kali saya baca untuk menemukan satu titik pencerahan tentang apa yang disebut myelinasi dalam bidang menulis.

Kepada seorang trainer yang lagi fokus pada soal talent cracking, Mas Rio Purboyo, saya mengatakan bahwa saya kesulitan melatihkan bagaimana seorang penulis bisa menemukan big picture dalam tulisannya, mengurainya menjadi outline, lalu menjuduli dengan judul yang powerful. Saya tidak menyangkal itu bagian dari karunia, tetapi pasti bisa dilatihkan karena saya selalu mengatakan menulis bukan bakat, melainkan keterampilan yang bisa dilatihkan. Tidak sampai di situ saja, ada bagian lain dari menulis yang penting yaitu menata kata, frasa, kalimat, hingga paragraf menjadi sebuah tulisan  yang  ‘enak dibaca dan perlu’ sebelum kemudian seseorang mendapatkan kecepatan luar biasa ketika menggagas dan mengeksekusi tulisan.

images

Sampailah kemudian saya coba memahami soal myelin. Apa itu myelin? Subhanallah, inilah salah satu misteri kesempurnaan makhluk ciptaan Allah bernama manusia. Myelin itu adalah penyekat yang membungkus serabut-serabut saraf ibarat kawat tembaga pada kabel yang dilapisi dengan karet atau silikon. Pelindung kawat itulah yang berfungsi mirip myelin, semakin baik pelindungnya, semakin kuat kawat mampu menjadi konduktor (penghantar) listrik.

Myelin meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan ketepatan sinyal yang dikirim ke otak. Semakin sering seseorang membidik sirkuit tertentu, semakin kuat, cepat, dan lancar gerakan ataupun pikiran seseorang tersebut. Myelin menjadi andal karena ada tahapan proses yang dilatihkan terus-menerus (meskipun tanpa disadari), seperti dalam bermain piano, bermain catur, dan termasuk menulis.

Saya tidak pernah ingat bagaimana saya belajar bermain catur. Semuanya saya peroleh dari melihat dan belajar dari kesalahan. Saya justru kemudian mampu mengalahkan orang yang kali pertama saya lihat permainan caturnya. Sewaktu masuk ke Unit Persatuan Catur Mahasiswa (Percama) Unpad, saya pun dites catur dan pada saat itu malah mampu mengalahkan Ketua Percama sendiri sehingga kemudian ia penasaran minta diulang dan akhirnya saya kalah beruntun.  Untuk kemudian saya tidak lagi mendalami permainan ini, hasrat saya berkurang meski saya sempat mengunjungi sekolah catur yang diasuh Utut Adianto. Myelin yang membuat saya taktis bermain catur lambat laun melemah….

Namun, myelin menulis saya menjadi begitu kuat.

Daniel Coyle menuliskan bahwa keterampilan adalah suatu  penyekatan myelin yang membungkus sirkuit sel-sel saraf dan tumbuh menurut sinyal-sinyal tertentu (h. 39). Jadi, bakat adalah keterampilan yang ditumbuhkan. Saya tidak merasakan myelin menulis, tetapi kuliah di Prodi Editing dan belajar tentang banyak kesalahan penulisan dalam berbahasa serta konvensi-konvensi internasional soal penerbitan terus-menerus merangsang serta mengoptimalkan kerja suatu sirkuit sel-sel saraf yang menghasilkan myelin dan menebalkannya.

Seorang Michael Jordan adalah sebuah keajaiban di dunia basket. Semua orang mafhum bahwa Jordan mengoper bola tanpa perlu melihat siapa yang dia tuju. Myelinnya bekerja dengan sangat akurat, pun termasuk dalam melempar bola ke jaring.

Ketika seorang klien membutuhkan keterampilan saya dalam soal menulis, dalam desakan waktu, saya mampu menyusun sebuah outline awal untuknya. Dalam desakan waktu, saya mampu menciptakan judul dan menyodorkan formula untuknya. Praktik seperti ini pernah saya tunjukkan ketika menyodorkan konsep buku The Becak Way kepada Harry van Jogja. Begitupun ketika kali pertama menyusun draft qolbugrafi Aa Gym, sebanyak 70 halaman draft buku saya selesaikan satu hari dari pagi hingga malam–konsekuensinya saya sampai mimisan karena otak sudah begitu panas. Ada banyak pengalaman lain bagaimana saya membantu seseorang men-generate ide mereka dan memunculkannya menjadi sebuah karya.  Terkadang sebuah tuntutan pekerjaan menulis tidak datang satu,  tetapi bisa 2-3, bahkan lebih sekaligus secara bersamaan. Saya kemudian terbiasa mengerjakan beberapa karya tulis secara bersamaan seperti menciptakan partisi-partisi atau slot-slot di dalam otak saya dalam rentang waktu tertentu.

Nah, kemudian saya coba menemukan alur proses kreatif ini dan saya menggunakan yang standar prewriting-drafting-revising-editing-publishing.  Proses inilah yang saya gunakan dalam pelatihan penulisan. Walaupun begitu, saya tetap tidak puas karena seolah-olah ada missing link. Satu atau dua hari, bahkan tiga hari tidaklah cukup untuk menguatkan myelin seseorang tentang menulis. Mereka hanya baru tahu proses, baru merasakan bagaimana memetakan sebuah ide menjadi outline, tetapi mereka masih gamang dalam mengeksekusinya menjadi tulisan yang berdaya. Saya baru membawa sel-sel saraf mereka untuk menguatkan sinyal pada saat pelatihan itu ke satu titik bernama menulis. Saya belum membawa mereka menguatkan myelin menulis dengan satu bentuk pelatihan dan pendampingan yang mereka sendiri senang melakukannya tanpa beban. [bersambung ke MYELIN Menulis #2]

©2012 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here