Audisi Penulis yang “Seksi”

14
504

Entah berapa kali dinding atau linimasa akun facebook saya ditempeli pengumuman tentang audisi penulis. Tampaknya gairah dan keinginan menulis masyarakat Indonesia yang semakin tinggi memunculkan ide audisi-audisian penulis, layaknya idol yang juga marak di dunia hiburan. Ide berupa tema atau topik yang sedang tren pun menjadi garapan para penyelenggara, entah itu yang mengaku komunitas, penerbit, ataupun agen penulisan. Mereka memanfaatkan iming-iming menjadi penulis buku pada para penulis yang sedang memulai debutnya merancang kata-kata.

Muncullah kemudian beragam ide, misalnya untuk mereka yang gundah (baca: galau) agar menuliskan ‘kegalauannya soal pacaran’, ‘kegalauannya soal jadi mahasiswa kali pertama’, atau ‘kegalauannya soal Indonesia’. Ya, topik-topik ini diharapkan melahirkan begitu banyak penulis, entah itu esai, feature, ataupun artikel. Semuanya digado-gado menjadi kumpulan tulisan yang populer disebut antologi meskipun istilah antologi lebih dikenal untuk karya sastra pendek, seperti puisi, cerpen, ataupun drama. Pada ujungnya dibukukan. Simbiosis mutualisma: sang penyelenggara dapat naskah dengan cara murah dan memanfaatkan social media; para penulis pemula pun mendapat kesenangan dan kebanggaan karya ‘buku pertamanya’ muncul meski harus menulis beramai-ramai.

Apakah audisi ini sah? Ya sah-sah saja selama dua-duanya (penyelenggara dan penulis) menikmati proses ini. Namun, kadang saya menyoroti dari sisi keadilannya dalam memperlakukan hasil karya orang lain yang di dalamnya terkandung hak atas kekayaan intelektual. Kerapkali penyelenggara menyatakan bahwa ‘karya yang masuk menjadi milik penyelenggara’ dan para nominator yang karyanya diterbitkan akan mendapatkan kompensasi ratusan ribu rupiah dibagi tiga atau lebih pemenang. Yang tidak juara, tetapi diterbitkan akan mendapatkan buku contoh sebanyak dua eksemplar. Apa yang diharapkan penyelenggara adalah efek domino dari kumpulan tulisan keroyokan ini yaitu para penulsnya adalah ‘aktivis’ social media sehingga mereka pun dengan sukarela akan mengiklankan karyanya dan mencoba membantu jualan. Alih-alih berpromosi, para penulis tadi pun membeli bukunya sendiri untuk dijual ulang. Penyelenggara alias penerbit hasil audisi ini bisa tersenyum riang dan lahirlah audisi-audisi lainnya….

Dalam sebuah audisi, saya dan Anda bisa menghitung penyelenggara hanya mengeluarkan uang kurang dari tiga juta rupiah sebagai hadiah dan sudah mendapatkan naskah yang diseleksi dari puluhan, mungkin ratusan naskah yang masuk. Pengeluaran lain adalah buku contoh untuk para penulis yang karyanya dimuat dan masih harga yang sangat murah. Dalam menilai siapa yang pantas dimuat, saya kira mereka tidak hanya memperhatikan konten tulisan, tapi memperhatikan eksistensi sang penulis di social media karena bagi mereka ini modal utama untuk menggenjot penjualan. Apalagi ada syarat-syarat harus menge-tag sekian orang tentang lomba/audisi, masuk menjadi anggota group penulisan, memberi tanda like, dan sebagainya.

Keuntungan dari audisi semacam ini mungkin memang tidak terlalu besar. Namun, dengan menyelenggarakan banyak audisi, terlihat cukup ‘seksi’ bagi penyelenggara. Mereka bisa bekerja sama dengan pencetak yang memiliki mesin print on demand atau mesin cetak offset menengah. Harga dan oplag bisa dikalkulasi sehingga tetap menyisakan margin laba. Buku pun terbit mulai oplag 500 sampai 2.000 eksemplar asal masuk skala ekonomi dan juga memperhitungkan berapa penulis bisa membantu penjualan. Jika 20 orang penulis terjaring dan satu orang memesan 10 eksemplar, paling tidak 200 eksemplar sudah dapat terjual. Karena itu, jejaring penulis menjadi sangat penting bagi sang penyelenggara untuk memuluskan buku itu tersebar luas meski pada kebanyakan orang menjadi sangat menjengkelkan mendapat iklan buku antologi. Tak kurang penerbitan buku juga diembel-embeli sebuah idealisme yang mulia. Dan saya pun hanya terdiam ketika kembali lini masa saya dihiasi audisi yang ‘seksi’ ini; sambil baca diam-diam dan bernyanyi: Audisi begini banyaklah di negeri ini tiada bedanya dengan roti.

Ba(ha)sa Basi Bambang Trim

Hanya5Alinea ©2012 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

14 KOMENTAR

  1. hehe.. merasa tersindir. baru-baru ini saya ikutan lomba menulis cerita yang pengumumannya agustus nanti. dari hadiah utama juga sebenarnya tidak begitu menarik: modem! tapi iming-iming gengsi menjadi penulis buku ini sepertinya yang ditembak penyelenggara. bahkan, walaupun jelas-jelas disebut tidak ada royalti untuk karya yang diterbitkan, saya yakin banyak sekali yang akan ikut. saya sendiri menanggapi lomba seperti ini dengan anggapan ‘nothing to lose’. Tapi, ternyata setelah dipikir-pikir malah ‘I lose too much’ dengan adanya karya yang diambil tanpa bayaran royalti sedikitpun. Ini juga mungkin yang mengakibatkan kuantitas judul buku di Indonesia bertambah banyak, tapi kualitas tidak ikut meningkat. Ah, untung saja cerpen yang saya kirim itu stok lama yang ternyata sudah pernah saya upload di kompasiana.com. hehehe.. Terima kasih Pak Bambang atas pencerahannya. Salam.

