Buku Oplosan

5
391

Negeri ini memang terkadang menjadi negeri kreatif dalam arti negatif. Salah satunya pekerjaan oplos-mengoplos. Tidak hanya BBM, sampai bakso sapi pun dioplos dengan daging babi, bahkan juga daging ayam tiren. Bagaimana dengan buku?

Buku oplosan adalah kerjaan para penulis yang kurang kerjaan atau memang secara instan menerima pekerjaan menulis dengan mengoplos berbagai bahan tulisan hingga mereka kemudian menyebutnya sebagai buku. Buku oplosan dapat dicirikan dari daftar pustakanya atau malah memang tidak memiliki daftar puskata sama sekali. Daftar pustaka terbanyak adalah dari website atau blog orang lain dan minim sekali dari buku. Kontennya memang dioplos dari berbagai tulisan orang lain yang ada di dunia maya.

bookopen2Selain itu, ada juga yang dioplos dari berbagai artikel, berita, kolom, maupun feature di dalam media massa. Isinya dipenuhi dengan berbagai bahan dari berbagai media massa. Sang penulisnya lebih tepat disebut sebagai editor tulisan “gado-gado” ini. Contoh buku oplosan ini seperti buku-buku tentang tokoh ataupun fenomena sebuah peristiwa: politik-sosial-budaya.

Sehatkah buku oplosan? Ya kalau materinya memang disusun dengan mempertimbangkan kredibilitas dan kapabilitas penulisnya sekaligus memenuhi aspek legalitas, tentu buku itu aman untuk dikonsumsi. Namun, jika penulisnya hanya seorang penulis tanpa kredibilitas ataupun kapabilitas dalam bidang yang ia tulis, lalu ia mengutip tulisan orang lain di sana sini tanpa peduli apakah itu sumber primer atau sekunder, hal ini tentu tidak sehat dan berbahaya.

Buku oplosan kini banyak ditemukan di toko-toko buku; kadang-kadang penerbitnya memang penerbit antah-berantah yang tidak dikenal sebelumnya. Ada buku tentang kontroversi sebuah peristiwa atau seorang tokoh. Ada juga buku tentang bisnis, terutama UKM. Ada lagi buku tentang fenomena-fenomena yang lagi hangat, misalnya pada 2010-2011 tentang kiamat 2012.

Fenomena buku oplosan kerap juga terjadi pada buku-buku komputer yang paling sering di-update. Para penulisnya dengan “cerdik” hanya mengalihbahasakan fasilitas help pada sebuah aplikasi atau program komputer. Jadilah kemudian buku itu seperti buku pegangan (handbook) untuk sebuah aplikasi baru. Tidak ada satu trik atau penjelasan pun yang ditulis sendiri oleh sang penulis.

Adakah pembaca buku oplosan? Ya, ada saja selalu, baik mereka yang menerima dengan memakluminya maupun mereka yang akhirnya merasa tertipu ketika membaca buku. Karena itu, kecerdasan pembaca juga perlu diuji dengan tidak asal membeli buku karena tergoda judul ataupun “kecap kata-kata” di blurb (sampul belakang buku). Minta saja buku yang sudah dibuka plastik kemasannya dan telitilah daftar isi serta daftar pustaka buku tersebut. Jika memang daftar pustaka sangat banyak dari materi blog/website atau malah semuanya dari internet, buku tersebut patut dicurigai sebagai buku oplosan.[]

©2012 oleh Bambang Trim

 

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

5 KOMENTAR

  1. Fenomena ‘buku oplosan’ ini mungkin imbas dari budaya serba-instan yang kian merebak… efeknya, sebagian penulis melakukan risetnya (juga) tergesa-gesa dan terkesan asal ‘comot’.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here