Qbaca dan Qtulis

7
569

Kabar Qbaca kali pertama saya ketahui lewat Mas Ardian Syam, teman twitteran yang paling sibuk mempromosikan Qbaca. Qbaca (baca: kubaca) menjadi sebuah ruang digital yang dikembangkan PT Telkom dan diistilahkan dengan sangat menarik menjadi ekosistem digital. Di dalam aplikasi inilah e-book karya penulis dan penerbit lokal mendapatkan ruangnya untuk dipertemukan dengan pembaca, terutama generasi digital. Sebutan Qbaca menggunakan analogi bahasa anak muda (alay) yang menyebut kata ganti “ku” menjadi “q”–seolah menunjukkan ekosistem ini dimaksudkan menyambut kelahiran generasi digital dengan gadget-nya.

Entah mengapa kemudian saya mengambil keputusan bergabung dengan Qbaca. Mungkin salah satunya memang pikiran praktis saya sebagai penulis, penerbit, sekaligus book packager. Bolehlah dikatakan bahwa institusi bisnis yang baru saya seriusi setahun ini masih berskala UKM, tentu diperlukan modal besar untuk mencetak buku-buku yang saya terbitkan. Di satu sisi, proses kreatif menghasilkan karya tidaklah terbendung, apalagi saya memiliki aset konten begitu banyak buah menghasilkan buku sebanyak lebih dari 140 judul. Saya sudah melakoni Qtulis (baca: kutulis) sejak 1994 dan untuk menerbitkan sendiri hingga mampu bersua dengan pembaca secara praktis-ekonomis, ternyata baru terjawab pada akhir 2012 ini.

Prosesnya begitu cepat dan momentumnya adalah Indonesia Book Fair 2012 ketika Qbaca Telkom juga membuka booth. Saya pun dipertemukan dengan Bapak Achmad Sugiarto, Executive GM Divisi Multimedia PT Telkom–seorang yang sebelumnya pernah saya temui untuk sebuah rencana penulisan buku. Alhasil, pertemuan kedua ini mengakrabkan kami dan Trim Komunikata pun sebagai penerbit mendapat kehormatan menjalin kerja sama awal dengan Qbaca. Kami secara seremonial menandatangani nota kesepahaman pada tanggal 21 November 2012 malam, sembari kemudian diisi dengan bedah buku “Manajemen Alhamdulillah” karya Pak Indra Utoyo, Direktur IT Telkom.

Saya kira ini sebuah peluang dan lompatan dengan amunisi yang saya miliki bersama teman-teman di Trim Komunikata dan Dixigraf Publishing Service. Saya memiliki tim editor, layouter, ilustrator, dan desainer dalam jumlah relatif kecil. Namun, kami sudah memiliki pengalaman mengemas lebih dari 400 judul buku sejak 2008 untuk berbagai penerbit, perseorangan, dan institusi nonpenerbit.

Peruntungan di dunia digital ini patut dicoba karena untuk menyiapkan buku dalam format pdf ataupun e-pub bukanlah sesuatu yang sulit kini dan kekayaan sebenarnya berupa konten yang siap saji sudah pula kami miliki. Satu hal yang menarik, Qbaca memang menjadi alternatif bagi para penulis buku pemula ataupun self publisher dengan kekuatan kapital yang terbatas. Penerbitan e-book dapat menjadi batu loncatan untuk selanjutnya menerbitkan paper book. Di sini saya tidak akan mempertentangkan soal p-book vs e-book karena menurut saya tidak serta merta e-book menjadi substitusi p-book, apalagi di Indonesia dalam jangka pendek. Namun, lahirnya generasi gadget dan tren gaya hidup menggunakan tablet ataupun smart phone yang memiliki fasilitas e-book reader, tidak dapat dibendung. Sangat mungkin ada kecenderungan seseorang yang membeli e-book juga membeli buku cetaknya atau sebaliknya. Di sisi lain, e-book akan dicari sebagai alternatif kalau buku cetaknya memang susah dicari atau tidak ada. Adapun yang memerlukannya tersebar di seluruh wilayah Indonesia, bahkan mungkin dunia.

Pasar e-book potensial boleh dibilang ada pada pasar long tail yaitu buku-buku spesifik dengan captive market. Buku-buku itu diperlukan sekelompok orang yang jumlahnya di Indonesia ini mungkin ratusan, ribuan, atau bahkan puluhan ribu. E-book menjadikan buku itu mudah didapatkan, harga terjangkau, dan tentunya memenuhi kehausan orang akan informasi yang langka. Di sini Trim Komunikata akan memainkan peranan menerbitkan e-book khusus di bidang komunikasi penulisan-penerbitan, sekaligus mempromosikan layanan pengemasan buku (book packager) dan layanan pelatihan penulisan-penerbitan di setiap produk e-book yang ditawarkan.

