Indeks yang Kerap Terlupakan

4
438

Agustus 2009, saya sempat bertemu seorang agen buku yang biasa memasok buku-buku Indonesia untuk perpustakaan universitas di Australia, Belanda, dan Amerika. Ternyata, buku-buku tentang Indonesia, terutama yang up-to date sangatlah menarik perhatian mereka sejak beberapa dekade ini untuk dikaji. Budaya riset pustaka yang sudah bertumbuh di tiga negara maju itu menjadikan buku adalah pilihan melihat gerak maju suatu bangsa, tidak terkecuali Indonesia melalui buku-buku.

Ada satu kriteria unik–sebenarnya bukan unik sekali–untuk memilih buku-buku dari Indonesia. Mereka memprioritaskan buku-buku yang memiliki daftar rujukan, apakah itu daftar pustaka, catatan kaki, ataupun indeks. Nah, yang disebut terakhir, indeks, termasuk yang paling jarang terlampir sebagai postliminaries buku-buku di Indonesia, bahkan buku untuk kategori buku akademik.

Di luar negeri, indeks termasuk mutlak, terutama untuk buku-buku akademik (academic book) dan buku-buku referensi. Ketika mengisi beberapa pelatihan menulis di perguruan tinggi ataupun untuk para dosen dan widyaiswara, saya mendapati banyak para calon penulis perguruan tinggi tidak memahami bagaimana menyusun indeks. Memang di luar negeri malah ada profesi khusus untuk membantu para penulis menyusun indeks yang dikenal dengan istilah indexer.

Di Program Studi D3 Editing Unpad, saya mendapat pengajaran mata kuliah Penjurus (Indeks) ini selama 2 SKS. Ini termasuk mata kuliah unik, di samping bibliografi yang juga diajarkan. Beberapa tahun kemudian, saya baru tahu bahwa indexing atau menyusun indeks termasuk pekerjaan yang dialihdayakan (outsourcing) oleh penerbit atau penulis kepada indexer, terutama populer di Barat.

Dari hasil pengamatan, pembaca Indonesia memang bukan termasuk yang senang bersukar-sukar meriset rujukan ataupun meneliti daftar pustaka. Mereka umumnya pembaca taat asas yang membuka buku dari bab 1 hingga seterusnya. Berbeda halnya dengan pembaca luar negeri yang senang merujuk pada suatu tempat, peristiwa, nama orang, nama lembaga, ataupun istilah sehingga mereka dapat cepat menemukannya dengan menggunakan indeks.

Indeks memang menjadi sesuatu yang dilupakan atau terlupakan dalam proses penerbitan di Indonesia. Penyusunannya memang memerlukan keterampilan khusus, tetapi sekarang dengan bantuan teknologi seperti yang terdapat di aplikasi In-Design malah semakin memudahkan. Syaratnya, pruf yang diindeks haruslah pruf akhir sehingga halaman tidak akan berubah lagi. Tentang kata, istilah, nama, yang harus diindeks tentunya berdasarkan kepentingan pembaca untuk merujuk secara cepat.

Indeks sebenarnya sangat memudahkan para pembaca untuk merujuk pada suatu tajuk tertentu yang terdapat di dalam naskah. Penuntunnya adalah halaman-halaman yang menyertai sebuah tajuk. Indeks biasanya terbagi atas indeks istilah, indeks nama (tokoh, lembaga, peristiwa), dan indeks geografis (tempat).

Lalu, para penulis atau penerbit, sudahkan Anda memiliki pengalaman menyusun indeks atau dalam bahasa Indonesia dipadankan dengan penjurus ini? Saya akan memuat khusus perkara indexing ini di dalam buku terbaru saya: “Taktis Menulis Buku” yang akan terbit. Dengan demikian, buku-buku terbitan Indonesia pun semakin mantap. Jadi, jangan sampai para dosen mengejar-ngejar ISBN karena merasa nomor ini adalah angka keramat yang menandakan buku tulisannya berstandar internasional. ISBN tidak ada hubungannya dengan standar internasional dari segi content. Apa yang membuat buku Anda berkualitas justru ketika Anda dapat mencantumkan daftar rujukan yang relevan, termasuk indeks untuk memudahkan pencarian suatu tajuk. Terima kasih.[]

©2012 oleh Bambang Trim

Komporis Buku Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

4 KOMENTAR

  1. “ISBN tidak ada hubungannya dengan standar internasional dari segi content. Apa yang membuat buku Anda berkualitas justru ketika Anda dapat mencantumkan daftar rujukan yang relevan, termasuk indeks untuk memudahkan pencarian suatu tajuk.”

    Seharusnya ini dicetak tebal atau digarisbawahi, karena penting sekali. 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here