Iming-iming Kaya dari Menulis

8
788

Ada saja memang buku atau iklan pelatihan yang menawarkan jalan kaya dari menulis. Bolehlah kemudian pembuatnya berkilah bahwa kaya yang dimaksud tidak melulu kaya harta, tetapi juga kaya hati. Saya pun membuat anak judul soal kaya ini dalam buku The Art of Stimulating Idea: Jurus Mendulang Ide dan Insaf agar Kaya di Jalan Menulis. Dan saya pun tidak mau kalah berkilah bahwa benarlah orang yang dapat mendulang ide sangat banyak bisa menarik kekayaan dari ide-idenya itu.

Buku karya penerbit sendiri dan kopi selalu menjadi penyemangat saya untuk berkiprah di industri kreatif ini.
Buku karya penerbit sendiri dan kopi selalu menjadi penyemangat saya untuk berkiprah di industri kreatif ini.

Pertanyaannya, benarkah menulis itu bisa membuat orang menjadi kaya? Kalau pertanyaan itu disorongkan kepada saya pribadi, ya saya akan menjawab sangat bisa karena saya juga membangun sebuah usaha hasil dari keterampilan menulis. Artinya, kini rumah, mobil, dan beberapa aset dan fasilitas yang saya miliki semua dari menulis. Bahkan, selama dua tahun ini praktis saya tidak bekerja lagi di perusahaan mana pun, kebutuhan keluarga saya sehari-hari didukung dari pekerjaan menulis dan menerbitkan buku sekaligus menggaji lima orang karyawan.

Tahun 1999, saya sudah bisa menghasilkan uang Rp50 juta dari penulisan buku pelajaran. Modal itulah yang saya gunakan untuk menikah dan membiayai keluarga saya saat-saat awal. Tahun 2005 saya sudah bisa membayar DP rumah sebesar Rp60 juta untuk rumah seharga Rp150 juta. Uang itu pun berasal dari royalti satu tahun buku pelajaran yang saya tulis, sisanya saya gunakan untuk memberangkatkan ayah saya pergi haji. Tahun 2006 saya menerima kembali royalti dari buku dan berpindah rumah ke kompleks perumahan yang lebih baik, lebih aman, dan berakses cepat ke kota.

Saya memang telah melakoni banyak hal di industri perbukuan ini. Ya, sebagai penulis, editor, dan juga pernah melakoni diri sebagai self-publisher, pengelola jasa penerbitan (publishing service) dan perajin buku (book packager). Jabatan empuk juga pernah dinikmati. Usia 31 tahun, saya sudah menjadi direktur di Penerbit MQ, lalu menempati posisi direktur utama di PT MQS (2003-2008).

Sebagai petinggi di penerbit, tentulah sudah cukup bagi saya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan mudah sekali bagi saya untuk menerbitkan buku sendiri. Namun, jiwa entrepreneur tetap saja tidak bisa diredam, mungkin karena saya juga berdarah Minang dari ibu. Saya tetap berbisnis sendiri, di antaranya pernah mendirikan perusahaan direct selling buku bernama Kaki Buku. Perusahaan ini kemudian ditutup setelah saya akuisisi di MQS. Uang pribadi saya pun banyak yang menguap untuk bisnis yang gagal karena bangkrut, ditipu orang, order tidak dibayar, ataupun hal-hal lain yang jadi pembelajaran berharga sebagai writerpreneur.

Seterusnya rezeki saya mengalir dari menulis buku, konsultan penerbitan, dan juga pelatihan penulisan buku hingga saat ini. Lalu, saya menemukan jalan bahwa menjadi penulis jasalah yang meniscayakan penghasilan tinggi seorang penulis dibandingkan menjadi penulis mandiri.

Penulis mandiri adalah penulis yang menyandarkan penghasilan sebagai penulis pada pengiriman naskah ke penerbit buku ataupun media massa. Tentulah penulis mandiri lebih berharap banyak pada perputaran royalti dan juga hasil jual putus naskah ke penerbit dan honor penulisan di media massa. Namun, seberapa besarkah kita bisa kaya dari royalti? Kasus penulis menerima royalti puluhan hingga ratusan juta dalam rentang setahun di Indonesia adalah kasus jarang terjadi atau boleh disebut hanya beberapa gelintir penulis yang bisa menikmatinya, terutama penulis fiksi dan penulis buku pelajaran. Sebagian besar menerima royalti dalam hitungan ratusan ribu dan jutaan dalam setahun. Ia setidaknya bisa kaya kalau produktif menghasilkan buku dan tulisan.

