Ledakan Digital Publishing: Penerbit Kau Mau ke Mana

5
513

Tanggal 21 Desember 2012, saya mencoba menjadi kompasianer, ikut menyumbang tulisan dan melakoni sebagai citizen journalist di portal yang ber-tagline sharing and connecting itu. Satu tulisan saya dikomentari seseorang yang mengaku sudah menjadi book gardener dan sekarang sedang membiakkan e-book. Ia telah menjual karya e-book-nya (dalam bahasa Inggris) ke Amazon.com (AS dan Inggris) serta mulai mendapatkan lebih dari $300 pertamanya berupa cek pada tahun ini.

Sang penulis mengaku ia dapat membuat satu e-book dalam 2-3 hari. Tentu tidak perlu dipersoalkan e-book seperti apa yang ia buat dan bagaimana ia mendesainnya. Apa yang pasti ia telah mendapatkan passive income sebagai penulis, sekaligus sebagai self-publisher. Gejala inilah yang mulai menakutkan para penerbit di Amerika dan Eropa. Alih-alih bersaing dengan sesama penerbit (major), kini mereka bersaing dengan penulis sendiri sebagai penerbit swakelola yang bahkan dapat mengerjakan proses penerbitan dari salah satu ruangan rumah.

ereader-gtest-INTRO2

Pada hari yang sama saya juga menerima newsletter dari Dan Poynter. Mata saya langsung terikat pada materi tentang ledakan digital publishing. Tautan di newsletter membawa saya pada website Forbes, tulisan Jeremy Greenfield. Tulisan yang cukup mengundang perhatian berjudul What Publishing Companies Do in a World Where Anyone Can Publish a Book.

Meski telah memulai self-publishing lebih dari sepuluh tahun lewat (tahun 2000), saya tak pernah membayangkan ledakan yang terjadi sedemikian hebat akibat perkembangan teknologi internet dan digital publishing ini. Dahulu tantangan self-publishing masih pada bagaimana menyiapkan dana untuk buku cetak offset, sekaligus mendistribusikan dan menjualnya. Namun, kini hal itu bukan lagi yang merisaukan bagi seorang penulis yang mau menjadi self-publisher.

Kini saya tinggal menulis naskah dan meminta tim DIXI (publishing service yang saya kelola) untuk menataletak dan mendesainnya. Dari program In-Design CS 5, naskah yang sudah didesain pun dapat disimpan dalam format pdf ataupun e-pub. Jadilah sebuah e-book. Pemasarannya? Saya tinggal bekerja sama dengan e-book store semacam Wayang Force, Qbaca, ataupun Buqu untuk menitipkan e-book saya di sana meskipun dengan diskon yang lumayan besar 50-60% dan harga yang bisa seperempatnya buku cetak. Jadi, kalau saya menjual buku seharga Rp20.000, paling tidak saya memperoleh pendapatan Rp10.000. Untuk 100 klik download, saya bisa menghasilkan Rp1.000.000,00–dalam jagat maya 100 klik itu memang dapat terjadi singkat karena persebaran yang meluas di muka bumi ini. Tidak ada kepusingan soal biaya cetak, soal kemasan, soal distribusi, soal gudang, soal display rak, apalagi soal retur.

Lebih dari 15 tahun saya berkecimpung dalam dunia penerbitan. Malang melintang dari satu penerbit ke penerbit lain dan menangani banyak penulis. Saya pun menulis lebih dari 140 judul buku. Hanya sedikit buku yang memberikan keuntungan signifikan dari penjualan sistem beli putus atau royalti. Sisanya berupa royalti yang tidak nendang. Hal itu semata karena memang buku tidak bertemu dengan pembacanya, kinerja penerbit yang kadang kurang memuaskan, sulitnya pemasaran buku cetak yang harus bersaing display dengan buku lainnya, bahkan juga publikasi yang tidak optimal. Karena itu, sebuah pilihan untuk menerbitkan e-book secara mandiri begitu menantang seperti halnya yang ditulis Jeremy Greenfield: Apa yang dilakukan penerbit jika semua orang bisa menerbitkan buku sendiri?

Seperti dilansir Greenfield, menurut sebuah dokumen internal Hachette Books Grup bulan Desember (2011) yang dibocorkan Digital World Book, sang penerbit akan melakukan langkah-langkah penting berikut ini:

