Lingkungan Tak Bersahabat bagi Penulis

2
388

Manistebu.com | Kotak pesan saya di Facebook terisi sebuah pertanyaan dari seseorang yang mengaku sebagai calon penulis. Ia mengeluhkan tentang lingkungannya yang tak mendukung keinginannya untuk menulis. Apakah Anda juga mengalami hal yang sama?

Sebenarnya dalam pandangan saya, tidak ada lingkungan yang benar-benar mendukung hobi ataupun semangat menulis kita di tengah sebagian besar masyarakat yang masih belum menyadari pentingnya membaca, apalagi pentingnya menulis–kecuali tentu menulis di media sosial hanya untuk kepentingan eksistensi. Contohnya, jika kita berada dalam lingkungan keluarga yang enggan membaca, otomatis tidak ada lingkungan kondusif bagi kita untuk mulai terdorong menulis.

Bagaimana dengan saya? Memang pengalaman berharga dari keluarga sangat membekas karena ayah dan ibu saya adalah pembaca buku yang “rakus”. Saat masih kecil, kami sudah dilanggankan majalah Tomtom, Ananda, dan Kawanku. Ayah saya juga mengoleksi buku-buku yang menarik perhatian saya kala kecil, seperti ensiklopedia teknik yang berisikan berbagai hal tentang cara membuat sesuatu, Di Bawah Bendera Revolusi karya Ir. Soekarno yang membuat saya begitu senang melihat beberapa foto tempo doeloe, dan tentunya buku populer saat itu, 30 Tahun Indonesia Merdeka.

Berada di antara orang-orang yang membaca adalah lingkungan terbaik untuk proses kreatif penulisan. Paling tidak ada koleksi-koleksi bacaan yang dapat mendorong kita untuk menstimulus ide. Sebaliknya, berada di antara orang-orang yang tidak membaca merupakan lingkungan yang buruk bagi proses kreatif penulisan.

Walaupun demikian, hal ini hendaknya tidak menjadi hambatan bagi kita untuk menulis dan memperbanyak keluhan bahwa lingkungan sangat menghambat. Sebenarnya, kegiatan menulis itu sangat personal ‘pribadi’ sehingga bisa dilakukan tanpa batasan ruang dan waktu. Artinya, kita tidak boleh terlalu bergantung pada lingkungan.

Ciptakan saja lingkungan kondusif sendiri. Contohnya, bergabung dengan komunitas pembaca atau komunitas penulis, berkunjung secara rutin ke perpustakaan agar kita dapat mengakses informasi, dan tentunya mengikuti event-event pelatihan penulisan.

Tentulah wajib bagi kita mengusahakan adanya alat untuk menulis, seperti netbook, laptop, atau PC. Jika belum punya, jangan merasa rendah diri untuk menggunakan catatan harian dan menulis dengan tangan. Hasil tulisan tangan dapat dialihkan ke komputer dengan cara me-rental komputer ataupun meminjam dari teman.

Pendeknya, semua usaha bisa kita lakukan agar kita tidak mengeluh-ngeluh pada zaman serba canggih kini. Pertanyaan sekarang ketika Anda hendak menjadi penulis, “Apakah Anda suka membaca?”

Nah, ketika diminta membaca blog dan mencari informasi di blog ini pun enggan, Anda memang tidak punya motivasi atau kompetensi untuk menjadi penulis. Jadi, sebaiknya urungkan saja niat menjadi penulis dengan harapan bisa kaya atau populer bak selebritas.

Ingat bahwa menulis adalah berproses. Pada setiap proses ada tahapan. Proses paling dini adalah membangun kebiasaan membaca, termasuk “membaca peristiwa” dengan panca-indra. [BT]

©2014 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here