Ekspresi Pembaca: Oh… Wah… dan Wow….

0
5235
Foto; Jilbert Hebraimi

Manistebu.com | Para penulis akan merasakan hampa jika karyanya tidak direspons pembaca. Setidaknya sang penulis berharap bahwa pembaca mau berkomentar sepatah dua patah kata. Karena itu, tradisi meminta testimoni (endorsement) pun melanda para penulis kita. Jelaslah para penulis itu mengharapkan respons yang positif dari pembacanya, termasuk sekadar puja puji.

Jika pun ada kritik yang pedas, ia berharap tidak terlalu banyak pembaca yang demikian–alih-alih menyebutnya hater. Alhasil, kata-kata siap menerima “kritik dan saran yang membangun” ala Orba di dalam prakata sekadar pemanis atau basa-basi belaka.

Tentulah konten buku yang akan memberikan kesan mendalam bagi para pembaca sehingga mereka memberikan respons. Adapun judul terkadang hanya sebagai kail atau pengikat mata dengan daya pikat kata-kata. Buku-buku di Indonesia kerap menggunakan kata-kata yang menggelitik “rasa ingin tahu” walau kemudian akhirnya kata-kata itu menjenuhkan, seperti

Rahasia – Keajaiban – Mukjizat – The Power of – The Miracles of

Terkadang angka-angka “keramat” juga digunakan untuk mengikat perhatian, seperti angka 7, 8, 12, 13, 40, 99, atau 101. Pada ujungnya penulis punya harapan pembaca memberikan respons positif dengan ungkapan oh ternyata …, wah benar juga …, dan wow ini yang saya cari selama ini ….

Hal yang terkadang naif adalah judul-judul yang menggunakan ukuran waktu, seperti 30 menit, 1 jam, 24 jam, 30 hari, dan seterusnya demi menguasai suatu keterampilan tertentu. Bayangkan, bagaimana Anda tidak akan berteriak Wow! ketika dijanjikan dapat menghafal al-Quran selama 30 hari atau becus cas cis cus bahasa Inggris dalam 24 jam. Wow!

Respons Pembaca

Kategori respons pembaca Oh masih kategori biasa yaitu pembaca yang baru mengetahui sesuatu dan sedikit merasa mendapatkan pencerahan atau pengertian. Konten buku ini biasanya sekadar meluruskan kekeliruan atau memberi tahu sesuatu yang tidak banyak disadari orang. Pembaca Oh terkadang memang tidak terlalu antusias membicarakan buku tersebut.

Kategori respons pembaca Wah sudah mulai meningkat ke arah berdecak kagum terhadap konten buku dan kadang cenderung bersetuju dengan pendapat penulis. Biasanya pembaca demikian akan berusaha menyampaikan kekagumannya lewat SMS/WA (jika ada nomor ponsel penulis), lewat surel, ataupun lewat media sosial kini. Mereka juga akan sangat antusias membicarakan buku yang membuat kagum mereka itu.

Kategori respons pembaca Wow ini yang dahsyat dan biasanya mereka dengan rela menjadi ambasador ataupun suporter para penulis. Mereka bukan hanya berdecak kagum, melainkan juga ikut menggetoktularkan buku kepada calon pembaca lain. Kadang-kadang boleh jadi kategori pembaca seperti ini kurang rasional dalam memandang sebuah konten. Hal-hal yang biasa saja seolah-olah dapat menjadi luar biasa di mata mereka dan mereka berusaha mengobarkan semangat Wow ke mana-mana. Namun, kategori yang Wow sejati tetaplah ada yaitu para pembaca yang merasa benar-benar tercerahkan dan mengalami perubahan karena membaca buku bermutu.

Apa pun responsnya jelaslah baik daripada tidak direspons sama sekali. Karena itu, jangan abaikan pembaca sasaran ketika Anda hendak menulis sesuatu, tidak terkecuali pembaca anak-anak. Pikirkan apa yang pembaca inginkan dan perlukan dari apa yang hendak Anda tulis. Boleh jadi Anda menulis tema atau topik yang sudah pernah ditulis orang lain, tetapi sentuhan lain dari kedalaman gagasan, pemikiran, serta pengalaman Anda akan menjadikan sebuah karya tulis atau buku benar-benar berbeda.

***

IMG_1714

Pembaca sasaran salah satu hal yang menjadi perhatian para editor penerbit dan tentunya juga harus menjadi perhatian para penulis buku itu sendiri. Banyak penulis buku yang lupa pada pembaca sasarannya sehingga ia menulis seperti bergumam dengan dirinya sendiri. Alhasil, bukunya gagal untuk sekadar mendapatkan perhatian agar dibaca alih-alih memperoleh respons dan decak kagum.[]

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here