China-ASEAN Publishing Expo #1

0
301

Perjalanan lima jam dari Ghuangzho menuju Jakarta kemarin (7/9) memang masih menyisakan kelelahan. Namun, karena selama lima hari tidak menyentuh komputer, apalagi blog, sungguh saya rindu menuliskan sesuatu. Di Nanning, Guangxi, tempat saya dan seorang rekan dari Ikapi bertugas, saya hanya berbekal tablet Android. Namun, social media semacam Facebook dan Twitter sama sekali tidak dapat diakses di China.

Saya dan rekan, Pak Djadja Subagdja, ditugaskan Ikapi untuk memenuhi undangan panitia China-ASEAN Publishing Expo. Mengapa Nanning yang dipilih? Karena Nanning tampaknya sebuah kota di daerah autonom Guangxi yang dipersiapkan menjadi kota pameran (expo city). Kota ini memang tampaknya baru bertumbuh dan ditata karena sebelumnya Nanning adalah daerah dengan penduduk miskin. Melihat dari atas hotel dan menikmati suasana taman kota dengan jalan-jalan besar, kota ini memang mirip penataannya seperti Singapura.

IMG_20130904_064833

Dengan gelaran China-ASEAN Publishing Expo kali kedua ini, China tampaknya juga menganggap strategis pengembangan industri perbukuannya dan mereka memang perlu menggandeng negara ASEAN. Sampai saat ini baru negara seperti Vietnam dan Malaysia yang mengikat perjanjian semacam transaksi copyright. Untuk Indonesia, kendala komunikasi bahasa mungkin masih menjadi sesuatu pengalang untuk mulai mengikat perjanjian. Namun, tentu nanti bisa diatasi dengan mengirim juga delegasi yang mampu berbahasa mandarin dan membaca buku-buku terbitan China.

Meskipun pameran buku di China ini masuk skala kecil karena hanya ada beberapa booth penerbit di empat lantai, pembukaannya sangatlah meriah. Pembukaan langsung dipimpin pejabat pemerintah di sana dan kami semua delegasi dari ASEAN disambut bak tamu kehormatan.

IMG_20130904_090631

Buku-buku yang dipamerkan pun dari negara ASEAN masihlah sebagian kecil saja, belum menunjukkan kesejatian kekuatan industri buku ASEAN sesungguhnya. Ya, ini mungkin baru langkah kecil pemerintah China sebelum mereka menyiapkan expo lebih besar lagi pada tahun-tahun berikutnya. Paling tidak mereka telah memosisikan sebagai negara yang juga maju industri perbukuannya. Karena itu, pada CA Publishing Expo kali ini mereka mengusung tema From Traditional Publishing to Digital Age.

IMG_20130904_092026

Siang hari setelah pembukaan tanggal 4 September, kami pun mengikuti acara Publishing Forum setengah hari penuh. Banyak wakil pembicara dari kalangan industri perbukuan China mengangkat isu e-book dan digital publishing. Walaupun demikian, pada expo yang digelar memang belum tampak produk andalan mereka dalam digital publishing kecuali saya melihat sebuah globe yang menggunakan talking pen dengan beberapa bahasa mirip dengan produk read boy yang juga dari China.

IMG_20130904_100443

Lepas acara publishing forum, kelelahan masih melanda. Kami hanya menikmati makan malam dengan menu khusus makanan halal untuk bertiga (dua orang dari Indonesia dan satu orang dari Malaysia).  Selebihnya istirahat di hotel KB Crown di kamar yang disediakan satu orang satu. Nah, menariknya semua biaya transportasi dan akomodasi para undangan dari ASEAN ini ditanggung semua oleh panitia CA Publishing Expo. Hehehe mereka memang serius untuk mengundang kita dan suatu saat “meledakkan industri perbukuaannya” bersama ASEAN. [BT]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here