Auctor Intellectualis di Balik Divide et Impera

0
593

Politik pecah belah (sering juga dieja secara keliru “devide”) adalah politik populer yang dijalankan kompeni Belanda. Tidak dimungkiri Belanda sudah membaca watak orang Indonesia yang mudah dipecah belah. Ini sebuah “karakter” warisan masa lalu yang mungkin masih terbawa sampai sekarang. Kompeni memang dianggap sebagai “aktor intelektual” di balik terpecah belahnya orang Indonesia yang di satu sisi melahirkan para pahlawan prakemerdekaan.

Entah mengapa dan siapa kali pertama memulakan tiba-tiba muncul istilah “AKTOR INTELEKTUAL” yang ditengarai ada setelah pecah kekacauan reformasi menjelang tumbangnya Orba–sepertinya memang kalangan jurnalis. Boleh jadi “aktor intelektual” ini disamakan dengan kompeni yang sifatnya memang memecah belah dengan licik. Namun, terjadi pergeseran makna “intelektual” yang tadinya berkonotasi baik menjadi berkonotasi buruk.

Menurut catatan K. Bartens di Kompas 1 Mei 2000, penggunaan istilah “aktor intelektual” ini sudah salah kaprah. Alih-alih menyebut actor intellectualis dalam bahasa asalnya (Latin), lazim digunakan adalah auctor intellectualis. Jadi, mestinya auctor bukan actor. Auctor ini juga menjadi akar kata author (pengarang, penggagas ide) dalam bahasa Inggris.

Alhasil, yang tepat sebenarnya sebutan auktor intelektual, tetapi kata “auktor” tak tercantum di dalam kamus bahasa Indonesia dan seolah-olah orang sudah mafhum dengan kata “aktor” yang sama saja dengan pemeran (drama, film, dsb.), lalu dianggap cerdas sebagai “aktor intelektual”–pengatur peran. Auktor intelektual sendiri bermakna positif sebagai pencetus ide atau otak di balik sebuah peristiwa (tidak harus negatif), namun dalam istilah Indonesia sang “aktor intelektual” dikaitkan dengan peristiwa negatif (lihat KBBI).

Koran Kompas (kalau tidak salah), saya baca beberapa hari lalu sudah menggunakan kata “auctor intellectualis” ini. Tentu dengan maksud meluruskan yang sudah terlanjur salah kaprah dalam berbahasa Indonesia. Namun, tampaknya sulit buat kita “meluruskan” sejarah bahwa watak bangsa kita memang mudah dipecah belah. Karena itu, yang terpecah belah pun sibuk mencari kambing hitam. Di sisi lain, dicari juga sang “auctor intellectualis” tadi yang mungkin bisa disamakan dengan serigala hitam.

Siapa “auctor intellectualis” di balik rusuh lapas Tanjung Gusta? Siapa “auctor intellectualis” di balik kenaikan harga-harga pangan luar biasa ini? Siapa “auctor intellectualis” di balik …? Sungguh, saya prihatin. [BT]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here