Optimistis Indonesia #2

3
397

Ada yang tidak biasa pada lebaran tahun ini (2013/1434 H.) yang mungkin gejalanya sudah tampak pada beberapa tahun ke belakang.  Pertumbuhan dan kebangkitan kelas menengah Indonesia tampak nyata. Informasi mengungkapkan bahwa ada dana Rp90 triliun mengalir ke daerah-daerah dari kantong pemudik di kota-kota besar.

Peristiwa sosial-budaya sekaligus religi ini memicu juga pergerakan industri kecil menengah di sektor riil. Jika dahulu, atmosfer mudik telah tampak seminggu sebelum lebaran dengan lenyapnya para pedagang kecil atau tutupnya toko-toko, kini hal itu tidak tampak karena pada malam takbiran masih ada yang buka berjualan. Jika dahulu pada hari pertama lebaran tidak ada geliat usaha, namun kini menjelang siang dan sore hari, gerai-gerai pasar modern seperti Alfamart dan Indomaret justru buka, pun begitu dengan pedagang makanan dari skala kecil hingga besar.

Antrean tiket transportasi darat dan udara pun membludak. Antrean kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi jalan-jalan dan tampak terjadi kemacetan ekstrem di jalur Pantura, jalur Bandung-Garut-Tasikmalaya, dan juga jalur Banten-Merak. Makin banyak mobil-mobil menyesaki jalan-jalan. Ekonomi Indonesia berdenyut sepanjang perjalanan, terutama bisnis kuliner.

Good News from Indonesia

GL000003-500x500

Akhyari Hananto lewat bukunya berjudul Good News from Indonesia memang menstimulus saya untuk menulis tentang persiapan Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Dua tahun lagi Indonesia pasti akan semakin menjadi perhatian dunia apabila mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi stabil di atas 6%. Lalu, pameran di Frankfurt sebenarnya bukan sekadar pameran buku, melainkan sebuah kesempatan diplomasi budaya. Bayangkan, selama setahun sebelum penyelenggaraan, Indonesia akan mendapat porsi pemberitaan utama di media-media Jerman.

Anda dapat membayangkan sebuah gelombang kekuatan buku atau literasi yang berderu di Frankfurt Book Fair 2015 saat ketika Indonesia diprediksi menjadi sepuluh besar kekuatan ekonomi di dunia. Dunia pun makin mengenal “jeroan” pemikiran orang Indonesia, kearifan lokal, potensi sumberdaya alam dan manusia, serta  industri kreatif yang mulai tumbuh menggila. Namun, tentu harus ada persiapan mengemas semua wacana itu dalam buku yang apik.

Dua tahun bukan masa yang sebentar dan bukan pula masa yang terlalu lama. Kini hitungannya sudah lebih sedikit dari 24 bulan menuju bulan Oktober 2015, kala pameran buku tersebut digelar setahun sekali. Semua negara tentu berambisi menjadi tamu kehormatan, termasuk Malaysia atau Singapura. Namun, apa yang bisa mereka tampilkan tidaklah sekuat dan sekaya Indonesia dalam soal konten literasi.

Seorang penggiat buku dari Malaysia beberapa tahun lalu pernah berujar kepada saya bahwa dari sisi dunia perbukuan, Malaysia masihlah tertinggal dari Indonesia selama sepuluh tahun! Pascareformasi bukannya rontok dan melemah, dunia buku Indonesia justru melaju dengan kreativitas ide serta pengemasan yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Dalam diskusi persiapan menjadi Guest of Honor, bahkan pada penyusunan naskah akademik Road to Frankfurt Book Fair 2015, saya menuliskan bahwa cukup Jawa saja untuk memamerkan kekayaan konten Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015 itu sudah pasti membelalakkan mata dunia. Duh, apalagi konten dari ribuan pulau dan 34 provinsi di Indonesia dibawa serta dan disajikan, terbayang betapa ternganganya masyarakat perbukuan dunia melihat begitu kayanya konten negara yang pernah disebut-sebut sebagai macan Asia ini.

Road to Frankfurt Book Fair 2015

Awalnya saya mau menuliskan kabar baik tentang Indonesia dalam dunia buku ini dalam satu wacana sebagai kelanjutan bahasan dari buku Akhyari Hananto. Saya menghabiskan buku Akhyari hari ini (12/08) saat mengantre perpanjangan paspor di kantor imigrasi Bandung yang penuh sesak. Saya berencana berangkat ke Cina memenuhi undangan dan mewakili Ikapi dalam China-ASEAN Expo awal September nanti.

Nah, muncullah ide untuk menulis di blog ini esai-esai tentang perjalanan Indonesia ke Frankfurt Book Fair 2015. Esai ini akan saya bagi menjadi tiga bagian besar:

  • Bukan “Kesialan” bagi Indonesia berisi (13 esai melambangkan 2013)
  • Sempat Tidak Sempat Harus Berkelas (14 esai melambangkan 2014)
  • Saat Buku Menjadi Kubu (15 esai melambangkan 2015)

Jadi, total ada 42 esei tentang perbukuan menuju FBF 2015 yang merupakan serial tulisan Road to Frankfurt Book Fair 2015. Saya ingin kumpulan tulisan ini diterbitkan. Namun, saya belum tahu siapa penerbitnya. Sekalian saja saya tawarkan dalam blog ini. Silakan kontak saya di 081573814799. Saya akan kerjakan esai ini dalam dua bulan dan bisa mengejar peluncurannya pada Indonesia Book Fair 2013 di Istora Senayan.

Ya, terlalu banyak untuk menceritakan “kabar baik” tentang dunia buku Indonesia meskipun ada banyak “kabar buruk” yang melatarinya. Saya ingin menjadi bagian yang menceritakan kabar baik itu saja. [BT]

©2013 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

3 KOMENTAR

  1. setiap insan modal hidup dan majunya bisa dg optimis. kalo bener pertumbuhan ekonomi stabil di atas 6 persen, berarti kinerja pak esbeye bagus dong, apalagi pas ada gawe besar internasional gitu. jadi saya bakal tetep pilih demokrat yg terbukti dan teruji walau partainya ikut korupsi

    • Tidak ada dalam tulisan ini menyinggung soal (keberhasilan) SBY dan Demokrat dan menarik konklusi sedemikian. Pertumbuhan ini dicatatkan dalam data, baik dalam negeri maupun luar negeri–tentu karena saya mengutip buku GNFI dan juga goodling. Fakta itu yang menjadi modal hidup bangsa Indonesia. Semua juga akan tertawa kalau pertumbuhan itu semata-mata faktor presiden dan partai D-nya yang lagi sibuk konvensi itu.

      • kirain bisa mengambil konklusi demikian. tafsir sy ceroboh ya. modal kemajuan bangsa ini bisa membuat bangsa ini lebih baik. dan itu mesti ditunjukkan di mata internasional. apalgi banyak rakyat indonesia telah mencetak beragam prestasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here