Qbaca menjadi ekosistem yang dapat menghidupkan kembali karya-karya lama saya. Inilah salah satu kekuatan yang saya renungkan. Saya tidak perlu menunggu lama untuk membukukan, memperbarui, dan menerbitkan kembali karya-karya lawas saya yang masih dicari para pembaca. Beberapa judul yang sedang saya siapkan untuk Qbaca kali pertama adalah

Tak Ada Naskah yang Tak Retak: Panduan Editor Profesional Buku tentang editing naskah format pendek, seperti artikel, feature, esai, makalah, dan laporan. Pantas dimiliki para editor, penulis, dan staf humas ataupun staf komunikasi marketing.
Taktis Menyunting Buku Edisi cetaknya sempat diterbitkan Maxigraf. Buku ini tentang editing buku dan segala hal yang melatari penerbitan sebuah buku pada tahap editorial. Pantas dimiliki para penulis dan editor karier di penerbitan buku maupun editor sebagai pekerjaan di lembaga-lembaga pendidikan.
Saya Tidak Bermimpi Menulis Buku Buku ini kali pertama terbit edisi cetaknya di Kolbu (imprint MQS) dengan judul Saya Bermimpi Menulis Buku. Versi e-booknya merupakan hasil revisi dengan judul baru. Buku ini pas untuk para penulis buku pemula disertai dengan berbagai fenomena yang melatari dunia penerbitan Indonesia dalam satu dekade terakhir.
Tafsir Menulis Buku Buku ini kali pertama terbit di Kolbu (imprint MQS) dengan judul Menjadi Powerful Da’i dengan Menulis Buku dan akan disiapkan edisi revisinya dalam format e-book dengan judul baru. Buku ini pas bagi para penggiat dakwah Islami untuk mengembangkan dakwah bil kalam.

Amunisi lainnya? Saya masih punya deretan judul buku anak, buku religi, dan buku lainnya yang memang tidak diperjanjikan hak eksploitasinya dalam bentuk e-book oleh penerbitnya terdahulu atau penerbitnya sudah tutup dan tidak berniat menerbitkan kembali karya tersebut. Tentu semua kemasan harus dibuat ulang karena bagaimanapun hak cipta pengemasan buku (editing, layout, ilustrasi, dan desain kover) masih milik penerbit yang lama. Salah satu buku lain yang sedang saya siapkan adalah hasil skripsi S1 saya tentang sastra anak yaitu buku Cerita Anak Indonesia Kontemporer: Dunia yang Terpinggirkan. Buku ini pernah lolos dalam penilaian Program Pustaka I Adikarya Ikapi dan Ford Foundation yang diterbitkan Nuansa Cendekia. Tentu saya akan melakukan revisi besar dan menambahkan beberapa fenomena terbaru dalam penerbitan buku cerita anak di Indonesia.

Jadi, Qbaca memang sebuah peluang penerbitan karya-karya lawas maupun karya-karya baru meskipun sebelumnya model e-book store seperti ini sudah ada, yaitu Wayang Force, Papataka, dan Evolitera. Seperti book store lainnya, saya pun bebas menjual e-book ini ke berbagai e-book store. Sangatlah baik jika para penulis ataupun self publisher mempersiapkan dulu model penyajian e-book yang akan ditampilkan agar menarik dan memiliki daya pikat. Jika Anda kesulitan, tim DIXI dapat membantu Anda mempersiapkan e-book dalam hal:

  1. editing dan rewriting naskah;
  2. tata letak (layout) halaman dan desain kover;
  3. penyiapan dummy digital dalam bentuk pdf atau e-pub.

Kami pun dapat menyediakan layanan co writing maupun ghost writing untuk membukukan pemikiran dan pengalaman Anda hingga kemudian dipasarkan dalam format e-book. Dalam waktu dekat, kami tampaknya perlu menyiapkan inkubator kreatif e-book untuk menampung keinginan para penulis atau penerbit yang mau berkiprah bersama Qbaca. Bisa hidup dalam ekosistem digital yang baru boleh jadi memang memerlukan inkubator bagi para pemula di bisnis ini agar mampu beradaptasi dengan cepat dan cergas.

Qbaca ada karena wujud sesuatu yang Qtulis. Daripada bersusah-susah dalam soal biaya besar, mengapa tidak memulainya dengan e-book bersama Qbaca? Dan akan ada banyak hikmah melangkah di dunia digital ini, terutama menyebarkan ilmu serta pengetahuan secara tak terbatas, termasuk menyediakan layanan konten e-book secara gratis. Soal rezeki biarkan Allah yang mengaturnya untuk kita, apakah jadi best seller atau ada berkah-berkah tersembunyi lain yang disiapkan-Nya. Tunggu saja, Trim Komunikata (TrimKom) juga akan menyiapkan konten e-book gratis atau sedekah konten di Qbaca dan berharap doa dari para pembacanya maka rezeki pun akan muncul dari arah yang tiada disangka.  Semoga. []

 

©2012 oleh Bambang Trim

Komporis Buku Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

7 KOMENTAR

  1. Ditunggu konten e-book gratis atau sedekah konten di Qbaca-nya, Pak.
    Berkah dari-Nya saya rasa tak perlu diragukan, apalagi disangsikan, sebab ini pasti sifatnya. 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here