Editologi dan Retorika Vicky

2
443

Di Prodi D3 Editing Unpad, zaman saya (tahun 1991) mata kuliah praktik penyuntingan diadakan hingga 4 semester berturut-turut dengan bobot 4 SKS. Mata kuliah ini memang mata kuliah andalan untuk menguji kemampuan para mahasiswa dalam menyunting berbagai teks. Karena itu, wajar jika para dosennya pun membawa begitu banyak contoh publikasi yang dengan “enteng” diberikan kepada para mahasiswa sebagai bahan praktik editing.

Tentu bagi kami melakukan praktik ini sesuatu yang kadang mengasyikkan, kadang juga menjemukan. Beragam teks tak semuanya enak untuk disunting karena ada juga teks-teks dengan bahasa menjemukan atau terlalu gampang untuk diedit semisal teks surat undangan.

copyeditor

Dari sini kepahaman saya tentang editologi sebagai sebuah ilmu sekaligus seni menata tulisan meningkat. Saya memang harus bergumul dengan banyak teks, memaknainya, dan dengan kepercayaan diri terkadang membangun interpretasi sendiri terhadap teks karena saya tidak bersua dengan penulis/pengarang teks tersebut (dalam konteks mengikuti kuliah). Saya bergumul dengan teks fiksi, nonfiksi, serta faksi yang kelak juga memudahkan saya untuk bekerja sebagai editor sesungguhnya.

Nah, terkait dengan fenomena kini apabila kita membaca teks-teks berita di media cetak dan juga media daring (online), dapat ditemukan berbagai kesalahan penataan teks dan yang terparah adalah kesalahan nalar. Saya ambil contoh paling populer saat ini kasus retorika Vicky dengan bahasa campur aduk yang menyebabkannya menjadi bahan olok-olok.

Tanpa bermaksud ikut dalam euforia mengolok-olok, menarik apa yang dituliskan Mas Juan St. Sumampow, editor senior dari Penerbit Kanisius, tentang hasil editing retorika Vicky–dimuat di status grup Forum Editor Indonesia (Facebook).

Mas Juan telah menyampaikan juga bahwa editing ini adalah hasil interpretasinya sendiri mengingat ada kemungkinan salah tafsir dalam memaknai teks, terutama ujaran tentang “strata ekonomi” yang dibahas Vicky terkait pertunangannya dengan Zaskia Gotic.

Boleh jadi kajian teks semacam ini dapat menjadi materi mata kuliah praktik penyuntingan sebagai penyegaran buat mahasiswa untuk merespons teks yang berkembang di publik, termasuk dalam bentuk retorika. Berikut perbandingan retorika asli Vicky dan hasil suntingannya.

EDISI ASLI
Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi karena basically, aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya. Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan. Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi, kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga.

EDISI SETELAH DISUNTING (DAN DITAFSIRKAN)
Di usiaku sekarang ini, dua puluh sembilan, aku akan terus mengapresiasi dan mendukung Zaskia yang berprofesi sebagai penyanyi, karena pada dasarnya aku memang senang musik. Tentu aku lebih cenderung untuk fokus pada bisnis, mengupayakan kemakmuran dalam hidup kami. Namun, itu tidak akan menjadi masalah. Kami berdua pasti akan belajar menyesuaikan diri satu sama lain dari hal terkecil sampai terbesar. Kita tidak boleh egoislah, mementingkan keinginan sendiri dan mengorbankan keinginan bersama. Hubungan kami ini, aku yakin, tidak akan berpengaruh pada status sosial Zaskia dan keluarganya, melainkan justru sebaliknya, semakin memperkokoh. Intinya, kami harus cerdas mengelola rumah tangga kami nanti agar dapat tetap baik dan terus meningkat. Aku percaya kami berdua dapat melakukannya.

***

Bagaimana menurut Anda? Tentulah teks hasil suntingan telah menggiring satu pemahaman untuk kita meskipun tetap berdasarkan interpretasi editornya. Inilah salah satu fokus editologi bagaimana seorang editor mampu mengembalikan teks pada makna sebenarnya dengan kemampuan berbahasa (berdasarkan pengetahuan serta pengalamannya) sehingga publik yang dituju pun akan merasakan kenyamanan memaknai.

Tertarik atau tertantang menjadi editor? Banyak jalan menuju Roma. 🙂

©2013 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

    • Artikel yang menarik, punya bobot ilmiah, dan sebagai opini mesti dihormati. Saya tertarik soal “benar dan salah” dalam menilai bahasa seseorang pada konteks baik dan benar. Hal serupa yang saya hadapi ketika menulis tentang kata baku dan kata nonbaku. Dalam satu tabel apakah saya harus memberi judul “benar” pada satu lajur dan “salah” pada lajur lain? Nah, ini menjadi pertentangan dalam batin dan benak saya.

      Saya mafhum dalam pekerjaan di dunia teks, seperti penulis dan editor, tentulah keduanya memerlukan acuan standar atau baku dalam berbahasa. Di sisi lain, saya juga melihat perbedaan pandangan dalam menggunakan bahasa itu sendiri, lepas dari persoalan baku atau tidak baku. Contohnya, kita bisa melihat gaya tulisan Gorys Keraf dan Jus Badudu sebagai munsyi atau lebih bebas lagi gaya tulisan Wahyu Wibowo yang kadang tak mengikuti kaidah “berbahasa Indonesia yang baik dan benar” pada beberapa bagian.

      Kesimpulannya saya bisa membenarkan opini pada makalah tersebut terkait pembakuan ataupun PUEYD itu sebagai politik bahasa nasional yang tentu mengandung tujuan-tujuan (“udang”) spesifik. Terima kasih atas tautannya Mas. Salam takzim.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here