  1. mencari dan mengembangkan bakat: mengidentifikasi penulis dan buku-buku yang akan menonjol di pasar, menemukan isu-isu baru, mengembangkan bakat menulis, membina hubungan yang akrab dengan penulis, bahkan menyediakan bagi mereka para ahli editorial yang siap memberikan saran;
  2. mendanai proses penulisan: berinvestasi pada ide-ide dengan memberikan uang muka kepada penulis sehingga penulis akan mencurahkan waktu dan keahliannya dalam penelitian dan menulis, serta berinvestasi di bidang infrastruktur, peralatan, dan kemitraan.
  3. mendistribusikan dan menjual buku kepada khalayak seluas mungkin: menyebarkan buku ke tempat yang tepat, dalam jumlah yang tepat, dan pada waktu yang tepat, baik media cetak maupun digital, bekerja sama dengan pengecer dan mitra distribusi, mengatasi kompleksitas rantai pasokan, mengeksplorasi ide-ide produk baru, bahkan meskipun dalam beberapa kasus tidak menjamin hasil yang positif (seperti pengembangan aplikasi dan peningkatan e-book), dan bertindak sebagai spesialis harga serta publikasi (mengelola lebih dari 250 transaksi bulanan, mingguan, dan harian e-book di semua akun);
  4. membangun merek penulis dan melindungi hak cipta: memicu dan menyebarkan kemenarikan tentang penulis, mengenalkan buku di pasar dengan cara yang tepat melalui segenap kemampuan pemasaran dan publisitas, serta melindungi kekayaan intelektual penulis dengan kontrol yang ketat terhadap pembajakan.

Jadi, tampak penerbit mulai serius mendekati penulis dengan segala pendekatan–sesuatu yang belum terjadi dalam konteks dunia perbukuan Indonesia. Hanya beberapa penerbit Indonesia yang mulai ngeh soal ini dengan cara membangun kedekatan dan kepercayaan lebih kuat lagi dengan penulis serta menyiapkan pengembangan komunitas.

Greenfield juga mengungkapkan lagi bahwa Random House (grup penerbitan terbesar di dunia) mengeluarkan video yang sangat apik tentang bagaimana perusahaan memperoleh, memproduksi, dan mendistribusikan buku di pasar berikut diskusi tentang segala sesuatu dari proses editorial hingga desain kover, lalu penjualannya di Amerika Serikat dan luar negeri. Random House ingin menyakinkan betapa menyenangkan dan tepercaya bekerja sama dengan mereka.

Mengapa penerbit begitu bersemangat untuk memberitakan peran mereka hari ini? Karena mereka sedang menghadapi meningkatnya persaingan dengan klien mereka yang paling penting: penulis!

Satu dekade yang lalu, satu-satunya cara untuk memiliki sebuah buku yang diterbitkan dan dijual di rak-rak toko adalah dengan menawarkannya ke sebuah penerbit buku yang akan membantu mengedit, mendesain, dan mendistribusikannya. Hari ini, siapa saja yang bisa mengetik dan memiliki koneksi internet dapat menghasilkan buku, lalu dijual di toko buku terbesar di dunia (Amazon) dalam hitungan jam. Demikian paragraf penutup Jeremy Greenfield yang patut direnungkan.

Jadi, apa yang mau Anda lakukan jika Anda bisa menulis dan menerbitkan buku sendiri tanpa harus mencetaknya? Saya sendiri mampu menghasilkan 2-3 judul buku sebulan, bahkan lebih untuk buku-buku anak dan bisa langsung mengemas desainnya bersama Tim DIXI.

Sebuah artikel lain yang tak kalah seru ditulis Greenfield adalah ketika para penulis self-publisher tadi mampu menghasilkan buku-buku best seller mengalahkan buku-buku penerbit mayor. Sesuatu yang lebih “mengerikan” akan terjadi ketika siapa pun mampu menerbitkan buku best seller secara digital. Dan penerbit, kau mau ke mana? []

©2012 oleh Bambang Trim, komporis buku Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

5 KOMENTAR

  1. Betul Pak Bambang, bagaimanapun juga penulis merupakan nyawa bagi para penerbit. Jika penerbit memiliki rasa ‘memiliki’ kepada penulis, pastilah penulis akan membalasnya dengan loyalitas ide yang cemerlang.

  2. Saya sangat tersugesti dengan artikel diatas. Faktanya memang, kendati dunia digital sudah semakin maju, namun tidak serta merta penerbit konvensional akan segera ‘bubar’. Tulisan diatas seolah memberikan warning agar para penerbit mempersiapkan diri menghadapi era digital.

    Bagaimanapun, meskipun belum seheboh di eropa, saya yakin dan percaya lama kelamaan, buku digital akan menjadi primadona di Indonesia.

    Sangat inspiratis tulisannnya. semoga bermanfaat

  3. Saya sangat tersugesti dengan artikel diatas. Faktanya memang, kendati dunia digital sudah semakin maju, namun tidak serta merta penerbit konvensional akan segera ‘bubar’. Tulisan diatas seolah memberikan warning agar para penerbit mempersiapkan diri menghadapi era digital.

    Bagaimanapun, meskipun belum seheboh di eropa, saya yakin dan percaya lama kelamaan, buku digital akan menjadi primadona di Indonesia.

    Sangat inspiratis tulisannnya. semoga bermanfaat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here