Menulis Buku Nonfiksi Kali Pertama

3
761

Senang sekali terus bisa berbagi dengan orang-orang yang bersemangat untuk menulis buku pertamanya. Seperti pada 22-24 Maret 2013 kemarin di Cisarua, Bogor untuk kali pertama digelar Writers Incubator. Saya mengisi berduet dengan Tasaro GK, bahkan pada sesi malam hari para peserta masih “kuat” mengikuti hingga pukul 24.00 lewat!

IMG_6312
Sesi Writers Incubator untuk Nonfiksi 22-24 Maret 2013

Menulis buku itu ibarat marathon–diperlukan napas panjang. Berbeda halnya dengan tulisan-tulisan singkat semacam artikel, esai, ataupun feature yang dapat diibaratkan sprint alias lari cepat jarak pendek. Karena itu, kumpulan tulisan pendek-pendek yang dijadikan buku dengan pola outline butiran kerap disebut buku yang bukan buku.

Kesejatian seorang penulis buku diuji dengan outline tahapan yang menahapkan gagasan-gagasannya bab demi bab. Bahkan, bab demi bab diturunkan kembali menjadi subbab dan sub-subbab. Di sinilah akan terlihat kepiawaian mengolah sebuah big picture gagasan menjadi pecahan-pecahan yang tersusun dan mengandung makna serta ketertarikan bagi yang membacanya.

Cara termudah bagi penulis pemula adalah mulai membiasakan panca indranya untuk mengoneksi informasi. Tempat baik untuk mengoneksi semuanya adalah toko buku besar karena seorang penulis pemula dapat mulai mengaktifkan pelihatannya, pendengarannya, dan mungkin indra perasanya untuk merasakan permukaan kover sebuah buku. Kalau mau mengaktifkan indra pengecap dan pencium, tinggal singgah ke kafe di area toko buku itu. 🙂

Satu tips saya untuk mengoneksi informasi adalah mengambil sebuah buku yang menarik hati, mengecek apakah ada buku yang dibuka plastik pembungkusnya, lalu mulai melihat kover depan dan kover belakang. Ritual mengoneksi ini pun dilanjutkan ke daftar isi. Dari daftar isilah Anda dapat mengenali pola outline sebuah tulisan.

Ketika ada buku yang menggunakan pola Bab atau Chapter, sudah dapat dipastikan buku itu menggunakan pendekatan tahapan murni atau tahapan-butiran (mix). Namun, ketika Anda menemukan buku tanpa bab, tetapi langsung pada judul tulisan berurutan, berarti buku itu menggunakan pendekatan outline butiran. Buku dengan outline butiran bisa ditandai dengan penggunaan angka pada judul atau hasil dari kumpulan kisah sukses seorang tokoh, kumpulan tips, dan sebagainya.

Jadi, untuk penulis buku nonfiksi pemula ketika belum mengenali sebuah pola outline, tentu akan sulit memulai dari mana. Biasanya pikiran langsung “terjebak” menggunakan pola butiran yaitu mengumpulkan sekian tulisan-tulisan pendek yang disatukan menjadi antologi atau bunga rampai.

Soal menentukan pola ini ada pada proses drafting tulisan. Setiap punya satu ide penulisan buku nonfiksi, kita sudah dapat membayangkan atau menentukan buku itu menggunakan outline tahapan atau butiran. Sebagai pemula, Anda dapat memulai dengan cara paling mudah yaitu outline butiran atau menempuh jalan sulit yaitu outline tahapan.

Pendekatan ini kemudian saya matangkan dengan metode matriks tulisan sehingga para penulis paling tidak dapat memetakan pikirannya. Dari susunan itu, seorang reviewer dapat melihat kelemahan dan keunggulan sebuah gagasan dalam bentuk outline, termasuk mengoneksi perbandingannya dengan buku sejenis.[]

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

3 KOMENTAR

  1. Kalau mau mengaktifkan indra pengecap dan pencium, tinggal singgah ke kafe di area toko buku itu.

    Lho, soal kecap-mengecap itu jg penting pak. Siapa tahu nanti lahir buku seri kuliner 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here