Saya melakoni diri juga sebagai penulis mandiri yang coba terus berkarya dengan buku dan tulisan-tulisan format pendek untuk media massa atau jurnal ilmiah. Namun, saya tidak menggantungkan hidup pada penulisan mandiri ini dan saya anggap bonus saja. Tahun ini saya masih menerima royalti Rp7 juta dari buku saya yang diterbitkan PTS Malaysia.

Penulis jasa adalah pilihan saya yaitu berbuat banyak sebagai perajin buku (book packager), penulis bayangan (ghost writer), penulis pendamping (co-writer), konsultan penerbitan, dan tentunya trainer penulisan-penerbitan. Kadang-kadang penghasilan saya sebagai trainer penulisan bisa mencapai puluhan juta dalam sebulan. Lalu, kontrak pengembangan buku yang rata-rata berdurasi 2 s.d. 3 bulan juga bisa bernilai ratusan juta. Namun, tentu hal ini berproses setelah saya melakoni diri sebagai pebisnis tulisan dengan berdarah-darah.

Sebelumnya saya bermitra dengan beberapa penerbit untuk memasok buku siap cetak kepada mereka. Namun, pola jasa seperti ini ternyata membuat saya sulit berkembang, apalagi bertumbuh karena ada juga penerbit yang mangkir membayar dengan berbagai alasan, di sisi lain saya juga harus berutang kepada para penulis karena juga sulitnya membiayai operasional yang membengkak. Selain itu, daya waktu dan daya tenaga yang digunakan untuk memasok buku ke penerbit lebih besar dibandingkan hasil yang diterima. Alhasil, usaha seperti ini seolah tampak besar dalam omzet, tetapi sebenarnya merugi atau paling banter plas plus tanpa keuntungan.

Kini saya berfokus memberi jasa kepada para akademisi yang memerlukan bantuan pengembangan buku akademis, baik untuk kepentingan kenaikan pangkat maupun kepentingan publikasi secara profesional. Saya juga bermitra dengan lembaga pemerintah, BUMN, dan juga lembaga/institusi swasta untuk menghasilkan buku dan menjadi konsultan terkait penulisan-penerbitan.

Kantor pun sementara saya pindahkan ke rumah pribadi (small office home office) dengan lima orang karyawan. Bayangkan dulu saya mengontrak kantor Rp25 juta setahun dan kantor berada jauh dari rumah di tengah kota Bandung. Padahal, jasa yang kami berikan tidak memerlukan akses ke pusat kota. Operasional pun membengkak untuk sebuah rumah besar yang tidak efektif digunakan.

Organisasi mini ini hanya bisa dihangatkan dengan sistem kekeluargaan dan kami membicarakan ide bernilai puluhan hingga ratusan juta cukup di teras rumah di antara tumpukan buku-buku hasil penerbitan mandiri. Ya, saya juga menerbitkan buku karya penulis lain secara terbatas. Untuk hal ini, saya juga bertaruh menggelontorkan sekian puluh juta sekali cetak.

Teras rumah yang berfungsi sebagai tempat membincangkan ide-ide.
Teras rumah yang berfungsi sebagai tempat membincangkan ide-ide dan tempat saya bereksplorasi di salah satu sudut kota Cimahi.

Impian kaya dari menulis itu memang bukan omong kosong. Hanya diperlukan strategi untuk menjadikan keterampilan menulis sebagai bisnis. Saya selalu mengutipkan kata-kata Dan Poynter, seorang praktisi penerbitan di Amerika: “Writing is not a job; it’s a business.” Satu hal yang saya nikmati juga kerapatan jadwal untuk berbagi tentang penulisan-penerbitan di berbagai acara dan tempat. Kegiatan ini juga jalan rezeki bagi saya.

Lalu, kapan saya bisa meluangkan waktu untuk menulis? Semua slot setiap hari saya gunakan untuk menulis: subuh, pagi, siang, malam, dan menjelang tengah malam begitu ada kesempatan–termasuk mengisi blog ini.

