Resensi Buku: Masihkah Berpengaruh

0
685

Guru saya, Ibu Sofia Mansoor, menyatakan kegemasannya ketika saya menggunakan istilah resensator untuk menyebut peresensi atau penimbang buku. Duh, saya juga menemukan istilah ini melalui Googling, tidak saya temukan di KBBI.

KBBI edisi keempat hanya mencantumkan kata peresensi di bawah lema resensi. Istilah resensator tampaknya muncul setara dengan istilah plagiator atau koruptor yang tampak terkesan dipaksakan atau diada-adakan.

Kata resensi sendiri dipungut dari bahasa Belanda recensie yang juga dipungut dari bahasa Latin recenseo bermakna memeriksa kembali atau menimbang. Lalu, dalam dunia pers, kata ini berarti sebuah tulisan yang bersifat informatif sekaligus kritis tentang buku, film, pertunjukan, karya musik, drama, atau karya seni lainnya.

Berbeda halnya dengan bahasa Inggris yang menggunakan kata review. Dalam sebuah tulisan yang dihimpun Christianto Wibisono pada buku berjudul Pengetahuan Dasar Jurnalistik (Media Sejahtera, 1991), Alfons Taryadi menyebutkan bahwa kata review digunakan untuk membedakannya dengan criticism (kritik). Artinya, jika kita membaca sebuah resensi novel (karya sastra) belum tentu itu adalah sebuah kritik sastra. Review lebih dianggap sebagai reportase yang melukiskan “apa, siapa, di mana, kapan, dan bagaimana”-nya suatu peristiwa kesenian. Adapun kritik adalah suatu evaluasi, penilaian, yang mengundang pendapat dari penulisnya tentang suatu karya seni seperti buku. (h. 101)

Mengutip Llewellyn Jones, Alfons menuliskan, “Kalau Anda membaca sebuah buku dan menulis ringkasan sambil menceritakan bidang yang dilingkupinya dan mungkin mencatat tentang gayanya, maka Anda menulis sebuah review. Tetapi kalau Anda bicara tentang buku itu dari segi pandangan Anda, kalau Anda mengatakan apakah menurut anggapan Anda buku itu baik atau jelek, dengan mengemukakan alasan-alasan mengapa Anda berpendapat begitu, maka Anda menulis sebuah kritik.”

Sisi lain–seperti yang terbanyak digunakan para praktisi jurnalistik– Webster’s Third New International Dictionary mendefinisikan review bersifat informatif sekaligus kritis. Alhasil, memang perbedaan resensi dan kritik menjadi tidak jelas. Namun, saya pribadi tetap menggunakan pendekatan kedua bahwa resensi buku atau book review tetap merupakan gabungan informasi dan kritik meskipun kadar kritiknya tidak sebanyak sebuah tulisan yang benar-benar disebut “kritik”.

Buku yang Pantas Diresensi

Apakah semua buku pantas diresensi? Sebagai sebuah pandangan subjektif peresensi, resensi buku cenderung mendorong orang untuk membaca buku yang diresensi. Karena itu, ada anggapan bahwa buku yang patut diresensi adalah buku yang memang benar-benar perlu dibaca oleh masyarakat pembaca. Adapun buku yang buruk, tidak perlu diresensi.

Namun, seorang peresensi bisa jadi memandang penulisnya ketika meresensi, bukan bukunya. Suatu saat penulis tersebut menghasilkan karya yang tidak biasa, lalu peresensi pun menimbang bukunya dan boleh jadi berpendapat buku tersebut adalah buku “terburuk” dari keseluruhan karya si penulis. Artinya, buku yang buruk diresensi karena memandang penulisnya yang selama ini dikenal menghasilkan karya berkualitas.

Saya memang pernah mendapati sebuah karya novel dari seorang penulis ternama dan jelas saya kecewa membaca novel tersebut karena tidak mencerminkan bahwa dia yang menuliskannya–dibandingkan karya sebelumnya. Nah, buku seperti ini bisa jadi menarik untuk diresensi dan alih-alih merekomendasikan orang untuk membaca, peresensi lebih banyak melontarkan kritik bahwa buku ini terlalu banyak kelemahan elementernya.

Sebuah resensi memang pada akhirnya adalah sebuah opini atau pendapat subjektif peresensi tentang sebuah buku. Pendapat ini bukanlah pendapat yang menjatuhkan, melainkan pendapat yang memberi pertimbangan kepada pembaca apakah ia perlu membaca buku tersebut dari sisi keinginan dan kebutuhannya. Artinya, sebuah “kecerdasan” menimbang memang diperlukan bagi seorang peresensi buku.

