Penerbitan Berbayar (Vanity Publisher)

11
735

Pernah dengar istilah vanity publisher? Vanity publisher adalah istilah untuk menyebut penerbit-penerbit yang menawarkan jasa menerbitkan buku dengan cara dibayar, baik itu model subsidi penuh, joint venture, berbagi tanggung jawab, atau bahkan seolah mengakomodasi self-publishing.

Shum FP, seorang doktor di bidang publishing studies dan juga praktisi penerbitan pernah menuliskan satu bab tentang vanity publishing di dalam bukunya Publish It Yourself: Is Self-Publishing The Option For You?–yang merupakan disertasi doktornya. Dalam paparannya Shum ingin meluruskan kerancuan pandangan antara self-publishing (independent publishing) dan vanity publishing.

Gejolak self-publishing mulai tampak pada 2-3 tahun terakhir ini di Indonesia dan seperti yang dikhawatirkan Shum bahwa hal kerancuan juga terjadi di Indonesia. Orang-orang mulai merancukan pengertian self-publishing dengan vanity publishing yang memang tidak dikenal sebelumnya. Muncullah iklan tentang self-publishing dan sebuah lembaga akan membantu mewujudkan impian Anda. Lucunya ada istilah buku solo dan buku rombongan karena gejala antologi pun merebak yang benar-benar membungakan hati para kontributornya bahwa mereka sudah menulis buku (meski masih berombongan).

vanity
Sumber: http://t3.gstatic.com

Vanity publishing memang seperti badan penerbit konvensional. Namun, Anda diminta untuk membiayai penerbitan buku Anda sendiri dengan layanan berupa: penggunaan nama penerbit termasuk ISBN, perwajahan isi dan perwajahan kover, dan pencetakan buku. Kontrol terhadap buku sepenuhnya ada pada mereka. Karena itu, vanity publisher sering mendapatkan tudingan miring sebagai lembaga yang “menipu”. Mengapa? Karena kebanyakan vanity publisher hanya berfokus pada mendapatkan keuntungan awal (dari biaya editorial dan biaya cetak) dan mereka kemudian akan membiarkan buku yang diterbitkan tanpa sentuhan promosi maupun marketing sehingga terjadi ketidakjelasan distribusi dan jumlah buku yang terjual. Jika Anda mau mendapatkan layanan marketing, Anda harus membayar lagi untuk penyelenggaran event promosi . Jika buku akan dicetak ulang, Anda pun kembali diminta pembayaran biaya cetak.

Bagaimana mengenali vanity publisher (VP)?

  1. Anda pasti diminta membayar untuk layanan yang mereka berikan dalam bentuk flat fee atau Anda diminta berbagi biaya penerbitan dengan mereka.
  2. Naskah apa pun yang Anda kirimkan pasti akan diterima dan diterbitkan tanpa penolakan asal membayar dan bersepakat dengan VP.
  3. Anda akan mendapatkan kontrak seperti layaknya penerbit konvensional, tetapi tentu berbeda dalam pasal-pasal kontraknya.
  4. Umumnya VP lemah dalam hal penyuntingan (editing) naskah, perwajahan isi, dan perwajahan kover sehingga Anda akan mendapatkan buku Anda terbit apa adanya. Seperti perwajahan banyak menggunakan template-template standar dan foto/gambar dari internet yang sudah terlalu sering digunakan. Anda tidak akan dilibatkan dalam hal editing maupun perwajahan. Masukan Anda tentu tidak diperlukan karena memang VP harus kejar tayang.
  5. Kadang-kadang VP melakukan proyek antologi karya, seperti cerpen, puisi, atau esai untuk diterbitkan dan nantinya para kontributor (penulis) diundang untuk membeli karya antologi tersebut.
  6. Anda akan mendapatkan royalti lebih tinggi dari penerbit konvensional >15% dan inilah salah satu daya tarik VP–bandingkan di penerbit konvensional Anda hanya akan menerima 7-12% royalti.
  7. Rata-rata buku dicetak dengan sistem POD dengan oplag kurang dari 100 eksemplar yang sangat bergantung dengan dana yang Anda miliki. Dengan rata-rata harga ini akan tampak proyek penerbitan akan sangat murah dan masuk akal bagi kantong Anda (di bawah Rp5 juta rupiah). Dalam beberapa kasus memang ada juga yang dimintai dana hingga puluhan juta dengan asumsi pencetakan normal 3.000 eksemplar.
  8. Umumnya VP memang tidak fokus untuk mempromosikan dan menjual buku Anda karena hal itu akan dikembalikan kepada Anda sebagai penulis. Semakin Anda aktif menjual, semakin besar royalti yang akan Anda terima. Jadi, sebenarnya Anda mendapatkan royalti karena memang usaha Anda sendiri. Adapun VP sudah cukup untung mendapatkannya dari biaya produksi.