    • Betul Mas, sebenarnya tidak masalah ketika penyelenggara memang sejelas-jelasnya memberi tahu kita tentang eksploitasi naskah tersebut dan bagaimana hak cipta atas naskah tersebut. Ingat hak cipta juga mengandung hak-hak turunan (derivatif) seperti hak untuk membuat film, menjadikannya games, menjadikannya konten digital, dan sebagainya. Tanpa disadari ketika sang penyelenggara mengklaim hak cipta jadi milik mereka dengan imbalan yang tidak sebanding, itu sama menyerahkan seluruh hak menjadi milik mereka. Iya awalnya memang sebagai penulis kita merasa ‘nothing to lose’, tapi tadi dipikir-pikir kemudian menjadi sesuatu yang menyesakkan. Di satu sisi, penyelenggara itu bukan menjadikan karya kita untuk sosial atau amal, tapi murni bisnis bagi mereka. Di sinilah ketidakadilan ditoleransi oleh kita. 🙂

      • jadi keingetan sama tulisan ini lagi, pak. soalnya baru saja diumumkan kalo cerpen saya masuk nominator dan akan diterbitkan. tapi, yang bikin aneh, para nominator ini wajib membeli buku kumcer yang akan terbit. belum juga hadiah diterima, kita malah harus ‘membayar’. tambah terlihat saja keanehannya. saya jadi ragu untuk meneruskan ini. di satu sisi, saya ingin membuktikan bahwa karya saya ternyata dihargai. tapi, di sisi lain kok saya merasa penghargaannya kurang. hhehe..

  2. Apa yang diceritakan diatas memang benar. Banyak penulis dadakan yang ingin cepat karyanya diterbitkan secara instan tetapi tidak mau mempelajari bagaimana sesungguhnya dunia kepenulisan dengan serius. Mereka kebanyakan ingin cepat terkenal, mendapatkan uang dari menulis tetapi minim ilmunya dan malas belajar (membaca). Akibatnya, mereka senang ikut2an audisi penulis dan jadi makanan empuk penyenggara audisi.

    Seandainya rekan2 penulis yang baru belajar menulis itu mau sedikit bersabar, mau jadi pendengar yang baik dan banyak bertanya kepada ahlinya, Insya Allah ada jalan pintas untuk menerbitkan karyanya, tanpa harus berantologi ria. Saya sudah mencobanya, ternyata menulis itu tidaklah sulit asal tahu ilmu dan rahasia kecilnya (tips and trik).

    Salam penulis.

    J. Haryadi

    • Ya Pak, umumnya dunia penulisan memang melihat output atau karya itu sendiri dan melupakan proses. Menulis adalah proses dan menjadi penulis juga berproses. Sang penulis pemula dapat menyerap pengalaman penulis kawakan yang mungkin sudah belasan atau puluhan tahun dan ia pun bisa mendapatkan short cut menulis. Tapi, itu tetap berproses… Setuju sekali Pak. Salam penulis kembali. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini.

  3. Tulisan Pak Bambang menyuarakan kegalauan saya selama ini tentang audisi-audisi yang ‘aneh’.
    Saya termasuk penikmat audisi penulisan saat awal berkecimpung di bidang penulisan. Tapi saat itu penyelenggara relatif ‘adil’ kepada semua peserta yang lolos yaitu dengan memberi honor.
    Kalau sekarang saya lebih berhati-hati karena tidak ingin jerih payah saya sia-sia. Tetap mengikuti audisi penulisan selama saya bisa mendapat keuntungan yang pantas. Bisa berbentuk materi maupun non materi misalnya nama saya ikut bersanding dengan penulis besar sehingga bisa ikut mengenalkan nama saya pada fans penulis besar tersebut.

    • Yup Mas, audisi atau sayembara penulisan ini, terutama untuk kumpulan tulisan (antologi/bunga rampai) sudah lazim dari dulu. Namun, sekarang modus operandinya memang menjadi lain dengan adanya kemajuan teknologi dan orang berpikir bisnis ini menarik. Penulis-penulis pemula memang melihat faktor nonmateri berupa nama dan eksistensi, tetapi ya kadang juga lupa kalau karya mereka bisa bernilai melebihi penulis seniornya. Hak cipta diserahkan berarti keseluruhan karya diserahkan, yang tinggal hanya hak moral mencantumkan nama sebagai pencipta.

  4. Jadi ingat dialog waktu nonton sinetron PPT waktu sahur kemarin, “Apa jadinya jika dunia buku di Indonesia begitu bebas seperti internet. siapapun bisa nerbitkan buku.Namun akhirnya pasar membuktikan, para profesionalnya yang akhirnya tetap bertahan” 🙂

  5. hihi menarik nih..memang audisi kadang nggak jelas gini. Kn sayang sekali. Saya sih lihat kalo mau ngikutin audisi macam Indonesian Idol yang pemenangnya dapat hadiah banyak, atau audisi artis untuk main film,,,nah itu baru audisi yang normal tuh. Udah capek-capek ikut audisi eh malah nggak dapet apa-apa. Ini sih audisinya nggak normal 😀

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here