Tidak Perlu Bakat dalam Menulis

1
338

Ada banyak penulis kemudian meyakini bahwa menulis bukan bakat yang dibawa sejak lahir. Saya salah seorang yang meyakini hal demikian sehingga membenarkan bahwa “penulis tidak dilahirkan, tetapi diciptakan”. Hal ini kembali dikuatkan dengan pernyataan Daniel Coyle dalam bukunya The Talent Code (versi terjemahan diterbitkan Esensi) bahwa bakat merupakan sebuah keterampilan yang diulang-ulang dan tidak bergantung pada ukuran fisik!

Tidak ada bakat dalam menulis! Ya, benar karena saya sendiri baru menekuni dunia kepenulisan sejak di bangku kuliah secara serius. Tiga tahun menulis dan tiga tahun pula tulisan saya ditolak beruntun oleh media. Tujuh tahun kemudian saya baru dapat menembus “barikade” redaktur Kompas dan tulisan pertama tentang edukasi muncul di sana. Namun, Anda mungkin tidak memerlukan angka tahunan untuk menembus redaksi kini karena rahasia kepenulisan itu telah makin banyak terkuak. Salah satunya soal rahasia “penjinakan bakat”.

Di balik tren yang melanda, termasuk di Indonesia yaitu demam futsal, sebenarnya ada sebuah rahasia tentang “penjinakan bakat” yang dilakukan Brasil seperti diungkap dalam buku Coyle. Adalah Simon Clifford, pelatih sepakbola yang mengalami cedera dalam usia muda, yang membongkar semuanya. Clifford mengunjungi Brasil, negara yang mengagumkan sebagai penghasil pemain sepakbola kelas dunia.

Ada apa di sana? Beberapa hari di sana, Clifford menemukan sebuah keunikan. Permainan mirip sepakbola dengan bola berukuran setengah dari ukuran bola biasa, tetapi lebih berat dua kali lipat. Bola itu sulit dipantulkan dan para pemainnya dilatih di lapangan seukuran lapangan basket yang dibeton dan dilapisi kayu. Para pemainnya hanya 5-6 orang dengan kecepatan yang membabi buta mengolah bola. Permainan yang dikenal dengan nama futebol de salao (sepakbola dalam ruangan) kemudian dikenal dunia sebagai futsal.

Dari pelatihan inilah keterampilan para pemain sepakbola Brasil lahir. Keterbatasan karena tidak memiliki lapangan sepakbola yang memadai membuat mereka harus menciptakan permainan itu di daerah-daerah kumuh. Permainan ini sendiri ditemukan seorang pelatih Uruguay pada 1930 untuk mengantisipasi pelatihan jika hujan turun. Orang-orang Brasil kemudian dengan cepat mengadaptasinya dan membuat aturan permainan yang mulai disusun pada 1936. Dengan segera permainan baru ini pun merebak ke seantero Brasil dan menjadi jawaban atas hasrat anak-anak Brasil untuk menjadi pemain sepakbola kenamaan. Pele sebagai pemain legendaris asal Brasil adalah salah satu pemain produk futsal yang menggila di Brasil.

Merebaknya futsal di Brasil membentuk sebuah pola tentang penjinakan bakat dengan suatu keterampilan yang dilatihkan berulang-ulang dari generasi ke generasi. Ronaldinho salah seorang pemain besar Brasil mengenalkan gerakan elastico yaitu menggiring bola ke luar dan masuk seperti yoyo. Tidak pelak lagi gerakan tersebut bermula dari futsal.

Lalu, apa hubungannya hal ini dengan menulis? Sama, soal “penjinakan bakat” bukan karena ada seseorang yang dilahirkan dengan kemampuan menulis, tetapi karena ada pemusatan pelatihan seperti futsal. Kunci utama memang soal pengapian (ignation) dalam satu inkubator yang membuat seseorang terbakar hasrat dan teruji ketekunannya dalam menulis karena sebuah dorongan masa depan. Salah satu faktor pemicu adalah belajar dari kesalahan-kesalahan dan memperbaikinya berulang-ulang. Di sinilah diperlukan pendampingan yang disebut master coaching.

Saya memang sedang menyinggung soal inkubator penulisan yang melibatkan orang-orang dengan hasrat tinggi untuk menjadikan menulis sebagai keterampilan hidup; jauh melampaui keinginan sekadar menulis dan kemudian dimuat dan diterbitkan media massa atau penerbit buku. Inilah yang sedang saya gagas bersama anak-anak muda  D!Yours di Depok untuk menggelar Writers Incubator (WritInc) dan menjadikannya pusat penjinakan bakat dengan kode 3.0 (enlightmentexplore-empower).

WritInc ingin membuktikan bahwa penulis memang dapat diciptakan dengan satu metode penjinakan bakat yang tepat, bahkan kemudian dunia penulisan dapat dijadikan sebagai sebuah usaha yang berkelanjutan (writerpreneurship). Ungkapan populer dari Dan Poynter: Writing is not a job; it’s a business akan dibuktikan melalui sebuah proses penguatan mindset menulis, pendalaman, dan program penerbitan karya yang berdaya pikat. Sampailah para penulis akan menemukan kata “TINC”, sebuah pencerahan tentang apa dan bagaimana sebenarnya menulis.

Menulis bukan bakat, percayalah. Tidak peduli siapa pun Anda, asalkan memiliki hasrat dan jaminan ketekunan dalam waktu satu tahun ini, Anda akan merasakan perubahan sebagai writerpreneur. Anda dapat mengenali WritInc yang akan diluncurkan pada 10 Februari 2013 di Depok–sebuah program baru tentang “penjinakan bakat” menulis menjadi sebuah usaha yang meniscayakan Indonesia sebagai negeri sumber konten dan sekaligus pengolah konten yang potensial. Nantikan reportasenya.[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here