Bayangkan Jika 50 Orang Berpengaruh ini Menulis untuk Penerbit Anda

0
331

Majalah Globe edisi Desember 2012 menurunkan liputan utama tentang 50 orang Indonesia paling berpengaruh pada 2012. Urutan 10 teratas adalah Presiden SBY, Megawati Soekarnoputri, Aburizal Bakrie, Boediono, Hatta Rajasa, Moh. Mahfud MD, Abraham Samad, Dahlan Iskan, Gita Wirjawan, dan Agus Martowardjojo. Dari kesepuluh orang itu kita mafhum bahwa dalam dunia buku yang paling moncer tahun ini adalah sosok Dahlan Iskan. Dahlan Iskan diburu banyak penerbit untuk membukukan kisah hidupnya maupun pemikirannya.

Masih ada 40 orang lagi, termasuk Chairul Tanjung, Jusuf Kalla, Joko Widodo, serta dua nama anak muda: Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono. Tokoh-tokoh yang saya sebutkan ini termasuk para jawara yang mewarnai dunia buku Indonesia dalam setahun terakhir. Paling gres, Jusuf Kalla meluncurkan buku JK Ensiklopedia yang ditulis tiga wartawan. Lalu, ada pula CT yang bukunya Chairul Tanjung: Si Anak Singkong mendapatkan penghargaan  Book of the Year pada Indonesia Book Fair 2012.

Saya tidak akan membahas ke-50 orang itu dan di antara mereka yang menjadi pemberi efek buku laris manis, baik yang ditulis mereka sendiri maupun yang ditulis oleh orang lain. Namun, ini soal KEBERUNTUNGAN para penerbit. Keberuntungan karena memiliki EDITOR AKUISISI yang andal jika mampu mendorong ke-50 orang itu untuk menulis buku atau tokoh-tokoh lainnya yang punya kekuatan.

Editor Akuisisi itu Aktor Utama

Sama dengan kebanyakan editor lain, awalnya saya mengira tugas saya di penerbit hanyalah sebagai pemeriksa dan penyelaras bahasa. Namun, di “sekolah penerbitan pertama” saya di Penerbit Remaja Rosdakarya, saya berkenalan dengan cara memahami para penulis, termasuk para penulis tersohor. Ada Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, sang pakar komunikasi. Interaksi lebih intens saya lakukan dengan Prof. Dr. Deddy Mulyana, MA yang juga pakar komunikasi dari Unpad. Berlanjut juga menangani penulis dari dosen-dosen IKIP Bandung (sekarang UPI) yang dikoordinasi Prof. Dr. A. Chaedar Alwasilah.

Baru saya tahu kemudian bagaimana rantai sebuah penerbitan yang tangguh dimulai dari naskah yang hebat dan itu aktor utamanya adalah editor akuisisi atau disebut juga editor pengadaan naskah (acquiring editor). Itulah yang saya pratikkan kemudian di Penerbit Grafindo, MQS Publishing, Salamadani Publishing, hingga kemudian di Penerbit Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Saya mengeluarkan jargon: “Saya tidak mencari naskah, tetapi mencari penulis.”

Saya kemudian menemukan penulis-penulis hebat bersama naskah di dalam diri mereka, di antaranya Parlindungan Marpaung (Setengah Isi Setengah Kosong), dr. Tauhid Nur Azhar (Jangan ke Dokter Lagi, Gelegar Otak, dsb.), Tutik Hasanah (Mutiara Bumi Saba, The Islamic Golden Perspective, dsb.), dan Krishna Pabichara (12 Kiat Pembelajar Cemerlang). Nama terakhir tentu Anda kenal saat ini sebagai penulis novel laris Sepatu Dahlan.