Apa bedanya dengan self-publishing? Dalam self-publishing, Anda sebagai penulis adalah subjek dari segala proses editorial, cetak, hingga marketing. Semua dalam kontrol Anda meskipun beberapa pekerjaan dialihdayakan ke profesional (editing, layout, desain kover). Seorang self-publisher akan melakukan aktivitas bisnis sendiri dengan menjual bukunya sendiri, baik secara ketengan maupun menggunakan jalur distribusi dan toko buku. Itulah bedanya. Hal yang mencolok dalam self-publishing bahwa badan penerbitnya adalah milik Anda dan tidak ada karya lain yang diterbitkan, kecuali karya Anda. Nama lain dari self-publisher adalah independent publisher.

Jika Anda membaca buku-buku panduan self-publishing dari luar negeri (Eropa atau Amerika), Anda akan menemukan panduan yang lengkap dari bagaimana menulis naskah hingga menjualnya, termasuk penjelasan detail soal editorial. Hal itu menunjukkan bagaimana semestinya Anda berperan sebagai seorang self-publisher.

Bagaimana dengan publishing service atau book packagerPublishing service adalah lembaga jasa penerbitan atau alihdaya (outsourcing) dalam hal pekerjaan penulisan, editorial, layout, dan desain kover. Publishing service akan menyerahkan hasil akhir pekerjaan bagi Anda berupa file (In-Design plus PDF) dan dummy (jika diminta). Nah, di vanity publisher meskipun Anda telah membayar untuk pekerjaan editorial dan desain, file tidak akan diserahkan kepada Anda. Jika ingin mencetak, Anda harus kembali pada vanity publisher tersebut. Itulah perbedaannya.

Book packager lain lagi. Lembaga ini tidak bergantung pada order dari pihak kedua, tetapi membuat sendiri buku jadi siap cetak dalam bentuk file dan dummy yang kemudian ditawarkan ke penerbit untuk diakuisisi.

Vanity publisher memang melihat celah peluang begitu tingginya minat orang untuk menerbitkan buku dan mereka tidak mau berurusan dengan penerbit konvensional yang begitu tegas terhadap naskah mereka hingga berujung penolakan. Vanity publisher juga mengetahui bahwa mereka bisa memanfaatkan keawaman para penulis tersebut tentang biaya editorial dan biaya produksi sehingga keuntungan diambil dari komponen biaya tersebut dan mereka tidak berpikir untuk mendapatkan keuntungan besar dari penjualan buku.

Lalu, apakah salah menggunakan jasa vanity publisher? Jelas tidak salah sepanjang Anda memahami bahwa Anda bukanlah self-publisher dalam makna sebenarnya. Pilihlah VP yang lebih fleksibel memberi ruang bagi Anda untuk dapat mendiskusikan naskah, menyediakan editor dengan kemampuan yang baik, serta juga ikut berperan membantu penjualan buku dan promosi buku.

Memangnya ada VP yang seperti itu? Silakan Anda kenali dari ciri-ciri tadi, mana yang paling membuat Anda nyaman untuk bekerja sama menerbitkan buku Anda tanpa takut ditolak editor. Cara terbaik ya memang Anda harus mencoba layanan beberapa VP dan membandingkan hasilnya meski harus mengeluarkan dana mulai Rp500 ribu sampai Rp1 juta per buku dan Anda hanya mendapatkan 1 eksemplar buku jadi. Mau lebih banyak? Ya bayar lagi.

Di sisi lain self-publisher memang telah menjadi fenomena tersendiri di negara-negara yang lebih maju perbukuannya. Dalam konteks digital publishing, para self-publisher e-Book, bahkan telah mampu menempatkan bukunya di jajaran best seller berdampingan dengan penerbit mayor dengan label raksasa. Tahun-tahun ke depan, self-publisher sesungguhnya di Indonesia akan menjadi pesaing bagi major publisher dalam hal karya, terutama karena dorongan ekosistem digital. Di negara-negara maju tadi, bahkan para penerbit besar pun berani membiayai sebuah usaha self-publisher yang menurut mereka berprospek menghasilkan buku best seller. []

©2013 oleh Bambang Trim

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

11 KOMENTAR

    • Contoh self-publishing pada awalnya adala novel “Supernova” Dee yang diterbitkan TrueDee dan juga termasuk “ESQ” Ary Ginanjar yang diterbitkan Arga Publishing (Ary Ginanjar Publishing). Belakangan penerbit ini kemudian tutup (TrueDee) dan Arga menjadi penerbit mayor. Buku Dee kemudian diakuisisi Bentang.

  1. Saya baru sadar bahwa penerbit saya sebenarnya adalah Vanity Publisher…

    Namun, apa sih bang yang bisa membuat VP kita gak kalah populer dari penerbit lainnya dan menyakinkannya ke penulis?

      • Modal jadi penerbit itu ya sebenarnya yang paling mahal ide-ide kreatif. Kalau semacam komputer dan peralatannya, hanya alat kerja saja. Biaya cetak relatiflah karena kan dibayari penulis. Bahkan, penulis bisa memilih offset atau POD.

    • ya tentu saja soal kualitas layanannya…. Yang saya lakukan memang memberikan pelayanan profesional dari editing, layout, dan desain kover. Saya tidak ambil keuntungan dari cetakan, tapi dari kerja kreatifnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here