Balada Frankfurt Book Fair

2
330

Kabar soal Indonesia masuk nominasi menjadi tamu kehormatan (Guest of Honour) Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 sudah saya dengar sejak 2011. Sebagai pengurus Ikapi, saya turut sibuk mengikut berbagai rapat persiapan soal ini, termasuk membantu menyiapkan naskah akademik FBF. Sampailah kemudian majalah Tempo melaporkan hal ini dalam liputan khususnya terbitan akhir April 2013. Jalan menjadi tamu kehormatan ini dalam versi Tempo adalah jalan tertatih.

Suasana di Hall khusus penerbit Eropa, Frankfurt Book Fair 2010
Suasana di Hall khusus penerbit Eropa, Frankfurt Book Fair 2010

Apa pasalnya? Pihak pemerintah Indonesia dalam hal ini diwakili Kemdikbud masih enggan menandatangani MOU dengan pihak penyelenggara FBF disebabkan sebuah pasal yang menyatakan penyelesaian perselisihan dilakukan di pengadilan tinggi Jerman. Pihak Indonesia ingin mengajukan penyelesaian masalah dilakukan di pengadilan tinggi di Indonesia juga. Bagaimana bisa menurut hukum internasional?

Saya bukan ahli hukum internasional dan juga tidak ingin berpolemik soal urusan Kemdikbud ini—karena mereka sendiri kini tengah dibuat pusing soal penyelenggaraan UN, belum lagi soal Kurikulum 2013, termasuk soal pengadaan buku baru yang harus disiapkan pemerintah. Namun, sebagai praktisi perbukuan bolehlah saya berpendapat bahwa kesempatan menjadi tamu kehormatan FBF 2015 ini berpotensi buyar dan perlu waktu lagi untuk meyakinkan pihak Komite FBF agar Indonesia berterima menjadi tamu kehormatan.

Frankfurt Book Fair (FBF) atau Frankfurter Buchmesse adalah sebuah sejarah panjang pameran buku terbesar di dunia yang telah dimulai sejak abad ke-15 di kota industri, Frankfurt, Jerman. Kini pada abad ke-20, FBF sudah menjadi ikon bergengsi bagi dunia perbukuan internasional dan merupakan ajang terbesar untuk transaksi copyright maupun unjuk karya literasi bermutu dari berbagai bangsa di dunia. FBF adalah gengsi bagi kemajuan literasi suatu bangsa. Karena itu, negara mana pun yang menjadi guest of honour (GoH) akan sangat beruntung karena bakal menjadi focal theme selama pameran berlangsung sehingga sangat efektif mengenalkan sebuah daya bangsa kepada dunia. Bahkan, selama setahun sebelum penyelenggaraan, negara yang menjadi tamu kehormatan akan diperkenalkan ke publik dalam berbagai liputan media di Jerman.

Dalam sejarahnya, FBF telah menjadikan beberapa negara sebagai Guest of Honour yang dimulai sejak 1976, seperti India (sebanyak dua kali), Italia, Prancis, Spanyol, Meksiko, Brazil, Austria, Swiss, Portugis, Polandia, Yunani, Arab, Korea, Turki, Cina, dan Argentina. Pada tahun 2012, negara kecil seperti Selandia Baru telah pula menjadi tamu kehormatan, kemudian disusul tahun 2013 Brazil kembali menjadi tamu kehormatan dan selanjutnya Finlandia pada tahun 2014. Indonesia berpeluang mendapatkan kesempatan sebagai “tamu kehormatan” pada 2015. Bahkan, tidak tanggung-tanggung Presiden Komite FBF, Juergen Boos, telah berkunjung ke Indonesia pada 2012 yang lalu untuk memastikan Indonesia benar-benar siap menjadi tamu kehormatan.

Mengapa event ini menjadi strategis bagi Indonesia? FBF adalah event intelektual bergengsi soal literasi. Kita ketahui bahwa Indonesia pun memiliki kekayaan literasi yang luar biasa, termasuk kekuatan literasi yang dapat diandalkan untuk memengaruhi dunia. Dunia perlu mengenali potensi ini dan FBF adalah ajang yang sangat efektif untuk hal ini, terutama mengenalkan para penulis/pengarang Indonesia yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Urusan literasi, sastra, dan buku kita ketahui memang kurang mendapatkan tempat yang layak di negeri ini. Lihatlah urusan RUU Perbukuan Nasional yang sempat terlempar dari Prolegnas, juga kini tidak kunjung dapat diselesaikan karena mungkin dianggap tidak mewakili kepentingan strategis bangsa ini—padahal di satu sisi para politisi atau para pejabat itu berlomba menerbitkan buku untuk menampakkan kadar keintelektualannya. Pada ujungnya, buku pun tidak dianggap sebagai soal penting hingga perlu diperlihatkan kedigjayaannya dalam mengubah sebuah bangsa.

Ada hal yang tampaknya bisa terjadi. Banyak negara yang menganggap penting soal menjadi GoH di FBF ini. Salah satu negara yang berambisi itu adalah Malaysia. Malaysia merupakan negara kecil yang punya rencana strategis soal industri perbukuannya, termasuk soal “menjual” konten Malaysia ke dunia internasional. Karena itu, Malaysia telah memiliki Institut Terjemahan dan Buku Malaysia (ITBM) yang melakukan misi penerjemahan buku-buku sastra karya pengarang Malaysia ke berbagai bahasa dunia, termasuk juga sebaliknya. Pemerintah Malaysia menggelontorkan dana sekitar RM5 juta atau setara dengan Rp145 M yang disalurkan bertahap selama 2 tahun untuk mendukung program promosi literasi ini. Karena itu, bukanlah isapan jempol jika Malaysia juga mengincar posisi GoH ini di FBF 2015.

Perih hati jika kesempatan menjadi GoH yang sudah di tangan diambil Malaysia? Jelaslah bagi saya yang menjadi praktisi di industri perbukan Indonesia—mungkin pelaku industri perbukuan lain tidaklah mengambil peduli soal ini karena mungkin juga ini bukan bagian strategis dari persoalan industri perbukuan kita. Setidaknya FBF 2015 menjadi kesempatan atau momentum terjalinnya kerja sama antara pihak pemerintah dan industrialis perbukuan untuk sama-sama mengharumkan nama Indonesia di tingkat event literasi dunia.

Jika jalan tertatih yang dikatakan Tempo tadi berubah menjadi “lumpuh”, ini menjadi satu balada dunia perbukuan kita. Kisah yang mengharu biru soal negara bernama Indonesia hingga berujung pada kesedihan. Kita memang bangsa yang tidak peduli soal literasi, tetapi lebih senang memainkan jargon-jargon bernada peduli pada literasi.[]

 

Frankfurt Book Fair dalam Angka

Luas Area Pameran Lebih dari 170.000 meter persegi
Peserta Lebih dari 7.500 eksebitor dari berbagai perusahaan penerbitan, media, logistik, industri digital, film, industri kreatif dan seni, bidang budaya, dan banyak lagi.
Wakil dari negara Lebih dari 110 negara hadir
Partisipan Bisnis Lebih dari 180.000 orang pebisnis hadir
Pengunjung 300.000 orang
Pembeli 100.000 pembeli dalam transaksi copyright
Jurnalis 10.000 jurnalis internasional dari 63 negara
Penyelenggaraan 5 hari (3 hari khusus untuk pebisnis; 2 hari terbuka untuk umum)

 

©2013 oleh Bambang Trim

Praktisi Penulisan-Penerbitan Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here