Adakah Karya Saduran dari Nonfiksi

0
570

 

Sebuah pertanyaan menggelinding kepada saya dari seorang editor tentang karya saduran. Ia menerima sebuah naskah yang ditulis dari bab-bab yang diambil dari sebuah buku berbahasa Inggris. Bab-bab itu sudah diindonesiakan, lalu ditambahkan pula bab lain karya penulis tersebut.

Benarkah ini disebut karya saduran? Apakah dalam dunia akademis untuk karya tulis ilmiah atau nonfiksi dikenal karya saduran?

Baik, saya jawab untuk membedakan dengan karya terjemahan.

Penerjemah menghasilkan naskah terjemahan, sedangkan penyadur menghasilkan naskah saduran. Pada karya terjemahan, penerjemah sama sekali tidak menciptakan karya baru karena tugasnya hanya mengalihbahasakan sebuah buku dari bahasa sumber ke bahasa penerjemahan, baik itu fiksi, nonfiksi, maupun faksi.

Adapun pada karya saduran, penyadur menciptakan naskah yang berbeda atau baru dari bentuk sebelumnya. Perhatikan definisi saduran dari KBBI berikut ini:

… 2. menyusun kembali cerita secara bebas tanpa merusak garis besar cerita, biasanya dr bahasa lain: pengarang itu suka – cerita dr bahasa asing ke dl bahasa Indonesia; 3. mengolah (hasil penelitian, laporan, dsb); mengikhtisarkan: mereka sedang – hasil penelitian mereka untuk dijadikan buku.

Defenisi tersebut menyiratkan dua jenis karya saduran sebagai berikut.

  1. Karya saduran adalah karya sastra (fiksi) yang diubah jalan cerita atau unsur intrinsiknya (tokoh, latar/setting, alur) dengan menggunakan bahasa lain atau bahasa berbeda dari bahasa sumber.
  2. Karya saduran adalah karya akademis (nonfiksi) nonbuku yang dikonversi atau diolah menjadi buku dengan tanpa mengubah bahasa sumber.

Karya saduran dalam bentuk fiksi bisa sangat tidak kentara jika penulis tidak menyebutkan karyanya sebagai hasil menyadur. Karena itu, redaksi media massa ataupun penerbit buku kerap menetapkan aturan bahwa naskah yang mereka terima harus naskah asli, bukan hasil jiplakan atau hasil saduran.

Saduran memang berpotensi menjadi sebuah tindakan tidak terpuji seperti menyadur lagu-lagu berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia dan seseorang yang melakukannya menyebut bahwa itu adalah ciptaannya—tidak mengakui sebagai hasil saduran. Begitupun jika terjadi pada karya-karya tulis yang sebenarnya merupakan karya orang lain dari negara lain.

Dalam konteks penulisan akademis nonfiksi, istilah saduran tadi dapat digantikan juga dengan istilah konversi, contohnya penyaduran skripsi, disertasi, atau tesis menjadi buku dapat disebutkan sebagai konversi skripsi, disertasi, atau tesis menjadi buku. Jadi, ada dua konteks karya saduran yaitu konteks sastra (fiksi) dan konteks karya tulis ilmiah (nonfiksi).

Lantas bolehkah seseorang mengambil karya orang lain berbahasa asing dalam bentuk nonfiksi, kemudian diindonesiakan, lalu diberi beberapa paragraf kesimpulan sehingga bisa disebut karya saduran? Tentu, pertama tidak dibenarkan sepanjang tidak ada izin dari penerbit asli/penulis asli meskipun dicantumkan sumbernya.

Selain itu, karya itu tidak pula dapat disebut sebagai karya saduran karena diambil dari karya orang lain yang berbahasa asing tanpa menciptakan karya baru. Alhasil, lebih tepat disebut terjemahan. Namun, karena mungkin penulisnya tidak mau disebut penerjemah, ia pun berkilah itu sebagai karya saduran.

Jika dipaksakan terbit, karya tersebut tentu berpotensi melanggar hak cipta orang lain karena sebagian besar merupakan hasil menerjemahkan, bukan merupakan karya baru si penulis. Jadi, pada karya nonfiksi atau akademis, tidak tepat upaya mengalihbahasakan karya orang lain disebut sebagai saduran.

©2014 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here