Ilmu Langka ini Hanya Diajarkan di ALINEA

Adakah sekolah, perguruan tinggi, atau kursus yang mengajarkan teknik akuisisi naskah ini? Selama ini sampai tahun 2012 tampaknya tidak ada di Indonesia. Lain halnya, kalau Anda bertanya tahun depan, pada tanggal 9-10 Januari 2013 untuk kali pertama Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (ALINEA) akan mengadakan Kursus Perencanaan Akuisisi Editorial (Editorial Acquisition Planning). Kursus selama tiga hari di Gedung Ikapi, Jalan Kalipasir No. 32, Jakarta Pusat ini akan membedah bagaimana rahasia para editor menemukan penulis berbakat atau penulis berkompeten dan merencanakan program penerbitan mereka dengan memprediksi tren dan kecenderungan pasar.

Sesungguhnya editor Anda atau Anda sendiri sebagai seorang editor tidaklah terlalu hebat jika menggaet penulis seperti Andrea Hirata, A. Fuadi, atau Erbe Sentanu untuk menulis di penerbit Anda. Anda akan hebat kalau dapat menemukan “Andrea Hirata” yang baru atau “A. Fuadi” yang baru atau juga “Erbe Sentanu” yang baru. Kekuatan utama seorang editor akuisisi adalah menemukan “bakat-bakat baru” dalam dunia penulisan—tidak peduli siapa mereka dan dari mana mereka berasal.

Kursus Perencanaan Akuisisi Editorial (Editorial Acquisition Planning) memang kursus langka karena diselenggarakan sekali dalam empat bulan. Kesempatan emas memang memulainya pada Januari 2013 ini sebagai langkah awal menyusun perencanaan penerbitan. Anda dapat menguatkan perencanaan yang sudah dibuat dan mengeksplorasi lagi ide-ide baru bersama saya. Karena itu, Anda bisa masuk ke link ini http://www.ikapi.org/health/pameran-ikapi/indonesia-book-fair/1595-alinea-resmi-diluncurkan.html untuk mendapatkan direktori dan formulir pendaftaran. Anda juga bisa mengontak IKAPI di 021-3141907, 021-3146050 (c.p. Yusi) atau email: ikapi@cbn.net.id dan ikapi_pusat@yahoo.com.

Kursus ini berbiaya Rp2.200.000,00 untuk 2 hari sepertinya terlihat berlebihan. Berlebihan, ya, karena mengandung banyak kelebihan yang tidak ternilai untuk menemukan “penulis-penulis emas” Anda. Kita bersama akan membandingkan kelebihan dan kekurangan pola akuisisi dengan cara solicited dan unsolicited, termasuk penerjemahan dan pola work-made-for-hire dengan mempekerjakan para penulis tetap di penerbit Anda. Biaya tersebut memang mempertimbangkan terasahnya seni mengakuisisi, sekaligus intuisi seorang editor akuisisi—yang memang tidak berurusan dengan soal tata bahasa.

Di sisi lain, bagi para peminat dunia penulisan-penerbitan, tentu ini pilihan karier yang menarik jika Anda mampu menempatkan diri sebagai editor akuisisi yang berinsting tajam untuk menemukan para penulis hebat, termasuk naskah di dalam diri mereka. Para penulis hebat itu masih banyak yang tersembunyi di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, di komunitas-komunitas, di kantor-kantor, di pesantren-pesantren, bahkan di rumah-rumah tangga. Ini pekerjaan menarik untuk mengungkap mereka dan mengompori mereka menulis buku—seperti halnya saya mengompori seorang Harry Van Yogya, tukang becak melek gadget, untuk menulis buku The Becak Way.

***

Akhir 2010 merupakan saat menarik bagi saya ketika kali pertama bertemu dengan Pak Jokowi, sang walikota Solo untuk mengundang beliau meluncurkan buku biografi pendiri Tiga Serangkai. Akhir 2011 sebelum saya mengakhiri tugas sebagai GM di Penerbit Tiga Serangkai, saya sudah memasukkan rencana penerbitan biografi Pak Jokowi dan mewanti-wanti editor akuisisi TS untuk melanjutkan program ini setiadanya saya di sana. Alhamdulillah, buku itu terbit November 2012 sebagai satu-satunya biografi resmi Pak Jokowi yang ditulis penulis kenamaan, Alberthiene Endah hingga kemudian sudah masuk cetak ulang kedua. Berarti editor akuisisi di sana bekerja dengan cekatan dan memperjuangkan buku yang memang sulit untuk diperjuangkan terbitnya ini.

