Luberan Konten Indonesia (Road to FBF 2015)

0
289

Tulisan ini adalah tulisan serial dari Road to Frankfurt Book Fair 2015. Tulisan berupa esai yang sengaja saya sajikan untuk mendorong pengembangan literasi, menyambut Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015.

Seorang kenalan, pembicara publik dan juga praktisi NLP, pernah berkisah bahwa ada sebuah buku laris di Amerika. Buku itu berisikan teknik dan kiat menggendong bayi, lengkap dengan filosofinya. Sang penulis mengaku bahwa gagasan ini ia dapatkan setelah sekian lama tinggal di Bali. Ia melihat bagaimana ibu-ibu di Bali menggendong bayi dengan berbagai posisi. Dari sana ia melakukan riset tentang hal itu.

Kearifan lokal sebagai konten Indonesia itu memang sebuah kekayaan yang berlimpah. Satu Bali saja sudah menyediakan begitu banyak konten, apalagi satu Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua? Karena itu, saya pernah menulis bahwa cukup Jawa saja yang digali kontennya untuk dibawa ke Frankfurt Book Fair 2015 maka dunia pun akan terbelalak dengan konten kita.

FBF sebagai ajang diplomasi budaya, termasuk mengenalkan keandalan konten musik seperti booth ini.
FBF sebagai ajang diplomasi budaya, termasuk mengenalkan keandalan konten musik seperti booth ini. (Sumber: Dok. Pribadi)

Di Makassar saya mengenal sebuah penerbit bernama Grup Pustaka Refleksi. Kelompok penerbit ini boleh terbilang baru dan letaknya pun di Indonesia Timur seolah ingin mematahkan asumsi bahwa penerbit itu hanyalah Jawa. Buku-buku mereka pun mampu bersaing dengan penerbit-penerbit di Jawa.

Namun, apa yang membuat saya kagum karena mereka juga bergiat menerbitkan buku-buku kearifan lokal dari hamparan bumi Sulawesi. Jadilah mereka penerbit yang tidak serta merta mengikut mainstream penerbitan pop lainnya. Mereka menggali terus apa yang ada di bumi Sulawesi. Saya kira pada perhelatan Frankfurt Book Fair 2015, buku-buku mereka termasuk yang layak untuk ditampilkan dalam bahasa Inggris ataupun Jerman.

Sebagai tamu kehormatan, kita punya kewajiban menyiapkan ribuan buku-buku berbahasa Inggris dan berbahasa Jerman. Jadi, porsi untuk buku berbahasa Indonesia sangat kecil karena kita memang mau “menjual” konten Indonesia secara internasional. Dalam konteks ini, konten yang unik, tidak biasa, dan tentunya memiliki daya pikat harus diutamakan.

Namun, Indonesia memang tidak sekadar pariwisata ataupun kuliner. Masih banyak yang dapat dikorek lagi tentang Indonesia seperti kearifan lokal cara menggendong bayi tadi. Mungkin publik dunia juga akan tertarik dengan kisah-kisah anak di perkebunan Indonesia ataupun mereka yang hidup di pulau-pulau terluar. Kisah tentang kehidupan beragama ataupun Islam Indonesia bisa jadi menarik buat mereka (publik dunia).

Sebagai negara yang kini tengah diperhitungkan “kekuatan ekonomi”-nya dan sesadar-sadarnya memang bakal ditakuti oleh negara tetangga jika menjadi besar adalah saat yang tepat menjadikan Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 sebagai ajang diplomasi budaya dan unjuk kekuatan literasi.

FBF 2015 itu sebenarnya kasat mata saja terlihat sebagai pameran buku. Namun, lebih dari itu ajang ini dapat menaikkan prestise bangsa, promosi budaya, serta promosi Indonesia secara utuh. Jika ingin meredam begitu banyak pandangan negatif tentang Indonesia yang dilancarkan media dunia, FBF 2015 dapat menjadi salah satu momentum membalikkan semua itu. Tentu dengan produk-produk literasi yang bermutu.

Selama setahun, media Jerman akan memberitakan segala hal tentang Indonesia sebagai konsekuensi menjadi tamu kehormatan (guest of honor) di FBF 2015. Selama itu pula kita dapat memanfaatkan pengemasan luberan konten Indonesia secara profesional dan terkelola baik. Untuk itu, tampaknya perlu bagi pemerintah, dalam hal ini Kemdikbud membentuk kepanitiaan yang profesional, bukan sekadar rangkaian kelaziman birokrasi. FBF 2015 harus dipandang sebagai sebuah karya bersama yang berdampak strategis. Jika tidak, luberan konten yang dimiliki Indonesia tidak akan “berbunyi” dan momentum itu akan lewat begitu saja meski sudah mengeluarkan biaya puluhan miliar. [BT]

©2013 oleh Bambang Trim, praktisi penulisan-penerbitan Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here