Resensi Buku dalam Media Massa

Pengadaan rubrik resensi buku di sebuah media massa sampai kini tetap ada, bahkan beberapa media sempat memberikan kapling satu halaman penuh untuk membicarakan buku. Pernah pula suatu saat rubrik-rubrik ini “digusur”, tetapi kemudian muncul lagi. Salah satu media yang konsisten menyajikan rubrik tentang buku adalah Media Indonesia. Selain itu, ada juga Koran Tempo yang pernah menyajikan suplemen Ruang Baca (kini sudah tiada).  Bagaimanapun resensi buku bukan sekadar menyajikan informasi dan kritik buku dari wartawan media itu atau dari penulis lepas, melainkan juga menunjukkan ciri keintelektualan suatu masyarakat yang memerlukan rekomendasi bacaan yang baik.

Pada sebuah kapling yang besar seperti satu halaman di media massa, Anda akan melihat ada resensi utama dengan ulasan panjang dan ada kolom yang memuat beberapa buku secara informatif (tanpa kritik). Helen E. Haines menyebutkan bahwa resensi melingkupi macam-macam bentuk tulisan, dari yang berupa tinjauan kritis ilmiah sampai pada yang berwujud ulasan pendek yang ditulis dengan buru-buru oleh seorang wartawan.

Informasi buku tanpa kritik di dalamnya, mirip sebuah iklan.
Informasi buku tanpa kritik di dalamnya, mirip sebuah iklan.

Anda bisa melihat beberapa resensi yang ditulis secara “serius” yaitu yang ada di Kompas dengan kapling bisa setengah halaman atau seperempat halaman. Para peresensi yang berhasil menembus Kompas tentu menaikkan gengsi mereka sebagai penulis resensi.  Begitu pula yang disajikan majalah Tempo dengan salah satu peresensi andalnya Mayong Suryo Laksono atau Leila S. Chudori dengan karya resensi filmnya yang selalu menarik hati.

Dicari Peresensi Andal

Resensi buku sebagai sebuah karya juga memunculkan banyak perensi dengan berbagai gaya. Kini peresensi yang andal semakin langka karena mungkin banyak para penulis tak lagi melirik ranah berkarya pada resensi ini. Artinya, ada penulis resensi, tetapi jarang yang menjadikannya sebagai sebuah pekerjaan terusan. Salah satu yang saya kenal dengan kiprahnya kini sebagai peresensi adalah Untung Wahyudi. Kerapkali ia menampilkan resensinya di dinding linimasa media sosial saya. Ia pun kemudian menjadi langganan para penerbit yang ingin bukunya diresensi.

Saya juga mengenal Anwar “Wartax” Holid sebagai peresensi yang juga sangat kritis. Kini ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbit di Bandung. Dan memang editor adalah satu profesi yang bisa menggunakan ketangkasan membacanya untuk meresensi sebuah buku secara lebih komprehensif: konten dan konteksnya.

Nama-nama lain tentu banyak lagi. Saya ingat bagaimana majalah Matabaca yang sudah beberapa tahun mati pernah melahirkan begitu banyak peresensi dengan bahasan yang kritis. Saya sendiri meski pernah menulis resensi beberapa kali juga sempat vakum. Sebuah resensi yang mirip esai sempat saya tulis di Kompasiana baru-baru ini untuk buku karya Gustaaf Kasno berjudul Gara-gara Alat Vital dan Kancing Gigi: Bunga Rampai Bahasa. Resensi ini menjadi headline di Kompasiana hingga dibaca 596 kali.

***

Penerbit memang menyediakan sekian persen buku contoh untuk promosi, termasuk resensi. Terkadang penerbit tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga honor untuk peresensi buku yang karyanya dimuat di media massa. Jelas, buku yang diresensi akan sedikit mendongkrak informasi tentang buku dan “kebaikan” buku untuk dikoleksi atau dibeli.

Karena itu, dalam anggapan penerbit, resensi buku itu masih berpengaruh. Dalam anggapan media massa, resensi buku itu pun tetap perlu. Dalam anggapan para praktisi perbukuan, para peresensi buku yang andal harus terus dilahirkan. Jadi, masuknya teknik penulisan resensi sebagai submata pelajaran bahasa Indonesia tetaplah penting dalam upaya meningkatkan minat membaca sekaligus keterampilan berpendapat. [BT]

Hak cipta ©  Bambang Trim 2014

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here