Jadwal Bambang Trim Oktober 2013

Tanggal

Program

9 Oktober Testimoni pada Acara Peluncuran eBook Store Bukuon IM2, Indosat (Jakarta)
10-12 Oktober Narasumber Finalisasi Penyusunan Bahan Ajar untuk Kursus, Dirjen PAUDNl, Kemendikbud (Bandung)
14-17 Oktober Briefing Penulisan Buku untuk LNGTV Badak, Bontang
19-20 Oktober Kursus Intensif Editing Naskah bersama TrimKom (Jakarta)
22 Oktober Pelatihan Penulisan Buku Teks di Pusdiklat Kemenkeu (Jakarta)
24-25 Oktober Pelatihan Penulisan dan Penyuntingan Buku Ilmiah di LIPI Press (Jakarta)
26-27 Oktober Kursus Intensif Menulis Buku (Nonfiksi) bersama TrimKom (Bandung)
30-31 Oktober Pelatihan Editing Media bersama Intermedia (Bandung)

Tidak ada entrepreneur sukses tanpa mengalami kegetiran ketika awal-awal membangun usahanya, kecuali mereka menerima sebagai warisan orangtua yang sudah lebih dulu sukses. Tidak ada pula jalan instan atau mudah untuk meraih kebebasan finansial seperti yang banyak dikisahkan dalam buku-buku tentang bisnis atau buku-buku motivasi. Semua berproses. Kadang orang yang sering ngomong bisnis itu begini dan begitu agar sukses lewat pelatihan ataupun buku-buku justru tidak punya bisnis yang teruji bersama waktu.

Ya, saya sudah begitu sering bertemu motivator, trainer-trainer pengembangan diri dan bisnis, serta juga para pembicara publik yang berkepentingan terhadap buku. Jadi, sedikit banyak saya mencoba memahami jalan pikiran mereka; ada yang berpikir instan dan ada juga yang berpikir proses. Masalahnya sekarang informasi begitu meluber, terutama lewat jaringan media sosial sehingga kita akan kesulitan menyaring kebenaran karena banyak terkesan meyakinkan.

Jadi, kalau ada yang ngomong kaya dari menulis, jangan terlalu percaya, kecuali yang ngomong penulis best seller semacam Andrea Hirata, Habibburahman El-Shirazy, A. Fuadi, atau Pak Marthen Kanginan yang menulis buku pelajaran untuk Erlangga. Lihat aja tongkrongan para penulis yang ngomong begitu: apakah mereka sudah benar-benar seperti orang yang sudah bebas finansial–tidak malah kasak kusuk masih memerlukan uang untuk bayar tagihan. Bisa juga ditelusuri dari karya-karya mereka, apakah ada yang laris atau masuk kategori best seller?

Saya tidak mengaku kaya dari menulis. Saya hanya mengatakan orang bisa kaya dari menulis dan saya memang telah menikmati bulir-bulir rezeki dari keterampilan menulis yang sangat saya syukuri. Soal saya berdarah-darah dalam membangun bisnis sebagai penulis (writerpreneur) dan penerbit itu adalah konsekuensi dari pilihan saya untuk berproses. Joss! [BT]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

8 KOMENTAR

  1. secara pribadi, saya menilai Mas Trim kaya dari bisnis penulisan bukan dari tulisan…

    saya rasa hanya penulis2 tertentu yang bisa jadi orang kaya dari profesi penulis, kalau cuma sekedar tercukupi atau berpenghasilan rata-rata, ya masih banyak yg mampu menjalaninya…

    • Ya betul. Pada satu sisi saya terlihat sebagai penerbit yang mempekerjakan beberapa orang untuk beberapa proyek penulisan. Namun, pada banyak sisi saya berperan juga membuat konsep awal, menyusun outline, dan bahkan ikut menulis. Jadi, tetap keterampilan menggagas dan menulis itulah sumber daya utama yang saya gunakan, selebihnya dalam manajemen dan marketing–buah pengalaman di beberapa penerbit.

  2. kadang saya bermimpi seperti anda, tapi tulisan yang saya buat kadang kurang berbobot untuk saya baca sendiri pun. ahirnya saya hanya menelurkan blog tanpa penghasilan..
    selamat berkarya mas, semoga sukses menyertai kita semua.
    wilujeung..

  3. Joss, pak! Saya menulis sejak SD, tapi hingga berusia 33 tahun baru bisa menelurkan 4 karya yang diterbitkan penerbit di Jogjakarta. Beberapa naskah diterima penerbit, tapi tidak pernah terbis karena keburu kadaluwarsa. Masih terus mengimpikan bisa membeli rumah untuk keluarga dari hasil menulis.

  4. wah keren… pada tahun 1999 50 juta udah wah banget itu… semoga saya dan tim bisa meraih sukses dibidang yang kami geluti, mencontoh Pak Bambang.. 🙂

    salam kenal dari kami ^^V

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here