Dua Hari Menulis Buku “Tempe”

2
393

Subuh, tanggal 4 Maret, saya sudah harus berangkat ke Bandara Husein Sastranegara Bandung. Pesawat yang saya tumpangi terjadwal pukul 6.00 menuju Surabaya. Sebelum memasuki ruang tunggu, saya sempat membeli majalah Tempo dan Intisari.

Majalah Intisari justru baru saya baca dalam perjalanan pulang. Di situ saya membaca sebuah liputan tentang tempe dan Rumah Tempe Indonesia (RTI). Terkoneksi dengan program “1001 Cerita Nusantara” maka saya pun mendapatkan ide untuk menyusun buku semacam fast book tentang tempe. Tentu saja tulisan di majalah Intisari menjadi salah satu sumber berharga untuk tulisan saya.

Lama saya coba mengoneksi ide-ide maka ditemukanlah salah satu judul seri Kala Kisah Nusantara. Saya ingin menuliskan banyak hal yang mengisahkan tentang kekayaan seni-budaya Nusantara. Alhasil, tentang tempe tadi, saya pun mendapatkan beberapa referensi.

Saya mulai menulis pada hari Sabut, 8 Maret dan tulisan itu sudah 95% rampung pada hari Minggu, 9 Maret. Tanggal 10 Maret 2014, buku itu pun disempurnakan dengan kover dan kelengkapan ISBN. Ini sebuah keajaiban baru dalam dunia penulisan buku. Sebegitu cepat sebuah buku bisa disajikan kepada publik pembaca lewat jalur digital.

TempeKetebalan buku itu hanya 36 halaman yang boleh dibilang masuk kategori mini eBook. Buku pun hanya terdiri atas lima bab dengan bahasan yang ringkas pada tiap bab. Saya memang menyesuaikan pola penulisan dengan kebiasaan orang membaca di gawai ‘gadget‘ mereka. Jadi, tidak akan ditemukan paragraf yang panjang-panjang.

Buku atau eBook ini kali pertama ditayangkan di Qbaca–eBook store yang dikembangkan oleh Telkom. Jadi, formatnya adalah ePub 3 yang bisa dibaca pada gawai beraplikasi Android dan iOS. Harganya? Murmer hanya Rp9.000 per unduh dan Anda pun melalui  Qbaca bisa membelinya dengan cara potong pulsa apabila menjadi pelanggan Telkomsel.

Bagaimana saya bisa menulis dengan cepat. Pertama, karena memang sumber dan bahan tersedia secara cukup. Kedua, karena memang ada renjana ‘passion‘ yang kuat untuk menuliskannya. Ketiga, karena memang konsep mini eBook ini sederhana sekaligus ringkas. Saya berusaha memasukkan informasi-informasi penting saja seputar tempe.

Pendeknya, buku ini bisa tetap dijadikan bahan ajar untuk mengenal satu warisan budaya Indonesia yang luar biasa untuk dunia. Tempe itu makanan murah dan bisa diperoleh setiap hari, namun hampir pasti sebagian besar tidak tahu kisah di balik sejarah tempe dan keajaibannya.

Buku lain? Bersama tim di TrimKom kami memang menyiapkan lebih dari 60 judul berkonten Nusantara. Kami sudah menyelesaikan buku tentang Gurindam 12 karya Raja Ali Haji dan sekarang sedang menggarap buku tentang angklung dan Chairil Anwar.

Hak cipta © Bambang Trim 2014

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here