Tahun 2009 meskipun sudah menjadi Direktur di Penerbit Salamadani, insting akuisisi saya tepat digunakan ketika saya mengakuisisi naskah Api Sejarah sebanyak dua jilid milik Prof. Ahmad Mansur Suryanegara. Pada awalnya muncul keraguan di pihak marketing melihat buku yang luar biasa tebal dan topiknya tentang sejarah. Namun, saya bersikeras menerbitkannya dan mempresentasikan bagaimana buku ini bisa diposisikan di pasar. Jadilah kemudian buku Api Sejarah terbit dan ternyata mendapat respons positif hingga cetak ulang beberapa kali meskipun harganya terbilang tidak murah.

IMG_2504Kisah di balik naskah ini adalah salah satu fenomena yang tidak pernah terungkap tentang kerja seorang editor akuisisi yang memburu para penulis. Di luar negeri, tugas editor akuisisi sering dimudahkan dengan adanya agen para penulis atau literary agent. Namun, untuk kasus Indonesia hampir tidak ditemukan ada literary agent yang benar-benar profesional. Itu sebabnya editor akuisisi di Indonesia masih bekerja ekstra keras mengamati kecenderungan dan tren yang terjadi pada masyarakat sekaligus “mengendus” bakat-bakat baru dalam dunia penulisan buku.

Lalu, sang editor pun telah memasuki zaman baru, zaman media sosial yang bisa memunculkan bintang baru kapan pun. Bintang-bintang yang ngetweet dengan kata-kata menggugah, lalu Anda melihatnya sebagai bahan yang dapat dibukukan seperti halnya @poconggg. Bintang-bintang yang menulis blog seperti Raditya Dika hingga mampu mengocok perut para remaja kini. Bintang-bintang yang muncul dari panggung politik. Bintang-bintang yang muncul dari panggung bisnis. Dan bintang-bintang yang muncul dari panggung motivasi yang membawa perubahan pada masyarakat atau juga bintang-bintang dari mereka yang tadinya bukan siapa-siapa.

Karena itu, KURSUS PERENCANAAN AKUISISI EDITORIAL menjadi istimewa pada tanggal 9-10 Januari 2013. Semakin istimewa karena terbatas untuk 20 orang peserta Angkatan I. Istimewa lagi kalau Anda adalah penerbit anggota Ikapi mendapatkan diskon 20% dan early bid untuk nonanggota Ikapisampai dengan tanggal  3 Januari 2013 langsung mendapatkan diskon 10% sehingga Anda hanya membayar Rp2.160.000,00 saja. Cek materi lengkapnya dan fasilitas untuk Anda di http://www.ikapi.org/health/pameran-ikapi/indonesia-book-fair/1595-alinea-resmi-diluncurkan.html.

Saya (Bambang Trim) bersama Tasaro GK akan berbagi pengalaman, kiat, dan pengetahuan tentang AKUISISI NASKAH ini selama 16 jam. Namun, setelah itu lebih dari 16 jam kami dapat menjadi teman diskusi untuk membicarakan “ide-ide gila” dalam dunia penerbitan. Kesempatan pertama ada di tangan Anda dan penerbit Anda.[]

Bambang Trim | Kepala Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (ALINEA) | Ketua Kompartemen Diklat-Litbang-Informasi Ikapi | Penulis 140+ judul buku dan Editor ratusan judul buku | Pin BB 26B35E94 | Twitter: @bambangtrim | FB: bambangtrim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here