E-Book Indonesia: Memintal Titian Digital

2
446

Tanggal 18 Mei 2013 kemarin, sehari setelah perayaan Hari Buku Nasional, Penerbit Rosdakarya menggelar syukuran memasuki usia setengah abad lebih, 52 tahun. Namun, ada yang lebih menarik ketika Rosdakarya sekaligus meluncurkan e-Book Store mereka bernama e-Rosda. Peluncuran ini merupakan kali pertama untuk penerbit Indonesia menggunakan platform e-Book buatan lokal bernama Buqu Indonesia yang dikembangkan Techbator.

Kabarnya, penerbit yang juga sudah siap meluncurkan e-Book store berplatform lokal ini yaitu Penerbit ITB, IPB Press, Unair Press, dan juga Mizan. Tentulah menarik jika platform lokal yang digadang-gadangkan paling pas untuk dunia penerbitan Indonesia ini justru menjadi embrio perkembangan bisnis buku digital di Indonesia.

Kita ketahui bersama bahwa banyak platform e-Book yang dikembangkan di dunia untuk membaca e-book lewat perangkat digital, misalnya ada e-Pub, HTML, PDF, ataupun Amazon Kindle. Di Indonesia e-Book store lainnya juga berkembang menggunakan aneka platform, seperti Qbaca Telkom dengan ePub, Scoop dengan PDF, dan juga Wayang Force dengan PDF.

Di Indonesia tampaknya e-Book berpotensi berkembang di dunia perguruan tinggi dengan tuntutan penggunaan referensi yang banyak untuk pembelajaran, menyusun laporan penelitian ataupun karya tulis ilmiah lainnya. Alhasil, terlihat bahwa beberapa univeristy press (penerbit perguruan tinggi) mulai melirik mengembangkan sayap bisnisnya pada penjualan e-Book. Sayang belum ada data tentang jumlah pengguna perangkat semacam tablet di kalangan dosen ataupun mahasiswa untuk mengukur potensi pasar e-Book dari sisi perkembangan device–mungkin sebagian besar masih menggunakan notebook. Padahal, dorongan akses ke buku digital kini memang dipengaruhi pertumbuhan penjualan tablet yang biasanya sudah menanamkan e-Book reader di dalamnya. Platform lokal yang digunakan e-Rosda misalnya, baru tersedia di Android Market untuk mengunduh aplikasinya secara gratis. Artinya, baru pengguna tablet dan handphone Android yang bisa menggunakannya. Ada rencana memang aplikasi Buqu tersebut juga tersedia di iOS dan Windows 8 sehingga bisa pula kemudian dibuka di PC/notebook.

Namun, tampaknya masalah seseorang antara punya tablet dan notebook akan segera teratasi dengan keluarnya produk surface tablet yang merupakan gabungan antara fungsi tablet dan notebook. Di sinilah e-Book akan tetap mendapat jalan untuk dipintal titiannya menuju pasar pembaca Indonesia yang potensial.

Lebih menarik ketika e-Rosda dengan platform lokal tersebut mengumumkan bahwa mereka juga akan menjual e-Book dalam format per bab. Artinya, Anda sebagai pembaca boleh mencicil membeli bab per bab kalau dirasakan harga satu paket e-Book masih terlalu mahal. Tentulah yang disasar dengan pola penjualan seperti ini adalah mahasiswa yang lekat dengan asumsi berkantong “pas-pasan” sehingga kalau mau beli e-Book, beli 1-2 bab saja yang memang harus dibaca. Bahkan, ke depan juga pola bisnis e-Book ini memungkinkan pembelian e-Book dengan durasi alias sistem sewa.

Era baru bagi penerbit Indonesia kini memang sedang memintal titian digital untuk juga pembaca utama dari generasi baru yaitu generasi digital. Bagi penulis sendiri, ini merupakan peluang untuk meluaskan karyanya memasuki perangkat-perangkat digital sehingga dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.[]

©2013 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

  1. Apa sih kiat-kiat dan saratnya sebuah buku bisa dijual di playstrore? Bagaimana dengan sistem pembayarannya? Mungkin Bapak ada info. Hanupis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here